Title: For You

.

.

Cast :

Kim Jongin (namja)

Do Kyungsoo (namja)

Others EXO Member

.

.

Genre : Romance/Hurt/Comfort | YAOI

.

Rated: M

Warning : YAOI, Alur aneh, Diksi blur, Typo(s) bergentayangan, Cerita pasaran (mungkin), GaRing, Ejaan Tidak Baku, yang tidak suka dimohon jangan membaca. Jangan menghina karya saya. Tinggal Klik Icon "X" di laman masing-masing. Terima Kasih ^^

.

SUMMARY

Kim Jongin, seorang pemuda dengan latar belakang yang jauh dari kata baik. Do Kyungsoo, sosok malaikat yang terperangkap dalam kegelapan. Keduanya dipertemukan dalam satu jalinan takdir yang tak terduga. Akankah semua berjalan sesuai harapan? "Izinkan aku menemanimu hingga batas kau tidak ingin lagi bersamaku."/ "Aku tak butuh apapun asal kau ada disisiku, Jongin-ah."/ KAISOO/ YAOI

.

.

DISCLAIMER

D.O punya KAI. JONGIN punya KYUNGSOO. Walaupun demikian, ide cerita ini tetap sah milik saya, HyunChan2509.

.

NO COPAS

.

DON'T READ THIS FICTION IF U DON'T LIKE IT. I'VE TOLD U BEFORE !

.

.

.

^^EXO SARANGHAJA!

.

.

.


Chapter 2 (End)


"Kau akan memberikan kejutan itu hari ini?" tanya Taemin saat mereka sedang istirahat makan siang.

"Ne, hari ini aku akan mengatakan semuanya pada Kyungsoo." Ujar Jongin dengan senyum dikulum. Dia sudah membayangkan beragam ekspresi Kyungsoo saat dia memberitahu hal itu nantinya. Mulai dari marah, mengamuk, cemberut, bingung, bahkan menangis. Semua itu membuat Jongin merasakan kehangatan dalam dadanya. Dalam hitungan jam kedepan, dia akan mewujudkan impian Kyungsoo yang juga impiannya.

"Bagaimana jika Kyungsoo tidak mau, Jongin-ah? Pernahkah kau memikirkannya? Mengingat sikap Kyungsoo dari ceritamu selama ini, kurasa dia akan menangis dan melemparmu dengan kruknya."

Jongin tertawa. Taemin benar, Kyungsoo sangat mungkin melakukan hal itu. "Aku sudah mempersiapkan semuanya, Taemin-ah. Kau tenang saja. Kau masih akan melihatku tersenyum lebar besok."

"Ya! Kau masih sempat-sempatnya bercanda! Aku mencemaskan kalian!" gerutu Taemin sambil memukul pelan kepala Jongin.

"Aku serius, Taemin-ah. Aku masih akan tersenyum lebar besok. Tapi...jika benar dia memukulku dengan kruknya, aku harap kau bisa berkata pada bos dan Kangin hyung untuk membesukku di rumah." Ucap Jongin masih sambil terkekeh.

"Leluconmu tidak lucu!" sungut Taemin yang malah membuat Jongin makin tersenyum lebar.

"Oh iya, besok aku izin seharian, boleh? Aku ingin mengajak Kyungsoo jalan-jalan. Sudah lama dia tidak ke pantai."

"Eh? Besok? Baiklah...aku akan mengatakannya pada bos. Tapi jangan lewat dari 1 hari, arraseo? Aku tidak mau menanggung amukannya." Ucap Taemin terkekeh pelan membayangkan Shindong –bosnya- mengamuk.

"Begitu? Kalau begitu bagaimana jika aku libur untuk selamanya?" tanya Jongin tiba-tiba.

"Ya! Kau jangan mempersulit hidupku!" jerit Taemin yang kembali menyapa kepala hitam Jongin dengan beberapa jitakan sayangnya. Jongin hanya tertawa terbahak-bahak menghadapi amukan seorang Lee Taemin.

.

.

.


"Syukurlah. Ternyata benar. Kurasa cukup untuk membayar semuanya." Gumam Jongin ketika menatap angka pada sebuah buku kecil di tangannya. Jongin tampak bercakap-cakap sebentar dengan yeoja yang ada di balik meja di depannya, kemudian menyerahkan buku yang ia pegang ketangan si yeoja. Yeoja itu tersenyum melihat buku yang beralih ke tangannya.

"Semuanya, Tuan?" tanyanya dengan suara yang lembut.

"Ne, semuanya. Setelah itu aku ingin membuka satu yang baru atas nama Do Kyungsoo. Ini kelengkapannya." Ucap Jongin mantap. Menyerahkan beberapa lembar kertas dari dalam mantel hangatnya yang lusuh pada yeoja itu. Dan setelah menunggu beberapa menit, akhirnya semuanya kini kembali berada dalam genggaman tangan Jongin berikut sebuah amplop panjang warna putih yang tampak tebal dengan sebuah logo di pojok kiri atasnya.

"Terimakasih atas kepercayaan Anda pada kami. Senang bisa membantu Anda." Ucap yeoja ber-nametag Yoon SooHee itu sambil tersenyum pada Jongin. Jongin balas tersenyum, menundukkan kepalanya sekilas kemudian beranjak keluar dari tempat itu. Melangkah pasti dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya yang penuh. Terus melangkah menuju istana dan belahan jiwanya berada.

Saat separuh jalan, Jongin melihat sekumpulan namja berdiri di depan lorong pintas yang biasa ia lewati. Karena merasa tak mengenal pemuda-pemuda itu, Jongin dengan santai berjalan melewatinya, namun tanpa diduga-duga, seseorang menghentikan langkahnya dari arah depan. Jongin terkejut dan raut wajahnya memucat saat melihat orang yang berada di hadapannya.

"Kau... Kim Hyunsik!" Jongin tiba-tiba menggeram melihat namja di hadapannya itu. Kim Hyunsik. Seseorang dari masa lalu Jongin yang berperan penting dalam merusak hidupnya. Seseorang yang dulu sempat berkelahi dengan Jongin hingga babak belur akibat Jongin yang memutuskan keluar dari dunia hitamnya. Kim Hyunsik, rekan sesama pengedarnya dulu.

"Kau mengingatku, tikus kecil? Baguslah. Itu artinya aku dan anak buahku akan membuatmu tidak bisa diingat siapapun lagi." Ucap namja kekar itu dingin. Jongin terkesiap. Kakinya melangkah mundur, hendak melarikan diri. Namun saat berbalik, kumpulan namja yang tadi ia lihat kini sudah memblokir jalannya. Jongin mulai ketakutan. Sudah lama sejak dia bertemu Kyungsoo, dia tidak pernah lagi berkelahi dan itu membuat jiwa buasnya menguap entah kemana.

"Kau takut, bocah? Ingatkah kau dengan apa yang dulu kau lakukan padaku? Kau meninggalkan bekasnya di sini." Ucap Hyunsik menurunkan sedikit kaos hitamnya, memperlihatkan pada Jongin sebuah bekas luka yang lebar di dada namja itu. Jongin ingat, itu bekas cabikan bertubi-tubi pisau Jongin yang keluar masuk dengan brutal merobek kulit dada Hyunsik. Membuatnya tidak sadarkan diri selama setengah tahun.

"Ma-maafkan aku..." lirih Jongin mencicit saat Hyunsik berjalan mendekatinya. Jongin mundur namun kedua tangannya langsung di cengkeram oleh anak buah Hyunsik. Jongin makin ketakutan dan saat ingin berteriak, sebuah hantaman keras mengenai perutnya. Jongin terbelalak. Rasa mual langsung menyergap.

"Itu untuk pengkhianatanmu!" Ucap Hyunsik tersenyum miring dengan sebuah pipa besi di tangannya. Pipa yang sebenarnya sudah Hyunsik sembunyikan di balik jaket kulitnya.

"Argghh..." erang Jongin saat rasa mual itu berganti dengan rasa sakit yang teramat sangat.

"Ini untuk luka di kepalaku." Pipa berat itu kembali melayang menghantam kepala Jongin membuatnya pening mendadak. Tubuhnya bisa ambruk saat itu juga jika anak buah Hyunsik tidak memeganginya. Memaksa tubuh Jongin untuk tetap berdiri tegak. Sementara Hyunsik makin menyeringai melihat lelehan merah yang mulai mengalir di kening Jongin.

"Wah.. Wah.. Wah.. Tak kusangka Serigala Mokpo seperti ini. Sangat lemah! Cuh!" Hyunsik meludah. Tersenyum miring meremehkan Jongin.

"Apa yang membuatmu lemah seperti ini, eoh? KAI!" Hyunsik melayangkan kembali pipa besi itu ke wajah Jongin. Dalam sekejap wajah tegas itu tampak lebam dengan darah mengalir di sudut bibirnya. Pipa itu ternyata cukup tajam di bagian ujungnya.

"Jangan sebut aku dengan nama itu! Aku bukan sampah sepertimu!" balas Jongin penuh emosi yang menghasilkan pukulan lagi di kepalanya. Mata Jongin mulai berkunang-kunang. Dia tidak bisa melawan karena tubuhnya terkunci oleh anak buah Hyunsik. Kepalanya tertunduk lemah dengan darah merembes di surainya yang hitam. Salah satu anak buah Hyunsik menjambak surai kelam itu, mengangkat paksa kepala Jongin kembali menghadap Hyunsik.

"Kau sungguh tidak tahu diri. Sekian lama aku merawatmu dan kau malah berkhianat padaku hanya karena namja jalang itu !" teriak Hyunsik murka dan kembali hendak melayangkan tongkat besinya. Jongin meludah kewajah Hyunsik.

"Bajingan! Jangan pernah kau sebut Kyungsoo-ku seperti itu!"

"Tutup mulutmu!" Tongkat itu menghantam lagi wajah Jongin. Kini dari hidungnya mulai mengalir darah segar.

"Manusia tidak tahu balas budi sepertimu lebih baik mati, kau tahu?" ucap Hyunsik dengan nada yang sangat kejam dan dingin.

"Dan untuk itu aku akan melakukannya dengan tanganku sendiri..." Hyunsik terlihat mengambil sesuatu dari kantong jaketnya. Sebuah pisau yang cukup besar. Cukup untuk memutus nyawa seekor ayam dalam sekali tebasan.

"A-apa yang a-khaan kau la-lakukan ?" ucap Jongin terbata. Kepalanya terasa sangat berat dan berputar-putar

"Apa yang akan kulakukan? Membunuhmu tentu saja!" Jawab Hyunsik menyeringai kejam. Dengan beberapa gerakan, anak buahnya semakin mengeratkan cengkeramannya di tubuh Jongin. Kedua kaki Jongin yang meronta di pegang kuat oleh yang lainnya. Mereka tertawa keras melihat Hyunsik yang menjilati pisau itu.

"Aku membayangkan menjilat darahmu disini."

"J-jangan...ku-kumohon..." lirih Jongin. Airmata mulai menggenangi orbs-nya. Bukan karena takut pada pisau itu. Tapi sekelebat bayangan Kyungsoo dan senyum hangatnyalah yang membuat airmata itu menggenang di sana.

"Ucapkan selamat tinggal pada dunia!"

CRASH

Dalam satu kedipan mata, pisau itu tertancap penuh di perut kanan Jongin. Tawa berderai mengalun dari Hyunsik dan anak buahnya. Jongin terbelalak. Rasa sakit seketika menghujam kuat tubuhnya. Sesak. Seakan tidak ada lagi oksigen segar di sekelilingnya. Jongin mengerang kuat. Hyunsik dan anak buahnya terus tertawa dan bahkan dengan tidak berprikemanusiaan, salah satu anak buahnya memainkan pisau itu. Menggerakkannya kekiri-kekanan-keatas-dan kebawah. Membuat Jongin merintih kesakitan. Matanya semakin berkunang-kunang.

"Inilah akibatnya jika berkhianat padaku." Dan dengan satu gerakan, Hyunsik mencabut pisau itu hingga darah mulai memancar dari lubang yang terbentuk olehnya. Jongin dapat merasakan sesuatu tertarik keluar bersamaan dengan mata pisau itu. Jongin berteriak, mengerang kesakitan. Saat itulah sirine kepolisian menggema dari kejauhan, membuat Hyunsik dan kawan-kawannya segera berlarian tunggang-langgang meninggalkan tubuh Jongin yang merosot jatuh ke tanah.

"Kyungiehhh...K-Kyungiehhh..." lirih Jongin mengerang. Tubuh gemetarnya merayap, mencoba merangkak kearah satu nama dalam hatinya.

"Kyung-sooo—aakhh..." Jongin terus berusaha untuk berdiri. Sambil berpegangan dengan tong sampah di sampingnya, namja tan itu melangkah bertumpu di dinding bangunan di sebelahnya. Aliran darah mengucur deras dari satu lubang menganga di perutnya. Jongin meremas bagian itu kuat-kuat. Sangat nyeri. Sakit. Menyakitkan.

"Kyungieeehhh..." erangnya lagi. Kedua matanya sudah tampak tidak fokus. Jalannya pun terseok-seok, namun satu nama itu membuatnya bertahan. Jongin merasa kuat saat mengingat Kyungsoo. Oleh karena itulah dia terus menyebut nama Kyungsoo berulang-ulang.


Sementara itu, di satu rumah reot yang hanya satu-satunya di sana, Kyungsoo tampak tertegun terduduk di kursi rodanya. Kedua tangannya yang mengambang di udara tampak gemetar hebat. Di bawah kakinya tercecer serpihan kaca dengan selembar foto disertai bingkai kayunya yang saling terlepas. Foto Jongin.

"Kau kenapa Jongin-ah? Ada apa Jongin-ah....?" racau Kyungsoo dengan airmata yang perlahan meluap dari kedua mata indahnya. Kyungsoo tidak mengerti, tiba-tiba saja foto itu terlepas dari tangannya saat dia hendak mengembalikan ke atas nakas di samping ranjang. Sebenarnya itu kejadian biasa, namun tiba-tiba firasat buruk menghampiri benak Kyungso. Jantungnya mendadak berdenyut nyeri. Satu nama itu langsung terlintas di pikirannya. Jongin. Kim Jongin.

Kyungsoo segera memutar balik kursi rodanya. Mendorong roda itu tergesa menuju pintu depan. Seringkali jemarinya terpeleset hinga menggesek roda, menghasilkan goresan tak kecil di jemari mungil itu.

Belum sempat Kyungsoo mencapai pintu, benda persegi coklat muda itu terbuka. Mata Kyungsoo langsung terbelalak. Suara langkah terseok-seok terdengar di telinganya. Dia tahu, sosok yang tengah dia khawatirkan berdiri disana. Jongin. Jongin dengan luka di wajah, dan darah yang mengalir dari perutnya yang ia cengkeram. Tentu Kyungsoo tidak melihat, namun dia tahu itu Jongin, hatinya yang memberitahu dan Kyungsoo juga sadar ada suatu hal buruk yang terjadi. Kyungso mengangkat tangannya menggapai kearah depan, isyarat agar Jongin mendekapnya. Namun Jongin tak kunjung datang. Bukannya tidak mengerti dan tidak mau, Jongin sedang menuju kearah Kyungsoo, namun merangkak. Karena tubuhnya yang langsung tersungkur sesaat setelah membuka pintu.

"Jo-Jonginnie...hiks...waeyo Jongin-ah? Jongin..." lirih Kyungsoo berlinangan airmata. Dia ingin mendekat, namun terhenti saat merasakan seseorang –Jongin- memeluk erat kakinya. Jongin tersenyum lembut, berlutut di kaki Kyungsoo, menyandarkan kepalanya di pangkuan hangat namja itu.

"Senang bisa melihatmu, Kyungie. Aku sangat ingin melihatmu. Seterusnya. Selamanya. Aku mencintaimu, Kyungie...uhuk...arrghh" Jongin terbatuk dan mengerang, namun dia terus tersenyum. Kepalanya mendongak menatap wajah Kyungsoo yang kini pucat pasi penuh airmata.

"Jangan menangis, sayang. Kau harus tersenyum untukku hari ini." Ucap Jongin menghapus perlahan airmata di pipi Kyungsoo dengan tangannya. Tak pelak darah ikut melekat di wajah itu dan Kyungsoo bisa menciumnya. Airmatanya semakin deras mengalir. Dia tahu dengan jelas aroma itu.

"Waeyo, Jonginnie? Hiks...kau kenapa? Kau—hiks. Kau kenapa Jongin-ah?" kedua tangan Kyungsoo bergerak meraba wajah Jongin dan gemetar hebat saat merasakan beberapa luka dan aliran darah di situ. Tangannya beralih mengusap kepala Jongin dan Kyungsoo lagi-lagi tercekat saat merasakan ada darah di tempat itu. Jongin hanya memejamkan matanya menikmati belaian hangat jemari Kyungsoo. Jongin sangat menyukai hal ini. Jongin suka saat Kyungsoo mengusap lembut seluruh tubuhnya.

"Hiks...Hiks..." Kyungsoo beralih meraba tubuh Jongin dan saat ujung jarinya menyentuh luka menganga di tempat itu, Kyungsoo langsung menjerit histeris. Jongin nya...Jongin nya...

Jongin menggenggam lembut jemari yang gemetar itu dan menaruhnya kembali di wajahnya. "Tunggu...se—sebentar..." ucap Jongin pelan. Tanpa sepengetahuan Kyungsoo, Jongin dengan susah payah mengeluarkan amplop dan kertas di balik mantelnya, membalik kertas itu, menggores sesuatu di sana kemudian meletakkan barang-barang itu di lemari kecil di sampingnya.

"Arrghh..." Jongin kembali mengerang. Kepalanya terjatuh kembali di pangkuan Kyungsoo.

"Jongin...hiks...waeyo...hiks...hiks..." Kyungsoo terus menangis. Meraba pucuk kepala Jongin yang mulai bernafas terputus-putus.

"Kyungie-ah..."

"Jongin...waeyo? Katakan kau kenapa Jongin-ah? Kumohon katakan sesuatu. Hiks...Jongin..." derai air mata masih setia menemani isak tangis Kyungsoo di malam itu. Aroma anyir makin menusuk kedalam hidungnya dan tubuh Jongin perlahan mulai mendingin.

"Ma—maafkan aku yang t—tidak bisa menjagamu hingga ak-akhirmuuhh—arghh...ma—maafkan aku be—belum bisa memberikan kebahagiaan utuh untuk—mu-hhhh..."

"Apa yang kau katakan Jongin-ah? Jangan bicara seperti itu...hiks..kau adalah segalanya untukku. Aku tak butuh apapun asal kau ada disisiku, Jongin-ah...hiks...Jongin..hiks.." Kyungsoo mengusap gusar kepala Jongin yang berbaring di pangkuannya. Cairan kental itu makin terasa menempel di telapak tangan Kyungsoo. Kyungsoo sadar, Jongin sekarang...sekarat.

"A—Akupun begitu, Kyungie—hhh..ha—hanya saja –ukh—aku...aku tidak mampu lagi..."

"Hentikan! Jangan mengucapkan apapun! Aku akan mengobatimu...hiks.." Kyungsoo hendak menjangkau lemari kecil di sebelahnya, namun Jongin segera menangkap tangan itu dan meletakkannya kembali di pipinya yang penuh luka lebam.

"Terimaka—hhh—sih telah bersamaku hingga—ak—akhiiirrrhh...hh—hh... Aku...akuhhh me-mencintaimu—Do Kyungsoo-ku. Saranghae..hhh..aku—aku senang telah men-menjadi orang yang—akkhh—orang yang kau cintai..."

Perlahan Jongin mengangkat tubuhnya. Menatap dalam pada kedua mata Kyungsoo yang terus menurunkan airmatanya. Mata yang sangat disukai Jongin itu kini bersedih akibat dirinya. Bibir yang sering ia kecup itu kini bergetar hebat dalam rintihan pemiliknya. Jongin sangat menyesal, namun dia kembali tersenyum mengingat bahwa dia akan mengabulkan impian Kyungsoo.

"Jonginnie—hiks..." Kyungsoo yang tahu jika wajah Jongin berada tepat di depannya segera membelai sayang wajah itu dengan lembut. Jongin makin mencondongkan tubuhnya kearah Kyungsoo hingga nafas hangat kesukaannya itu bisa ia rasakan.

"Saranghae, Kyungie-ku."

Chup

Satu ciuman Jongin sematkan di tengah aliran airmata dan rasa sakit yang ia alami. Jongin mencium bibir itu penuh damba. Sangat lembut. Menyentuhnya di setiap sudut dengan lumatan hangat yang memabukkan. Menyalurkan seluruh rasa cinta dan kasih sayang yang ia miliki untuk namja yang saat ini menangis karenanya.

Jongin terus melumat bibir yang bergetar itu, semakin intens saat merasa Kyungsoo perlahan mulai membalas ciumannya. Keduanya terus berpagut walau rasa asin airmata ikut tersesap di belahan delima itu. Airmata yang entah punya siapa. Kyungsoo dan Jongin menangis dalam ciumannya.

Perlahan-lahan lidah Jongin yang berada dalam mulut Kyungsoo mulai bergerak pelan. Semakin lama semakin lemah. Menarik dirinya sendiri keluar dari dalam mulut Kyungsoo. Dan saat ciuman itu terhenti, Kyungsoo menangis berteriak histeris. Menjerit sekuat yang bisa diiringi dengan rebahnya kembali kepala Jongin dalam pangkuannya. suara.

"Jongiiiiiinnnnnn! Hiks...jangan tinggalkan aku, Jongin-ah. Jangan tinggalkan aku. Bangun Jongin-ah! KIM JONGIN BANGUUUNN!" Kyungsoo terus menangis histeris berteriak menyebut nama Jongin. Tapi semua sia-sia. Jongin tidak merespon apapun. Bahkan terpaan hangat yang beberapa saat lalu Kyungsoo rasa di pahanya kini menghilang. Wajah dalam bingkai jemarinya itu terasa kaku dan dingin.

TIDAK !

TIDAK !

Kyungsoo menggelengkan kepalanya kuat-kuat dengan raut wajah frustasi. Mata yang hampa cahaya itu seakan tak kenal lelah terus menurunkan limpahan air matanya.

"Jongin-ah! Bangun! Hiks...banguuunn...Kim Jongiiinnn!" Dipeluknya erat kepala Jongin yang ada dalam pangkuannya kemudian dengan gemetar dia mencoba turun dari kursi rodanya, merosot, menyejajarkan tubuhnya dengan Jongin yang dalam keadaan bersimpuh. Tubuh kaku itu dipeluknya dengan erat. Sangat erat dengan lirihan nama sang pemilik tersemat dalam tiap isakannya.

.

.


Beberapa menit berlalu, dua orang berseragam polisi datang menggebrak paksa pintu rumah membuat Kyungsoo terkesiap. "Si—siapa? Siapa disana?!" Kyungsoo tanpa sadar semakin memeluk erat Jongin seakan meminta perlindungan dari tubuh tanpa jiwa itu dan juga seakan melindungi tubuh dalam pelukannya. Sebelah tangannya menjulur kedepan meraba-raba sekitarnya. Saat itulah kedua orang yang berada di depan pintu sadar dengan kekurangan lain yang dimiliki Kyungsoo selain kursi roda itu.

"Kami polisi. Dimana Kim Jongin?" ujar salah seorang yang dengan suara beratnya. Mereka kemudian tertegun, saat melihat sesosok raga dalam dekapan erat namja mungil itu.

"Hiks...Jongin—hiks..." Kyungsoo tidak menjawab. Hanya terus menangis membuat polisi yang bertubuh tinggi berperawakan tegas menghampirinya. Saat hampir tiba di depan tujuan, polisi itu mengernyit melihat tumpukan kertas dan juga amplop coklat tebal di atas meja kecil di sampingnya dan sedetik kemudian mata namja itu terbelalak lebar. Sesuatu di sana membuatnya terkesiap. Kertas itu. Kertas dengan tulisan merah itu.

Dengan ragu polisi ber—nametag Wu Yifan itu mengambil kertas kecil dengan tulisan merah di sana. Membacanya dan untuk beberapa saat namja itu terdiam dengan tatapan menerawang kemudian memandang sendu kearah Kyungsoo yang terus menangis memeluk seorang yang ia yakini telah menjadi mayat.

"Waeyo, Yifan-ssi?" tanya polisi satunya yang ber—nametag Park Chanyeol.

Yifan membalikkan tubuh menghadap Chanyeol dan memperlihatkan kertas itu padanya. Chanyeol tidak dapat membaca jelas tulisan pada kertas itu, dia hanya tahu jika tulisan itu berwarna merah dengan huruf-huruf besar yang tampak semrawut.

Yifan perlahan mendekat, menyentuh lembut pucuk kepala Kyungsoo membuat namja mungil itu berteriak sengit.

"JANGAN MENDEKAT!" Yifan dan Chanyeol terkejut, namun kemudian Yifan tersenyum sendu. Namja tinggi itu ikut bersimpuh di sebelah Jongin menatap Kyungsoo dalam.

"Kim Jongin ditusuk teman mantan komplotannya dulu. Kami berhasil meringkus mereka namun kami tidak menemukan Jongin. Saat di lokasi, aku dan rekanku, Chanyeol, melihat jejak darah kemudian memutuskan untuk mengikutinya hingga kami sampai di sini.

Kyungsoo terdiam mendengar penjelasan polisi di sebelahnya dan kembali menangis lebih hebat di detik berikutnya. Tubuh dingin Jongin makin membuat hatinya hancur. Orang yang dia sayangi benar-benar telah tiada. Satu-satunya orang yang ia cintai pergi meninggalkannya selamanya. Chanyeol dengan sigap menarik Jongin pelan dari Kyungsoo. Sedikit mendapat perlawanan dari namja mungil itu namun Yifan dengan sigap menarik tubuh Kyungsoo kedalam pelukannya. Chanyeol merebahkan tubuh Jongin di atas karpet tipis dalam ruangan itu kemudian kembali melihat kearah rekannya.

"Dia orang baik. Jongin sangat mencintaimu. Mulai sekarang aku yang akan menjagamu untuknya." Yifan semakin merapatkan Kyungsoo dalam pelukannya. Chanyeol merasa heran dengan sikap rekannya yang akrab disapa Kris itu. Mereka berdua memang mengenal Jongin karena kerap kali bertemu namja itu di kantor namun, dia yakin mereka tidak mengenal namja manis yang kini tengah meringkuk dalam pelukan Kris sambil terisak-isak. Chanyeol sebenarnya sangat menyayangkan kejadian yang menimpa Jongin, dia tahu Jongin telah banyak berubah. Sama sekali tidak menyangka hidup Jongin akan berakhir tragis seperti ini. Secarik kertas bertulisan merah yang tergeletak di samping Kris membuat rasa penasaran Chanyeol muncul.

Dengan pelan, Chanyeol meraih kertas kecil yang tergeletak di lantai itu. Kris masih sibuk menenangkan Kyungsoo yang terus menangis histeris hingga tidak menyadari Chanyeol mengambil kertas itu dari sampingnya.

Chanyeol membaca huruf demi huruf pada kertas itu dan kemudian...sama seperti reaksi Kris. Dia terdiam. Memandang sendu kearah Kyungsoo. Matanya memanas seketika.

Kyungsoo terus menangis tanpa peduli pada dua orang di dalam rumahnya. Terus menjerit hingga perlahan isakannya melemah dan detik berikutnya dia terkulai lemas di lengan Kris.

"Jonginnie~..." lirihnya pelan. Samar-samar Kyungsoo mendengar sirine ambulance dan mobil polisi di luar rumahnya, dia juga dapat mendengar suara-suara yang berteriak memanggilnya. Kyungsoo tersenyum tipis dan kemudian mata bulat penuh airmata itu perlahan tertutup rapat. Meninggalkan dua orang yang mulai panik dan secarik kertas putih berwarna merah yang terbang perlahan mendekat kearah tubuh yang terbujur kaku di tengah ruangan.

.

.


Siapapun kau. Tolong malaikatku ini!

Do Kyungsoo

Malaikatku yang rapuh dan terluka.

Bawalah dia kerumah sakit di Seoul, kembalikan cahaya di berlian indahnya. Amplop itu berisi uang yang dibutuhkan.

Tolong jaga dia untukku. Karena aku sangat mencintainya lebih dari apapun. —KAI

.


THE END


Salam hangat buat semua yang udah baca ff ini.

Maaf jika endingnya mengecewakan. Maaf juga bila bukan happy ending seperti yang banyak teman-teman minta.

Draft yang udah jadi emang kek gini. Terasa janggal jika diubah. Maafkan aku. #deepbow m(_ _)m

Gak nyesek banged 'kan? Gak da yang banjir 'kan? Maaf lagi alo 'iya'. Aku gak tau lagi musti gimana #deepbowlagi m(_ _)m

Terimakasih buat yang udah baca.

Berkenankah memberi review?

Aku senang sekali jika banyak yang bersedia memberikan respon untuk cerita ini. Mudah-mudahan aku bisa buat cerita lain lagi. Amiiinnn

Sampai Jumpa Semuanya..^^

.

Special XOXO to:

Ms. SMC, setyoningt, Sexy Rose, agaa, kaihunhan, kriswu393, dyodokyung, opikyung0113,SooBaby, Guest, love120193, Jenny, zhiewon189, KaiSa, Dela

.

Buat yang nanya maksud Taemin bilang 'meninggalkan dia lebih lama itu", si Jongin kan mau ikut borongan yang mulai dari jam 7 pagi. Biasanya tuh Jongin gak jam segitu perginya. Agak siangan. jadi Taemin tuh khawatir, Kyungsoo bisa gak alo ditinggal Jongin dari sepagi itu. Gitu. ^^


LOVEXO, LOVE KAISOO, HAPPY EXOTICS, HAPPY EXOSTAN