Green Rain
T
MultiChapter
Drama, School Life (Junior High School), Bullying
Park Chanyeol, Byun Baek Hyun, Exo Member and The Others
Yaoi/Friendship
Warning: Don't Like, Don't Read
I don't hate silent reader, but please give me some review ^^
.
.
Suasana kelas sunyi senyap, semua murid fokus pada Jung songsaenim yang sedang menjelaskan rumus-rumus fisika di depan. Kyungsoo sibuk mencatat, Jongdae sibuk memperhatikan, Chanyeol dan beberapa murid lainnya juga sama. Hanya ada beberapa murid yang tidak memperhatikan atau mencatat seperti yang lainnya contohnya Luhan yang sibuk menggambar seorang anak perempuan berambut sebahu yang sedang menyapu lantai kelas, Baekhyun yang sedang menggambar wajah di penghapusnya, Sehun yang menopang dagu dan mencoret-coret kertas, dan Minseok yang sibuk mengelus pensilnya.
"Ada pertanyaan?" Jung songsaenim meletakkan kapurnya dan menatap ke semua murid yang ada dikelas. Tidak ada satu orangpun yang berani mengeluarkan suaranya. "Baiklah kalau tidak ada pertanyaan. Hari ini yang akan menjadi petugas makan siang untuk kelas 9-3 adalah Sulli, Kyungsoo, Baekhyun, Minseok, Seohyun, Luna, dan Sehun" Jung songsaenim membaca jadwal piket petugas makan siang yang ia bawa dari ruang guru. Suasana kelas menjadi riuh seketika, terdengar beberapa murid yang lega karena bukan mereka yang menjadi petugasnya dan yang ditunjuk untuk menjadi petugas malah menggerutu.
Seorang siswi yang bernama Sulli menghela napasnya dan menoleh pada temannya yang duduk disampingnya dengan wajah memelas.
"Fighting! Ku dengar menu makanan hari ini Sup dan sayur" Krystal –teman sebangku Sulli– berbisik pada Sulli dan satu senyum pun muncul di wajah Sulli karena mendengar ada sup dan ia berniat untuk mengambil jatah sup lebih banyak karena ia adalah petugas makan siang hari ini.
Kyungsoo meletakkan pensilnya malas saat tahu jika dirinya adalah petugas makan siang untuk hari ini.
"Hah..kenapa harus aku?" Kyungsoo menghela napasnya dan menjambak-jambak rambutnya pelan. "Aku tidak mau mendorong troli, aku tidak mau ke dapur yang panas, aku tidak mau badanku bau sup, aku tidak mau membawa piring-piring kotor. Pokoknya tidak mau huwaaaaaaaa"
Baekhyun menatap Kyungsoo prihatin karena tingkah Kyungsoo yang berlebihan. Baekhyun mengelus-elus punggung Kyungsoo bermaksud menyabarkan si mata bulat.
"Sudahlah, seharusnya kau senang bisa ke dapur yang penuh makanan itu" Baekhyun menutup matanya membayangkan dirinya dikelilingi makanan enak.
"Tsk, dasar!" Kyungsoo mengetuk kepala Baekhyun dengan penggaris membuat Baekhyun meringis dan mengelus kepalanya.
.
.
Bunyi-bunyi berisik khas dapur terdengar begitu jelas, dan terdapat banyak sekali siswa-siswi yang berlalu lalang mengambil jatah untuk kelasnya. Seohyun siswi berambut panjang keriting berponi itu sibuk mengelap nampan-nampan yang akan digunakan untuk makan siang nanti, Baekhyun yang sibuk memindahkan panci berisi sayur-sayur ke troli, Kyungsoo yang sibuk menghitung sendok, Sulli memasukkan nasi ke tempat nasi yang memang sudah ada di troli, ya troli yang mereka gunakan memang khusus untuk mengangkut makanan. Luhan sedang memasukkan daging yang di tumis dengan kecap ke dalam panci. Luna dan Sehun juga menyusun gelas-gelas plastik ke dalam keranjang yang nanti juga akan disimpan di troli, sementara Minseok sedang menuangkan sup dari panci utama milik dapur sekolah ke panci yang akan mereka bawa ke kelas nanti. Sibuk. Satu kata untuk mendeskripsikan dapur sekolah saat ini.
PRANG! TRANG! TRING Tring..tring
Semua aktivitas terhenti dan semua pandangan tertuju pada Minseok, namja berwajah imut itu sedang berdiri kaku dengan satu tangan memegang sendok sup dan tangan yang lain terangkat ke udara, matanya membulat dan mulutnya membuka. Baekhyun membulatkan matanya melihat apa yang dilakukan Minseok, matanya bergerak menuju sup yang sudah tertumpah dan berceceran di lantai.
Hal yang sama juga dilakukan oleh semua orang yang ada disana, memandangi sup yang tumpah ke lantai. Semua murid dari kelas lain berbisik pada satu sama lain, sementara satu murid berlari keluar dan tak berapa lama terdengar suara langkah kaki yang mendekat.
Tap Tap Tap Tap Tap Tap
Baekhyun mendekati Minseok dan berjongkok untuk mengambil panci yang terjatuh dan Minseok meletakkan sendok supnya di lantai dan segera berdiri sambil memandangi Baekhyun.
"Apa yang terjadi di sini?!" semua murid sontak menoleh pada sumber suara yang berasal dari Kang Songsaenim yang berdiri di pintu dapur.
Semua murid kecuali yang berasal dari kelas 9-3 menunjuk pada Baekhyun yang juga kaku di tempat dengan mata yang tertuju pada Kang Songsaenim. Baekhyun segera berdiri dan tetap menatap pada Kang Songsaenim yang berjalan ke arahnya.
"Siapa yang menumpahkan ini?!" Kang Songsaenim menatap semua murid yang ada disana. Diam. Tidak ada yang berani menjawab. Minseok sang tersangka utama wajahnya sudah pucat dan Seohyun menatap Minseok dengan lekat. "Jawab! Kalau tidak ada yang mau menjawab tidak ada makan siang hari ini!" ancam Kang Songsaenim.
"Sa-saya yang menumpahkannya" Baekhyun membuka suaranya takut-takut.
Sret!
Semua orang yang ada disana beralih menatap Baekhyun. Minseok juga menatap Baekhyun dengan tak percaya. Kang Songsaenim menatap Baekhyun dengan pandangan segalak-galaknya dan mencubit telinga Baekhyun cukup kencang. Makanan yang tumpah benar-benar tidak bisa ditolerir oleh Kang Songsaenim.
"Dasar pembuat onar! Kau itu sudah mau lulus Baekhyun, berhentilah membuat kekacauan di sekolah ini! Kau pikir makanan itu untuk dibuang-buang?!" Kang Songsaenim melepaskan cubitannya membuat Baekhyun meringis dan mengusap-usap telinganya yang memerah. Semuanya menatap Baekhyun kasihan terutama yang sekelas dengannya.
"Kalian semua jangan pernah mencontoh murid seperti Byun Baek Hyun ini! Arraseo?!"
Semua murid hanya menggangguk sebagai jawaban, tidak ada satupun dari mereka yang berani bersuara. Mereka semua merasa kasihan pada Baekhyun dan memandang prihatin padanya.
"Semuanya kembali pada tugasnya dan Kyungsoo siapkan sup baru untuk kelasmu!" Kyungsoo mengangguk dan mengambil panci yang baru untuk digunakan.
"Tapi Songsaenim, supnya di panci ini hanya sisa seperempat.." Baekhyun menunjuk panci utama dan menatap Kang Songsaenim.
"Makan saja yang ada, itu juga karena ulahmu! Kenapa kau hanya berdiri saja?! Cepat bersihkan lantainya!"
Baekhyun mengangguk dan segera memungut panci dan sendok sup yang terletak di lantai. Murid-murid yang lain juga kembali pada tugasnya masing-masing.
"Satu orang bantu Baekhyun untuk membersihkan kekacauan ini, saya akan memberitahu Jung Songsaenim tentang hal ini" Kang Songsaenim pun meninggalkan dapur sekolah.
Baekhyun yang sedang memungut sayur-sayur sup yang jatuh dengan tangannya, mendongakkan kepalanya dan menatap pada Minseok. Berharap kalau ia akan membantu. Tapi ia salah, Minseok membalikkan badannya saat pandangan mereka bertemu. Minseok malah mengikuti teman-temannya yang lain menuju kelas. Tidak ada satupun dari mereka yang mau membantu Baekhyun.
Baekhyun kembali menundukkan kepalanya dan kembali memungut sayur-sayur itu dan matanya menangkap tangan yang ikut membantunya. Baekhyun menoleh dan mendapati Luhan di sana.
"Biar aku bantu" Luhan menatap Baekhyun dan Baekhyun tersenyum mendengar kata-kata Luhan.
"Gomawo"
.
.
Baekhyun dan Luhan tampak berjalan bersama melewati halaman luas di depan gedung sekolah. Setelah kejadian di dapur tadi, mereka menjadi banyak bicara kepada satu sama lain. Baekhyun melihat pohon oak tua yang berdiri kokoh di halaman sekolah mereka. Baekhyun berlari menuju pohon itu dan melambai-lambai pada Luhan bermaksud menyuruh pemuda imut untuk datang.
Luhan sekarang berdiri di samping Baekhyun, ia menengadahkan kepalanya, melihat ke atas, pohon itu tampak besar dan mengagumkan.
Hap!
Luhan menolehkan kepalanya saat Baekhyun memanjat ke dahan yang paling dekat dengan tanah. Suara benda-benda yang bergerak di dalam tasnya menjadi backsound saat Baekhyun mendaratkan kakinya ke dahan tersebut, tangan kirinya ia topang ke batang utama. Eyesmile manis miliknya terpasang begitu baik saat ia menatap Luhan.
"Ayo naik!" Baekhyun mengulurkan tangan kanannya pada Luhan.
Luhan hanya menatap Baekhyun kemudian menggelengkan kepalanya.
"Andwae, aku tidak pernah memanjat pohon. Aku tidak mau, nanti aku jatuh"
"Tenang saja kan ada aku yang memegangmu, jika jatuh maka kita akan jatuh bersama, hehe. Lagipula aku cukup profesional dalam memanjat, aku jamin kau tidak akan jatuh" Baekhyun tetap mengulurkan tangannya, Luhan tampak ragu saat ia mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Baekhyun. Baekhyun tersenyum saat uluran tangannya disambut oleh Luhan.
Tap!
Kaki Luhan menapaki dahan yang sama dengan Baekhyun, satu senyum terkembang di wajah Luhan.
"Wah...aku bisa memanjat!" girang Luhan sementara Baekhyun hanya terkekeh.
"Ini masih dekat dengan tanah Lu, kita naik sampai sana" tunjuk Baekhyun pada dahan yang cukup tinggi.
"Kau gila?! Itu sangat tinggi, aku tidak mau!" Luhan menggelengkan kepalanya.
"Kau takut ketinggian? Konyol!" Baekhyun melepaskan genggaman tangan Luhan dan naik ke dahan berikutnya meninggalkan Luhan. "Ikut naik atau tidak ku bantu turun" ancam Baekhyun sambil mengulurkan tangannya.
"Tsk" Luhan berdecak dan menerima uluran tangan Baekhyun lagi dan naik ke dahan berikutnya.
Dahan demi dahan mereka naiki dan sampai pada dahan yang dituju, Baekhyun mendudukkan dirinya dan menyandarkan punggungnya di batang utama, sementara Luhan duduk dengan kakinya yang terjuntai ke bawah, tangannya menggenggam cabang pohon terdekat.
"Bagaimana?"
"Apanya?"
"Sensasi memanjat, memang apa lagi" Baekhyun memutar bola matanya malas melihat reaksi lambat Luhan.
"Melelahkan. Terus, sekarang kita mau apa?" Luhan menoleh pada Baekhyun yang sedang menatap ke bawah, Luhan mengikuti arah pandang Baekhyun. Sebenarnya ia takut pada ketinggian tapi sudah sampai sini mau apalagi.
Dibawah sana seorang siswa tinggi dengan rambut hitam sedang berjalan sendirian, tidak benar-benar sendirian karena ada dua orang yang mengamatinya dari atas pohon.
"Chanyeol?" Luhan melihat Baekhyun, suara Luhan terlalu kecil untuk dapat didengar oleh Baekhyun apalagi ditambah suara angin yang berdesir melewati mereka. Merasa tidak didengar Luhan kembali megalihkan pandangannya pada Chanyeol yang sedang berjalan di bawah sana.
Hap!
Luhan melihat Baekhyun bergerak lincah dari dahan ke dahan, menuruninya dengan lincah dan berakhir dengan kakinya yang menginjak tanah. Luhan melihat ke sekeliling dan mulai merasa panik.
"Bagaimana aku turun nanti?" batin Luhan dan Luhan menggerakkan badannya secara perlahan mendekati batang besar pohon oak itu.
Sementara di bawah sana Baekhyun berlari kecil menghampiri Chanyeol.
Sret!
Chanyeol menoleh saat lengannya dipegang oleh seseorang dan mendapati Baekhyun yang sedang tersenyum bodoh padanya.
"Chanyeol, apa kau mau pergi les sekarang?" Baekhyun menatap pada Chanyeol dengan tangannya yang masih memegang lengan Chanyeol.
"Tidak, hari ini aku langsung pulang. Kenapa?" Chanyeol menatap Baekhyun bingung.
"Jinjja? Kalau begitu baguslah, jadi kita bisa main bersama, yey" girang Baekhyun.
"Main? Main apa dan dimana?"
Baekhyun menunjuk pohon oak yang baru saja dinaikinya dan Chanyeol mengikuti arah jari Baekhyun.
"Pohon? Kau mau kita main di pohon? Ya! Andwae!" Chanyeol menggelengkan kepalanya dan melepaskan tangan Baekhyun dari lengannya.
"Kau berkata begitu karena kau belum pernah naik" Baekhyun melipat tangannya di depan dada dan memandang Chanyeol sinis.
"Aku manusia normal yang hidup di atas tanah bukan di atas pohon" balas Chanyeol.
"Lagi pula ada Luhan disana"
"Luhan?" Chanyeol bertanya dengan matanya yang membulat. Pasalnya yang ia tahu Luhan itu anak pendiam di kelasnya dan sekarang Baekhyun bilang Luhan ada di atas pohon? Luhan memanjat begitu? Konyol.
"Kalau tidak percaya, ayo ikut aku" Baekhyun meraih pergelangan tangan Chanyeol dan menariknya ke bawah pohon oak. Baekhyun menengadahkan kepalanya ke atas diikuti oleh Chanyeol. Chanyeol kembali membulatkan matanya saat melihat Luhan yang sedang duduk bermeter-meter diatas sana sambil memeluk batang utama pohon ini. Jelas sekali Luhan sedang ketakutan.
"Kau memaksanya untuk naik?" Chanyeol mengerutkan dahinya dan saat ia menoleh ia sudah tidak melihat Baekhyun ada disampingnya, tapi sudah berpindah ke atas dahan pohon.
"Ayo!" Baekhyun kembali mengulurkan tangannya kembali sama seperti dengan apa yang ia lakukan pada Luhan sebelumnya.
Chanyeol menghela napasnya melihat tingkah makhluk di depannya.
Hap!
Chanyeol naik tanpa menerima uluran tangan Baekhyun. Baekhyun terdiam dan perlahan menurunkan tangannya. Mereka berdua naik dengan mudah terutama Baekhyun.
.
.
Baekhyun melihat Chanyeol yang sedang duduk didahan yang lebih tinggi daripada Luhan dan dirinya sambil menyandarkan punggungnya. Sementara Luhan memandang ke sekitar semampu yang bisa ia lihat dari atas sini.
"Kalau kita ketahuan kita bisa dimarahi oleh guru"
"Ini juga salahmu, siapa suruh kau mengajak kami naik ke atas sini" balas Chanyeol saat ia mendengar Baekhyun bicara.
"Tapi ini menyenangkan, duduk di atas pohon bersama teman terbaik seperti di film-film hehe dan lagipula kau sendiri yang mau naik" Baekhyun terkekeh di akhir kalimatnya.
"Chingu?" Luhan menoleh pada Baekhyun dan Baekhyun mengangguk sambil tersenyum. "Kau menganggapku teman?" tanya Luhan lagi.
"Tentu saja, kau sudah jadi temanku sejak kemarin hehe" Baekhyun tersenyum manis sementara Chanyeol yang mendengarnya hanya mendecih dan Luhan juga ikut tersenyum bersama Baekhyun.
"Gomawo. Kau teman pertamaku di sekolah" Luhan tersenyum sementara Baekhyun menatapnya bingung.
"Yang pertama? Jadi, selama ini kau tidak punya teman, begitu?"
"Tidak ada yang mau berteman dengan anak bodoh Baek, bahkan dulu nilaiku lebih rendah dari penghapus Myungsoo" Luhan mengayun-ayunkan kakinya pelan.
"Ahh kau hanya terlalu merendah" Baekhyun tersenyum lebar sambil menepuk-nepuk punggung Luhan.
"Ya! Kalian berdua, sudah selesai bicara tentang teman bodoh kalian?" Chanyeol yang dari tadi diam akhirnya buka suara dan sukses membuat Baekhyun dan Luhan menoleh padanya.
"Maksudmu apa?" Baekhyun memandang Chanyeol dengan serius.
"Jangan terlalu percaya dengan yang namanya pertemanan atau persahabatan Baek, kau hanya akan berujung dengan dikucilkan sama seperti dulu. Orang yang membalas senyummu setiap hari bisa menjadi sangat berbeda di belakangmu" Chanyeol menatap lurus pada Baekhyun seakan mereka hanya berdua disana, air muka Baekhyun pun mendadak berubah. Kenangan masa-masa ia dikucilkan melintas begitu cepat di otaknya, penghianatan yang dilakukan teman-temannya juga sangat jelas.
"Jangan berlagak bodoh Baek, kau tau kalau teman yang kau maksud itu hanya hidup di dalam otakmu" lanjut Chanyeol, ujung mata Chanyeol melihat pada Luhan yang sekarang hanya menunduk. Baekhyun terdiam. Chanyeol menuruni dahan demi dahan pohon oak itu dan saat ia sampai dibawah ia merapikan seragamnya sejenak dan berbalik, hendak meninggalkan pohon rimbun itu. Belum sempat ia melangkah suara melengking milik Baekhyun sudah menerpa telinganya.
"Ya! Park Chan Yeol!"
Baekhyun menempatkan tangannya pada sisi-sisi mulutnya dan berteriak sekuat tenaga. Chanyeol hanya berdiri diam tanpa menoleh pada Baekhyun.
"Sekalipun aku dikucilkan lagi, aku tetap percaya kalau teman itu ada dan aku, Byun Baek Hyun. Tidak akan pernah membiarkan teman-temanku merasa dikucilkan sama seperti aku dulu! Kau dengar?!" Baekhyun kembali berteriak dan ia tersenyum saat melihat Chanyeol menoleh padanya.
Luhan yang mendengar kata-kata Baekhyun membulatkan matanya, hatinya terasa hangat saat Baekhyun meneriakkan hal itu.
Chanyeol juga terkejut dengan reaksi Baekhyun, ia melangkahkan kakinya menjauhi pohon oak itu tanpa membalas perkataan Baekhyun tapi Chanyeol tersenyum diam-diam saat ia sudah cukup jauh.
.
.
Baekhyun melangkahkan kakinya dengan santai, hari ini hari sabtu dan sekolah libur. Rencananya Baekhyun ingin mengajak Tao untuk main game dan yang kalah harus mentraktir makan, dan Baekhyun selalu menang dari Tao.
Mata bulat Baekhyun menatap sosok yang tidak asing baginya sedang berjongkok di tepi sungai kecil, Baekhyun berhenti dan menyipitkan matanya untuk melihat lebih jelas lagi.
Baekhyun menghampiri orang tersebut dan menepuk pundaknya membuat yang ditepuk kaget dan mengelus-elus dadanya.
"YA!" Jongdae berdiri dari jongkoknya dan mendorong kepala Baekhyun. "Kau kenapa mengagetkanku? Sengaja?! Biar aku tercebur ke sana?!" tunjuk Jongdae ke sungai kecil yang mengalir di depan mereka.
Baekhyun mengelus-elus kepalanya "Aniyo, aku kan hanya menyapa"
"Dasar bodoh! Bebek-bebeknya jadi pergi kan?!" Jongdae kembali mendorong kepala Baekhyun dan berjongkok di tepi sungai memandangi bebek-bebek itu.
"Bebek?" Baekhyun juga ikut menjongkokkan dirinya di samping Jongdae. "Jadi kau melihat bebek dari tadi?"
"Berisik!"
Baekhyun kemudian berdiri dan melepaskan sepatunya dan turun ke sungai yang airnya hanya sebetis.
"Kau mau apa?" Jongdae menatap Baekhyun bingung.
"Menangkap bebek"
Jongdae melihat Baekhyun yang berjalan ke sana ke mari, berusaha menangkap anak-anak bebek, ada juga saat Baekhyun dikejar oleh induk bebek yang mengakibatkan celananya yang selutut basah karena percikan air. Jongdae tanpa sadar tertawa melihat tingkah bodoh Baekhyun.
Hap!
Akhirnya dengan segenap tenaga yang ia punya dan usaha-usahanya Baekhyun berhasil menangkap seekor anak bebek.
"Yey! Aku berhasil menangkap anak bebeknya!" Baekhyun tersenyum lebar dan menunjukkan bebeknya pada Jongdae.
"Sini sini, kemarikan bebeknya" Jongdae memanggil Baekhyun dengan mengibaskan tangannya. Baekhyun mendekati Jongdae dan memberikan anak bebek itu pada Jongdae dan ia naik ke atas dan duduk di sebelah Jongdae yang sedang mengelus anak bebek itu.
"Lucu sekali, pantas kau suka hehe" Baekhyun menyengir dan mengelus kepala anak bebek itu.
Hari itu Baekhyun menghabiskan waktunya bersama Jongdae. Hanya karena seekor anak bebek mereka jadi lebih akrab. Bahkan Jongdae sampai meminta maaf pada Baekhyun.
"Baekhyun-ah , maafkan aku yang selama ini suka bertindak sesuka hati pada mu"
"Gwenchanna, aku sudah tidak memikirkan itu lagi. Sekarang kau dan aku adalah teman hehe" Baekhyun menepuk-nepuk pundak Jongdae dan Jongdae mengangguk mendengar perkataan Baekhyun. Jongdae merangkul pundak Baekhyun dan berjanji akan mentraktirnya makan setelah ini.
.
.
Baekhyun berjalan menuju sekolahnya seperti biasanya, Baekhyun berjalan dengan santai padahal sudah pukul 08.45 dan jika Baekhyun tidak cepat bisa saja ia terlambat.
Tin Tin Tin
Baekhyun menolehkan kepalanya ke samping dan melihat sebuah mobil sedan putih berhenti dan pintu mobil pun terbuka, menampakkan Jongdae disana.
"Ayo masuk!"
Baekhyun tersenyum dan masuk ke mobil Jongdae, menutup pintunya dan meletakkan ranselnya di pangkuannya.
"Wah aku tidak mengira bisa berangkat bersama-sama hehe" Baekhyun menyengir sambil melihat pada Jongdae.
"Tadi dari jauh aku melihatmu, sebenarnya aku tidak mau mengajakmu masuk tapi karena kasihan...ya sudah hahahahahaha"
Baekhyun meninju pelan lengan Jongdae dan Jongdae tidak protes sekalipun Baekhyun melakukan itu padanya.
.
.
Bel tanda istirahat sudah bunyi sejak dua menit yang lalu dan Baekhyun masih memasukkan buku-buku pelajaran sebelumnya ke dalam tas.
"Baekhyun" Baekhyun menoleh saat Kyungsoo memanggilnya "Besok orang tuamu akan datang?"
Baekhyun tampak berpikir sebentar lalu menggelengkan kepalanya.
"Ani, mereka...sibuk" Baekhyun tersenyum kaku di akhir kalimatnya.
"Ahh, jadi siapamu yang akan datang?"
"Mungkin tidak ada hehe" Baekhyun berdiri dari tempat duduknya "Lagipula tidak ada yang peduli bagaimana sikap dan nilai ku di sekolah bagaimana hehe" Baekhyun kembali menyengir dan meninggalkan Kyungsoo.
Kyungsoo melihat Baekhyun yang sekarang sedang berbincang dengan Luhan lalu mengendikkan bahunya acuh.
Secarik kartu undangan muncul didepan wajah Kyungsoo. Kyungsoo meraihnya dan membuka kartu undangan itu.
"Datang ya, itu undangan resmi ulang tahunku" Jongdae tersenyum dan berlalu meninggalkan Kyungsoo untuk membaginya ke anak-anak yang lain.
Jongdae melihat Baekhyun yang sedang mengambil sesuatu di lokernya segera menghampiri Baekhyun.
"Baekhyun-ah" yang dipanggil langsung menoleh dan berdiri "Datang ya ke acara ulang tahunku, ini undangan resminya" Jongdae menyerahkan kartu undangan pada Baekhyun.
"Ahh iya, tentu saja aku akan pergi" Baekhyun mengangguk dan tersenyum, matanya tak sengaja menangkap sosok Luhan yang sedang menggambar. "Jongdae-ya, bisa tidak kalau kau mengundang Luhan juga?"
Jongdae memutar kepalanya untuk melihat Luhan, alisnya terangkat sebelah saat ia berpikir mau mengundangnya atau tidak. Jongdae kembali menatap pada Baekhyun dan menganggukkan kepalanya.
Jongdae menghampiri Luhan yang sedang duduk dan menyerahkan kartu undangannya pada Luhan.
"Ini, datang ya, tidak bawa kado juga tak apa" Jongdae tersenyum dan berlalu meninggalkan Luhan yang memandangi kartu undangan Jongdae.
"Kita pergi bersama, ya?" Luhan mendongakkan kepalanya dan melihat Baekhyun tersenyum padanya.
.
.
Rintik-rintik hujan turun diluar sana, membuat langit gelap karena matahari tertutupi awan tebal, ini baru jam 16.00 tapi sudah seperti setengah 6 sore. Baekhyun sedang mengepel lantai kelas karena ia memang bertugas hari ini. Jika ditanya yang lain kemana, maka jawabannya adalah Baekhyun menyuruh mereka pulang dengan alasan hujan deras akan segera turun dan dia bisa membersihkan semuanya sendirian.
"Hah! Kenapa kelas harus dipel? Lagipula kan kami masuk dengan sepatu, benar-benar merepot–
Baekhyun menghentikan kegiatannya dan menoleh pada pintu kelas yang terbuka.
"Si-siapa itu?!" Baekhyun mengacungkan tongkat pengepelnya.
Tap.
Chanyeol melangkahkan kaki panjangnya masuk ke dalam kelas dan menemukan Baekhyun yang sedang berdiri dengan ekspresi bodoh dan pengepel di tangannya.
"Mengepel sendirian, huh? Mana temanmu?" ejek Chanyeol.
"Aku menyuruh mereka pulang, memang kenapa?" Baekhyun menurunkan pengepelnya dan kembali mengepel.
"Sudah ku duga, kau begitu bodoh sampai mau membersihkan kelas sendirian"
"Cih, itu bukan urusanmu, dan kenapa kau masih disini?" Baekhyun melirik Chanyeol yang sekarang duduk di kursi guru.
"Di luar hujan cukup deras dan angin cukup kuat, kau tidak tahu ya?" Chanyeol meletakkan ranselnya di atas meja guru.
"Tentu saja aku tahu!"
"Kalau sudah tahu, kenapa bertanya lagi?"
"Dasar menyebalkan!" Baekhyun menggerutu dan meletakkan pengepelnya di lemari kebersihan. Bangku-bangku yang tadi digesernya ia kembalikan ke posisi semula.
Chanyeol yang melihat Baekhyun menyeret kursi demi kursi akhirnya turun tangan untuk membantu Baekhyun.
"Hey Baekhyun!" yang dipanggil langsung menoleh.
"Apa kau tidak takut akan dikucilkan lagi?" Chanyeol bertanya pada Baekhyun yang sekarang sudah duduk di salah satu kursi.
"Tentu saja aku takut, karena aku takut makanya aku ingin punya banyak teman. Seperti cerita kucing hitam dan kucing putih, kucing putih selalu dianggap lucu dan sangat disayang, mereka hanya perlu mengeong dan berlaku menggemaskan untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan, tapi kucing hitam berbeda, mereka selalu dianggap sebagai lambang jahat, pembawa sial, dan lainnya. Mereka harus terima jika mereka ditendang, atau dibuang, mereka juga harus berjuang sendiri untuk mendapat makanan, jika saja kucing hitam bisa berteman dengan kucing putih mungkin nasib sang kucing putih akan berpindah padanya walau hanya sedikit"
Chanyeol terdiam dan menatap Baekhyun yang sekarang juga sama-sama diam. Chanyeol menyandarkan tubuhnya pada meja yang ada dibelakangnya dan menyilangkan kedua tangannya.
Puk!
Tangan besar Chanyeol mendarat di kepala Baekhyun.
"Jika kau terus berjuang melawan dunia, mungkin suatu saat nanti dunia akan menyerah dan memberikan apa yang seharusnya kau dapat. Terus percaya apa yang kau percayai Baek, jika kau percaya pertemanan dan persahabatan sejati itu ada, maka itu memang ada"
Baekhyun mendongakkan kepalanya dan menatap Chanyeol dengan senyum manisnya.
"Kenapa kau berbicara seperti itu?" Baekhyun mengernyitkan dahinya tidak mengerti apa yang Chanyeol bicarakan.
"Karena aku tahu siapa kucing hitam itu"
.
.
.
Annyeong, ini Green Rain chap 4-nya ^^
maaf kalau ini ga sesuai dengan yang diharapkan T^T
di chap ini saya juga udah coba panjangin ceritanya
di chap ini kenapa banyak nama-nama yeoja, karena saya rasa ga mungkin kalau satu kelas isinya cowok semua, moga kalian tetap suka
yang minta Baek di bully, udah mendekati kok muahahahaha #ketawajahat
moga ini ga makin membosankan ya, dan maaf kalau moment ChanBaek-nya sedikit, soalnya masih disimpan buat nanti ^^
Ditunggu loh kritik dan sarannya ^O^/
saya membuka pintu selebar-lebarnya untuk kritikan-kritikan dan saran ^o^
Terima kasih buat yang udah luangin waktu untuk baca ff ini ^.^/
