Tittle : Thriller

Author : Katniss Jung

Chapter : 5 of ?

Casts :

Oh Sehun

Lu Han

Genre : Fantasy, horror, thriller, romance, drama

Type : Chaptered

Alert : HanHun, HunHan, Gender Switch, Sehun!Girl, Luhan!Boy

Summary : Jangan pilih aku jika kau benci kegelapan. Jangan pilih aku jika kau benci sepi. Karena, saat kau bersamaku, kau akan merasakan apa yang namanya gelap dan sepi, hanya ada kita berdua.

.

.


.

.

Hai semuanya! Chapter 5 datang!

Ya ampun aku bahagia banget. Reviews nya nyaris 50. Ya walaupun ada ratusan siders yang tidak meninggalkan review, tapi aku tetep seneng. Aku lihat di stats ada 1800an views dan itu keren banget!

Terima kasih buat semuanya yang udah mau baca FF aku.

Langsung aja ya.

Check this out! ^^

.

.


.

.

"Target Tao adalah, aku."

Sehun melongo saat mendengar penuturan Kris. Logikanya tidak bisa sampai pada fakta bahwa Tao mengincar Kris, bukan dirinya. Apalagi yang terluka adalah orang-orang terdekat Sehun. Sementara Sehun sama sekali tidak merasa dekat dengan Kris. Jadi, argumen Kris yang barusan agak sulit diproses oleh otak Sehun.

"Kau ingat saat aku mencegahmu melintasi koridor lantai satu ?" Sehun mengangguk. "Sebenarnya, aku sudah berada di sana sejak beberapa waktu sebelumnya. Aku nyaris terpeleset juga. Makanya aku berjaga dan mencegah siapapun yang ingin lewat sana agar tidak jatuh korban."

Pipi Sehun memerah. Oh, jadi yang diselamatkan Kris bukan hanya Sehun. Ada yang lain.

"Tapi, aku sudah pergi sebelum memastikan cleaning service membersihkan kekacauan. Makanya temanmu Kai itu bisa sampai begini," lanjut Kris.

Sehun dan Luhan masih diam, berusaha menjadi pendengar yang baik.

"Lalu, kau masih ingat saat Chanyeol tenggelam di kolam renang ?" Sehun kembali mengangguk. "Chanyeol bilang dia mendapat undangan, dipancing naik ke papan pelompat, lalu didorong. Chanyeol dan aku duduk sebangku. Jadi, Tao mengirim surat undangan untukku tapi ia letakkan di meja Chanyeol. Aku rasa dia kurang informasi, atau apalah, makanya salah meletakkan. Lalu, jadilah Chanyeol korbannya. Tao tetap mendorong Chanyeol karena kami memiliki bentuk fisik yang nyaris sama. Jadi, Tao mengira yang ia dorong itu aku. Padahal sebenarnya Chanyeol."

Otak Sehun melakukan flashback. Sehun teringat saat ia nyaris bertabrakan dengan Tao di koridor dekat kolam renang. Saat itu Sehun sama sekali tidak menaruh kecurigaan pada Tao, karena gedung olahraga tepat berada di sebelah gedung kolam renang. Jadi, bisa saja 'kan Tao datangnya dari sana ?

Argumennya dipatahkan oleh fakta.

"Dan untuk kejadian Baekhyun, kasusnya nyaris sama seperti kau dan Kai. Hanya saja, aku sempat lengah. Baekhyun sudah terlanjur terpeleset. Yang bisa aku lakukan hanyalah berusaha menangkap Baekhyun agar kakinya tidak patah. Tapi ternyata, ia tetap jatuh. Yah, walaupun hanya mengalami keseleo," tambah Kris.

O.K., logika Sehun mulai bisa menerima.

"Lalu, untuk kasus Kyungsoo, ini yang terparah. Saat kau dan Kyungsoo berjalan menuju halaman sekolah, aku mengekor di belakang kalian. Tao melihat aku dan dia merasa punya peluang. Tao bodoh, dia salah perhitungan. Seharusnya dia menunggu sesaat untuk membiarkan kalian berdua lewat baru menjatuhkannya tepat di tempurung kepalaku. Tapi, dia langsung main menjatuhkan saja saat mendengar suara langkah kaki dari bawah. Dan itu suara kakimu, Sehun. Kyungsoo yang melihat ada pot yang jatuh langsung mendorongmu menjauh. Sial bagi Kyungsoo, pot itu malah menimpa kepalanya sendiri."

Air mata Sehun kembali memenuhi kantung matanya.

"Intinya. Tao selalu gagal untuk membunuhku. Tao tidak punya perhitungan yang matang. Dia licik, tapi dia tidak perhitungan," tutup Kris.

Sehun memijat pelipisnya yang berkedut. Kepalanya terlampau pusing. Sudah terbentur pafing, kelamaan menangis, dan sekarang otaknya dipaksa untuk melogiskan semua informasi yang baru saja diterimanya. Sehun rasanya ingin mati.

"Apa tujuan Tao ingin mencelakaimu ?" tanya Sehun.

Kris diam. Alis tebalnya bertaut. Kris kelihatan sedang berfikir keras. Mungkin saja Kris belum berhasil menemukan jawaban untuk pertanyaan itu. Atau mungkin juga, Kris suda tahu tapi sedang mempertimbangkan perlu mengatakan yang sebenarnya atau tidak.

"Aku.. tidak tahu."

Sehun hanya mengangguk, berusaha menahan diri untuk tidak jadi si curious Sehun seperti biasanya.

"Kau pasti orang hebat, Kris," ucap Sehun sambil memeluk botol air mineral yang nyaris kosong.

"A-ah, tidak, Oh Sehun," Kris kentara sekali salah tingkah dipuji Sehun seperti itu.

"Pasti gerakanmu sangat cepat sampai bisa menangkap Baekhyun," lanjut Sehun.

"Tidak. Aku tidak cepat. Buktinya, aku tidak sempat menyambar Kyungsoo sebelum ia tertimpa pot."

Mau tidak mau Sehun tersenyum. Luhan yang daritadi diam saja juga ikut tersenyum karena melihat Sehun tersenyum.

"Luhan, aku ingin tidur. Bangunkan kalau operasi Kyungsoo sudah selesai,"

"Ya, tuan putri."

Sehun memukul lengan Luhan, tapi tidak memprotes. Setelah itu, Sehun merebahkan tubuhnya dan menggunakan paha Luhan sebagai bantal. Luhan sih tidak masalah. Yang penting Sehun berhenti menangis dan bisa istirahat.

Rasanya baru beberapa detik Sehun terlelap, Luhan sudah membangunkannya. Luhan bilang operasi Kyungsoo sudah selesai. Pendarahan di kepala Kyungsoo juga sudah berhenti. Tapi, Kyungsoo sedang mengalami masa koma. Kyungsoo mengalami trauma hebat karena benturan keras.

Ruang inap Kyungsoo dijadikan satu dengan Kai, entah bagaimana prosedurnya. Sehun tidak mau tahu terlalu banyak. Yang mengatur orang tua Kai karena orang tua Kyungsoo sedang tidak ada di tempat.

Hanya ada Sehun dan Luhan di ruangan itu. Sedangkan Kris, dia bilang dia harus pulang. Orang tuanya menunggu di rumah, dan mau tidak mau Sehun membiarkan Kris pulang. Sebenarnya, Sehun juga harus pulang. Tapi, setelah membujuk dan sempat dimarahi, akhirnya Sehun dibolehkan untuk menginap di rumah sakit.

Sehun menarik kursi dan duduk di sebelah kasur Kyungsoo. Tangannya meraih tangan kanan Kyungsoo yang tidak disuntik infus. Kyungsoo masih tidak sadarkan diri. Ada banyak alat ditancapkan ke tebuhnya, yang Sehun tidak mau tahu namanya. Rasanya Sehun ingin menangis lagi.

"Kalian berjodoh atau apa sih ? Koma saja bersama-sama," ucap Sehun. Air matanya jatuh. Sehun menangis lagi. Luhan mengelus punggung Sehun.

Sehun menggenggam tangan kecil Kyungsoo makin erat.

"Orang tua kalian tidak ada di sini. Dasar orang kaya," entah Sehun bicara pada siapa, tapi lebih terdengar seperti menghibur dirinya sendiri.

"Sehun, tidurlah. Aku yang akan berjaga," ucap Luhan sambil mengusap punggung Sehun.

"Tidak. Kau saja yang tidur. Aku jadi tidak enak karena membiarkanmu tidak tidur," timpal Sehun.

"Tidak. Aku sudah banyak tidur hari ini. Kau pasti lelah karena sekolah. Tidurlah. Nanti aku bangunkan kalau ada apa-apa."

Setelah beberapa saat berdebat kecil, akhirnya Sehun mau tidur dan Luhan yang berjaga.

.

.


.

.

"Sehun!"

Sehun menghentikan langkahnya saat mendengar namanya dipanggil.

"Baekhyun," Sehun mendapati Baekhyun berjalan dengan krek ditemani Chanyeol.

"Sehun, aku dengar Kyungsoo masuk rumah sakit ?" tanya Baekhyun saat ia berhasil menyusul Sehun.

"Iya," jawab Sehun dengan lesu.

"Dan benarkah.. Tao.."

Sehun mengangguk sebelum Baekhyun menyelesaikan pertanyaannya. Baekhyun dan Chanyeol saling tatap sedangkan Sehun menunduk lesu. Sehun masih sedih soal Kyungsoo yang dirawat di rumah sakit.

"Tenang, Oh Sehun. Kabar Kyungsoo masuk rumah sakit memang menyebar. Tapi, soal penyebabnya, tidak banyak yang tahu," sambung Baekhyun.

"Aku berharap kabarnya tidak menyebar. Aku kasihan pada Tao," lanjut Sehun.

Mereka berpisah setelah beberapa saat berdiskusi. Chanyeol menemani Baekhyun ke kelasnya sementara Sehun berbelok menuju ruang ganti. Jam pertama adalah olahraga. Sehun sempat harap-harap cemas bertemu Tao. Ia ingin bertemu dengan Tao, tapi juga tidak. Lagipula, Sehun tidak yakin Tao datang ke sekolah hari ini.

Sesuai perkiraan Sehun, Tao tidak menunjukkan batang hidungnya saat pelajaran olahraga. Teman sekelasnya bilang, Tao sakit, makanya dia tidak ada di jam olahraga. Sehun sempat tidak yakin apakah Tao benar-benar sakit atau hanya menghindar setelah Sehun memergoki Tao berada di lantai dua kemarin.

Begitu pula dengan pelajaran-pelajaran berikutnya. Sehun tidak menemukan Tao dimanapun. Bahkan Baekhyun juga menghilang. Alhasil, Sehun makin kesepian. Kyungsoo dan Kai tidak ada, itu artinya, orang-orang yang biasanya berinteraksi dengan Sehun menghilang. Sehun benar-benar tidak berbicara pada siapapun setelah pada Baekhyun dan Chanyeol.

Pada saat jam tambahan pun Sehun masih diam. Lagipula, tidak ada satupun dari temannya yang berusaha mengajak Sehun bicara. Jadi, Sehun sama sekali tidak minat. Mood-nya buruk sekali hari ini.

Jam tambahan berlangsung sampai pukul delapan malam. Awalnya, Sehun berniat ingin menjenguk Kyungsoo sebentar. Tapi, karena sudah terlalu larut, Sehun memilih untuk pulang daripada kena sembur ibunya.

Sehun seperti orang kehilangan arah. Sehun menyusuri trotoar sendirian. Lagu-lagu Justin Bieber favorite-nya yang ia dengarkan melalui earphone sama sekali tidak membuat mood-nya membaik.

Sempat Sehun kepikiran soal menjenguk Tao. Bisa saja Tao benar-benar sakit. Bagaimanapun juga, Tao adalah salah satu teman dekatnya. Kalau Tao memang sakit, bisa-bisa Sehun dianggap sebagai teman tidak tahu diri karena tidak menjenguk.

Hingga akhirnya Sehun benar-benar memutuskan untuk mengunjungi rumah Tao. Sehun mempercepat langkahnya agar cepat sampai. Lagipula, suhu udara sudah semakin menurun. Kalau bergerak lambat-lambat Sehun bisa beku.

Saat berbelok ke jalan yang lebih sepi, Sehun sempat ragu. Jalan kecil itu agak gelap. Hanya ada satu lampu yang bahkan sudah tidak bisa menerangi seluruh bagian jalan. Jalan kecil itu juga sepi. Bukan apa-apa, tapi Sehun selalu parno. Sehun percaya dengan yang namanya hantu dan makhluk-makhluk asthral lainnya, dan Sehun belum siap kalau harus melihatnya sekarang. Lagipula, Sehun takut gelap.

Seketika Sehun melihat seseorang keluar dari sebuah rumah. Orang itu berjalan menuju arah yang sama dengan arah yang Sehun tuju. Buru-buru Sehun membuntuti. Begini lebih baik daripada harus berjalan sendirian dalam gelap.

Hanya beberapa langkah dan orang itu menghilang lagi di sebuah gang sempit. Sehun gelagapan karena dia sedang berada di titik paling gelap sendirian. Keringat dingin mulai membasahi leher dan telapak tangannya. Pikiran Sehun mulai ngelantur.

Sehun dikejutkan dengan suara keras, seperti tong sampah yang dibanting. Datangnya suara berasal dari gang kecil tempat orang tadi menghilang. Rasa takut dikalahkan rasa penasaran. Jadi Sehun mulai mengendap-endap dan mengintip gang sempit itu.

Sehun tercengang ketika mendapati banyak orang di sana. Lima ? Tujuh ? Entahlah. Sehun tidak bisa melihat semuanya. Yang jelas, mereka sedang saling pukul dengan tangan kosong maupun tongkat kayu. Dan Sehun tidak habis pikir ketika mendapati dua orang perempuan terlibat.

Sehun terlampau bingung. Ia tidak tahu harus berbuat apa, bahkan saat salah satu dari orang-orang yang saling pukul itu menyadari keberadaannya. Semuanya berhenti bergerak, menatap lurus ke arah Sehun.

Sehun baru menyadari bahwa mereka tidak normal. Badan mereka besar dan mata mereka merah menyala. Menyala. Benar-benar menyala. Menyala secara harfiah. Dan kalau Sehun menajamkan pendengarannya, ia bisa mendengar suara geraman yang tidak mungkin diciptakan oleh pita suara manusia.

Sehun mundur beberapa langkah saat beberapa di antara mereka maju. Dan betapa terkejutnya Sehun ketika menyadari bahwa satu di antara perempuan yang terlibat perkelahian itu adalah..

"Tao ?"

Sehun tidak bisa mempercayai matanya sendiri. Gadis ini benar-benar mirip Tao. Hanya saja, badannya jauh lebih tinggi dan besar. Bahkan matanya juga menyala merah di antara kegelapan gang sempit itu. Pakaiannya berwarna hitam semua, juga compang-camping, seperti anggota geng punk. Sehun berusaha mencegah dirinya untuk percaya bahwa gadis itu adalah Tao.

"Ouh, rupanya ada putri yang hobinya mengintip," ucap Tao. Suaranya masih tetap sama. Tapi, terdengar sangat mengintimidasi.

"Sehun, lari!"

Sehun menoleh ke sumber suara. Betapa terkejutnya Sehun saat melihat Luhan dan Kris ada di sana. Tangan mereka dikekang oleh orang-orang yang badannya jauh lebih besar –mungkin teman Tao. Dan mata mereka juga sama-sama merah menyala. Hanya saja, milik Kris agak berbeda, entahlah. Pokoknya berbeda.

Tao berusaha meraih lengan Sehun, tapi Sehun buru-buru mengelak. Berkali-kali Tao berusaha melukai Sehun, berkali-kali juga Sehun mengelak. Rupanya latihan hapkido selama tujuh tahun membuat Sehun lumayan gesit.

"Woah," ucap Tao sambil menyibak rambut panjangnya. Wajah Tao semakin menakutkan. "Kau lumayan cepat, Oh Sehun."

"Aku hanya bisa menghindar. Aku tidak mungkin melukaimu," timpal Sehun. Tao terkekeh.

"Baiklah. Tapi sayangnya, aku akan tetap melukaimu."

Sebelum Tao berhasil mencabik wajah Sehun, Luhan sudah menyambarnya terlebih dahulu. Luhan membawa Sehun berlari menjauh diikuti Kris. Tak lama Tao dan teman-temannya berlari mengekor di belakang.

"Itu tadi apa ?" tanya Sehun sambil susah payah mengimbangi langkah Luhan.

"Bukan apa-apa," jawab Luhan sambil meraih bahu Sehun, berusaha membantunya agar lari lebih cepat.

"Bawa Sehun ke punggungmu! Dia tidak mungkin sanggup lari lebih lama lagi," ucap Kris dengan suara keras.

Mendadak Luhan berhenti, begitu pula Sehun. Buru-buru Sehun naik ke punggung Luhan dan mereka mulai berlari lagi. Sehun memeluk leher Luhan erat-erat karena takut jatuh. Kecepatan lari Luhan agak kurang masuk akal menurut Sehun.

"Lewat atas," ucap Kris yang sudah mengimbangi lari Luhan.

Sehun memekik histeris saat Luhan melompat ke atap salah satu rumah dan mulai melompati atap yang lain. Disusul Kris yang terus mengekor di belakang, juga teman-teman Tao yang ternyata juga bisa melompat sama seperti Luhan.

Sehun tidak bisa melihat dan mengingat begitu jelas karena kecepatan lari Luhan yang memang di atas rata-rata. Rasanya seperti ruang dan waktu di sekitarnya meleleh menghilang. Hal itu membuat kepala Sehun sedikit pening karena tidak terbiasa.

Sehun tidak ingat dengan banyak, yang jelas teman-teman Tao sudah tidak mengikuti mereka dan Sehun diantar langsung ke kamarnya oleh Luhan dan Kris. Untuk sesaat Sehun masih diam saja karena terlalu kaget dan bingung. Lalu akal sehatnya mengambil alih.

Sehun berusaha melogiskan segala hal yang baru saja dilihatnya. Seperti pertarungan di gang, laki-laki besar, perempuan besar –Tao dan temannya, mata merah menyala, mata Kris yang agak berbeda, kecepatan lari Luhan, kemampuan melompati atap, ruang dan waktu yang meleleh, segalanya. Hal-hal buruk dan berbau mistis mulai menggerayangi otak Sehun.

"Sehun, cepat ganti pakaianmu dan pergi tidur. Jangan keluar rumah lagi, mengerti ?" ucap Luhan sambil menurunkan Sehun yang berada di punggungnya.

Sehun tidak menjawab.

"Dia masih shock," ucap Kris. Terdengar suara Luhan yang menghela nafas panjang.

"Baiklah. Beristirahatlah, Oh Sehun. Kami pergi dulu."

Belum sempat Luhan melompat keluar, Sehun mencegahnya.

"Tunggu dulu! Kalian berdua," Sehun berlari ke arah jendela, lalu menutup dan menguncinya paksa.

Luhan dan Kris melongo melihat wajah Sehun yang merah padam, ditambah lagi dengan bahu Sehun yang bergetar.

"Jawab pertanyaanku dulu," lanjut Sehun. Luhan dan Kris saling tatap.

Sehun memijit pelipisnya yang berkedut. Kepalanya pening luar biasa karena terlalu memikirkan banyak hal. Otaknya yang kelewat aktif tidak bisa diimbangi oleh tubuhnya yang sudah lelah karena sekolah. Rasanya kepala Sehun mau meledak.

"Kalian itu.. apa ?" tanya Sehun dengan suara parau.

Tenggorokannya terasa kering karena memang sejak tadi siang Sehun tidak minum apa-apa. Ditambah lagi tadi Sehun harus berlari super cepat. Lagipula, Sehun menakutkan pemikiran yang selama ini disimpannya rapat-rapat adalah sebuah fakta.

Selama ini Sehun sudah menaruh kecurigaan pada Luhan. Menurutnya Luhan beda, baik secara konotatif maupun denotatif. Luhan tidak sama seperti Sehun, atau ibunya, atau yang lain. Luhan bukan manusia biasa. Begitu pula Kris.

Ada banyak sekali daftar alternatif makhluk asthral yang memungkinkan untuk dituduhkan pada Luhan di otak Sehun. Pertama, manusia serigala. Kedua, asrais. Ketiga, zombie. Keempat, naiad. Kelima, nymph. Keenam, dracaena. Dan masih banyak lagi.

Tubuh Luhan dingin dan keras, seolah Luhan baru saja direndam di air es selama berjam-jam. Tubuh Luhan juga tidak ada cacatnya sekali, sangat mulus bahkan mengalahkan Sehun sendiri yang bernotabene sebagai perempuan. Sedikit mencurigakan karena Luhan tidak memiliki bekas luka padahal hobi melompat dari ketinggian yang cukup ekstrim.

Hal terakhir yang paling mencurigakan, Luhan hobi sekali buka-bukaan di malam hari, tapi, memakai pakaian tebal dan rapat di siang hari. Obvious.

Luhan dan Kris tidak menjawab apapun. Mereka masih diam saja sementara Sehun mulai gatal mengajukan tuduhan. Ketegangan mulai terbangun karena Kris terlihat agak gelisah. Sehun merasa mendapat celah untuk menuduh tapi Sehun merasa lebih baik menunggu sebentar lagi.

"Oh Sehun, kau lelah. Cepat beristirahat," ucap Luhan sambil meraih bahu Sehun. Namun, Sehun menepisnya.

"Tidak sebelum kalian men–"

Sayup-sayup Sehun mendengar suara langkah kaki menaiki tangga. Mata Sehun nyaris keluar dari rongganya ketika menyadari bahwa ibu sedang berjalan menuju kamarnya. Ternyata ibu sudah pulang kerja.

"Oh, tidak. Oh, tidak," buru-buru Sehun membuka jendelanya dan mendorong Luhan juga Kris. "Cepat kalian pergi. Aku bisa dibunuh kalau ketahuan memasukkan dua laki-laki ke kamarku," ucap Sehun dengan panik.

Pintu kamar Sehun diketuk.

"Cepat!"

Luhan dan Kris tidak memprotes ataupun menginterupsi. Mereka langsung melompat keluar dari jendela kamar Sehun dan menghilang di kegelapan gang sempit.

.

.


.

.

Sesuai perkiraan Sehun, Luhan tidak muncul di halaman sekolahnya hari ini. Sehun sudah mengira-ira Luhan akan sama seperti Tao, menghindar. Mereka sama-sama bermata merah jadi Sehun menyimpulkan kalau mereka sama.

Kris juga tidak menunjukkan batang hidungnya hari ini. Argumen Sehun bertambah kuat.

Sehun memutar balik langkahnya. Sehun kembali berjalan memasukki sekolah sementara yang lain berjalan keluar. Sehun setengah berlari saat ia sudah semakin dekat dengan ruang komputer. Setelah memastikan tidak ada guru yang berjaga, Sehun buru-buru masuk.

Sehun menyalakan sebuah komputer yang terletak paling ujung. Sehun bersyukur karena internet di ruangan itu masih dinyalakan. Biasanya akan dimatikan dalam beberapa jam ke depan mengingat bel pulang sekolah sudah dibunyikan. Jadi, Sehun harus cepat.

Sehun mengetikkan beberapa nama makhluk asthral yang diketahuinya di mesin pencari. Akan tetapi, tidak satupun yang mencakup seluruh ciri-ciri Luhan. Beberapa kali Sehun mengganti nama, hasilnya masih sama saja.

Yang paling mendekati hanyalah asrais. Asrais memiliki tubuh yang indah tanpa cacat, sama seperti Luhan. Hanya saja, Luhan tidak tinggal di hutan dan tidak makan kelopak bunga.

Lalu yang paling mendekati kedua adalah naiad. Naiad adalah arwah penjaga air yang sangat rupawan. Tubuh mereka dingin dan lembab, sama seperti arus air. Akan tetapi, Luhan tidak tinggal di kubangan dan Luhan bukan perempuan.

Untuk pencarian berikutnya, tak satupun yang mampu meyakinkan Sehun.

Mata Sehun berkedut karena kelelahan. Sudah satu jam Sehun mencari-cari tapi tidak ada jawaban yang memuaskan. Semuanya hanya sekilas-sekilas mendekati Luhan. Tidak ada yang secara sempurna menyebutkan ciri-ciri yang sama dengan Luhan.

Sehun kembali mengingat-ingat ciri-ciri Luhan. Segalanya yang terasa janggal pada diri Luhan mulai Sehun susun dengan rapi di otaknya. Sehun juga memunculkan kemungkinan-kemungkinan bahwa Luhan bukan makhluk bumi, melainkan alien, atau apapun, yang jelas Luhan bukan manusia.

Hingga keinginan Sehun berhenti pada satu makhluk asthral yang cukup terkenal, tapi Sehun sama sekali tidak memikirkannya sebelum ini. Sehun meraih keyboard wireless yang berada di atas meja dan mulai mengetikkan kata 'vampire'.

Ada jutaan result pencarian dengan kata kunci vampire. Mulanya Sehun ingin membuka Wikipedia. Tapi, ia mengurungkan niatnya karena Wikipedia memberikan informasi terlalu general. Sementara Sehun benar-benar menginginkan sesuatu yang spesifik soal vampire.

Sehun menemukan sebuah blog yang membahas soal vampire. Mulai dari definisi-nya, jenis dari beberapa mitologi, juga ciri-cirinya. Hanya saja, kebanyakan ciri vampire mengarah pada si pemakan darah yang berwajah dingin. Sementara, Luhan merupakan seseorang yang tenang dan masih mau berekspresi, tidak dingin-dingin amat.

Mata Sehun terhenti pada suatu jenis vampire yang menarik perhatiannya.

"Tidak disebutkan darimana asal Vampire Pasifik, hanya saja, legenda ini disebarkan oleh pengembara Cina yang datang ke Kanada. Vampire ini adalah pemakan darah, sama seperti vampire pada umumnya. Hanya saja, mereka lebih mampu mengendalikan diri dan memiliki ciri yang sedikit berbeda. Mereka sedikit lebih manusiawi. Mereka bisa mengeluarkan ekspresi dan emosi–"

Sehun berhenti membaca untuk sesaat. Entah kenapa, Sehun jadi mengingat wajah Luhan saat tersenyum dan saat tertidur. Luhan kelihatan tulus.

"Untuk urusan fisik, mereka sama seperti vampire pada umumnya. Dingin, keras, kuat, cepat, dan cerdas. Bahkan licik. Hati-hati, jangan sampai kau tergigit. Atau kau akan mati."

Dan artikel tentang vampire itu pun berakhir. Sehun mengerang kecewa karena tidak mendapatkan informasi yang cukup. Hanya penjelasan singkat dan beberapa ciri-ciri tidak membuat Sehun merasa puas. Dia butuh lebih.

Sehun mengetikkan kata 'Vampire Pasifik' pada mesin pencari. Tetapi, hasilnya tidak begitu memuaskan. Yang keluar sebagai result pencarian adalah artikel yang sama beserta reviews-nya, diikuti dengan artikel-artikel vampire yang lain, juga tentang Samudera Pasifik. Tidak ada lagi yang membahas soal Vampire Pasifik.

Bahu Sehun menegang saat mendengar suara langkah kaki di luar ruangan komputer. Buru-buru Sehun mematikan komputer dan bersembunyi di bawah meja. Jantung Sehun berdetak tidak karuan karena panik. Sehun takut ketahuan.

Hingga suara langkah kaki itu tidak terdengar lagi, Sehun baru berani keluar dari persembunyiannya. Dengan cepat Sehun berlari keluar dari ruang komputer agar tidak ketahuan. Setidaknya, Sehun sudah punya argumen yang lebih kuat lagi untuk mengungkap identitas asli Luhan.

.

.


.

.

Sehun sengaja membuka jendela kamarnya malam itu. Sehun ingin memancing Luhan keluar dan mengunjungi kamarnya agar ia bisa mengungkap identitas Luhan. Namun, selama satu jam menunggu, Luhan tidak kunjung menunjukkan batang hidungnya.

Biasanya Luhan bakal berdiri di balik jendelanya dan pamer badan. Atau Luhan melempari jendela Sehun dengan kerikil agar dibukakan. Tapi sekarang tidak. Bahkan jendela kamar Luhan tertutup rapat dan lampunya mati.

Sehun menghela nafas. Sehun sangat benci menunggu. Apalagi dikungkung dengan rasa penasaran. Sehun sangat tidak suka.

Ponsel Sehun bergetar sampai-sampai pemiliknya nyaris terjatuh dari kursi belajar. Sehun meraih ponselnya dan mendapati sebuah pesan singkat dari nomor yang tidak terdaftar di daftar kontaknya. Untuk sesaat Sehun mengamati nomor asing tersebut. Rasa-rasanya Sehun pernah melihat nomor ini sebelumnya.

Sehun teringat beberapa wkatu yang lalu, ada nomor tak dikenal yang menelfonnya pagi-pagi. Sehun yakin pengirim pesan kali ini adalah orang yang sama dengan si penelfon tempo hari.

From : +1xxxxxxxx

Tutup jendelamu. Udara masih dingin. Jangan sampai sakit.

Sehun menoleh ke arah kamar Luhan dan mendapati Luhan sudah berdiri di balik jendela seperti biasanya –topless. Lampu kamar Luhan juga sudah meyala. Mungkin Luhan baru saja pulang dari suatu tempat atau baru bangun tidur.

Sehun mendekat ke jendela sambil membawa ponselnya.

"Jadi yang mengirim pesan ini kamu ?" tanya Sehun. Luhan mengangguk sambil menggoyang-goyangkan ponselnya sendiri.

"Simpan nomorku. Masukkan ke speed dial nomor dua. Aku tahu yang nomor satu sudah diisi ibumu," timpal Luhan.

"Untuk apa ?!" tanya Sehun setengah jengkel. Yah, walaupun diam-diam nanti Sehun bakal melakukan perintah Luhan.

"Bukan apa-apa," jawab Luhan dengan seringaian andalannya.

Mau tidak mau Sehun tersenyum. Luhan sudah bersikap seperti biasanya.

"Mau ikut aku ?" Sehun mengangkat wajahnya.

"Huh, kemana ?" Sehun malah balik bertanya.

"Besok pagi ada kabut terakhir musim semi. Mau nonton ? Bagus loh," tawar Luhan.

"Kedengarannya menarik," tukas Sehun sambil memainkan rambut panjang hazel-nya.

"Baiklah. Buka jendelamu jam empat pagi besok. Sekarang, beristirahatlah."

Tanpa memprotes Sehun menutup jendela kamarnya. Sehun baru ingat kalau tujuannya membuka jendela adalah untuk memerangkap Luhan dan membongkar identitasnya. Tapi, Sehun malah lupa. Sehun terlalu larut pada obrolan dan wajah Luhan. Rasanya tidak melihat Luhan sehari saja, Sehun merasa ada yang berbeda. Entahlah. Mungkin Sehun merindukan Luhan.

Sehun merebahkan tubuhnya di atas kasur. Lalu, Sehun memasang alarm jam empat pagi agar ia bisa bangun.

"Semoga putri tukang tidur lima belas jam ini bisa bangun jam empat. Amin."

.

.

TO BE CONTINUED

.

.

ditunggu review-nya ^^