Tittle : Thriller
Author : Katniss Jung
Chapter : 4 of ?
Casts :
Oh Sehun
Lu Han
Genre : Fantasy, horror, thriller, romance, drama
Type : Chaptered
Alert : HanHun, HunHan, Gender Switch, Sehun!Girl, Luhan!Boy
Summary : Jangan pilih aku jika kau benci kegelapan. Jangan pilih aku jika kau benci sepi. Karena, saat kau bersamaku, kau akan merasakan apa yang namanya gelap dan sepi, hanya ada kita berdua.
.
.
.
.
Halo semuanya!
Chapter 4 sengaja dibikin lebih cepat sebgai permohonan maaf karena kemarin dua minggu nggak nge upload cerita sama sekali T^T
Langsung aja ya. Check this out! ^^
.
.
.
.
"Memangnya ada apa ?" tanya ibu.
"Begini, liburan musim panas nanti, aku ingin mengajak Sehun ke Forks–"
"APA ?!"
Buru-buru Sehun menutup mulutnya. Karena kelewat kaget, Sehun sampai tidak ingat kalau dia sedang menguping. Dan menguping itu tidak bagus. Tidak sopan. Sehun tidak ingin dicap sebagai anak yang tidak sopan.
"Oh Sehun, ada apa ?" tanya ibu dari ruang keluarga. Suaranya terdengar sedikit khawatir. Rupanya ibu tidak menyadari bahwa Sehun sedang menimpali pertanyaan Luhan.
"Jariku.. jariku terjepit pintu kulkas, Bu!" jawab Sehun sekenanya. Toh dia sedang membuka pintu kulkas.
"Hati-hati, Nak," lanjut ibu.
"Iya."
Sehun merasa beruntung karena ada Luhan di sana. Insting keibuan milik ibunya agak sedikit memudar jika konsentrasinya terpecah seperti sekarang ini, ketika sedang ada tamu atau melakukan pekerjaan. Jadi, Sehun bersyukur karena ibunya bahkan tidak tahu kalau Sehun baru saja menguping.
Sehun meraih sebuah kaleng soda. Lalu ia menutup kulkas dan meraih kursi makan. Sehun duduk di sana sambil terus mendengarkan percakapan antara ibunya dan Luhan. Walaupun hanya sayup-sayup, Sehun bisa mengerti inti percakapan mereka.
Sehun nyaris tersedak saat tiba-tiba ponselnya bergetar –bahkan Sehun masih mengantongi ponsel saat tidur. Sehun merogoh kantongnya dan mendapati sebuah pesan dari Kyungsoo. Buru-buru Sehun menggeser layar LCD ponselnya.
From : Kyungsoo
Hai, nona cantik. Aku merindukanmu.
Sehun tersenyum saat membaca pesan dari orang terdekatnya itu. Rasanya sudah lama sekali Kyungsoo tidak berangkat sekolah dan Sehun kesepian. Mendadak Sehun rindu dimarahi Kyungsoo saat ia keseringan mainan ponsel, atau saat ia tidak mengerjakan tugas.
Ngomong-ngomong, Kyungsoo pasti benar-benar merindukan Sehun sampai-sampai ia mengirim pesan, sesuatu yang tidak pernah dilakukannya.
To : Kyungsoo
Hai! Aku juga benar-benar merindukanmu. Aku kesepian. Aku tidak bicara pada siapapun di sekolah. Cepat berangkat kalau kau tidak ingin temanmu ini lupa cara bicara, ya ?
Ngomong-ngomong, bagaimana keadaan Kai ?
Sehun mengetuk-ngetukan jarinya ke meja makan. Sesekali ia meminum sodanya lagi. Kyungsoo kelewat lama membalas pesan dan malah membuat Sehun khawatir. Sehun takut Kyungsoo sakit karena kelelahan menjaga Kai. Orang tua Kai benar-benar tidak tahu diri. Sudah tahu anaknya koma dan yang menjaga Kyungsoo, yang bukan siapa-siapa mereka, tapi sampai hari ini mereka belum datang. Ingin rasanya Sehun menonjok mereka satu per satu.
Ponsel Sehun kembali bergetar.
From : Kyungsoo
Oh Sehun, jangan berlebihan. Manusia tidak lupa dengan mudah. Apalagi untuk hal yang dilakukan seumur hidupmu. Ibuku dokter dan aku tahu itu. Hehe.
Kai masih belum bangun. Tapi kata dokter, keadaannya mulai membaik. Kemungkinan Kai bangun dua hari lagi. Orang tua Kai sudah berada di Incheon sekarang. Satu jam lagi mereka sampai dan aku bisa pulang. Jadi, tidak usah khawatir, ya ? Aku baik-baik saja kok. ^^
"Khawatir apanya."
Mau tidak mau Sehun tersenyum. Walaupun Kyungsoo terkesan narsis, tapi dugaan Kyungsoo tidak meleset. Sehun memang khawatir.
To : Kyungsoo
Kau menang, Nyonya Kim. Aku memang mengkhawatirkanmu. Baiklah. Aku tunggu di sekolah, ya ? Sampai bertemu besok!
From : Kyungsoo
NYONYA KIM APANYA ?! -_-
Sehun terkekeh geli, lalu memasukkan ponselnya ke dalam kantong. Sudah cukup acara menggoda Kyungsoo-nya.
Sehun berjalan keluar dari dapur dan mendapati ibunya sedang membereskan piring. Sudah tidak ada Luhan lagi di sana. Sehun terlalu asyik bersama Kyungsoo sampai-sampai tidak mendengar Luhan pergi. Sehun merasa agak kecewa karena Luhan tidak pamitan padanya, atau apalah. Luhan benar-benar ingin mengunjungi ibunya saja. Bukan Sehun.
Sehun naik ke lantai dua dengan menggerutu. Ia masih tidak terima kalau Luhan mengunjungi ibunya.
"Sehun," Sehun menoleh dengan malas saat namanya dipanggil.
"Hm ?"
"Tidak sopan sekali," lanjut ibunya. Sehun mengernyit bingung. Apa ibunya sudah tahu kalau Sehun menguping ?
"Memangnya.. aku melakukan apa, Bu ?" tanya Sehun sambil memiringkan kepalanya lucu. Ibunya berdecak karena tidak tahan dengan tingkah imut Sehun.
"Bisa-bisanya kau tertidur di rumah orang lain sampai-sampai orang itu harus menggendongmu pulang karena kau tidak bisa dibangunkan," jawab ibu.
"Apa ?!"
Jadi, Sehun benar-benar tertidur di rumah Luhan ?
"Tadi Luhan membawamu pulang. Katanya kau ketiduran di rumahnya karena lelah. Tapi setidaknya ibu berterima kasih karena kau sudah mengunjungi rumah tetangga baru mewakili ibu. Ibu belum sempat," lanjut ibu.
Mau tidak mau Sehun tersenyum. Jadi, soal mengunjungi rumah Luhan bukanlah mimpi.
.
.
.
.
Sehun tidak bisa lepas dari Kyungsoo hari ini. Sehun membuntuti kemanapun Kyungsoo pergi, bahkan ke kamar mandi. Sehun terlalu merindukan Kyungsoo sampai-sampai ia bertingkah seperti anak kecil begini.
"Oh Sehun," panggil Kyungsoo saat mereka berjalan menyusuri koridor sepulang sekolah.
"Ada apa ?" tanya Sehun sambil melingkarkan tangannya pada bahu Kyungsoo yang lebih pendek dainya.
"Soal Kai," Kyungsoo menarik strap ranselnya. Matanya berubah redup. Sesuatu yang buruk pasti terjadi.
"Kai ? Kai kenapa ?"
Kyungsoo menghela nafas. Mungkin sejak pagi Kyungsoo terus menimbang-nimbang sesuatu. Kyungsoo tidak seceria biasanya. Mungkin ia ingin berbagi tentang sesuatu pada Sehun, tapi dia masih ragu.
"Cerita saja," Sehun meyakinkan Kyungsoo. Kyungsoo kembali menghela nafas.
"Aku tidak bisa menjaga Kai dengan baik," ucap Kyungsoo. Ia makin menunduk dalam.
"Kau menjaganya dengan baik, Kyungsoo," timpal Sehun. Kyungsoo menggeleng.
"Tidak. Buktinya Kai bisa sampai koma begini. Ini salahku," tukas Kyungsoo.
Sehun menghentikan langkahnya. Rengkuhannya pada bahu Kyungsoo terlepas. Kyungsoo berbalik dan mengamati Sehun dengan ekspresi khawatir. Wajahnya berkata ada apa dan Sehun diam saja. Sehun hanya mengamati dari ujung kepala hingga ujung kaki Kyungsoo.
"Apa mereka menyakitimu ?"
Kyungsoo tercekat. Kyungsoo tidak berani melanjutkan ceritanya. Bisa-bisa Kyungsoo membangunkan jiwa atlet hapkido Sehun yang sudah lama tidur. Bisa-bisa Sehun datang ke rumah sakit dan mulai memukuli orang tua Jongin kalau ia menceritakan yang sebenarnya.
"T-tidak, Oh Sehun," timpal Kyungsoo. Ia menyesali kemampuan aktingnya yang dibawah payah.
"Do Kyungsoo, kita berteman sejak kita masih memakai popok," tukas Sehun sambil berkacak pinggang. "Bahkan kita makan dan minum dari piring dan gelas yang sama saat di penitipan anak. Kau tahu apa artinya ?"
"Kita berteman sejak kecil ?" Kyungsoo mengantisipasi.
Sehun mencubit pipi Kyungsoo gemas.
"Iya kalau itu aku juga tahu," Sehun menyibak rambut hazelnya. "Itu artinya, aku mengenalmu dengan baik, Do Kyungsoo. Aku tahu kapan kau berkata jujur dan kapan kau berbohong."
Kyungsoo terkekeh sambil mengamati sepatunya sendiri. Sehun terlalu mengenal Kyungsoo, bahkan lebih dari ia mengenali dirinya sendiri.
"Katakan saja, apa yang mereka lakukan padamu ?" Sehun menyentuh bahu Kyungsoo.
Kyungsoo lama terdiam, tidak berani menjawab. Kyungsoo merasa Sehun tidak perlu tahu soal ini, orang lain juga. Tapi Kyungsoo tidak sanggup menahan rasa sakit dan bebannya sendiri. Ia ingin berbagi dan menangis, seperti yang dilakukan gadis-gadis pada umurnya.
Hanya saja, Kyungsoo tidak bisa seperti itu. Kyungsoo sudah dibiasakan dengan kehidupan dewasa sejak menginjak usia enam belas. Ia dibimbing dan dididik secara keras agar kelak menjadi pewaris yang tangguh. Jadi Kyungsoo tidak sempat, bahkan tidak bisa melakukan hal-hal kecil yang dilakukan gadis di usianya –jatuh cinta, pacaran, curhat, menangis, bermain. Yang dihadapinya sudah lebih dari itu, seperti masalah perusahaan bahkan saham.
Tapi, bagaimanapun juga, Kyungsoo masih delapan belas tahun. Terkadang ia merasa iri pada Sehun yang berasal dari keluarga yang serba biasa. Sehun bisa jalan-jalan bersama ibunya di hari Minggu ataupun memiliki kerja part time di musim panas, layaknya gadis normal pada umumnya. Kyungsoo merasa hidupnya tak seberuntung Sehun.
Tidak terasa air mata Kyungsoo merembes keluar. Bahu Kyungsoo bergetar. Dan Sehun tahu persis apa yang sedang terjadi. Kyungsoo pecah, Kyungsoo runtuh, Kyungsoo menangis.
"Apa mereka memukulmu ?" tanya Sehun sambil memeluk Kyungsoo. Kyungsoo menggeleng. "Mereka memarahimu ?"
Kyungsoo mengangguk di dalam pelukan Sehun.
"Mereka bilang aku tidak bisa menjaga Kai dengan baik. Makanya Kai seperti ini. Mereka menyalahkanku. Lalu.. lalu ibu Kai hampir menamparku. Untung saja ayah Kai berhasil menahannya. Oh Sehun, aku takut. Aku tidak bisa menjaga Kai dengan baik," jelas Kyungsoo tanpa jeda sambil sesenggukan di dalam pelukan Sehun.
Sehun tidak habis pikir dengan orang tua Kai.
Sehun melepas pelukannya pada Kyungsoo.
"Ouh, Kyungsoo-nya Kai menangis," ucap Sehun sambil mengusap air mata Kyungsoo dengan ujung lengan jasnya.
"Oh Sehun," Kyungsoo memukul lengan Sehun pelan. Mau tidak mau ia tersenyum. Akhir-akhir ini, sahabatnya selalu tahu cara untuk menggoda. Yah, Kyungsoo tidak tahu sebabnya apa.
"Orang tua Kai yang tidak tahu diri," ucap Sehun dengan wajah muak. "Kai itu anak mereka. Kai tidak lahir dari rahimmu. Yang akan lahir dari rahimmu nanti anaknya Kai–"
"OH SEHUN!" Kyungsoo memukul lengan Sehun agak keras. Pipinya memerah padam. Sehun terkekeh geli. Tapi, ia tidak mempermasalahkan soal pukulan Kyungsoo yang lumayan, yah, sakit.
"–Tapi kenapa Kai yang sakit dan kau yang disalahkan. Harusnya mereka berkaca pada diri sendiri. Mereka yang salah. Mereka harusnya berterima kasih padamu, atau mungkin memberikan lima puluh persen sahamnya padamu karena sudah menjaga anak mereka," ucap Sehun dengan tatapan sengit, entah untuk siapa.
"Permainan saham tidak semudah itu, Oh Sehun," timpal Kyungsoo.
"Oh, baiklah, nona pengusaha muda."
Kyungsoo tidak menimpali Sehun kali ini. Kyungsoo lebih memilih diam. Kyungsoo tahu Sehun tidak akan ada habisnya. Sudah cukup Sehun menggodanya. Sehun selalu bisa membuat perasaan Kyungsoo lebih baik walaupun hanya dengan silly jokes atau spoof yang sebenarnya tidak terlalu lucu, hanya saja karena Sehun yang membawakan, semua hal jadi bisa ditertawakan.
Mereka kembali berjalan menyusuri koridor sambil bercanda. Sehun tak henti-hentinya tertawa karena mendengar penjelasan Kyungsoo soal bagaimana ibu Kai marah-marah. Terlihat sekali kalau ibu Kai terlalu stres dengan pekerjaannya hingga menjadi kolot. Dan itu menghibur Kyungsoo.
"Oh no."
Sehun menghentikan langkahnya saat mereka mencapai bagian depan gedung sekolah. Pandangannya tertuju pada halaman sekolah yang sudah mulai sepi. Kyungsoo yang bingung mengikuti arah pandangan Sehun. Dahinya berkerut bingung ketika mendapati seorang laki-laki dengan motor balap berwarna biru di sebelahnya. Kyungsoo menarik ujung jas almamater Sehun.
"Siapa ?" bisik Kyungsoo.
"Bukan siapa-siapa," jawab Sehun. Pipinya mulai memerah.
Kyungsoo kembali mengamati laki-laki yang sedang tersenyum ke arah mereka berdua. Ingatan Kyungsoo kembali ke beberapa hari lalu. Kyungsoo merasa sudah pernah melihat namja ini, tapi Kyungsoo tidak berani memastikan siapa dan kapan.
"Itu.. laki-laki yang mengantarmu ke rumah sakit minggu lalu, 'kan ?" tanya Kyungsoo.
Wajah Sehun makin memerah. Seringaian licik muncul di wajah Kyungsoo.
"Pacarmu, ya ?" tanya Kyungsoo sambil memukul lengan Sehun pelan.
"B-bukan, Do Kyungsoo!" jawab Sehun penuh penolakan.
"Oh Sehun, kita berteman sejak kita masih memakai popok."
Sehun mendnegus. Ia jadi menyesal pernah mengucapkan kalimat itu pada Kyungsoo. Senjata makan tuan. Sedangkan Kyungsoo terkikik puas melihat tingkah Sehun. Jarang sekali Sehun blushing dan malu seperti ini, karena biasanya Sehun yang membuat Kyungsoo seperti ini.
"Dia bukan pacarku. Dia tetanggaku. Tetangga baru yang tidak sopan," ucap Sehun penuh penekanan pada kata 'tidak sopan' sambil memandang sebal pada Luhan.
Kyungsoo kembali terkikik.
"Aku rasa dia menjemputmu. Tidak ada orang lain di sekolah ini yang kenal pada tetangga tidak sopan-mu itu," timpal Kyungsoo.
"Baiklah. Aku duluan, ya!"
Sehun berlari kecil-kecil meninggalkan Kyungsoo. Sebenarnya dia tidak sebal-sebal amat pada Luhan, akhir-akhir ini. Luhan tidak terasa semenyebalkan seperti saat pertama kali mereka bertemu. Apalagi setelah mereka tidur bersama waktu Sehun sakit. Sehun tidak pernah benar-benar marah pada Luhan, hanya pura-pura marah saja untuk menjaga gengsi. Yah, begitulah Sehun.
Saat Sehun hendak menuruni tangga menuju halaman sekolah, tiba-tiba ia didorong begitu kuat hingga terjungkal. Di saat Sehun merasakan pendengarannya menuli dan matanya mengabur, Sehun bisa mendengar suara sesuatu yang pecah tepat di belakangnya. Hingga tubuh Sehun mendarat dalam keadaan tersungkur di atas pafing.
"Sehun!"
Walaupun kepalanya pusing karena dahinya membentur pafing secara telak, Sehun masih bisa mendengar Luhan memanggil namanya. Hingga Sehun bisa merasakan tubuhnya diangkat dan diguncangkan.
Setelah mengalami fase yang namanya terombang-ambing antara sadar dan tidak sadar, pendengaran Sehun kembali normal. Terlinganya seperti bisa menyedot suara lagi setelah sepersekian detik kehilangan fungsinya. Hingga Sehun benar-benar bisa mendengar dan melihat dengan normal lagi.
Sehun melihat wajah Luhan di atasnya. Luhan kelihatan khawatir.
"Pusing ?" tanya Luhan panik. Sehun mengangguk.
Lalu Sehun menoleh ke atas untuk melihat apa yag sebenarnya terjadi. Sehun merasa di dorong dan ingin memaki siapapun yang berani-beraninya mendorong Sehun hingga terjungkal dari tangga.
Tapi, nafsu memarahi Sehun menghilang saat melihat Tao berada di lantai dua, sedang melongok ke bawah. Lalu kepalanya menghilang setelah menyadari bahwa Sehun melihat ke arahnya. Kemudian Sehun melihat ke arah di mana Tao melihat sebelumnya, tepat di bawahnya, Kyungsoo terkapar dengan kepala berdarah. Di sana juga ada Kris yang sedang berusaha membersihkan lukanya. Sedangkan di dekat Kyungsoo, ada banyak sekali pecahan keramik juga tanah.
"Apa yang terjadi ?" tanya Sehun sambil berusaha bangkit.
"Sehun, Sehun, jangan bergerak dulu," Luhan berusaha membantu Sehun berdiri.
Sehun menepis tangan Luhan, lalu ia mulai menaiki tangga menyusul Kyungsoo. Sehun tidak tahu apa yang terjadi. Segalanya begitu cepat sampai-sampai Sehun tidak tahu harus berbuat apa. Yang ia lakukan hanyalah berusaha mendekati Kyungsoo yang sudah tidak sadarkan diri.
"Kyungsoo kenapa ?" tanya Sehun.
"Dia menyelamatkanmu," jawab Kris sambil terus berusaha menutup luka menganga di kepala Kyungsoo. Wajah datarnya keliatan tegang luar biasa.
"Maksudmu ?" Sehun menyibak poni Kyungsoo.
"Ceritanya nanti saja. Sekarang kita harus membawa Kyungsoo ke rumah sakit. Pendarahannya luar biasa."
.
.
.
.
Sehun tidak bisa berhenti menangis. Sehun terus menyalahkan dirinya sendiri setelah mendengar penjelasan Kris. Bahkan Luhan sudah kehabisan akal Sehun harus diapakan. Berbagai cara sudah Luhan lakukan untuk membuat Sehun berhenti menangis. Tapi hasilnya nihil.
Kata Kris, saat Sehun hendak menuruni tangga, sebuah pot terjatuh dari balkon lantai dua tepat menuju ke arah Sehun. Kyungsoo reflek mengejar dan mendorong Sehun menjauh. Akan tetapi, naas bagi Kyungsoo. Kyungsoo berhasil menyelamatkan Sehun, tapi ia tidak berhasil menyelamatkan dirinya sendiri. Dan setelah Kris mengatakan Kyungsoo harus dioperasi, Sehun terus menangis dan tidak berhenti menyalahkan dirinya sendiri.
Hingga sekarang.
Kris datang setelah tiga puluh menit menghilang. Kris membawa tiga gelas kopi panas dan sebotol air mineral. Lalu, Kris mengoperkan gelas-gelas itu pada Sehun dan Luhan.
"Sudah dua jam. Kalian pasti lelah," ucap Kris.
Mereka masih di depan ruang operasi sejak dua jam yang lalu.
"Minum ini," ucap Luhan sambil merengkuh bahu Sehun agar ia mau mengangkat wajahnya yang sedari tadi ia sembunyikan diantara pahanya.
"Aku tidak minum kopi," sahut Sehun sambil mengangkat wajahnya. Rambutnya berantakkan, wajahnya memerah, basah, dan matanya mulai membengkak.
"Kalau begitu, minum ini saja," Kris mengoperkan sebotol air menaral.
Luhan menerima botol itu, lalu membukakannya untuk Sehun. Sehun minum air mineral itu dengan cepat. Luhan mau tidak mau tersenyum melihat tingkah Sehun. Dua jam menangis ternyata cukup untuk membuat Sehun haus luar biasa.
Hening untuk beberapa saat. Tidak ada satupun yang berbicara di antara mereka. Hanya sesekali terdengar suara kopi diseruput, bergantian antara Luhan dan Kris, sedangkan Sehun sudah lelah menangis. Sehun bersandar pada dada Luhan dan tangan Luhan melingkar di bahunya. Matanya kian kuyu, bersiap untuk tidur.
"Pasti ada petunjuk soal ini," ucap Sehun tiba-tiba dengan suara pelan.
"Pasti ada," timpal Luhan.
Bahu Sehun menegang. Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Sesaat setelah Sehun terjungkal dan Kyungsoo tertimpa pot tanaman, Sehun melihat Tao jelas-jelas berada tepat di atas mereka. Prasangka buruk Sehun langsung mengarah pada Tao.
"Aku rasa aku tahu siapa pelakunya," ucap Sehun sambil mengangkat kepalanya dari dada Luhan.
Luhan dan Kris menegakkan posisi duduknya, mencoba mendengarkan penjelasan Sehun. Tapi, ekspresi wajah mereka tidak terbaca.
"Tadi, setelah aku jatuh, aku.. aku.." Sehun tidak sanggup menyelesaikan kata-katanya. Sehun kembali menangis.
"Katakan saja," Luhan mengusap puncak kepala Sehun.
"Aku.. aku melihat Tao di lantai dua. Ini prasangka burukku saja. Aku merasa Tao sengaja menjatuhkan pot itu."
Sehun menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Sehun kembali menangis sesenggukan.
"Aku rasa Tao ingin melukaiku. Sebenarnya aku sudah curiga pada Tao sejak awal. Hampir semua bukti mengarah padanya. Bahkan saat Chanyeol tenggelam. Tao tidak pernah bebricara padaku lagi. Sejak insiden cairan pembersih lantai, aku masih beruntung. Kris menyelamatkanku. Ta-tapi setelah itu, orang-orang terdekatku yang terluka. Kai, Baekhyun, Kyungsoo. Seharusnya aku yang dioperasi di dalam, bukan Kyungsoo," tangisan Sehun menjadi. Bicaranya jadi kacau dan agak tidak koheren. "Maafkan aku Kris. Aku sudah berprasangka buruk padamu."
Kris diam saja.
"Tapi tidak mungkin Tao sengaja berbuat seperti itu. Tao temanku. Pasti ada alasan lain."
Sehun melemas. Luhan menarik Sehun ke dalam pelukannya, membiarkan Sehun kembali membasahi jaket baseball-nya.
"Bukan, Oh Sehun," Kris membuka suara. Sehun mengangkat wajahnya. "Pelakunya memang Tao. Dia dibalik semua ini."
Sehun mengernyitkan dahinya bingung. Luhan sedikit lega karena setidaknya tangisan Sehun berhenti untuk sesaat.
"Apa maksudmu, Kris ?"
"Bukan. Targetnya bukan kau," lanjut Kris. Sehun membulatkan matanya.
"La-lalu ?"
"Targetnya–"
Luhan dan Kris saling tatap. Entahlah, mereka kelihatan aneh. Seingat Sehun, Luhan dan Kris belum saling kenal. Tapi, kenapa hanya untuk mengatakan sesuatu Kris seolah meminta persetujuan, atau mungkin bantuan pada Luhan ?
"Siapa Kris ?" desak Sehun.
Kris kembali menatap Luhan, lalu menundukkan wajahnya. Kris melipat kedua tangannya di depan dada. Kris kelihatan sedang berfikir keras.
"Target Tao adalah, aku."
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
.
.
Ditunggu review nya ^^
