Green Rain

T

MultiChapter

Drama, School Life (Junior High School), Bullying

Park Chanyeol, Byun Baek Hyun, Exo Member

Yaoi/Friendship

Warning: Don't Like, Don't Read

I don't hate silent reader, but please give me some review ^^
(jika ada tulisan bold di tengah-tengah dan bahasa korea itu anggap aja Background music-nya, hehe ^.^)

.

.

"Haahh, leganya" Baekhyun keluar dari toilet sambil menepuk-nepuk perutnya. Chanyeol memandangnya sejenak dan menggelengkan kepalanya.

"Pergilah ke ruang kesehatan, mintalah obat dan istirahat"

"Kau?"

"Aku akan kembali ke kelas tentu saja, kau pikir aku akan menemanimu di ruang kesehatan?"

"Aku pikir begitu"

"Tentu saja tidak dan kau harus benar-benar ke ruang kesehatan karena kau keluar atas nama ku"

Chanyeol berbalik dan berjalan menuju kelas meninggalkan Baekhyun yang mengendikkan bahunya melihat tingkah Chanyeol dan segera bergegas menuju ke ruang kesehatan sesuai saran atau bisa disebut perintah Chanyeol.

.
.

Chanyeol menggesar pintu kelasnya, membuat kelas yang riuh menjadi hening seketika. Chanyeol menatap ke semua murid yang sedang menatapnya juga dan ia berlalu menuju bangkunya yang terletak di pojok, namun saat melewati bangku Minseok ia berhenti karena namanya dipanggil oleh sang pemilik bangku.

"Chanyeol"

Chanyeol menoleh dan melihat Minseok yang mengubah posisi duduknya menjadi menghadap Chanyeol.

"Ada apa?"

"Tadi saat tes sudah selesai, Shin songsaenim bilang bahwa nilaimu akan dipotong karena kau sudah melanggar aturan" Minseok berkata sambil menatap Chanyeol.

"Tidak apa-apa, itu bukan masalah yang besar" Chanyeol menjawab Minseok dan kembali melangkah. Beberapa murid tampak berbisik satu sama lain terutama para gadis.

"Chan–Chanyeol-ssi" Minseok kembali bersuara dan membuat Chanyeol menoleh padanya.

"Wae?" Chanyeol berbalik dan menatap Minseok aneh.

"Kalau aku jadi dirimu, aku tidak akan munkin melakukan hal yang tadi kau lakukan" Sehun yang duduk di atas meja yang berada di depan bangku Minseok mengangguk tanda ia setuju dengan perkataan Minseok. Hampir semua murid menatap serius pada mereka, ada yang mengangkat sudut bibirnya saat mendengar perkataan Minseok.

"Kau tahu, untuk apa kita mendapat nilai bagus jika kita tidak mempunyai moral yang baik? Melihat teman kita tersiksa dan berpura-pura tidak tahu hanya yang untuk angka yang ditulis dengan spidol atau pen?" Chanyeol menatap Minseok dan Sehun bergantian. Kyungsoo yang semula sibuk dengan ponselnya akhirnya tertarik juga dengan pembicaraan Minseok dan Chanyeol.

"Moral yang baik tidak akan cukup untuk membawamu masuk ke Sekolah Menengah Atas bertaraf internasional Chanyeol dan aku tahu seberapa inginnya ibu mu melihat mu masuk ke Sekolah Menengah Atas internasional" Minseok menatap Chanyeol tepat di matanya. Ibu Minseok, Sehun, dan Chanyeol berteman baik. Mereka teman arisan bersama. Kadang mereka juga ikut bersama ibu mereka. Mereka makan dan mengerjakan tugas sedangkan ibu mereka berbincang hal yang tidak mereka mengerti.

"Ini bukan masalah besar Minseok, hanya gagal di satu tes harian bukan berarti akan mengubah seluruh hidupmu. Lagipula nilai bisa dicari" Chanyeol menatap Minseok.

Seorang anak yang duduk di pojok dekat pintu belakang kelas menatap mereka dan kembali menggoreskan ujung pensilnya ke buku sketsa miliknya. Tangannya begitu cepat dan pandangannya begitu lekat.

"Kau tahu apa yang menjadi masalah di sini?" Sehun pun angkat bicara.

Chanyeol menoleh pada Sehun dan menaikkan sebelah alis matanya. Beberapa murid juga mengubah posisi duduk maupun berdiri mereka untuk memperhatikan dengan jelas pembicaraan antara tiga orang ini. Yang menjadi istimewa disini adalah Chanyeol. Anak pendiam yang tiba-tiba berubah drastis.

"Yang menjadi masalah disini adalah siapa yang kau tolong. Kau merusak citra dirimu dengan menolong pembuat onar seperti Baekhyun" Sehun turun dari meja dan menyandarkan dirinya pada sisi meja sambil menyilangkan kedua tangannya. Kyungsoo hanya diam sambil memperhatikan mereka.

"Berhenti berbicara tentang Baekhyun yang pembuat onar, dia berbeda sekarang. Kalian berbicara seperti aku baru saja menolong seorang penjahat" Chanyeol menatap kedua temannya dengan tatapan tak suka.

Chanyeol, Minseok, dan Sehun memang sudah berteman sejak taman kanak-kanak. Mereka tampak kurang akrab di sekolah, karena Chanyeol perlahan berubah menjadi anak yang lebih pendiam saat sudah masuk Sekolah Menengah Pertama tapi mereka masih cukup sering berkumpul diluar jam sekolah. Mereka sama-sama tahu siapa itu Baekhyun, Minseok dan Sehun memilih untuk menjauhi Baekhyun. Tidak seperti Chanyeol yang perlahan menjadi tertarik dengan sosok Baekhyun setelah dua tahun menjadi teman sekelasnya.

"Terserah kau saja, yang jelas jangan terlalu dekat dengannya" Minseok mengubah posisi duduknya menjadi menghadap ke depan dan Sehun kembali ke tempat duduknya. Murid-murid yang melihat mereka pun kembali ke tempat masing-masing mengingat jam pelajaran yang sudah berganti yang berarti akan ada guru yang masuk.

Chanyeol melangkah menuju tempat duduknya dan duduk sambil meremas sisi-sisi meja, pandangannya ia buang jauh ke arah jendela.

Chanyeol merasa sangat tidak suka dengan apa yang dikatakan oleh Minseok dan Sehun. Mereka keterlaluan.

.

.

Tap Tap Tap Tap Tap

Baekhyun menaiki setiap anak tangga dengan cepat mengingat ia akan terlambat sebentar lagi, ia terus berlari. Matanya menangkap seseorang yang berada di depannya sedang menaiki tangga secara perlahan, ia memperlambat langkahnya dan mengatur murid bertubuh kecil, bertas ransel merah, sepatu hitam, dan buku sketsa ditangannya menaiki tangga sambil menunduk.

"Cepatlah! Kalau tidak kita akan terlambat!" Baekhyun meraih pergelangan anak itu bermaksud untuk mengajaknya berlari. Anak itu menoleh pada Baekhyun memperlihat wajah manisnya.

"Kau saja duluan, aku tidak mau berlari"

"Tsk, kau ini sudah mau terlambat masih saja keras kepala!" Baekhyun menarik tangannya dan membawanya menaiki anak tangga dengan cepat, mereka masih harus menaiki tangga karena ini baru menuju lantai 3 dan kelas mereka ada di lantai 4.

TEEEEEEEEEEEEEEETTTTTTTTT

Bunyi bel terdengar nyaring menyebar ke setiap sudut sekolah. Baekhyun dan Luhan mempercepat langkah kaki mereka dan akhirnya kelas yang dituju dari tadi sudah berada di depan mata.

Srak.

Pintu kelas digeser dengan kasar oleh Baekhyun. Bunyi pintu yang digeser secara kasar itu membuat perhatian seluruh kelas tertumpah pada dua makhluk yang tampak sangat tidak elit itu. Baekhyun tersenyum lebar, sementara Luhan yang berdiri di belakangnya hanya menunduk dan berjalan masuk mendahului Baekhyun yang sibuk menyengir sehingga membuatnya menubruk bahu Baekhyun pelan. Baekhyun menoleh dan melihat Luhan sudah duduk di posisinya. Baekhyun pun mengikuti jejak Luhan dan duduk di bangkunya.

"Pagi Kyungsoo-ah"

"Pagi juga Baek, terlambat huh?" Kyungsoo menopang dagunya dan menatap Baekhyun sambil tersenyum.

"Yeah...hampir seperti biasa" Baekhyun menyengir dan membuat tanda peace pada Kyungsoo.

"Kali ini kenapa lagi? Dan kenapa kau bisa datang bersama anak aneh itu?"

"Bangun kesiangan hehe. Maksudmu Luhan? Oh, aku bertemu dengannya di tangga tadi" Baekhyun tersenyum dan mengeluarkan buku-buku pelajaran.

"Dia itu sangat pendiam dan kau tau dia selalu berada di peringkat terakhir dalam hal apapun, tidak ada guru yang suka padanya. Kalau di film dia itu tokoh yang ada di balik layar" Kyungsoo berbicara panjang lebar menjelaskan tentang Luhan dan baru berhenti setelah Shin Songsaenim masuk sementara Baekhyun tidak terlalu menanggapi perkataan Kyungsoo. Menurutnya Luhan anak yang manis.

.

.

Bel sekolah sudah berbunyi menandakan waktunya pulang. Semua murid bergegas memasukkan buku mereka dan beberapa juga tampak mengganti sepatunya yang diambilnya di loker yang terletak dibelakang kelas.

"Baekhyun-ah, aku duluan ya, ada les soalnya" Kyungsoo berdiri dan memapah tas ranselnya.

"Nae, hati-hati di jalan" Baekhyun tersenyum manis dan melambai pada Kyungsoo.

Kyungsoo tersenyum dan berjalan meninggalkan kelas yang sudah mulai sepi dan kelas juga berwarna agak oranye akibat sinar matahari sore yang masuk melalui jendela-jendela kelas.

Hari ini Baekhyun kebagian tugas membersihkan kelas bersama Luhan, Luna, dan Chanyeol. Tetapi karena ia dan Chanyeol sudah keluar dari kelas saat ulangan Shin songsaenim mereka menjadi harus mengerjakan tugas tambahan yaitu membersihkan toilet di lantai 3 dan 4 bersama Luhan. Kenapa Luhan? Karena nilai Luhan yang paling rendah di kelas. Seperti yang dikatakan oleh Kyungsoo, Luhan selalu menjadi yang terakhir.

Bangku demi bangku digeser oleh Chanyeol dan Baekhyun, setiap sudut disapu oleh Luna dan Luhan. Bangku dan meja guru juga dilap hingga bersih, papan tulis di hapus hingga bersih, tong sampah yang tadinya penuh juga sudah dibuang isinya oleh Baekhyun ke pembuangan sampah sekolah yang terletak di belakang sekolah.

"Yos! Akhirnya selesai juga! Aku pamit pulang dulu semuanya, ada les sebentar lagi. Tidak apa kan?" Luna memapah tas merah mudanya, dan menatap Chanyeol, Baekhyun, dan Luhan bergantian.

Baekhyun mengangguk sambil tersenyum lebar "Ya,ya, kau boleh pulang sekarang, hehe" Baekhyun mengibaskan tangannya seolah-olah menyuruh Luna pergi.

Luna mencibir pada Baekhyun dan kemudian meninju lengannya pelan "Baik baik, aku pulang sekarang, annyeong" Luna membungkuk sedikit dan berlari menyusuri koridor meninggalkan kelas yang masih berisi tiga makhluk itu.

Chanyeol masih mengelap vas bunga yang diletak didekat jendela kelas, tangan besarnya menggenggam vas bunga tersebut dan mengelapnya hati-hati.

Baekhyun menoleh, menatap punggung Chanyeol yang lebar dan juga wajah Chanyeol yang sedang serius menatap pada vas bunga dan jari-jari panjang miliknya yang menempel pada vas bunga. Tanpa sadar seulas senyum muncul di wajah Baekhyun.

Setelah sekian lama menatap Chanyeol yang mengelap dari satu vas ke vas lainnya tanpa berkedip, Baekhyun merasa seseorang sedang menatapnya dan saat ia menoleh ia mendapati Luhan yang sedang menatapnya membuat Baekhyun salah tingkah.

"Ah..eh..Luhan-ssi, apa semuanya sudah selesai?" Baekhyun berucap sambil tersenyum canggung pada Luhan sementara yang ditanya hanya mengangguk. "Baik kalau begitu, aku akan menuju toilet, lebih cepat dibersihkan lebih cepat pulang!" "TOILET LANTAI 3 AKU DATANG!" teriak Baekhyun yang langsung meraih tasnya dan berlari keluar dari kelas.

Chanyeol yang mendengar teriakan Baekhyun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan meraih tasnya, ia berjalan menuju pintu kelas dan menoleh pada Luhan.

"Kau mau ikut? Kita masih punya toilet untuk dibersihkan" Chanyeol menoleh pada Luhan yang masih berdiri di tampatnya, Luhan mengangguk dan mengikuti Chanyeol menuju toilet yang sudah pasti ada Baekhyun di dalamnya.

.

.

Baekhyun menggerakkan kain pelnya kesana kemari, sambil menyanyi lagu yang tidak jelas Baekhyun terus mengepel lantai toilet yang sekarang sudah berwarna putih bersih lagi akibat sudah disikat oleh Chanyeol dan dipel oleh Baekhyun sementara Luhan baru saja kembali dari membuang sampah.

Baekhyun menoleh pada Chanyeol dan Luhan "Kalian kalau mau pulang boleh pulang sekarang, hehe" Baekhyun tersenyum.

"Toilet lantai atas bagaimana?" Chanyeol menatap Baekhyun yang sedang mengelap keringatnya menggunakan lengan seragamnya. Luhan yang melihat itu hanya menampilkan ekspresi jijik.

"Ahh, biar saja, Shin songsaenim juga tidak mungkin pergi melihat toiletnya. Pulanglah, di luar juga hampir gelap" Baekhyun tersenyum.

"Baiklah kalau begitu aku duluan, ya? Ada les" Chanyeol menatap Baekhyun dan Luhan.

"A-aku juga, aku tidak bisa berlama-lama lagi, aku duluan ya Baekhyun-ssi" Luhan juga ikut menaruh tong sampahnya dan membungkuk kemudian berjalan pergi meninggalkan Chanyeol dan Baekhyun.

"Kau juga pulanglah" Chanyeol menatap Baekhyun sejenak sebelum berlalu dari toilet, meninggalkan Baekhyun sendirian.

Setelah menunggu cukup lama, Baekhyun tersenyum dan menepuk-nepuk dadanya "Sekarang mari membersihkan toilet lantai 4! Semangat!" Baekhyun berlari menuju lantai 4, derap kakinya terdengar begitu jelas di koridor yang sepi. Tangan kirinya membawa ember dan tangan kanannya membawa pengepel. Kaki-kaki pendeknya menaiki anak tangga satu per satu.

Baekhyun sampai di depan pintu depan toilet lantai 4, bau khas toilet menguar jelas menyerang indra penciuman Baekhyun "Bau sekali, dasar jorok semua murid yang ada disini. Eh, tapi tunggu dulu, kalau semua murid jorok berarti aku juga dong? Aku tidak jorok!" Baekhyun menggeleng-gelengkan kepalanya. "Baiklah, saatnya bersih-bersih!"

.

.

"Hah..membersihkan toilet sendirian memang melelahkan dan sudah jam berapa sekarang? Bahkan matahari benar-benar sudah pulang ke rumahnya. Tapi tidak apa, kau sudah melakukan hal baik, kau pasti banyak mendapatkan pahala Byun Baek Hyun hehe" Baekhyun menyengir dan melangkahkan kakinya keluar dari sekolah dengan riang.

Oneuldo nan anbureul mutjyo?

(Sekali lagi pada hari ini, aku bertanya pada diriku sendiri apa yang harus ku lakukan?)

Jichin harureul hollo georeoon naege

(Untukku, seseorang yang melewati hari yang melelahkan ini sendirian)

Sesangege billyeoon kkumeun

(Mimpi-mimpi yang aku pinjam dari dunia ini)

Harumankeum darhaman ganeunde

(Satu-persatu mereka berlari dari hari-hariku)

Ireon nado gwaenchanheulkkayo?

(Apa aku akan baik-baik saja?)

Baekhyun melangkahkan kaki-kakinya di trotoar, matanya menatap toko-toko yang berjajar di sampingnya. Sebuah toko elektronik yang memajang TV 32inch di etalase tokonya sedang menampilkan seorang penyanyi yang sedang bernyanyi di atas panggung. Baekhyun tersenyum. Ia ingat sewaktu masih di sekolah dasar ia sangat ingin menjadi seorang penyanyi. Tapi mimpi itu perlahan pudar seiring dengan kerasnya hidup.

Naega parandamyeon naega wonhandamyeonkkumi dwehnayo?

(Jika aku mengharapkan itu, jika aku menginginkan itu, apakah itu semua hanya akan menjadi sebuah mimpi?)

Byeori jijianhneun maeumeurosal su innayo?

(Bisakah aku hidup dengan hati seperti bintang yang tak pernah jatuh?)

Oraen mureumdeureul didyeoseomeon gireul wahsseul ttae

(Saat aku sampai dari perjalanan jauh ini, setelah melewati pertanyaan-pertanyaan lampau ini)

Keureon nareul maja keudae marhaejuneyo

(Kau mendatangiku dan berkata pada ku)

Na chaja hemaenkeugeon narankeol

(Apa yang aku cari selama ini adalah 'aku')

Baekhyun berjalan melewati gang sempit yang setiap hari ia lalui untuk sampai ke flat kecilnya. Hanya ada lampu jalan yang menemaninya, tidak semua lampu jalan berfungsi dengan baik. Tidak ada rasa takut yang dirasakan oleh Baekhyun lagi, sudah hampir tujuh tahun ia melewati jalan ini.

Baekhyun menggeser pintu flatnya, menjatuhkan ranselnya ke atas lantai, tubuhnya juga ikut merosot ke lantai. Dipijatnya kedua kakinya yang terasa pegal kemudian kedua lengannya yang ia pijat bergantian.

Naeilye naege anbureul mudjyo?Dachin maeumeun jogeum amulko inneunji?

(Aku bertanya pada diriku di masa depan, apa yang harus aku lakukan? Apa hatiku yang luka sudah sembuh meski hanya sedikit?)

Sesangege badaon sangcheoharumankeum neureoman ganeunde

(Luka yang ku terima dari dunia ini, yang sakitnya semakin bertambah dari hari ke hari)

Ireon nado kwaehnchanheulkkayo?

(Apa aku akan baik-baik saja?)

Baekhyun keluar dari kamar mandi dengan kaos putih dan celana kain selutut, handuknya ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya. Ia berjalan menuju cermin yang tergantung di dinding flatnya. Ia mengalungkan handuknya ke lehernya. Perlahan ia singkap baju putihnya hingga batas perut. Dilihatnya luka lebam yang masih ada di perutnya akibat tinjuan Jongdae.

"Tsk, kenapa tidak mau hilang?" Baekhyun menghembuskan nafasnya dan menyentuh lukanya. "Ouch!" Baekhyun menutup kembali kaosnya dan mengambil obat oles di atas meja dan diusapkan dengan pelan di atas lukanya.

Dashi gidaryeoya dashi dagagayahamkke innayo?

(Jika aku menunggu lagi, jika aku pergi lagi, apakah kita akan bersama?)

Bie jeojji anhneun maeumeurosal su innayo?

(Bisakah aku hidup dengan hati yang tidak akan basah oleh air hujan?)

Baekhyun menatap bayangan dirinya di kaca, memar disudut bibirnya sudah mulai menghilang. Selintas bayangan akan dirinya yang dibully habis-habisan saat masih di sekolah dasar muncul di pikirannya. Baekhyun menghela napasnya berat, diusapnya sudut bibirnya.

"Kau akan baik-baik saja? Ingat, jangan cari masalah dengan Jongdae!"

Oraen mureumdeureul didyeoseomeon gireul wahsseul ttae

(Saat aku sampai dari perjalanan jauh ini, setelah melewati pertanyaan-pertanyaan lampau ini)

Keureon nareul maja keudae marhaejuneyo

(Kau mendatangiku dan berkata pada ku)

Naega jigin kkumdeuri nal jikyeojundago

(Mimpi-mimpi yang aku inginkan, akan selalu mengawasiku)

Naega nohji anheun sondeuri jabajundago

(Tangan yang tidak pernah kulepaskan, akan selalu menggenggamku)

Nal jarage han gyejeol jinageudaereul mannayo

(Setelah musim yang membuatku bertumbuh telah berlalu, aku bertemu denganmu)

Baekhyun berbaring diatas ranjang lusuhnya, kedua lengannya ia jadikan bantal untuk kepalanya. Matanya tertuju pada langit-langit kamarnya. Ia tersenyum saat mengingat waktu yang ia lewati bersama Kyungsoo, dan hari dimana ia bertemu dengan Chanyeol dan saat Chanyeol membawakan tasnya yang dijatuhkan Jongdae, saat Chanyeol mengusap sudut bibirnya, saat Chanyeol menggandeng tangannya, dan saat Chanyeol menggendong Baekhyun di punggungnya. Ingatan tentang ia yang memegang pergelangan tangan Luhan pagi ini dan membersihkan kelas bersama Luhan dan Luna. Membersihkan toilet bersama Luhan dan Chanyeol juga melintas di pikirannya.

Oerowotdeon sigane insareul geonneyo~

(Kuucapkan selamat tinggal pada kesepian)

Baekhyun sadar akan satu hal, saat tangannya digenggam atau menggenggam ia merasa nyaman dan aman. Saat ia tertawa atau tersenyum bersama orang lain ia merasa bahagia.

Na gwaenchanhayo

(Aku baik-baik saja)

Dan saat ia menyandarkan kepalanya ke punggung Chanyeol, ia merasa hatinya menjadi hangat dan tidak kesepian.

Geudae isseuni..

(Karena aku memilikimu)

Kkumi isseuni..

(Karena aku memiliki mimpi)

Baekhyun menarik selimutnya hingga batas dada, perlahan ia menutup matanya dan larut dalam mimpi indahnya.

.

.

.

Baekhyun menggeser pintu kelasnya, hari ini ia datang begitu awal karena ia terbangun jam 5 subuh dan tidak bisa tidur lagi. Baekhyun bergerak menuju lokernya yang terletak dibelakang kelas, meletakkan barang-barang yang perlu dimasukkan ke dalam loker dan menguncinya setelah selesai.

Saat Baekhyun ingin ke bangkunya ia tak sengaja menabrak meja Luhan membuat sebuah buku terjatuh dari laci. Baekhyun berjongkok dan memungut buku itu.

"Xi Lu Han.." gumam Baekhyun saat membaca nama yang tertera di depan buku itu. Baekhyun mendudukkan dirinya di lantai kelas, diliriknya jam kelas. Masih pagi, tidak mungkin ada murid yang datang sepagi ini.

Baekhyun melihat halaman pertama di buku itu, terdapat gambar seorang anak laki-laki mengenakan hoodie dan sedang duduk di ayunan, raut wajahnya tampak sedih. Baekhyun kembali membuka halaman demi halaman. Matanya melebar saat melihat gambar yang menurutnya familiar.

Seorang anak laki-laki yang kerah seragamnya sedang dicengkram oleh anak laki-laki lain. Dihalaman berikutnya, anak laki-laki tersebut di tinju di bagian perutnya oleh anak laki-laki yang satunya. Dan berikutnya seorang anak laki-laki sedang tersenyum miring dan memegang sebuah tas yang diarahkan ke jendela. Baekhyun menatap gambar itu lama, dan menemukan sebuah tulisan di sudut halaman bertuliskan "Kim Jong Dae". Nafas Baekhyun tercekat dan matanya membulat.

Jari-jari lentiknya membalikkan kertas di buku itu menuju halaman berikutnya. Baekhyun mengerutkan dahinya saat melihat seorang anak laki-laki tinggi yang terlihat berdebat dengan kedua temannya, yang satu duduk di atas meja dan yang satu duduk di kursi dan ditatapi oleh anak-anak lain. Latar gambar tersebut seperti di dalam kelas dan wajah anak yang duduk di kursi tampak seperti Minseok karena matanya yang sipit dan wajahnya yang agak chubby.

Srek!

Baekhyun tersentak dan buru-buru meletakkan buku tersebut ke dalam laci Luhan.

"Apa yang kau lakukan?"

"Ahh. Ehh. Tidak ada" Baekhyun tersenyum canggung dan bangkit dari posisi duduknya.

"Dasar aneh!"

"Hehe, pagi sekali kau datang" Baekhyun berjalan menuju bangkunya dan meletakkan tasnya disana.

"Aku memang sering datang jam segini dan karena kau sering datang lima menit sebelum bel masuk jadinya kau tidak tahu" Baekhyun mencibir mendengar perkataan Chanyeol.

Chanyeol berjalan menuju bangkunya dan mendudukkan dirinya di sana. Baekhyun yang melihatnya pun menghampiri Chanyeol dan duduk di bangku yang berada di depan meja Chanyeol.

"Mau apa?" Chanyeol menatap Baekhyun dengan wajah datarnya.

"Tidak apa-apa, aku hanya ingin bilang terima kasih untuk yang kemarin" Baekhyun tersenyum hingga tampak senyumnya mencapai kedua telinganya.

"Sama-sama dan hentikan senyum bodohmu itu"

"Wae? Ini manis dan imut hehe" Baekhyun mendekatkan wajahnya pada Chanyeol dan masih dengan senyum khasnya.

Chanyeol refleks memundurkan wajahnya karena wajah Baekhyun yang terlalu dekat.

"Sudah ku bilang jangan tersenyum seperti itu!"

"Wae? Kau suka kan? Ayo mengaku saja hahahahaha" Baekhyun tertawa melihat Chanyeol yang salah tingkah.

"A-ani! Menjauh sana!"

.

.

.

.

.

.

Annyeong! Saya datang lagi membawa Green Rain Chap 3~~ ^o^
Ga tau napa saya semangat banget ngetik nih ff, hehe ^.^a
Oh ya, sekali lagi saya mau ksi tau klo ff ini terinspirasi dari drama Queen's Classroom, saya juga sarankan buat reader skalian buat nonton drama yang daebak ini .
Ini ceritanya ga mainstream loh kya drama-drama korea yang biasanya ngangkat soal cinta tapi drama ini malah ngangkat soal Bullying, Diskriminasi, Persahabatan, dll. Sampai terharu nontonnya :'(
Di jamin ga nyesal nontonnya.. ^o^b

Chap ini agak panjang soalnya ada yang minta buat dipanjangin tapi maaf klo ini juga dirasa belum cukup .
oh ya, lagu yang sya pkai itu The Second Drawer Ost Queen's Classroom, sekedar ksi tahu aja bagi yang belum tahu ^.^
itu bagus loh lagunya . #promosilagi
dan maaf klo translatenya kurang rapi, soalnya saya translate sendiri berdasarkan english sub-nya... *bow*

Ditunggu ya kritik dan sarannya ^.^/
terima kasih banyak buat yang udah luangin waktu buat baca ff ini, terima kasih dan terima kasih ^.^