Memories © Sansan Kurai

Super Junior © SM Entertainment

Other © Their own management

Friendship


Henry baru saja diterima masuk ke dalam satu-satunya sekolah elit di Korea Selatan. Tak sembarang orang bisa masuk ke SMA Seuta. Ya, SMA Seuta adalah nama Sekolah Menengah Atas di Korea Selatan untuk kalangan artis elit dan sangat mampu (sangat pintar dan kaya). Untuk masuk ke sekolah ini, kalian harus anak orang super kaya atau sangat pintar untuk bisa mendapatkan beasiswa penuh. Fasilitasnya sangat lengkap, mewah dan ekslusif, sesuai dengan biaya sekolahnya.

Banyak artis yang bersekolah di tempat itu. Kenapa? Karena adanya kebijakan sekolah yang memperbolehkan muridnya untuk ijin atau melakukan kegiatan yang berhubungan dengan dunia entertainment. Peraturan tidak begitu ketat dan bisa menyesuaikan dengan jadwal si artis. Tapi sekolah ini tetap memprioritaskan nilai, selain 'kelas artis', banyak anak-anak pintar yang bersekolah di sini. Para murid yang mau masuk harus melalui tes tingkat tinggi terlebih dahulu. Dan Henry mampu melalui tes tingkat tinggi yang diadakan oleh SMA Seuta.

Henry melangkahkan kakinya melewati gerbang SMA Seuta yang begitu besar. Dengan santai ia melangkah sembari memanggul tas ranselnya serta menjinjing tas biola yang memang selalu dibawanya ke mana-mana. Henry sedikit berdecak saat melihat sekerumunan anak perempuan tengah berteriak kegirangan saat melihat sekumpulan anak-anak dari klub basket—terlihat dari seragam mereka serta bola basket yang dibawa salah satu dari mereka—yang melambaikan tangan kearah anak-anak perempuan itu.

Henry memang tak begitu menyukai keramaian. Ia lebih suka ketenangan, seperti suasana ruang perpustakaan serta ruang musik. Henry bertekat, pada jam istirahat nanti ia ingin pergi mencari ruang musik serta ruang perpustakaan.

"1-B," gumam Henry saat ia sudah sampai di depan pintu kelasnya. Ia menggeser pintu itu dan masuk ke dalam ruang kelas yang terbilang masih sepi karena hanya ada 3 orang di kelas itu. Tanpa menatap dan menyapa orang-orang yang akan menjadi teman sekelasnya, Henry segera mengambil tempat duduk paling belakang dekat pintu masuk. Ia tak suka jika harus duduk dihadapan guru dan ia juga tak suka jika ada teman yang duduk di belakangnya. Beruntunglah Henry karena setiap murid mendapatkan meja single untuk mereka belajar nanti jadi ia bisa bebas tanpa ada gangguan dari teman sebangku.

Henry meletakkan tasnya di atas meja, sedangkan tas biolanya ia letakkan di lantai di sisi meja. Ia mulai mengeluarkan buku tulis dari dalam tasnya. Namun belum sempat Henry membukanya, kegiatannya sedikit terusik saat tak sengaja ekor matanya menangkap sesosok manusia dengan pakaian aneh. Henry berdiri untuk melihat lebih jelas siapa orang itu. Henry terbengong-bengong saat melihat penampilan orang tersebut. Jaket tebal, sarung tangan, syal, masker serta topi. Semuanya berwarna putih.

Ini musim panas, kenapa ada orang yang betah menggunakan semua perlengkapan itu? Apa dia gila?!

Henry kembali duduk dan menggeleng-gelengkan kepalanya tanda tak mengerti dengan maksud orang itu memakai semua perlengkapan musim dingin. Henry mulai membuka buku tulisnya, dan dengan pensil di tangan ia mulai menuliskan not-not balok dengan tenang.


"Lantai 2.. Lantai 2.." gumam Henry terus menerus sembari berjalan cepat menelusuri lorong-lorong sekolah. Tas biola terayun-ayun disisi tubuhnya. Ia tadi sudah bertanya kepada seorang guru di mana ruangan itu dan akhirnya ia menemukannya, ruangan dengan bertuliskan 'Ruang Musik'. Henry menggeser pintu ruangan itu namun terdiam saat mendapatkan seorang pria tengah duduk tenang di depan grand piano sembari memainkannya. Alunan musik lembut yang dimainkan pria itu membuat Henry seakan terhipnotis. Ia tak pernah merasakan ini sebelumnya dan Henry terus menatap pria itu yang terlihat sangat damai.

"Kau.. Bisa tutup pintu di belakangmu itu?"

Suara lembut pria itu membuat Henry kembali tersadar dan dengan cepat ia menutup pintu di belakangnya sembari menggumamkan kata maaf.

"Kau bermain biola?" Henry mengangguk sekali, ia tak tahu harus merespon seperti apa. Pria dihadapannya tersenyum ramah padanya dan itu membuatnya tak nyaman. "Kemarilah, tunjukkan padaku keahlianmu." Dengan ragu Henry melangkahkan kakinya melewati kursi kayu yang tertata rapi di ruang itu.

"Kau sepertinya sudah bermain biola sangat lama." Henry kembali mengangguk untuk menjawab pertanyaan pria dihadapannya. Saat ini Henry bisa melihat orang itu dengan jelas. Wajahnya sangat manis dan kulitnya sedikit pucat. Sorot matanya yang teduh serta senyum hangat yang selalu menghiasi wajah pucat itu membuat Henry merasa nyaman untuk pertama kalinya berada disisi orang lain. Rasa tak nyaman yang sesaat lalu muncul pun menghilang begitu saja.

Henry membuka tas biolanya dan mulai mengeluarkan biolanya yang berwarna merah serta busur yang berwarna putih. Henry menatap sejenak orang dihadapanya dan pria dihadapannya menganggukkan kepalanya, mengijinkan Henry untuk mulai bermain.

Henry menghirup nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya lagi dan mulai menggesek biolanya. Gesekan yang begitu lembut serta penghayatan Henry dalam memainkan biola membuat pria dihadapan Henry memejamkan matanya menikmati permainan Henry.

Belum selesai Henry memainkan biolanya, pria dihadapan Henry mulai menakn tuts-tuts piano. Memainkan lagu yang sama dengan Henry, walau Henry sedikit terkejut mendengarnya namun Henry tetap melanjutkannya hingga permainan mereka selesai.

"Kau profesional Henry," puji pria itu. Henry hanya menganggukkan kepalanya sekali. Tak perlu Henry tanya dari mana pria itu bisa tahu namanya. Seluruh murid di sekolah itu menggunakan name tag dan pria dihadapannya itu pasti membacanya. Namun Henry tak bisa membaca name tag pria dihadapannya karena pria itu menggenakan jaket tipis berwarna putih.

"Permainanmu juga sangat bagus, sunbae."

"Aku masih perlu belajar lagi," ujar pria itu. "Ahh~ Sejak kapan kau bermain biola?"

"Sejak aku berumur 5 tahun kedua orang tuaku sudah mengajarkanku bermain biola," jawab Henry.

"Sepertinya kau punya kelebihan lain, bisa kau memainkan piano ini?" Henry mengangguk dan mendekati grand piano saat pria dihadapannya berdiri. Henry sedang akan menekan tuts piano saat tiba-tiba ada yang menggeser pintu ruang musik.

"Teukie, bisakah.. Ohh~ Maaf.. Aku tak tahu kalau kau sedang sibuk."

"Tidak apa Yesung, ada apa?" jawab pria dihadapan Henry.

"Bisakah hari ini kau pulang agak awal? Hari ini kami mengadakan pesta kecil-kecilan untuk merayakan ulang tahun Eunhyuk, Siwon dan Zhoumi. Kami semua juga sudah minta ijin pada kepala sekolah untuk tak mengikuti sisa jam pelajaran."

"Baiklah.. Aku akan pulang cepat." Setelah mendapat jawaban, pria yang membuka pintu tadi segera meninggalkan ruang musik. "Di mana kau tinggal Henry?"

"Emm, aku tinggal di apartemen jauh dari sekolah," jawab Henry.

"Maukah kau tinggal bersama kami di asrama? Tenang saja, hanya orang-orang terpilih yang tinggal di tempat itu," imbuh pria dihadapan Henry saat Henry membulatkan matanya. "Kamarku masih ada satu tempat tidur kosong, kau bisa menggunakan itu."

"Apakah tidak apa-apa, sunbaenim?" tanya Henry takut-takut. Selama ini Henry tak pernah tinggal dengan siapapun. Saat di rumah, kedua orang tua Henry selalu pergi ke luar negeri dan sangat jarang pulang. Walau di rumah Henry memiliki pelayan, namun Henry tak pernah menghiraukan mereka dan menganggap mereka ada. Henry selalu melakukan semuanya sendiri. Ia tak ingin merepotkan orang lain.

"Tak apa, aku akan bicarakan dengan yang lain. Mereka pasti akan menyukaimu."

"Menyukaiku?" Pria itu tersenyum lembut dan mengangguk.

"Nah, Henry. Mulai sekarang jangan panggil aku sunbae lagi. Panggil aku Leeteuk hyung. Aku sedikit risih jika ada yang memanggilku seperti itu."

Henry mengangguk paham. Sekali lagi pria itu tersenyum lembut dan kembali meminta Henry untuk memainkan piano yang tadi sempat tertunda.


Henry menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Ia baru saja pulang dari sekolah dan ia benar-benar sangat lelah di hari pertamanya masuk sekolah ini. Bagaimana tidak, ia diharuskan mengikuti semua kegiatan belajar mengajar dari jam 8 pagi hinggan jam 10 malam.

Henry terus memejamkan matanya, berusaha untuk tidur. Namun ia tetap tak bisa terlelap. Ia pun bangkit dari ranjangnya. Melepas sepatu serta kaus kaki yang masih melekat di kakinya lalu melangkah keluar untuk meletakkan sepatu di rak dekat pintu keluar.

Henry menatap apartemennya yang 'sedikit' berantakan. Pakaian kotor, majalah, buku pelajaran, piring-piring kotor, bungkus bekas makanan kecil, semuanya nampak berserakan di mana-mana. Henry mendesah pelan, namun ia sedang tak ingin membereskan semua kekacauan itu.

Perlahan Henry kembali masuk ke kamarnya dan menjatuhkan diri di atas ranjang. Nyaman, itulah yang ia rasakan saat ini. Ia kembali memejamkan matanya, namun tiba-tiba bayangan wajah sunbae yang tadi di temuinya di ruang musik muncul dalam benaknya. Henry membuka matanya dan terdiam sejenak. Ajakan sunbae untuk tinggal di asrama dan sekamar dengan sunbaenya itu membuat Henry kembali memikirkannya.

Selama ini ia tak pernah berteman dengan siapapun. Ia terlalu sibuk atau mungkin menyibukkan diri sendiri dengan semua kegiatan yang akan membuatnya melupakan kesedihannya. Ia tak pernah mau berteman dengan siapapun. Baginya, memiliki teman akan semakin membuatnya tersiksa dan pasti akan ada masalah jika ia berteman dengan seseorang.

Henry menghembuskan nafas dengan keras dan kembali menutup matanya. Tak ingin memikirkan hal itu sekarang, yang ia inginkan dan butuhkan sekarang hanyalah tidur.

Keesokan paginya, Henry merasa tubuhnya sudah merasa sedikit lebih segar. Walau semalam ia tak membasuh dirinya, ia tak peduli akan itu. Toh ia bisa melakukannya pagi ini. Jam masih menunjukkan pukul 6 pagi. Walau sedikit merasa malas, Henry akhirnya menyambar handuk yang tersampir di kepala tempat tidur dan berjalan malas menuju kamar mandi.

Setelah menyelesaikan mandinya, Henry memilih untuk memasak ramyeon untuk sarapan pagi ini. Ia benar-benar merasa lapar karena kemarin hampir seharian ia tak memasukkan apapun kedalam perutnya. Sembari menonton berita di salah satu stasiun televisi, Henry melahap ramyeon yang masih mengepul itu. Henry melirik jam tangan berwarna merah yang melingkar di lengannya dan ia tersedak saat jam telah menunjukkan jam setengah delapan kurang sedikit.

Secepat kilat Henry menghabiskan ramyeon yang masih tersisa lumayan banyak itu lalu berlari ke kamarnya untuk menyambar tas dan segera berlari keluar dari apartemen untuk mencari taxi setelah dengan tergesa memakai sepatunya. Henry menghentakkan kakinya dengan tak sabar saat tak melihat satupun taxi yang lewat di hadapannya.

Setelah menunggu 10 menit, taxi yang ditunggu-tunggu Henry akhirnya datang. Henry langsung menyebutkan alamat sekolahnya dan taxi itu meluncur dengan sangat cepat menembus keramaian jalan raya kota Seoul yang pagi ini lumayan ramai.


"Hosh.. Hosh.. Akhirnya.. Terlambat 1 menit lagi pasti aku tak bisa masuk," gumam Henry sembari mengatur nafasnya dan segera berlari lagi menuju ruang kelasnya yang ada di lantai 1. Beruntunglah Henry karena kelasnya berada di lantai 1, tidak dengan anak-anak kelas 2 yang ada di lantai 2 dan anak kelas 3 yang berada di lantai tiga.

Henry mengatur nafasnya sejenak sebelum memutuskan untuk masuk ke dalam ruang kelas 1-B. Teman sekelasnya sedikit melirik ke arah Henry saat Henry menggeser pintu dan kembali sibuk dengan kegiatan mereka. Henry meletakkan tasnya dan ia pun menepuk dahinya keras saat ingat ia tak membawa tas biolanya. Namun ia tak bisa berbuat apapun karena sang guru telah datang dan siap memberikan pelajaran pada seluruh murid yang hadir.

"Ini akan menjadi hari yang sangat buruk," gumam Henry sembari mengeluarkan alat-alat tulis beserta buku pelajarannya dengan kasar ke atas meja.

Tiga mata pelajaran yang berarti menghabiskan hampir 5 jam membuat Henry menggeliatkan tubuhnya karena lelah dan jenuh. Ia tak tertarik dengan pelajaran yang diajarkan oleh guru-guru itu—matematika, sains dan bahasa korea. Ia sudah menguasai semua pelajaran itu. Entah karena ia terlalu jenius atau apa, tak ada yang tahu. Tapi Henry mampu menangkap semua pelajaran dengan baik dan ia selalu mempelajari pelajaran yang belum pernah diajarkan di sekolah.

Henry menyapukan pandangannya ke seluruh pelosok kelasnya. Menatap teman-teman sekelasnya yang mulai pergi meninggalkan kelas untuk menuju kantin. Sedangkan Henry hanya bisa mendesah keras karena ia sama sekali tak punya keinginan untuk pergi ke kantin. Keramaian akan membuatnya semakin pusing.

Henry melipat kedua tangan di atas meja dan merebahkan kepala diatasnya. Tiba-tiba keramaian di luar kelas membuatnya berdecak kesal. Teriakan-teriakan anak perempuan di luar kelas membuat kepala Henry berdenyut. Ia menutup kedua telinga dengan kedua telapak tangannya dan membenamkan kepalanya kedalam tas yang terletak di atas meja. Ia benar-benar benci dengan keramaian.

Namun semakin lama teriakan itu semakin kencang dan seperti menuju ke arah kelasnya. Dengan kesal Henry mengangkat wajahnya dari dalam tas. Mencari tahu apa yang membuat gadis-gadis itu berteriak sekencang itu. Dan yang ada dalam benak Henry adalah artis-artis yang bersekolah di tempat itu. Henry beranjak dari tempat duduknya dan sedang akan membuka pintu kelasnya saat tiba-tiba dari arah berlawan juga ada yang menggeser pintu itu.

Henry terdiam saat melihat siapa yang telah membuka pintu itu. Teriakan-teriakan yang tadi membuatnya sakit kepala tiba-tiba berubah menjadi bisikan-bisikan ingin tahu. Pria dihadapan Henry tersenyum lembut.

"Sunbae.." gumam Henry.

"Sudah ku bilang jangan panggil aku seperti itu, kan? Panggil aku Leeteuk hyung. Kenapa hari ini kau tidak datang ke ruang musik? Ayo, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat."

"Le.. Leeteuk hyung.." panggil Henry dengan suara terbata saat Leeteuk mulai berjalan menjauhi Henry.

"Ya?"

"Bagaimana kau bisa menemukan kelasku? Kemarin aku.."

"Aku tahu banyak hal.." jawab Leeteuk sembari tersenyum lembut. "Ayo.. Kita tak punya banyak waktu istirahat.."

Henry sedikit terkesiap saat Leeteuk menggandeng tangannya dan menariknya lembut. Seumur hidup ini baru pertama kalinya ada yang menggandeng tangannya sehangat itu. Seakan terhipnotis, Henry pun mengikuti langkah pelan Leeteuk. Tak dipedulikannya tatapan-tatapan iri serta ingin tahu orang-orang yang ia lewati.

"Ki.. Kita mau ke mana Leeteuk hyung?" tanya Henry takut-takut.

"Menemui teman-temanku." Seakan tersengat listrik, Henry melepas begitu saja gandengan tangannya dengan Leeteuk membuat Leeteuk yang ada di hadapannya berhenti dan menatap Henry heran. "Ada apa? Tak usah takut, kau tak akan diapa-apakan oleh mereka." Tangan Henry kembali digenggam oleh Leeteuk.

Akhirnya Henry hanya pasrah mengikuti Leeteuk yang akan membawanya entah ke mana. Henry terus di bawa ke lantai atas oleh Leeteuk dan mata Henry pun bergerilya melihat sekelilingnya. Ruang guru, ruang BP, ruang komputer, ruang musik, ruang lukis, ruang sains, perpustakaan, sudah Henry lewati, namun Leeteuk tak kunjung mengajaknya berhenti hingga mereka sampai di lantai 3 dan Leeteuk membawanya ke sebuah ruangan di ujung lorong.

Henry membaca tulisan 'Ruang Fotografi' di atas pintu yang sedang di geser Leeteuk.

"Ini dia orang yang aku bicarakan kemarin."

Perkataan Leeteuk membuat Henry menatap pria-pria yang ada dihadapannya yang tengah duduk mengelilingi meja panjang. Henry merasa pernah melihat beberapa orang-orang itu.

"Sa.. Salam kenal, aku Henry Lau. Mohon bimbingannya." Henry membungkuk dalam lalu kembali menegakkan dirinya. Henry kembali menatap lekat orang-orang dihadapannya.

"Di mana Yesung, Eunhyuk dan Shindong?"

"Menjemput anak kelas 1."

"Ahh~ Begitu.. Nah.."

Pintu dibelakang Henry bergeser membuat Leeteuk menghentikan perkataannya. Enam orang masuk ke ruang itu.

"Baiklah.. Karena kita sudah berkumpul di tempat ini.. Mari kita mulai perkenalannya.." ucap Leeteuk sembari tersenyum. "Mulai denganmu Shindong."

Herny mengikuti arah pandang Leeteuk menuju pria gembul yang berdiri tak jauh darinya. Ia bersama dengan seorang pria yang tingginya tak jauh beda dengan Henry. Begitu manis dan imut, pikir Henry.

"Aku Shindong dari kelas 3-C sedangkan ini Ryeowook dari kelas 1-D. Dia sama sepertiku, dia menyukai fotografi dan dia akan menjadi partnerku dibidang fotografi," terang Shindong panjang lebar. Ryeowook membungkuk dalam sembari mengucapkan salam perkenalan.

"Yesung.."

Henry menatap pria di sebelah kirinya. Henry ingat, ia pernah melihat pria itu saat ia tengah berada di ruang musik bersama dengan Leeteuk.

"Aku Yesung dari kelas 3-D dan ini Kibum dari kelas 1-A." Yesung menunjuk pria disisinya yang tengah membungkuk dalam. "Aku leader dari grup musik Hana. Kibum akan menggantikan posisi Jungmo hyung sebagai bass. Walau permainannya masih tak bisa disamakan dengan Jungmo hyung, tapi kalian akan terpesona saat melihat ia tampil. Dan anggotaku yang lain adalah Kangin sekelas denganku dan Sungmin dari kelas 2-E." Kedua pria yang disebutkan Yesung mengangguk singkat.

"Eunhyuk.."

"Yups! Aku Eunhyuk dari kelas 2-A. Aku kapten tim basket dan ini Kyuhyun dari kelas 1-C. Kemarin sebelum pulang sekolah aku melihatnya bermain basket. Setelah aku mengamati permainannya sepertinya ia bisa menggantikan posisi Jay hyung. Aku suka dengan lemparan three pointnya. Anggota intiku yang lain Heechul hyung dari kelas 3-B, Hankyung hyung dari kelas 3-C, Zhoumi dari kelas 2-C, Donghae dari kelas 2-E dan Siwon sekelas denganku."

"Baiklah.. Giliranku.." Henry menatap Leeteuk yang berjalan kearahnya. Henry kembali terkesiap saat Leeteuk memeluknya dari samping. "Aku Leeteuk dari kelas 3-A dan ini Henry dari kelas 1-B. Henry akan menjadi partnerku. Dia bisa memainkan biola dan piano, tapi aku tak tahu dengan alat musik yang lain. Tapi yang terpenting, aku suka dengan permainan biolanya."

"Bisa kau tunjukkan pada kami permainan biolamu?"

"Ma.. Maaf Yesung hyung, aku meninggalkan biolaku di apartemen," ucap Henry meminta maaf.

"Ini.."

Henry menatap Leeteuk yang kini tengah menyerahkan sebuah tas biola padanya sembari tersenyum lembut. Dengan ragu Henry mengambil biola dari tangan Leeteuk dan membukanya. Sebuah biola berwarna putih kini terpampang jelas dihadapannya. Henry mengambil biola dan busurnya. Menyetelnya sejenak, setelah itu ia mulai menggesekkan busur ke atas senar.

Gesekan pertama yang Henry lakukan membuat semuanya tertegun. Entah kenapa nada yang keluar begitu lembut. Henry memainkannya secara perlahan dan tempo yang sesaat lalu sangat lambat tiba-tiba berubah menjadi begitu cepat dan menjadi sangat cepat. Henry terus menggesekkan busurnya dengan tempo cepat. Disisinya Leeteuk kembali menunjukkan senyum lembutnya.

Selesai Henry memainkan biolanya, semua orang langsung bertepuk tangan riuh. Begitu terpesona dengan penampilan Henry.

"The farmers song, right?" bisik Leeteuk sembari menepuk-nepuk pundak Henry. Henry mengangguk singkat, sekali lagi, ia tak tahu harus merespon seperti apa. Entah kenapa, kali ini ia merasa bangga pada dirinya sendiri.

"Kau benar-benar hebat Henry. Aku kagum dengan permainanmu," puji Yesung yang ikut-ikut menepuk pundak Henry. Henry kembali menganggukkan kepalanya dan menggumamkan kata terima kasih.

Sisa istirahat itu pun Henry habiskan dengan berkumpul bersama teman-teman sunbaenya walau ia hanya memperhatikan mereka tanpa ikut berbincang.


Henry menyeret tas ranselnya masuk ke dalam kamar. Setelah meletakkan tasnya sembarangan di atas lantai ia segera menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang dalam posisi telungkup. Ia benar-benar kelelahan. Semua pelajaran di sekolah membuatnya lelah dan juga jenuh. Tapi mau bagaimana lagi, ia harus mengikuti semua pelajaran membosankan itu jika ia ingin naik kelas dan lulus dengan nilai yang sangat baik.

Henry membalikkan tubuhnya dan menatap langit-langit kamarnya. Ia memijit pelipisnya untuk menghilangkan rasa pening. Sebuah tulisan yang ia tempel di langit-langit kamarnya membuat ia mendengus pelan. Ia pun bangkit dari kamarnya dan segera melepas sepatu serta kaus kakinya lalu meletakkan ke tempatnya. Dengan malas ia mulai membereskan apartemennya yang berantakan itu.

Butuh waktu 1 jam bagi Henry untuk membersihkan semua kekacauan yang telah dibuatnya beberapa hari ini. Dengan lunglai Henry kembali masuk ke kamarnya dan menghempaskan tubuhnya di sana. Namun baru saja ia akan terlelap, suara dering ponsel membuatnya membuka mata. Sembari memaki-maki dalam hati, Henry meraih tas yang ia taruh sembarangan di atas lantai dan segera mengaduk-aduk isi tasnya untuk mencari ponsel yang terus saja meraung-raung tak mau berhenti.

Henry menaikkan salah satu alisnya saat mendapati nomor tak dikenal tertera jelas di layar ponselnya.

"Halo.." sapa Henry dengan suara lelahnya.

"Kau sakit?"

"Ini siapa?" tanya Henry dengan nada suara yang sama.

"Kau tak mengenal suaraku?" Henry menggelengkan kepalanya tapi ia baru sadar bahwa si penelepon tak mungkin melihatnya dan ia menggumamkan kata tidak. "Aku Leeteuk hyung."

"Mwo?" tanya Henry.

"Leeteuk hyung.. Leeteuk hyung.."

"Oh~ Ada apa hyung?"

"Aku ada di depan pintu apartemenmu sekarang.."

"Ohh~ Begitu.. Hah?! APA?!"

to be continued..


baiklah.. chapter 1 sudah saya update.. maaf jika mengecewakan.. saya sedikit kesulitan merangkai kata-kata untuk fanfic ini.. dan sudah sangat jelas, main chast di sini adalah Henry.. maaf jika ada yang tidak suka..

sejujurnya, fanfic ini saya ambil dari kisah nyata seseorang yang saya kenal dekat, namun.. dia sudah pergi dan tak akan kembali.. sebagian besar ide cerita ini saya ambil dari kisah hidup dia semenjak saya mengenalnya.. saya membuat fanfic ini karena tiba-tiba saya ingat dengannya..

namun ada beberapa yang hanya imajinasi saya.. bagian mana yang imajinasi? nanti akan saya beritahu saat fanfic ini sudah END..

nah, nikmati saja ceritanya dan kembali.. saya tunggu reviewnya.. oh iya, terima kasih juga yang sudah review dibagian prolog dan untuk seluruh silent rider yang begitu banyak... kkk... terima kasih.. ;)