Memories © Sansan Kurai
Super Junior © SM Entertainment
Other © Their own management
Friendship
Henry yang terburu-buru berlari menuju pintu apartemen tak melihat tas yang ada di hadapannya, alhasil ia menyandung tas itu dan jatuh terjerembab. Henry mengaduh kesakitan sembari memaki-maki tasnya. Ia berjalan ke arah pintu masih sambil mengaduh kesakitan.
"Suara apa tadi?"
"Bagaimana hyung bisa menemukan apartemenku?" tanya Henry yang masih mengusap sikunya.
"Kau habis terjatuh?" Henry menangguk singkat dan mengijinkan sang hyung masuk. Untung tadi aku sudah membereskan apartemen ini.
"Duduk hyung, aku akan ambilkan minuman dingin untukmu." Henry segera berlalu menuju lemari es dan mengambil dua kaleng minuman soda lalu kembali lagi ke Leeteuk yang tengah mengamati apartemennya dengan mata teduh itu. "Ini hyung."
"Terima kasih."
"Hyung belum menjawab pertanyaanku, dari mana hyung menemukan alamat apartemenku."
"Aku tahu semuanya tentang dirimu.." jawab Leeteuk sembari tersenyum lembut. Sedangkan Henry hanya menganguk-anggukkan kepalanya dan duduk di hadapan Leeteuk.
"Dan apa yang membawa hyung kemari? Tidak mungkin.. Astaga! Ini sudah tengah malam! Kenapa hyung datang kemari!" seru Henry histeris. Leeteuk yang ada dihadapannya malah menatap Henry bingung.
"Jika kau tahu ini sudah tengah malam, kenapa kau berteriak sekencang itu?" tanya Leeteuk. Seakan tersadar, Henry yang tengah menatap Leeteuk nampak menutup mulutnya dan menggumamkan kata maaf. Di depannya Henry dapat melihat bahwa kini Leeteuk tengah terkikik geli. "Kau itu lucu." Henry hanya menunduk, menyembunyikan wajah malunya dari hadapan Leeteuk dan Leeteuk kembali terkikik geli.
"Nah.. Henry.. Setelah ku lihat-lihat, ternyata jarak apartemenmu dengan sekolah benar-benar jauh. Walau bisa ditempuh dengan kendaraan yang hanya membutuhkan waktu setengah jam, tapi kau tak bisa terus seperti itu. Terlalu lama di jalan bisa membuatmu lelah dan kau tak akan bisa konsentrasi pada pelajaran. Jadi, bagaimana? Kau mau pindah ke asrama kan?"
Henry terdiam sejenak tanpa menatap ke arah Leeteuk yang kini tengah menuntut jawaban 'ya' darinya.
"Apa yang membuatmu ragu untuk pindah ke asrama? Apa karena kedua orang tuamu?" Henry menggelengkan kepalanya. Sejujurnya Henry bingung bagaimana ia menyampaikannya pada sunbae dihadapannya ini.
"Sebelum ini aku tak pernah tinggal dengan orang lain hyung, jadi jujur saja, aku sedikit ragu dan takut," jawab Henry setelah ia menimbang-nimbang sejak tadi. "Memang hyung dan yang lain terlihat baik, tapi.. aku takut hyung.."
"Apa yang kau takutkan?" tanya Leeteuk dengan suara lembutnya. "Tak ada yang harus kau takutkan. Percayalah pada hyung, hyung yang akan menjagamu karena kau tanggung jawabku. Mengerti?"
"Tapi.. Aku tak mau merepotkanmu hyung.." ucap Henry.
"Aku tak akan merasa kerepotan, mungkin malah kau yang akan kerepotan nantinya."
"Eh?"
"Selama ini aku selalu tidur sendiri di asrama itu," cerita Leeteuk. "Entah kenapa aku tak bisa menemukan partner yang aku inginkan dan sejak melihatmu bermain biola aku jadi tertarik padamu dan ingin menjadikanmu partnerku. Makannya waktu itu aku langsung mengajakmu untuk tinggal di asrama." Henry terdiam, Leeteuk pun melanjutkan. "Dua minggu lagi adalah ulang tahun sekolah, aku ingin tampil bersamamu, maukah?"
"Be.. Bersamaku?" gagap Henry. Leeteuk menganggukkan kepalanya. "Di depan banyak orang? Ti.. Tidak.. Tidak bisa.. A.. Aku demam panggung hyung."
"Tidak apa, aku akan membimbingmu," ujar Leeteuk. "Permainan biolamu sangat bagus dan kau perlu menunjukkan itu ke semua orang termasuk para guru. Nilaimu akan terbantu dengan itu nantinya.."
"Seperti itu?" Leeteuk mengangguk. Henry terdiam sejenak. Menimbang sekali lagi ajakan sunbaenya. Hingga akhirnya Henry mengangguk setelah lama bergelut dengan batinnya. Disana Leeteuk tersenyum lembut pada Henry. Leeteuk bangkit berdiri dan Henry pun mengikutinya.
"Baiklah.. Dua hari lagi kau bisa pindah ke asrama, aku dan Hankyung akan menjemputmu.."
"Tak usah hyung, aku akan ke sana sendiri. Barangku tak banyak, hyung tinggal berikan saja alamtanya.. A.. Aku tak ingin merepotkan kalian.." Leeteuk mendesah pelan lalu tersenyum.
"Baiklah jika itu mau.. Kalau begitu aku pulang, istirahatlah.."
Henry mengantar Leeteuk hingga Leeteuk mendapatkan taxi. Setelah itu Henry masuk kembali ke apartemennya. Henry mengunci pintu apartemen, setelahnya ia menyandarkan tubuhnya ke pintu tersebut. Henry menatap langit-langit apartemennya. Entah kenapa air mata mendesak ingin keluar dari pelupuk matanya. Wajahnya sudah memerah menahan tangis. Akhirnya Henry terduduk, membenamkan wajahnya dalam lututnya dan ia pun menangis dalam diam.
"Henry!"
Henry yang sedang akan membuka pintu kelasnya pun berhenti dan menoleh kesumber suara.
"O.. Oh Leeteuk hyung.. Pagi.."
"Pagi.. Mau menemaniku ke ruang musik?" tanya Leeteuk. Henry mengangguk dan mengikuti langkah Leeteuk menuju lantai 2.
"Leeteuk hyung!"
Teriakan yang sangat memekakkan telinga itu membuat keduanya berhenti. Beberapa murid yang ada di lorongpun sampai menghentikan aktivitasnya.
"Kau kan bisa tidak berteriak seperti itu Zhoumi.." tegur Leeteuk sedangkan Zhoumi hanya tersenyum. "Ada apa?"
"Hyung ke mana saja kemarin? Aku hanya ingin bilang, hari ini kita ada latihan basket untuk pertandingan di acara ulang tahun sekolah besok. Hyung bisa datang untuk melihat kami?"
"Baiklah.. Aku juga tak ada acara hari ini.."
"Ok! Kau juga bisa datang Henry.." ucap Zhoumi sembari menepuk pundak Henry pelan lalu pergi meninggalkan kedua pria itu.
"Ayo.." Henry mengangguk dan segera mengikuti langkah Leeteuk.
"Hey! Leeteuk hyung! Henry!"
Kedua pria itu kembali menoleh dan terdiam saat melihat Shindong serta Ryeowook tengah menjepret mereka berdua dengan kamera DSLR ditangan. Keduanya tersenyum saat melihat Henry dan Leeteuk terdiam.
"Hanya untuk kenang-kenangan," ucap Shindong, setelah itu ia mengajak Ryeowook pergi sembari melihat kearah kamera mereka masing-masing.
"Lupakan.. Ayo.." ajak Leeteuk lagi. Henry hanya mengangkat bahunya dan kembali mengikuti langkah Leeteuk menuju ruang musik yang hanya tinggal berjarak beberapa meter.
"Kau sudah memilih lagu apa yang akan kita tampilkan di acara ulang tahun sekolah?" tanya Leeteuk pada Henry yang terus mengikutinya masuk ke ruang musik. Henry menggeleng pelan. "Kau suka dengan musik jenis apa?"
"Aku suka semuanya, tapi aku lebih suka musik klasik," lirih Henry.
"Hmm.. Musik klasik ya?" Henry bisa melihat jika Leeteuk tengah memikirkan sesuatu sembari menggumam. "Ahh.. Summer!"
Seruan dari Leeteuk membuat Henry terlonjak. Ia menatap sunbae dihadapannya yang tengah tersenyum.
"Kau tahu seorang composer dari Jepang yang bernama Joe Hisaishi?" Henry nampak mengingat-ingat sejenak lalu menganggukkan kepalanya. Ia pernah mengetahui nama composer tersebut saat ia menonton sebuah film Jepang berjudul Spirited Away. Leeteuk yang melihat anggukan Henry tersenyum senang. "Kau tahu Summer karangan Joe Hisaishi? Bagaimana kalau kita memainkan itu?"
"One Summer's Day?"
"Bukan.. Bukan.. Itu soundtrack untuk film Spirited Away.."
"Hyung melihat film itu juga?" tanya Henry kaget. Leeteuk mengangguk. "Aku pikir di Korea tak banyak yang menyukai film animasi itu."
"Apa yang kau katakan?" tegur Leeteuk. "Itu film animasi yang bagus dan aku sangat menyukainya.."
Dan pagi itu pun mereka berbicara banyak tentang hobi mereka menonton film. Henry membuat Leeteuk melupakan rencana awal sunbaenya itu untuk mencari lagu yang akan dipertontonkan pada acara ulang tahun sekolah.
Henry mendengarkan penjelasan guru dengan malas. Ia ingin jam istirahat segera berbunyi agar ia bisa bertemu dengan sunbaenya. Entah kenapa, pertemuan tadi pagi membuatnya ingin menceritakan banyak hal pada Leeteuk. Sebelumnya ia tak pernah seperti ini. Ia selalu takut untuk menceritakan apapun pada orang lain karena ia takut orang lain akan merasa bosan dan jenuh dengan semua yang ia ceritakan.
Namun berbeda dengan sunbaenya yang satu ini. Leeteuk mau mendengarkan ceritanya tanpa merasa bosan sedikit pun, malah terlihat jelas dari wajahnya kalau sunbaenya itu sangat menikmati semua cerita Henry.
Tiba-tiba ada yang menggeser pintu kelas yang terletak di depan. Seorang pria masuk dan seisi kelas langsung menahan nafasnya. Sedangkan yang Henry lakukan hanya melongo memperhatikan sunbaenya itu berbicara dengan guru yang tengah mengajar di depan.
"Henry?" panggil guru itu membuat Henry tersadar dan seisi kelas menatapnya. Tatapan yang berbeda-beda. Iri, bangga, ingin tahu dan banyak lagi.
"Iya Pak."
"Ada yang mencarimu, kalian bicaralah di luar."
"Baik."
Henry melihat Leeteuk berjalan kearahanya, semua mata tertuju pada sunbaenya—entah itu pria atau wanita—yang nampak tenang.
"Ayo Henry." Lagi, tangan Henry digandeng lembut oleh Leeteuk. Henry pun mengikutinya keluar kelas.
"Ada apa Leeteuk hyung?" Tak dapat dipungkiri, Henry merasa senang bisa bertemu dengan Leeteuk.
"Ini." Henry mengangkat tangannya untuk menerima selembar sheet music dari tangan Leeteuk. "Itu yang akan kita mainkan di acara ulang tahun besok. Jika kau tidak suka bilang saja, nanti aku akan menggantinya. Tadi pagi kita belum sempat membicarakannya kan? Nah, sekarang masuklah, istirahat nanti kita bertemu lagi."
Henry hanya bisa mengangguk sembari menatap selembar sheet music berjudul Summer ditangannya. Leeteuk mendorong Henry masuk ke dalam kelasnya. Setelah sunbaenya itu mengucapkan terima kasih pada sang guru, pria itu segera menghilang dari kelas Henry. Menyisakan Henry yang terus menatap selembar kertas ditangannya.
Jam istirahat berdentang dengan nyaring, siswa-siswi yang tengah serius memperhatikan penjelasan guru pun mendesah lega dan meregangkan tubuh lelah mereka. Henry yang sudah tak sabar ingin bertemu Leeteuk—tanpa membereskan buku-buku pelajaran dan menunggu guru yang mengajar keluar—Henry menyambar tas biola serta kertas yang tadi diberikan oleh Leeteuk. Henry melangkahkan kakinya sedikit lebih cepat sembari memandang sheet music yang ada ditangannya.
Brukk!
Henry terjatuh, tas bioalnya terantuk lantai serta sheet musicnya terbang entah kemana. Henry meminta maaf pada orang yang baru saja ditabraknya itu sembari membungkuk dalam. Ia tahu kali ini ia yang salah karena tak memperhatikan jalan di depannya.
"Maaf katamu!" sembur orang itu. Wajahnya terlihat sangat mengerikan, apalagi ditambah dengan amarah orang itu. Membuat Henry sedikit ketakutan. "Kau itu sudah menabrakku dan hanya maaf yang kau ucapkan!"
"Ma.. Maafkan aku.. Aku tak sengaja.."
"Sengaja atau tidak sengaja aku tak peduli!" Henry melihat orang itu tengah menatap tas biola yang tergeletak di dekat kakinya. Secepat kilat orang tersebut menyambar tas biola itu.
"Jangan!" mohon Henry saat orang itu akan membanting tas bioalnya. "Ku mohon jangan biolaku.."
"Kau sudah menabrakku jadi kau harus membayarnya!"
"Ja.. Jangan.. Ku mohon.." lirih Henry sembari menatap nanar ke arah biolanya.
"Ada apa ini?"
Henry menoleh dan ia mendapat Eunhyuk ada disana sembari menatap dingin dirinya. Ahh.. Bukan dirinya, tetapi orang dihadapannya.
"Eun.. Eunhyuk hyung.." gumam Henry.
"Ada apa Henry? Apa ada masalah?" tanya Eunhyuk sembari mendekat kearah Henry. Henry hanya bisa diam, ia tak ingin masalahnya menjadi semakin rumit. Eunhyuk pun membantu Henry berdiri. "Kembalikan tas biola itu, Alexander."
Orang dihadapan Henry berdecih dan menatap sengit kearah Eunhyuk sedangkan yang Eunhyuk lakukan hanya menatap dingin orang yang dipanggilnya Alexander itu.
"Eunhyuk hyung.." lirih Henry.
"Kau mau kembalikan atau tidak!" tegas Eunhyuk. Dan dengan wajah kesal, Alexander melempar tas biola itu kearah Henry yang langsung ditangkap dan dipeluk erat oleh Henry. Henry menatap kepergian Alexander sembari menggumamkan kata maaf. "Kau tak terlukakan?"
"Tidak Eunhyuk hyung.. Terima kasih sudah membantuku.." ucap Henry.
"Tak masalah.." Eunhyuk menatap Henry sejenak. "Kau mau ke ruang musik?"
"Iya, aku mau membahas lagu yang akan aku dan Leeteuk hyung bawakan di acara ulang tahun sekolah," jawab Henry.
"Bagaimana kalau kau ikut aku?"
"Eh?"
"Aku rasa Leeteuk hyung juga sedang ada di sana saat ini."
"Di.. Dimana?"
"Gedung olah raga," jawab Eunhyuk. "Tapi kalau kau tak yakin aku akan menemanimu ke ruang musik. Setelah kau tak mendapatkan apa yang kau cari, kau harus ikut aku. Ok?"
"Baiklah.."
Eunhyuk segera merangkul pundak Henry—setelah Henry berhasil menemukan sheet musicnya yang tadi terbang—dan membawanya menuju ruang musik. Sesampainya di ruang musik, Henry tak menemukan siapapun di sana.
"Benarkan?" ujar Eunhyuk sembari melongok ke dalam ruang musik. Henry menganggukkan kepalanya. "Temani aku ke kelas sebentar, aku ingin mengambil bola basket milikku."
Tanpa berucap apapun Henry mengikuti Eunhyuk. Kembali, banyak murid yang menatap Henry dengan tatapan iri. Sebenarnya Henry sedikit jengah saat melihat tatapan-tatapann itu. Ia tak tahu kenapa mereka menatapnya dengan tatapan seperti itu. Ingin sekali Henry menanyakannya namun ia tak memiliki cukup keberanian untuk sekedar menanyakan arti tatapan mereka terhadap dirinya.
"Oh~ Yesung hyung!"
Seruan dari Eunhyuk itu membuat Henry menoleh ke arah belakangnya dan mendapati Yesung tengah berjalan kearah mereka.
"Kalian akan ke gedung olah raga?" tanya Yesung.
"Hmm," angguk Eunhyuk. "Tunggu sebentar, aku masuk ke kelas dulu." Dan Eunhyuk langsung menghilang ke dalam kelasnya, menyisakan Henry dan Yesung yang hanya terdiam. "Ayo."
Ketiga orang itu segera berjalan menjauhi kelas Eunhyuk. Menelusuri lorong-lorong menuju gedung olah raga yang terletak di belakang sekolah. Henry sama sekali belum pernah menginjakkan kaki ke bagian belakang sekolah. Ia sedikit terkejut saat melihat taman di belakang sekolah yang terlihat begitu indah. Rumput hijau tumbuh dengan subur dan di sekeliling taman itu terdapat pohon-pohon besar yang rindang. Ditengahnya terdapat air mancur. Walau taman itu tak begitu besar namun terlihat sangat indah.
"Eoh~ Itu.. Bukankah Leeteuk hyung!" seru Yesung sembari menunjuk seorang siswa yang tengah berteduh dibawah pohon. Dengan segera Eunhyuk dan Yesung berlari menuju taman. Henry yang semula bingung dengan sikap tergesa kedua sunbaenya itu pun akhirnya mengikutinya.
Dari jauh Henry dapat melihat wajah khawatir Eunhyuk dan Yesung saat menghampiri dan berbicara dengan Leeteuk. Namun Leeteuk hanya menanggapi dengan senyuman lembutnya.
"Guukk.. Guuukk.."
Henry menatap seekor anjing kecil berwarna putih yang tengah berada dalam pelukan Leeteuk. Anjing itu terlihat sangat nyaman berada di pelukan Leeteuk.
"Sepertinya aku ingin merawatnya.." ucap Leeteuk.
"Terserah hyung saja, ayo kita ke gedung olah raga. Kita sudah ditunggu oleh mereka," tegas Yesung. Leeteuk pun mengangguk. Yesung segera berjalan menjauh, Eunhyuk mendorong Henry untuk segera menyusul Yesung. Leeteuk berjalan perlahan dibelakang mereka sembari menghindari sorotan sinar matahari yang mulai terik.
"Kenapa kalian lama sekali?"
"Maaf Heechul hyung, kami harus menjemput Leeteuk hyung," jawab Eunhyuk sembari melirik kearah Leeteuk yang nampak sibuk membelai anjing yang ada dipelukannya. Heechul yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya dan mendekati Leeteuk.
"Jangan sekarang Heechul, ok?" ucap Leeteuk sebelum Heechul mengucapkan apapun. Terlihat Heechul tengah mendengus kesal. "Ayo Henry, kita duduk di sana."
Henry melihat Leeteuk berjalan menjauh dari tim basket. Henry pun mengikuti Leeteuk begitu juga dengan Yesung. Dibarisan bangku penonton paling depan sudah ada Sungmin dan Kangin yang tengah melambaikan tangan kearah Leeteuk, Henry dan Yesung.
"Hyung, anjingnya manis sekali."
"Hahaha~ Kau benar Sungmin. Tadi aku menemukannya di depan gedung sekolah saat aku berangkat sekolah. Sepertinya dia tersesat."
"Kau ingin merawatnya hyung?" tanya Sungmin. Leeteuk mengangguk dan mendudukkan dirinya di sebelah Sungmin masih sambil membelai anjing itu. Sungmin memiringkan kepalanya agar bisa melihat anjing itu lebih jelas. Henry mendudukkan diri di sisi Leeteuk sedangkan Yesung memilih duduk di samping Kangin.
"Maaf Henry, hari ini kita tak bisa membahas untuk penampilan kita di ulang tahun sekolah," ucap Leeteuk pada Henry yang sedari tadi terus menatapnya.
"Tidak apa-apa hyung. Lagi pula tadi pagi kita sudah berjanji pada Zhoumi hyung untuk datang ke latihan mereka kan?" ujar Henry. Leeteuk mengangguk dan kembali sibuk dengan anjing dipelukannya.
Henry mengalihkan pandangannya dari Leeteuk ke arah anak-anak basket yang tengah melatih keahlian shooting mereka. Henry bisa melihat bahwa Eunhyuk benar-benar membimbing timnya agar berlatih lebih serius. Sedangkan pelatih mereka tengah melihat anak didiknya dari samping lapangan.
Lima belas menit telah berlalu sejak anak-anak basket melatih shooting mereka. Mereka pun berhenti sejenak. Eunhyuk nampak memanggil anak kelas 1 yang baru saja bergabung dan memintanya untuk menunjukkan lemparan 3 poinnya pada mereka sebagai pembukaan latihan mereka selanjutnya. Henry bisa melihat bahwa anak itu terlihat sangat senang namun juga gugup. Henry terus mengamati anak itu yang tengah bersiap-siap.
"Hyung, kau ingat nama anak kelas 1 di tim basket itu?"
Pertanyaan Yesung yang dilontarkan pada Leeteuk membuat Henry menoleh.
"Namanya Kyuhyun, dia dari kelas 1-C," jawab Leeteuk sembari menatap anak itu. Henry menganggukkan kepalanya samar. Sejujurnya ia juga lupa nama anak yang seumuran dengannya itu.
"Hyung, bukankah pemain basket itu seharusnya lima pemain inti dan lima pemain cadangan?" tanya Henry sembari bertepuk tangan saat Kyuhyun berhasil menunjukkan lemparan three pointnya dengan sempurna. "Tapi kenapa mereka hanya bertujuh?"
"Sebenarnya tim mereka memiliki 10 anggota. Namun Heechul mengeluarkan 4 orang lainnya," jawab Leeteuk sembari menatap kearah Eunhyuk.
"Kenapa? Apa mereka jarang ikut berlatih?" tanya Henry.
"Tidak, bukan seperti itu.." Kali ini yang menjawab adalah Kangin. "Eunhyuk orang yang sangat disiplin dan patuh akan aturan-aturan yang ada. Ke-4 orang itu selalu melanggar peraturan dan kadang berbuat curang. Saat pertandingan beberapa waktu lalu, Eunhyuk memang belum menjadi kapten tim basket. Saat itu Heechul yang masih menjadi kapten. Eunhyuk yang tak suka dengan sikap ke-4 orang itu lebih memilih untuk mengundurkan diri. Dia tak menyebutkan apapun, dia hanya bilang tak bisa bekerja sama dengan orang licik."
"Eunhyuk adalah salah satu anggota inti," lanjut Sungmin saat Kangin menghentikan ceritanya. "Dan dia salah satu anggota yang selalu dibanggakan oleh tim basket. Saat mendengar ucapan Eunhyuk, Heechul hyung benar-benar marah dan meminta Eunhyuk untuk menjelaskan semuanya. Karena Eunhyuk tak mau menjelaskan apapun dan tetap memilih untuk keluar, akhirnya Heechul hyung mencari tahu sendiri apa yang menyebabkan Eunhyuk keluar."
"Ternyata ke-4 orang itu telah berbuat curang disaat pertandingan antar sekolah," ucap Leeteuk. Kangin, Sungmin dan Yesung mengangguk. "Ke-4 orang itu memberi sogokan pada sang wasit agar tim basket kita menang dalam pertandingan. Heechul yang mengetahui itu langsung mengeluarkan 4 orang itu lalu meminta maaf pada tim lawan mereka dan meminta Eunhyuk untuk masuk lagi. Dan sebelum kenaikan kelas, Eunhyuk diangkat menjadi kapten tim basket oleh Heechul. Dia adalah kapten basket termuda yang dimiliki sekolah ini."
Henry menganggukkan kepalanya sembari menatap Eunhyuk dengan tatapan iri. Ia selalu ingin seperti itu. Bisa mengambil keputusan dengan berani dan sanggup menghadapi segala resikonya. Selama ini ia tak pernah berani mengambil keputusan sendiri. Ia terlalu takut, takut untuk menghadapi resiko yang mungkin akan membuatnya jatuh.
Henry terus memperhatikan Eunhyuk yang nampak berlatih dengan serius. Tidak hanya Eunhyuk, seluruh anggota basket nampak berlatih dengan serius. Sang pelatih tak henti-hentinya memberikan dukungan pada anak didiknya.
"Smile.."
Seruan itu membuat Henry, Leeteuk, Sungmin, Kangin dan Yesung menoleh. Mereka mendapati Shindong serta Ryeowook tengah memotret mereka sembari tersenyum senang. Sungmin, Kangin dan Yesung hanya menggelengkan kepala melihat tingkah kedua orang itu. Sedangkan Leeteuk hanya diam saja, ia kembali memperhatikan latihan anak-anak basket itu sembari terus membelai anjing yang ada dipangkuannya yang tengah tertidur. Hanya Henry yang terus memperhatikan gerak-gerik Shindong dan Ryeowook yang terlihat seperti kakak dan adik yang memiliki hobi yang sama.
"Kau juga akan sering bertemu Ryeowook dan Kyuhyun nantinya," kata Leeteuk. Henry menoleh dan menatap Leeteuk. "Mereka juga akan tinggal di asrama. Ryeowook sekamar dengan Shindong sedangkan Kyuhyun sekamar dengan Heechul. Tapi mereka sudah masuk asrama sejak kemarin."
"Kapan kau akan pindah ke asrama?" tanya Yesung pada Henry.
"Eum.. Besok hyung," jawab Henry ragu.
"Kenapa hari ini kau tak pindah saja?" tanya Yesung lagi.
"Hari ini aku masih ada pelajaran hingga malam hari hyung," jawab Henry. "Besok hari minggu dan aku bisa memindahkan semuanya besok."
"Ahh~ iya.. Aku lupa kalau kau masih ada pelajaran hingga malam hari," sahut Yesung sembari menepuk dahinya. Henry hanya diam saja dan terus melirik Shindong serta Ryeowook yang sedari tadi memotret anggota tim basket yang tengah berlatih. Sesekali mereka nampak berseru menyemangati.
Henry mendesah pelan dan kembali menikmati latihan tim basket itu. Tak disadarinya bahwa sedari tadi Leeteuk—yang sibuk membelai anjing dipangkuannya dan memperhatikan tim basket berlatih—selalu memperhatikan gerak-gerik Henry.
Henry menutup pintu apartemennya sedikit keras. Dilepasnya sepatu serta kaus kaki yang melekat pada kakinya lalu meletakkannya sembarangan. Henry meninggalkan tas sekolah serta tas biolanya begitu saja lalu berjalan lemah menuju kamarnya.
Henry menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang. Wajahnya terlihat sangat lelah dan agak pucat. Pelajaran hari ini membuatnya benar-benar lelah dan juga jenuh. Walau baru tiga hari masuk sekolah, pelajaran yang didapatnya sudah sangat banyak. Belum lagi tugas-tugas yang diberikan diakhir pekan ini, membuatnya harus ekstra kerja keras untuk menyelesaikannya.
Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Henry mengambil jam yang terletak di meja samping tempat tidurnya. Menyetel alarmnya, setelah itu ia jatuh tertidur. Ia sudah tak mendengar lagi saat ponsel yang ia letakkan di dalam tas sekolahnya tengah berdering.
to be continued..
chapter 2 update..
dan mohon maaf sebelumnya.. minggu ini saya sudah update semua fanfic saya yang sedang on going.. yah~ kecuali Afterlife memang.. dua minggu ke depan saya tak bisa mengupdate fanfic, karena kantor tempat saya bekerja akan kedatangan tim audit.. saya harus konsen ke kerjaan saya.. jadi saya tak akan bisa mengupdate apapun untuk dua minggu ke depan..
saya benar-benar minta maaf..
semoga chapter ini tak mengecewakan..
terima kasih yang sudah mereview.. entah itu dikotak review, PM, maupun di facebook.. ^^
dan sekali lagi, terima kasih untuk seluruh silent readers~ XD
