Suasana canggung melanda kedua insan yang kini tengah duduk berhadapan. Sang pria sedari tadi mencoba menormalkan degup jantungnya dan memaksa otaknya bekerja extra merangkai kata demi kata yang akan dilontarkannya sebagai penjelasan. Sedangkan gadis disebelahnya lebih memilih diam, tidak tau harus melakukan apa. Sampai akhirnya salah satu diantara mereka memecahkan keheningan yang sedari tadi mereka ciptakan.
"emm… jadi… apa kau mendengarnya?"
Hening. Hanya suara detik jarum jam yang menemani mereka. Jongin tetap menunggu gadis disebelahnya mau membuka mulut. Setidaknya mengatakan sesuatu. Jongin menarik nafas dalam-dalam, mencoba memenuhi rongga paru-paru nya yang mendadak kehilangan oksigen karna suasana yang tanpa mereka sadari telah mereka ciptakan.
"Kyung-"
"ya Jongin… aku mengerti. Tidak usah kau jelaskan. Ini memang sudah seharusnya terjadi. Dan maaf aku lancang mendengar pembicaraanmu tadi pagi."
Tersenyum, itu yang bisa Kyungsoo lakukan untuk menutupi rasa sesak dihatinya dan Kyungsoo juga harus mati-matian menahan air matanya saat melihat raut wajah Jongin yang tersirat penuh-
-luka?
.
.
.
.
.
"hiks… hiks…"
Ruangan berukuran 8mx5m bercat pink dengan berbagai poster yang terpajang hampir memenuhi kamar itu menggemakan suara isak tangis seseorang. Ditengah-tengah ruangan tepatnya diatas sebuah ranjang queen size terdapat dua orang gadis yang duduk saling berhadapan. Gadis dengan surai coklat bergelombang itu sedari tadi tidak berhenti mengusap pundak gadis dihadapannya dan jangan lupakan bibir tipisnya yang terus menggumamkan kalimat-kalimat penenang.
"uljima Kyung… ceritakan padaku apa yang terjadi padamu. Jangan menangis tiba-tiba seperti ini. Kau membuatku khawatir Kyung.." Gadis dengan surai coklat itu menarik tubuh itu kearahnya. Memeluk tubuh yang tidak kalah mungil dengan dirinya dan mengusap surai hitam tembaga itu dengan lembut.
Baekhyun tidak tau apa yang tengah terjadi dengan sahabatnya ini. Sekitar 15 menit yang lalu pintu kamarnya diketuk tiba-tiba oleh salah satu maid nya dan mengatakan bahwa Kyungsoo sudah berada dibawah menunggunya. Seingatnya mereka tidak memiliki janji apapun hari ini belum lagi kedatangan mendadak Kyungsoo tanpa menghubunginya terlebih dahulu. Dengan segera Baekhyun memerintahkan maid nya itu untuk menyuruh Kyungsoo menunggu sementara dirinya mencuci muka. Karna jujur saja gadis pecinta eyeliner itu baru saja bangun tidur.
Tidak sampai 5 menit Baekhyun keluar dari kamarnya dan menuruni tangga dengan tergesa-gesa. Tidak peduli nanti mendapat omelan dari salah satu sahabatnya itu karna masih menggunakan piyama jam 10 pagi.
"hai Kyung…"
Merasa medapat tepukan pada pundaknya, Kyungsoo menolehkan kepalanya kebelakang. Tersenyum melihat sahabatnya itu masih menggunakan piyama itu artinya Kyungsoo baru saja mengganggu acara tidurnya.
"hai Baek.. aku mengganggumu ya?"
Baekhyun mengernyitkan kedua alisnya melihat reaksi Kyungsoo yang malah memberikannya senyuman. Bahkan Baekhyun yakin terdengar nada sedih saat membalas sapaanya itu. Baekhyun mendudukan dirinya disebelah Kyungsoo dan menatap intens gadis dihadapannya ini.
"ada apa Kyung? Tidak biasanya…"
Kyungsoo terdiam, entah kenapa terselip keraguan dihatinya saat Baekhyun bertanya seperti itu. Memilih bungkam dan kembali memikiran tujuannya datang kesini. Dengan satu tarikan nafas, Kyungsoo menatap Baekhyun intens.
"ada yang ingin aku bicarakan padamu Baek… dan kau harus mengetahui kenyataan yang sebenarnya tentangku."
Kedua alis Baekhyun bertautan. Benar-benar tidak mengerti maksud dari ucapan Kyungsoo dan sedetik kemudian Baekhyun dikejutkan dengan aliran airmata dikedua belah pipi chubby itu. Dan yang lebih mengejutkan Baekhyun adalah-
-Ucapan sang teman.
"aku sudah bukan gadis lagi Baek. Aku hina… dan bodohnya si hina ini sekarang benar-benar merasa terluka."
.
.
.
.
Tebece…
Boong deng.. :P
Dan sudah 10 menit lebih Kyungsoo menangis tanpa memenuhi hasrat Baekhyun sedikitpun. Berbagai pertanyaan seperti 'ada apa kyung?' 'kenapa kau mengatakan hal seperti itu?' 'siapa jongin?' 'kenapa kau diam saja?' 'kau membuatku semakin khawatir Kyung...' Dan hanya dijawab gumaman 'aku hina. Kau tidak pantas berteman denganku Baek.' 'jongin… hiks…' 'apa yang harus kulakukan Baekhyun…' 'aku…mencintainya Baek. Bantu aku… hiks…' 'kalian pasti membenciku' Sampai akhirnya Baekhyun memilih diam dan menunggu Kyungsoo menceritakan semua padanya.
.
.
.
Yixing menatap nanar gadis dihadapannya. Saat Baekhyun menelponnya dan mengatakan Kyungsoo berada dirumahnya dalam keadaan kacau, juga meminta bantuan untuk menenangkan gadis bermata bulat itu Yixing langsung bergegas menuju rumah Baekhyun dan menerobos pintu kamarnya dengan brutal. sedikit meringis saat mendapat sambutan istimewa dari pemilik kamar karna hampir menghilangkan nyawa mereka dengan serangan jantung mendadak. Terkutuklah kau zhang yixing batin Baekhyun saat itu.
Dan kini, setelah kedatangannya juga rayuannya untuk menceritakan masalah yang sedang dialami Kyungsoo. Yixing merasakan perasaan sakit yang mendalam saat mengetahui semua yang telah terjadi pada sahabat mungilnya. Marah, kecewa, sedih, iba semua bercampur menjadi satu. Membuatnya sedikit kesulitan untuk bernafas dan mengakibatkan jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya.
"kalian pasti muak denganku bukan? Hiks… memang sudah seharusnya kalau kalian membenciku. Aku tidak masalah. A-aku… aku hanya ingin meminta maaf pada kalian karna menyembunyikan ini. Maafkan aku… maafkan aku…"
Kyungsoo terus menangis. Sedangkan Baekhyun tetap terpaku ditempatnya tanpa melakukan apapun. Terlalu shock mendengar pernyataan temannya. Dan Yixing, berusaha sebisa mungkin mengontrol emosinya. Dia tau, Kyungsoo saat ini sedang membutuhkannya dan membutuhkan tempat sandaran. Dengan perlahan Yixing menarik pundak Kyungsoo kearahnya. Memeluk sahabat mungilnya itu dan mengusap punggungnya menenangkan.
"tidak Kyung. Aku tidak membencimu. Walau aku kecewa atas tindakanmu juga merahasiakan ini dari kami, tapi aku sama sekali tidak membencimu. Uljimayo…"
"lalu apa yang harus kulakukan xing? A-aku… aku… mencintainya. Aku tau seharusnya perasaan ini tidak boleh ada. T-tapi… aku tidak rela berpisah dengannya."
Yixing terdiam. Dia tidak tau apa yang harus dilakukan sekarang. Otaknya mendadak blank ketika mengetahui kenyataan ini.
"kau harus bicara jujur Kyung."
Kyungsoo menghentikan tangisnya dan melepaskan pelukannya pada Yixing. Beralih menatap Baekhyun yang sedari tadi terdiam tidak berkutik.
"tapi Baek-"
"katakan atau kalian tetap seperti perjanjian semula?"
.
.
.
.
.
Malamnya tidak banyak yang berubah. Apartemen itu masih terasa berbeda. Jongin dan Kyungsoo, kedua nya dilanda kecanggungan yang sangat besar. Baik Kyungsoo maupun Jongin memilih untuk diam dan menjalani keseharian dengan biasanya. Setidaknya, mereka berusaha menjalaninya.
Malam berganti pagi. Pagi berganti malam. Suasana apartemen itu masih sama. Dua orang berbeda gender itu tetap memilih bungkam. Bahkan mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing. Tidak ada lagi bertatap muka, tidak ada lagi balas membalas senyuman, tidak ada lagi sapaan dipagi hari, tidak ada lagi kecupan-kecupan ringan, tidak ada lagi canda tawa, tidak ada lagi pelukan hangat, tidak ada lagi obrolan obrolan ringan dan tidak ada lagi lontaran kalimat demi kalimat gombal yang selalu Jongin berikan pada Kyungsoo. Kedua nya sibuk. Entah sibuk karna aktivitas mereka dikampus dan dikantor atau-
-sibuk menghindar?
.
.
.
.
.
Ting Tong
Suara bel dipagi hari mengalihkan perhatian dua insan yang tengah berkutat dengan piring dan sendok. Saling bertatapan sekilas sebelum akhirnya sang wanita berdiri dan berjalan kearah pintu.
/cklek/
"hai sayang…"
.
.
.
"ada apa kau kemari?" Jongin menatap sengit wanita yang ada dihadapannya. Matanya menajam setiap kali berhadapan dengan wanita itu. Sedangkan sosok anggun dihadapannya terlalu sibuk dengan gadget ditangannya yang sedari tadi tidak berhenti bergetar.
Jongin menghela nafas lelah. Menghadapi wanita itu membutuhkan kesabaran yang extra.
"apa begitu sikapmu padaku heh? Setelah menikah pun kau masih bertingkah menyebalkan. Atau mungkin semakin menyebalkan."
Jongin menyeringai mendapat jawaban sinis dari sosok itu. Dengan menekan segala hasrat untuk tidak melontarkan sumpah serapah miliknya. Pemuda itu memilih duduk disamping gadis yang baru saja meletakkan segelas orange juice dan kopi serta beberpa cemilan diatas meja.
"langsung saja eomma… katakan apa mau mu kesini?"
Wanita yang dipanggil eomma itupun meletakkan gadget ditangannya kesamping kanan. Matanya kini terfocus seluruhnya ke pasangan muda-mudi itu.
"well, maksud kedatanganku adalah aku menagih janji padamu Jongin."
Jongin mengernyit. Tidak mengerti maksud dari perkataan wanita berumur hampir setengah abad itu.
"janji?" Jongin membeo. Sedangkan Kyungsoo memandang Mrs. Kim dan Jongin bergantian. Dibenaknya juga terlintas hal yang sama dengan Jongin. 'janji apa?'
"iya janji anakku sayang… bukankah kau telah menikah? Nah. Aku menuntut bagianku disini."
"jangan bertele-tele mom… kau membuatku sakit kepala." Jongin memijat pelipisnya perlahan sambil menyenderkan punggungnya kesandaran sofa dan mengangkat tangan kanannya sejajar bahu.
"cucu sayang… aku menginginkan bagianku. Menimang cucu. Kapan kalian akan memberikannya."
Bagai tersambar petir di siang hari. Kyungsoo dan Jongin terdiam ditempat. Mata mereka membelalak terkejut mendengar ucapan itu. Tidak menyangka bahwa meminta hal ini padanya disaat suasana kurang baik.
Mrs. Kim terkekeh geli melihat reaksi yang diberikan anak dan menantunya tersebut. Ekspresi yang mereka tunjukan benar-benar membuatnya gemas dan ingin mencubiti kedua pipi itu hingga memerah.
Merasa tidak mendapatkan jawaban sama sekali dari pasangan muda-mudi itu, Mrs. Kim memutuskan kembali sibuk dengan gadget miliknya. Sesekali jari-jari lentiknya mengambil cemilan yang ada dimeja dan memakannya dengan tenang dan anggun.
.
.
.
Jongin kini tengah berbaring diatas ranjang mereka. Menatap langit-langi kamar, memikirkan obrolan pagi mereka dengan ibunya. Jongin tidak dapat menampik bahwa dia senang ibunya meminta hal itu padanya. Tapi saat mengetahui kenyataan dia sedang diambang perceraian dengan Kyungsoo membuatnya mendesah lelah. Bahkan bahu tegap nya kini terlihat melemas saat memikirkan hal tersebut.
Cklek
Jongin mengalihkan perhatiannya ke arah pintu. Disana sosok gadis bertubuh mungil baru saja memasuki kamar mereka. Surai nya yang berwarna hitam kelam menutupi sebagian wajah ayu nya.
Perlahan, Kyungsoo melangkahkan kakinya ke arah Jongin. Mendudukan tubuhnya di ujung ranjang mereka. Pandangannya masih terfocus ke arah lantai kamar mereka. Mencoba mati-matian menormalkan degup jantungnya yang terpacu dua kali lebih cepat dari biasanya karna tatapan sang pemuda yang menatapnya intens.
Hening. Hanya suara deru nafas teratur mereka yang memenuhi ruangan itu. Sepertinya sejak hari itu, baik Jongin maupun Kyungsoo tidak ada yang berusaha merubah kebiasan baru mereka. Sampai…
"bisa kita bicara Kyung?"
Kyungsoo menghela nafas lelah dengan sikap keterdiaman mereka.
"apa?" mengalihkan pandangannya ke arah Jongin dan merubah posisi duduknya agar lebih nyaman. Jongin pun melakukan hal yang sama. Bangkit dari posisi tidurnya dan duduk menghadap sang istri.
"ini soal permintaan eomma. Bagaimana menurutmu?"
"kenapa bertanya padaku? Kau tau aku tidak mungkin mengabulkan itu Jongin.. kau dan aku. Ikatan ini hanya perjanjian semata." Jongin mengerutkan alisnya tidak suka. Perkataan Kyungsoo seolah menamparnya dengan telak. Jongin tau itu semua, ikatan ini memang semata-mata untuk membuat kedua orangtua nya berhenti mengenalkannya dengan berbagai macam gadis. Tapi… seiring berjalannya waktu bahkan Jongin melupakan fakta bahwa mereka memiliki janji itu.
"bahkan kau sudah menyiapkan surat cerai nya bukan? Dan memang inilah yang seharusnya terjadi. Aku hanya sekedar membantumu saja Jongin-ssi… tidak lebih dari itu." Nada bicara Kyungsoo semakin pelan tapi Jongin masih dapat mendengar nya. Jongin tidak bisa membiarkan ini terjadi. Dia harus meluruskan sesuatu disini.
"soal surat cerai itu… aku… tidak menginginkannya Kyung."
Deg
Mata Kyungsoo membelalak mendengar penuturan suami nya. Tidak menginginkannya? Lantas mengapa Jongin membuat surat itu? Dan… bagaimana dengan perjanjian mereka?
"mengapa kau mengatakan hal itu padaku? Apa maksudmu sebenarnya?" entahlah Kyungsoo merasa dipermainkan kali ini.
"sudahlah Jongin-ssi… sebaiknya kau beristirahat sekarang. Bukankah besok kita harus kepengadilan?" belum sempat Jongin membuka kedua belah bibirnya Kyungsoo sudah menyelanya terlebih dahulu. Tidak ingin mendengar apa yang akan dikatakan suaminya itu kepadanya dan lebih memilih membaringkan tubuhnya disamping Jongin. Memunggungi pemuda tampan itu dan memejamkan matanya mencoba memasuki alam mimpi.
.
.
.
"aku mencintaimu baby soo… sungguh. Seharusnya kau tau lebih awal." Memutuskan merebahkan tubuh tegapnya kearah yang beralawanan dengan Kyungsoo. Mengikuti jejak Kyungsoo memasuki alam mimpi.
Tetapi tanpa Jongin sadari mata bulat itu kembali terbuka bersamaan dengan cairan benih yang keluar dari ujung matanya. Membasahi bantal yang tengah digunakannya. Menggigit bibir bawahnya menahan isakan sambil tangannya meremas seprai putih itu. Tak lama gumaman terdengar lirih.
"akupun Jongin. Aku juga mencintaimu…"
.
.
.
.
.
Ruang pengadilan itu tidak terlalu ramai. Hanya berisikan beberapa orang saja. didepan saja, telah duduk seorang pria paruh baya dengan palu ditangannya. Didepan pria paruh baya itu sudah duduk Jongin dan Kyungsoo dengan beberapa orang dibelakang mereka. Sidang perceraian mereka baru saja terjadi beberapa saat yang lalu. Dan ketukan palu sebanyak tiga kali itu memutuskan pasangan suami-istri itu telah resmi bercerai.
tidak ada perbincangan yang berarti. Keduanya hanya berkutat dengan pikiran masih-masih. Raut wajah keduanya pun tidak dapat dibaca. Sedangkan pemuda yang sedari tadi berdiri dibelakang Jongin hanya dapat menghela nafas lelah. Untuk apa menyuruhnya membuat surat cerai kalau wajah itu tersirat luka yang mendalam.
"Jongin…" Jongin menatap pemuda jangkung dengan lingkar hitam disekitar matanya itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Entah apa yang sedang dipikirkannya tapi Tao tau tersirat kekecewaan dalam onyx kelam itu.
"ayo pergi." Jongin menghela nafas berat lalu mengangguk. Sebelum melangkah Jongin mengalihkan pandangannya ke samping kiri dimana sosok wanita itu tadi berdiri. Tapi matanya sama sekali tidak mendapati siluet itu. Mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan tapi nihil. Sosok itu tidak ada dimanapun.
"mencari Kyungsoo? Dia sudah pergi sedari tadi Jong. Kau terlalu banyak melamun." Dan akhirnya kedua pemuda itu memutuskan meninggalkan ruangan yang menjadi saksi bisu proses perceraian Jongin dan Kyungsoo.
TAMAT.
EPILOG
Seorang anak kecil berumur sekitar 6 tahun melangkahkan kakinya keluar dari ruang kelas. Rambutnya yang hitam panjang tergerai hingga punggung dengan sebuah jepitan kupu-kupu disisi kanan rambut membuatnya terlihat cantik. Tubuhnya yang mungil dengan kulit yang sedikit kecoklatan itu terbungkus dengan seragam sekolah lengkap dengan topi dan dasi. Jangan lupakan tempat minum bergambar pororo serta tas bergambar serupa menggantung di leher dan pundaknya.
Bibir berbentuk hati itu juga tidak bosan-bosannya mengukir senyum empat jari menambah kadar kecantikannya. Sambil melompat-lompat kecil tubuhnya menghampiri sesosok wanita yang tengah menunggunya didepan gerbang sekolah. Sosok yang amat dicintainya.
"Appa…" teriaknya saat kedua mata bulat beningnya menangkap siluet yang tidak asing tengah berdiri menunggunya disana. memutuskan berlari menghampiri sosok itu yang telah merentangkan tangannya menunggu terjangan darinya.
Brugh
"aaaaa appaa… bogoshipo…" memeluk erat leher sang appa dan menenggelamkan wajah mungilnya diperpotongan leher dengan warna kulit sama dengannya itu.
"hahaha… appa juga merindukanmu gongju… bagaimana sekolahmu? Eum?"
"baik appa. Aku senang sekali sekolah disini. aku juga memiliki banyak teman." Tersenyum lebar saat matanya dapat kembali berhadapan dengan sepasang onyx itu.
"syukurlah… appa senang mendengarnya. Ayo kita pulang Eomma telah menunggu dirumah." Membawa tubuh mungil dalam gendongannya itu kearah mobil berwarna hitam yang terparkir tak jauh dari sana.
"eum… kenapa tiba-tiba appa menjemputku? Bukankah seharusnya appa berada di Jepang?"
"ya sayang… tapi appa baru saja pulang satu jam yang lalu jadi appa memutuskan menjemputmu sekaligus memberimu kejutan."
Bibir itu mengerucut lucu mendengar penuturan sang ayah. Merasa sedikit jengkel karna tiba-tiba pulang tanpa memberinya kabar.
"kenapa kau cemberut begitu sayang? Lihat. Pipimu jadi ikut turun kebawah… hahaha" mencoba menggoda malaikat kecilnya dengan mencolek-colek pipi chubby itu membuatnya terlihat sangat menggemaskan.
"ukh… hentikan appa… aku tidak suka itu…" menyingkirkan tangan sang ayah yang masih bersarang dipipi sebelah kirinya lalu melipat kedua tangannya didada serta menglihkan pandangannya ke luar jendela.
"hei… kenapa sayang? Kenapa sikapmu seolah tidak senang dengan kepulangan appa? eum?"
"aku sebal sama appa! appa tidak memberitahuku kalau akan pulang sekarang. Aku kan juga ingin ikut eomma menjemput dibandara." Sang ayah terkikik pelan mendengar jawaban sang buah hati. Kemudian tangannya beralih mengusap surai itu dengan lembut.
"maaf ya sayang appa tidak memberitahu sebelumnya. Appa kan sudah bilang ingin memberi kejutan. Dan jangan khawatir… eomma pun tidak tau kalau appa akan pulang hari ini."
"benarkah?"
"hm!" tersenyum senang dan merentangkan tangan mungilnya hendak memeluk sang ayah. Dan mereka memutuskan pergi meninggalkan halaman sekolah menuju rumah.
.
.
.
Ting tong
"ya sebentar.."
Cklek
"eomma…"
"eh? Kyung? Bagaimana kau bisa ada disini? eomma baru saja ingin menjemputmu sayang… kau pulang dengan siapa? Tidak pulang sendiri kan?" tangan wanita itu membingkai wajah yang buah hati. Mata nya menelusuri setiap jengkal tubuh mungil itu memastikan tidak ada luka disana.
"tidak. Dia pulang bersamaku."
Kedua perempuan yang memiliki wajah nyaris sama itu mengalihkan pandangannya ke samping. Tak jauh dari tempatnya berdiri sesosok pria yang dirindukannya lengkap dengan senyuman dikedua belah bibir tebal itu.
"Jongin…"
"hai baby… merindukanku?" kembali merentangkan tangannya menyambut pelukan hangat dari wanita yang dicintai dan dinikahinya sejak 10 tahun lalu itu.
"Jonginn…!"
Greb
Memeluk erat tubuh itu. Menumpahkan segala kerinduannya setelah 2 bulan tidak bertemu. Dan Jongin balas memeluk erat wanita itu. Menghirup aroma tubuh sang wanita yang amat dirindukannya. Walau 2 bulan tidak bertemu tapi mereka saling merindukan.
"I miss you baby…"
"aku juga merindukanmu." Melepaskan pelukan itu dan beralih mempertemukan kedua iris mereka. Memandangi pahatan ciptaan tuhan yang kini ada dihadapannya. Saling melempar senyum dengan sebelah tangan sang pria yang membelai lembut pipi itu. Dan semakin lama jarak wajah mereka semakin menipis sampai.
"eomma… appa… apa yang kalian lakukan?" keduanya tersentak kaget saat mendengar suara yang amat familiar masuk ke gendang telinga mereka. Mengalihkan pandangannya dan matanya bersitatap dengan sepasang mata bulat lainnya yang tengah memandang mereka dengan bingung.
Keduanya melepaskan pelukan itu. Membuat beberapa centi memisahkan tubuh mereka.
"ehehe tidak ada sayang… ayo masuk. Eomma sudah memasak makanan kesukaanmu."
"yeayyy…." Berlari masuk kedalam rumah meninggalkan dua insan itu. Baru beberapa langkah lengannya ditarik seseorang membuat wajahnya bertabrakan dengan dada sang pria.
"kita belum selesai Kyung. Come on, gave me kiss."
Cup
TAMAT
NAH LHO! HAHAHAHA endingnyaaa XD *tutup muka*
Oke oke maafkan saya atas lamanya ff ini update karna aku memiliki beberap alasan salah satu nya insidenmenginapnya laptop saya dirumah orang sampai harus ngetik ulang karna semua doc. Ilang XD
Ini laptop sempet rusak gegara kebanting dan sempet menginap dan mendapat perlakuan khusus *apadah* selama hampir 2bulan XD
Belom lagi pas die –laptop- balik keadaan laptop kosong melompong alias diinstal ulang. Ga ngerti deh ngapa begitu. Tapi aku sih maklumi ya karna itu bukan pertama kalinya laptop kebanting. BUAHAHAHA
Alhasil harus ngetik ulang. Dan sialnya otakku saat itu lagi stuck! Ga bisa mikir sama sekali XD ditambah tugas yang menumpuk.
-Gue heran deh ye… kenapa baru jadi mahasiswi aja tugasnya numpuk kayak kaga pernah cuci baju sebulan. Beh… ajib banget tuh dikelilingin tugas yang isinya angka semua :3 Mata aja serasa diajak muter-muter sama Jongin /plak/-
Yaudin saya diemin aja sambil nunggu pencerahan dari langit dan baru bisa buat sekarang.. muehehehe
Maaf kalau endingnya begini… karna saya bingung mau buat gimana. Aku juga lupa sama ending yang sebelumnya udah kubuat. Hahaha…
Well…
Silahkan bash saya karna hasilnya ga memuaskan begini…
Gomen ne… :')
Maaf juga ya ga bisa balas satu-satu… yang punya akun mungkin bisa dicek nanti PM nya. Aku usahain balas.
Dan terimakasih juga sudah bersedia membaca ff *uhuk* ece-ece *uhuk* ini…
ARIGATOU MINNAAAAA /bow/
And least, mind rnr? Pleaseeee….
Oh satu lagi. Saran nih. yang mau kuliah jangan ngambil jurusan perpajakan. Pusing. Riweh. MUAHAHAHAHA *sesat*
Boong deng… becanda doing. kekeke :D
Review please…
