Memories © 2013 Sansan Kurai
Super Junior © SM Entertainment
Other © Their own management
Friendship
Leeteuk tersenyum lembut sembari menatap langit malam. Henry menatap sunbaenya itu intens. Menunggu kata-kata selanjutnya yang akan keluar dari bibir sunbaenya.
"Dia anak yang manis.." ucap Leeteuk. "..dan dia juga sangat ceria. Senyum tak pernah lepas dari bibir mungilnya dan aku selalu ingin menjaga senyuman itu. Karena hanya senyuman itu yang mampu membuatku terus bertahan dari penjara penyakit ini. Kesepian.. Aku selalu merasa kesepian dan hanya dia yang selalu ada untuk menemaniku. Walau dia bukan adik kandungku, tapi aku sangat menyayanginya."
Leeteuk mengambil sesuatu dari balik jaketnya dan nampaklah sebuah liontin berbentuk hati. Tak pernah ada yang tahu jika Leeteuk selalu menggunakan kalung itu karena Leeteuk selalu menutupinya dengan pakaian serta jaketnya. Leeteuk melepas kalung itu dan menyerahkannya pada Henry, meminta Henry untuk membukanya. Henry semula ragu untuk menerimanya, namun karena sunbaenya itu terus menyodorkan kalung itu, Henry pun mengambilnya.
Henry tercengang saat melihat sebuah foto kecil di dalam liontin itu. Dua orang anak kecil tengah tersenyum ceria kearah kamera. Henry tahu, anak laki-laki yang satu itu adalah sunbae yang tengah duduk di sisinya. Namun yang satu lagi..
"Dia Xianhua.. Sangat mirip denganmu, kan?" tanya Leeteuk saat menyadari keterkejutan Henry. "Xianhua adalah anak dari Appa keduaku. Sejak Appaku meninggal, Eomma memilih untuk menikah lagi dengan Appa ku yang sekarang dan ternyata dia sudah memiliki anak. Aku tak pernah menentang pernikahan mereka. Bagiku, asalkan Eomma bahagia maka aku akan baik-baik saja. Dan semenjak ada Xianhua hidupku yang semula sangat membosankan tiba-tiba berubah menjadi sangat berwarna. Xianhua selalu saja bisa membuatku tertawa dengan tingkahnya yang imut dan lucu itu. Namun kebersamaanku bersama Xianhua hanya sementara.."
Henry bisa melihat wajah Leeteuk yang tiba-tiba berubah menjadi sedih dengan senyum getir yang menghiasi bibir pucatnya.
"Xianhua tiba-tiba demam dan koma.. Aku tak pernah diberitahu apa yang terjadi pada Xianhua. Mereka hanya mengatakan bahwa Xianhua terkena demam dan hanya butuh istirahat saja. Tapi seminggu berlalu menjadi sebulan dan aku tak pernah mendapatkan kabar lagi tentang Xianhua hingga ada seseorang yang memberitahuku bahwa Xianhua telah meninggal. Saat itu aku benar-benar tak peduli dengan diriku. Jaket anti sinar ultraviolet yang seharusnya aku pakai saat aku akan keluar disiang hari tak ku pakai. Aku hanya terus berlari menuju tempat Xianhua dimakamkan."
Leeteuk mengepalkan buku-buku jarinya saat menceritakan semua itu. Henry ingin sekali menyuruh sunbaenya itu untuk menghentikannya. Ia tak ingin mendengar semua itu jika itu hanya akan menyakiti perasaan sunbaenya.
"Xianhua meninggal dua minggu sebelumnya dan itu benar-benar membuatku sangat terpukul. Appa dan Eomma tak pernah menceritakannya padaku. Aku tak bisa mengucapkan selamat tinggal padanya, tak bisa memeluknya untuk terakhir kali, tak bisa melihat wajahnya lagi.. Aku sangat terpukul menyadari semua itu.. Karena kejadian itu aku dirawat di rumah sakit hampir setahun karena luka bakar yang ku alami. Aku menjadi sangat pendiam dan tak ingin bertemu siapapun. Bahkan aku sempat berkeinginan untuk mengakhiri hidupku."
"Hyung.." gumam Henry. Leeteuk kembali tersenyum getir.
"Namun semuanya berubah sejak aku mengenal para penghuni Light House ini.. Mereka bisa membuatku sedikit terhibur dan melupakan kejadian itu.." Leeteuk nampak terdiam sejenak. "Tapi aku tetap tak bisa melupakan Xianhua."
"Hyung tak boleh melupakannya.." ucap Henry pelan sembari menatap lurus ke depan. "Hyung tak boleh melupakan orang terpenting dihidup hyung.. Dia akan sedih jika hyung melupakannya.."
"Tak akan Henry... Aku tak akan pernah bisa melupakannya.." sahut Leeteuk. "Apa lagi setelah melihatmu.. aku seperti merasa Xianhua hidup kembali.."
Henry terhenyak mendengar penuturan sunbaenya. Ia tak menyangka, ternyata selama ini sunbaenya itu memperlakukannya dengan baik karena ia mirip dengan adik sunbaenya yang telah meninggal itu. Hatinya sangat sakit mengetahui itu semua. Tapi Henry tak bisa melakukan apapun. Ia tak ingin melukai perasaan sunbaenya dan ia juga tak ingin melihat sunbaenya itu bersedih.
Anggaplah aku Xianhua, hyung.. dan aku akan selalu membuatmu tersenyum..
"Kalian menyadarinya tidak?" tanya Eunhyuk disela istirahat mereka setelah berlatih basket.
"Apa?" tanya Heechul.
"Leeteuk hyung seperti telah mendapatkan adiknya kembali setelah menceritakan semua masalahnya pada Henry," terang Eunhyuk. "Tapi.."
"Tapi Henry terlihat lebih diam sekarang.." sambung Hankyung. Semuanya mengangguk membenarkan ucapan Hankyung. "Apa Henry merasa tak bahagia setelah mendengarkan ucapan Leeteuk?"
"Aku rasa tak seperti itu.."
Semuanya menoleh pada anggota baru mereka, Kyuhyun. Sedangkan Kyuhyun balik menatap mereka satu per satu.
"Aku rasa Henry sedikit terkejut dengan semua yang diucapkan Leeteuk sunbae."
"Tentang Henry yang mirip dengan adik Leeteuk?" tanya Hankyung. Kyuhyun mengangguk.
"Mungkin ia merasa kecewa karena selama ini Leeteuk sunbae bersikap baik padanya karena ia mirip dengan adik Leeteuk sunbae. Tapi karena Henry sudah terlanjur menyayangi Leeteuk sunbae, ia bisa menerima itu semua asalkan Leeteuk sunbae senang."
"Aku rasa Kyuhyun benar," angguk Zhoumi. "Kalian juga pasti bisa melihatnya sendiri sekarang. Henry selalu berada disekeliling Leeteuk hyung apapun yang terjadi. Tapi ku rasa Leeteuk hyung harus menyadari sesuatu. Henry itu bukan adiknya dan ia tak boleh memperlakukan Henry seperti itu. Itu akan membuat Henry semakin terluka. Walau Henry selalu mengatakan bahwa ia tak apa, tapi ku rasa apa yang diucapkannya berbeda dengan apa yang tengah dirasakannya."
"Kalau begitu aku yang akan bicara padanya nanti.."
Semuanya mengangguk dan menyudahi istirahat singkat mereka.
Henry tengah menikmati pancaran sinar matahari pagi dari atap gedung sekolah. Pagi ini ia dibully lagi oleh teman-teman sekelasnya dan ia memilih untuk absen dari beberaa pelajaran pagi ini.
"Apa takdir hidupku memang seperti ini?" gumam Henry sembari menutupi kedua matanya dengan telapak tangannya agar terhindar dari sinar matahari secara langsung. "Dari kecil hingga sekarang aku terus diperlakukan seperti ini. Apa mereka semua benar-benar tak menyukaiku? Lalu.. Bagaimana dengan seluruh penghuni Light House? Apa mereka juga berpura-pura menyukaiku karena Leeteuk hyung? Dan jika aku tak mirip dengan adik Leeteuk hyung apa mereka semua juga akan membenciku? Ahh~ Kenapa hidupku seperti ini?"
Henry mendesah keras sebelum ia bankit dari atap gedung itu.
"Hey! Bukankah dia bocah yang waktu itu diselamatkan Eunhyuk?"
Seruan itu membuat Henry mendongakkan kepalanya dan mendapati beberapa orang yang terlihat lebih senior darinya itu tengah menatapnya penuh selidik. Sepertinya orang-orang itu juga membolos.
"Ah, kau benar Nichkhun, diakan bocah yang selalu bersama dengan Leeteuk sunbae."
Perlahan Henry mendaki atap sekolah itu dan segera memijakkan kakinya di tempat yang lebih datar. Henry menatap satu per satu senior dihadapannya.
"Ada apa sunbaenim?" tanya Henry berusaha agar suaranya tetap terdengar tenang walalu sebenarnya ia sendiri merasa takut dengan tatapan tajam seniornya itu.
"Ada apa katamu? Kau tak mengingatku, eoh?!"
"Kau Alexander sunbaenim.." jawab Henry.
"Baguslah jika kau masih mengingatku walau kita bertemu sesingkat itu.." ucap Alexander dengan nada suara mengancam membuat Henry mundur selangkah, namun ia tetap tak bisa kemana-mana karena dibelakangnya adalah atap tempatnya menikmati sinar matahari tadi.
"Kau tahu.. Walau kau berteman dengan seluruh anak-anak penghuni Ligh House, itu tak akan membuatmu terhindar dari masalah. Mengerti!"
Henry menelan ludahnya sulit saat mendengar semua itu. Ia sejak tadi sudah tahu bahwa dirinya kini dalam masalah besar dan tak akan ada yang bisa membantu atau menolongnya.
"Nichkhun, Changmin, Dongwoon!"
"Dengan senang hati Alexander!"
Ketiga pria itu berjalan mendekati Henry dengan seringaian diwajah tampan mereka. Henry mundur selangkah lagi dan ia sudah menabrak pembatas.
"Kau tak bisa lari kemanapun!" desis Nichkhun.
"Shindong hyung, kau lihat ini? Hasilnya sangat bagus sekali," ucap Ryeowook sembari menunjukkan kameranya pada Shindong dan Shindong segera mengambil alih kamera Ryeowook untuk melihat hasil jepretan Ryeowook lebih jelas.
"Hmm.. Memang pencahayaan dan angelnya sangat bagus.. tapi masih sedikit goyang," komentar Shindong.
"Benarkah?!" Ryeowook merebut kameranya dan kembali menatap hasil jepretannya dengan lebih teliti. "Ahh~ Kau benar hyung.. Padahal aku ingin memberikan ini untuk Leeteuk sunbae dan Henry."
Brakkk!
"Apa kalian melihat Henry?!"
Shindong serta Ryeowook terkejut dengan suara pintu yang tiba-tiba terbuka itu hanya menatap Leeteuk bingung.
"Kalian melihatnya tidak!"
Bentakan itu akhirnya menyadarkan keduanya.
"A.. Itu.. Tidak.."
Belum selesai Shindong berucap, Leeteuk sudah pergi meninggalkan mereka dengan tergesa. Shindong dan Ryeowook saling menatap sekilas lalu keduanya segera pergi mengejar Leeteuk yang sudah tak terlihat di lorong.
"Ryeowook! Hubungi yang lain!" perintah Shindong sembari terus berlari.
Tanpa menjawab, Ryeowook telah mengeluarkan ponselnya.
"Kau mau apa lagi, bodoh!" geram Shindong sembari mengepalkan jemarinya kuat-kuat.
"Hyung, mereka berpencar untuk mencari Henry dan Leeteuk sunbae," seru Ryeowook dari arah belakang.
"Kalau begitu kita juga berpencar Ryeowook. Kau cari Henry, biarkan aku yang menemukan Leeteuk."
"Baik!"
Dan keduanyapun berpisah saat telah sampai di lantai 2. Tak dipedulikan oleh mereka tatapan ingin tahu dari siswa-siswi yang lain.
"Ke mana dia!"
Shindong terlihat semakin geram saat tak berhasil menemukan sosok Leeteuk.
Brukk!
"Omo! Mianhae.."
"Kangin!" seru Shindong cepat saat mengetahui siapa yang telah ditabraknya dengan tak sengaja. "Kau menemukan salah satu dari mereka?"
"Tidak! Belum ada yang menemukan keduanya!" sahut Kangin frustasi.
"Astaga! Kemana mereka berdua!"
Shindong mengacak rambutnya kasar. Ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan mengetikkan sesuatu setelah itu ia kembali memasukkannya ke dalam saku celana.
"Kita berkumpil di taman belakang sekolah," ucap Shindong sembari berlari menuju taman yang tak jauh dari tempatnya berdiri bersama Kangin.
"Bagaimana?" tanya Heechul sembari mengatur nafasnya.
"Nihil.." jawab Kyuhyun.
"Sial!" seru Siwon.
"Tapi tak mungkin mereka berdua menghilang begitu saja!" sahut Donghae.
"Mereka pasti berada di satu tempat," ucap Eunhyuk.
"Sebelum aku menghubungi kalian, aku dan Shindong hyung sempat melihat Leeteuk sunbae. Tapi setelah kami mengejarnya, kami sama sekali tak melihat sosoknya," terang Ryeowook.
"Dia itu pandai sekali menghilang," ucap Hankyung. "Kadang tak ada seorangpun yang bisa menemukannya."
"Lalu, apa yang harus kita lakukan?" tanya Yesung. "Matahari sudah semakin tinggi, ini benar-benar akan mengancam keselamatan Leeteuk."
"Ponsel mereka berdua?" tanya Sungmin.
"Tidak aktif," jawab Kibum.
"Sunbae! Sunbae!"
Teriakan yang sungguh sangat memekakkan telinga itu membuat ke-13 pria itu menolehkan kepalanya ingin tahu. Ternyata ada seorang hoobae yang tengah berlari tergesa kearah mereka. Ke-13 pria itu semakin penasaran kala melihat wajah sang hoobae yang nampak pucat.
"Ada apa Donghoo?" tanya Eunhyuk tanpa basa-basi.
"Su.. Sunbae.. Henry.."
"Ada apa dengan Henry?!" tanya Kibum.
"Henry tak sadarkan diri di atap gedung sekolah.." jawab Donghoo.
"Apa?!" teriak mereka dan mereka segera berlari menuju lantai teratas sekolah.
"Aku sudah ke sana tadi! Kenapa aku tak melihatnya!" kesal Kibum.
"Ada yang tak beres.." Eunhyuk nampak berhenti berlari dan itu membuat Heechul serta Zhoumi ikut menghentikan larinya. "Aku akan mencari seseorang, kalian pergilah kelantai atas."
"Kau mau kemana Hyuk?" tanya Zhoumi.
"Mencari seseorang!" tegas Eunhyuk dan ia segera berlalu meninggalkan Heechul serta Zhoumi yang hanya bisa terdiam karena bingung dengan sikap Eunhyuk.
"Kau ikuti Eunhyuk, aku akan ke atas,"perintah Heechul. Zhoumi mengangguk dan segera berlalu dari hadapan Heechul. Heechul mendesah sejenak sebelum kembali berlari menuju atap gedung sekolah.
to be continued
update~ xD
lama ya? hehehe.. lagi nggak ada mood buat ngelanjutin fanfic ini masalahnya... :(
tapi aku bakal nyoba selesein fanfic yang mulai terlantar ini... *_*
oh iya, waktu itu sempet ada yang nanya tentang Kiss The Rain tapi belum ku jawab ya?
hmm..
sekedar info aja...
Kiss The Rain itu bukan berasal dari Jepang tapi Kiss The Rain itu berasal dari Korea. Kiss The Rain merupakan karya seorang pianis dan komposer dari Korea Selatan bernama Lee Ru-ma atau lebih dikenal dengan Yiruma. Beliau lahir tanggal 15 Februari 1978. Beliau mulai bermain piano pada umur 5 tahun lalu pindah ke London saat umurnya 11 tahun (1988) untuk belajar di The Purcell School of Music.
sekian infonya..
so, the last...
review please... ;)
