Tittle : Thriller

Author : Katniss Jung

Chapter : 3 of ?

Casts :

Oh Sehun

Lu Han

Genre : Fantasy, horror, thriller, romance, drama

Type : Chaptered

Alert : HanHun, HunHan, Gender Switch, Sehun!Girl, Luhan!Boy

Summary : Jangan pilih aku jika kau benci kegelapan. Jangan pilih aku jika kau benci sepi. Karena, saat kau bersamaku, kau akan merasakan apa yang namanya gelap dan sepi, hanya ada kita berdua.

.

.


.

.

Halo-halo semuanya! Maaf nih baru bisa lanjut part 3. 2 minggu kemarin aku tes. Jadinya nggak bisa nulis. Maaf banget ya! T^T

Btw, makasih banget buat yang udah ngasih review. Aku seneng deh karena responnya baik. Aku berharap aku bisa nulis lebih banyak cerita dengan plot dan bahasa yang lebih baik lagi. Sekali lagi terima kasih! ^^

Udah langsung aja ya. Check this out! :))

.

.


.

.

Sehun terkena flu berat. Sejak sepulang sekolah Sehun tidak mau keluar dari kamarnya. Sehun hanya berbaring di atas kasur sambil bergelung di bawah selimut. Matanya memerah dan terasa berat. Badannya panas dingin dan ingus tidak pernah berhenti keluar dari hidungnya. Jutaan kali Sehun bersin dan jutaan kali pula Sehun membuang tisu ke lantai.

Alhasil, ibu Sehun harus membawakan makan malam ke kamar anaknya. Ibu juga harus bergulat dengan Sehun sesaat karena Sehun tidak mau minum obat. Sehun lebih suka disuruh menghabiskan semangkuk penuh sup kerang yang baunya amis bukan main daripada harus minum obat. Tapi, karena hasil pengalaman ibu, akhirnya Sehun mau minum obat dengan ancaman ponselnya akan disita.

Setelah membereskan piring dan mencium kening Sehun, ibu keluar dari kamar. Tidak lupa ibu menutup pintu agar Sehun bisa tidur nyenyak. Sehun tidak suka tidur dalam keadaan pintu terbuka dan untuk saat ini tidak memungkinkan bagi Sehun untuk menutup pintu sendiri.

Sehun nyaris memasukki alam mimpinya ketika terdengar suara kerikil menghantam jendela kamarnya. Sehun berdecak kesal karena ia tahu siapa yang berulah malam-malam begini. Tentu saja Luhan. Dan malam ini Sehun ingin istirahat. Jadi, dia berusaha mengabaikkan Luhan.

Beberapa detik kemudian Sehun mendengar kaca jendelanya benar-benar diketuk. Sehun bergelung sesaat lalu berusaha duduk. Rambut panjang hazelnya berantakkan luar biasa karena Sehun tidak sempat menyisir setelah mandi tadi.

Sehun menoleh ke arah jendela dan nyaris terkena serangan jantung karena mendapati Luhan sudah bertengger di luar jendelanya. Luhan tersenyum lebar dan memberi isyarat agar Sehun membuka jendela. Namun, Sehun menggeleng kuat dan membuat gerakan tangan mengusir.

Sehun mengamati Luhan yang masih bertengger di jendelanya. Lagi-lagi Sehun nyaris terkena serangan jantung ketika mendapati pengait jendelanya bergerak sendiri saat tangan Luhan mengusapnya dari luar. Dan beberapa detik kemudian, Luhan sudah melompat masuk ke dalam kamar Sehun.

"Apa yang kau lakukan pada jendelaku ?" rengek Sehun sambil berusaha turun dari kasurnya. Namun, ia kesulitan karena selimut tebal yang melilit tubuhnya.

"Mengeluarkan sedikit bakat," timpal Luhan sambil menutup dan mengunci jendela lagi. "Salah sendiri tidak mau membukakan jendela."

Sehun merutukki dirinya sendiri yang masih saja blushing ketika melihat tubuh bagian atas Luhan. Padahal, rasanya sudah puluhan kali Sehun melihatnya. Tapi, masih saja Sehun tidak bisa kebal terhadap tubuh atletis Luhan.

Sehun menghentikan gerakannya saat Luhan tiba-tiba melompat ke atas tubuhnya, menindihnya, hanya dibatasi dengan gumpalan selimut tebal yang membungkus tubuh Sehun.

"Ya! Jangan berbuat macam-macam! Aku akan membunuhmu!"

Sehun berusaha mendorong dada Luhan menjauh. Tapi, sekuat apapun Sehun berusaha, hasilnya sama saja. Luhan laki-laki dan sekarang Sehun sedang terkena flu berat. Rasanya seperti mendorong sebuah truk tronton.

"Kau sakit ?" tanya Luhan sambil merangkak naik, menyejajarkan wajahnya dengan wajah Sehun, bertumpu pada tangan kanannya sementara tangan kirinya menyentuh dahi Sehun.

Tubuh Luhan masih sama seperti waktu itu. Dingin dan keras. Apalagi saat tangan Luhan menyentuh dahi Sehun. Rasanya seperti Sehun sedang dikompres dengan air es. Dan setidaknya tangan Luhan membuat suhu tubuhnya sedikit turun.

"Sejak kapan ?" tanya Luhan lagi.

Kali ini Luhan menatap langsung ke mata Sehun –dan Sehun sama sekali tidak bisa meng-handle dirinya. Buru-buru Sehun mengalihkan pandangannya dari mata Luhan. Ia juga kembali mendorong tubuh Luhan untuk menjauh. Tapi sama saja, Luhan masih sama kuatnya dengan truk tronton.

"Pak, tolong minggir. Aku bisa dibunuh ibu kalau ketahuan seperti.. ini!"

Sehun mendorong Luhan sekuat tenaga. Hingga akhirnya ia berdecak kesal dan menyerah. Sehun menutup wajahnya dengan selimut. Sehun tidak sanggup jika harus berlama-lama menatap wajah Luhan. Sekali lagi, salahkan Luhan yang punya wajah cantik sekaligus tampan secara bersamaan.

Luhan tersenyum tipis melihat tingkah Sehun. Baginya, Sehun terlalu menggemaskan.

Luhan menurunkan tubuhnya, lalu menyusup masuk ke dalam selimut. Ikut bergelung bersama Sehun di balik selimut tebal. Awalnya, Sehun tidak mempedulikan apa yang dilakukan Luhan. Tapi, Sehun nyaris menjerit –kalau saja Luhan tidak membungkam mulutnya– karena Luhan memeluknya dari samping.

"Luhan! Turun dari kasurku!" rengek Sehun.

Luhan terkekeh geli dan –malah– memeluk Sehun lebih erat.

"Tidak sampai demammu turun. Cepat pergi tidur dan jangan pedulikan aku," Luhan menenggelamkan wajahnya di antara rambut hazel Sehun.

"Bagaimana aku bisa mengabaikanmu kalau kau seperti ini ? Dasar bodoh!"

Sehun membulatkan matanya ketika Luhan dengan tiba-tiba mencium pipinya. Bekas bibir Luhan terasa membakar di pipinya. Dadanya mulai terasa sakit karena intensitas detakan jantungnya meningkat drastis. Dan Sehun yakin, pipinya lagi-lagi memerah.

"Good night."

Sehun mendongak dan mendapati Luhan memejamkan matanya. Walaupun Sehun yakin seribu persen Luhan belum benar-benar terlelap, Sehun suka bagaimana wajah Luhan ketika memejamkan mata. Luhan kelihatan tenang. Memang sih, Luhan biasanya juga berwajah tenang. Tapi, tidak pernah yang seperti ini. Wajah Luhan ketika terlelap lebih terarah pada lega.

Sehun bertanya-tanya apakah seseorang seperti Luhan sedang menghadapi sebuah masalah besar. Luhan yang biasanya selengean dan merupakan seorang penggoda handal bisa menutupi masalahnya dengan rapih. Dan seolah Luhan hanya bisa merasa tenang dan lega ketika ia sedang terlelap. Tidak perlu memikirkan masalah yang sedang ia hadapi di alam mimpi juga.

Berada di pelukan Luhan terlalu nyaman bagi Sehun. Sama nyamannya dengan pelukan ibu, walaupun agak berbeda. Hingga mata Sehun terasa makin berat dan tidak bisa bertahan lebih lama lagi.

Sehun menyandarkan kepalanya pada dada Luhan. Sehun juga melingkarkan tangannya di pinggang Luhan yang keras dan dingin, membalas pelukan.

"Good night."

Dan Sehun terjun bebas ke alam mimpinya.

.

.


.

.

Sehun membuka mata saat mendengar ponselnya berdering keras. Buru-buru Sehun meraih ponselnya yang berada di atas meja nakas. Sehun mengerang frustasi saat mendapati sebuah nomor tak dikenal memanggil. Mengganggu, pikirnya.

Sehun kembali membuka matanya saat menyadari bahwa sudah tidak ada siapa-siapa lagi di sebelahnya. Sehun sendirian dan tidak ada tanda-tanda kalau ada orang lain yang tidur di atas kasurnya.

Terselip rasa kecewa di hati Sehun. Seingatnya, semalam ia tidur bersama Luhan.

Sehun menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Banyak-banyak ia merutukki dirinya sendiri karena merasa kecewa soal mimpi tidur bersama Luhan yang ternyata memang mimpi. Sehun berusaha menepis perasaan bahwa Luhan sangat enak dipeluk karena di mimpinya Sehun merasa benar-benar memeluk dan dipeluk Luhan.

"Sudah bangun ?"

Sehun hampir terkena serangan jantung saat ibunya tiba-tiba membuka pintu.

"Sudah," jawab Sehun malas-malas. Sehun kembali bergelung dengan selimut tebalnya.

"Ibu masak krim sup," ibu membawa semangkuk sup dengan asap yang masih mengepul. "Suka, 'kan ?"

Sehun kembali menenggelamkan wajahnya ke bantal. Sehun mengernyit bingung saat mencium bau lain di bantalnya, bau parfum yang belum pernah dicium Sehun. Sehun mengangkat wajahnya dan mengamati bantalnya sendiri. Jantung Sehun berdetak tidak karuan karena mendapat sebuah harapan. Namun, Sehun berusaha menepis pemikiran-pemikiran soal tidur-bareng-Luhan bukan mimpi.

"Ada apa, 'Nak ?" tanya ibu sambil meletakkan mangkuk krim sup di atas nakas, lalu menyentuh dahi Sehun. "Sudah tidak demam."

Mendadak hening.

'Tidak sampai demammu turun...'

Sehun kembali menatap bantalnya yang berbau lain.

'Cepat pergi tidur dan jangan pedulikan aku...'

Semburat merah kembali menjalar dari pipi hingga leher Sehun.

"Nak, kau baik-baik saja ?" tanya ibu sambil menyentuh dahi Sehun lagi. "Wajahmu memerah lagi. Apa masih pusing ?"

Ada banyak sekali fakta yang membuktikan bahwa semalam memang ia tidur bersama Luhan. Pertama, bau parfum asing di bantalnya. Kedua, demamnya turun. Luhan memang punya suhu tubuh yang anehnya sangat rendah. Ketiga, Sehun kembali sehat.

Persetan dengan jendela yang terkunci rapat. Toh Luhan bilang dia punya bakat. Sehun sudah melihatnya sendiri.

"Nak ? Mau absen sekolah ?"

Sehun menyimpulkan bahwa semalam Luhan benar-benar memeluknya hingga tertidur. Dan Sehun tidak peduli lagi pada gengsi. Yang jelas, dia senang.

.

.


.

.

Lagi-lagi cairan pembersih lantai.

Sehun berlari kesetanan menyusuri koridor. Tidak peduli pada murid, senior, bahkan guru yang secara tidak menusiawi ia tabrak. Sehun terlalu khawatir pada Baekhyun sampai-sampai ia tidak punya waktu untuk minta maaf karena main tabrak.

Barusan Chanyeol mengirimminya pesan pendek. Chanyeol bilang, Baekhyun jatuh dari tangga karena lantai yang licin. Chanyeol juga bilang kalau ada banyak cairan pembersih lantai yang tumpah di sekitar tempat jatuhnya Baekhyun.

Satu hal yang Sehun tahu, pelakunya masih sama.

Sehun menerjang masuk ke dalam ruang kesehatan dan mendapati Baekhyun yang duduk di atas kasur ditemani Chanyeol dan..

"Kris ?"

Sehun mendelik melihat Kris berada di sebelah Chanyeol. Seingatnya, Kris dan Baekhyun tidak saling kenal, dan Chanyeol kenal Kris ?

"Oh Sehun! Aku yang jatuh kenapa Kris yang kau panggil," gerutu Baekhyun.

Sehun kembali dari keterperangahannya.

"Ouh, maaf. Ya Tuhan~"

Sehun berjalan mendekat ke kasur. Matanya tertuju pada pergelangan kaki kanan Baekhyun yang diperban tebal. Sehun tidak yakin perban itu memang tebal atau pergelangan kaki Baekhyun yang bengkak, atau mungkin keduanya.

Secara keseluruhan Baekhyun baik. Hanya saja, wajahnya sedikit pucat. Mungkin terlalu lama menahan sakit sampai-sampai darah di wajahnya turun semua. Bibir Baekhyun agak memutih dan ada seberkas keringat di pelipisnya. Baekhyn benar-benar menahan sakit.

"Apa yang terjadi, hm ?" tanya Sehun sambil menyibak poni Baekhyun, lalu mulai mengikat rambut panjangnya.

"Entahlah. Kejadiannya terlalu cepat. Aku tidak ingat apa-apa," jawab Baekhyun.

Chanyeol angkat bicara.

"Baekhyun setengah berlari. Dia terpeleset. Untung ada Kris yang berhasil menahan Baekhyun, walaupun akhirnya jatuh juga. Tapi setidaknya, betis Baekhyun tidak patah."

Baekhyun memukul lengan Chanyeol. Wajahnya yang pucat mulai berwarna.

"Kau pasti lebih senang aku patah tulang," sembur Baekhyun sengit.

Chanyeol nyengir kuda. Sehun memutar bola matanya bosan. Sehun sudah terlalu kenyang dengan adegan lovey-dovey Kai dan Kyungsoo –sebenarnya Sehun rindu pada mereka yang sudah satu minggu tidak datang ke sekolah. Sekarang ditambah lagi dengan Baekhyun dan Chanyeol. Sehun merasa overdosis lovey-dovey.

"Aku pergi."

Baekhyun dan Chanyeol mendadak hening ketika Kris meninggalkan ruang kesehatan. Wajah mereka kelihatan merasa bersalah. Mungkin Kris tidak suka kericuhan, makanya dia pergi.

"Padahal aku belum mengucapkan terima kasih," ucap Baekhyun pelan.

Sehun mengamati pintu ruang kesehatan yang baru beberapa detik yang lalu tertutup. Pikirannya tertuju pada Kris. Lagi-lagi Kris berada di lokasi sekitar kejadian. Dua kali Kris menolong, Baekhyun dan dirinya sendiri. Otak Sehun seolah dibagi dua, satu sisi membela Kris, satu sisi menyalahkan Kris.

"Chanyeol, jaga Baekhyun," Sehun berjalan meninggalkan ruang kesehatan.

"Oh Sehun, mau kemana ?" protes Baekhyun.

Sehun tidak mendengarkan. Sehun sudah terlanjur di luar ruang kesehatan dan mulai mencari Kris. Sehun merasa harus meluruskan sesuatu. Tiga kejadian yang nyaris membunuh beberapa teman Sehun, dua sebenarnya, selalu melibatkan Kris. Sehun begitu ingin menganggap Kris-lah yang seharusnya bertanggung jawab akan ini semua. Tapi, Kris-lah yang menyelamatkan dirinya dan Baekhyun. Dan lagi-lagi Sehun tidak tahu harus bagaimana. Yang jelas, otak dan hatinya sudah lelah berperang sendiri.

Sehun setengah berlari menysuri koridor lantai dua. Menurutnya, Kris tidak mungkin secepat itu menghilang. Jadi, Sehun memutuskan untuk buru-buru agar tidak kehilangan jejak.

Dan Kris didapatinya sedang menuruni tangga menuju lantai satu. Sehun berlari mengejar Kris.

"Kris!"

Kris menghentikan langkahnya saat mendengar namanya dipanggil. Kris mendongak dan mendapati Sehun sedang menuruni tangga setengah berlari.

"Ada apa ?" tanya Kris sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku.

"We need to talk," Sehun berdiri di hadapan Kris, menatap tajam langsung ke matanya. "About Baekhyun, and me."

Kris mengalihkan pandangannya sambil menekan hidungnya.

"Bicara saja," sahutnya.

Sehun berdecak pelan. Bagaimanapun juga Sehun tahu kalau ia baru saja menyenggol topik sensitif yang tidak Kris sukai. Setidaknya Sehun memiliki sedikit alasan tambahan untuk mendakwa Kris sebagai tersangka.

"Kejadiannya sama seperti satu minggu yang lalu. Ada banyak cairan pembersih lantai yang tumpah, seseorang hampir terpeleset, dan kau berada di sekitar tempat itu," Sehun mengajukan argumennya hati-hati, mengantisipasi reaksi Kris.

"Lalu ? Itu semua hanya kebetulan," tukas Kris sambil menggaruk tengkuknya.

"Kebetulan ?" terkekeh sarkas. "Dua kali kau menyelamatkan nyawa orang dari kejadian yang mirip dan itu kebetulan ?"

Kris diam, lalu melipat kedua tangan di depan dada. Kali ini ia membalas tatapan Sehun.

"Menurutmu ?"

"Ada tiga pilihan. Pertama, kau memang ingin menyakiti aku dan Baekhyun. Kedua, kau ingin melukai orang lain dan aku juga Baekhyun yang masuk jebakanmu. Sayangnya, aku sama sekali tidak akan membiarkan itu. Ketiga, kau psikopat," balas Sehun sengit.

Kris terkekeh.

"Yang ketiga terdengar keren," ucapnya dengan seringaian yang baru pertama kali dilihat Sehun.

"Orang gila."

Sehun berjalan menjauhi Kris sambil menggerutu. Sehun tidak mendapat jawaban apa-apa.

.

.


.

.

Lagi-lagi Sehun dikejutkan dengan keberadaan Luhan di halaman sekolahnya. Kali ini Sehun merasa lebih kesal dari yang tempo hari karena Luhan datang saat sekolah bubar. Alhasil, Luhan jadi pusat perhatian. Apalagi motornya itu, motor yang mungkin jarang sekali dimiliki oleh orang-orang biasa, apalagi murid SMA.

Beberapa kali gerombolan gadis mengamati Luhan dan motornya sambil terkikik. O.K., wajar saja sih. Luhan rupawan, pakaian necis, motor mahal. Banyak yang suka. Tapi, Sehun malah berharap Luhan datang untuk menjemput orang lain, bukan menjemput dirinya. Sehun tidak suka jadi pusat perhatian.

Anehnya, Luhan kelihatan tidak nyaman dengan segala perhatian yang didapatnya. Beberapa kali Luhan merubah posisi duduknya di atas motor. Kelihatan sekali dia tidak suka diperlakukan seperti itu.

Mendadak pipi Sehun memanas. Ia mengingat kejadian semalam, tidur bersama Luhan. Sehun tahu itu bukan mimpi, dan itu masalahnya. Kalau yang semalam bukan mimpi, Sehun tidak tahu harus bersikap bagaimana pada Luhan hari ini.

Sehun ingin menenggelamkan wajahnya di kolam ikan milik klub berkebun ketika mendapati Luhan menyadari keberadaannya. Luhan melambaikan tangan dan memanggil namanya sangat keras, seolah ingin bilang 'orang yang aku tunggu sudah datang, pergi sana', bukan benar-benar memanggil nama Sehun.

Alhasil, Sehun langsung dilempari tatapan tidak suka dari beberapa gerombolan gadis yang semula mengamati Luhan. Sehun berpura-pura menyibak rambut hazel-nya sebagai kedok untuk menutupi mukanya yang memerah. Sehun setengah berlari menuju Luhan, apalagi ketika melintasi gerombolan gadis-gadis yang tadinya mengamati Luhan. Sehun belum pernah merasa semalu ini.

"Apa yang kau lakukan di sini ?!" tanya Sehun setengah berbisik. Telinganya memerah.

"Menjemputmu, tentu saja! Ayo pergi dari sini. Aku tidak suka diamati," jawab Luhan yang juga setengah berbisik sambil menyodorkan helm.

"Tahu tidak suka diamati masih saja tebar pesona. Bodoh," tukas Sehun sambil memakai helm, lalu naik ke atas motor Luhan.

"Aku tidak tebar pesona, nona. Jangan cemburu," timpal Luhan sambil menyalakan motornya.

Sehun hanya menggerutu tidak jelas. Luhan mulai membawa motornya keluar dari area sekolah, mengabaikan murid-murid yang membicarakan mereka berdua.

Tidak seperti biasanya, Luhan langsung membawa Sehun pulang. Sehun sendiri merasa agak ada yang kurang. Ekspektasinya, Luhan membawanya makan malam atau mengajaknya ke toko buku, atau apapun, bukan pulang. Tapi, sekali lagi, tidak seperti biasanya.

Sehun turun dari motor Luhan saat mereka sampai di depan rumah Luhan. Sehun melepas helm dan memberikannya pada Luhan. Wajahnya sedikit menunduk hingga rambut hazel panjangnya menutupi hampir seluruh wajahnya. Sehun masih merasa ada yang kurang, atau mungkin bisa disebut kecewa.

Luhan merendahkan kepalanya agar bisa melihat wajah Sehun.

"Ada apa ?" tanya Luhan sambil menyentuh pipi Sehun.

"Tidak ada," buru-buru Sehun mengangkat wajahnya, lalu tersenyum pada Luhan.

Untuk sesaat Luhan tidak bergerak. Matanya terus tertuju pada mata Sehun.

"Lu.. han ?" Sehun melambaikan tangannya. Luhan berkedip beberapa kali, lalu tersadar dari masa trans-nya.

"Uhm," Luhan berdeham sebentar. "Mau mapir ke rumahku ?"

Sehun mengamati rumah Luhan yang entah sejak kapan dibersihkan padahal dulunya terbengkalai.

"Boleh."

Luhan membawa Sehun masuk ke dalam rumahnya. Sehun sempat mengalami apa yang namanya jet-lag. Sehun merasa tidak berada di Korea karena tata ruang dan perabotnya sama sekali bukan gaya Asia.

Perabot minimalis tapi elegan khas Amerika. Dan Sehun suka.

Sebuah sofa kulit panjang berwarna hitam menghadap langsung ke tv LCD 60 inch yang baru pertama kali Sehun lihat secara langsung. Lalu di sudut lain terdapat sebuah mini bar dengan dua kursi busa merah yang kelihatan keren. Dilengkapi dengan beberapa gelas yang digantung di atasnya. Dan di sudut lain terdapat tangga menuju lantai dua.

"Ini.. keren," ucap Sehun sambil terus mengamati ruangan itu.

"Mau ke lantai dua ?"

Tanpa menjawab Sehun berlari menuju tangga dan naik menuju lantai dua. Luhan terkekeh geli melihat tingkah Sehun. Diikutinya Sehun dari belakang, memastikan Sehun tidak terpeleset karena Sehun melepas sepatunya dan hanya memakai kaos kaki.

Sehun kembali dibuat takjub. Lantai dua jauh lebih terang karena ada banyak jendela. Di sana ada banyak sekali alat musik, salah satunya sebuah grand piano putih yang terletak di tengah ruangan, yang Sehun yakini piano itu adalah piano yang digunakan Luhan untuk memainkan Winter Sonata dulu.

Sehun terkejut ketika mendapati sebuah kasur king size dengan sprei berwarna merah dengan lambang Manchester United berada di sudut ruangan yang lain.

"Ini.. kamarmu ?"

"Ya, begitulah," jawab Luhan sambil melepas jaket jeans-nya.

"Kau bercanda ? Ruangan sebesar ini kau sebut.. kamar ?"

Sehun menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya setelah Luhan mengangguk.

"Kau tidak percaya ?" Sehun mengerutkan bibirnya. "Kemarilah."

Luhan berjalan menuju salah satu jendela, lalu membukanya. Sehun mengikuti dan lagi-lagi dibuat terkejut karena jendela ini menghadap langsung ke jendela kamarnya. Jadi selama ini Luhan selalu lewat sini.

"Hebat," ucap Sehun sambil menjulurkan tangannya, seolah berusaha meraih jendela kamarnya sendiri.

"Aku mau mandi dulu. Tunggu sebentar. Nanti aku masakan lasagna," Luhan berjalan meninggalkan Sehun.

"Lasa–apa ?"

"Pokoknya sesuatu yang enak. Jangan kemana-mana,"

Sehun mendengus, lalu kembali mengamati kamar Luhan yang kelewat besar. Ruangan ini seharusnya dibagi menjadi beberapa bagian, bukannya malah dijadikan satu, apalagi dijadikan sebuah kamar yang merangkap studio musik.

Mata Sehun terhenti pada sebuah gitar akustik yang disandarkan di tembok dekat sofa mini berwarna merah. Sehun duduk di sofa, lalu membawa gitar akustik itu ke pelukannya. Gitar itu masih beraroma toko. Jadi, Sehun menyimpulkan bahwa gitar itu adalah gitar pesanan yang Luhan ambil tempo hari.

Sehun mengernyit saat mendapati sebuah tulisan di bagian depan gitar.

"HanHun ?"

Sehun memilih untuk mengabaikan tulisan itu dan mengembalikan gitar pada tempatnya. Lalu, Sehun mulai menyandarkan punggungnya pada sofa. Ruangan ini terlampau bersih dan nyaman untuk ukuran laki-laki sebagai pemiliknya. Juga terlalu banyak barang mahal. Jadi, Sehun menyimpulkan kalau Luhan anak konglomerat.

Lama-kelamaan mata Sehun mulai memberat. Sehun mulai ngantuk. Badannya lelah karena sekolah. Suasananya sangat mendukung untuk tidur. Walaupun Sehun tahu kalau tidur di kamar laki-laki bukan ide bagus, tapi matanya sudah tidak bisa diajak kompromi lagi.

Hingga Sehun benar-benar tertidur di sofa milik Luhan.

.

.


.

.

Sehun terbangun karena mimpi jatuh dari tempat tidur. Dada Sehun sesak. Rasanya begitu nyata sampai-sampai Sehun merasa kaget betulan, apalagi ketika ia mendapati ia berada di atas kasurnya sendiri.

"Aish."

Sehun mengacak rambutnya. Sehun kesal karena seingatnya ia tidur di sofa milik Luhan, bukan di kasurnya sendiri. Sehun ingin mengabaikan fakta bahwa ia bermimpi soal berkunjung ke rumah Luhan. Rasanya begitu nyata, bahkan saat Sehun melihat jendela kamarnya sendiri dari kamar Luhan.

Sehun bangkit dari kasurnya dan menyadari bahwa ia masih memakai seragam sekolah lengkap. Bahkan sepatunya. Sepertinya Sehun terlalu lelah sampai-sampai tidak sempat melepas sepatu saat hendak tidur.

Sehun berjalan keluar kamar menuju lantai satu tanpa berganti pakaian, bahkan tanpa melepas sepatunya. Sehun nyaris terjatuh dari tangga karena mendapati ibunya dan Luhan sedang ngobrol asyik di ruang keluarga sambil makan-makan. Sehun baru saja mimpi Luhan dan sekarang Luhan ada di rumahnya.

"Kau berkunjung ?" tanya Sehun sambil menekankan kata berkunjung, seolah ingin mengatakan kalau kunjungan kali ini adalah kunjungan normal, bukan kunjungan lewat jendela seperti biasanya.

"Oh. Bagaimana tidurmu ?" tanya Luhan balik. Sehun hanya mengacungkan tanda 'o' dengan jarinya sambil lalu menuju dapur.

Sehun agak sebal karena ibunya kelihatan senang sekali dikunjungi Luhan. Ngomong-ngomong, Sehun jadi penasaran apa tujuan Luhan berkunjung ke rumahnya. Tapi, ia memilih mengabaikan Luhan dan mulai mengobrak-abrik kulkas ibunya, mencari soda yang selalu tersedia di dalamnya.

"Uhm, apa Sehun punya paspor ?"

Sehun menghentikan aktivitasnya karena samar-samar mendengar pertanyaan Luhan. Paspor ?

"Tidak, Nak. Sehun belum pernah ke luar negeri," jawab ibu.

"Ah, begitu, ya."

Sehun mengedikkan kepalanya. Mungkin Luhan hanya iseng bertanya.

"Memangnya ada apa ?" tanya ibu.

"Begini, liburan musim panas nanti, aku ingin mengajak Sehun ke Forks–"

"APA ?!"

.

.


.

.

TO BE CONTINUED

.

.

Ditunggu review nya ^^