Author= Imsoojung

Genry= mistery, friendslip, and other

Cast= Shin donghoo(ukiss), Kang minhyuk (Cn blue), lee sungyeol (infinite), Lee Minho, Leeteuk, Songjoongki, young ah, Shin kyungri, park minji, Kim Hyesung, Hongki and other..

Disclamer= semua cast yang author tulis diatas milik tuhan dan keluarga masing masing serta para fans, namun khusus yang bernama SHIN DONGHO HE IS MINEEE!#maksa*PLAKK ditabok Dongholick.

Warming= abal, Eyd yang tidak sempurna, membuat kaki Minus dan mata keseleo, gaje stadium 12, dan beberapa kesalahan dalam fanfic ini.

OKKEE ada yang masih setia kah menunggu kelanjutan ff ini?#GAK ADA!

Mian lama,, author lagi sibuk.. inipun juga gak begitu panjang..

Yahh walaupun author ini anak sekolahan tapi lumayan sibuk..#GEPLAK

Udah lanjut gak usah banyak omong, maaf ya lama. File nya sebenarnya udah ada tapi malat ke delete jadi terpaksa author buat yang gaje gini.. sorrryyyyyy...

===== Don't like don't read, no copas!===

"AHK!" suara minhyuk tertahan saat belati mulus itu dengan cepat menembus kulit perutnya.

"Jika tak ada polisi itu mungkin akan lebih indah dari yeoja itu.. tapi kita lewatkan saja..." Namja itu berbisik pelan ditelinga Minhyuk yang setengah meringgis.

Tepat sebelum namja itu pergi ia seklai lagi menikan perut Minhyuk dan tertawa gila, setelah itu melepaskannya dengan kasar. Kemudian benar benar meninggalkan Minhyuk dan Young ah. Minhyuk meringgis memegang perutnya menutup luka yang menganga disana, ia terduduk karna tak kuat lagi berdiri darah terus merembes dari sana. Perhatian teralih pada Young ah yang sudah pingsan dengan kaki yang melepuh persis seperti luka bakar.

"MINHYUK HYUNG!" Terdengar suara yang familiar ditelinganya namun belum sempat ia menoleh ia sudah pingsan terlebih dahulu.

"HYUNG!" Sungyeol mengguncang keras tubuh Minhyuk, Dongho datang beberapa saat setelah itu.

"Apa yang terjadi..!" seru Dongho yang beru menginjakkan kakinya keruangan itu.

"Jeball.. Cepat bawa Minhyuk hyung kerumah sakit.." Sungyeol menatap kearah Joongki.

"Bawa mereka kerumah rumah sakit, panggil ambulance sekarang!" Perintah Joongki, salah satu dari anak buahnya memanggil ambulance.

"Hyung.." Lirih Dongho menatap Minhyuk yang sekarang ada dipangkuan Sungyeol.

" Eum..." Tubuh Minhyuk menggeliat, saat Sungyeol tak sengaja menyentuh lukanya.

"Gwencana hyung?" Dongho mensejajari tubuhnya sama dengan sungyeol.

"YA! Dimana ambulancenya?!" Sungyeol menatap kearah para polisi yang sedang berjaga disekitar mereka.

"Masih dalam perjalanan..." jawab Minho.

"Hyung kau mendengarku" yang ditanya hanya mengangguk.

Dongho beralih tatap kearah Young ah, beberapa orang polisi sedang mengurusnya. Dongho bergidk ngeri menatap luka bakar parah yang ada dikakinya. Dongho berjalan kearah gadis malang itu, bekas bekapan dimulutnya masih agak terlihat. Ikatan ditangan dan kakinya sudah dilepas, meninggalkan sebuah bekas melingkar pada bergelangan tangan dan juga tangannya. Ditatapnya matanya terpejam itu, rambut nya sedikit acak acakkan mungkin ia memberontak. Namun yang Dongho heran kenapa semua teman teman dikelasnya yang saling berhubungan dekat itu dibunuh secara berantai begini?

4 orangpetugas medis datang, mereka segera mengangkat tubuh Minhyuk dan Young ah keluar sedangkan Sungyeol mengikuti dari belakang. Dongho hanya diam saja disana, sebuah pesan masuk ke handponenya. Ia mengeluarkan handponenya dari sakunya, sebuah nama familiar tertera disana. Ia membuka pesan itu, matanya membulat sempurna saat membaca pesan masuk itu.

'masih ingin menjadi sanksi sebuah pembunuhan?'

Dongho membaca lagi dari siapa pesan itu dikirim padanya, ia tidak terkejut dengan nama yang tertera disana, karna dulu ia memang sangat mengenal orang itu. Namun sayang mungkin ia tak akan bisa melihat orang itu selamanya dan sampai kapanpun. Ia menatap sekitarnya, ia tahu yang memberi pesan padanya bukanlah orang pemilik nomor itu, karna orang yang menjadi pemilik sesungguhnya sudah mati dengan sadis atau tepatnya dibunuh. Ia menghela napas dalam, kenapa orang orang terlibat dalam kasus yang sama satu sama lain.

Ia melangkah keluar dari gedung itu, menyusuri anak tangga itu satu persatu. Entah kenapa walaupun bukan orang yang menangani masalah kasus pembunuhan itu, ia merasa bahwa ialah yang ditunjuk oleh sang pembunuh untuk menyelesaikannya. Dan entah kenapa ia mengenal orang orang yang menjadi korban disini pada kasus yang ia alami dulu yah.. walaupun bukan ia yang menjadi tersangkanya.

.

.

.

.

.

Dongho menatap tubuh Minhyuk yang sedang terlelap diranjang rumah sakit, ditangan kirinya tertancap sebuah infus. Dongho menatap betul betul wajah itu. Ia kemudian beralih pandang kearah Sungyeol yang sedang terlelap disamping Minhyuk. Ia menggeleng mengingat Sungyeol menjaga hyung nya itu semalaman. ia menatap keluar jendela tampak anak anak dengan seragam rumah sakit berlarian. Dongho tersenyum sendiri melihatnya, ia ingat masa kecilnya saat ibu dan ayahnya masih ada bermain bersama nya.

Dongho hanya memiliki adiknnya Shin Kyungri. Kemudian ia bertemu dengan seorang Lee Sungyeol yang nasibnya tak bebeda jauh darinya. Dan Kang Minhyuk, hyung yang mungkin adalah hyung yang paling disayanginya. Setelah 3 tahun bersama, mereka akhirnya memilih untuk tinggal bersama disuatu perumahan kecil di seoul. Dongho kembali tertawa mengingatnya, padahal yang dipikirkannya bukanlah sebuah hal lucu.

Dongho kembali menatap layar ponselnya, membuka pesan yang tadi masuk. Ia menggerutu saat melihat nama pengirimnya ia tahu kyungri pasti mengkhawatirkannya tidak pulang semalaman ia pun juga lupa untuk mengabari Kyungri.

Mata Dongho beralih kearah Minhyuk yang sedang menggeliat. Tubuhnya refleks bergerak menghampiri hyungnya, tak berapa lama Sungyeol juga tersadar dari tidurnya ia sedikit terkejut melihat hyung didepannya sedang menggeliat. Dengan perlahan Sungyeol membelai kepala Minhyuk, lalu menatap kearah Dongho.

"Aku akan panggil dokter..." Ujar Sungyeol kemudian berlalu dari hadapan Dongho.

"Eum..." Eluh Minhyuk saat ia rasakan sakit menjalari tibuhnya.

" Kau sadar hyung?" tanya Dongho, yang ditanya hanya mengangguk kemudian membuka matanya perlahan.

"Ini..." Kata kata Minhyuk tergantung, ia kembali mengingat kejadian malam itu.

"Apa masih sakit hyung?" tanya Dongho dijawab dengan anggukan kecil Minhyuk.

Mereka mendengar suara derap kaki menuju kearah mereka, ia tahu itu dokter. Dongho menatap Minhyuk yang tersenyum padanya kemudian entah kenapa mereka tertawa entah apa yang mereka tertawakan. Sungyeol datang bersama dengan dokter lainnya. Ditatapnya Minhyuk yang sudah sepenuhnya sadar itu.

.

.

.

.

"ne.. arra. Kau juga.."

"..."

"Eoh, Kyungri-ah jangan keluar kemanapun hari ini!"

"..."

"Ada banyak kasus pembunuhan, jadi oppa minta kau dirumah saja hari ini."

"..."

"Ne, jaga drimu..."

Dongho menutup poselnya kemudian menatap Minhyuk yang sedang bercanda dengan Sungyeol, Dongho menghampiri mereka. Namun ponselnya kembali berdering.

"Ne.. Weo Kyungri-ah?" jawab Dongho.

"OPPAA!" itu suara Kyungri ani, itu jeritan dari Kyungri. Dongho terdiam.

"YA! KYUNGRI-AH!" Dongho menatap layar ponselnya, panggilan itu sudah terputus.

.

.

.

.

.

.

"Weo...?" tanya seorang yeoja remaja, tangannya terikat kuat dengan sebuah tali kawat membuat gesekan tangan dengan kawat itu melukai bergelangan tangannya.

PLAKKK

Namja yang sekarang berada dihadapannya, menampar yeoja itu dengan keras. Ia menarik kaki yeoja yang tepatnya adalah Kyungri itu kemudian menyeret tubuhnya. Kyungri, mungkin sekarang ia sudah diambang kesadarannya. Ia menatap namja itu.

"Diamlah..." Namja itu membukam mulut Kyungri dengan sebuah kain.

Namun kyungri masih memberontak, tangannya yang sedang terikat itu memukul bahu namja itu dengan lemah membuat namja didepannya muak. Dengan segan namja itu itu mengeluarkan sebuah tali, kemudian dilingkarinya dileher Kyungri.

"Ahk!" ia menarik kuat tali itu hingga bisa mencekit leher kyungri.

Ia kemudian mengeluarkan sebuah belati.

Ia menikamkannya sekali pada tubuh kyungri, sekali lagi, sekali lagi. Hingga tikaman ke 6 ia baru berhenti. Kyungri tak bersuara, napasnya terdengar samar. Namja itu menyeret tubuh kyungri dengan tali yang masih terikat pada leher yeoja itu. Dengan kasar ia menghempas kan tubuh yeoja itu kesebuah ruangan.

"Kau masih sadar..?" namja itu menggoreskan sebuah silet di leher yeoja itu.

"Eungh..." Eluh Kyungri.

"Cukup, itu sudah cukup." Namja itu menyeret tubuh yeoja itu dan mengikatkan tali yang diikatnya dleher kyungri kesebuah papan yang cukup tinggi, hingga leher yeoja itu kembali tercekik.

"oppa.." eluhnya sebisa mungkin melepaskan ikatan yang ada dilehernya namun tak berhasih.

Tubuh yeoja itu mengejang dan entah kenapa gerakan tubuhnya berhenti tiba tiba, tangannya melemas. Mata itu memerah. Dengan perlahan namja tadi menjauh dari Kyungri namun ia tersenyum kemudian kembali kearah Kyungri.

DOR!

DOR!

Tembakan yang berhasil menghentika deru jantung gadis malang itu. Diraihnya ponsel yang ia ambil dari kyungri tadi. Namja itu tertawa gila, yah bisa dibilang ia gila. Dengan gontai ia meninggalkan ruangan itu, ia menekan tombol tombol di ponsel itu.

"Yeobseo?" jawaban dari orang yang menjawab telponnya.

"Eoh, ini Shin Dongho..?"

"..." tak ada jawaban.

"Neo yeodongsaeng, ada di apertemen Oc, kau ingin menemuinya? Paling tidak untuk terakhir kalinya.."

"tut..tut.." sambungan terputus.

.

.

.

.

"Cepat!"detektif Lee memberi arahan pada anak buahnya, Detektif Lee berhenti sebentar saat Dongho mencoba menghentikannya.

"Aku ikut.." pintanya.

"Ani, tidak bisa. Kami tidak ingin kau juga terlibat.."

"Aku sudah terlibat! Semua nya! Mereka.. jaejoong, young ah, hyeri, aku, dan adikku, semuanya terlibat.. kumohon,, dia adikku.." Detektif Lee terdiam, tatapan mengarah pada Dongho.

"Aissh, baiklah.. Kau ceritakan padaku nanti.."

"Ne! Gansahamnida ..."

.

.

.

.

"Kyungri ya!" Dongho melepas semua ikatan yang ada pada tubuh yeoja itu.

"Ya.." Dongho mengguncang keras tubuh kyungri, yeoja itu terdiam tak ada respon balasan.

"Aniya, andwe!" Dongho mengecek urat nadi dan napasnya.

Dongho terdiam, matanya terasa panas sekarang. penglihatannya mulai mengabur arna air matanya mulai turun. Dipeluk nya yeodongsaeng kesayangannya. Kepalanya menggeleng sedari tadi. Pelukannya semakin erat saat seorang namja mencoba menenangkannya. Dongho menghapus darah yang ada diwajah yeodongsaengnya. Ia menangkap sebuah kalung tergeletak disebuah meja.

"Hyesung-ssi.." bisik Dongho pelan, digenggamnya kalung berbentuk lumba lumba itu.

"Tidak mungkin..." Dongho menatap kearah mayat dongsaengnya yang sudah dibawa kemobil jenajah.

"Hyung..." panggil dongho pada Joongki.

"Weo?" tanya Joongki.

"Pelakunya, mungkin salah satu mahasiswa sekolah kami..."

"Mwo?!"

TBC.