Tittle : Please don't go eomma ( part 2)
Author : Park Shita a.k.a Lee Shita
Cast : Byun Baekhyun, Park Chanyeol, Park Sehun,Xi Luhan
Warning : This is yaoi fanfiction.
Kalau gak suka, tapi pingin baca silahkan, tapi jangan lupa review ya, makasi..
Klik..
Chanyeol menyalakan lampu kamar Sehun, dan di dapati Sehun sedang terduduk di kasurnya dengan wajah pucat dan bercucuran keringat.
"Sehunie? Gwenchana?" ucap Baekhyun sambil duduk disamping ranjang Sehun.
"Eomma~ Eomma~" ucap Sehun dengan pandangan kebingungan dan wajah yang panik.
"Ne..ne.. eomma disini sayang. Kau kenapa?"
"Aku..aku bermimpi buruk."
"Mimpi bu_" ucapan Baekhyun terhenti karena Sehun segera memeluknya erat.
"Eomma itu tak akan terjadi kan? iya kan eomma?" ucap Sehun dalam pelukan Baekhyun.
"Apa sayang?" tanya Chanyeol sambil mengelus kepala Sehun.
"Eomma, aku bermimpi eomma meninggalkanku dan appa. Aku bermimpi eomma tak mau lagi menerimaku, eomma pergi begitu saja meninggalkan kami, tanpa menoleh sedikit pun."
Degh..
Baekhyun tersentak, sedetik kemudian ia memeluk Sehun erat, sedangkan Chanyeol mengelus pundak Baekhyun pelan.
"Kau tidur lagi ne sayang? Itu kan hanya mimpi, eomma tak akan meninggalkanmu. Kau tenang saja, eomma dan appa sangat mencintaimu." Ucap Baekhyun menenangkan Sehun.
"Yaksok?" tanya Sehun sambil mengacungkan jari kelingkingnya setelah melepas pelukannya. Baekhyun memandang jari kelingking Sehun, Chanyeol pun menyiku Baekhyun, dan Baekhyun segera mengaitkan jarinya.
"Yaksok." Ucap Baekhyun.
"Baekkie, kau temani saja Sehun tidur disini." Ucap Chanyeol.
"Ah, ne.." Baekhyun mengangguk.
"Ani, aku ingin tidur bersama kalian berdua."
"Tapi tempat tidurmu tak cukup sayang." Ucap Chanyeol sambil tersenyum. Sehun berpikir sebentar.
"Ayo, kita tidur di kamar appa dan eomma." Ucap Sehun sambil menarik tangan kedua orang tuanya.
"Haah.. rasanya empuk sekali." Ucap Sehun yang kini berada diantara Baekhyun dan Chanyeol.
"Kalau begitu tidurlah, bukankah besok kau akan sekolah."
"Ne..ne.. arraseo." Ucap Sehun, suasana pun menjadi hening, sampai..
"Oh iya eomma?"
"hhmm.."
"Apa yang dimaksud dengan pubertas?" tanya Sehun
"Kenapa kau menanyakan hal itu?" tanya Baekhyun.
"Ne, aku mendapatkan pelajaran itu sekarang, tapi aku masih tak mengerti."
"Pubertas itu adalah dimana masa seorang anak kecil sepertimu, berubah menjadi lebih dewasa, atau dinamakan masa remaja."
"Jinja? Berarti suatu hari nanti aku akan menjadi remaja, lalu dewasa, menikah dan memiliki anak. Hehehehehe.."
"Ck! Kau masih kecil Sehunie, belum pantas bicara seperti itu."
"Biarkan saja appa! Lagipula tak lama lagi aku akan menjadi remaja. Oh iya, appa tahu yang dinamakan bereproduksi?"
"Hah? i..itu.. begini Sehunie, appa akan menjelaskan dengan bahasa yang sederhana saja. Bereproduksi itu adalah proses dinama makhluk hidup memperbanyak jenisnya, dengan cara melahirkan anak-anak yang manis sepertimu."
"Hehehehe.. begitu ya. Lalu bagaimana caranya?"
"Mwo? i..itu.. appa_"
"Kenapa appa tak tahu? Bukankah appa sudah berhasil melakukan proses reproduksi?"
"Sehunie, ini sudah malam, sebaiknya kita tidur ne?" ucap Baekhyun.
"Ani eomma, aku masih penasaran. Oh iya, rahim itu letaknya dimana? Katanya seorang anak lahir dari sana benar kah itu?"
"It..itu.. benar. Seorang anak lahir dari rahim seorang ibu. Dan letak_"
"ck! Kenapa appa yang menjawab? Setahuku seorang eommalah yang mempunyai rahim bukan seorang appa. Iya kan eomma?"
"Hhhm.. ne. Rahim itu letaknya di dalam perut seorang eomma."
"Jinja? Berarti dulu aku pernah berada disini." Ucap Sehun sambil mengelus-ngelus perut eommanya.
"Ne, benar. Rahim itu ada di perut seorang eomma, eomma yang melahirkanmu Sehun, bukan aku." Batin Baekhyun.
"Sehunie, eomma lelah. Kita tidur ne?" ucap Baekhyun dengan suaranya yang sedih.
"Ne eomma." Sahut Sehun lalu menutup matanya.
Walaupun keadaaan kamar gelap, namun Chanyeol masih bisa melihat kalau istrinya sedang menangis, menangis dalam diam.
"Huwaaa.. kita kesiangan." Ucap Baekhyun panik saat melihat matahari sudah bersinar dengan terangnya.
"Jinja? Huwaaa." Kini giliran Sehun yang panik.
"Eomma eottheokkae?" ucap Sehun sambil masih mengusap matanya.
""Palli! Palli! Kau mandi dulu, nanti eomma siapkan seragammu. Yaak! Yeollie, cepat bangun, apa kau tak berangkat ke kantor?" ucap Baekhyun sambil mengguncang keras tubuh suaminya.
"eeugghh.. jam berapa ini?"
"Jam 7.15."
"MWOO? Aku ada meeting dengan klien jam 8.00."
"Makanya cepat bangun, aku akan menyiapkan pakaianmu."
"Ne..ne.."
"Yeollie, gunakan kamar mandi tamu, kamar mandi kita di pakai Sehunie."
"Mwo?"
"Yaak! jangan banyak bicara, cepat!" teriak Baekhyun yang juga nampak panik bukan main, gara-gara meladeni pertanyaan Sehun semalam, semuanya jadi bangun kesiangan.
..
..
"Eomma mana sepatuku?"
"Ne,, chakkaman!"
"Chagy, mana tas kerjaku?"
"Di atas meja rias sayang."
"Eomma topiku mana?"
"Di dalam lemari."
"Chagy, kunci mobilku?"
"Aigoo! Di dekat meja telepon."
...
..
.
"Bye-bye.." ucap Baekhyun sambil melambaikan tangannya kearah Sehun dan Chanyeol yang sudah berada di dalam mobil.
"Ne.. bye-bye. Saranghae eomma."
"Ne, na do."
Baekhyun berjalan dengan lega menuju ruang tamu, benar-benar pagi yang melelahkan. Ia memutuskan untuk bersantai sebentar di atas sofa, sambil merapikan beberapa majalah yang berserakan diatas meja. Saat mengingat kejadian tadi Baekhyun kembali tersenyum, keluarga mereka memang unik dan Baekhyun senang dengan itu.
"Aku memang bodoh, seharusnya aku bahagia dengan keluarga kecil kami, lagipula Sehun sangat mencintaiku, begitu juga dengan Chanyeol. Apalagi yang kurang dalam hidupku." Gumam Baekhyun kecil. Saat ia hendak berjalan untuk mengambil minum ia melihat kotak bekal Sehun tertinggal, ia melirik jam di dinding.
"Oh masih ada waktu sebelum istirahat pertamanya." Gumam Baekhyun lalu masuk ke dalam kamarnya.
Baekhyun's POV
Ck! Dasar anak itu, dia melupakan bekalnya. Aku masih memiliki banyak waktu sebelum jam 09.30, jam istirahat pertamanya. Setelah aku selesai mandi dan berpakaian aku berjalan menuju halte. Selama perjalanan aku berharap aku tak terlambat mengantarkan ini, bisa-bisa dia kelaparan saat mengikuti pelajaran. Saat sampai di depan pintu gerbangnya, aku disambut baik oleh penjaga sekolah. Aku berjalan menuju kelasnya, tapi kelasnya kosong.
"Silyehamnida. Apakah anda tahu dimana siswa kelas 4B?" tanyaku pada seorang namja yang sedang lewat, yang aku rasa dia adalah guru.
"Oh, mereka sedang mengikuti kelas olahraga dilapangan. Anda ingin mencari siapa?" tanyanya lagi.
"Park Sehun."
"Oh Sehun-ah. Anda ini siapanya?"
"Aku_" ucapanku tertahan, tak mungkin aku mengatakan kalau aku eommanya, dia bukan bocah berusia 9 tahun yang tak bisa membedakan namja dan yeoja.
"Aku, pamannya."
"Oh begitu. Anda bisa lurus di koridor ini, lalu turun di tangga sebelah kiri, dan anda akan sampai ke lapangan."
"Ne..gamsahamnida."
"Ne. Cheonmaneyo."
Setelah memberi hormat aku berjalan mengikuti petunjuk yang guru itu berikan. Aku mendengar suara tawa anak-anak, aku rasa aku sudah sampai. Dan benar, dilapangan basket itu aku melihat banyak anak-anak sedang bermain. Hmm.. tapi mana Sehunku ya? Gotcha! Tak sulit menemukannya karena dia memiliki kulit paling putih dan tubuhnya juga tinggi, jadi dia terlihat mencolok.
"Sehun_" ucapanku terputus saat aku melihat beberapa anak-anak kecil mendekatinya, sedangkan Sehunku hanya duduk dan tak memperdulikan mereka. Aku mendekatkan tubuhku untuk mendengar apa yang mereka bicarakan,namun tak sampai terlihat oleh yang lain.
"Yaak! Sehun-ah, kenapa kau diam saja hah? seharusnya kau itu pandai berolahraga, bukankah kedua orang tuamu namja? hahahaha.." aku mendengarnya, namun aku tak melihatnya, karena aku menyembunyikan diriku di belakang pohon.
" Diam kalian! bukan urusan kalian!" aku mengenal bentakan itu, itu Sehun.
"Oh iya aku bingung, waktu kau kecil siapa yang memberimu ASI? Bukankah eommamu tak memiliki payudara. Hahahahha.." kembali lagi terdengar ejekan untuk Sehun. Aku benar-benar tak tega, jantungku terasa sakit, anak sekecil dia sudah mendapat hinaan seperti ini, ini pasti menyakitkan.
"Tahu apa kalian tentang eommaku."
"eomma? Bukankah seharusnya appa? Hahahahahaha.." terdengar lagi ejekan itu.
"Diam! Kalian tak mengetahui apa-apa tentangku dan keluargaku. Aku hiks..hikss.. aku mencintai eommaku dan eommaku mencintaiku, selamanya. Selama eomma selalu disisiku itu sudah cukup." Ucap Sehun yang sepertinya sedang menangis. Aku tak kuat lagi, aku memutuskan pergi dari tempat itu.
"Eih? Kenapa anda menangis?" tanya guru tadi yang kini berpapasan denganku di koridor.
"Hm,bisakah aku..aku. menitipkan ini untuk Park Sehun? Aku tak melihatnya tadi. Gamsahamnida." Ucapku lalu berlari sekencangnya. Sakit! Benar-benar sakit! Aku tak membayangkan sesakit apa hati Sehun kini. Pantas saja ia sering pulang kerumah disaat jam pelajaran dengan keadaan menangis, mereka terlalu kejam, orang-orang terlalu kejam. Apa yang salah dengan kami? Aku tahu pernikahanku dengan Chanyeol salah, aku tahu itu, dan juga keputusanku untuk mempunyai seorang anak. Tapi tidakkah itu hak kami, hak kami untuk bahagia? Kami bertiga saling mencintai, kami hanya ingin dihargai, itu saja, apa permintaan itu terlalu sulit?
Aku berjalan masuk ke dalam rumah, dan segera menutupnya. Aku menyandarkan tubuhku di pintu dan menangis sejadi-jadinya.
"Sehuni, mianhae.. maafkan eomma, ini semua salah eomma.. hikss..hiks.."
'Eomma kenapa rambut eomma tak sepanjang rambut eomma-eomma yang lain?'
'Eomma kenapa eomma tak pernah memakai rok?'
'Eomma, teman-temanku bertanya kenapa aku punya dua appa? Apa maksudnya eomma? Apa eomma punya suami lain selain appa?'
'Eomma,teman-teman mengejekku, katanya aku ini anak pungut, apa itu benar?'
'Eomma, kenapa mereka bilang kalau keluarga kita kelainan?'
'Eomma,apa saat aku kecil aku minum ASI? Dan itu keluar dari sini? Tapi kenapa dada eomma tidak terlihat?'
'Eomma,aku ini kuat. Aku kuat eomma, tenang saja, aku tak akan membiarkan orang lain menyakiti eomma.'
'Eomma, jika aku menikah nanti aku ingin punya istri seperti eomma.'
'Eomma, tadi teman-teman di sekolahku mengatakan sesuatu tentang kata gay, apa artinya eomma? Apa itu sesuatu yang baik atau buruk?'
'Ck! Aku kesal dengan mereka eomma, mereka meledekku seolah-olah mereka mengenal eomma melebihiku, padahal melihat eomma saja mereka tak pernah, hanya mendengar dari eomma mereka.'
Pertanyaan-pertanyaan Sehun selama ini terus terngiang ditelingaku. Selama ini aku selalu membohonginya, tapi aku tahu kebohongan ini akan terkuak, aku tak sanggup saat Sehun mengetahui kebenaran kalau kedua orang tuanya adalah namja, aku tak mau dia membenciku saat itu, aku takut, aku takut kehilangannya, aku takut kehilangan keluarga kecilku yang berharga ini.
Baekhyun's POV end
TBC
Hehehe.. gimana?
Lanjut atau gak?
Review please..
