Tittle : Thriller

Author : Katniss Jung

Chapter : 7 of ?

Casts :

Oh Sehun

Lu Han

Genre : Fantasy, horror, thriller, romance, drama

Type : Chaptered

Alert : HanHun, HunHan, Gender Switch, Sehun!Girl, Luhan!Boy

Summary : Jangan pilih aku jika kau benci kegelapan. Jangan pilih aku jika kau benci sepi. Karena, saat kau bersamaku, kau akan merasakan apa yang namanya gelap dan sepi, hanya ada kita berdua.

.

.


.

.

Hai!

Chapter 7 datang!

Check this out! ^^

.

.


.

.

Walaupun mereka sudah berhubungan dan mengetahui satu sama lain, Sehun masih belum berani bertanya lagi pada Luhan. Sehun masih merasa sungkan dan tidak enak jika harus mengungkit-ungkit soal identitas Luhan. Keadaannya selalu terasa kurang pas.

Rasa ingin tahu Sehun makin menggebu-gebu. Ditambah lagi dengan menghilangnya Tao dari sekolah dan tingkat absen Kris yang luar biasa. Sehun benar-benar ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka. Dan hanya Luhan yang tahu jawabannya. Tapi, sekali lagi, Sehun masih sungkan.

Sehun tersadar dari lamunannya saat ponselnya bergetar. Sehun merogoh kantong jas almamaternya dan mendapati sebuah pesan singkat dari Luhan.

From : Luhan

Datanglah ke rumahku sepulang sekolah.

To : Luhan

Ada apa ?

Lama Luhan tidak menjawab. Seperti biasa, Sehun yang tidak suka menunggu mulai bertingkah. Jarinya mengetuk-etuk meja dan matanya terus mengamati layar LCD ponselnya. Bahkan penjelasan dari Pak Gil soal Limit tidak didengarkan oleh Sehun lagi.

Ponsel Sehun kembali bergetar.

From : Luhan

Datang saja. Aku masak enak.

.

.


.

.

Kalau saja bukan karena Luhan itu pacarnya, Sehun tidak akan datang ke rumah Luhan susah payah hari itu. Hujan deras turun tepat saat Sehun berjalan keluar dari sekolah. Sialnya lagi, Sehun tidak bawa payung. Jadi, Sehun harus lari-larian agar cepat sampai rumah. Toh, rumahnya tidak jauh-jauh amat dari sekolah.

Sehun menghambur masuk ke halaman rumah Luhan dan buru-buru memencet tombol bel. Badan Sehun menggigil luar biasa karena hujan di musim semi bukan ide yang baik. Airnya sangat dingin dan rasanya bakal seperti dijatuhi air es. Dan Sehun benar-benar mengalaminya.

Tak lama kemudian, terdengar suara langkah setengah berlari dari dalam. Lalu, pintu terbuka dan berdirilah Luhan dengan kaos oblong dan celana training selutut, juga.. apron ?

Sehun membulatkan matanya saat mendapati Luhan mengenakan apron berwarna hijau salem. Mau tidak mau tawa Sehun meledak, padahal ia dalam keadaan kedinginan. Luhan dalam apron hijau salem benar-benar menggelikan.

"Cepat masuk," Luhan meraih pinggang Sehun dan membawanya masuk, walaupun ia tidak bisa mengabaikan fakta bahwa Sehun menertawakan apronnya.

"Luhan, apronmu," Sehun kembali tertawa.

"Apa ?" protes Luhan setengah cemberut.

"Tidak," Sehun menahan tawanya. "Kau masak apa ?" tanya Sehun sambil mengintip pantry kecil di ujung ruangan.

"Lasagna. Aku sudah pernah menjanjikanmu lasagna, 'kan ?" Luhan berjalan menuju pantry diikuti Sehun.

"Oh, iya. Aku bahkan sudah lupa. Bagaimana kau bisa mengingatnya ?" tanya Sehun sambil melepas ransel dan jas almamaternya yang basah kuyup. "Oh, gee," Sehun mengamati lengan kemejanya yang ternyata juga basah.

"Tentu saja aku ingat. Sekali mendapat ingatan, aku tidak pernah lup-" mata Luhan jatuh pada lengan Sehun yang basah. "Pergilah ke kamarku. Mandi saja. Pakai pakaianku sesukamu. Aku akan menyelesaikan ini."

Sehun mengangguk, lalu berlari menuju lantai dua. Kamar Luhan masih tidak jauh berbeda dari terakhir kali Sehun berkunjung. Hanya saja, sekarang di salah satu sudut dinding ada banyak sekali foto ditempel.

Sehun tersenyum ketika menyadari bahwa foto-foto itu adalah foto dirinya dan Luhan ketika berkencan. Beberapa merupakan foto candid Sehun. Jadi, selama ini, Luhan sering diam-diam mengambil gambarnya.

Karena merasa kedinginan, Sehun membuka lemari Luhan yang luasnya luar biasa. Ada banyak sekali baju dilipat dan digantung. Semuanya disusun rapih sesuai warna. Sehun sampai heran sendiri. Sehun yang perempuan bahkan tidak sampai se-detail ini.

Sehun menarik sebuah kaos oblong warna biru tua dan celana training pendek yang kelihatan kecil. Walaupun tetap bakal kedodoran, yang penting ukurannya lebih kecil dari yang lain dan Sehun tidak kedinginan lagi.

Saat keluar dari kamar mandi, Sehun mendapati Luhan sudah duduk di belakang grand pianonya. Keren sih, tapi kadar kekerenannya jadi berkurang karena Luhan masih pakai apron hijau salem dan sepiring lasagna diletakkan di atas pianonya. Sehun menggaruk keningnya yang tidak gatal karena geli.

"Oh Sehun, keringkan rambutmu."

Sehun mengamati rambut panjang lepeknya yang basah. Sehun memang belum mengeringkan rambutnya. Kebiasaan sehabis keramas langsung main ponsel ternyata terbawa sampai di luar rumah. Sehun jadi malu sendiri.

"Kemarilah," Luhan memberikan isyarat agar Sehun mendekat. Tanpa di suruh pun, Sehun tetap bakal duduk di sebelah Luhan.

"Ini lasagna ?" tanya Sehun sambil meraih piring yang berisi tiga gulung lasagnya.

"Iya. Cepat makan."

Sehun memakan segulung lasagna yang masih hangat. Rasanya luar biasa enak. Sehun kira, masakan Luhan tidak bakal seenak milik ibunya. Ternyata tidak. Masakan Luhan sama enaknya, walaupun agak beda. Lagi-lagi Sehun jadi malu sendiri karena ia tidak pandai masak.

"Waktu itu aku pernah menjanjikan Winter Sonata padamu. Mau dengar ?" Luhan melepas apronnya.

"Ya ampun, Luhan, ingatanmu tajam sekali," protes Sehun dengan mulut penuh.

"Telan dulu," Luhan mengacak rambut basah Sehun. "Aigo~"

Luhan menarik handuk yang melingkar di leher Sehun, lalu mulai mengeringkan rambutnya.

"Aku bisa mengeringkannya sendiri," ucap Sehun sambil menahan tangan Luhan. Pipinya bersemu merah.

"Makan saja. Biar aku yang keringkan."

Sehun melanjutkan makan dengan malu-malu. Luhan terlalu baik padanya. Luhan juga tidak menyebalkan lagi seperti dulu. Luhan yang sekarang adalah Luhan yang cocok dimasukkan ke dalam daftar pacar-paling-keren-dan-paling-sempurna-sedunia.

Luhan menghentikan gerakannya saat mereka bertemu mata, begitu juga Sehun. Mendadak jantung Sehun berpacu cepat karena jarak wajah mereka yang terlalu dekat. Semburat merah langsung merayap dari pipi hingga leher Sehun. Mau tidak mau Sehun membuang tatapannya.

"I-ini lambang apa ?" tanya Sehun sambil menunjuk sebuah lambang di grand piano Luhan. Sebenarnya Sehun tidak benar-benar ingin bertanya. Hanya saja, ia butuh pengalihan topik.

"Itu.."

Cahaya mata Luhan meredup. Sehun tahu betul ini topik sesitif. Ia jadi merasa bersalah. Tapi, ia juga senang karena lambang ini pasti ada kaitannya dengan identitas Luhan. Jadi, Sehun punya kesempatan buat bertanya. Yah, walaupun sama saja dengan mencari kesempatan dalam kesempitan.

"Itu lambang sebuah keluarga," akhirnya Luhan angkat bicara.

"Keluarga siapa ?"

Bibir Sehun benar-benar tidak bisa disaring.

"Keluarga Wu," jawab Luhan.

Sehun kembali mengamati lambang naga yang berada di bagian tutup tuts.

"Siapa itu keluarga Wu ?" otak hiperaktif Sehun mulai lagi.

"Keluarga yang menyelamatkanku," ucap Luhan sambil ikut mengamati lambang naga itu.

"Menyelamatkanmu ? Dari ?"

Luhan mencengkeram rahang Sehun hingga bibirnya berbentuk seperti mulut ikan.

"Nona detektif ini hobi sekali bertanya, ya," ucap Luhan gemas.

"Luhan, hentikan," rengek Sehun dengan suara tidak jelas. Luhan terkekeh.

"Sekali lagi, ingat baik-baik Oh Sehun. Aku hanya menceritakan ini padamu," ucap Luhan sambil melepaskan cengkeramannya.

"Aku tahu, Luhan. Aku tahu," tukas Sehun sambil cemberut.

Luhan mengacak rambut Sehun lagi saking gemasnya.

"Baiklah," Luhan menyandarkan tangannya pada badan piano. "Keluarga Wu adalah keluarga bangsawan. Bangsawan vampire. Mereka kaya, cerdas, dermawan, dan rupaw–"

"Apa kau bagian dari mereka ? Jadi margamu Wu ?" potong Sehun.

"Ya Tuhan," Luhan mencubit pipi Sehun gemas. "Dengarkan aku bercerita. Baru bertanya."

"Baiklah, Pak. Maaf," Sehun mengelus pipinya sendiri.

"Pokoknya keluarga Wu itu keren," lanjut Luhan. "Dan aku bukan bagian dari keluarga Wu. Lagipula aku tidak kaya, cerdas, dermawan, dan rupawan seperti mereka."

Sehun memutar bola matanya. Ya ampun, Luhan nggak sadar kalau dia sama seperti mereka ?

"Dulu, setelah aku diubah jadi vampire, aku diburu banyak orang. Vampire baru selalu menimbulkan kekacauan, termasuk aku. Aku haus darah. Tiap bertemu manusia, aku bakal menyedot darah mereka sampai badan mereka mengering."

Sehun bergidik membayangkannya.

"Itulah kebodohan vampire baru. Aku belum tahu yang namanya kontrol diri dan teknik berburu. Lagipula, tidak ada yang mengajariku. Aku tidak punya kawanan. Aku benar-benar menjadi buronan nomor satu dan bertahan sendirian," Luhan menghela nafasnya. Matanya kian meredup. Sehun tahu kalau Luhan pasti sedang mengingat masa pahitnya dulu.

"Lalu, apa hubungannya dengan keluarga Wu ?"

Sehun benar-benar tidak tahu bagaimana caranya bertanya dengan baik.

"Mereka, ya, menolongku. Mereka menangkapku di tahun ke tujuhku sebagai buronan. Mereka menangkapku bukan untuk diadili, tapi diajari. Mereka mengajariku cara kontrol diri dan teknik berburu. Selama bertahun-tahun aku dilatih, juga disembunyikan. Keluarga Wu memperlakukanku dengan sangat baik."

Luhan mengelus tengkuknya sendiri.

"Hingga suatu hari, aku ketahuan. Aku ditemukan orang-orang yang memburuku," Luhan menghela nafasnya. "Keluarga Wu melindungiku mati-matian karena aku belum begitu kuat. Mereka rela bertarung, bahkan rela membongkar identitasnya sebagai vampire di depan manusia fana. Aku sempat berfikiran untuk menyerahkan diri. Tapi ketua melarangku. Dia bilang, aku harus dilindungi. Dengan alasan, aku adalah keluarga mereka. Klasik, tapi menyentuh hati."

Sehun kembali mengamati lambang naga di piano Luhan. Sebaik ituka keluarga Wu ?

"Pembantaian besar-besaran terjadi. Keluarga Wu nyaris dibakar seluruhnya. Harta, rumah, orang, semuanya. Aku semakin merasa bersalah. Identitas keluarga Wu terbongkar karena aku. Mereka terlalu baik. Bahkan mereka tidak menyalahkanku sama sekali," Luhan menyibak surai hitamnya. "Sampai pada suatu ketika, ketua terluka parah. Kaki kirinya terbakar. Itu tandanya, ia bakal segera mati. Vampire mati karena dibakar atau dimutilasi. Dan tangan kanan ketua sudah patah. Ketua tidak bisa diselamatkan lagi."

Luhan mencengkeram tutup piano. Sehun mengelus bahunya.

"Aku diperintahkan untuk pergi menjauh dari Vancouver. Aku diperintahkan meninggalkan Rumah Besar setelah selama dua puluh tahun disimpan di sana. Aku sempat takut, tapi ketua yakin aku bisa. Dia memerintahkanku untuk pergi ke Meksiko. Dia bilang, aku harus membawa pergi anaknya sejauh mungkin, keluar dari jangkauan para pemburu juga keluarga bangsawan tandingannya. Pokoknya anakku harus selamat. Begitu pesannya.

"Aku sadar ketua baru saja menyerahkan misi besar padaku. Aku benar-benar takut dan tidak tahu bagaimana caranya. Aku buta arah dan kemampuan. Aku masih belum ada apa-apanya. Sampai aku menemukan tiga moonlace dari kebun Calypso di Phoenix. Bunga-bunga itu membimbingku untuk sampai di Meksiko. Aku berhasil membawa anak ketua kabur dan anak itu selamat, juga aku."

Luhan membenamkan wajahnya pada tangannya yang bersandar pada badan piano. Luhan kelihatan lelah sekali setelah bercerita panjang. Mungkin karena cerita tersebut membawa ingatan buruk. Jadi Luhan kelelahan.

"Lalu.. siapa anak itu ?" tanya Sehun.

Luhan mengangkat wajahnya, lalu tersenyum pada Sehun.

"Kau mengenalnya," ucap Luhan.

"Benarkah ?" Sehun kelihatan bersemangat.

"Tentu."

.

.


.

.

Sehun duduk di pinggir lapangan basket sambil meminum soda, padahal ia tidak suka basket dan Kyungsoo sedang sakit. Mata Sehun terus-terusan mengamati sekitarnya. Namun, orang yang dicari Sehun tidak muncul juga.

Setelah beberapa lama menunggu, rombongan tim inti basket sekolah memasukki lapangan. Sehun mengamati mereka. Sehun sempat berdo'a semoga Kris muncul hari ini. Sehun tidak ingin pengorbanannya untuk menunggu sia-sia.

Terjawablah do'anya. Kris berjalan beriringan dengan Chanyeol. Rambut hitam cepaknya bertambah panjang dan ada plester di pelipisnya. Sehun mengernyit bingung. Kris terluka ? Bukankah Kris sama seperti Luhan ? Vampire tidak bakal kena luka ringan.

Buru-buru Sehun bersembunyi di balik keranjang bola yang besarnya bukan main. Setidaknya Sehun tidak mau ketahuan sedang menunggui Kris latihan.

Lagi-lagi Sehun harus menunggu. Sehun paling benci menunggu. Tapi, bukan Sehun namanya kalau tidak melakukan apapun untuk mendapatkan sesuatu yang ia inginkan. Sehun ingin tahu identitas Kris dari sumbernya dan ingin tahu apa hubungan Kris dengan Tao. Makanya Sehun rela menunggu di balik keranjang bola yang bau apek.

Satu jam menunggu. Sehun mendapatkan tiga despicable sekaligus di Minion Rush-nya. Mungkin terlalu berlebihan, tapi Sehun rela. Dia harus mendapatkan informasi. Bagaimanapun caranya. Yang penting dapat.

"Oh Sehun, apa yang kau lakukan di sini ?"

Sehun kaget bukan main saat mendengar suara di belakangnya. Sehun mendongak dan mendapati Kris di sana sambil membawa sebuah bola. Susah payah Sehun menelan ludah. Ketahuan sudah. Habis sudah.

"Apa yang kau lakukan di sini ?" tanya Kris lagi.

Sehun mengaduh sesaat, berusaha memeras otak. Sehun harus mengemukakan alasan logis supaya Kris tidak langsung tahu soal tujuan awal Sehun berada di sini. Sehun harus akting sedikit, yah, walaupun ia tahu kemampuan aktingnya di bawah payah.

"Main ini," ucap Sehun sambil mengacungkan ponselnya, menunjukkan seberapa banyak despicable juga goals milik Minion Rush-nya pada Kris.

"Kenapa harus di sini ?" Kris kedengaran ragu.

Sehun terkekeh kaku. Lalu ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Sehun bersyukur bukan main ketika mendapati antena WiFi di dekat lapangan basket. Lain waktu, Sehun harus berterima kasih pada pengelola sarana teknologi sekolah.

"Di sini sinyalnya paling banyak," ucap Sehun sambil menunjuk antena WiFi. "Aku butuh internet cepat," Sehun nyengir aneh.

Kris kelihatan tidak yakin, tapi ia meninggalkan Sehun juga pada akhirnya. Tubuh Sehun melorot. Nyaris saja ia ketahuan. Bisa jatuh harga dirinya. Apalagi di mata Kris yang baru dikenalnya akhir-akhir ini.

Tapi sepertinya, Kris bukan tipikal mulut besar dan tukang menjatuhkan harga diri, menurut Sehun.

Kris kelihatan kalem dan keren. Luhan juga keren, sih. Tapi, feel-nya beda. Kris kelihatan lebih teratur dan bersahaja. Bicara Kris juga tertata rapih. Mungkin karena Kris adalah anak tunggal dari keluarga Wu. Darah bangsawan mengalir deras di tubuhnya. Jadi, Kris agak beda.

Sehun bertanya-tanya apakah Kris tahu apa yang terjadi di masa lalu. Menurut Luhan, ia membawa lari Kris di usianya yang masih sangat kecil. Kris masih balita waktu itu. Jadi, agak mustahil Kris tahu semuanya –kecuali kalau Luhan yang memberi tahu.

Setelah menunggu setengah jam, latihan basket –akhirnya– selesai juga. Sehun buru-buru memasukkan isi tasnya yang sudah berceceran semua karena Sehun butuh pengalihan. Saat hendak berlari mengejar, Sehun buru-buru menghentikan langkahnya.

Kris berdiri di dekat tempat istirahat pemain sendirian. Wajahnya sedatar batu-bata seperti biasanya. Hanya saja, Sehun bisa melihat kilatan lain di matanya. Sehun mulai berburuk sangka. Mungkin saja Kris sudah tahu tujuan Sehun berada di lapangan.

"Oh, hai, Kris," sapa Sehun dengan senyuman awkward-nya. "Bagaimana latihannya ?" tanya Sehun berbasa-basi. Hanya saja, Kris tidak bereaksi apapun.

"Apa yang kau lakukan di sini–" Kris berjalan mendekat. "sebenarnya ?" Kris bertanya penuh penekanan.

O.K., Sehun ketahuan.

"Apa yang kau inginkan ?" tanya Kris lagi. Wajahnya masih sedatar batu-bata tapi matanya tidak menuruti.

Ada kilatan lain di matanya. Sehun kira itu kilatan marah. Hanya saja, bukan seperti marah pada Sehun. Lebih terlihat seperti, marah pada diri sendiri mungkin ? Atau frustasi ? Entahlah. Kemarahan Kris kelihatan lebih emosional.

Sehun masih diam saja. Bahkan ia tidak berani menatap Kris berlama-lama. Jujur saja Sehun takut. Kris sama seperti Luhan. Bedanya, Luhan sudah jinak dan tidak akan menghisap darah Sehun sampai tubuhnya kering. Tapi kalau vampire yang satu ini, Sehun tidak tahu. Bisa saja Kris menyerangnya tiba-tiba.

"Aku ingin tahu tentang sesuatu," Sehun membuka suara. Dia yang memulai, dia juga yang harus mengakhiri penguntitan ini. Sehun ingin selesai cepat.

"Soal apa ?" tanya Kris sambil mencengkeram strap ranselnya.

"Soal kau.. dan Tao."

Topik sensitif. Sehun tahu itu. Buktinya, bahu Kris langsung menegang. Nafasnya juga berubah satu-satu. Yang jelas, urusan Kris dan Tao bukanlah sesuatu yang sederhana. Segalanya pasti sudah berjalan selama puluhan tahun mengingat mata Tao yang juga memerah di malam itu. Kris dan Tao sama-sama vampire. Ini yang namanya konflik purba sungguhan.

Mata Sehun nyaris melompat keluar dari rongganya ketika Kris tiba-tiba berlutut di hadapan Kris.

"K-kris, apa yang kau lakukan ?!" Sehun malu dan sedikit jengkel. Kalau ada yang lihat, pasti mereka bakal berfikir yang aneh-aneh.

"Maafkan aku, Oh Sehun," ucap Kris sambil menunduk dalam.

Suaranya bergetar. Nadanya kentara sekali dengan rasa bersalah. Sehun mengernyit bingung. Kris minta maaf untuk apa ?

"Untuk apa minta maaf ?" Sehun menjatuhkan tubuhnya. Setidaknya di antara mereka tidak ada yang dilututi dan melututi.

Kris mengangkat wajahnya. Sehun agak bingung ketika mendapati mata Kris yang berair dan wajahnya yang memerah. Seingatnya, vampire tidak lagi bisa mengeluarkan hal seperti itu lagi dari tubuhnya.

"Maafkan aku," Kris kembali menunduk.

"Kris," Sehun mencengkeram kedua bahu Kris. "Katakan apa yang terjadi. Jangan hanya minta maaf."

Kris sempat terisak. Tapi, ia buru-buru menghirup nafas dalam. Sehun sempat bingung. Kris menangis setelah minta maaf. Itu tandanya, sesuatu yang buruk baru saja terjadi dan Sehun mau tidak mau terlibat di dalamnya.

"Kau.. pasti sudah tahu semuanya, 'kan ?" tanya Kris.

"Iya. Luhan yang memberitahu. Aku memaksanya. Maaf," sekarang giliran Sehun yang merasa tidak enak.

"Luhan mengatakan sesuatu soal Tao ?" tanya Kris lagi sambil mengangkat wajahnya. Dia sudah berhenti menangis.

"Tidak. Kami belum sampai ke bagian yang itu," jawab Sehun seadanya.

"Tapi kau tahu soal bangsawan tandingan ayahku, 'kan ?" Kris lagi-lagi bertanya. Tapi lebih kedengaran seperti memohon.

"I-iya."

"Tao. Keluarga Tao adalah keluarga bangsawan tandingan ayahku."

Sehun terhenyak. Jadi, alasan Tao menyakiti Kris selama ini adalah soal permusuhan keluarga.

"Mereka menyerangku lagi setelah sekian lama tidak. Terakhir kali mereka menyerangku di tahun 1960. Waktu itu, aku dan Luhan sedang tinggal di Yunani. Kami berhasil kabur dan menetap di Belgia selama beberapa tahun. Kami berhasil sembunyi sampai tahun ini dengan berpindah-pindah lokasi. Hanya saja, sepertinya kami sedang tidak beruntung. Tao menemukanku.

"Tidakkah kau merasakan sesuatu yang aneh ?" tanya Kris tiba-tiba.

Sehun menggeleng.

"Kenanganmu soal Tao. Apa kau tahu nama terakhir Tao ? Soal orang tua Tao ? Soal darimana asalnya, soal apapun dari masa lalunya ? Apa kau mengetahuinya ?" tanya Kris bertubi-tubi.

Sehun mengernyitkan dahinya. Otaknya bekerja keras untuk mengingat segala hal tentang Tao. Sehun merasa Tao adalah salah satu teman dekatnya. Seharusnya Sehun tahu soal Tao. Setidaknya berapa jumlah anggota keluarganya. Tapi sayangnya, Sehun baru menyadari kalau ia benar-benar tidak tahu.

"Tidak, Kris. Aku tidak tahu," jawab Sehun dengan tatapan menerawang. Sehun kelihatan agak terguncang.

"Tao datang ke kehidupanmu tidak sejak awal, Oh Sehun. Tao memanipulasi semuanya. Tao memotong memorimu. Tao datang secara tiba-tiba dan membuatmu merasa kalau kalian adalah teman dekat, yang sebenarnya kalian tidak punya apa-apa," lanjut Kris.

Sehun kelihatan makin terguncang. Jadi, ini sebabnya Luhan bilang Tao jahat hanya dengan melihat fotonya ?

"Tao menggunakanmu sebagai batu lompatan untuk mendekatiku. Dia butuh tempat mendarat untuk menembakkan panahnya padaku. Dan pijakannya itu, kau," ucap Kris lirih. "Aku tidak menyangka akan jadi seperti ini, Oh Sehun. Maafkan aku."

Kris menghela nafasnya kasar, lalu mengusap wajahnya sendiri. Ia kelihatan frustasi dan lelah.

"Apa kau tidak bisa menghentikan Tao ?" tanya Sehun.

"Tidak," jawab Kris sambil menggeleng.

"Kenapa tidak ? Kau sama kuatnya seperti Luhan, 'kan ? Kau sama seperti Luhan."

"Tidak. Aku tidak sama dengannya," Kris kelihatan jengkel.

"Maksudmu ?"

"Aku berbeda dengan Luhan maupun Tao. Aku bukan vampire asli," Kris menggaruk pelipisnya.

Sehun kembali mengernyit bingung.

"Ayahku memang vampire. Tapi, ibuku manusia fana. Dan itulah sebabnya kenapa aku bisa lahir. Vampire yang berhubungan dengan vampire tidak akan pernah bisa punya anak karena organ mereka yang semacam itu sudah hilang fungsi. Tapi, vampire dan manusia fana, kemungkinannya 1000%. Jadi, lahirlah aku.

"Aku manusia setengah vampire. Aku half-blood."

Semuanya terasa logis bagi Sehun. Cahaya mata Kris yang berbeda dari Luhan, wajah Kris yang bisa berwarna merah, tangisan Kris, itulah hal-hal manusiawi yang ia dapatkan dari ibunya. Kris memang bukan vampire murni.

"Dan itulah kelemahanku. Aku terlahir dari keluarga besar yang banyak musuh. Sedangkan aku, pewaris utamanya, malah tidak punya kekuatan apa-apa. Aku lemah. Bahkan aku bisa terluka," ucap Kris sambil menunjuk pelipisnya yang diplester.

Kris diam. Sehun diam.

"Satu kesalahan fatal lagi," Kris mengangkat kepalanya. "Kau muncul di saat yang kurang tepat."

Sehun mendelik. Baru beberapa detik yang lalu Kris minta maaf sambil bersujud, sekarang Kris menyalahkannya ?

"Sekarang kau menyalahkanku ?" tanya Sehun sedikit kesal. Awalnya Sehun merasa kasihan pada Kris. Tapi kalau seperti ini, Sehun tidak terima.

"B-bukan seperti itu, Oh Sehun," Kris kelihatan merasa bersalah. "Bukan seperti itu."

"Lalu ?"

"Malam itu," Kris kembali menunduk. "Waktu kau memergoki aku dan Luhan sedang diserang Tao dan saudara-saudaranya, masih ingat ?"

Sehun mengangguk.

"Malam itu, Tao mengetahui kelemahanku, juga kelemahan Luhan yang lain."

Tone suara Kris berubah. Suaranya kedengaran lebih dingin dan menakutkan, juga syarat dengan penyesalan.

"Tao dan kawanannya menemukan titik Achilles kami," lanjut Kris.

"Titik Achill–apa ?"

"Titik Achilles. Titik kelemahan terdahsyat," sambung Kris.

"Lalu, apa titik Achilles kalian ?" tanya Sehun penasaran.

Kris menghela nafasnya.

"Setiap vampire, bahkan half-blood, pasti memiliki titik Achilles. Kami punya kelemahan terparah. Dan mungkin saja itu merupakan satu-satunya celah bagi musuh untuk menang. Biasanya berhubungan dengan orang, barang, atau tempat," Kris menjelaskan sambil menggerakkan tangannya. "Dan Tao sudah menemukan titik Achilles-ku, juga Luhan, malam itu."

Wajah Kris menggelap. Sehun tidak tahu tapi menurut perkiraannya, titik Achilles Luhan dan Kris ada hubungannya dengan dirinya.

"Apa ?" sekarang giliran suara Sehun yang bergetar.

"Maafkan aku, Oh Sehun."

Kris menunduk makin dalam. Bahunya bergetar hebat.

"Titik Achilles kami.. kau, Oh Sehun."

Kris jatuh.

"Maafkan aku, Oh Sehun."

Sehun bukan vampire. Sehun gadis biasa dengan kehidupan biasa dan kemampuan biasa. Tapi Sehun tahu, berurusan dengan vampire bukanlah sesederhana di film-film dan novel.

Sehun digunakan tiga vampire sekaligus, Luhan, Kris, juga Tao. Sehun adalah titik Achilles Luhan dan Kris. Sementara Tao menggunakan Sehun sebagai batu pijakan. Segalanya punya titik yang saling berhubungan.

Sehun tahu semuanya tidak akan selesai dengan mudah. Pengejaran tanpa akhir, teror, melarikan diri, dan pertumpahan darah. Sehun tahu ia bakal mengalami semuanya dalam waktu dekat. Dan kemungkinannya untuk hidup hanya tinggal sekian persen.

"Oh Sehun!"

Kris meraung saat Sehun meninggalkan lapangan basket tanpa berkata apa-apa.

Mata Sehun memerah dan sebentar lagi ia akan menangis. Sehun sulit percaya soal makhluk asthral ini. Tapi, masalah besar sudah menghadang di hadapannya. Sehun mau tidak mau harus percaya. Sehun mau tidak mau harus menghadapinya.

Sehun akan menghadapi hari-hari gelapnya setelah ini.

.

.


.

.

Kyungsoo menghambur memeluk Sehun. Sehun sendiri kaget ketika mendapati Kyungsoo sudah bangun dengan Kai di sebelahnya. Sehun kira Kyungsoo bakal tidur sangat lama. Setidaknya musim panas Sehun tidak sepi, pikirnya.

"Sehunnie~," Kyungsoo tidak mau berhenti memeluk Sehun.

"Do Kyungsoo nanti suamimu cemburu," ucap Sehun.

Buru-buru Kyungsoo melepas pelukannya pada Sehun. Bibirnya mengerucut dan pipinya menggembung. Sedangkan Sehun hanya bisa terkekeh melihat tingkah sahabatnya ini. Tidur selama satu minggu tidak membuatnya berubah sedikitpun.

"Kau sudah bisa jalan ?" tanya Sehun sambil mengamati kaki Kyungsoo.

"Sudah," jawab Kyungsoo semangat. Bahkan saking terlihat bersemangatnya, Sehun tidak sadar kalau tangan kiri Kyungsoo masih di infus.

"Ya, Kkamjong, lihat Kyungsoo. Dia langsung bisa jalan. Tidak sepertimu," ucap Sehun sadis.

"Aku tahu, aku tahu."

Sehun dan Kyungsoo tertawa terbahak-bahak. Diam-diam Kai tersenyum walaupun ia membuang wajahnya dan berlagak ngambek. Ini yang Kai suka kalau Sehun berkunjung. Sehun selalu membuat suasana jauh lebih baik.

Sehun berhenti tertawa saat ponselnya berdering. Sehun merogoh kantong jaket baseball-nya. Namun, buru-buru Sehun memasukkan ponselnya lagi tanpa mengangkat telepon. Kyungsoo dan Kai saling tatap. Tidak biasanya Sehun mengabaikan sebuah panggilan.

"Kenapa tidak diangkat ?" celetuk Kai. Buru-buru Kyungsoo memukul kepala Kai dengan tangannya yang tidak diinfus.

"Nomor tidak dikenal," ucap Sehun sekenanya.

Tanpa berfikir panjang pun, Kyungsoo tahu Sehun menyembunyikan sesuatu. Mereka sudah berteman sejak di penitipan anak. Walaupun saat SD dan SMP mereka tidak satu sekolah, Kyungsoo tetap teman terdekat Sehun. Sehun bohong pun, Kyungsoo tahu.

"Ehm, ibuku membawa kimbap tadi pagi. Mau ?"

Kyungsoo berusaha mengalihkan pembicaraan dengan mengeluarkan sekotak kimbap. Mata Sehun berubah terang ketika Kyungsoo membuka kotak itu. Sehun belum makan sejak pagi karena ibunya tidak sempat masak. Sehun memilih tidak makan apapun daripada harus makan masakannya sendiri.

"Mau!"

Dan kotak kimbap itu pun dikeroyok habis-habisan.

.

.


.

.

Sehun pulang malam setelah seharian menghabiskan waktu bersama Kyungsoo dan Kai. Mereka banyak bertukar cerita. Hanya saja, Sehun mengusahakan untuk tidak sampai pada topik soal Luhan dan Tao. Kyungsoo juga bersikap seolah lupa soal siapa yang menjatuhkan pot dari lantai dua. Yah, walaupun Kai akhirnya nyerempet bertanya soal status hubungan Sehun dengan Luhan. Sehun hanya menjawab dengan pipi memerah dan tidak mengatakan apapun.

Karena memang akhir-akhir ini Sehun putus komunikasi dengan Luhan.

Sehun sengaja tidak mengangkat telefon atau membalas pesan dari Luhan. Sehun juga tidak membuka jendela kamarnya di malam hari. Sehun juga menghindari untuk melewati rumah Luhan. Entahlah, Sehun sedang tidak ingin bicara pada Luhan.

Sehun menyesali sikapnya yang selalu ingin tahu. Sehun menyesal sudah banyak bertanya. Sehun menyesal sudah tahu segalanya. Sehun menyesal sudah menerima terlalu banyak akhir-akhir ini.

Kalau saja Sehun bisa memilih, ia tidak ingin terlibat sejauh ini.

Mengetahui fakta bahwa Sehun berpacaran dengan makhluk bukan manusia saja sudah terasa begitu salah. Apalagi menjadi target perburuan sekawanan vampire ganas yang haus darah dan dibayangi dengan permusuhan keluarga.

Sehun menghentikan langkahnya. Sehun baru menyadari bahwa gang kecil yang ia lalui sekarang ini agak gelap dan benar-benar sepi. Hanya ada Sehun yang melintas di sana. Cahaya lampu dari tiap-tiap rumah yang ia lintasi terhalang pagar beton tinggi. Jadi, jalanan tidak terkena sinar terlalu banyak.

Bulu kuduk Sehun meremang saat suhu di sekitarnya menurun. Angin dingin mendadak berhembus dan Sehun benar-benar kedinginan. Sehun yang memang dasarnya paranoid mulai berfikir aneh-aneh. Bisa saja Sehun diikuti hantu atau semacamnya.

Sehun menoleh saat ekor matanya menangkap bayangan di antara rumah-rumah. Namun, Sehun tidak mendapati siapapun.

Insting. Sehun harus pergi cepat-cepat dari sini.

Sehun mempercepat langkah kakinya. Sehun setengah berlari ketika mendengar suara langkah kaki mengikutinya. Rasa takut benar-benar menguasai Sehun. Diikuti orang jahat ternyata lebih parah dari diikuti hantu.

Sehun memekik saat seseorang melompat turun dari atap dan menghadangnya. Sehun semakin panik saat menyadari bahwa orang yang menghadangnya bermata merah menyala. Buru-buru Sehun berbalik untuk kabur. Tapi, dua orang lain juga sudah menghadang dari belakang.

Rasanya Sehun ingin menangis. Sehun tahu betul siapa mereka. Sudah hantu, jahat lagi. Pasti kawanan Tao.

"Wow, siapa yang kita dapatkan ?" Tao melompat turun dan mendarat tepat di hadapan Sehun. "Oh Sehun."

Tao tersenyum miring dan kelihatan menakutkan. Matanya juga merah menyala, sama seperti kawanannya. Kaki Sehun bergetar karena takut luar biasa. Belum pernah Sehun mengalami ketakutan yang seperti ini.

Sehun kembali mengamati sekelilingnya, mecari celah untuk kabur walaupun agak mustahil.

Tidak ada celah. Semua sudut dijaga oleh orang-orang besar bermata merah. Bahkan ada perempuan juga, yang tempo hari Sehun lihat ikut berkelahi dengan Luhan, Kris, juga Tao.

Kesalahan besar yang Sehun lakukan : putus komunikasi dengan Luhan.

"Dimana pengawalmu, Oh Sehun ?" tanya Tao masih dengan senyuman miringnya.

Tubuh Sehun terbanting dan membentur aspal. Matanya berlamat dan kepalanya pusing bukan main.

Sehun tahu kemungkinannya selamat malam ini hanya tinggal beberapa persen. Apalagi dengan tidak adanya Luhan, atau setidaknya yang sebanding dengan Tao. Kelebat bayangan ibunya, Kai, Kyungsoo, Baekhyun, dan Luhan menari-nari di matanya. Mungkin setelah malam ini, Sehun tidak akan bertemu mereka lagi.

Sehun memejamkan matanya.

Ayah aku menyusul.

.

.

TO BE CONTINUED

.

.

Gimana ? Gimana ?

Ditunggu review nya ^^