Tittle : Thriller

Chapter : 2 of ?

Main Cast :

Oh Sehun

Lu Han

Genre : Fantasy, horror, thriller, romance, drama, friendship

Type : Chaptered

Alert : Gender Switch, HunHan, HanHun, Girl!Sehun, Boy!Luhan

Summary : Jangan pilih aku jika kau benci kegelapan. Jangan pilih aku jika kau benci sepi. Karena, saat kau bersamaku, kau akan merasakan apa yang namanya gelap dan sepi, hanya ada kita berdua.

.

.


.

.

Halo-halo ^^

Chapter 2 datang, tepat satu minggu setelah chapter 1 diupload kekekeke~

Terus untuk alert nya udah ditambahin pakai HANHUN tuh hihihi

langsung aja yaaa

selamat membaca! ^^

.

.


.

.

Ada lima jawaban yang dipikirkan Sehun soal cairan pembersih lantai yang tumpah di koridor lantai satu.

Pertama, cairan itu secara tidak sengaja tumpah. Kedua, ada orang yang ingin mencelakai Sehun. Namun, usaha orang itu gagal karena Kris. Ketiga, ada orang yang ingin mencelakai orang lain. Namun, orang itu salah target dan beruntungnya Sehun diselamatkan oleh Kris.

Keempat, Kris ingin mencelakai seseorang. Namun, yang masuk ke dalam perangkapnya tidak sesuai target. Jadi, Kris berusaha menyelamatkan Sehun supaya tidak menjadi korban tidak berdosa. Dan yang kelima, Kris ingin mencelakai Sehun.

Sehun menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Sehun berusaha mengenyahkan asumsi empat dan lima dari otaknya. Sehun merasa Kris tidak sejahat itu. Lagipula, jika benar Kris ingin mencelakainya, ia tidak mungkin menyelamatkan Sehun yang nyaris masuk dalam jebakan.

"Oh Sehun!"

Sehun menoleh saat mendengar namanya dipanggil. Lay dari kelas 3-2 berlari ke arahnya. Rambut panjang kemerahannya berkibar-kibar, menambah kesan imut. Tidak terasa Sehun tersenyum melihat tingkah laku Lay.

"Ada apa ?" tanya Sehun halus. Sehun tidak pernah sampai hati berbicara dengan nada tinggi pada gadis yang lebih pendek darinya itu.

"Ada yang menjemputmu," ucapnya sambil berhenti di hadapan Sehun.

"Menjemputku ?" Sehun menyelipkan rambut hazelnya di balik telinga.

"Iya. Dia menunggumu di depan," timpal Lay. Sehun lagi-lagi tersenyum karena mendengar logat Lay yang lucu. "Oh Sehun," Lay menggamit lengan Sehun manja. "Kenapa kau tidak pernah bilang kalau kau punya saudara tampan ?"

"Heh ?"

Seingatnya, Sehun tidak punya sepupu laki-laki.

"Atau dia pacarmu ?" tanya Lay lagi sambil menggembungkan pipinya. Sekuat tenaga Sehun menahan diri untuk tidak mencubit pipi Lay.

Sehun bertanya-tanya siapa yang menjemputnya.

"Ah, Lay, terima kasih atas infonya. Aku pulang dulu."

Sehun buru-buru lari setelah secara cepat mencubit pipi Lay.

"Oh Sehun! SA-KIT!" protes Lay dari kejauhan.

Sehun mulai memelankan langkahnya setelah berbelok di koridor. Otaknya masih dipenuhi pertanyaan soal laki-laki tampan yang disebut-sebut Lay. Perasaannya berubah tidak enak. Jadi, dia memutuskan untuk buru-buru menemui laki-laki yang dimaksud Lay.

Sehun menghentikan langkahnya di ujung tangga saat mendapati seseorang bersandar pada motor balap besar berwarna biru. Laki-laki itu tersenyum saat melihat Sehun datang, lalu melambaikan tangan. Laki-laki itu memberi isyarat dengan menepuk helm yang ada di atas motor, tanda meminta Sehun untuk mendekat.

"Kau.. Apa yang kau lakukan di sini ?" tanya Sehun sambil menuruni tangga. Agak jengkel karena tiba-tiba Luhan muncul di halaman sekolahnya.

"Menjemputmu," jawab Luhan singkat sambil tersenyum memuakkan.

Oh, jadi yang dimaksud Lay ini. Iya sih, ganteng. Tapi, Lay belum tahu saja bagaimana kelakuannya, batin Sehun.

"Aku tidak memintamu untuk menjemputku," balas Sehun sengit sambil menarik selempang tas ranselnya.

"Galak sekali," tukas Luhan sambil membuang wajahnya.

"Kau yang membuatku galak," ucap Sehun sambil menunduk dan memainkan sepatunya.

Luhan berdecak gemas, kemudian mengacak-acak rambut hazel Sehun. Luhan meraih helm berwarna hitam yang ada di atas jok motornya, lalu memakaikan helm itu dengan paksa pada Sehun. Sehun tidak protes ataupun mencegah Luhan. Sehun hanya diam saja sambil menatap wajah Luhan yang kelewat rupawan.

"Aigo," Luhan mencubit pipi Sehun. "Berhenti menatapku seperti itu. Kau membuat kakiku bergetar."

Sehun kembali menunduk. Bom panas kembali meledak di pipinya, merambat terus menuju telinga hingga leher. Menimbulkan butterfly rash panjang yang untungnya tertutupi oleh jas almamater dan rambut panjang Sehun. Buru-buru Sehun menutup kaca helm-nya untuk menyembunyikan pipi kepiting rebusnya.

"Ayo," Luhan sudah siap di atas motornya.

Sesaat Sehun ragu. Sehun baru mengenal Luhan tadi pagi. Agak sedikit ganjil karena Luhan tiba-tiba menjemputnya. Bisa saja Luhan punya tujuan yang tidak baik. Mungkin Luhan adalah seorang penculik yang suka menjual organ, atau pengedar narkoba, atau mafia. Ada banyak sekali mungkin di otaknya.

"Tenang saja, Nona Muda. Aku bukan mucikari yang sedang mencari korban."

TWITCH

Tengkuk Sehun serasa dipukul tongkat baseball. Mucikari tidak masuk daftar kemungkinan yang ada di otak Sehun.

"O.K., cepat antar aku pulang!"

Setelah Sehun siap, Luhan mulai membawa motornya keluar dari halaman sekolah. Sehun terus mewanti-wanti Luhan untuk tidak ngebut. Sehun takut naik motor, jujur-jujur saja. Sehun lebih suka berdesak-desakan naik bus daripada harus berkendara motor dengan kecepatan tinggi.

Sehun menyadari bahwa laju motor Luhan tidak mengarah ke rumahnya, malah berbalik arah. Lagi-lagi Sehun merasa cemas. Ia takut Luhan bukan orang baik. Lagipula, Sehun baru menyadari bahwa wajah Luhan lebih sering datar, tidak terbaca. Jadi, Sehun tidak punya gambaran bagaimana wujud asli dari laki-laki yang baru dikenalnya ini.

"Mau kemana ?" tanya Sehun sambil memajukan wajahnya.

"Kau lapar ?" Sehun mendengus. Ia tidak suka pertanyaannya diabaikan.

"Kalau kau berniat menculikku, itu bukan ide bagus. Ibuku bukan orang kaya," Luhan terkekeh.

"Ada pesanan yang harus aku ambil. Aku ingin Nona Oh menemaniku."

Luhan menolehkan kepalanya ke belakang. Mendadak Sehun memundurkan wajahnya karena terlalu dekat dengan wajah Luhan. Pipinya memerah seketika. Dalam hati, Sehun merutuki Luhan banyak-banyak. Luhan terlalu sering membuatnya malu.

"Kenapa harus aku ?" tanya Sehun lagi, berusaha mengabaikan pipi kepiting rebusnya.

"Entahlah. Aku hanya ingin."

Luhan menurunkan kecepatan motornya setelah mendekati pertokoan Myeongdong. Sehun mengamati sekeliling dengan tatapan kagum. Rasanya sudah lama sekali ia tidak jalan-jalan ke Myeongdong. Terakhir kali, mungkin empat bulan yang lalu. Sekolah benar-benar menyita perhatiannya.

Luhan menghentikan motornya tepat di depan sebuah studio musik.

"Untuk apa ke sini ?" tanya Sehun sambil turun dari motor Luhan.

"Mengambil pesanan," Luhan turun dari motornya, lalu melepas helm Sehun.

"Aku bisa melakukannya sendiri, Pak," timpal Sehun kesal. Pipinya lagi-lagi memerah.

Luhan hanya tersenyum, lalu menggamit tangan Sehun. Luhan membawa Sehun masuk ke sebuah studio musik yang berada di pusat pertokoan Myeongdong. Studio itu kelihatan simple tapi mewah. Sampai-sampai Sehun tidak bisa berhenti melongo setiap melihat sudut-sudut dan interior studio itu.

"Tutup mulutmu, Sehun. Kau kelihatan bodoh," ucap Luhan sambil menahan tawa. Buru-buru Sehun menutupi mulutnya dengan punggung tangan.

"Maaf," Sehun menggerak-gerakkan matanya panik.

"Aigo," Luhan mengacak rambut Sehun. "Berhenti bersikap imut. Aku jadi ingin memakanmu," tambah Luhan sambil menggertakan giginya.

Sehun memukul bahu Luhan karena kesal sekaligus malu. Luhan benar-benar penggoda handal.

Setelah berjanji akan kembali dalam lima menit dan meminta Sehun tidak kemana-mana, Luhan meninggalkan Sehun di lobby sendirian. Sehun duduk di kursi lobby sambil memainkan ponselnya. Sehun kurang suka menunggu.

Sebuah pesan masuk, pesan dari sahabat Sehun, Kyungsoo.

From : Kyungsoo

Ya, kau ada dimana ?

Sehun mengernyit bingung. Tidak biasanya Kyungsoo mengirim pesan singkat pada Sehun. Kyungsoo bukan tipikal handphone addict seperti Sehun. Kyungsoo lebih suka komunikasi langsung. Katanya, chatting mematikan sisi kemanusiaan manusia. Jadi, kalau Kyungsoo mengirim pesan lewat internet, berarti sesuatu yang gawat sedang terjadi.

To : Kyungsoo

Myeongdong. Ada apa ?

Lama sekali Kyungsoo tidak membalas pesan Sehun. Berkali-kali Sehun menyalakan layar LCD dari ponselnya. Namun, tidak ada notifikasi apapun. Sehun mulai cemas. Ia mulai menggigiti kuku-kuku jarinya. Tatapannya mulai kemana-mana tidak bisa fokus.

Sehun berhenti menggigiti kuku jarinya saat Luhan datang sambil membawa gitar lengkap dengan tempatnya dan menarik pergelangan tangan Sehun.

"Jangan lakukan lagi. Kau akan menyakiti dirimu sendiri," wajah Luhan kelihatan serius.

Ponsel Sehun kembali bergetar. Buru-buru Sehun membuka pesan yang baru saja sampai. Seperti dugaannya, sebuah pesan dari Kyungsoo.

From : Kyungsoo

Aku di rumah sakit. Tadi sepulang sekolah Jongin terpeleset di koridor lantai satu. Kepalanya membentur lantai dan sekarang Jongin koma. Sehunnie, tolong datang sekarang. Aku tidak kuat sendirian.

Sehun serasa ditabrak tronton. Otaknya langsung terhubung pada kejadian beberapa jam yang lalu. Sehun nyaris terpeleset di koridor lantai satu karena cairan pembersih lantai yang tumpah –Kris perlu diberi penghargaan. Tapi, Sehun tidak bisa tidak menyalahkan dirinya sendiri karena tidak segera melapor soal lantai licin itu. Dan Jongin, orang spesial sahabatnya sendiri, sekarang koma gara-gara cairan pembersih lantai yang sama.

Bahu Sehun bergetar hebat. Tangan dan tengkuknya dipenuhi keringat dingin. Rasa takut dan khawatir nyaris membuat Sehun pingsan kalau saja Luhan tidak buru-buru menggamit tangan Sehun dan membawanya keluar dari studio.

"Mau kemana ?" tanya Sehun yang akhirnya sanggup berbicara.

"Rumah sakit. Temanmu bilang harus ke rumah sakit, 'kan ?"

Luhan berhenti. Sehun mengangkat wajahnya, menatap langsung ke wajah Luhan yang jauh lebih tinggi darinya. Lagi-lagi Luhan memasang wajah tidak terbacanya. Namun, tetap saja, Sehun tidak bisa tidak mengagumi wajah Luhan yang terlampau rupawan.

Mendadak rona mata Luhan berubah. Jauh lebih teduh dan dalam.

"Sekarang ?" tanya Luhan lagi. Matanya seolah membuat perjanjian tidak terdengar pada Sehun. Luhan berjanji segalanya akan baik-baik saja.

"Iya."

.

.


.

.

Kyungsoo menghambur untuk memeluk Sehun ketika mereka sampai di rumah sakit. Mata Kyungsoo bengkak karena terlalu banyak menangis. Hidung bangirnya memerah karena terlalu banyak mengeluarkan ingus. Sehun jadi tidak tega untuk bertanya apapun karena melihat keadaan Kyungsoo yang kacau.

Setelah beberapa menit Sehun berusaha menenangkan Kyungsoo ditemani Luhan di ruang tunggu, tanpa diminta, Kyungsoo mulai menceritakan bagaimana bisa Jongin terpeleset. Intinya, mereka main kejar-kejaran sepulang sekolah dan Jongin terpeleset di koridor lantai satu yang licin.

Sehun menelan ludahnya susah payah. Detail yang diceritakan Kyungsoo mengenai lokasi jatuhnya Jongin sama persis dengan tempat dimana Sehun nyaris mengalami kejadian yang sama. Kemungkinan-kemungkinan mengenai tumpahnya cairan pembersih lantai yang berada di otaknya bertambah banyak. Sampai-sampai Sehun tidak bisa menghentikan otaknya dan membuat kepalanya sendiri pusing.

Yang jelas, ada dalang di balik ini semua. Entah targetnya Sehun, ataupun orang lain, dengan tujuan yang tidak akan pernah bisa dibenarkan.

"Sudah menghubungi orang tua Jongin ?" tanya Luhan setelah Kyungsoo benar-benar berhenti menangis.

"Sudah," Kyungsoo menggerakkan hidungnya. "Mereka akan berangkat dari Jepang besok pagi setelah menyelesaikan pekerjaan."

Sehun meringis simpati. Jelas-jelas Jongin koma dan orang tuanya baru datang besok pagi padahal penerbangan Narita-Incheon bisa ditempuh hanya kurang dari tiga jam. Mereka –jelas– lebih mementingkan pekerjaan, tingkat keprofesionalitasan yang terlalu tinggi.

"Sudah makan ?" tanya Sehun sambil mengelus rambut kemerahan Kyungsoo.

Sehun nyaris tertawa terbahak-bahak saat mendengar suara perut Kyungsoo kalau saja ia tidak menahan diri. Pipi Kyungsoo kembali memerah karena malu. Sedangkan Luhan memalingkan wajahnya ke arah lain agar Kyungsoo tidak melihatnya tersenyum geli.

Sehun berdiri lalu mengulurkan tangan pada Kyungsoo

"Ayo makan. Kau perlu isi bensin untuk menjaga Jongin-mu."

"Ya!"

.

.


.

.

Sehun melemparkan pensilnya ke atas meja, lalu mengangkat tangannya tingg-tinggi, berusaha menghilangkan pegal luar biasa dipunggungnya karena duduk di kursi belajar selama berjam-jam. Sehun melirik jam dinding. Waktu menunjukkan pukul delapan malam. Sehun memiringkan kepalanya lucu. Biasanya, ia sudah mengantuk jam segini. Tapi, malam ini, Sehun sama sekali tidak ngantuk.

Perhatian Sehun teralihkan saat mendengar suara kerikil menghantam kaca jendelanya. Sehun menoleh dan mendapati Luhan sedang berdiri dibalik kusen jendela kamarnya sendiri. Luhan melambaikan tangan dan memberi isyarat agar Sehun membuka jendelanya. Sehun sedikit ragu karena memang beberapa hari ini Sehun sengaja menghindari Luhan dengan tidak membuka jendela kamarnya sama sekali. Namun, Sehun tetap membuka jendela untuk Luhan untuk kali ini.

"Ada apa ?" tanya Sehun sambil bersandar pada kusen jendelanya.

Lagi-lagi pipi Sehun diserang bom panas. Luhan tidak memakai kaosnya lagi, memamerkan tubuh atletis kelewat sempurnanya. Buru-buru Sehun membuang pandangannya ke arah lain. Lagi-lagi ia beruntung karena ini malam. Jadi, pipi kepiting rebusnya tidak kelihatan.

"Kau tidak membuka jendelamu beberapa hari ini," ucap Luhan sambil menyibak surai kecoklatannya. "Terlalu sibuk ?"

Sehun menggigit bibir bawahnya. Sepertinya Sehun ketahuan.

"Tidak. Di luar masih dingin. Aku tidak mau sakit," jawab Sehun sekenanya. Sehun bisa mendengar Luhan terkekeh.

"Begitu, ya," Luhan menegakkan tubuhnya.

Sehun lagi-lagi menahan nafas karena melihat perut sempurna Luhan.

"Boleh aku mengunjungi kamarmu lagi ?" tanya Luhan sambil memanjat kusen jendelanya sendiri.

Sehun membulatkan matanya. Buru-buru ia meraih daun jendela dan bersiap menutup jendelanya.

"Tidak. Tidak boleh," ucap Sehun sambil merapatkan jendelanya.

"Memangnya kenapa ?" protes Luhan. Sehun kembali membuka daun jendelanya sedikit.

"Ibuku belum tidur. Aku bisa dibunuh kalau memasukkan laki-laki ke kamar. Apalagi lewat jendela," jawab Sehun sedikit kesal. Menurutnya, laki-laki agak kurang peka soal masalah seperti ini.

Luhan menyeringai. Sehun mengernyit bingung.

"Berarti, aku boleh mengunjungimu setelah ibumu tidur ?"

"TIDAK!"

Sehun membanting daun jendelanya.

.

.


.

.

Sehun mengamati bangku milik Kyungsoo yang kosong. Kyungsoo masih belum berangkat sekolah sejak Jongin koma. Kata Kyungsoo, orang tua Jongin masih belum datang hingga hari ini dan Kyungsoo tidak tega meninggalkan Jongin sendirian. Alhasil, Kyungsoo mengambil izin selama satu minggu penuh.

Sehun menghela nafas panjang karena bosan. Ia tidak bicara pada siapapun hari ini karena Kyungsoo tidak ada. Biasanya Sehun hanya bicara pada Kyungsoo dan Jongin, atau pada Baekhyun saat kelas musik, atau pada Tao saat kelas biologi. Dan sekarang Sehun benar-benar merasa sendirian.

Setelah menimang-nimang beberapa saat, Sehun memilih untuk ke kolam renang. Lagipula, kelas sore baru akan dimulai satu jam lagi. Jadi, Sehun masih punya banyak waktu yang bisa ia habiskan untuk menyendiri di pinggir kolam.

Sehun meraih ponsel dan headset-nya yang berada di dalam tas, lalu mulai berjalan meninggalkan kelasnya yang lumayan ramai.

Sehun terus berjalan menyusuri koridor menuju kolam renang yang berada di gedung sebelah barat. Biasanya, tidak banyak yang berkunjung ke kolam renang di musim semi. Suhunya masih terlalu dingin untuk berenang. Dan Sehun suka sepi.

Saat berbelok di koridor dekat kamar mandi, Sehun nyaris bertabrakan dengan seseorang yang berlari berlawanan arah. Sehun mengamati punggung murid perempuan yang terus menjauh darinya. Hingga murid perempuan itu menghilang dibelokan, Sehun baru menyadari bahwa murid perempuan berambut hitam panjang itu adalah Tao.

Tao darimana ? tanyanya pada dirinya sendiri.

Sehun memutuskan untuk tidak memusingkan soal Tao. Ia melanjutkan perjalanannya menuju kolam renang.

Saat Sehun hendak membuka pintu ruang kolam renang, Sehun mendengar suara ribut-ribut dari dalam. Lalu, suara itu mulai menghilang dan tak terdengar apapun dari dalam. Jadi, buru-buru Sehun merangsek masuk.

Sehun memekik ketika mendapati bayangan seseorang tenggelam menuju dasar lantai kolam renang. Siswa laki-laki itu sudah tidak bergerak lagi. Kemungkinan siswa laki-laki itu sudah tidak sadarkan diri.

Sehun melepas sepatu dan melemparkan jas almamaternya ke sembarang arah. Sehun melompat ke dalam kolam renang dan mulai berenang ke arah siswa laki-laki itu. Sehun membelalakkan matanya ketika mendapati bahwa siswa laki-laki itu adalah Park Chanyeol, laki-laki yang disukai Baekhyun sejak SMP. Mungkin Sehun tidak mengenal Chanyeol secara pribadi. Namun, Sehun merasa tetap harus menyelamatkan Chanyeol karena Chanyeol, yah, orang spesial bagi salah satu teman terdekatnya.

Jadi Sehun menambah kecepatan renangnya, lalu menyambar tubuh tinggi Chanyeol. Sehun tidak mengalami kesulitan untuk membawa Chanyeol ke permukaan karena mereka di dalam air. Namun, Sehun agak kesusahan untuk mengangkat tubuh Chanyeol ke pinggir kolam.

Setelah sekian lama berusaha menaikkan tubuh tinggi Chanyeol ke tepi kolam, Sehun juga naik dari kolam. Chanyeol benar-benar tidak sadarkan diri. Berkali-kali Sehun mengguncang lengan dan menepuk pipi Chanyeol, namun hasilnya nihil. Chanyeol sudah terlalu banyak minum air.

Sehun mulai menekan dada Chanyeol. Beberapa kali pelan hingga Sehun menambah kekuatan dan meningkatkan intensitas tekanannya. Setelah sekian lama, akirnya Chanyeol terbatuk-batuk dan menyemprotkan air melalui mulutnya.

Sehun menghela nafas lega setelah selama beberapa menit dihantui rasa panik. Setidaknya Sehun tenang karena tidak harus menyaksikan salah satu teman sekolahnya meregang nyawa di depan mata kepalanya sendiri.

"Bagaimana perasaanmu ?" tanya Sehun sambil membantu Chanyeol untuk duduk.

"Aku tidak mau berenang lagi," jawab Chanyeol sambil menatap kolam renang berkedalaman lima belas meter itu dengan pandangan jijik. Sehun terkekeh.

"Bagaimana kau bisa berada di kolam ? Aku bertaruh kau tidak bisa berenang," ucap Sehun sambil memeras rambutnya.

"Entahlah," Chanyeol agak menunduk. "Surat undangan. Kolam. Aku didorong. Nyaris mati."

Sehun megerutkan dahinya. Jadi, peristiwa Chanyeol tenggelam bukanlah sebuah ketidaksengajaan. Memang ada yang berusaha mencelakai Chanyeol. Dan yang jelas, orang itu tahu kelemahan Chanyeol yang tidak bisa berenang.

"Pergilah ke ruang kesehatan. Check up dan pinjam seragam. Pasti kau sangat kedinginan," timpal Sehun, berusaha mengalihkan perhatian otaknya agar tidak memunculkan berbagai macam kemungkinan soal peristiwa itu.

"Kau juga. Ngomong-ngomong, terima kasih, Oh Sehun," ucap Chanyeol sambil memamerkan senyuman gigi putihnya.

"Oh."

Setelah Chanyeol pergi meninggalkan Sehun dengan langkah terseok-seok, Sehun meraih ponselnya yang berada di kantong jas almamater. Ia mencari nama Baekhyun, lalu menekan tombol hijau di layar LCD ponselnya.

"Cari baju seragam laki-laki. Lalu bawa ke ruang kesehatan. Aku rasa Chanyeol membutuhkannya."

Buru-buru Sehun memutuskan sambungan telefon agar Baekhyun tidak banyak tanya –memang dasarnya Baekhyun cerewet. Lalu, Sehun kembali melemparkan pandangannya ke kolam. Matanya terus naik hingga mencapai papan lompat yang tingginya mencapai tujuh meter di atas permukaan air kolam.

Bahu Sehun menegang saat melihat air menetes dari ujung papan itu. Berarti, ada orang yang sebelumnya berada di dana. Dan kemungkinan, Chanyeol yang tidak bisa berenang di dorong dari papan lompat itu.

.

.


.

.

ditunggu review nya ^^