Title: Day By Day
Characters/ Pairing: Hatake Kakashi & Haruno Sakura
Type: Oneshot
Genre: Romance, General
Rating: T
Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto
Warning: If you Don't Like the pair, then Don't Read.
.
Chapter Two
NORTHERN LIGHTS
.
Di bawah pohon cemara jarum, di antara batang-batang edelweis yang tumbuh lebat di atas tanah bersalju, Kakashi memeluk erat tubuh Sakura yang gemetar kedinginan. Edelweis-edelweis itu telah menahan badai salju yang menghempas dan membekukan tulang. Badai salju yang sedang berlangsung tak cukup keras untuk membunuh mereka berdua tapi mengingat kondisi fisik mereka yang kelelahan akibat melawan musuh, kematian bisa merenggut nyawa mereka kapan saja.
"Sakura." Kakashi menepuk-nepuk wajah gadis yang meringkuk di pelukannya, berusaha membuatnya tetap terjaga. Sakura terluka cukup parah dan hal itu membuat Kakashi khawatir.
Kakashi mendesah berat, menatap langit yang tertutup kepingan-kepingan salju yang berputar di atas mereka. Ia mengeratkan pelukannya pada gadis itu, menjaganya agar tetap hangat. Sakura sudah begitu lemah hingga cakra penyembuhnya pun tak bisa dikeluarkan.
Kakashi kembali terbatuk, napasnya mulai terengah seolah dadanya dihimpit batu raksasa, nyeri.
"Kakashi-sensei…" Sakura memanggilnya lirih. Jemari gadis itu mencengkeram rompinya yang terasa lengket. "Rompimu… penuh darah. Apa kau baik-baik saja?"
"Mm. Tak usah khawatirkan aku, Sakura-chan." Kakashi tersenyum tipis dari balik maskernya meski rasa perih mendera perut sebelah kirinya.
"Kakashi-sensei…"
"Ya?" Kakashi menoleh pada Sakura yang meringkuk seperti bayi di pelukannya.
"Sensei tahu aurora?" Suara Sakura bergetar. Giginya terdengar bergemeratak menahan dingin.
"Ya." Mata Kakashi menatap butiran-butiran salju yang berputar kencang di atas mereka. "Kau mau kuceritakan legenda aurora?"
"Selama itu bisa membuatku terjaga, ya." Sakura mengangguk, mengikuti tatapan Kakashi. Seolah tatapan mereka bisa menghentikan badai salju kapan saja.
"Aurora adalah seorang gadis kecil yang hidup di negeri bersalju. Ayahnya pergi berburu namun tak pernah kembali. Diduga ia mati terjebak salju." Kakashi menarik napas perlahan. Dadanya terasa nyeri namun ia berusaha menahannya. "Aurora akhirnya menjadi tulang punggung keluarga. Ibunya sakit keras dan sedang hamil tua."
"Tunggu, sensei." Sakura memaksa tersenyum. Bibirnya kering dan mulutnya terasa asin. Tadi ia batuk dan mengeluarkan darah. Dada kirinya sangat sakit sampai-sampai ia khawatir jika tulang rusuknya yang patah mengenai jantung atau paru-parunya. "Aku tidak pernah mendengar seseorang… bercerita dengan begitu datar."
"Lama-lama kau terdengar seperti Sasuke yang sarkastik itu." Kakashi tersenyum lalu memeluk erat tubuh Sakura. Tubuh itu bergetar, begitu pula tubuhnya sendiri. Ia berharap dengan bercerita akan membuat mereka tetap terjaga. Ia lalu melanjutkan kalimatnya, "Saat itu badai salju dan mereka kelaparan. Aurora akhirnya nekat menembus badai salju untuk meminta api kepada pemilik api."
Bahu Sakura berguncang menahan batuk. Meski Kakashi sudah memberikan mantelnya, ia tetap saja kedinginan. "Teruskan sensei. Aku baik-baik saja." Ia setengah berbisik, sepasang mata hijaunya menatap tangkai-tangkai edelweis yang bergoyang tertampar angin.
Kakashi mengusap butir-butir salju yang singgah di pipinya yang kini memucat lalu berkata, "Aurora mengetuk setiap pintu meminta belas kasih tapi tak ada satu pun yang memedulikannya. Ada satu anak lelaki yang berbaik hati ingin memberikan api. Tapi orang tuanya tak mengijinkan…" Ia berhenti sejenak, menajamkan telinga akan deru angin yang membawa lolongan serigala yang berasal dari kejauhan. Ia memperkirakan waktu sudah menunjuk pukul tengah malam.
"Terus?"
Kakashi bernapas lega mendengar suara gadis itu. Ia membersihkan rambut Sakura dari kristal-kristal dingin dan halus. Jika bukan karena ingin melanjutkan cerita tadi, ia pasti sudah tertidur karena menyesap aroma wangi dari rambut Sakura.
"Mereka tak mengijinkan karena mereka takut dihukum oleh para dewa. Mereka yakin, api hanya untuk orang-orang terpilih. Dengan sedih, Aurora pulang dengan tangan kosong, hampir beku kedinginan."
"Nasib kita sama dengan Aurora, sensei." Sakura tertawa lirih. "Membeku kedinginan di bawah sini. Jika bukan karena bunga-bunga edelweis yang melindungi kita, dari tadi kita sudah menjadi mayat."
Frossbite.
Sakura mulai menunjukkan gejala itu. Meracau aneh dan lama-lama tertidur sebagai efek aliran darah yang melambat dan detak jantung semakin berdetak pelan. Dengan segera Kakashi mengeluarkan cakra terakhirnya untuk memanggil Bull agar segera melingkarkan dirinya di sekeliling tubuh gadis itu. Tangan Kakashi menyusup ke balik mantel dua lapis yang dikenakan Sakura, mengusap-usap lengannya, menempelkan erat tubuh mereka agar bisa saling menghantar panas tubuh.
Mereka harus tetap sadar. Mereka tidak akan mati di sini. Tidak sekarang.
"Sampai di rumah…" Kakashi berdehem keras memanggil kembali suaranya yang kini terdengar serak. "… ibunya sudah meninggal bersama adik kecil dalam perutnya. Aurora yang bersedih pergi entah ke mana. Ia menggugat dewa kenapa berlaku tak adil dengan hanya memberikan api pada orang-orang kaya dan bangsawan."
Sakura bergerak di bawahnya. Matanya tampak sedikit redup, membuat Kakashi harus mencubit pipi gadis itu agar terbangun. "Tidak begitu sakit, sensei." Di tengah-tengah situasi seperti ini pun, Sakura tak kehilangan akal untuk membuat pria itu kembali tersenyum.
"Dewa menjadi sayang pada Aurora dan mereka menjadikannya dewi. Ia pun menjadi Aurora yang bersinar terang dan hangat di langit Kutub Utara. Agar semua orang bisa merasakan… kehangatannya."
"Kisah yang bagus." Suara lirih Sakura terdengar. "Kita sekarang tidak bisa melihat Aurora tapi saat ini, sensei adalah… aurora-ku." Ia memegang dada Kakashi, merasakan degup jantungnya yang berdetak lambat, sama seperti miliknya. Jika situasinya normal, Sakura atau mungkin Kakashi akan mengalami degup jantung yang berdetak lebih cepat. "Haah… aku tak percaya aku mengatakannya sekarang. Kurasa kita berdua akan mati jadi…" Ia menengadah menatap pria di sampingnya. Mata abu-abu Kakashi nampak gelap dan sayu, melihat langit yang tertutup kabut dan kristal salju. Mereka sangat dekat, sampai-sampai Sakura bisa melihat butir-butir salju di bulu mata pria itu, kerutan di sudut matanya serta pipinya yang memucat. Ia baru sadar jika Kakashi telah membuka maskernya.
"Jadi apa Sakura?" Kakashi kembali menunduk, mempertemukan mata mereka. Dada Sakura terasa sangat sakit sekarang.
"Aku menyukaimu, sensei."
Tanggapan Kakashi berikutnya hanya menarik napas panjang yang begitu berat sebelum menghembuskannya perlahan. Efek frossbite.
"Apa kau ingat saat aku memasak untuk tim Tujuh? Naruto dan Sasuke langsung membuang masakanku, aku tahu itu. Tapi hanya sensei yang tetap tersenyum dan memakannya. Meski Naruto bilang kalau rasa masakanku seperti muntah kucing."
Kakashi tertawa meski tubuhnya menggigil kembali. "Aku tidak ingin menyakiti hati seorang gadis yang sudah susah payah membuatnya."
"Karena itu aku menyukaimu, sensei. Beberapa tahun terakhir, sejak Sasuke kembali ke Konoha, aku tak lagi memandangmu sebagai seorang sensei tapi sebagai seorang pria." Sakura memeluk erat tubuh Kakashi, menyesap aroma tubuhnya, saling berbagi kehangatan.
Kakashi tak menjawab. Ia memikirkan misi kelas S di Negara Salju yang baru saja mereka jalankan. Misi yang harus dibayar dengan harga mahal, sama seperti misi-misi mereka sebelumnya. Berhasil merebut kembali dokumen penting yang dicuri dari Konoha dengan resiko kehilangan cakra, Sakura yang terluka parah hingga tak sanggup mengeluarkan cakra penyembuhnya sendiri. Terhimpit di tengah badai salju dan angin kencang. Berlindung di antara edelweis setinggi satu meter.
Tapi dari semua itu, ia jadi tahu jika Sakura memiliki perasaan khusus padanya. Sebuah perasaan yang juga tersimpan rapat di hatinya. Ia rasa, jika ditakdirkan mati saat ini, ia bisa mati dengan tenang meski tak mengharapkannya.
.
Sebuah telapak berbulu menyadarkan Kakashi. Perlahan ia membuka mata dan melihat cahaya terang di langit. Bintang-bintang bersinar cerah, membuatnya mengerjap. Apa ia sudah berada di surga?
"Hei, Kakashi." Suara berat terdengar di telinganya. Ia mencari sumber suara tersebut dan menemukan Pakkun dengan wajah berkerut menatapnya. "Bangun. Waktunya kita pulang."
"Pulang?" Kakashi yang masih berbaring, bergerak pelan. Perutnya tak sesakit tadi. Apa ia telah melewatkan sesuatu?
"Mm. Badai sudah berhenti sejak tadi tapi kau masih saja tidur. Kupikir kau sudah mati." Pakkun melangkah dengan keempat kakinya keluar dari rerimbunan edelweis.
Suara gemerisik tangkai edelweis yang tersibak, langkah-langkah Pakkun yang terasa ringan, badai salju yang telah berhenti, membuat pria rambut perak itu kembali ke dunia nyata.
"Sakura!" Ia berseru pelan saat mengetahui gadis itu tak ada di sebelahnya.
"Sakura baik-baik saja. Ia sudah diobati. Ayo, pria tua! Bangunlah!"
"Aku masih 35 tahun, Pakkun. Aku belum begitu tua." Kakashi berdiri, membersihkan tubuhnya dari butir-butir salju, menyibak edelweis untuk mempermudah langkahnya, dan menatap tak percaya jika ia masih hidup. Ia belum mati. Tidak sekarang. Ia bahkan lupa telah menyuruh Pakkun meminta bantuan ke Konoha. Ia sangat senang mengetahui anjing ninja itu tiba tepat waktu dan Naruto―sang Hokage―segera mengirim tim bantuan. Teman-teman ANBU mereka.
Hinata. Shikamaru. Kiba. Ino. Sasuke.
Ia memasang maskernya kembali dan tersenyum. Wajah-wajah mereka dan yang lainnya sempat terlintas, dan memikirkannya hingga saat ini membuat setitik bening tergenang di sudut matanya.
Frossbite. Ia yakin sekali efek itu masih mengalir di tubuhnya.
Dengan langkah ringan ia mendekati mereka, sebelum menghampiri Sakura yang kini sudah tersenyum. Warna merah di pipinya mulai terbentuk. Sakura lalu menyampirkan mantel ke tubuh Kakashi, menatap pria itu dengan penuh kilatan yang hanya Kakashi mengetahuinya.
"Lihat! Aurora!" seru Ino sambil menunjuk ke langit.
"Sudah hampir terang, ya." Hinata yang berdiri di sebelah Shikamaru tampak berdecak kagum melihat bias warna-warni di atas mereka.
"Aku belum pernah melihat aurora," ujar Sasuke datar.
"Whaaaat? Bukankah dulu kalian pernah melakukan misi di Negara Salju?" Kiba menatap tak percaya padanya.
"Hn," dengus Sasuke, seperti biasa. Tak ingin memperpanjang pembicaraan.
"Well, aurora yang muncul menjelang pagi. Simbol keyakinan dan harapan." Shikamaru menjelaskan.
Kakashi menengadah ke langit, memperhatikan cahaya warna-warni yang seperti tirai tertiup angin sepoi-sepoi. Northern Lights. Cahaya Utara. Aurora. Perlahan tangannya menggenggam tangan Sakura yang disambut gadis itu dengan menautkan jemari mereka. Ia tersenyum. Akan ada banyak hal yang harus ia lakukan bersama Sakura begitu tiba di Konoha.
.
END
.
Gin's Note: Northern Lights adalah judul lagu dr soundtrack Twilight. Meski saya nggak suka Twilight, soundtrack yang satu ini cukup keren. Fic ini buat My Girl Cupcake, sbg hadiah ultahnya. Sori han, kadonya telat *meringis*
Anw, tiap chap di fic ini, akan mengusung tema legenda atau mitos-mitos dari berbagai belahan dunia, dan diramu ke dalam kisah KakaSaku sekali habis. Genre bisa berbeda tergantung mood Amaya. Soalnya dia paling sering moody-an. Jadi nggak terbatas diromens saja.
Amaya's Note: Gin kalo kebagian ngupload pasti deh dini hari. Gak kuat begadang, Giiiiiiin *langsung ngiler*
Dan terima kasih banyak buat yang memberikan ripyu di chap satu. Jangan lupa tinggalkan jejak juga di chap ini. Next chap kami akan berkutat dengan legenda Medusa. Thank u.
