Memories © 2013 Sansan Kurai
Super Junior © SM Entertainment
Other © Their own management
Friendship
Kriiingggggg~
Krrrrriiiiiinnnnggggg~
Krrrriiiiiiiinnnngggggggggg~
Alarm itu berdering sangat keras tapi tak mampu membangunkan Henry yang tengah tertidur pulas. Henry hanya menggeliatkan tubuhnya lalu kembali tidur. Namun alarm yang terus berdering itu akhirnya membuat Henry membuka matanya dengan malas. Ditatapnya alarm yang terus berdering itu. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Henry mengambilnya lalu mematikannya dan kembali meletakkannya di atas meja.
Henry terduduk di atas tempat tidur sembari mengucek matanya. Dengan setengah nyawa yang terkumpul, Henry menatap kamarnya sejenak. Setelah mendesah sesaat Henry memejamkan matanya, rasa kantuk masih menyerang dirinya. Ia berniat merebahkan tubuhnya lagi saat tiba-tiba bel apartemennya berbunyi. Dengan langkah malas Henry pun turun dari tempat tidurnya dan berjalan limbung menuju pintu apartemennya.
"Siapa.." gumam Henry sembari membuka pintu.
"Astaga~ Kau baru saja bangun tidur?"
Henry menatap orang dihadapannya lekat-lekat. Berusaha mengenali siapa orang itu. Bahkan Henry sampai mendekatkan wajahnya hingga membuat orang dihadapannya terkikik geli melihat wajah mengantuk Henry.
"Aku Hankyung hyung, Henry.."
"Oh~"
Hanya itu tanggapan yang keluar dari mulut Henry. Setelahnya Henry kembali masuk ke dalam sembari mengacak rambutnya. Henry pun merubuhkan dirinya diatas sofa dan kembali tertidur. Hankyung yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya. Ia nampak mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang sembari terkikik geli.
Henry terbangun dan terkejut saat mendapati dirinya tengah tertidur diatas sofa. Seingatnya semalam ia tidur diatas tempat tidurnya.
"Kau sudah bangun, eoh?"
Mendengar sapaan itu membuat Henry hampir berteriak. Melihat keterkejutan Henry, orang itu pun tertawa keras.
"Astaga! Hankyung hyung! Kau mengagetkanku!" seru Henry sembari mengelus dadanya. "Eh, bagaimana hyung bisa masuk?"
"Bukankah tadi kau yang membukakan pintu," jawab Hankyung. "Apa kau terkena amnesia? Atau nyawamu belum terkumpul? Atau kau masih mengantuk?"
Henry hanya terdiam mendengar celotehan sunbae dihadapannya. Henry melirik jam tangannya dan terkejut saat jam telah menunjukkan pukul 5 sore.
"Kau tidur dengan menggunakan itu?"
Henry melihat dirinya sendiri saat Hankyung menunjuk dirinya dan Henry hanya mengangguk malu. Ia tertidur masih dengan menggunakan seragam sekolahnya. Henry bisa melihat jika sunbaenya tengah menggelengkan kepalanya.
"Emm, ada apa Hankyung hyung kemari?" tanya Henry.
"Membantumu untuk pindah ke asrama, bukankah hari ini kau pindah ke asrama?" Henry menganggukkan kepalanya. "Kenapa kau belum bersiap? Sebaiknya kau keluarkan barang-barang yang akan kau bawa, setelah itu kau mandi. Nanti aku yang akan mengepak semuanya."
"Ta.. Tapi.."
"Aku tak mau menerima bantahan, hoobae!" tegas Hankyung. Henry yang tak bisa berkata-kata pun akhirnya menuruti perkataan Hankyung. Henry melangkahkan kakinya menuju kamar dan segera mengeluarkan pakaian serta barang-barangnya dari dalam lemari. Tak lupa seluruh buku pelajarannya. Semuanya ia letakkan di atas ranjang.
"Hankyung hyung," panggil Henry takut-takut. Hankyung yang tengah duduk sembari membaca majalah pun menoleh.
"Sudah semua?" Henry mengangguk mendengar pertanyaan Hankyung. "Kalau begitu kau mandilah, akan kubereskan semuanya." Henry sebenarnya tak ingin merepotkan sunbaenya itu, namun melihat keyakinan dimata sunbaenya akhirnya Henry pergi juga ke kamar mandi setelah mengambil pakaian ganti dan handuk.
Tak butuh waktu lama bagi Henry untuk mandi, 20 menit kemudian Henry keluar dengan rambut basah dan terlihat lebih segar. Henry mendekati Hankyung yang tengah terduduk di lantai dan menyandarkan tubuhnya pada sisi ranjang sembari membaca majalah. Pria itu terlihat sangat suka sekali membaca majalah.
"Oh~ Kau sudah selesai Henry?" Henry mengangguk. "Bagaimana? Apa benar sudah semua? Ternyata barangmu lebih sedikit dari yang aku kira."
"Iya, ini sudah semua. Terima kasih sudah membantuku membereskannya hyung."
"Tak perlu sungkan.." Henry melihat Hankyung tengah mengamati jamnya lalu menepuk tangannya keras. "Nah, kalau begitu kita pergi sekarang jika tak ada lagi yang harus kau bawa."
"Hanya tinggal sepatuku hyung dan aku bisa sendiri." Henry bergegas menuju rak yang terletak di dekat pintu apartemen. Henry meletakkan sepatu-sepatunya ke dalam kotak sepatu lalu memasukkannya ke dalam kantong plastik. Dilihatnya Hankyung tengah membawa 2 koper serta satu tas tangan yang lumayan besar dan terlihat sangat berat. Henry pun mendekati sunbaenya.
"Pergilah ambil tas biola dan tas sekolahmu, aku tunggu di luar," ucap Hankyung sebelum Henry sempat mengucapkan apapun untuk meringankan sedikit beban sunbaenya. Henry mendesah pelan lalu kembali ke kamarnya untuk mengambil tas sekolah serta tas biolanya yang sangat berharga.
Setelah menyambar kantong plastik yang berisi sepatu, Henry segera keluar dari apartemen. Tak ingin membuat subaenya menunggu lebih lama lagi. Diluar gerbang apartemen, Henry bisa melihat bahwa Hankyung tengah memasukkan kopernya ke dalam taxi begitu juga dengan tas yang satunya. Henry berjalan sedikit lebih cepat, namun sesampainya disisi taxi Hankyung telah selesai memasukkan koper dan tas Henry ke dalam bagasi.
"Oh iya.. Barang-barangmu yang lain..."
"Tak apa hyung, aku sudah membayar sewa apartemen itu untuk 3 tahun kedepan. Jadi tak apa aku meninggalkan televisi dan yang lainnya." Hankyung mengangguk dan segera masuk ke dalam taxi diikuti oleh Henry. Setelah Hankyung menyebutkan alamatnya, pengemudi taxi segera menjalankan taxi.
Henry mengamati Hankyung yang nampak memainkan ponselnya. Henry ingin mengajak Hankyung bicara, tapi ia tak tahu apa yang harus ia katakan. Henry tak tahu bagaimana memulai pembicaraan. Henry menatap keluar jendela sembari sedikit memajukan bibirnya karena ia merasa kecewa pada dirinya sendiri.
"Henry, kau akan sekamar dengan Leeteuk, kan?"
"Iya, hyung," jawab Henry sembari menatap Hankyung.
"Baguslah.. Anak itu tak penah mau tidur dengan siapapun.. Tapi setelah kami dengar ia memiliki seorang partner dan akan sekamar dengannya, kurasa kau akan sedikit banyak membantu kami untuk menjaganya."
"Menjaganya? Menjaga Leeteuk hyung?" tanya Henry tak mengerti. Hankyung menganggukkan kepalanya tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya. "Kenapa?"
"Nanti kau juga akan tahu sendiri.." jawab Hankyung. "Aku tak berhak menyampaikannya padamu. Biarkan Leeteuk sendiri yang akan menyampaikannya padamu nanti." Henry terdiam mendengar penuturan Hankyung.
"Sebenarnya..." Hankyung menatap Henry saat Henry terdiam. Henry melirik Hankyung sejenak sebelum melanjutkan. "Sebenarnya Leeteuk hyung orang yang seperti apa?"
"Leeteuk itu orang yang sangat penyayang," jawab Hankyung sembari menunjukkan senyum lembutnya. "Jika ia sudah menyukai orang itu, ia akan memberikan seluruh rasa sayangnya pada orang itu."
"Hanya.. itu?"
"Kau mau mengetahui apa lagi darinya?" tanya Hankyung. "Dia hanya orang yang terlalu baik dan terlalu jenius. Ia bisa mengetahui segalanya hanya dengan melihat. Dan dia juga orang yang hangat. Kau tak perlu takut Henry, jika ia mengatakan akan bertanggung jawab atas dirimu dia pasti akan melakukannya. Dan itu berarti.. dia menyayangimu Henry.."
Henry semakin terdiam mendengar penuturan Hankyung. Selama ini Henry tak pernah mendapat perlakuan baik dari teman-temannya. Banyak yang mengatakan bahwa ia hanya anak sombong dan nakal. Dan ia tahu apa yang membuat teman-teman sekelasnya dulu berfikir seperti itu. Henry orang yang pemalu dan pendiam. Ia tak pernah berani untuk memulai pembicaraan dengan orang lain. Ia juga tak pandai bergaul. Ia juga tak bisa mebela dirinya sendiri.
Tanpa sepengetahuan Henry, Hankyung terus melirik Henry yang tengah melamun. Hankyung sebenarnya ingin mengenal lebih dekat lagi siapa Henry sebenarnya. Namun melihat Henry yang terus terdiam membuat Hankyung paham seperti apa Henry dan ia yakin Henry akan mampu menjaga Leeteuk untuk mereka sampai hari itu tiba.
"I.. Ini asramanya?" Henry menatap gedung besar dihadapannya dengan tatapan tak percaya.
"Yups.. Inilah Light House," jawab Hankyung sembari menurunkan barang-barang Henry dari bagasi taxi. Henry melangkah mendekati gerbang yang tak setinggi gerbang sekolahnya, namun cukup untuk membuat para pencuri kewalahan untuk memanjatnya. "Ayo masuk.."
Hankyung kembali membawa koper-koper serta tas Henry dan membawanya masuk melewati gerbang yang sudah terbuka itu. Henry mengikuti Hankyung dari belakang sembari melihat sekeliling asrama yang terlihat sangat sunyi. Henry bisa merasakan kenyamanan saat pertama kali menapakkan kakinya di halaman asrama.
Gedung yang indah, halaman yang luas, taman yang terlihat sangat nyaman dan semuanya terlihat sangat terawat. Henry terus mengedarkan pandangannya kesekeliling hingga tak menyadari bahwa ada seseorang yang tengah menatapnya dengan geli sembari menyandarkan dirinya di pintu masuk asrama. Hankyung mengangguk singkat pada orang itu sembari melempar senyum gelinya.
"Sampai kapan kau akan berdiri di sana Henry?"
"Sunbae.."
"Sudah berapa kali ku bilang, jangan panggil aku seperti itu.."
"I.. Iya Leeteuk hyung.." gumam Henry sembari berjalan mendekat ke arah Leeteuk.
"Bagaimana perjalananmu?"
"Emm.. Menyenangkan.." ucap Henry. Leeteuk mengacak rambut Henry pelan lalu segera menggandengnya masuk ke dalam asrama.
"Selamat datang!"
Seruan itu membuat Henry menghentikan langkahnya dan menatap sunbae-sunbae serta ketiga teman sebayanya yang tengah bertepuk tangan sambil sesekali meniup terompet dan berseru-seru seakan itu adalah acara penyambutan tahun baru.
"Selamat datang Henry.." ucap Leeteuk sembari memeluk tubuh Henry dari samping. Henry terdiam dan malah menundukkan kepalanya membuat seluruh penghuni asrama menghentikan kegiatan mereka. Leeteuk yang berada disisi Henry memiringkan kepalanya untuk menatap wajah Henry.
"Hey, kenapa kau menangis?" tanya Leeteuk saat melihat air mata terjatuh dari pelupuk mata Henry sedangkan Henry hanya menggelengkan kepalanya dan semakin menundukkan kepalanya. Leeteuk langsung memeluk Henry dan membelai punggungnya pelan. "Sssssttt... Sudah, jangan menangis.."
Henry terus terisak dipelukan Leeteuk membuat seluruh penghuni asrama semakin kebingungan. Yesung yang pertama kali memberanikan diri untuk mendekati Henry dan Leeteuk.
"Henry, ada apa? Apa kau tak suka dengan pesta penyambutan ini?" tanya Yesung yang merasa bersalah.
Henry melepas pelukan Leeteuk dan menggeleng pelan sembari menghapus jejak-jejak air matanya. Leeteuk menatap Henry sembari tersenyum lembut.
"Terima kasih atas pesta penyambutannya.." ucap Henry pelan namun dapat membuat perasaan seluruh penghuni asrama lega karena Henry tak marah dengan pesta penyambutan itu.
"Nah~ mari kita nikmati pesta kecil-kecilan ini!" seru Hankyung yang langsung disambut oleh teriakan setuju dari seluruh penghuni asrama. Leeteuk menggandeng tangan Henry dan membawanya masuk ke dalam pesta kecil-kecilan itu.
Penghuni asrama Light House baru saja menyelesaikan pesta kecil-kecilan mereka untuk menyambut kedatangan Henry di asrama dan sekarang ini jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Saat ini seluruh penghuni asrama telah kembali ke kamarnya masing-masing untuk beristirahat. Henry dibawa oleh Leeteuk menuju kamarnya. Henry terus saja berdiam diri selama Leeteuk membawa ke kamarnya.
"Silahkan masuk.." ujar Leeteuk sembari membuka pintu kamarnya. Henry hanya mengangguk sekali lalu segera masuk.
Apa yang ditangkap matanya saat pertama kali masuk ke kamar itu adalah, satu buah foto sunrise yang begitu besar terpasang di tembok kamar itu. Entah kenapa, Henry seperti benar-benar melihat sunrise saat ini.
"Baguskan?" Pertanyaan dari Leeteuk itu membuat Henry sedikit terkejut namun Henry menganggukkan kepalanya. "Shindong yang mengambil foto itu dan aku benar-benar menyukainya, seakan aku benar-benar berada di pantai dan tengah melihat matahari terbit."
"Hyung suka pantai?" tanya Henry sembari meletakkan tas-tasnya di atas lantai kamar.
"Sangat.. Aku ingin sekali bermain ke sana.. Tapi aku tak mempunyai waktu.."
"Bagaimana kalau libur sekolah kita pergi berlibur ke pantai?" Henry melihat Leeteuk hanya tersenyum menanggapi ajakan dirinya. Leeteuk lalu mulai sibuk dengan ponsel yang ada ditangannya sembari berbaring di ranjang.
Henry kembali mengedarkan pandangannya keseluruh pelosok kamar. Ruangan itu terbagi menjadi dua bagian yang terpisah dengan dua buah meja belajar berukuran sama. Disebelah kiri adalah wilayah milik Leeteuk. Semua barang-barang Leeteuk tertata sangat rapi dan semuanya kebanyakan berwana putih. Dan Henry memahami satu hal, sunbaenya ini menyukai warna putih sama seperti dirinya yang juga menyukai wana putih, namun Henry lebih menyukai warna merah.
Dibagian sebelah kanan inilah yang akan menjadi wilayah Henry. Wilayah itu juga terlihat bersih dan rapi. Semuanya berwarna krem, mulai dari tempat tidur, lemari hingga meja belajar dan Henry mulai membongkar isi tasnya dan meletakkannya di dalam lemari.
"Maukah kau memainkan biola untukku malam ini?"
"Eh?" Henry yang tengah menata buku pelajarannya di atas meja belajarpun menoleh pada Leeteuk.
"Biola.. Mainkan biola untukku.."
Henry menganggukkan kepalanya dan meninggalkan kegiatannya untuk berberes. Henry mengambil tas biolanya dan mengeluarkan biola berwarna merah dari dalamnya.
"Hyung ingin aku memainkan lagu apa?" tanya Henry sembari memposisikan biolanya.
"Hmm.. Kiss The Rain.." jawab Leeteuk setelah berfikir sejenak.
"Ok.." Henry menyanggupi permintaan Leeteuk dan mulai memainkan lagu milik pianis dari Korea Selatan itu dengan sangat indah. Leeteuk terlihat menghentikan kesibukannya bermain ponsel dan mulai menikmati permainan biola Henry. Matanya pun terpejam dan wajahnya yang sedikit pucat itu nampak berseri-seri. Henry yang melihat itu pun merasa bangga karena bisa membuat sunbaenya merasa senang.
Selesai Henry memainkan lagu Kiss The Rain, terlihat Leeteuk sudah tertidur dengan damai. Perlahan Henry menurunkan biola dari bahunya dan menatap sendu biola yang ada ditangannya. Henry memeluknya sejenak lalu mengembalikannya ke dalam tas. Henry kembali melanjutkan kegiatannya membereskan barang-barang dengan pelan karena takut membangunkan sunbaenya yang telah tertidur lelap.
Matahari telah kembali menyinari bumi, burung-burungpun tak hentinya bersahut-sahutan di atas pohon. Diatas tempat tidurnya, Henry menggeliat sejenak lalu kembali memeluk gulingnya. Perlahan matanya terbuka dan mengerjap-ngerjap pelan, saat matanya telah terbiasa dengan cahaya yang ada ia pun keheranan saat melihat ranjang sunbaenya telah rapi. Perlahan Henry bangun dari ranjangnya dan terduduk. Menatap ranjang sunbaenya dengan wajah mengantuk.
"Ke mana Leeteuk hyung?" gumam Henry sembari mengacak-acak rambutnya pelan. Ia pun bangkit dari ranjangnya dan berjalan ke luar kamar hendak mencari hyung yang sekamar dengannya. Perlahan kedua kakinya membawanya menuju meja makan yang terletak tak jauh dari kamarnya.
"Oh~ Kau baru bangun Henry?"
Pertanyaan dari Shindong membuat Henry membungkukkan badannya sedikit dan berjalan pelan menuju meja makan. Beberapa sunbaenya berada di sana dan ketiga teman sebayanya juga.
"Leeteuk hyung dimana?" tanya Henry sesaat setelah ia mendudukkan diri di sebelah Heechul sembari mengucek matanya.
"Sudah berangkat ke sekolah," jawab Kangin sembari memasukkan potongan sandwich ke dalam mulutnya.
"Eh?" Henry menatap jam dinding yang ada di ruang itu dan menatap sunbaenya dengan tatapan shock. "Jam 6 pagi?"
"Dia selalu berangkat pagi-pagi sekali." Kali ini Heechul yang menjawabnya. "Sebaiknya kau mandi dan bersiaplah jika kau tak ingin terlambat."
"Hmm.." gumam Henry sembari beranjak dari ruang makan dan segera menghilang dari kamarnya.
Sementara itu di meja makan, mereka tengah saling menatap, tatapan kebingungan dan khawatir.
"Dia.. belum mengetahuinya?" tanya Kyuhyun pelan.
"Aku rasa belum Kyu," jawab Hankyung.
"Biarkan Leeteuk sendiri yang mengatakannya padanya.." sambung Heechul dengan suara lelahnya.
Henry berpisah dengan Kyuhyun dan Ryeowook di depan pintu kelas 1-B. Henry yang biasanya masuk melalui pintu belakang kelas pun harus mengalah melewati pintu masuk yang berada di depan kelas karena ada beberapa orang murid yang tengah mengobrol di depan pintu itu dan Henry tak ingin mengganggu mereka.
Di dalam kelas hanya ada enam orang anak laki-laki dan dua orang anak perempuan. Saat Henry masuk, mereka semua nampak melirik Henry sekilas lalu kembali sibuk mengobrol. Sedangkan Henry lebih memilih untuk langsung menuju tempat duduknya. Henry meletakkan tas sekolahnya di atas meja dan sedang akan meletakkan tas biolanya di bawah meja ketika ia melihat sesuatu dibangku teman yang duduk di depannya.
Henry memiringkan kepalanya untuk melihat lebih jelas dan ia kaget saat melihat begitu banyak lem di bangku temannya itu. Henry menatap ke delapan teman sekelasnya yang tengah asyik mengobrol lalu kembali menatap bangku temannya. Tanpa berpikir panjang, Henry mengambil buku tulis kosong di dalam tasnya, lalu menyobek bagian tengahnya dan meletakkan kertas-kertas itu di bangku temannya yang penuh dengan lem itu.
Sejenak Henry mendengus, ia tak habis pikir ada yang akan mengerjai teman sekelasnya sejahat itu. Setelah selesai menutupi bangku temannya dengan sobekan kertas dari bukunya, Henry menghempaskan diri ke bangkunya sendiri. Saat Henry akan mengeluarkan buku musiknya, tiba-tiba bel tanda masuk berbunyi. Dengan kecewa Henry kembali memasukkan buku musiknya dan mulai mengeluarkan buku-buku pelajarannya ketika guru serta teman-teman sekelasnya masuk.
Henry tengah menggantung tas sekolahnya di sisi meja ketika teman yang duduk di hadapannya berseru hingga membuat seisi kelas menatap temannya itu termasuk Henry.
"Ada apa?" tanya sang guru yang nampaknya juga terkejut mendengar teriakan dari murid perempuannya itu.
"Pak, ada yang mau mengerjai saya!"jawab murid itu dengan kesal.
Sang gurupun mendekati meja muridnya dengan kening berkerut dan sang guru pun paham apa yang dimaksudkan sang murid.
"Siapa yang berani melakukan ini?" tanya sang guru dengan nada penuh wibawa. Teman dihadapan Henry memunguti kertas-kertas yang diletakkan Henry di bangku itu dengan kesal. Namun sesaat kemudian ia berhenti dan nampak mengamati kertas di tangannya.
"He.. Hen.. Ry.. La.. Lau..Henry Lau.. Henry?!" seru gadis itu. Henry yang sedang membuka buku peajarannya pun terlonjak.
"Apa?" tanya Henry pelan.
"Kau kan yang melakukan ini!" seru gadis itu sembari menunjukkan kertas lengket ditangannya.
"Aku memang meletakkan kertas itu.. Tapi aku tak tahu siapa yang.."
"Jangan berbohong!" bentak gadis itu. Henry terdiam mendengar bentakan itu. Ia bisa merasakan bahwa kini seisi kelas tengan menatapnya, begitu juga dengan gurunya.
"Aku tak menyangka kau akan melakukan hal kekanak-kanakan seperti ini Henry!" marah gadis itu.
"A.. Apa?"
"Henry.. Kau tahukan dilarang melakukan hal-hal yang merugikan orang lain seperti ini?" tegur sang guru. "Sekarang keluar.. Pagi ini kau tak boleh ikut pelajaran Bapak.."
"Ta.. Tapi Pak.."
"Tak ada tapi-tapian Henry Lau.." tegas guru itu. "Sekarang keluar dan jangan masuk sebelum Bapak menyelesaikan kegiatan belajar mengajar."
Henry terdiam di tempat duduknya. Jari-jarinya mengepal menahan amarah. Henry bangkit dari bangkunya sembari memukul meja sedikit keras, membuat sang guru yang tengah kembali ke depan menoleh pada Henry.
"Saya tak peduli jika Bapak dan kalian semua tak mempercayai saya," ujar Henry sembari menahan marah dan tangisnya. "Tapi saya tak akan melakukan hal kekanak-kanakan seperti itu!"
Dengan langkah cepat Henry meninggalkan ruang kelasnya, tak ingin berada di tempat itu lebih lama lagi. Dadanya terasa sesak saat mendapat perlakuan seperti itu dari mereka. Henry mati-matian menahan tangisnya dan berjalan cepat menuju atap sekolah. Ia ingin menenangkan diri.
Sesampainya di atap sekolah, Henry memilih tempat dibagian ujung yang sedikit terlindung dari sinar matahari pagi. Henry mendudukkan dirinya disana, menekuk kedua lututnya, membenamkan wajahnya dan mulai menangis dalam diam.
Henry tak menyangka akan mendapatkan perlakuan seperti itu lagi di sekolah barunya. Ia pikir, semua siksaan itu akan berakhir. Namun ternyata ia salah. Ia masih saja selalu disalahkan untuk sesuatu yang tak pernah ia lakukan. Hatinya benar-benar sakit.
Henry menjadi merasa bahwa dirinya tak dibutuhkan di dunia ini. Kedua orang tuanya tak pernah memperhatikannya, yang mereka perhatikan hanya pekerjaan dan pekerjaan. Selain itu ia juga tak memiliki sahabat yang benar-benar mengerti dirinya.
Perlahan Henry mengangkat wajahnya. Mata dan wajahnya sudah basah oleh air mata. Dengan lunglai Henry berdiri dan berjalan menuju pinggir gedung. Matanya tak begitu fokus, langkahnya pun kadang terseok-seok. Henry berpegangan pada pinggir gedung itu dan menatap kebawah dengan tatapan kosong. Air mata kembali meluncur dari mata Henry. Tangan kanannya menggenggam dan dipukul-pukulkannya kedadanya untuk menghilangkan rasa sakit hatinya. Henry menundukkan kepalanya dan kembali menangis, kali ini isakan keluar dari bibirnya.
"Henry.."
Panggilan yang sangat pelan itu tak tertangkap oleh indra pendengaran Henry..
"Henry.."
Sekali lagi dan lebih keras, namun Henry tetap tak mendengarnya..
"Henry.."
Henry mengangkat wajahnya dan nampak terdiam beberapa saat. Namun yang terjadi selanjutnya adalah Henry mengangkat kakinya hendak memanjat pinggir gedung itu.
"Henry!"
Orang yang sedari tadi memanggil Henry akhirnya berlari mengejar Henry sebelum Henry nekat untuk terjun dari atap gedung. Henry yang terkejut pun tertarik kebelakang. Tubuhnya jatuh menindih orang yang tengah 'menyelamatkan' nyawanya. Henry segera bangkit dan terkejut saat orang itu nampak meringis kesakitan dibawah bayang-bayang tubuhnya.
"Leeteuk Hyung! Hyung! Hyung baik-baik saja?"
"Henry.. Mataharinya.."
"Hah? Apa?"
Henry menarik Leeteuk untuk bangun dan terkejut saat melihat luka bakar di kedua tangan hyungnya.
"Hy.. Hyung.. tanganmu.."
Leeteuk menarik Henry cepat menghindar dari pinggir gedung dan terengah-engah saat telah sampai di tangga.
"Hyu.. Hyung.."
to be continued..
update chapter 3..
ternyata respon buat fanfic ini tak begitu bagus ya.. *sigh*tapi tak apa lah.. saya akan tetap melanjutkannya..
terima kasih yang sudah memberi review di kotak review, PM dan facebook...
dan sekali lagi, terima kasih untuk para silent readers..
hah~ maaf jika chapter yang ini seperti ini..
sepertinya chapter ini juga akan mengecewakan kalian.. *sigh*
ya sudahlah...
terima kasih yang sudah menikmati chapter ini.. ^^
sampai bertemu di chapter selanjutnya.. ;)
