Green Rain

T

MultiChapter

Drama, School Life (Junior High School), Bullying

Park Chanyeol, Byun Baek Hyun, Exo Member

Yaoi/Friendship

Warning: Don't Like, Don't Read

I don't hate silent reader, but please give me some review ^^

.

.

"Chanyeol-ssi" Baekhyun berjalan bersama dengan Chanyeol yang tingginya cukup terpaut jauh dengannya, yang dipanggil membalikkan badan tingginya dan menatap si pendek yang sedang berjalan sambil memegang perutnya.

"Apa?"

"Kau sedang apa di sekolah sesore ini?" Baekhyun mensejajarkan langkahnya dengan Chanyeol dan berjalan bersamanya menuju gerbang sekolah.

"Ada urusan dengan guru" Chanyeol menyingkap ujung lengannya dan melihat arlojinya yang sudah menunjukkan pukul 17.30

"Oh, memang masih ada guru sesore ini? Jadi, apa mereka mendengar aku berteriak tadi? Omo, aku tidak mau berurusan dengan guru gara-gara mengatai Jong Dae sialan" Baekhyun berbicara sendiri sambil meremas-remas tali ranselnya. Chanyeol hanya memutar bola matanya dan menghela napasnya.

Chanyeol memutar badannya menghadap Baekhyun dan memegang kedua bahu Baekhyun dan menatap matanya "Dengar Baekhyun-ssi, ruang guru itu kedap suara mereka tidak mungkin mendengar suaramu"

Baekhyun yang terkejut dengan perlakuan Chanyeol hanya mengangguk-anggukkan kepalanya gugup. Sudah dua tahun lebih ia sekelas dengan Chanyeol dan bahkan mereka tidak pernah berbicara sebelum ini dan sekarang mereka berada di jarak sedekat ini. Ada apa dengan Chanyeol hari ini?

Chanyeol yang melihat ada yang aneh dengan Baekhyun segera melepaskan tangannya dari bahu Baekhyun.

"Aku pergi dulu, pulanglah dengan selamat"

Chanyeol berlalu meninggalkan Baekhyun yang masih berdiri terdiam dan sepersekian detik kemudian Baekhyun sadar dan tidak mendapatkan Chanyeol di sekelilingnya.

"Dasar mirip setan, datang tiba-tiba, pergi juga tiba-tiba"

Baekhyun keluar dari gerbang sekolahnya dan mendapati segerombolan anak berseragam SMP lain sedang menatapnya. Baekhyun menghela napasnya sejenak dan menatap mereka. Salah satu dari mereka berjalan mendekati Baekhyun dan mengangkat dagu Baekhyun dengan jempol dan telunjuknya.

"Ada apa dengan wajahmu Byunie?"

Baekhyun menepis tangan pemuda tersebut dan mendecih.

"Apa lagi hari ini?"

"Kau! Hahh untung aku sedang dalam mood baik hari ini, kami mendapatkan pekerjaan rumah yang merepotkan dari guru kami, kau pasti bisa membantu kami kan?"

"Apa?"

"Hanya matematika, kau bisa kan?" celetuk salah seorang lainnya yang sedang mengulum lolipop.

"Tentu saja, jadi kita akan mengerjakannya di tempat biasa?"

"Ya, dibawah jembatan seperti biasa. Kami akan membelikanmu empat bungkus ramyun jika kau bisa mengerjakan semuanya" anak yang memegang dagu Baekhyun sebelumnya merangkul pundak Baekhyun akrab sementara Baekhyun hanya terkekeh.

Mereka hanya "teman" "malam" Baekhyun. Anak terlantar atau tidak diperhatikan oleh orang tua masing-masing seperti Baekhyun. Mereka mengajari Baekhyun banyak hal termasuk bela diri dan mereka juga yang sering membuat lukisan indah di wajah Baekhyun. Baekhyun tidak peduli mereka baik atau tidak yang penting ia tidak sendirian lagi.

.

.

Baekhyun datang ke sekolah hari ini dengan plester kecil di sudut bibirnya. Namun senyumnya segera terpasang di wajahnya saat memasuki kelas, menyapa setiap murid dengan senyum dan tentunya pada Kyungsoo yang sedang duduk di bangkunya. Baekhyun mendatangi Kyungsoo dan sebelum duduk ia melirik Chanyeol yang sedang berkutat dengan buku anehnya.

"Kyungsoo-ya, sedang apa?"

"Berlatih beberapa soal untuk tes nanti" Kyungsoo menjawab dengan mata dan tangan yang terfokus pada soal-soal yang sedang dikerjakannya.

Baekhyun membulatkan matanya saat mendengar jawaban Kyungsoo. Tes? Tes apalagi pikir Baekhyun. Semalam ia mengerjakan PR anak-anak berandalan itu yang hanya membayarnya dengan empat bungkus ramyum dan hari ini ada tes lagi?!

Telan Baekhyun sekarang.

Kyungsoo menoleh saat tidak mendengar suara teman sebangkunya itu dan mendapati Baekhyun yang diam dengan mata sipit yang membulat.

"Matematika hari ini" Kyungsoo membuka suaranya saat Baekhyun menatapnya dengan mengerikan.

"Oh..." ekspresi Baekhyun berubah menjadi biasa dan santai seperti tidak terjadi apa-apa.

"Mukamu kenapa? Berkelahi lagi? Di saat semuanya sibuk belajar kau malah berkelahi" Kyungsoo menggelengkan kepalanya dan kembali berkutat dengan soal-soalnya. Sementara Baekhyun hanya meletakkan kepalanya ke atas meja dan menutup matanya. Semalam ia benar-benar kurang tidur.

.

.

Semua murid berdiri di belakang kelas dan sesuai dengan perjanjian yang mendapat nilai di atas 90 boleh memilih loker yang akan menjadi milik mereka selama setahun ini dan boleh memilih jadwal piketnya sendiri dan tidak ditentukan oleh guru.

"Sekarang saya akan membacakan hasilnya yang cukup mengecewakan karena hanya ada dua orang yang mendapat nilai di atas 90. Saya harap kalian akan lebih giat belajar untuk tes berikutnya" Kim songsaenim tersenyum dan menatap semua muridnya yang sedang harap-harap cemas.

"Untuk yang mendapat nilai 100 di tes kali ini, Park Chan Yeol"

Baekhyun menoleh pada Chanyeol yang maju untuk mengambil kertasnya tanpa ekspresi dan hanya membungkuk kecil dan kembali ke tempat duduknya.

Kyungsoo tersenyum dan menegakkan posisi berdirinya bersiap untuk maju karena ia yakin setelah ini namanya akan disebutkan oleh Jung songsaenim.

"Dan di posisi kedua tertinggi dengan nilai 94"

Kyungsoo tersenyum dan menghela napasnya saat Jung songsaenim mengangkat kertasnya.

"Byun Baek Hyun"

Sontak Kyungsoo menoleh pada Baekhyun yang nampak tersenyum dan melangkah menuju Kim songsaenim, Kyungsoo mengepal tangannya tanpa sadar dan menggigit bibir bawahnya. Sedikit tidak terima bagaimana seorang Baekhyun mengalahkannya.

"Dan berikutnya dengan nilai 89, Do Kyung Soo"

Kyungsoo melangkah dengan air muka yang kurang senang dan masih dengan tangan yang mengepal, setelah menerima kertasnya dan membungkuk pada Kim songsaenim ia kembali ke tempat duduknya dan menatap kertasnya.

Kyungsoo menoleh pada Baekhyun yang sedang melipat kertasnya dan memasukkan kertasnya ke dalam tas.

"Baekhyun-ah"

Baekhyun menoleh ke Kyungsoo yang sedang tersenyum padanya.

"Apa?"

"Err...kau kan mendapat hak istimewa yaitu kau bisa menentukan letak lokermu kan?" Kyungsoo menatap Baekhyun dan tersenyum sementara Baekhyun hanya mengangguk. "Nah, sebenarnya dari awal aku sangat ingin memilih lokerku tapi ternyata aku tidak mendapat nilai lebih dari 90 jadi bagaimana kalau hak milik mu kau berikan padaku? Kau juga tidak masalah kan jika tidak memilih letak loker?"

Baekhyun mengatupkan bibirnya, sebenarnya ia juga ingin memilih letak loker, ia ingin memilih loker atas nomor satu. Tapi karena Kyungsoo yang meminta ia tidak bisa menolaknya.

"Ya, tentu saja tidak masalah" Baekhyun tersenyum.

"Nanti jika Kim songsaenim selesai membagikan semua kertas-kertas itu dan tiba giliran pemilihan loker aku ingin kau memilih loker atas nomor satu, ya? Nanti kau berikan kuncinya padaku dan aku akan berikan kunciku pada mu, bagaimana?"

Baekhyun mengangguk sambil tersenyum dan Kyungsoo segera merangkul Baekhyun dan menepuk-nepuk bahunya sambil tersenyum.

.

.

Kim Songsaenim memanggil nama Chanyeol dan Baekhyun untuk memilih kunci loker mereka dan seperti yang sudah direncanakan Baekhyun akan memilih loker nomor satu dan nanti dengan terpaksa akan ia serahkan pada Kyungsoo, sementara Chanyeol mengambil nomor 11 loker atas. Chanyeol melirik Baekhyun dari sudut matanya dan kembali ke tempat duduknya. Baekhyun kembali ke tempat duduknya dan memainkan kunci lokernya dan Kyungsoo tersenyum manis padanya.

Setelah semua murid mendapat kunci lokernya masing-masing, Kim songsaenim berbicara panjang lebar tentang pentingnya kebersihan loker dan dilarang menyimpan benda-benda tajam atau barang-barang terlarang. Kim songsaenim terus berbicara hingga waktu pelajaran usai. Setelah memberi salam, Kim songsaenim pun meninggalkan ruang kelas 9-3 itu.

"Ini.." Kyungsoo meletakkan kunci loker miliknya di depan Baekhyun dan Baekhyun menerimanya sambil menatap Kyungsoo. "Loker bawah nomor 22" lanjut Kyungsoo.

Baekhyun mengangguk dan memberikan kunci loker miliknya pada Kyungsoo.

Chanyeol melihat Baekhyun menyerahkan kunci lokernya pada Kyungsoo dan ia menghela napasnya.

.

.

Baekhyun sedang duduk di bawah jembatan tempat biasa ia berkumpul dengan teman-temannya dan nyatanya ia memang sedang bersama mereka sekarang. Salah seorang dari mereka sedang menyulut api rokoknya dan menghisapnya dalam-dalam kemudian menghembuskan asapnya ke udara.

"Baekhyun, apa kau punya uang?"

Baekhyun menoleh pada Tao yang sedang menyulut api rokoknya.

"Tidak" jawab Baekhyun seadanya. Ia ingin pulang bukan duduk disini bersama dengan orang-orang berbahaya seperti mereka, kalau tidak ditarik paksa mana mungkin dia mau kesini.

"Bodoh!" Kai mendorong kepala Baekhyun dan Baekhyun hanya menunduk, ia benar-benar tidak mau melawan mereka lagi dengan kekerasan. Dia sudah bertobat.

"Besok kau datang dan bawa uang yang banyak, arachi?" ujar Kai dengan suara yang diimutkan di ujung kalimatnya.

Baekhyun hanya diam dan berdiri mengambil tasnya.

"Aku tidak janji tapi akan aku usahakan, dan sekarang aku harus pulang besok ada tes"

Kai, Tao, Taemin, dan Amber menatap punggung Baekhyun yang semakin menjauh dari mereka kemudian kembali larut dalam pesta kecil mereka.

.

.

Baekhyun melangkah menuju flat kecilnya, dibukanya pintu depan yang tampak sedikit usang dan menimbulkan bunyi kriet~

Dilemparkannya tas hitam miliknya ke sembarang tempat, ia duduk di depan meja kecil yang terhidang beberapa makanan.

"Bibi mengantar makanan rupanya" gumam Baekhyun sambil menatap makanan-makanan di hadapannya.

Baekhyun menyalakan TV, hanya ada satu saluran di TV-nya yaitu saluran komedi yang menampilkan lawakan-lawakan tua yang diulang-ulang.

Baekhyun menyuapkan makanan satu demi satu ke dalam mulutnya sambil matanya menatap layar TV yang sudah sering menampilkan adegan yang ditontonnya. Tak jarang suara tawa Baekhyun terdengar hingga ke segala sisi rumah sepi ini.

.

.

Baekhyun mengangkat piring dan mangkuknya ke dapur. Mencucinya hingga bersih sambil bersenandung ria. Tidak ada hiburan di rumah ini selain TV satu saluran itu.

Baekhyun menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 23.10 dan membaringkan dirinya ke atas kasur tipis yang sudah berwarna kusam miliknya. Matanya ia pejamkan, semua kejadian yang telah ia alami melintas dan berputar di kepalanya seperti film tua.

"Tidak berguna! Menyembunyikan rokok saja tidak bisa!

"Aku tidak butuh anak pembawa sial sepertimu!"

"Hey pencuri!"

"Jangan dekat-dekat dengannya, ayahnya kan masuk penjara"

"Aku tidak mau bermain dengan mu"

"Sana pergi! Jangan dekat-dekat dengan ku!"

"Baekhyun, mau taruhan game? Kalau kau menang aku akan membelikan mu makanan kaleng"

"Ibu..aku lapar"

"Mulai hari ini, kau akan tinggal di panti ini bersama mereka"

Baekhyun membuka matanya, setetes air mata mengalir melewati pipi mulusnya. Ia menutupi seluruh tubuhnya menggunakan selimut tebalnya dan berdoa dibalik selimutnya berharap ia tidak bermimpi buruk malam ini.

.

.

Suasana kelas hening dan semuanya tampak serius melihat kertas penuh soal-soal sulit di depan mereka. Setiap bangku pun diberi jarak, tidak ada yang boleh menoleh atau meminjam apapun dan tidak boleh ada satu orang pun yang minta izin ke toilet.

Baekhyun menggenggam pensilnya, bibir bawahnya ia gigit cukup kuat sementara tangannya yang lain ia gunakan untuk meremas-remas perutnya yang terasa sakit. Keringat mulai bercucuran melewati dahinya. Tangannya mulai gemetar karena ia sudah menahan rasa sakitnya sekitar sepuluh menit dan itu terasa sangat lama.

Baekhyun mengangkat tangannya "Song...Songsaenim"

Sontak semua yang ada di kelas menoleh pada Baekhyun begitu juga dengan Shin songsaenim.

"Ada apa Baekhyun-ssi?"

"Bolehkah aku minta izin ke ruang kesehatan? Perutku sangat sakit songsaenim, aku tidak berbohong"

"Tidak ada yang boleh keluar saat tes Baekhyun-ssi, dan trikmu sudah dapat dibaca olehku jadi duduk diam dan kerjakan soalmu"

"Tapi songsaenim aku sudah tidak tahan" Baekhyun berkata sambil menggenggam erat pensilnya.

"Kau keluar hanya karena tidak bisa mengerjakan soal ini?"

"Songsaenim" Chanyeol berdiri dari kursinya dan menatap Shin songsaenim yang kini menatapnya balik. "Anda tahu jika Baekhyun-ssi benar-benar kesakitan dan tidak berbohong mengapa anda tidak biarkan ia keluar?"

"Peraturan dibuat untuk ditaati Chanyeol-ssi dan kembali duduk dan kerjakan soalmu"

"Andwaeyo songsaenim, aku ingin meminta izin atas nama ku sendiri dan ingin membawa Baekhyun ke ruang kesehatan" Chanyeol tetap bersikukuh dan mendapat tatapan dari seluruh kelas sementara Baekhyun hanya menunduk.

"Baiklah, tapi apa kau menerima resikonya?" Shin songsaenim menatap Chanyeol.

"Ne songsaenim" Chanyeol keluar dari bangkunya dan berjalan menuju Baekhyun "Kajja!" Chanyeol mengulurkan tangannya pada Baekhyun dan disambut dengan ragu-ragu oleh Baekhyun.

D.O menoleh ke belakang melihat Chanyeol dan Baekhyun yang keluar dari pintu belakang.

"Kyungsoo-ssi lanjutkan tugas mu!" sontak Kyungsoo membenarkan posisi duduknya dan kembali berkutat dengan soal-soalnya.

.

.

Chanyeol berjalan di depan Baekhyun, sementara Baekhyun yang merasa sangat kesakitan berjalan pelan sambil berpegang pada tempat murid-murid biasa menggantungkan payung-payungnya.

Chanyeol menoleh dan mendapati Baekhyun berjalan dengan pelan dan meremas-remas perutnya. Baekhyun terus berpikir apa karena ia makan terlalu banyak kimchi semalam.

Chanyeol menghela napasnya dan berjalan menuju Baekhyun kemudian berjongkok di depannya. Baekhyun memandang Chanyeol bingung.

"Naik, aku akan menggendongmu"

Baekhyun naik ke atas punggung Chanyeol, mengalungkan kedua tangannya ke leher Chanyeol dan mengapitkan kaki-kakinya pada pinggang Chanyeol.

Chanyeol menggendong Baekhyun menelusuri koridor. Hangat. Punggung Chanyeol terasa hangat bagi Baekhyun dan tanpa sadar Baekhyun menyandarkan kepalanya ke punggung Chanyeol membuat sang pemilik merasakan desiran aneh di dada kirinya.

1 menit...2 menit...3 menit...5 menit...

"Chanyeol-ssi"

Suara Baekhyun terdengar begitu rendah dan begitu dekat dengan telinga Chanyeol membuat Chanyeol merasa jantungnya berdegup 5 kali lebih cepat tapi bukan Chanyeol jika ia tidak pandai mengontrol dirinya.

"Hm?"

"JALAN LAH LEBIH CEPAT DAN BELOK KE TOILET PERUTKU BENAR-BENAR SAKIT! RASANYA SUDAH MAU KELUAR!"

"Mwo?! Jorok sekali kau!"

.

.

Nah akhirnya ini chapter 2 selesai juga~~ ^^
sekali lagi ff ini terinspirasi dari drama queen's classroom jadi mungkin ada persamaan adegan dan cerita~~ ^^
maaf kalau ini masih ada kekurangannya, di nanti selalu kritik dan sarannya ^^

Big Thanks To:

CozalouLaya

LoveCouple

Ritaanjani4

SyJessi22

BaekYeoleuuu

Dan buat yg udah review chap 1 kemarin, maaf namanya ga ditulisin soalnya itu pergi bersama ff-nya T^T

Review lagi yaa chingudeul~~

Thanks a lot buat yg udah luangin waktu buat baca ff saya...

Mohon kritik dan sarannya... ^^