It's Hurt [Chapter 2]
A Twins
"YAK CHO KYUHYUN!" Teriakan seorang pria dengan jas putih itu sontak membuat kyuhyun tersadar dari lamunannya. Kyuhyun kemudia mendengus kesal setelah mengetahui yang teriak itu adalah dokter yang dipanggilnya, dokter shin dong hee. Atau biasa yang dipanggil Shindong
"Haissshhhhh ternyata kau hyung, kufikir siapa. Kenapa harus berteriak sih? Ini rumah hyung bukan hutan"
"Bagaimana mungkin aku tak berteriak. Tanganku serasa sakit menggedor pintu ini. Bahkan ketika aku sampai di dalam kamar ini, kau menulikan telingamu saat aku memanggilmu. Lantas apa yang harus kulakukan selain berteriak?" ujar shindong. Kyuhyun hanya mengangguk tak peduli.
"Lalu mau apa lagi kau disana hyung? Cepatlah periksa keadaan ryeowookie. Kau menjadi dokter bukan cuma memandang pasien kan?" Rasanya shindong ingin menggunting bibir kyuhyun saat ini. Bocah itu memang tak tau arti kata sopan walaupun terhadap orang yang lebih tua sekalipun, kecuali orangtuanya.
kakaknya sekalipun selalu menjadi bulan bulanan keisengangnnya.
"bagaimana mungkin aku keadaannya jika kau sendiri tak mau bergerak dari tempat itu, Cho Kyuhyun" ujar shindong menggeram. Kyuhyun segera berdiri dan tersenyum kikuk dihadapan Shindong. membuat shindong merotasikan bola matanya jengah.
" ah hyung ngomong-ngomong kau sudah lama datang? sejak kapan?" Shindong hanya mendengus malas mendengar pertanyaan bodoh kyuhyun. " sekitar 2 menit yang lalu aku berdiri di belakangmu yang hanya diam saja sambil menggenggam tangannya" terang shindong yang terlihat tengah memeriksa keadaan ryeowook.
"lalu apa kau mendengar dia berbicara hyung. maksudku sebelum kau berteriak tadi apakah Ryeowook berkata "aku mencintaimu?" tanya kyuhyun penasaran.
"tidak. terakhir yang dia ucapkan itu hanya memanggil namamu. setelahnya dia diam saja"
'just it? itu tandanya yang kudengar hanya halusinasiku semata. syukurlah.' batin kyuhyun lega. lalu kembali kembali memperhatikan kegiatan shindong dengan raut sedikit khawatir. shindong terlihat telah selesai memeriksa namja mungil itu. "bagaimana keadaannya hyung?"
Shindong menulis beberapa kalimat di atas buku kecilnya. merobek sehelai kertas itu dan menyerahkannya kepada kyuhyun. "dia hanya demam biasa, tidak terlalu parah. cukup istirahat dan minum obat yang teratur keadaannya akan pulih" Kyuhyun lalu menerima secarik kertas itu.
"baiklah. hyung permisi masih ada pasien yang menunggu. jaga dia kyuhyun" pesan shindong sebelum kyuhyun mengucapkan sepatah katapun.
belum sempat kyuhyun bergerak ternyata ada yang masuk ke dalam kamar ryeowook. dan orang itu adalah Park Ahjumma, pelayan ryeowook yang baru pulang dari pasar.
"ada apa ahjumma?"
"ini, ahjumma bawakan sarapan untuk nak kyuhyun. ahjumma tau sedari pagi nak kyuhyun belum makan kan? makanlah ini. nanti malah ikutan sakit seperti tuan muda" ujar pelayan itu lembut. diletakkannya nampan sarapan di atas meja kecil samping ranjang ryeowook. kyuhyun hanya tersenyum senang, karena memang tadi pagi ia hanya makan sepotong roti dan itu sama sekali tidak berguna untuk cacing cacing diperutnya yang kini bersorak meminta makan.
"terimakasih ahjumma" ucap kyuhyun sambil membungkukkan badannya. wanita paruh baya itu tersenyum menangguk. berjalan meninggalkan kamar ryeowook.
sepeninggalan park ahjumma, kyuhyun kembali duduk disamping Ryeowook. menatap wajah pucat pasi sahabatnya itu. kyuhyun hanya menggelengkan kepala heran menatap ryeowook.
"apa yang ada di kepalamu itu hm? berjam jam berada di guyuran shower. apa kau punya masalah?"
"kalau iya kau punya masalah. setidaknya ceritalah kepadaku jangan menyembunyikan apapun" ujar kyuhyun bermonolog sendiri seperti orang gila.
"ukhh" sebuah lenguhannya kecil terdengar dari bibir namja yang terbaring itu. mata ryeowook perlahan terbuka.
"gwaenchana...?" suara lembut kyuhyun menyapa telinga ryeowook. ditatapnya wajah kyuhyun dengan dahi yang mengkerut,bingung.
"apa yang kau lakukan disini kyu?"
"apa kau lupa bahwa kau berada di bawah guyuran air shower berjam jam. kau pingsan. untung saja aku kesini melihatmu pingsan dan mengganti bajumu. jika tidak, entahlah kau masih bisa sadar sekarang atau tidak." jelas kyuhyun apa adanya membuat mata ryeowook membulat sempurna.
"MWO? KAU YANG MENGGANTI PAKAIANKU?" teriak ryeowook. kyuhyun hanya mengangguk pelan. "apa ada yang salah? kita kan sama sama pria" jawab kyuhyun santai dan tak menyadari wajah ryeowook yang memerah. "ya tidak sih... tapi kan-"
" yak ryeowook-ah. kenapa wajahmu memerah? apa ada yang sakit? " cemas kyuhyun sambil memegang tangan ryeowook. dipijitnya tangan ryeowook pelan membuat wajah namja mungil itu kini semakin memerah. 'jika kyuhyun seperhatian ini. aku rela sakit seumur hidupku' batin ryeowook agak berlebihan.
" ah ani. oh ya, kau tak sekolah kyu?"
"bagaimana mungkin aku sekolah jika aku pasti sudah dicegat dahulu di depan gerbang karena terlambat"
"mianhae~"
"ah tak apa. sudahlah. apa kau lapar? makanlah ini" Kyuhyun menyodorkan semangkuk bubur dan segelas air putih. Ryeowook hanya mengerutkan keningnya.
"apa kau yang memasaknya? jika iya aku tak mau mati muda dulu karena keracunan masakan buatanmu, cho"
" yak! seburuk itukah masakanku? ini masakan park ahjumma. dia memberikan ini padaku. awalnya ini hanya untuk sarapanku, tapi kurasa dari pagi kau juga belum " ujar kyuhyun tulus. membuat ryeowook terenyuh.
" kau bagaimana?"
"aku bisa cari makanan di luar"
" tak perlu. kita makan berdua saja. lagipula aku tak terlalu lapar"
"baiklah" Kyuhyun menyedokkan bubur itu dan mengarahkan suapan ke mulut ryeowook. " ayo buka mulutmu... aaaaa~" Kyuhyun membuka mulutnya bermaksud mengajarkan ryeowook. sedangkan namja mungil itu mempoutkan bibirnya sebal.
" issshhh kyuuuu! aku kan bukan anak kecil lagiii" rengek ryeowook seperti bocah. kyuhyun terkekeh pelan melihat tingkah kekanakan sahabatnya. "ck. sudahlah buka saja mulutmu"
"aku bisa makan sendiri"
"mau membuka mulut atau mulutmu kubuka pakai dongkrak mobil? "
"ish kau ini jahat! Aaaaa~~~" akhirnya ryeowook membuka mulutnya. acara makan itu terlihat menyenangkan. ada kalanya mereka tertawa, atau ryeowook yang memukul lengan kyuhyun, atau pula kyuhyun yang mencubit pipi sahabatnya itu.
" ohiya kyu. Kenapa kau bisa datang kesini? Bukankah seharusnya kau sudah pergi ke sekolah?" Tanya ryeowook disela sela kunyahan makanannya. Menatap kyuhyun sedikit merasa bersalah.
"Awalnya aku kira kau pergi sendiri. Tapi ummaku dan ahra nuna terlalu mengkhawatirkanmu. Makanya aku cepat cepat datang kesini. Eh aku langsung melihatmu terbaring di bath tub itu. Berterimakasihlah pada mereka. Mereka terlalu menyayangimu ryeowook-ah" ujar kyuhyun kembali menyuapkan bubur nasi ke mulut ryeowook. Ryeowook hanya membuka mulutnya menerima perlakuan kyuhyun.
" mmm nanti aku akan memasakkan sesuatu yang enak buat mereka. " janji ryeowook membuat kyuhyun tersenyum maklum.
"Aku nya tak kau masakkan makanan hm?" Goda kyuhyun sambil memasang wajah memelas yang dibuat buat. Alih alih membuat ryeowook merasa kasihan, justru malah membuat ryeowook tertawa.
"Hahaha ya ya. Tanpa kau memasang wajah menyedihkan seperti itu, aku akan dengan senang hati melakukannya." Ujar ryeowook tulus. Sangat tulus. Hanya saja kyuhyun yang tak terlalu peka untuk merasakan ketulusan yang tersirat dari perkataan ryeowook.
"cha...! makanannya sudah habis. ayo sekarang waktunya kau minum obat" seru kyuhyun mengambil strip obat yang tadi memang sudah dibeli oleh pembantu ryeowook. ryeowook yang melihat obat ditangan kyuhyun menutup wajahnya dengan boneka jerapah yang ia beri nama ' kiki ' .
"aku tidak mau minum obat ituuu" tolak ryeowook yang masih kukuh menutup wajahnya. kyuhyun kemudian mendekatkan tangan ke boneka ryeowook. bermaksud untuk mengambil boneka itu. "jika kau mau minum obat ini, nanti setelah kau sembuh aku berjanji aku akan mentraktirmu ice cream"
ryeowook sebenarnya sangat enggan untuk menelan benda bulat yang amat pahit itu. Namun ketika ia mendengar tawaran menggiurkan itu sontak menurunkan bonekanya. iris caramel itu berbinar menatap kyuhyun. "benarkah?"
"benar"
"benarkah?"
"benar"
"benarkah?"
"benar"
"benar-"
"yak minum saja obat mu atau kujejalkan ke mulutmu" kesal kyuhyun. ryeowook hanya menurut dan mengambil obat itu. menatap tablet bundar itu sebentar dan kembali menatap kyuhyun.
" apa ini pahit?..." tanya ryeowook yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari kyuhyun. membuat nyali ryeowook menciut dan mau tak mau ditelannya juga tablet itu.
"ughhh ini pahit" ujar Ryeowook mengelap lidahnya dengan baju jas seragam kyuhyun. kyuhyun hanya menggeram kesal dengan tingkah konyol sahabat mungilnya.
"kalau manis permen namanya"
"Aku sangat membenci benda itu"
"Kau membencinya tapi kau membutuhkannya. Jangan munafik"
"Aku tak akan menelannya kalau kau tak memaksa"
"Perlukah aku pergi ke garasi sekarang untuk mencari dongkrak mobil"
"Dan perlukah aku memikirkan apakah nanti aku akan menendangmu"
"Haa yasudah. aku tadi hanya bercanda. sekarang kau tidurlah. aku akan pulang sebentar untuk mengambil pakaian. kurasa semalam menginap disini bukan hal yang buruk" ujar kyuhyun membereskan selimut ryeowook. namja mungil itu mengangguk dan memeluk bonekanya erat.
"Oh iya. Kirimkan salamku dan ahra nuna ya" ujar ryeowook merapatkan selimutnya. Kyuhyun mengangguk.
"jalja ryeowookie~~~"
~Kau sangat memperdulikan aku ketika aku sakit. jika begitu aku rela sakit selamanya asalkan kau selamanya pula peduli padaku~ [ It"s Hurt]
~~~~~~~~~~~It~s Hurt~~~~~~~~~
seorang namja berkacamata hitam keluar dari sebuah pesawat yang telah mendarat. berjalan perlahan dengan arogan layaknya pangeran berkuda di karpet merah. sesampainya di luar bandara. pria itu berhenti dan berdiri menanti jemputannya.
"hello Seoul"
dilepaskannya kacamata hitam itu. menampilkan wajah sempurna. dengan sepasang iris caramel, hidung bangir, tubuh mungil dan rambut hitam legam sebenarnya membuat tampilan wajahnya manis. hanya saja mungkin aura yang dikeluarkan oleh namja ini membuatnya terlihat sangat tampan dan charming.
"Tak sabar untuk bertemu denganmu" lirih pria itu pelang mengadahkan kepalanya. Melihat langit yang kelihatannya sedikit mendung.
"telah menunggu lama, tuan muda?"
sebuah suara menginterupsinya. senyum itu mengembang ketika yang menyapa itu adalah supirnya. pria itu menggelengkan kepala. "tidak. aku juga baru sampai, paman"
pria paruh baya itu tersenyum dan mengangkat koper tuan mudanya. " baiklah, mari kita pulang tuan muda" ajak supir itu sambil membawa koper yang dibawa pria muda itu yang dibalas dengan anggukan majikannya. setelah masuk, mobil itu pergi meninggalkan parkiran bandara.
"lalu, setelah ini anda mau kemana tuan muda?"
"kita pulang ke rumah. aku ingin menemuinya. tak sabar untuk melihat ekspresinya" jawab pria muda itu sambil menyeringai. sang supir yang melihat seringaian tuan mudanya dari kaca hanya tersenyum, menggelengkan kepalanya memaklumi.
~~~~~~~~~~~~It's Hurt~~~~~~~~
suasana kamar itu sunyi, sangat sunyi. suasana nyaman untuk beristirahat guna memulihkan kondisi tubuh. ryeowook memejamkan matanya berusaha merilekskan tubuh. kepalanya terasa sangat pening. sebuah kompresan di dahi bahkan tak mampu mendinginkan suhu tubuhnya.
tenang
sangat menenangkan. Sebenarnya ia sangat bersyukur tuhan ternyata masih mengizinkannya untuk merasakan suasana tenang ini karena di hari biasanya, ketenangan adalah barang langka yang tak pernah ia temukan. sampai sebuah suara mengacaukan ketenangan di kamarnya.
"AAAAAAA RYEOWOOK-AH! KAU KENAPA? APA KAU SAKIT?" suara teriakan menggema di seluruh ruangan itu. 2 buah ah maksudnya 2 sosok manusia pengacau yang kini sedang mengguncang guncang tubuhnya. salah satu dari mereka meraba raba wajahnya. "haissshh kalian ini kenapa sih!"
"kami mengkhawatirkanmu wookie. kau dan kyuhyun tak masuk sekolah tanpa alasan. lalu tiba tiba kyuhyun menelfonku dan mengatakan bahwa kau sakit. bagaimana mungkin kami tak mengkhawatirkanmu sahabatku" ujar pria berwajah anime. perkataannya terlalu berlebihan.
"apa yang sakit, chagi? kepalamu? matamu? tanganmu? kakimu? atau hatimu? katakan pada kami sebelum semuanya terlambat. " suara kali ini lebih berlebihan dari sebelumnya dan membuat ryeowook hampir melemparkan guling ke wajah bersenyum gummy itu.
" oh my god. kalian ini terlalu berlebihan. aku hanya demam biasa. kenapa reaksi kalian seperti aku terkena kanker menahun sih?" sebal ryeowook. sedangkan kedua namja itu hanya nyengir.
"aku hanya mencemaskanmu ryeowook-ah"
"apalagi aku"
"kami sangat sangat sangat sangat menyayangimu, Ryeowookie. makanya kami mencemaskanmu sampai begini"
ryeowook hanya memutarkan bolamatanya jengah. dia memaklumi kekhawatiran sahabat sahabatnya yang berlebihan ini. namun tak bisa dipungkiri, hatinya tersenyum bahagia. ternyata masih ada yang sangat menyayanginya. ia bahagia. sampai tak sadar menitikkan air mata.
" yak wookie. kenapa kau menangis eoh? apa kau merasakan sakit? yang mana? bagian mananya?" tanya Eunhyuk -namja gummy smile- itu ketika melihat setetes air mata turun dari kelopak mata ryeowook.
"hiks... terima kasih hiks... kalian sangat huks baik. aku terharu kalian mengkhawatirkanku sampai segitunya. gomawo Eunhyuk... Donghae" isak ryeowook terputus putus. donghae dan eunhyuk segera memeluk ryeowook secara bersamaan.
"sudahlah jangan menangis. kalau kau menangis nanti..."
"nanti aku ikutan menangis. huks huks tuhkan aku menangis jadinya. huweeeeeeee" tangisan eunhyuk tak terbendung lagi. membuat Ryeowook sedikit tertawa melihat tingkah sahabatnya itu.
"terima kasih karena kalian begitu baik padaku"
"tak perlu berterima kasih karena kami sahabatmu, ryeowook-ah"
~Sahabat merupakan aset terpenting dalam hidup. berbahagialah kalian yang memiliki sahabat yang tak hanya memujimu. tapi juga yang dapat menjadikan bahunya sebagai sandaranmu~ [Lee Haeun]
~~~~~~~~~~~~ It's Hurt~~~~~~~~
"jadi. kalian akan menginap disini ?" tanya ryeowook memastikan yang dijawab dengan anggukan kepala kedua sahabatnya itu. "apa kau tak suka kami menginap disini, ryeowook-ah?" tanya donghae menyudutkan ryeowook.
Ryeowook langsung menggelengkan kepalanya. "bukan, bukan begitu maksudku. Kyuhyun juga akan menginap disini malam ini. Apa kalian tak keberatan?" Donghae hanya tertawa mendengar pernyataan ryeowook. " haha tak masalah. Bukankah dia juga sahabat kami? Memang sih aku sedikit agak sebal dengannya. Siapa suruh memecahkan akuarium ikanku" sungut donghae yang mengundang tawa ryeowook maupun eunhyuk.
"kejadian itukan sudah seminggu yang lalu kan? lagian kyuhyun juga sudah ganti rugi"
"tapi aku benar benar dengan wajah sok tampannya itu dia hanya berkata 'maaf aku tak sengaja' benar benar menjengkelkaaann!" teriak donghae. Tanpa sadar kini sosok kyuhyun berada di belakangnya. Eunhyuk dan ryeowook yang memang berhadapan dengan donghae langsung membungkam mulut mereka. Raut wajah eunhyuk dan ryeowook terlihat menegang saat kyuhyun menatap sadis kepala bagian belakang donghae.
"dan kalian tau apa? Dia itu sangat pelit! Sangat sangat pelit! Aku hanya meminta bantuan dia menjawab soal matematika saja dia tak mau. Dasar tuan arogan. Dia fikir dia siapa? Uuuugh kalau saja dia bukan sahabatku, sudah ku masukkan wajah sok tampannya itu ke dalam kloset sekolah. Sudah jelas aku lebih tampan. Dan juga- hei mengapa kalian hanya diam? Kalian tak ingin membantuku menghajar tuan evil itu huh!" omel donghae menggebu gebu. Sedangkan Eunhyuk dan Ryeowook hanya menepuk dahi mereka pelan.
"siapa sih yang kau bicarakan?" tanya kyuhyun dengan nada penasaran yang dibuat buat.
"itu, si Cho Kyuhyun. Setan ah bukan maksudku iblis berwujud manusia"
"benarkah?"
"iya"
"memangnya dia menyebalkan?"
"sangat!"
"lantas. Apa yang ingin kau lakukan padanya?" tanya Kyuhyun memancing mancing.
"aku ingin menceburkan wajah setannya ke kloset sekolah..."
"lalu"
"aku juga ingin... Eh?" donghae baru tersadar jika sedari tadi yang bicara dengannya bukan eunhyuk ataupun ryeowook. 'suaranya mirip seperti suara...' di tolehkan kepalanya ke belakang. Alangkah kagetnya ia ketika yang kini berdiri melipat tangan di belakangnya adalah sosok yang ia bicarakan.
"kyu kyuhyun..." donghae semakin tergagap ketika melihat sorotan mata kyuhyun yang tajam seolah ingin memakannya hidup hidup. Donghae melotot ke arah eunhyuk dan ryeowook dengan tatapan memelas. Sedangkan yang ditatap hanya meringis iba.
"kenapa kalian tak bilang kalau ada dia disini?"
"kau tak mau berhenti berbicara sih"
'matilah aku' batin donghae merana
"jadi lee donghae. Apakah kau masih ingin menyelupkan wajahku ke kloset?" tanya kyuhyun mengulangi perkataan donghae. "errrr ehm sebenarnya sih iya. Tapi kau keburu tau sih. Jadi lain kali saja ya"
Kyuhyun semakin menggeram mendengar perkataan polos yang keluar dari bibir namja berwajah anime itu. Donghae merasa bulu kuduknya merinding. Tiba tiba aura di ruangan itu sangat mencekam baginya.
"eh heheHe kyuhyun. Kau kenapa menatapku seperti itu... Kau semakin jelek. Tersenyum ayo tersenyumă…ˇ HUWAAAAAAAA" donghae menjerit histeris kala tangan kyuhyun hampir saja menjitak berlari guna menghindari kyuhyun. Kyuhyun yang memang sangat ingin menjitak kepala pria childis itu ikut mengejar donghae. Dan kini mereka berdua berlarian mengelilingi kamar ryeowook yang memang cukup besar. Eunhyuk dan ryeowook hanya terkekeh melihat mereka berdua.
Ryeowook bahagia saat ini. Walaupun ia sakit setidaknya ia memiliki sahabat yang pengertian padanya serta dapat menghiburnya. Ia bahagia. Sangat bahagia.
~ sahabat. 7 huruf. 1 kata. Dengan berjuta kebahagian. ~ [It's Hurt]
~~~~~~~~~~~ it's hurt ~~~~~~~~~
"kita sebentar lagi akan sampai di rumah,tuan muda. " ujar seorang pria paruh baya yang kini ada di belakang kemudi. Memberitahukan pada namja muda dibelakangnya yang sedang sibuk menatap jalanan luar dari kaca mobil.
"putar haluan paman. Aku ingin mengunjungi makam nenek terlebih dahulu. Rasanya sudah lama sekali aku tak kesana." sang namja muda itu bersuara. Dilepaskan kaca mata hitam yang sedari tadi dipakainya hingga terlihat iris caramel itu. Sang supir hanya mengangguk. Mematuhi perintah majikan mudanya.
Sesampainya mereka di makam. Pria muda itu langsung berjalan ke arah sebuat pusaran. Berjongkok dan mengusap pelan batu yang terdapat ukiran di atasnya.
"aku pulang, nenek"
" aku pulang. Untuk menemuimu"
" Dan menemuinya."
"aku berjanji akan menjaganya"
"menjaganya dan ada bersamanya"
"menemaninya bertahan di kehidupan yang keras ini"
"melindunginya dari semua kenyataan pahit dalam hidup"
"ia sangatlah rapuh. Seperti sepatu kaca yang sudah dimakan usia. Sangat rapuh"
" ia terlalu rapuh untuk bisa bertahan sendiri."
"ia..."
Ucapannya menggantung. Setetes air mata jatuh begitu saja membasahi pipinya. Tangannya mengusap kasar airmata itu. Berusaha mengembangkan senyum.
"aku tak boleh menangis. Aku kuat. Kalau aku cengeng bagaimana bisa aku menjaganya? Aku benarkan, nenek?" ujarnya yang masih bermonolog sendiri dengan batu nisan.
*FlashBack*
seorang namja kecil berlarian menghampiri seorang wanita tua yang kini sedang duduk di kursi taman sambil menyulam. bocah itu berlari secepat yang ia bisa untuk berada di samping wanita itu.
"neneeekkk" suara riang sang bocah membuat wanita tua yang di panggil nenek itu menoleh. senyumnya mengembang saat melihat yang meneriakinya adalah cucu tersayangnya.
"hati hati bummie. nanti kau terjatuh" ujar sang nenek memperingatkan. namun tak di dengar oleh bocah itu. ia masih terus berlari.
"nenek... nenek aku hari ini berhasil memecahkan kasus nek...! aku sangat... huwaaaaa!"
BUGH
namun sang bocah tak melihat ada batu di depannya hingga menyebabkan ia tersandung dan terjatuh. sang nenek yang mendengar suara debaman langsung menghampiri cucunya yang sedang menangis terisak.
"hiks... hiks.. huwaaaa nenek. appo~~~" adu bocah itu saat neneknya sudah disampingnya. sang nenek lalu menggendong cucunya dan di bawa ke dalam rumah.
"nenek juga sudah bilang, jangan berlari nanti kau jatuh. masih juga ngeyel. dasar anak nakal" sang nenek mengoceh pelan sambil sedikit menjitak kening sang cucu. membuat bocah kecil itu meringis sakit.
setelah sampai dirumah. wanita itu mendudukkan bocah yang dipanggil bummie tadi. mengambil plester luka dan menempelkannya pada luka cucunya yang. "huks appo nenek appooo~~~~"
Wanita tua itu hanya tersenyum. setelah selesai mengobati dengkul bocah itu, sang nenek mengusap air mata yang mengalir di pipi chubby cucunya dengan penuh kasih sayang.
"ssssttttt jangan keras keras. nanti hyungmu terbangun"
"huks~~ tap tapi ini sangat sakit nek~ rasanya dengkulku tadi membentur batu sialan itu. huwaaaaaaaa ngilu ~ sakit~ " rengekan bocah itu malah makin keras.
"sudah jangan menangis, chagia. kau tak boleh cengeng begitu. katanya kau ingin menjadi superman bagi hyungmu. melindunginya dari orang jahat. superman tidak ada yang menangis hanya karena terjatuh " bujuk sang nenek. sedangkan bocah itu hanya menatap tertarik sang nenek.
"jadi kalau aku menjadi namja cengeng, aku tidak akan bisa menjaga hyungie nek?"
"ya seperti itulah"
"kalau begitu. aku tak akan mudah mengeluarkan air mataku nek! aku akan menjadi saeng yang kuat bagi hyungku! aku akan jadi superman di film film yang akan melindungi kejahatan" ujar bocah kecil itu sambil menggenggam tangan kanan keatas dan tangan kiri di samping pinggang. berpose layaknya seorang superman.
sang nenek yang melihat semangat sang cucu hanya tersenyum lembut. diusapnya surai madu lembut sang cucu dengan gemas. bocah itu meilih memeluk pinggang ramping neneknya. "itu baru cucu nenek... tadi kenapa kamu berlari ?"
pandangan sang bocah kembali berbinar "nenek nenek tau tidak? tadi itu ada anak nakal yang mencuri uang teman ku. mereka tak mau mengaku padahal jelas jelas merekalah yang mencuri. tapi aku tak dapat dibohongi! dengan otak detective ku yang seperti Sherlock Homes dan secerdas Detective Conan... aku bisa menganalisis masalahnya nek!" oceh sang bocah. sang nenek hanya mengelus elus rambut cucunya pelan
"oh ya? lalu apakah kau berhasil memecahkan misterinya?" sang nenek bertanya dengan nada seolah - olah itu adalah sebuah kasus pembunuhan yang berhasil dianalisis.
"tentu saja! aku dapat dengan mudah menemukan bukti bahwa dia pencurinya! dan saat ia hendak memukulku karena aku membuatnya dihukum guru, aku langsung menendang bola ke wajahnya seperti yang ada di komik favoritku nek!"
"kau tak boleh begitu, chagi. itu namanya tindakan kekerasan. kan dilarang sama pak polisi" tegur sang nenek. tapi bocah itu malah menggeleng cepat "ani ani! itu bukan tindakan kekerasan nek! tapi tindakan membela diri. kan itu tidak dilarang" bocah itu tak terima disalahkan rupanya.
"baiklah baiklah bummie benar. tapi ingat. kita tak boleh menjadi sombong dengan apa yang kita perbuat dan kita dapatkan. kita harus tetap berendah diri karena masih ada yang jauh lebih hebat daripada kita. jangan seperti kogoro mouri yang tak berbuat apa-apa tapi sangat sombong. arrachi!" ujar nenek . bocah kecil itu mengangguk kepalanya semanga.
"aku mengerti nek! aku takkan menjadi orang yang sombong! aku akan menjadi anak baik yang selalu melindungi kebaikan! aku janji! janji seorang pria!"
"nahh itu baru cucu nenek. Kim Kibum sang Superman!"
.
*FlashBackOff*
Hening
Namja itu masih diam ditempatnya. Tak ingin beranjak dari sana. Masih betah memandangi nisan sang nenek yang menjaganya. Orang itu sangat berarti baginya dan 'dia'. Orangtua itulah yang selalu mengajarkannya mensyukuri hidup. Hanya nenek itu yang benar benar menganggapnya dan ' dia ' ada.
Seorang nenek mampu menjadi figur seorang ayah maupun ibu. Dia mampu menghidupi kedua anak kecil dan menyanyangi mereka sekaligus. Walaupun dengan kekayaan yang berlimpah. Tak membuat nenek itu mengajarkan Sifat sombong pada kedua cucunya. Beliau sangat sederhana. Wanita tua itu bahkan memaksa salah seorang cucunya hidup mandiri di luar negeri agar suatu saat cucunya itu bisa menjaga sang kakak ketika ia sudah tak ada di dunia lagi.
"Aku merasa beruntung, nek. Dilahirkan sebagai cucumu."
"Aku... aku berterimakasih padamu. Kini aku dapat berdiri dengan kedua kakiku. Bahkan aku juga dapat menjadi kaki untuknya."
" dan ini semua berkatmu"
"Tapi apa balasanku untukmu? Aku tak ada disampingmu ketika saat saat terakhirmu. Maafkan aku nek. Aku menyayangimu"
Setetes air turun dari atas langit dan disusul oleh ribuan tetes air lainnya. Perlahan hujan itu sangat lebat dan membasahi apa saja. Namja yang masih berjongkok di depan pemakaman itu menjadi basah kuyup. Walau dalam keadaan begitu ia terlihat enggan untuk beranjak pergi walaupun hanya untuk berteduh. Baju hitamnya tak luput dari serangan air hujan. Tak jarang ia menggigigil kedinginan.
"Tuan muda, ayo pulang. Kau bisa sakit" ajak sang sopir dengan sopan. Di tangan kirinya memegang payung yang ia jadikan pelindung untuk tuan mudanya dan ditangan kanannya terdapat sebuah handuk. Pria muda itupun berdiri dan mengambil handuk dari tangan sopirnya. Pergi meninggalkan pemakaman.
"Aku pergi nek. Aku berjanji untuk menjaganya. Ingatkan aku jika aku lupa" bisiknya pelan sambil berlalu meninggalkan arena pemakaman. Memilih pergi ke kawasan elit daerah gangnam.
~~~~~~~~~~~It's Hurt~~~~~~~~~
"Kyuhyun! Donghae! Kalian berisik sekali siiih aku tak bisa konsentrasi mengerjakan tugas !" teriakan ryeowook menggema dia seluruh penjuru kamarnya. sedang yang di teriaki tak perduli dan masih sibuk dengan playstasion nya.
"Donghae, tolonglah. Kau ini tak takut apa besok akan kena hukum park sonsae?" Kali ini eunhyuk ikut angkat suara mengingatkan sahabatnya itu.
" sudahlah kalian diam saja. Lagi seru nih. Jika masalah tugas besok. Kyuhyun berjanji melihatkan tugasnya kepadaku. Benarkan kyu?" Tanya donghae. Kyuhyun hanya mengangguk tanpa mengalihkan perhatiannya pada layar tv.
"Ishhhh~ sudahlah eunhyuk. Kita cuekan saja mereka. Aku lelah memperingatkannya"
"Hu'um!" Angguk eunhyuk dan mereka kembali melanjutkan kegiatan belajar mereka. Walaupun sedikit terganggu dengan teriakan berisik kyuhyun ataupun omelan besar donghae . Tapi mau bagaiman lagi? Toh kedua namja penggila games itu tak akan mendengarkan omongam ryeowook maupun eunhyuk.
Sebenarnya baik ryeowook maupun eunhyuk semakin bingung dengan kyuhun dan donghae. Baru saja 2 jam tadi mereka masih beradu mulut dan kejar kejaran bagaikan kucing dan tikus. Tapi sekarang? Kyuhyun bahkan dengan sukarela memberikan semua jawaban tugasnya kepada donghae asal pria berwajah anime itu mau bertanding games dengannya. Dan tentunya di sambut dengan senang hati oleh donghae.
"Mereka cepat sekali baikannya. Tadi saja hampir -"
"Tok tok tok"
Ketukan pintu kamar ryeowook membuat mereka semua menghentikan kegiatan mereka. Kyuhyun dan donghae tak perduli dengan permainan mereka. Sedangkan ryeowook dan eunhyuk terdiam menatap satu sama lain.
' siapa itu?'
Sekiranya pertanyaan itulah yang kini menari nari di dalam benak mereka masing masing. Pasalnya semua pembantu ryeowook sudah pulang. Pintu juga sudah dikunci dari ryeowook. Lantas siapa yang mengetuk pintu kamar ryeowook?
" apa jangan jangan itu han... hantu" celetukan asal eunhyuk langsung membuatnya menerima lemparan bantal dari 3 orang temannya. Sedangkan yang dilempar hanya merengut kesal. "Ya! aku kan hanya menebak nebak. Kenapa kalian malah melemparku?" Gerutu eunhyuk kesal. Sedangkan ketiga pria itu hanya mengendikkan bahunya acuh.
" tok tok tok tok tok tok" suara ketukan pintu itu kini makin terdengar keras. Malah kali ini semakin keras. Membuat suasana di kamar itu kembali hening.
Ryeowook yang melihat ketiga sahabatnya itu hanya terdiam tanpa berniat membukakan pintu akhirnya mengalah dan beranjak ke arah pintu. Jalannya sedikit oleng karena memang kondisinya masih belum fit.
" cklek"
Pintu itu perlahan terbuka. Meperlihatkan sesosok pria yang tingginya sama seperti ryeowook. Pria itu menggunakan setelan baju kemeja dan celana jeans panjang. Surai hitam legamnya terlihat basah. Alis mata ryeowook naik sebelah berusaha mengetahui wajah di balik kacamata hitam itu.
"Siapa kau" tanya ryeowook heran. Dan hanya dibalas seringaian kecil dari bibir itu. Membuat ryeowook semakin heran
" apakah kau melupakan aku? Atau aku yang memang sangat mudah dilupakan?" Ujar pria itu. Perlahan dilepaskan kaca mata hitam yang sempat bertengger di hidung bangirnya. Dan ryeowook tiba tiba tersentak kaget.
" ini aku hyung. Adikmu. Kembaranmu."
Ryeowook shock. Merasa ini semua hanya mimpi.
" kkau... kau... kau kim kibum"
BUGH!
"yak Kim Ryeowook!"
~~~~~~~~~ it's hurt~~~~~~~~~~~~
holaaaaa maaf banget ya. author datang dengan chap yang super pendek ini. abis gak tau mau nulis apalagi hahaha
RnR ya.
