I'll Get You, KIM JOON MYUN!

Author : Mir

Main Cast : Lay, Suho EXO

Support Cast : All of member EXO, Daehyun BAP, Woohyun Infinite, EunHae SuJu

Warning : typo, gaje

.

.

.

YEEEEEEEEEEEEE AKHIRNYA MIR UPDATE MUAHAHAHA *KETAWA NISTA(?)*

Awalnya Mir udah putus asa dan ga pengen ngelanjutin ni FF jadul lagi, tapi kenapa review selalu bertambah dari hari ke hari mintain Mir lanjutin FF ini?! T_T

Dan akhirnya karena Mir tertekan lahir dan batin + dihantui SuLay akhirnya Mir tamatkan FF ini dalam 2 hari 1 malam! Uyee \(^O^)/

Mir mau minta maaf yang sebesar-besarnya kepada readers yang menanti cerita ini *kayak ada aja*, Mir emang author yang paling lelet dalam namatin FF nya huhuhu T_T

Semoga yang maafin dapat pahala dan sering-sering dapat fanservice dari couple bias masing2 (?)

BIG THANKS BUAT 670 RIEVEWERS, 157 FAVORITES DAN 123 FOLLOWERS! MIR CINTA KALIAN SEMUAAAA :*

JJANG! HIDUP SULAAAAAAY! *KIBAR BANER SULAY IS REAL(?)*

.

.

.

CHAP THIRTEEN - ENDING (BAGIAN AWAL)

.

.

Saat ini di sebuah café yang bernuansa hening, terlihat dua orang namja cantik yang sedang menatap satu sama lain. Kelihatan sekali dua namja itu sedang membicarakan hal yang serius. "Jadi bagaimana? Apa pendapatmu?" tanya salah satu namja memecah keheningan diantara mereka.

Namja yang lainnya menghelakan napas panjang. "Aku tidak tahu hyung. Dari hari ke hari tingkah Suho semakin aneh saja semenjak dia bertunangan dengan anakmu. Dia terus mengurung diri di kamar, keluar hanya untuk makan. Sekolah pun tidak mau, katanya dia belum siap."

"Aku tidak tahu persis kondisi Lay seperti apa karena dia sudah tinggal di asrama, tetapi aku merasa dia bukan Lay yang dulu. Lay yang sekarang terlihat sangat lesu." Timpal namja yang kita bisa kenali sebagai eommanya Lay, Zhang Heechul.

Lawan bicaranya, Kim Ki Bum dari eommanya Suho mengangguk paham.

Cukup lama mereka saling bertatapan seolah sedang berbicara dengan batin masing-masing. Sampai salah satu diantara mereka mengeluarkan suara lagi.

"Kita batalkan saja pernikahan mereka."

.

.

.

.

"Kim Joon Myun? Masih tidak masuk ya?" tanya Donghae pada anak-anak didiknya. Ke sebelas namja yang berada di kelas itu menggeleng.

"Hey, apa benar lo ama Woohyun hyung pergi ke rumah Suho hyung kemaren?" tanya Sehun pada teman sebangkunya, Baekhyun.

Baekhyun menjitak Sehun pelan. "Panggil gue hyung babo! Beneran kok! Dengan bantuan Kai gue menyamar jadi yeoja dan sukses masuk ke kamar Suho hyung. Gue udah jelasin semuanya dibantu Woohyun hyung juga.."

Luhan yang duduk dibelakang Sehun dan Baekhyun langsung memasang wajah resah. Ini sudah lebih dari seminggu dan Suho benar-benar bolos sekolah! Itu artinya Suho benar-benar marah. Luhan pun memandang Lay yang berwajah lebih muram darinya. Sungguh malang nasib Lay yang selalu memperbaiki hubungan pasangan-pasangan yang lain, tetapi tidak bisa memperbaiki hubungannya sendiri.

.

.

.

.

Tililililit~

"Hallo eomma?" ucap Lay langsung begitu mengangkat telponnya.

"Chagi bagaimana sekolah mu?" tanya eommanya lembut. Lay mengerunyutkan dahinya bingung. Pasalnya jika eommanya sedang berkata lembut seperti ini pasti akan berujung dengan kabar yang tidak baik.

"Baru saja kelasku selesai. Aku sedang menunggu Luhan hyung ke toilet, memangnya ada apa eomma?" tanya Lay gugup. Tak bisa disangkal jantungnya berdetak kencang, seperti sesuatu yang buruk memang akan terjadi.

Dan perkiraan Lay benar.

"Eomma dan eommanya Joonmnyun sudah berdiskusi… Pernikahanmu dan Joonmyun akan dibatalkan."

.

.

.

.

"Lay?" panggil Luhan sambil menepuk pundak Lay yang terlihat sedang melamun.

"A-ah hyung sudah balik dari toilet?"

"Kenapa muka lo kelihatan tegang? Apa yang terjadi?" tanya Luhan seolah menyadari ada yang lain dari Lay.

"Gwenchana hyung, ayo kita balik ke asrama sekarang."

Luhan menatap Lay dalam-dalam.

"Lo yakin?"

Entah mengapa Lay merasa pandangannya berkunang-kunang, Luhan terlihat berbayang-bayang seperti ada 3 Luhan, dan pandangannya semakin kabur… sampai akhirnya ia tidak bisa mengingat apapun lagi.

.

.

.

.

.

"Mwo?! Lay hyung pingsan?!" kaget Sehun saat menerima kabar dari Luhan lewat telepon.

"Maaf aku menelfonmu Sehunnie, aku tidak tahu harus bilang ke siapa lagi… Asrama benar-benar kosong, semuanya sedang berpergian…"

Saat ini Luhan dan Lay sudah berada di asrama tepatnya di kamar mereka sendiri. Luhan membawa Lay dengan kekuatan telekinesisnya.

"Gwenchana Luhannie, sudah seharusnya hyung menghubungiku. Aku, Chanyeol hyung dan Baekhyun hyung akan segera ke asrama sekarang."

"Sampaikan maafku ke Baekhyun dan Chanyeol ne. Annyeong.."

Luhan mematikan sambungannya dan mengalihkan pandangannya ke Lay yang masih tak sadarkan diri. Ia merasa de javu karena dulu Lay juga pernah seperti ini.

"Apa jangan-jangan penyakit Lay kambuh lagi ya? Aish harusnya gue bawa ke rumah sakit tadi!" resah Luhan sambil mengacak-acak rambutnya. Apa yang harus ia lakukan sekarang?!

"…Luhan hyung?"

Luhan tersadar dari lamunannya. Barusan Lay memanggil namanya!

"LAY?! LO UDAH SADAR?!" teriak Luhan kalang kabut.

"Ssst tidak perlu teriak-teriak hyung, lo mau semua penghuni kamar masuk ke kamar ini?" kata Lay lemah.

"Sedang tidak ada siapa-siapa di lantai ini. Syukurlah lo sadar Laaay! Awalnya gue mau bawa lo ke rumah sakit!"

"Gue nggak apa-apa hyung, nggak perlu dibawa ke rumah sakit."

Luhan menatap Lay sendu. "…kenapa lo bisa pingsan?"

"Sepertinya penyakit dalam gue kambuh lagi hyung… Maaf ini gara-gara gue nggak jaga kesehatan…"

"Jangan pernah seperti ini lagi, apapun yang terjadi lo harus tetap menjaga kesehatan. Apalagi lo adalah seorang healer, penyembuh bagi semua orang. Banyak yang butuhin lo Lay…"

"Gue janji akan jaga kesehatan hyung…"

Luhan tersenyum tipis sambil mengusap rambut Lay. Tiba-tiba ia teringat akan Sehun. Ia harus mengabari Sehun tentang kesadaran Lay, namja itu pasti panik mendengar hyung kesayangannya pingsan.

Saat Luhan akan menghubungi Sehun, tiba-tiba handphonenya sudah berdering duluan.

Sehunnie calling…

"Waeyo Sehunnie?" tanya Luhan langsung.

"Hyung mianheee! Tadi karena panik mendengar Lay hyung pingsan, Chanyeol hyung yang sedang mengendarai mobil nggak sengaja nyenggol mobil orang lain sehingga urusannya menjadi panjang sekarang! Sepertinya kami akan tiba sedikit lebih lama tiba disana…" suara Sehun terdengar panik, sesuai dugaan Luhan.

"Gwenchana Sehunnie, Lay baru saja sadar. Kalian tidak perlu khawatir dengan kondisi disini."

"Benarkah? Aigoo syukurlah Lay hyung sudah sadar! Kalau begitu… bisakah hyung datang kemari sekarang?"

"Eh? Untuk apa?"

"Baekhyun hyung meninggalkan dompetnya, sedangkan uangku dan Chanyeol hyung tidak akan cukup untuk mengganti biaya ganti rugi… Bisakah hyung? Atau Lay hyung masih membutuhkanmu disana?" tanya Sehun ragu-ragu.

Luhan tampak menimbang-nimbang. Anak kelas A yang lain pasti sedang sibuk dengan urusan masing-masing sehingga Sehun harus menelfon Luhan yang sedang menjaga Lay. Tetapi ia tidak mungkin meninggalkan Lay dengan kondisi yang belum stabil sendirian!

"Waeyo Luhan hyung? Sehun bilang apa?" tanya Lay.

Luhan mengarahkan pandangannya pada Lay. "Sehun, Baekhyun dan Chanyeol mengalami kecelakaan kecil. Mereka minta gue buat kesana…"

Lay tersenyum maklum. Pasti Luhan mengkhawatirkan kondisinya. "Pergilah hyung, gue nggak apa-apa ditinggal sendirian disini. Gue cuma butuh istirahat."

Luhan menggeleng kuat. "Ani! Kondisi lo masih lemah banget, nanti kalau terjadi apa-apa bagaimana?"

"Hyung, lo lupa gue seorang healer?"

"Tetapi lo nggak bisa nyembuhin penyakit yang datang dari dalam diri lo sendiri kan?!"

"Kalau ada apa-apa gue bisa panggil Daehyun atau Namu. Pergilah, Sehun lebih membutuhkan hyung."

Luhan tampak ragu berpikir berulang-ulang sebelum mengambil keputusan final.

"Gue bisa jaga diri hyung, percaya sama gue." Ucap Lay meyakinkan lagi.

"Hhh baiklah. Lo jangan rusak kepercayaan dari gue. Kalau ada apa-apa langsung hubungi Daehyun, Woohyun atau gue. Arraseo?" tanya Luhan.

"Mengerti hyung! Sudah pergilah sana, kasihan mereka terlalu lama nunggu hyung."

"Baiklah, gue pergi dulu Lay. INGAT PESAN GUE!" kata Luhan lagi.

Oh betapa bawelnya namja cantik yang satu itu -_-

.

.

.

.

Tik tik tik

Suara detak jarum jam terdengar jelas karena suasana kamar Luhan-Lay yang hening tanpa suara sedikitpun. Luhan masih pergi sedangkan Lay tertidur lelap di kasurnya. Beberapa saat kemudian Lay pun terbangun karena merasa semakin lama suhu semakin dingin. Padahal ia sudah memakai selimut dari kaki sampai ke leher.

"Aish… apa yang terjadi? Mengapa dingin sekali?" gumam Lay lemas sambil menggosok-gosok tangannya. Lay melihat ke luar jendela. Pantas saja dingin, rupanya salju mulai turun. Sempat terbesit di benak Lay kalau suhu dingin ini ulahnya Xiumin(?).

"Hari pertama salju turun… pantas saja yang lain sedang berpergian." Ucap Lay meratapi nasib malangnya yang sakit. Dengan susah payah ia beranjak dan turun dari kasur untuk sekedar mengambil jaket atau sesuatu yang bisa menghangatkan tubuhnya.

"Uh dingin sekali…" mulut Lay sampai mengeluarkan uap saking dinginnya sore itu. Di tambah dengan suhu badannya yang sepertinya semakin panas, suhu udara sekitar bertambah berkali lipat menjadi lebih dingin. Lay meraih jaket tebal dan langsung memasangkan pada tubuhnya. Celananya pun diganti dengan bahan yang lebih tebal. Tidak terlalu berpengaruh besar, tetapi badannya sudah merasa lebih hangat dibanding yang tadi.

Tililililit~

Handphone Lay berdering menandakan ada SMS yang masuk. Dengan segera Lay meraih handphonenya.

"Pasti dari Luhan hyung," tebak Lay langsung.

Tetapi ternyata ia salah.

Mata Lay melebar.

.

.

.

From : Suho hyung

Datanglah ke atap sekolah sekarang juga. Atau kita tidak akan pernah bertemu lagi.

.

.

.

.

"Kami pulaaaaang!" teriak Baekhyun, Chanyeol dan Sehun kompak begitu mereka keluar dari lift di lantai 3. Tanpa membuang-buang waktu lagi Luhan langsung berlari keluar lift menuju kamarnya dan Lay. Ia merasakan firasat yang sangat buruk.

Ceklek!

"Lay?!" teriak Luhan begitu membuka pintu kamar mereka. Tetapi nihil, ia tidak menemukan siapapun di dalam kamarnya. Firasat buruknya memang benar. Dari awal ia sudah salah meninggalkan Lay sendirian di dalam kamar.

"Gimana kondisi Lay hyung?" tanya Chanyeol sambil melihat ke dalam isi kamar juga. Tetapi sang objek tidak ditemukan di dalam kamar.

"Loh dimana Lay hyung?!" kaget Chanyeol dengan suara bassnya membuat Baekhyun dan Sehun kaget. Luhan melangkahkan kakinya membuka pintu kamar mandi, tetapi sesuai dugaan ia tidak menemukan siapapun. Pandangannya beralih kearah jaket Lay yang tergantung sebelum ia pergi, sekarang sudah menghilang. Itu menguatkan dugaannya bahwa Lay memang pergi dari kamar ini.

"Lay… kenapa lo merusak kepercayaan gue?" lirih Luhan mengepalkan tangannya kuat.

Sehun mengusap pundak namjachingunya dari belakang. "Ayo kita coba cari Lay hyung di kamar lain…" kata Sehun dengan lembutnya.

Luhan menggeleng. "Percuma, gue yakin dia sudah keluar dari asrama ini!"

"Belum tentu… Lay hyung tidak mungkin keluar dari asrama dengan meninggalkan handphonenya bukan?" ucap Baekhyun kemudian sambil mengambil benda kecil yang tergeletak di atas meja Lay.

"Handphonenya Lay?" sahut Luhan sedikit lega melihat handphone Lay yang masih tinggal. Masih ada kemungkinan Lay berada di dalam asrama.

Luhan membuka handphonenya Lay, dan langsung terpampang sebuah message.

Message dari Suho yang mengatakan ingin bertemu Lay di atas atap sekolah.

"…"

Tanpa ada yang mengeluarkan suara, mereka berempat sudah bisa menyimpulkan sesuatu.

Lay tidak mungkin masih berada di asrama sekarang.

.

.

.

.

.

"Hosh hosh hosh…"

Lay bersandar di dinding koridor sejenak untuk mengambil napas. Ia sudah berlari sejak tadi dari asrama dan itu memakan energi yang sangat banyak untuk kondisinya yang sekarang. Sudah berkali-kali ia merasa oleng dan jatuh, tetapi ia tetap bangkit demi bertemu dengan Suho.

Lay menoleh ke arah kiri dan menemukan tangga menuju atap. Tinggal melewati itu saja dan ia bisa bertemu dengan Suho.

'Tenang Lay… ini kesempatan terakhir untuk berbaikan dengan Suho hyung, lo nggak boleh menghancurkan semuanya…' batin Lay sambil menenangkan detak jantungnya.

Setelah napasnya mulai stabil, Lay melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju atap sekolah dan membuka pintunya.

Ceklek!

Dengan tangan yang menggigil Lay membuka pelan pintunya. Suhu udara yang sangat dingin kembali menusuk tubuhnya yang masih demam. Bisa dipastikan wajah Lay sangat pucat sekarang.

"Suho hyung…" panggil Lay lemah.

Suho yang awalnya tidak menyadari kehadiran Lay karena berdiri membelakangi pintu, membalikkan badannya untuk melihat namja berdimple itu.

"…Kenapa lama sekali? Gue kira lo bakal sesegera mungkin kemari begitu menerima message dari gue." Ucap Suho dengan wajah tetap tenang. Tidak terpengaruh sama sekali dengan dinginnya udara.

Lay merutuki Suho dalam hati. Kalau saja kondisinya tidak selemah ini, ia sudah berlari kilat untuk menemui Suho di atas atap!

"…Maaf." Hanya itu yang bisa Lay ucapkan.

"Hhh sudahlah. Sekarang… lo udah tahu tujuan gue ketemu dengan lo kan?" tanya Suho dengan uap yang selalu keluar dari mulutnya ketika ia berbicara. Hari semakin dingin saja.

Lay megangguk pelan. "Hyung… ingin hubungan kita… tidak seperti ini saat nanti kita… kita…" tanpa Lay sadari suaranya sudah berubah menjadi isakan. Ia tidak bisa berkata berpisah dengan Suho. Tidak terbayang bahwa dirinya akan berpisah dengan orang yang ia cintai.

Suho melangkahkan kakinya mendekati Lay, lalu memeluk Lay dengan erat. "Sudahlah jangan dilanjutkan lagi… mau tidak mau kita harus menjalankan semuanya sesuai keputusan dari orangtua kita…" kata Suho lirih.

Lay semakin mengeluarkan tangisannya. Sepertinya Suho bisa menerima keputusan bahwa pernikahan mereka batal. Tentu saja Lay, setelah apa yang sudah lo perbuat selama ini lo masih berharap Suho menentang pembatalan pernikahan kalian?

"Gue nggak mau kedepannya hubungan kita masih diam-diaman dan awkward seperti sekarang. Gue sadar, tingkah gue kemaren seperti anak-anak yang marah karena sudah dibohongi. Tetapi yang berlalu biarlah berlalu, kita perbaiki semuanya sekarang. Meski hubungan kita tidak akan seperti dulu, lo mau berusaha kan Lay?" tanya Suho sambil mengusap rambut Lay yang lembut.

Lantas Lay harus berkata apa selain 'iya'?

"Baiklah hyung… kita tuntaskan semuanya sebelum hubungan kita benar-benar berakhir."

.

.

.

.

.

Setelah cukup lama berunding akhirnya Lay dan Suho memutuskan untuk pergi jalan-jalan ke salah satu festival yang di adakan di Seoul. Selama dalam perjalanan tidak ada yang memulai pembicaraan. Kedua namja itu saling diam dengan jarak di antara mereka.

"Oh ya, Lay…"

Lay menoleh ke Suho. Akhirnya namja angelic itu mau membuka pembicaraan!

"A-apa hyung?"

Suho memperhatikan Lay dengan seksama, lalu kembali mengalihkan pandangannya kejalanan. "Gue senang lo masih menyimpan kerang pemberian gue." Kata Suho dengan senyuman terukir di bibirnya.

Tidak bisa dipungkiri wajah Lay yang tadinya pucat sekarang bersemu merah. Ia melihat ke arah lehernya dan benar saja kerang yang ia jadikan kalung ternyata berada di luar bajunya. Lay pun segera memasukkan kalung itu ke dalam bajunya agar tetap hangat dan segera memakai hoodie nya.

"Wah gue nggak tahu festival bakal seramai ini. Jangan sampai kita terpisah Lay." Kata Suho sambil menggenggam tangan Lay.

Gawat, wajah Lay memerah lagi!

Suho yang menyadari wajah Lay yang berubah hanya bisa tertawa kecil. Namja berdimple disampingnya ini benar-benar lucu!

"Pegang tanganku erat-erat. Kita akan bersenang-senang malam ini." Ucap Suho dengan senyuman tampannya. Lay baru menyadari bahwa Suho benar-benar tampan. Tangan Suho terasa sangat pas di genggaman tangannya Lay.

Diam-diam Lay tersenyum.

Ini baru Kim Joon Myun yang pernah ia kenal.

.

.

.

.

.

Tilililit~

"Hallo? Bagaimana Baek, apa Suho dan Lay ada di atap sekolah?!" tanya Luhan begitu menerima telepon dari Baekhyun.

"Ng… maaf hyung tidak ada… gue dan Yeolli malah udah nyari ke seluruh koridor sekolah tetapi tidak ada siapa-siapa… kelas pun terkunci semua…" lapor Baekhyun lesu.

Luhan menghelakan napas panjang. "Yasudah lebih baik lo dan Chanyeol pulang sekarang. Cuaca di luar semakin dingin, nanti kalian sakit."

"Ne hyung."

Luhan menutup handphonenya dengan wajah tertekuk.

"Melihat ekspresi lo, pasti Lay dan Suho tidak ditemukan." Tebak Xiumin sambil melipat kedua tangannya.

Luhan mengangguk lemas menanggapi tebakan Xiumin.

Saat ini Xiumin, Chen, Kris dan Tao sudah tiba di asrama. Mereka sudah diberitahu tentang hilangnya Lay (untuk yang kedua kalinya). Chanyeol dan Baekhyun pergi melihat keatap sekolah, sementara Sehun sejak awal setia menemani Luhan yang masih frustasi di kamarnya.

"Sudah coba hubungi Suho hyung?" tanya Chen.

Sehun mengangguk. "Yang menjawab malah Gongchan hyung. Handphone Suho hyung tinggal dirumahnya."

Kris geleng-geleng melihat kelakuan wakilnya. "Dasar anak itu… dia mengirim message pada Lay agar bertemu, tetapi malah tidak membawa handphonenya. Bagaimana jika seandainya Lay tidak datang?"

"Suho hyung percaya Lay hyung pasti akan datang… dia begitu mempercayai Lay hyung…" ucap Tao dengan senyuman manisnya.

"Aish gue nggak bakal sepanik ini jika kondisi Lay baik-baik saja! Gue juga ingin Suho dan Lay berbaikan, tetapi tidak disaat seperti ini!" Luhan kembali mengacak rambutnya. Sehun langsung kembali menenangkan Luhan.

"Luhan hyung tenanglah, Lay sedang bersama Suho sekarang. Suho bukanlah orang bodoh yang tidak peka terhadap sekitarnya terutama Lay, mana mungkin ia tidak sadar bahwa Lay sedang sakit?" kata Kris bijak.

Luhan berusaha menenangkan dirinya dan mempercayai kata-kata Kris. Semoga saja itu memang benar.

"By the way Kai dan Dio hyung mana ya? Mengapa mereka belum pulang?" tanya Tao sambil melihat keluar jendela.

"Sepertinya mereka masih asyik bermesraan diluar. Dasar KaiSoo!" sahut Chen sambil mengikuti pandangan Tao.

.

.

.

.

.

"Suho hyung, gue mau gulali itu…" pinta Lay dengan puppy eyesnya.

"Hahaha baiklah tunggu disini ne, biar hyung belikan." Pesan Suho sebelum ia menghampiri sang penjual gulali. Lay mengangguk patuh.

Begitu Suho ditelan(?) oleh para pengunjung yang super ramai itu, Lay menduduki dirinya di bangku yang tak jauh dari tempatnya dan Suho berpisah. Tubuhnya kembali menggigil menahan rasa dingin dan demam yang sepertinya semakin menjadi. Untung saja ia memakai sarung tangan sehingga Suho tidak menyadari tubuhnya yang sangat panas dan memakai hoodie agar wajah pucatnya tidak terlalu kelihatan.

"Haaah… ini semua terasa seperti mimpi, gue nggak ingin malam ini berakhir… gue sangat mencintai Suho hyung…" lirih Lay dengan uap yang terus keluar dari mulutnya. Tangan Lay bergerak meraba-raba lehernya.

Deg

Lay membulatkan matanya. Tidak terasa apapun mengalungi lehernya!

Kalungnya tidak ada!

"Aigoo, dimana kalung itu? Apakah terjatuh?!" tanya Lay entah pada siapa. Tanpa pikir panjang lagi Lay berlari memasuki kerumunan untuk mencari kalung kenangannya itu.

Tepat saat Lay memasuki kerumunan, Suho sampai ketempat ia dan Lay berpisah tadi. Suho mengarahkan pandangannya ke segala arah untuk mencari namja berdimple itu.

"…Lay?"

.

.

.

Sudah 20 menit berlalu tetapi Lay tetap gigih mencari kalungnya. Dengan napas yang tersengal-sengal ia berhenti sejenak sambil menstabilkan napasnya. Disaat waktu istirahat itu Lay memutar otaknya berpikir kira-kira dimana ia bertabrakan dengan orang lain sehingga kalung itu sampai jatuh.

'Ah! Di jembatan dekat di atas danau tadi gue sempat tabrakan dengan seorang ahjumma! Pasti saat itu kalungnya jatuh!' batin Lay. Ia pun memutar arah berlari menuju jembatan.

"Hosh hosh… sudah gue duga jatuh disini…" ucap Lay lega sambil memungut kalungnya yang memang terjatuh di atas jembatan. Lay menggenggam kalung itu erat-erat seolah tidak ingin kehilangan kalung itu lagi.

"Eh Dio chagi, namja itu mirip Lay hyung ya?" tanya Kai pada namja yang berada disebelahnya.

"Yang mana?" tanya Dio.

"Itu tuh yang berdiri di atas jembatan!"

"Dasar bodoh, itu sih memang Lay hyung!"

Kai mengeluarkan senyumannya begitu menemukan salah satu hyungnya. "LAY HYUUUNG!" teriaknya excited.

Suho yang ternyata berdiri tak jauh dari Kai mendengar teriakan itu dan mengalihkan pandangannya kearah Lay. Begitu juga dengan Lay, ia menoleh kearah Kai dengan wajah kaget sampai-sampai ia tersenggol oleh seorang yeoja dan kembali oleng sehingga kalungnya terlepas dari genggaman dan jatuh ke dalam danau. Dengan refleks yeoja itu menahan lengan Lay agar Lay tidak terjatuh.

Plung!

"Ah mianhe, anda tidak apa-apa?" tanya yeoja itu khawatir. Apalagi saat melihat wajah Lay yang terlihat semakin pucat.

"K-kalungnya…" kata Lay terbata-bata. Tanpa berpikir panjang Lay melepaskan genggaman yeoja itu, memanjat pembatas jembatan yang tidak terlalu tinggi dan …

BYUUUR!

"GYAAAAA! LAY HYUUUNG!" teriak Dio sangat kuat diiringi teriakan-teriakan histeris orang lain yang melihat Lay meloncat dari jembatan dan menceburkan diri ke danau.

Ditengah keributan yang melanda, Suho membeku terpaku melihat fenomena itu. Pasalnya sekarang sedang turun salju dengan suhu yang sangat dingin, hanya orang yang benar-benar ingin mati yang mau menceburkan diri ke danau yang pasti suhunya berlipat ganda lebih dingin. Dan ia tidak menyangka orang itu adalah Lay, namja yang tadi masih ia genggam tangannya.

"HYUNG MAU KEMANA?! JANGAN IKUTAN TERJUN KEDALAM, NANTI HYUNG MATI!" teriak Kai sambil menahan Dio.

"LEPASKAN! AKU HARUS SELAMATIN LAY HYUNG! DIA HYUNG KITA KAI!" balas Dio berusaha melepaskan genggaman Kai.

"Jangan berpikiran bodoh Dio, lo hanya akan menambah masalah kalau ikut terjun ke danau." Ucap Suho yang tiba-tiba sudah berada di samping KaiSoo. Kai dan Dio serempak melihat kearah sumber suara yang terdengar sangat familiar di telinga mereka. "Suho hyung?!" teriak keduanya kaget.

"Kai, dengan kekuatan teleportasi lo tolong bawa eommanya Lay bagaimanapun caranya kemari. Arraseo?" perintah Suho sambil melirik Kai. Namja berkulit tan itu mengangguk mengerti tanpa bertanya lebih lanjut meski sebenarnya ia penasaran.

Suho menghembuskan napasnya dalam-dalam agar tetap tenang. Sebenarnya didalam hati ia luar biasa panik melebihi paniknya Dio tadi. Tetapi ia berusaha agar tetap stabil demi keselamatan Lay. Ia harus menyelamatkan Lay karena ia tahu sekarang hanya dirinya yang bisa diandalkan.

"Huffff…."

Suho memusatkan fokusnya ke air tempat Lay menceburkan diri tadi, dan dengan kekuatan penuh ia mengepalkan tangannya kuat seolah memberika sinyal pada air untuk mengangkat Lay menuju daratan.

Dio memandang fenomena langka itu tanpa berkedip. Suho dengan suksesnya bisa mengendalikan air dan membawa Lay ke daratan dengan bantuan air itu. Dio bertaruh ia sudah berkali-kali melihat Suho berlatih untuk mengangkat remukan kertas dengan air, tetapi selalu gagal. Dan sekarang dengan mudahnya Suho bisa mengangkat badan Lay lewat air?!

"Woah… inilah yang dinamakan kekuatan cinta…" gumam Dio tidak bisa menyembunyikan rasa kagumnya.

Begitu Lay sampai di daratan, air yang mengangkatnya tadi langsung meresap ke dalam tanah. Seluruh pengunjung yang melihat kegigihan Suho langsung bersorak senang seolah Suho adalah sang pahlawan layaknya superman. Suho sendiri tidak ambil pusing dengan sorakan-sorakan itu, yang ia pikirkan sekarang hanyalah kondisi Lay. Ia pun segera menghampiri Lay yang masih terbaring di atas rerumputan, disusul Dio dari belakang.

Suho menaruh kepala Lay di atas pangkuannya.

"Dasar bodoh! Kenapa lo terjun Lay?! Lo mau mati?!" teriak Suho kalang kabut.

Lay terbatuk sambil mengeluarkan air dari mulutnya. Ternyata ia sempat menelan air tadi. Dengan susah payah ia membuka matanya. "…Karena…saat kita berpisah nanti…setidaknya gue masih mempunyai…barang kenangan…dari hyung…"

Suho mengerunyutkan dahinya bingung. "…berpisah?"

Plash!

Tiba-tiba Kai muncul dengan Heechul disampingnya.

"Aigoo Lay! Apa yang terjadi padamu nak?!" teriak Heechul shock sambil menghampiri anak semata wayangnya. Dengan cekatan Heechul segera memberikan pertolongan dari kekuatan healernya. Setelah 10 menit berlalu, Heechul menghentikan aktivitasnya.

"Pemuda berkulit tan, tolong bawa saya dan Lay ke tempat suami saya. Saya membutuhkan pertolongan Hangeng, kondisi Lay sangat parah!" pinta Heechul pada 'namja berkulit tan' yakni Kim Jong In.

"Baiklah," dengan cekatan Kai menggendong Lay dan membawa keduanya ketempat yang sudah diberi tahu oleh Heechul.

Plash!

Kai beserta Heechul dan Lay langsung menghilang ditelan asap. Pengunjung yang sedari tadi menonton pun mulai membubarkan diri karena merasa pertunjukan sudah usai. Hanya Suho dan Dio yang masih diam di tempat.

Suho terduduk di tempat menghadap ke danau sementara Dio ikut duduk disamping Suho.

"Sekarang gue ngerti kenapa hyung suruh Kai untuk mencari eommanya Lay hyung. Hyung benar-benar hebat, meski disaat terdesak dan panik pun hyung masih sempat-sempatnya berpikiran panjang." Puji Dio.

Suho menghembuskan napas panjang, mengeluarkan uap dari mulutnya. Baru saja ia akan menyahuti pujian Dio, tiba-tiba handphone Dio berdering.

"Yoboseyo? Ohh Sehun-ah, wae?"

"Aigoo akhirnya hyung ngangkat telpon juga! Begini hyung, disini terjadi sedikit masalah, ini menyangkut Lay hyung!" suara Sehun terdengar panik.

Dio yang merasa Suho juga harus ikut tahu terhadap apa yang terjadi di asrama apalagi menyangkut Lay, akhirnya menekan pilihan loudspeaker pada panggilan.

"Ya? Apa yang terjadi disana?" tanya Dio mendekatkan mulutnya pada handphone.

"Sudah dari tadi Lay hyung hilang, kemungkinan besar dia sedang bersama Suho hyung sekarang. Sebenarnya itu bagus, tetapi yang paling mengkhawatirkan adalah penyakit dalam Lay hyung sedang kambuh. Hyung ingatkan? Penyakit yang waktu itu hampir merengut nyawa Lay hyung! Apalagi sekarang cuaca sedang sangat dingin bisa-bisa kondisi Lay hyung semakin parah."

Dio membulatkan matanya sambil menatap Suho, sementara yang ditatap ikut tertegun dengan pandangan yang kosong.

"Lalu mengapa kalian biarkan Lay hyung keluar?!" suara Dio lebih terdengar membentak sekarang.

"Awalnya di asrama hanya ada Lay hyung dan Luhan hyung. Lalu tiba-tiba gue, Baekhyun hyung dan Chanyeol hyung mengalami insiden kecil sehingga Luhan hyung harus menyusul ketempat kami…" suara Sehun terdengar lirih.

Tiba-tiba terdengar suara Luhan. "Gue… gue udah berkali-kali mengingatkan Lay agar tidak keluar dan menjaga kondisinya, tetapi dia melanggar janji gue untuk bertemu dengan Suho! Huh semoga saja Suho sadar bahwa kondisi Lay sedang tidak sehat."

Setelah mendengar seluruh penjelasan Sehun dan Luhan, bahkan Suho tidak tahu bagaimana cara bernapas. Hatinya sakit seakan ditusuk oleh beribu jarum dan perlu waktu yang sangat lama untuk mencabutnya agar kembali pulih.

Suho tidak mengerti. Apa yang terjadi pada dirinya?

Mengapa ia tidak sadar kondisi Lay sedang tidak baik?!

Sekarang Suho mengerti kenapa wajah Heechul terlihat sepanik itu dan mengatakan bahwa kondisi Lay sangat parah. Ingin rasanya Suho menabrakkan diri ke kereta api agar ia tidak perlu merasakan perihnya rasa sakit hati.

"Suho hyung…" panggil Dio prihatin. Tanpa perlu bertanya, Dio sudah tahu apa yang sedang Suho pikirkan. Semua terbaca jelas pada ekspresi Suho.

Tiba-tiba saja Suho berdiri dari tempatnya. "Gue pergi dulu, ada yang harus gue selesaikan." Ujar Suho pelan agar suaranya tidak terdengar di telepon. Dio mengangguk pelan. Suho pun melangkah menjauhi Dio yang masih memegang handphone di tangannya.

BRAK!

"Laaaaaay!" terdengar teriakan Woohyun dari telepon.

"Woohyun-ah, ada apa?" tanya Kris.

"K-kenapa semua berkumpul disini? Lay mana?"

"Ada apa Woohyun? Katakan pada kami!" suara Luhan terdengar kembali.

"…Barusan gue mendapat kabar bahwa… pernikahan Lay dan Joonmyun batal!"

"MWOO?!" teriak namja-namja yang ada disana.

Dio menatap Suho yang semakin menjauh dengan tatapan tidak percaya. Mulutnya terbuka saking shocknya dengan kabar yang dibawakan oleh Woohyun.

'B-batal?'

.

.

.

.

TBC~

.

KARENA SEMANGAT BANGET MIR BIKIN ENDINGNYA KEPANJANGAN, MAKANYA DIBAGI JADI 2 PART HAHAHA *KETAWA NISTA LAGI*

MIND TO REVIEW?

SULAY SHIPPER PLIS KELUARIN SUARANYA! (?)