Memories © 2013 Sansan Kurai
Super Junior © SM Entertainment
Other © Their own management
Friendship
Henry menatap miris kedua tangan sunbaenya yang terlihat terbakar itu. Sedangkan yang dilakukan Leeteuk hanya mengamati tangannya tanpa mengucapkan apapun. Dengan tangan gemetar Henry mengambil ponselnya dan mengirim pesan singkat para seluruh penghuni asrama Light House. Henry kembali memasukkan ponsel kedalam sakunya.
"Maaf.." gumam Henry pelan. "Maafkan aku hyung.. Maaf... Maaf.. Maaf.."
"Ssssttt... Cukup Henry.. Aku tak ingin dengar itu lagi," bisik Leeteuk.
"Aku yang menyebabkan hyung menjadi seperti ini.." lirih Henry. "Aku yang melukai hyung.. Aku yang melakukannya.."
"Henry.. Hyung mohon, jangan salahkan dirimu lagi.. Hyung tak mau mendengar itu dari dirimu.."
"Tapi.. ini salahku.. ini salahku.."
Henry terus saja menyalahkan dirinya sembari menundukkan kepalanya tak berani menatap Leeteuk yang kini tengah menatapnya dengan sedih.
"Teukie! Henry!"
Tiba-tiba segerombolan orang datang menghampiri mereka. Hankyung dan Yesung yang pertama kali sampai dihadapan Leeteuk dan Henry.
"Hyung.. tanganmu.." ucap Yesung, suaranya tercekat.
"Tak apa, sekarang bawa aku ke rumah sakit dan tolong jaga Henry. Jangan biarkan dia sen.."
"Aku ikut hyung.." lirih Henry sembari menatap Leeteuk dengan mata basahnya. Leeteuk menatap Henry, begitu juga dengan yang lain. Hati mereka mencelos melihat keadaan Henry saat ini. Air mata terus meluncur dari mata Henry yang sudah sembab. Belum lagi ketakutan Henry yang terlihat jelas diwajahnya. Leeteuk benar-benar ingin memeluk Henry dan menenangkannya, namun saat ini ia tak bisa melakukannya.
"Kita semua akan pergi!" tegas Eunhyuk dan semuanya mengangguk serempak, mereka tak peduli lagi dengan kelas mereka, yang ada dipikiran mereka saat ini adalah sesegera mungkin membawa Leeteuk ke rumah sakit dan menenangkan keluarga baru mereka, Henry.
"Leeteuk hyung terkena penyakit genetika, xeroderma pigmentosum. Kulitnya sangat peka terhadap sinar matahari, terutama sinar ultraviolet. Kulitnya akan seperti terbakar jika terkena matahari, bahkan bisa sampai melepuh, lebih parahnya lagi akan muncul kerusakan pada DNAnya."
.
Henry menatap lantai dengan pandangan kosong. Ia tak mendengar ucapan penghiburan dari sunbae-sunbae serta teman sebayanya. Bayangan tangan Leeteuk yang terbakar terus berkeliaran diotaknya, begitu juga dengan ucapan Sungmin tentang penyakit sunbaenya. Shindong yang duduk agak jauh dari Henry pun akhirnya berdiri dari kursinya karena tak tahan melihat keadaan Henry. Pria penyuka fotografi itu menarik Henry ke dalam pelukannya dan entah kenapa Henry langsung menangis saat Shindong memeluknya. Henry terus menumpahkan air matanya ke seragam Shindong. Tangis Henry membuat mereka semua terenyuh.
"Sudahlah Henry, ini bukan salahmu.." ucap Shindong. "Ini salah kami yang tak memberitahukan padamu tentang keadaan Leeteuk hyung." Henry menggeleng dalam pelukan Shindong.
"Tidak.. Ini salahku.. Ini salahku.. Aku yang membuatnya menjadi seperti itu.. Jika hyung tak menolongku, ia tak akan melukai dirinya sendiri.. Ini semua salahku.. Aku melukainya.." racau Henry.
Kangin bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Shindong serta Henry. Kangin menarik paksa Henry untuk menatapnya. Henry terlihat sangat kacau.
"Kau itu pria! Tak seharusnya kau menangis sampai seperti ini!" ujar Kangin dengan nada tegas.
"Kangin!" tegur Heechul.
Henry menatap mata Kangin dalam. Henry tak menemukan kemarahan dalam sorot mata itu, tapi ia menemukan kesedihan disana. Henry pun kembali menundukkan kepalanya dan menggumamkan kata maaf berkali-kali. Kangin memeluk Henry dan menepuk punggungnya sedikit lebih keras.
Pintu ruang rawatpun terbuka. Mereka semua menoleh dan mendapati seorang dokter keluar dengan raut wajah yang sulit diartikan.
"Bagaimana Dok?" tanya Shindong yang berada dihadapan sang Dokter.
"Luka bakar ditangannya cukup parah, tapi aku sudah mengobatinya," jawab Dokter. "Ku mohon, jaga dia. Jika dia terus-terusan seperti ini, dia bisa mati. Kalian tahu akan itu kan? Aku sudah memberitahu kalian berkali-kali, kenapa ini bisa terjadi lagi? Jika dia sampai kembali lagi ke rumah sakit, aku tak punya pilihan lagi. Dia harus dirawat inap. Aku permisi."
Semuanya membungkuk singkat dan dari ruang rawat keluarlah Leeteuk sembari tersenyum lembut kepada mereka semua. Mereka menatap tangan Leeteuk yang diperban dari siku hingga telapak tangannya.
"Maaf ya, sekali lagi aku merepotkan kalian," ujar Leeteuk.
"Kau itu bicara apa!" tegur Yesung. "Kami sudah berjanji untuk saling menjaga dan melindungi, kan? Ck! Kau itu. Sudahlah, ayo kita pulang saja. Hari ini kita membo.."
"Setuju!" sahut Donghae sebelum Yesung menyelesaikan kalimatnya. Mereka pun tertawa melihat respon Donghae yang terbilang berlebihan. Padahal ini bukan sekalinya mereka membolos, mereka sering melakukan itu dengan dalih melakukan latihan.
Mereka pun mulai berjalan pergi, meninggalkan Leeteuk dan Henry sendiri. Memang itulah sebenarnya rencana Donghae dan Yesung. Mereka ingin agar Leeteuk dan Henry memiliki waktu untuk bicara berdua.
"Maaf.." ucap Leeteuk sembari menatap Henry dengan tatapan lembutnya. "Aku.."
"Maafkan aku hyung.. Ini salahku.. Ini salahku.." Tangis Henry kembali pecah, ia memeluk Leeteuk erat. Leeteuk yang kedua tangannya tengah diperban tak bisa melakukan apapun. "Seandainya hyung tak ada di sana.. Seandainya hyung tak datang menyelamatkanku.. Seandainya hyung tak pergi ke atap sekolah.. Seandainya.."
"Seandainya aku tak menyelamatkanmu, kau sudah ada di kamar mayat sekarang." Henry mengendorkan pelukannya dan menatap mata Leeteuk. Entah kenapa perasaan Henry menjadi sedikit lebih nyaman saat menatap mata teduh itu. "Henry.. Aku tahu kau sedang ada masalah.. Tapi tak seharusnya kau berpikiran pendek seperti itu.. Mati bukanlah cara yang tepat untuk menyelesaikan suatu masalah.. Seberat apapun masalahmu, jalanilah. Karena ini adalah kehidupanmu. Apapun masalahnya kau pasti bisa menghadapinya. Tuhan tak akan mencobai manusia diluar kemampuannya. Tersenyumlah, dengan sebuah senyuman kau akan membuat sekelilingmu merasa nyaman dan kau akan bisa menikmati hidup ini."
Leeteuk menunjukkan senyum lembutnya sembari merentangkan kedua tangannya. Henry langsung menghambur memeluk Leeteuk dan kembali menangis. Leeteuk hanya membelai punggung Henry pelan dengan hati-hati
"Menangislah sepuasmu jika itu membuatmu merasa lebih nyaman.."
Seminggu telah berlalu sejak kejadian itu. Leeteuk pun sudah kembali masuk ke sekolah. Henry yang tahu akan penyakit Leeteuk jadi lebih sering memperhatikan sunbaenya itu. Kini mereka berdua tengah berada di ruang musik. Mereka berlatih untuk acara ulang tahun sekolah yang tinggal 2 hari lagi.
"Sepertinya semua akan berjalan dengan baik," ucap Leeteuk sembari menatap jari-jarinya dengan senyum yang terkembang diwajahnya.
"Kau yakin hyung?" tanya Henry takut-takut. Melihat anggukan dari sunbaenya itu, Henry pun menghela nafas. "Aku benar-benar takut hyung.. takut akan semuanya.."
"Tak perlu ada yang kau takutkan, semua akan berjalan dengan baik," ujar Leeteuk menenangkan hoobaenya itu. Henry pun akhirnya menganggukkan kepalanya lalu mendekati Leeteuk.
"Tanganmu benar-benar sudah tak apa, hyung?" tanya Henry sembari memperhatikan tangan Leeteuk yang masih diperban.
"Tidak apa-apa, hanya saja bekasnya masih belum bisa hilang.."
"Kalian benar-benar seperti kakak dan adik.. Hehehe.."
"Shindong.. Ryeowook..." sahut Leeteuk saat melihat kedua pria dari klub fotografi itu memotret ia dan Henry.
"Kalian benar-benar objek yang sangat bagus.." ucap Ryeowook tulus.
"Kalau begitu, foto lagi kami dan berikan hasilnya padaku.." pinta Leeteuk sembari menarik Henry untuk duduk disisinya.
"Dengan senang hati.." seru Shindong dan Ryeowook bersamaan.
"Apa yang sedang kalian semua lakukan?"
"Ck! Yesung hyung! Kau mengacaukan segalanya!" protes Shindong. Yesung yang baru masuk ke ruang musik hanya terkekeh pelan.
"Kalian berdua sudah selesai berlatihkan?" tanya Yesung pada Henry dan Leeteuk. Keduanya menganggukkan kepalanya. "Kalau begitu bisa datang ke tempatku dan melihat latihan kami?"
"Ok!" jawab Shindong dan segera pergi bersama Ryeowook.
"Hey! Aku tak.. Aish!"
"Hahaha.. Sudahlah Yesung.." ucap Leeteuk lembut. "Bukankah lebih baik jika banyak yang datang untuk melihat latihan kalian?"
"Iya, tapi tidak dengan mereka berdua," gerutu Yesung. "Suara kamera mereka membuatku ingin meledak."
Mendengar jawaban Yesung, Leeteuk pun tertawa pelan dan segera mengajak kedua pria itu menuju tempat latihan band milik Yesung. Leeteuk dan Yesung terlihat saling berbicara, sedangkan Henry hanya mengamati kedua sunbaenya dari dekat tanpa ada keinginan untuk mengikuti pembicaraan mereka hingga Yesung menyadarinya dan menyenggol lengan Leeteuk pelan sembari menunjuk Henry dengan dagunya. Leeteuk yang tahu itu hanya menggelengkan kepalanya pelan lalu kembali mengajak Yesung berbicara.
Henry memang sedang memikirkan banyak hal. Mulai dari teman sekelas yang menjauhi dirinya, kegugupannya menjelang acara ulang tahun sekolah, kekhawatirannya akan kedua orang tuanya yang tak pernah memberikan kabar atau menanyakan kabar padanya. Semua itu membuat Henry ingin meledak.
Henry pun mendesah keras dan sedikit menundukkan kepalanya saat berjalan mengikuti kedua sunbaenya. Leeteuk dan Yesung yang sedari memperhatikan sikap Henry pun hanya bisa saling menatap dan menggelengkan kepala.
"Yesung hyung! Kenapa kau mengajak mereka kemari!" Protesan dari Sungmin itu membuat Henry mengangkat kepalanya dan baru tersadar ternyata mereka sudah sampai ke ruang latihan band Hana.
"Kenapa kalian selalu berbuat begitu pada kami?" tanya Ryeowook dengan wajah cemberutnya.
"Karena suara kamera kalian serta lampu blitznya membuat kami tak bisa berkonsentrasi!" tegas Kangin sembari menatap tajam Shindong dan Ryeowook.
"Baiklah.. Baiklah.." putus Shindong setelah menghela nafas sejenak. "Kami hanya akan menonton dan tak akan menjadikan kalian objek kami. Setuju?"
"OK!" sahut Kangin dan Sungmin bersamaan.
Shindong dan Ryeowook berhigh five sembari tersenyum senang. Kamera yang mereka bawa pun mereka simpan sejenak di dalam tasnya dan segera duduk di bangku yang memang disediakan bagi mereka yang ingin menonton latihan Hana band.
"Lagu apa yang akan kalian bawakan?" tanya Leeteuk.
"Kami masih belum memutuskan," jawab Yesung sembari menghampiri standing mikenya. Siwon, Sungmin dan anggota baru mereka, Kibum segera menempati posisi mereka masing-masing. "Aku rasa lagu romantis akan cocok.."
"Hmm.. Aku juga setuju dengan itu," sahut Leeteuk dan disetujui oleh anggukan kepala dari Shindong, Ryeowook dan Sungmin. Sedangkan Siwon dan Kibum memilih untuk mengikuti pilihan leader mereka. Yesung menyebutkan judul-judul lagu romantis yang sudah dipilihnya dan meminta mereka untuk memilihnya dan merekapn berdiskusi seru. Namun tidak dengan Henry. Henry sendiri terus saja terdiam, sepertinya pikirannya kembali melayang.
"Henry... Henry.."
"Hey! Henry!"
Akhirnya tepukan keras dari Shindonglah yang menyadarkan Henry dari lamunannya. Henry pun terkejut dan menatap mereka dengan wajah bingung.
"Kau ken.. Auuwwwww!"
"Kau tak mendengar pertanyaanku?" Yesung memotong ucapan Sungmin sembari menginjak kakinya keras. Sungmin menatap Yesung tajam sembari mengerucutkan bibirnya.
"Hah? Hyung bertanya apa?" tanya Henry yang sedikit merasa bersalah.
"Kau mau memilih lagu yang mana?" tanya Yesung sembari menyodorkan selembar kertas pada Henry. Henry mengambilnya dan membacanya. "Bagaimana?"
"Emm.. Sepertinya Loving You bagus hyung.." jawab Henry sembari menatap Yesung. Leeteuk menepuk pundak Henry sembari tersenyum dan mengangguk.
"Sama seperti yang kami pilih," jawab Ryeowook.
"Baiklah.. Kami akan membawakan lagu itu," ucap Yesung sembari mengangguk ke arah Siwon, Sungmin dan Kibum.
I'm on my way to meet you
with a single rose in my hands, girl
If you see me, you'll smile but
you're probably used to everything
I'm sorry again for being so late
Now i will tel you
Baby every day and night stay by my side
I promise that your love is a more precious gift than anything in the world
Say i do, i can't stop loving you
Henry dan yang lain nampak menikmati suara Yesung dan permainan musik dari Siwon, Sungmin dan Kibum. Mereka berempat yakin, parapenonton akan sangat menikmati permainanHana band ini.
Suasana asrama Light House malam ini terlihat berbeda dari hari-hari biasanya. Ruang santai asrama terlihat sangat ramai. Seluruh penghuni asrama tengah berkumpul di ruang itu. Mereka sibuk mengerjakan tugas sekolah mereka. Hanya Henry dan Leeteuk yang memilih untuk menyendiri di halaman belakang sembari menikmari susu coklat dan menatap langit malam.
"Hyung, kenapa asrama ini diberi nama Light House?" tanya Henry.
"Karena rumah ini sangat bercahaya.." jawab Leeteuk. "Dari arah depan kau akan melihat rumah ini dipenuhi oleh cahaya-cahaya lampu pohon natal. Begitu juga dengan pohon serta tamannya. Itulah kenapa rumah ini diberi nama Light House."
"Benarkah?" tanya Henry tak percaya.
"Hmm.. Apa kau tak pernah melihatnya?" Henry menggelengkan kepalanya. "Coba saja kau lihat kalau kau tak percaya."
Henry yang semula sudah beranjak dari tempat duduknya kembali duduk. Leeteuk menatap Henry bingung.
"Aku ingin menemani hyung saja.." ucap Henry sembari menunduk malu. Sedangkan Leeteuk hanya terkikik geli melihat tingkah Henry.
"Aigoo.. Adik hyung yang satu ini ternyata manis sekali.." ujar Leeteuk masih sambil terkikik geli. Sedangkan Henry beralih menatap Leeteuk sembari memajukan bibirnya beberapa senti membuat Leeteuk mau tak mau mencubit pipi Henry pelan.
"Hyung.." panggil Henry pelan. Leeteuk hanya menggumam untuk menjawab panggilan Henry. "Aku.. aku menyayangimu.." Leeteuk menatap Henry intens lalu menganggukkan kepalanya.
"Aku juga sangat menyayangimu Henry.." ucap Leeteuk. "Sejak pertama kali melihatmu, aku langsung menyayangimu.. Kau.. sangat mirip dengan adik laki-lakiku.."
"Adik laki-laki?" tanya Henry. Leeteuk menganggukkan kepalanya. "Lalu, dimana dia sekarang?"
"Dia... meninggal 3 tahun yang lalu.."
"Mwo?"
to be continued..
huwaaaa..
maaf, baru bisa update sekarang...
dan maaf kalau banyak typo.. ini sama sekali belum aku edit... ^^v
terima kasih yang masih setia sama fanfic ini.. terima kasih juga yang udah memberikan review di kotak review, PM dan facebook...
dan terima kasih untuk seluruh silent riders...
tunggu ya chapter selanjutnya...
terima kasih...
