Tittle : Thriller
Author : Katniss Jung
Chapter : 8 of ?
Casts :
Oh Sehun
Lu Han
Genre : Fantasy, horror, thriller, romance, drama
Type : Chaptered
Alert : HanHun, HunHan, Gender Switch, Girl!Sehun, Boy!Luhan
.
.
.
.
Halo, halo semuanyaaaa!
Chapter 8 datang nih. Rasanya seneng banget bisa upload part ini. Soalnya yang bagian ini aku bikin di saat aku bener-bener lagi di bawah tekanan. Aku iseng bikin di laptop adekku dan di saat aku lagi UAS ~_~ (oh iya aku udah kelas 12. Sebentar lagi ujian. Doain yaaa ^^)
Kangen banget sama temen temen sekalian karena udah hampir dua bulan aku nggak buka FFN.
Langsung aja yaaa.
Selamat menikmati ^^
.
.
.
.
Ayah aku menyusul.
Tidak! Jangan! Jangan tutup matamu!
Dahi Sehun berkerut dalam saat mendengar suara Luhan. Hanya saja, suara Luhan terdengar agak ganjil. Suara Luhan terdengar seperti sambungan radio rusak yang masih berusaha siaran, tidak bening dan dipenuhi dengan bug. Sehun tidak yakin, tapi, Luhan seolah berbicara di dalam otaknya, bukan dari gendang telinganya.
Sehun lagi-lagi ragu. Mungkin saja suara Luhan yang barusan terdengar cuma khayalan frustasinya yang hampir mati.
Tidak, Sehun. Ini aku.
Suara Luhan terdengar ngotot dan penuh kekhawatiran.
Jangan berfikir macam-macam. Kau bakal selamat malam ini, oke ?
Sehun tidak menimpali apapun.
Ngomong-ngomong, jangan buka matamu dulu. Pura-pura pingsan.
Kali ini Sehun percaya kalau suara yang berbicara di otaknya benar-benar Luhan, pacar vampire-nya yang bakal belepotan bicara saat panik dan tersudut. Sehun memutuskan untuk mematuhi perintah Luhan dengan tetap diam di tempat dengan mata terpejam.
Dengarkan perintahku. Dalam hitungan kelima–ah jangan, ketiga saja, buka matamu dan tending dada Tao–
Kau gila ?!
Untuk yang satu ini, Sehun tidak mau mengikuti perintah Luhan. Pasalnya, Tao seorang vampire dan Sehun hanya cewek kerempeng manusia biasa. Menendang vampire rasanya bakal sama dengan menendang bongkahan batu, katanya, sia-sia.
Dengar.
Luhan berdeham sesaat.
Kau atlet hapkido, Oh Sehun. Aku yakin kau bisa. Setelah hitungan ketiga, tendang dada Tao dan cari celah untuk kabur. Aku akan menunggumu di pertigaan sebelah barat, dekat tempat pembuangan sampah. Untuk sisanya, serahkan padaku.
Sehun ragu rencana ini bakal berhasil. Tapi, apa salahnya untuk dicoba.
Maafkan aku, Sehun. Aku tidak bisa menolongmu secara langsung. Aku tidak mungkin muncul begitu saja di hadapan Tao dan kawanannya. Kris bisa dalam bahaya. Maafkan aku juga karena tidak mencoba lebih keras untuk menghubungimu. Aku terlalu gampang menyerah. Maafkan aku–
Sehun memotong.
Iya, Luhan, iya. Aku memaafkanmu. Ngomong-ngomong, bisa kita mulai misi penyelamatanku ? Sepertinya Tao sedang berjalan kemari mau menghancurkan kepalaku.
Sehun mempertajam pendengarannya saat Luhan mulai menghitung. Sehun bisa mendengar suara langkah kaki dan sayup-sayup perbincangan Tao dengan saudaranya. Salah satu di antara mereka menanyakan apakah Sehun sudah mati hanya dengan sebuah kibasan atau belum, dan Tao menjawab belum.
–tiga!
Sehun membuka matanya, dan dengan kecepatan yang menakjubkan, Sehun menendang tulang iga Tao dengan kaki kirinya telak. Seperti perkiraan Sehun, sensasinya bakal sama seperti menendang bongkahan batu besar.
Ajaibnya, badan Tao terpental hingga menabrak beberapa saudaranya.
Melihat celah, buru-buru Sehun menyambar tasnya yang tergeletak di tanah dan berlari menjauh ke arah barat. Jalanan yang dilaluinya terasa makin gelap dan dingin, mengingat ia baru saja membuat sekoloni vampire buas marah. Sehun tahu ia baru saja mengacau, tapi paling tidak, presentase kemungkinannya untuk selamat meningkat beberapa persen. Ada Luhan yang menunggunya.
Sehun bisa mendengar beberapa langkah kaki di belakangnya. Sehun rasa, Tao dan kawanannya sudah kembali dari keterperangahannya dan mulai mengejar gadis yang berani-beraninya menendang pemimpin kawanan mereka.
Sehun mengerang kesakitan saat merasakan sakit luar biasa pada kaki kirinya. Cedera tendon yang dideritanya sejak setahun lalu masih belum sembuh total, sampai Sehun harus berhenti bertanding dan vakum sementara untuk penyembuhan kakinya, dan sekarang, luka itu terbuka kembali karena Sehun baru saja menendang Tao dengan kaki kirinya.
Ingin rasanya Sehun berhenti berlari karena sakitnya bukan main. Sehun tidak kuat untuk menahannya lebih lama.
Seketika bayangan ibunya, Kyungsoo, Kai, dan Baekhyun kembali berkelebat. Bayangan mereka tertawa karena ulah Sehun terlihat begitu jelas.
Sedikit lagi, Oh Sehun!
Suara Luhan kembali terdengar di kepalanya. Dan benar saja, pertigaan dengan sebuah tong sampah raksasa di salah satu sisinya sudah terlihat, hanya tinggal beberapa puluh meter lagi dan Sehun bakal selamat.
Sehun menambah kecepatannya. Walaupun payah soal sprint saat latihan fisik, kalau sudah menyangkut hidup dan mati, dengan kaki cedera pun Sehun pasti bisa melakukannya.
Hanya berjarak tiga meter dari tong sampah itu, Luhan sudah keluar dari persembunyiannya. Dan beberapa detik kemudian, Luhan menyambar tubuh Sehun dan membawanya melompat ke atas, berlari melintasi atap-atap rumah dan pergi menjauh.
"Apa masih sakit ?" tanya Luhan setelah memberi obat oles pengurang rasa sakit pada kaki kiri Sehun.
"Sedikit," jawab Sehun dengan suara agak serak karena terlalu lama diam untuk menahan sakit.
Luhan mengelus kepala Sehun.
"Lebih baik kau beristirahat."
Luhan mengangkat tubuh Sehun dari kursi belajarnya menuju kasur. Sehun memang tinggi, tapi sama sekali tidak berat bagi Luhan mengingat ia seorang vampire. Jadi, menggendong Sehun untuk beberapa saat bukanlah masalah besar.
"Terima kasih," ucap Sehun setelah Luhan merebahkannya di atas kasur.
"Bukan masalah," timpal Luhan sambil ikut merebahkan tubuhnya di sebelah Sehun.
Tidak ada yang berbicara setelah itu. Baik Sehun maupun Luhan tidak ada yang berniat memulai sebuah percakapan. Sehun sibuk mengamati kaki kirinya sementara Luhan menatap langit-langit kamar Sehun. Mereka berada di kasur yang sama, tapi pikiran mereka berkelana jauh.
Sehun sendiri bingung harus mulai bicara darimana. Sudah beberapa hari mereka putus komunikasi. Oh, bukan. Sehun yang menutup akses dengan sebab yang sama sekali tidak Luhan mengerti. Kekanak-kanakan sekali.
"Luhan," Sehun mendekatkan kepalanya pada bahu Luhan. Dalam hitungan detik, bau parfum Luhan menguasai paru-paru Sehun, bau yang sebenarnya ia rindukan.
"Ya ?" Luhan mengalihkan pandangannya pada Sehun.
"Tidak," Sehun menyembunyikan wajahnya di langan Luhan.
Luhan terkekeh, lalu mengubah posisinya menghadap Sehun. Untung saja Luhan berpakaian lengkap. Jadi, Sehun tidak merasa tidak enak.
"Maafkan aku," ucap Sehun, ia tidak berani menatap langsung mata Luhan.
"Tidak perlu minta maaf," Luhan menyingkirkan anak rambut Sehun yang mulai tumbuh di ujung dahinya. "Aku rasa kita impas."
"Baiklah."
"Tapi dengan satu syarat," tambah Luhan.
"Apa ?"
"Jangan memutus komunikasi lagi. Rasanya aku hampir mati untuk yang kedua kalinya begitu tahu kau diserang kawanan Tao," ucap Luhan dengan nada jengkel. Sehun terkekeh.
"Iya, Pak Tua," Sehun memeluk Luhan.
Luhan ikut terkekeh.
"Sekarang ceritakan pada pak tua ini bagaimana bisa kawanan Tao menyerangmu," Luhan melepas pelukan Sehun.
"Entahlah. Yang jelas, aku baru saja pulang dari rumah sakit. Menjenguk Kyungsoo dan Kai–ngomong-ngomong mereka sudah sadar, lalu aku berjalan sendirian dan dihadang oleh kawanan Tao. Kejadiannya begitu cepat dan menakutkan sampai-sampai aku tidak mengingat detilnya," bulu kuduk Sehun kembali meremang karena mengingat kejadian barusan.
Luhan diam saja. Tangannya bergerak untuk menyelipkan rambut Sehun ke balik telinganya. Pandangannya tidak pernah lepas dari wajah Sehun, seolah menunjukkan kalau ia benar-benar butuh untuk melihat wajah itu barang sekali dalam sehari saja.
"Baiklah. Pergilah tidur. Aku akan menemani sampai ibumu pulang," tukas Luhan.
Sehun mengernyit bingung. Tidak biasanya Luhan dengan mudahnya menutup sebuah percakapan.
"Baiklah. Selamat malam."
.
.
.
.
Seperti dugaan Sehun, Baekhyun bakal berteriak heboh jika melihat Sehun berangkat sekolah dengan krek sama seperti sepuluh bulan yang lalu.
"Oh Sehun kakimu!" seru Baekhyun histeris.
Sehun hanya bisa menggeleng heran. Temannya yang satu ini memang sering over.
"Cederaku kambuh," jawab Sehun sambil bersusah payah berjalan dengan krek.
"Kau mencoba untuk latihan lagi ?" Baekhyun berusaha mengimbangi langkah Sehun yang kelewat pelan saat mereka menyusuri koridor.
"Ya," sparring dengan vampire, tambah Sehun di dalam hati.
"Kau gila, Oh Sehun. Baru delapan bulan kau lepas krek–"
"Kau baru beberapa hari yang lalu, Baek," potong Sehun.
Mendadak Baekhyun diam. Bibirnya mengatup rapat. Matanya mengedip-edip grogi. Baekhyun lupa kalau baru beberapa minggu yang lalu ia jatuh dari tangga dan harus memakai krek untuk berpindah tempat, sama seperti Sehun sekarang.
"Dimana Chanyeol ?" tanya Sehun.
"Apa ?" Baekhyun kelihatan makin grogi.
"Chanyeol. Bukannya kalian sering kemana-mana berdua sejak kau jatuh ?" tanya Sehun lagi, sebenarnya hanya untuk memojokkan Baekhyun saja. Sehun tahu betul Baekhyun naksir berat pada Chanyeol.
"Karena aku sudah bisa jalan sendiri, ya… aku sendiri. Kenapa tiba-tiba Chanyeol, sih ?" nada Baekhyun terdengar lucu.
"Hanya ingin menggodamu saja," tukas Sehun.
Baekhyun menggeram.
"Ketiak naga!"
Baekhyun menendang krek milik Sehun hingga sang pemilik nyaris kehilangan keseimbangan.
"Baek, watch out!" Sehun memprotes, tapi hanya dihadiahi tawa dari Baekhyun. "That's not even funny!"
"Kau yang memulai, Oh Sehun," protes Baekhyun balik.
Sehun tidak ingin menimpali. Jadi dia memilih untuk berjalan lebih cepat walaupun tetap kalah dari Baekhyun yang tidak perlu alat bantu apapun untuk berjalan.
Saat Sehun dan Baekhyun melintasi koridor depan ruang penyiaran, Sehun melihat Kris sedang berdiri di sana sendirian. Telinganya disumpal dengan headset. Rambut cepak Kris kelihatan lebih pendek dari beberapa hari yang lalu. Mungkin Kris memotong rambutnya saat izin tidak masuk sekolah.
"Hai, Kris," sapa Sehun. Buru-buru Kris melepas headset-nya.
"Hai," pandangan Kris jatuh pada krek yang Sehun pakai. "Bagaimana kakimu ?"
"Lumayan," Sehun mengamati kakinya.
Baekhyun yang merasa diacuhkan segera angkat bicara.
"Aku belum menyelesaikan pekerjaan rumahku. Bye, Sehun, Kris."
Baekhyun menghilang di ujung koridor.
Lagi-lagi Sehun dan Kris terlibat percakapan empat mata. Yang pertama, saat di lapangan basket. Yang kedua, ya, sekarang. Walaupun topiknya tidak jauh-jauh soal identitas asli Luhan dan Kris, setidaknya keadaannya agak lebih baik. Sehun sedang sakit, jadi tidak se-ngotot waktu itu.
"Aku sudah mendengar penyerangan Tao dari Luhan," ucap Kris saat mereka berjalan beriringan.
"Ya," Sehun berhenti sesaat untuk membenarkan posisi ranselnya. "Serangan dadakan, aku rasa, karena pertahanan Tao dan saudara-saudaranya kelihatan acak-acakan."
"Hei," Kris ikut menghentikan langkahnya. "Kau terdengar seperti seorang pro."
"Buktinya aku bisa menendang Tao dan kabur," Sehun nyengir. "Walaupun aku menghancurkan kakiku sendiri, sih."
Kris berkacak pinggang.
"Ada dua poin, Oh Sehun," Kris berdeham. "Pertama, kau beruntung. Kedua, kau sama kuatnya dengan Tao. Manusia biasa tidak akan bisa menendang sorang vampire sampai terpental. Biasanya kaki mereka patah. But, you didn't."
"Artinya, aku bisa melawan Tao ?" Sehun penuh harap.
"Tidak."
Harapan Sehun pupus seketika. Jadi, dia bakal tetap jadi sisi yang dilindungi.
"Belum waktunya," lanjut Kris lagi. Wajahnya agak menggelap.
"O.K."
Baik Sehun maupun Kris tidak ada yang berbicara lagi. Mereka hanya terdiam sambil berjalan beriringan. Sehun tidak berani membuka percakapan lagi karena Kris kelihatan sedang memikirkan sesuatu, atau mungkin memang wajahnya seperti itu.
"Sehun," Kris menghentikan langkahnya.
"Ya ?"
"Maaf," tambah Kris sambil menatap langsung ke mata Sehun.
"Untuk apa ?"
"Untuk.. kekacauan ini. Aku akan membuat segalanya jadi normal, sama seperti sebelum aku dan Luhan datang, secepatnya."
Sehun tertegun.
Sama seperti sedia kala ? Berarti…
"Easy, Kris, easy," nafas Sehun mulai memburu. "I got Luhan now, aku tidak mau kehi–"
Sehun menggigit bibirnya saat melihat wajah Kris yang kian menggelap. Sehun kelepasan dan lupa. Sehun terlalu terbawa suasana hingga mengungkit-ungkit hubungannya dengan Luhan, Sehun juga lupa kalau ia adalah titik Achilles Kris, yang berarti Kris sama-sama menginginkan Sehun, selayaknya Luhan.
"Kris, aku tidak bermaksud–"
Belum sempat Sehun menyelesaikan ucapannya, Kris sudah pergi tanpa berpamitan dan menghilang di ujung koridor.
.
.
.
.
Entah sejak kapan Sehun jadi hobi berfikir.
Sehun pulang sangat larut. Sehun terlalu lama bertahan di atap sebuah gedung kosong dekat rumahnya untuk merenung. Sehun memikirkan banyak hal. Mulai dari Luhan, hingga Tao. Semuanya berhubungan, hanya saja sulit untuk menemukan jalan keluarnya.
Setiap orang dan setiap kejadian selalu berputar di antara dirinya, Luhan, Kris, dan kawanan Tao. Persis seperti gulungan benang, semuanya terhubung. Hanya saja, gulungan itu terus menggelinding entah kemana.
Sehun terus mengkhawatirkan Luhan dan Kris. Mereka masih dalam masa pelarian panjang dari kawanan Tao dan Sehun mengacaukan segalanya. Sehun masuk ke kehidupan mereka dan membuat si pewaris utama dan si pengawal, mungkin, mengalami perang dingin.
Secara teknis Luhan dan Kris sama-sama menyukai Sehun. Hanya saja, Luhan lebih agresif, sedangkan Kris tidak. Luhan selalu menunjukkan rasa sukanya, sedangkan Kris lebih terkesan menghindar. Entahlah, mungkin Kris sedang berusaha menyangkal perasaannya untuk Luhan. Yah, walaupun Sehun sangsi kalau Luhan dan Kris tetap akur di belakang Sehun.
Sehun makin bingung, sementara ia harus mengkhawatirkan dirinya sendiri. Tao menggunakan dirinya sebagai batu loncatan untuk mencapai Luhan dan Kris. Dan sekarang, Sehun rasa, Tao sudah menyadari kalau dirinya adalah titik Achilles dari Luhan dan Kris. Sudah dua kali Sehun bertemu kawanan Tao dan itu artinya, Sehun bakal terus dikejar.
Sebenarnya, ada sesuatu yang terasa sangat ganjil bagi Sehun. Luhan dan Kris hanya berdua, sementara Tao memiliki kawanan hampir satu setengah lusin. Jika melakukan serangan mendadak, Luhan dan Kris selesai. Mereka kalah jumlah, jelas.
Hanya saja, kawanan Tao terkesan mengulur-ulur waktu. Mereka sudah mengejar Luhan dan Kris hampir dua abad dan masih belum mendapatkan hasil apa-apa hingga sekarang. Jelas itu adalah sebuah keganjilan.
Terlalu banyak berfikir membuat Sehun lupa waktu dan baru mencapai rumah jam sebelas malam.
Saat memasukki rumah, Sehun tidak mendapati siapapun di dalam. Seluruh lampu masih padam. Penghangat ruangan juga belum dinyalakan. Itu artinya, ibu belum pulang dan Sehun lagi-lagi harus makan mie instan untuk makan malam.
Setelah menyalakan semua lampu, Sehun menaiki tangga menuju kamarnya. Sehun agak kesulitan untuk menaiki tangga karena kakinya sudah lelah, begitu juga tangannya yang menggerakkan krek. Sehun menyesal sudah mengunjungi gedung kosong yang tidak jauh dari rumahnya.
Saat membuka pintu kamarnya, Sehun dikejutkan dengan Luhan yang secara tiba-tiba memeluknya hingga krek Sehun terjatuh. Nafasnya memburu dan Sehun rasa Luhan sedang panik. Pasti sesuatu baru saja terjadi hingga membuat Luhan menerobos masuk ke kamar Sehun tanpa izin.
"Hey, hey, ada apa ?" tanya Sehun lembut sambil mengelus punggung telanjang Luhan.
Pipi Sehun kembali memerah. Sudah lama sekali rasanya Sehun tidak melihat Luhan bertelanjang dada hingga kekebalan Sehun berkurang. Sehun merutuki dirinya sendiri.
"Kau baik-baik saja ?" Luhan malah balik bertanya.
"Aku baik-baik saja," jawab Sehun keheranan.
Luhan melepas pelukannya, lalu mengangkat tubuh Sehun menuju kursi belajarnya.
"Ada apa ?" tanya Sehun lagi saat Luhan telah mendudukkannya di atas kursi belajar.
"Aku baru saja pulang dari rumah Kris," Luhan menaikkan celana jeans panjangnya sedikit, lalu berlutut di hadapan Sehun. "Lalu aku melihat seseorang ada di kamarmu."
Mata Sehun membulat.
"Tidak ada orang di rumah. Ibu masih bekerja," timpal Sehun.
"Aku terlambat datang," Luhan menggenggam tangan kiri Sehun. "Yang masuk ke kamarmu adalah salah satu saudara Tao, Xiumin."
Wajah Luhan kelihatan lebih panik.
"Aku terlambat. Xiumin berada di dalam kamarmu terlalu lama. XIumin membaui semuanya. Xiumin sudah menghafal baumu."
Sehun tidak mengerti apa yang dimaksud Luhan. Seingatnya, yang pandai mengingat bau hanya anjing.
"Vampire bisa melacak bau, Hun," Luhan mengacak rambut gelapnya. "Fatal akibatnya. Vampire tidak akan berhenti sebelum mendapatkan mangsanya."
Sehun gelagapan. Sulit baginya untuk menerima fakta kalau ia sedang diburu.
"Maafkan aku," Luhan menunduk dalam.
Sehun ingin marah. Tapi ia bingung harus marah pada siapa. Pada Tao dan kawanannya ? Pada Kris ? Atau pada Luhan ? Sehun bingung dan tidak tahu. Bahkan Sehun merasa untuk marah atau tidak saja masih bingung.
Tiba-tiba Luhan mengangkat wajahnya, lalu mengamati pintu kamar Sehun.
"Ibumu sudah pulang," ucap Luhan.
"Benarkah ?" Sehun ikut mengamati pintu kamarnya.
"Iya. Baru saja membuka pintu depan," Luhan kembali mengamati Sehun. "Ingat baik-baik pesanku."
Luhan mengangkat tubuh Sehun ke kasur.
"Jangan pergi sendiri. Usahakan sampai rumah sebelum gelap. Pokoknya kalau sudah malam, kau harus ada di rumah. Jangan coba-coba keluar," Luhan kembali mengamati pintu kamar Sehun saat sayup-sayup mendengar suara kaki menaiki tangga. "Jangan membantah. Aku mohon."
Sehun membulatkan matanya saat mendengar namanya dipanggil.
"Lebih baik kau pergi sekarang," ucap Sehun sambil membelai bahu Luhan.
"Ya. Beristirahatlah," Luhan mengucup kening Sehun. "Aku pergi dulu."
Tepat setelah Luhan melompat turun dari kamar Sehun, ibu membuka pintu kamar.
"Baru pulang ?" tanya Sehun pelan.
"Ya," ibu berdecak, lalu memungut krek Sehun yang tergeletak di lantai. "Sudah makan ?"
Sehun mengangguk, bohong besar.
"Baiklah," ibu menyandarkan krek Sehun di sebelah lemarinya. "Cepat mandi dan pergi tidur. Besok masih sekolah, 'kan ?"
"Ya."
Sehun memainkan jari-jarinya. Sehun baru saja menyadari kalau ibu akhir-akhir ini selalu pulang larut, bahkan tak jarang menginap di kantornya. Mereka juga jarang sekali mengobrol. Sehun yakin ibu sedang dalam masa-masa sulit kerja dan Sehun mengurungkan niatnya untuk menceritakan masalahnya sendiri.
Di satu sisi, Sehun ingin berbagi rasa takut dengan ibu. Rasa takut yang dialami Sehun sudah memasukki titik krisis. Sehun tidak mungkin menyimpannya sendiri lagi. Bagaimanapun juga, ibu harus tahu soal masalah Sehun.
Di sisi lain, Sehun tidak ingin membuat ibu makin stress. Sehun rasa, pekerjaan ibu sangat menyita perhatiannya.
"Sehun," ibu memasukki kamar, lalu duduk di hadapan Sehun. "Bagaimana kakimu ? Masih sakit ?"
Sehun menggeleng.
"Tidak terlalu," jawab Sehun sambil tersenyum.
Ibu ikut tersenyum. Sehun baru menyadari kalau keriput di bawah mata ibu bertambah, menandakan pikirannya sedang penuh sekarang.
"Maafkan ibu," ucap ibu sambil membelai rambut panjang Sehun. "Ibu akhir-akhir ini tidak memperhatikanmu. Bahkan kakimu terluka saja ibu tidak tahu."
"Tidak masalah, Bu," Sehun menggenggam pergelangan tangan kurus ibunya.
"Percetakan sedang ramai. Ibu harus lembur tiap malam," ibu menyelipkan rambut Sehun ke balik telinganya. "Maafkan ibu."
Sehun bisa melihat air mata sudah memenuhi kantung mata ibunya. Buru-buru Sehun memeluk ibunya saat ia merasakan pandangannya mulai mengabur karena air mata juga mulai memenuhi kantung matanya.
"Tidak apa-apa, Bu. Sungguh," ucap Sehun dengan suara bergetar.
"Maafkan ibu," ibu menciumi kepala Sehun. "Ibu tahu kau juga punya banyak masalah. Maafkan ibu tidak bisa mendengarkan masalahmu seperti dulu."
"Tidak, Bu," Sehun memeluk ibunya erat.
"Ibu janji. Ini akan segera berakhir. Ibu akan mendapatkan pekerjaan yang lebih layak untukmu."
Sehun dan ibu menangis bersama sepanjang malam. Tidak ada yang berbicara lagi. Yang terdengar hanya suara isakan. Walaupun mereka tidak berbicara, mereka saling tahu kalau masing-masing dari mereka sama-sama menghadapi masalah yang berat, tapi tidak sampai hati untuk berbagi satu sama lain.
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
Gimana ? Ditunggu review-nya ^^
