Tittle : Thriller

Author : Katniss Jung

Chapter : 6 of ?

Casts :

Oh Sehun

Lu Han

Genre : Fantasy, horror, thriller, romance, drama

Type : Chaptered

Alert : HanHun, HunHan, Gender Switch, Sehun!Girl, Luhan!Boy

Summary : Jangan pilih aku jika kau benci kegelapan. Jangan pilih aku jika kau benci sepi. Karena, saat kau bersamaku, kau akan merasakan apa yang namanya gelap dan sepi, hanya ada kita berdua.

.

.


.

.

Halo! Chapter 6 datang!

Identitas asli Luhan kebongkar di sini!

Langsung aja!

Check this out! ^^

.

.


.

.

Entah Sehun yang terlalu bersemangat untuk hang out dengan Luhan atau memang kebiasaannya untuk tidur selama lima belas jam sudah luntur. Yang jelas, sekarang, mereka berdua sudah berada di atap sebuah apartemen tujuh puluh lantai di pagi buta.

Langit masih gelap dan bintang masih tampak walaupun sudah mulai berkurang. Suhu udara masih sangat rendah, jadi kebanyakan orang memilih untuk tetap bergelung dengan selimut di atas kasur daripada berdiri di atas gedung dengan angin yang menusuk. Kecuali, Sehun dan Luhan, tentu saja.

"Matahari akan mulai naik pukul lima. Lalu, kabutnya akan muncul dua puluh tiga menit kemudian. Jadi, kita harus menunggu agak lama," ucap Luhan sambil mengeluarkan dua kaleng soda dari dalam ranselnya.

"Apa kau sudah pernah melihat ini sebelumnya ?" tanya Sehun. Lalu matanya jatuh pada dua kaleng soda di tangan Luhan. Itu adalah soda favoritnya.

"Sudah. Ratusan kali," jawab Luhan sambil mengulurkan satu kaleng soda pada Sehun.

"Thanks," Sehun menarik straw holder-nya. "Tapi kenapa kau masih suka melihatnya ?"

"Entahlah. Aku tidak pernah bosan," tukas Luhan.

Luhan mendudukkan dirinya di atap gedung apartemen yang dingin itu. Sehun sempat ragu untuk mengikuti karena ia hanya memakai celana piyama yang tidak akan membantunya sama sekali. Rasanya bakal seperti duduk langsung di atas bongkahan es.

Luhan meraih ranselnya, lalu mengeluarkan sebuah selimut kotak-kotak berwarna merah. Pipi Sehun mendadak panas. Luhan bakal meminjamkan selimut itu padanya. Tapi, perkiraannya meleset. Ternyata Luhan malah menyibak selimutnya lalu menutupi punggungnya sendiri. Dan Sehun membuang wajahnya ke arah lain. Ia kesal bukan main, sungguh.

"Sehun," panggil Luhan.

"Apa ?" tanya Sehun dengan nada sedikit jengkel.

"Kemarilah."

Sehun menoleh dan mendapati Luhan memberikan isyarat untuk Sehun mendekat. Sedikit enggan, Sehun mendekat, lalu berjongkok di depan Luhan. Sehun tidak mau duduk di lantai. Sehun tidak mau bokongnya beku.

Dengan gerakan cepat Luhan menarik Sehun ke pangkuannya. Sehun kaget bukan main. Ditambah lagi dengan Luhan yang memeluknya dari belakang, lalu menutupi tubuh mereka berdua dengan selimut.

Jantung Sehun berdenyut tidak normal. Wajahnya memerah hingga ke leher. Lagi-lagi Sehun bersyukur karena langit masih gelap dan ia membelakangi Luhan. Jadi, wajah tomatnya tidak terlihat. Sehun bingung, terkejut, malu, sekaligus senang. Tapi ulu hatinya sakit kalau jantungnya berdenyut tidak normal terlalu lama.

Sehun menarik nafas dalam-dalam, lalu membuangnya kasar. Sehun berusaha menetralkan perasaan dan denyutan jantungnya. Tapi usahanya sia-sia ketika Luhan mengeratkan pelukannya. Apalagi bau parfum Luhan yang memenuhi paru-parunya. Sehun mengutuk Luhan banyak-banyak di dalam hati.

"Kenapa tidak pakai jaket tebal ?" tanya Luhan.

"Entahlah," Sehun merosot dalam pelukan Luhan. Lalu menyandarkan kepalanya pada dada Luhan. "Yang ada di kamar hanya ini."

"Di luar dingin," Luhan menyandarkan kepalanya pada kepala Sehun.

"Aku tahu, Pak Tua," tukas Sehun. Luhan terkekeh.

"Iya. Maafkan Pak Tua yang mengajak gadis manis ini keluar pagi buta," tambah Luhan.

"Tidak masalah, Pak," lanjut Sehun. Keduanya tertawa.

Untuk beberapa saat tidak ada yang berbicara di antara mereka. Yang terdengar hanyalah suara deru nafas masing-masing. Mereka masih menunggu matahari terbit di timur, yang masih beberapa puluh menit lagi.

Sehun tidak tahu pasti, tapi dia senang seperti ini. Sehun tahu ada sesuatu yang sedang terjadi di dalam dadanya. Sebuah ganjalan yang membuat nafasnya sesak muncul sejak Luhan memeluknya tadi. Sehun tahu persis ganjalan itu bermakna apa. Sehun ingin membiarkan ganjalan itu tumbuh menjadi sesuatu yang lain. Tapi, ia terlampau gengsi untuk membiarkan ganjalan itu tumbuh, apalagi kalau Luhan tidak memiliki hal yang sama.

Sehun mulai menyukai Luhan.

"Oh Sehun," panggil Luhan. Sehun hanya menanggapi dengan gumaman. "Apa yang akan kau lakukan di liburan musim panas nanti ?" tanya Luhan sambil menggenggam tangan kanan Sehun.

"Kerja paruh waktu. Main bersama Baekhyun, Kyungsoo, dan Kai. Hanya seperti itu," jawab Sehun. "Tapi, entahlah. Liburan kali ini bakal beda kalau Kyungsoo dan Kai belum sembuh. Kamu ?"

"Entahlah," jawab Luhan sambil memeluk Sehun lagi. "Aku ingin tetap di sini, tapi aku tidak bisa," tambah Luhan sambil menenggelamkan wajahnya di antara rambut hazel Sehun.

"Kenapa ?" Sehun memutar kepalanya untuk melihat wajah Luhan.

"Aku harus ke Forks saat musim panas tiba," ucap Luhan. Matanya meredup saat bertemu tatap dengan Sehun.

"Tapi.. kenapa ?" tanya Sehun pelan sambil membalikkan wajahnya lagi.

"Memang harus seperti itu," Luhan kembali memeluk Sehun.

"Apa kau akan kembali di musim gugur ?" Sehun berharap.

"Mungkin," Luhan mengangkat wajahnya. Lalu menghela nafas. "Mungkin iya, mungkin tidak."

Sehun mulai panik. Sehun tidak ingin Luhan pergi. Tapi Sehun tahu betul, Sehun tidak bisa menahan Luhan karena dia bukan siapa-siapa.

"Kenapa harus Forks ?" tanya Sehun pelan sambil memandangi tangannya sendiri.

Luhan tidak menjawab. Sehun melepaskan pelukan Luhan dan berbalik. Sehun tidak peduli lantai yang dingin lagi. Yang harus dia dapatkan adalah sebuah kejelasan.

"Kenapa harus Forks ?" tanya Sehun penuh dengan nada intimidasi. Luhan membuang tatapannya.

"Karena.. memang harus Forks," jawab Luhan. Kedengaran asal-asalan.

"Luhan," Sehun menatap Luhan tajam. "Kau adalah orang pintar, Luhan. Aku takut kepalamu baru saja terbentur karena mengajukan jawaban yang tidak logis."

Otak hiperaktif Sehun mulai lagi. Sehun mendapat celah untuk membongkar identitas Luhan untuk yang kesekian kalinya. Dan Sehun tidak ingin yang kali ini gagal. Sehun harus mendapatkan jawaban dari Luhan untuk kesempatan ini. Sehun sudah lelah karena terlalu banyak argumen di otaknya yang berteriak minta jawaban logis.

"Apa karena.. kau tidak tahan dengan musim panas ?" tanya Sehun. Luhan membulatkan matanya.

"I-iya," jawab Luhan. Kali ini suaranya agak bergetar dan celah Sehun semakin besar.

"Apa karena kau tidak bisa kena sinar matahari terlalu lama ?" tanya Sehun lagi.

"Benar," jawab Luhan lagi.

"Apa karena Forks selalu dingin dan hujan walaupun di musim panas ?" kejar Sehun.

"Iya," Luhan membenarkan.

"Apa kau albino ?" tanya Sehun untuk yang kesekian kalinya.

"Bukan," jawab Luhan untuk yang kesekian kalinya.

Sehun memejamkan matanya yang panas. Sehun yakin kalau dia tidak segera menutup matanya, Sehun bakal menangis. Sehun sudah menyendok semua bukti dari pinggir dan hampir dekat dengan inti. Sehun senang, sekaligus takut juga, dugaannya selama ini memang benar.

Mendadak Sehun menggigit jari telunjuknya sendiri.

"Sehun! Apa yang kau lakukan ?!" Luhan berusaha menarik tangan Sehun, tapi Sehun terlampau keras kepala.

Hingga jari Sehun terluka dan darah keluar dari sela-sela perpotongan antara kulit dan kuku Sehun.

"S-sehun."

Sehun mendekatkan jarinya yang berdarah pada Luhan. Sehun tahu apa yang akan terjadi. Dan perkiraannya tidak meleset sama sekali. Luhan sempat menjauhkan tubuhnya dari Sehun, namun, kemudian, bahu Luhan menegang dan matanya tidak lepas dari jari Sehun yang berdarah-darah. Semula yang nafasnya normal berubah jadi satu-satu.

"Luhan, kau bukan manusia, 'kan ?" tanya Sehun.

Mendadak iris mata Luhan mengecil, lalu matanya mulai bercahaya merah. O.K., Sehun mungkin terlalu jauh memancing Luhan. Tapi Sehun puas karena Luhan baru saja memberi jawaban secara tidak sengaja.

"Singkirkan itu, Oh Sehun," Luhan membuang wajahnya. Cahaya matanya berubah normal lagi. Tapi, Luhan kelihatan lelah.

Sehun yang tidak tega buru-buru menyembunyikan jarinya yang sudah dilumuri darah sepenuhnya. Dengan gusar Sehun mengusap jarinya dengan sweatter. Sesekali Sehun meringis karena perihnya baru terasa sekarang.

"Apa kau baik-baik saja ?" tanya Luhan sambil menyentuh bahu Sehun.

"Aku baik-baik saja," jawab Sehun sambil tersenyum pada Luhan.

Tiba-tiba Luhan memeluk Sehun erat. Berkali-kali Luhan menciumi rambut panjang Sehun yang agak berantakkan. Sehun yang terlampau kaget tidak melakukan apa-apa. Sehun hanya diam, bahkan tidak membalas pelukan Luhan.

"Jangan lakukan itu lagi," ucap Luhan pelan. "Jangan sakiti dirimu sendiri lagi. Jangan biarkan aku lepas kendali," tambah Luhan sambil mengeratkan pelukannya.

Sehun tersenyum. Setidaknya Luhan sudah terbuka soal ini.

"Iya," Sehun membalas pelukan Luhan. "Maaf."

Tidak ada satupun diantara mereka yang berniat untuk melepas pelukan. Sehun sih tidak masalah. Sehun senang. Setidaknya Sehun punya kenangan baik sebelum Luhan pergi ke Forks, karena Luhan tidak tahu ia bisa kembali atau tidak. Sehun tidak bisa mencegahnya. Yang bisa Sehun lakukan adalah memperbanyak kenangan bersama Luhan juga memperkuat ingatannya soal bagaimana nyamannya dipeluk Luhan. Itu saja.

Sehun mempererat pelukannya. Terus berusaha memasukkan banyak-banyak ingatan soal laki-laki yang ia peluk saat ini. Sehun tidak mau lupa soal Luhan. Sehun tidak mau melupakan kenangan kalau dia mulai naksir laki-laki yang jelas-jelas bukan manusia ini.

"Oh, matahari terbit," Luhan melepaskan pelukannya dan menunjuk ke horizon yang mulai menguning.

Sehun sempat tertegun saat melihat sebuah garis kuning di antara langit yang masih gelap. Gradasi yang terbentuk dari gelap ke terang terlihat luar biasa. Sehun belum pernah melihat yang seperti ini sebelumnya. Bahkan dalam sebuah foto.

"Indah," bibir Sehun bergerak sendiri.

Tidak ada suara yang terdengar dari Sehun dan Luhan. Mereka sama-sama speechless saat melihat horizon kuning itu mulai melebar dan langit di sekitarnya bertambah terang. Terlalu indah hanya untuk digambarkan dengan kata-kata.

"Ini keren," tambah Sehun sambil mengguncang lengan Luhan. "Keren banget," Sehun tersenyum lebar pada Luhan.

Mau tidak mau Luhan tersenyum. Sehun belum pernah tersenyum selebar ini padanya. Sehun terlalu tipikal anti-social-whore. Sehun kelihatan cuek, walaupun bakal sangat ekspresif saat bersama orang-orang terdekatnya. Dan setidaknya Luhan tahu kalau sekarang ia sudah masuk ke dalam area orang terdekat Sehun.

"Ini baru pembuka. Pertunjukkan intinya masih dua puluh menit lagi," ucap Luhan. Sehun mengangguk senang.

Luhan kembali duduk dan menarik Sehun ke pangkuannya. Sehun kembali menyandarkan kepalanya ke dada Luhan, sementara Luhan memeluk Sehun dari belakang sambil menyelimuti tubuh mereka berdua sambil menunggu kabut datang.

Luhan sama seperti Sehun. Ia ingin membuat kenangan baik sebelum pergi ke Forks. Luhan ingin mengingat dan memperkuat segala hal tentang Sehun yang selalu menarik. Luhan ingin Sehun selalu ada dalam ingatannya walaupun mereka sudah benar-benar tidak bisa bertemu lagi.

"Luhan," panggil Sehun.

"Hm ?" Luhan menyandarkan kepalanya pada kepala Sehun. "Ada apa ?"

"Kau ini.. apa ?" tanya Sehun pelan. Luhan terkekeh.

"Menurutmu ?" Luhan malah melempar pertanyaan balik.

"Entahlah. Mungkin.. vampire ?" Sehun menggembungkan pipinya. "Ah, bukan! Kau sama sekali tidak mirip Edward Cullen," tambah Sehun.

"Menyebalkan. Kenapa stigma kalau vampire itu Edward Cullen sangat melekat, sih ?" Luhan terdengar jengkel.

"O.K.," Sehun terkekeh.

"Aku sudah pernah bilang, 'kan. Aku ini kembarannya Taylor Lautner," Sehun memukul tangan Luhan. "Tapi aku bukan manusia serigala, sih," jawab Luhan sambil tersenyum.

"Lalu ?"

"Iya, aku vampire."

"Ooh."

Luhan sweatdrop. Sebelumnya Sehun kelihatan berapi-api sekali soal identitas Luhan. Tapi sekarang, ketika Luhan sudah membuka identitasnya secara gamblang, reaksi Sehun sama sekali tidak seperti yang diharapkannya. Sehun bersikap seolah fakta bahwa laki-laki yang sedang memeluknya dari belakang saat ini adalah vampire hanya sesuatu yang kecil. Sama seperti fakta kalau laki-laki punya adam's apple.

"Aku tidak kaget," ucap Sehun. "Aku sudah curiga sejak awal."

"Aku kira kau akan takut," timpal Luhan.

"Agak sih. Tapi, biasa saja," tukas Sehun.

"Dasar," Luhan mencubit pipi Sehun pelan.

Ada jutaan pertanyaan yang mengambang di otak Sehun. Semuanya teriak-teriak minta dikeluarkan. Sekuat tenaga Sehun berusaha menahan diri untuk tidak bertanya terlalu banyak. Sehun tidak ingin Luhan merasa tidak nyaman dengan otaknya yang hiperaktif.

"Luhan," Sehun memainkan ujung selimut. "Berapa umurmu ?"

Sehun bisa merasakan Luhan tersenyum.

"Dua puluh empat," jawab Luhan.

"Bohong," timpal Sehun. "Pasti kau diubah jadi vampire di usia itu. Seberapa lama kau jadi vampire ?"

"Entahlah," Luhan kelihatan berfikir. "Mungkin dua ratus tahun ?"

"APA ?! DUA RATUS ?!"

Sehun kelihatan shock. Sehun mengira usia Luhan maksimal seratus. Tapi.. dua ratus ?

Sedangkan Luhan hanya cengengesan. Luhan senang karena, akhirnya, Sehun menunjukkan reaksi berlebih.

"Entahlah. Aku berhenti menghitung sejak usiaku yang ke-164," lanjut Luhan.

"Oh, ratusan kali melihat kabut terakhir di musim semi."

Sehun geli sendiri. Jadi Luhan mengatakan soal ratusan kali melihat kabut terakhir di musim semi merupakan sebuah denotasi. Luhan benar-benar melihat kabut terakhir di musim semi lebih dari seratus empat puluh kali. Luhan tidak mengada-ada.

"Apa kau kekal ?"

"Tentu,"

"Untuk apa kau diubah jadi vampire ?" tanya Sehun. Sekarang Sehun sudah jadi detektif yang banyak tanya seperti biasa.

"Banyak alasan," Luhan mencengkeram rahang Sehun. "Dan aku hanya menceritakannya pada detektif cerewet yang cantik ini," Sehun terkekeh.

"Cepat ceritakan."

"Tidak jadi," Sehun cemberut.

"Kenapa ?"

"Karena kabutnya sudah datang."

Luhan tidak berbohong. Langit sudah terang dan kabut menyelimuti kota Seoul. Hanya beberapa gedung tinggi saja yang terlihat, sementara bangunan lain tertutupi kabut tebal. Dari tempat berdirinya sekarang, Sehun merasa berada pada negeri di atas awan.

Sehun terkekeh senang. Ini pertama kalinya Sehun melihat negeri di atas awan secara langsung. Sebelumnya, Sehun tidak tahu bakal seindah ini. Melihat negeri di atas awan secara langsung sangat jauh dari pemikiranya. Sehun berfikir ia harus naik gunung untuk bisa melihat yang seperti ini. Tapi Luhan menunjukkan cara yang lebih mudah.

"Keren," ucap Sehun senang.

"Yang tahun ini jauh lebih indah," tukas Luhan.

"Benarkah ? Aku beruntung, dong ?"

"Tidak juga," tambah Luhan. "Yang beruntung hanya aku."

"Bagaimana bisa ? Kita 'kan melihat kabut yang sama," protes Sehun.

"Jelas beda."

Luhan mengusap kepala Sehun. Lalu menggenggam tangannya.

"Aku tidak melihat kabut terakhir di musim semi sendirian lagi. Aku melihatnya bersama seorang gadis cantik yang sangat aku cintai," Luhan terkekeh. "Oh, cheesy."

Sehun mengangkat wajahnya dan mereka bertemu mata. Wajah rupawan itu sangat dekat. Pipi Sehun memerah lagi untuk yang kesekian kalinya. Denyutan jantungnya juga meningkat gila-gilaan. Sehun tidak bisa mempercayai pendengarannya sendiri. Kata-kata terakhir Luhan terus mengambang di telinganya. Sehun tahu ia tidak salah dengar, tapi, hanya saja, sulit dipercaya.

Luhan mencintainya ?

"Luhan.."

"Oh Sehun, aku mencintaimu."

Mata teduh dan dalam itu menatap Sehun tanpa berkedip. Sehun tidak bergerak. Sehun seperti melihat banyak hal dari mata Luhan. Sedih, senang, takut, marah, lapar, dan malu. Sehun seolah bisa merasakan segala hal yang pernah dirasakan Luhan selama dua ratus tahun terakhir. Sehun hanyut di sana. Sehun terlampau menginginkan Luhan.

Dan bibir mereka bertemu, menyatu dalam sebuah ciuman manis. Menyalurkan rasa sayang yang mungkin sudah tumbuh sejak mereka bertemu. Rasa untuk memiliki dan dimiliki. Rasa untuk menjaga dan dijaga. Tabir bernama gengsi lenyap sudah.

Kabut terakhir di musim semi dan matahari terbit tersenyum menyaksikan penyatuan hati antara seorang gadis manusia dan seorang vampire.

.

.


.

.

Sehun mengunjungi Kyungsoo dan Kai di rumah sakit. Ini hari Minggu dan Sehun tidak punya janji dengan siapapun. Lagipula, Luhan dengan senang hati mengantarnya ke rumah sakit –kalau tidak senang Sehun bakal ngambek.

Awalnya, Sehun mengira bakal menemukan dua orang yang ditancapi dengan berbagai alat di ruang inap VIP. Tapi, perkiraannya salah. Kai sudah mentas dari masa kritisnya sejak semalam.

"Woah, Tuan Kim!"

Sehun menghambur masuk saat Kai sedang duduk di kursi sebelah kasur Kyungsoo.

"Oh Sehun," Jongin tersenyum senang.

"Selamat datang kembali," ucap Sehun sambil menyalami Kai.

Kai masih mengenakan pakaian rumah sakit dan tangannya diinfus. Jadi, Sehun menyimpulkan Kai belum sembuh total dan masih harus stay di rumah sakit sampai beberapa hari ke depan. Tapi, setidaknya Kai sudah bangun sekarang.

"Aku masih belajar berjalan. Aku lupa cara jalan padahal hanya beberapa hari tidur," ucap Kai dengan senyuman yang tak pernah lepas dari wajahnya.

"Itu karena kau bodoh," tukas Sehun sambil menoyor kepala Jongin.

"Aku tidak bodoh, Oh Sehun," timpal Kai sengit.

"Jangan menghindar dari kenyataan, Tuan Kim," balas Sehun.

Kai tidak membalas lagi. Kai tahu ia tidak akan pernah menang mendebat Sehun. Lidah Sehun terlampau lincah dan otaknya terlalu kritis juga hiperaktif. Apalagi Sehun hobi bercanda, seperti memanggilnya 'Tuan Kim', atau 'suami Kyungsoo', dan semacamnya. Mau tidak mau Kai tersenyum mendengar candaan Sehun. Jadi, dia terima-terima saja kalau kalah debat.

"Kyungsoo masih belum bangun, ya ?" tanya Sehun sambil berjalan ke sisi kasur yang lain, lalu ia menggenggam pergelangan tangan kiri Kyungsoo. Sehun yang semula kelihatan ceria berubah sedih bukan main saat melihat wajah Kyungsoo yang tertutupi alat bantu nafas. Kai juga. Pancaran matanya berubah redup lagi.

"Iya," Kai mengelus rambut panjang Kyungsoo. "Aku kaget waktu bangun. Aku tidak menyangka kalau Kyungsoo benar-benar menyusulku."

"Maksudmu ?" Sehun mengernyit bingung.

"Kyungsoo ada di alam mimpiku saat aku tidur. Dia bilang, dia menyusulku. Aku tidak tahu kalau dia benar-benar menyusulku," ucap Kai.

Sehun tersenyum mendengar penuturan Kai. O.K., mungkin Kyungsoo dan Kai memang sudah jodoh dari sananya. Jadi, di alam tidak sadar pun mereka tetap bersama-sama. Tuhan adil, ya, memang Tuhan adil.

Sehun dan Kai sempat mengobrol beberapa saat. Sehun juga memperkenalkan Luhan pada Kai. Pertanyaan tentang Luhan siapanya Sehun sempat terlontar dari mulut jahil Kai, yang dijawab dengan pipi memerah dari keduanya. Mereka tidak menjawab, hanya terkekeh saja. Dan Kai merasa puas karena mampu membuat si ahli debat Oh Sehun tutup mulut.

Agak siang, Sehun dan Luhan memilih untuk pulang. Kyungsoo butuh ketenangan dan Kai juga butuh istirahat. Setelah Sehun sempat menjitak kepala Kai dan membuatnya jengkel, akhirnya Sehun dan Luhan benar-benar meninggalkan rumah sakit.

Luhan tidak bawa motor hari ini. Jadi, Sehun dan Luhan berjalan menyusuri trotoar sambil bergandengan tangan. Sesekali mereka bertemu tatap, tersenyum, dan kembali ke fikiran masing-masing. Tidak ada satupun di antara mereka yang berbicara.

Jari-jari tangan Luhan yang besar dan dingin terselip di antara jari-jari kecil Sehun. Entahlah, tapi bagi Sehun, rasanya menyenangkan. Sehun suka tangan Luhan, oh tidak, semua hal tentang Luhan. Termasuk fakta kalau Luhan bukan manusia.

Hari ini Luhan makin keren. Dengan mantel panjang berwarna biru tua dan celana jeans, juga sepatu 'Gamma Air Jordan 12', ditambah rambutnya yang sekarang diwarnai hitam semakin membuat Luhan terlihat rupawan. Oh, Sehun juga baru sadar kalau telinga kiri Luhan ditindik. Sehun tidak kuat.

Sehun jadi merasa tidak pantas berjalan di sebelah Luhan. Sehun hanya mengenakan sweatter abu-abu dengan jaket baseball warna biru tua sebagai luarannya. Celana jeans dan senakers Converse warna hitam yang lumayan butut benar-benar tidak pantas disandingkan dengan Luhan yang kelihatan seperti anak orang kaya.

Sehun merasa seperti upik abu yang ketemu pangeran ganteng.

"Ada apa ?" tanya Luhan saat Sehun membuang tatapannya buru-buru.

"T-tidak," jawab Sehun gugup.

"Ah! Aku baru ingat."

Luhan menghentikan langkah dan merogoh kantong mantelnya, lalu mengeluarkan dua buah giwang yang sama persis seperti milik Luhan, giwang berbentuk kristal salju. O.K., Sehun memang tidak pernah memakai giwang atau anting. Tapi yang ini.. keren banget. Sehun suka dan baru kali ini ada dorongan dalam dirinya untuk memakaikan sesuatu di telinganya yang sudah berlubang.

"Aku punya dua lagi. Kau mau, 'kan ?" tanya Luhan.

"Mau," jawab Sehun semangat.

"Pakai ini."

Sehun menerima giwang kristal salju itu, lalu memakainya di telinganya. Agak kesulitan karena Sehun suda lama sekali tidak pakai anting. Lubangnya menyempit dan hampir menutup. Untung saja masih bisa masuk.

"Terima kasih," ucap Sehun sambil setengah menunduk malu.

"Kelihatan cocok di telingamu," Luhan menanggapi.

Pipi Sehun bersemu merah. Sehun tidak suka dipuji, tapi kalau Luhan, Sehun malah senang.

"Ayo kita makan," ajak Luhan sambil menggamit tangan Sehun.

.

.


.

.

TO BE CONTINUED

.

.

Chapter depan kemungkinan masalah makin meruncing dan makin merumit.

So, ditunggu ya!

Jangan lupa review ya ^^

With love, Katniss 3