Tittle : Thriller

Author : Katniss Jung

Chapter : 9 of ?

Casts :

Oh Sehun

Lu Han

Genre : Fantasy, horror, thriller, romance, drama

Type : Chaptered

Alert : HanHun, HunHan, Gender Switch, Girl!Sehun, Boy!Luhan

.

.


.

.

Chapter 9 datang! Semoga suka! ^^

.

.

Pulang awal, duduk diam di kamar, dan dikungkung rasa takut berlebih sudah jadi makanan buat Sehun sejak ada penyusup yang masuk ke kamarnya. Sehun benar-benar menuruti perintah Luhan.

Selama satu minggu Sehun menutup diri dari dunia luar. Tidak pernah hang out, tidak pernah pulang telat, dan –jauh– lebih banyak diam di dalam kelas. Walaupun Sehun terus menempel pada Baekhyun, sesuai pesan Luhan untuk tidak kemana-mana sendiri, Sehun lebih banyak mendengarkan ocehan Baekhyun daripada menimpalinya.

Baekhyun sempat khawatir dengan perubahan sikap Sehun. Sehun yang biasanya tukang kompor dan tukang memojokkan jika ada Chanyeol di dekat Baekhyun benar-benar suka membisu sekarang. Wajahnya juga kelihatan makin pucat dan kuyu. Kantung mata hitam yang menggantung di bawah mata Sehun membuat Baekhyun yakin kalau Sehun sedang dalam masalah besar.

Beberapa kali Baekhyun mencoba untuk memancing Sehun untuk bercerita. Tapi, hasilnya nihil. Sehun selalu bilang 'aku tidak apa-apa' atau 'aku kena flu' atau 'anjingku mati'. Untuk alasan Sehun yang terakhir, Baekhyun sama sekali tidak menerimanya. Ibu Sehun 'kan alergi bulu. Dulu Sehun bilang sendiri. Mana mungkin ia memelihara anjing.

Setidaknya Baekhyun agak tenang ketika Kyungsoo dan Kai kembali ke sekolah. Sehun mau bicara agak banyak walaupun hanya pada Kyungsoo. Sehun juga sesekali tersenyum mendengar candaan Kai, walaupun pada akhirnya Sehun bakal kembali murung dan melamun.

Sehun juga jarang ikut pergi bersama teman-temannya. Seperti waktu hari pertama Kyungsoo dan Kai kembali ke sekolah. Baekhyun, Kyungsoo, dan Kai berencana untuk pergi ke famous restaurant, membeli seporsi besar lobster asam manis untuk merayakan kembalinya pasangan-yang-tidak-punya-status-jelas itu. Dan dengan cepat Sehun menolak untuk ikut dengan dalih dia harus jaga rumah.

Sehun tidak biasanya seperti itu.

Luhan juga bersikap tidak biasa. Setiap senja, Luhan selalu mengunjungi kamar Sehun untuk memastikan si pemilik ada di dalamnya. Dan setelah itu, biasanya Luhan bakal bertengger di atap rumahnya sambil sesekali menghilang untuk melihat keadaan sekitar. Luhan terus berpatroli, berjaga kalau ada salah satu saudara Tao yang diam-diam menyusup lagi.

Selalu seperti itu setiap malam. Sehun benar-benar merasa tidak enak pada pacarnya. Luhan terkesan mengutamakan Sehun, dan Sehun rasa itu bukan pilihan yang bagus karena Luhan juga bisa saja diserang kapanpun.

Sampai suatu malam, Sehun dikejutkan dengan kehadiran Kris di atap rumah Luhan. Saat itu tepat tengah malam dan parahnya, Kris masih memakai seragam sekolah, walaupun dasi dan jas almamaternya sudah menghilang entah kemana.

"Kris!" panggil Sehun dari jendela kamarnya.

Kris yang sejak tadi bertengger di atap rumah Luhan sambil mengamati bulan seketika menoleh. Sehun tidak bisa melihat wajah Kris dengan jelas, tapi yang jelas, Sehun tahu kalau Kris kelihatan salah tingkah saat melihat dirinya.

"Apa yang kau lakukan di sana ?" tanya Sehun dengan suara agak keras.

"Membantu Luhan," jawab Kris sambil membuang wajahnya. "Luhan ada urusan sebentar. Aku menggantikannya selama dia pergi."

Sehun mengamati siluet cowok jangkung yang bertengger di atap rumah pacarnya.

"Kau tidak perlu melakukannya, Kris," ucap Sehun lirih.

"Aku harus. Aku tidak mungkin membiarkanmu berada dalam bahaya lagi," timpal Kris.

Sehun agak terkejut karena Kris mendengar ucapannya.

"Kris, jangan terlalu keras pada dirimu sendiri," tambah Sehun.

Kris tidak menimpali. Tapi, Sehun bisa melihat Kris bergerak tidak nyaman.

"Kau bahkan belum mengganti bajumu," lanjut Sehun.

"Aku baru saja menyelesaikan tugas kelompok," tukas Kris tanpa menatap Sehun.

"Pulanglah. Kau butuh istirahat," Kris terkekeh.

"Vampire tidak butuh tidur, Sehun," Kris masih terkekeh.

Sehun manyun. Dia lupa kalau cowok yang bertengger di atas atap itu adalah makhluk abadi.

Sehun diam. Kris juga. Tidak ada obrolan lagi. Yang terdengar hanyalah suara angin malam dan suara mobil dari kejauhan. Sehun tidak suka keadaan canggung seperti ini. Jadi Sehun memutuskan untuk membuka percakapan baru. Tapi, baru saja Sehun hendak membuka mulutnya, Kris berdiri dan bersiap untuk pergi.

"Luhan sudah kembali," ucap Kris, lagi-lagi tanpa menatap Sehun. "Aku pergi dulu."

Sehun mencegah Kris pergi.

"Ada apa ?" tanya Kris, kali ini ia berani menatap Sehun yang berada di jendela kamarnya.

"Jangan memaksakan dirimu."

Kris tidak menjawab ucapan Sehun. Tanpa berpamitan, Kris melompat ke sisi atap rumah Luhan yang lain dan menghilang di kegelapan.

.

.


.

.

"Hun."

Sehun mengangkat kepalanya saat namanya dipanggil. Di hadapannya ada Kyungsoo dan Kai. Awalnya, Sehun ingin kembali tidur karena dua makhluk ajaib ini mengganggu jam tidurnya di kelas, tapi, saat melihat cengiran aneh dari keduanya, pasti mereka ingin bicara sesuatu.

"Apa ?" tanya Sehun dengan wajah kusutnya.

"Mau main nanti malam ?" tanya Kyungsoo balik. Dengan cepat Sehun menggeleng.

"Aku harus jaga rumah."

"Ayolah, Hun," Kyungsoo memohon dengan wajah imutnya.

"Tidak bisa. Maafkan aku, Kyungsoo," Sehun menyentuh tangan kanan Kyungsoo.

"Sebentar saja ? Ya ? Ya ?" Kyungsoo bersikeras.

"Ayolah, Hun. Dia bakal ngambek sampai besok kalau kau tidak ikut," sekarang Kai mulai melancarkan serangannya juga.

Sehun memijat pelipisnya yang berkedut. Terbangun dengan cepat dan rasa lelahnya yang menumpuk karena terlalu sering begadang membuat kepalanya pusing. Sehun benar-benar ingin seperti dulu lagi, jadi putri tukang-tidur-lima-belas-jam.

"Maafkan aku, Kyung. Aku benar-benar tidak bisa," Sehun memasang wajah oh-ayolah-mengerti-sedikit.

Kyungsoo memanyunkan bibirnya dan Kai mulai bergerak tidak nyaman. Sesekali Kai melirik Kyungsoo yang sudah benar-benar badmood. Rencana mereka untuk makan sosis bakar dan pesta kembang api di atap sekolah nanti malam gagal total. Rencana yang sebenarnya untuk Sehun malah digagalkan oleh Sehun sendiri. Kyungsoo bisa ngambek berhari-hari dan itu tidak bagus buat Kai.

"Bagaimana kalau kami ke rumahmu ?"

Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Kai. Entahlah, Kai merasa harus menanyakan kemungkinan itu.

"Ya… boleh-boleh saja," timpal Sehun. Kyungsoo kelihatan berfikir sesaat, kemudian senyuman cerianya sudah kembali lagi.

"Benarkah ?" tanya Kyungsoo, memastikan. Pasalnya Sehun tidak pernah membawa satupun temannya ke rumah.

"Tentu. Memangnya kalian mau apa ? Di rumahku tidak ada apapun," tambah Sehun.

Kyungsoo dan Kai saling tatap. Mereka bertingkah seolah bisa berkomunikasi hanya dengan mata. Tidak salah Sehun mengatai mereka makhluk ajaib. Bahkan mereka jadi makin ajaib setelah koma bersama. If you know what Sehun means.

"Di rumahmu ada rooftop, loteng, atau tempat terbuka yang ada di atas rumah ?" tanya Kyungsoo dengan penuh semangat.

Sehun kelihatan berfikir sebentar.

"Ada. Tempat menjemur baju. Sempit sih, karena untuk menyimpan peralatan lain juga. Memangnya untuk apa ?"

Kyungsoo dan Kai nyengir kuda.

"Rahasia. Tunggu kami jam 6 di rumahmu. Tidak usah mempersiapkan apapun. Kami bakal bawa makanan banyak kok," ucap Kyungsoo. "Ya, 'kan, Kai ?"

"Iya," Kai menimpali dengan seringaian andalannya sementara Sehun sekali lagi cuma bisa keheranan melihat tingkah dua makhluk ajaib ini.

.

.


.

.

Kalau saja pintu rumah Sehun tidak digedor dan ponselnya tidak berdering secara terus menerus, Sehun dan Luhan tidak bakal berhenti berciuman.

Saking asyiknya berduaan dengan Luhan di jendela kamar, Sehun lupa ganti baju. Bahkan Sehun lupa kalau Kyungsoo dan Kai akan berkunjung ke rumahnya.

Setelah Luhan melompat turun dari kamar Sehun, dengan tertatih-tatih Sehun menuruni tangga dan berjalan menuju pintu depan. Sehun agak mempercepat langkahnya saat mendengar suara Kai yang kian keras. Bisa saja Kai mendobrak pintu rumahnya kalau Sehun tidak buru-buru.

"Hai, Sehun!" sapa Kai dengan cengiran lebar. Dan tanpa permisi, laki-laki berkulit gelap itu merangsek masuk ke dalam rumah Sehun sambil menenteng dua kantung plastik besar.

"Hai, Hun," Kyungsoo mencium pipi Sehun sekilas, lalu mengikuti tingkah Kai.

Sehun sendiri masih terdiam di depan pintu sambil mengamati Kyungsoo dan Kai yang sedang berkeliling. Kyungsoo berhenti di depan kumpulan figura yang tertempel di dinding, sementara Kai langsung nyelonong ke dapur.

Sehun salah lihat atau memang Kyungsoo dan Kai memakai kaus yang hampir sama ? Seperti couple shirt hanya saja beda warna. Tapi Sehun memilih untuk mengabaikannya.

"Hun, ini Mama-mu ?" tanya Kyungsoo sambil menunjuk figura foto ibu yang tergantung di dinding.

"Ya," jawab Sehun sambil menutup pintu rumahnya.

"Cantik dan anggun sekali," dari nada suara Kyungsoo, Sehun tahu betul kalau Kyungsoo tulus. "Tapi kenapa anaknya cuma cantik ? Anggunnya kemana ?"

Ingin rasanya Sehun melempari Kyungsoo dengan bantal sofa. Tapi, tubuhnya masih lelah. Jadi Sehun memilih berjalan ke dapur dan menyempatkan diri untuk memukul pantat Kyungsoo sebelum menyusul Kai.

"Dimana rooftop-nya ?" tanya Kai saat Sehun memasukki dapur setelah mendapatkan balasan setimpal dari Kyungsoo.

"Naik ke lantai dua. Di sebelah kamarku," jawab Sehun singkat. "Ngomong-ngomong itu buka rooftop, lho. Cuma tempat jemur baju yang merangkap jadi gudang."

"Nggak masalah," Kai membuka rak piring. "Apa kau punya grill atau semacamnya ?"

"Ada. Cari saja. Bawa ke atas sendiri, ya ? Aku mau mandi dulu. Nanti aku menyusul," ucap Sehun sambil meninggalkan dapur.

Sehun melesat ke lantai dua sebelum Kyungsoo sempat memukul pantatnya lagi, lalu masuk ke kamarnya. Sehun mandi tidak lebih dari sepuluh menit. Sehun buru-buru karena ada Kyungsoo dan Kai yang menunggu di tempat jemur pakaiannya. Jadi Sehun memakai pakaian secepat kilat, hanya kaus oblong navy yang sudah sangat tipis karena sering dipakai dan celana pendek.

Setelah mengikat rambut dan menyambar ponselnya, Sehun keluar kamar dan setengah berlari menuju tempat jemur pakaian. Setelah membuka pintu, Sehun hanya bisa membuka mulutnya lebar-lebar, tidak mempercayai apa yang ia lihat.

Kyungsoo dan Kai membersihkan tempat jemur pakaiannya. Barang-barang yang disimpan secara acak tersusun rapi di sudut. Sofa tua yang sudah lama tidak dipakai sekarang bersih dari debu dan ditutupi kain bunga-bunga yang entah darimana Kyungsoo maupun Kai dapatkan.

Alat pemanggang tua milik ibu sudah berada di tengah-tengah, meretih memanggang lima sosis dan beberapa kornet. Baunya merebak kemana-mana sampai Sehun sadar kalau sejak tadi pagi perutnya hanya diisi setengah gelas susu dingin. Cacing perutnya berteriak-teriak minta sosis panggang sekarang.

"Makan saja," ucap Kyungsoo sambil terkekeh. Kyungsoo geli melihat ekspresi Sehun yang kelihatan kelaparan.

"Kami masak untukmu, kok. Serius deh," tambah Kai sambil membalik kornet dengan tangan kosong.

Tanpa menghitung sampai tiga pun Sehun tahu Kai bakal menggeram kesakitan. Kyungsoo bukannya menolong malah tertawa terbahak-bahak, begitu juga Sehun. Salah Kai sendiri. Sudah jelas kornet itu panas dan dengan bodohnya memakai tangan kosong untuk membaliknya.

Setelah adu mulut beberapa saat, Sehun memulai untuk makan sosis hasil panggangan Kyungsoo dan Kai. Entah karena Sehun sangat lapar, atau karena sosis itu harganya mahal, atau karena Kyungsoo dan Kai memang pintar masak, rasanya sangat enak.

Sehun tidak akan berhenti makan kalau saja ia tidak tersedak. Matanya serasa bakal melompat keluar dari rongganya saat Sehun terbatuk-batuk. Kyungsoo dan Kai terkejut tapi Sehun menolak bantuan. Sehun meraih kantung plastik makanan dan menemukan sebotol besar soda.

Sehun menyambar botol soda itu dan buru-buru lari ke bawah untuk mengambil gelas di dapur. Matanya berair dan Sehun benar-benar ingin menangis. Dadanya sakit sekali. Sepertinya serpihan sosis panas mulai masuk ke saluran pernafasan Sehun.

Setelah menenggak segelas soda, Sehun kembali ke atas dengan tiga gelas baru. Siapa tahu Kyungsoo dan Kai juga ingin minum. Dan Sehun kembali dikejutkan saat membuka pintu tempat jemur pakaiannya yang berada di lantai dua.

Sehun memergoki Kyungsoo dan Kai sedang berciuman. Mulut Sehun kembali membuka lebar, tidak mempercayai penglihatannya. Mungkin Kyungsoo dan Kai terlalu terbawa suasana sampai tidak sadar kalau Sehun sudah kembali. Jadi, Sehun berdeham dan dengan cepat Kyungsoo mendorong kai menjauh.

"Ciuman di tempat jemur pakaian, eh ?" ledek Sehun sambil mencomot kornet hangat.

Kyungsoo dan Kai diam saja. Bahkan mereka berusaha menghindari tatapan satu sama lain walaupun berdiri berjejeran. Dan sekarang Sehun yakin kalau Kyungsoo dan Kai memang memakai couple shirt. Kaos Air Jordan, putih untuk Kyungsoo dan hitam untuk Kai. Dasar, batin Sehun.

"Jangan coba-coba bilang kalian tidak berpacaran setelah ini," ucap Sehun sambil mengacungkan botol soda besar yang masih dibawanya.

Kyungsoo cemberut dan Kai memasang ekspresi tak terbaca, tapi, Sehun tahu mereka sebenarnya senang.

.

.


.

.

Satu minggu lagi Sehun habiskan dengan menutup diri. Sehun masih sama seperti sebelum-sebelumnya –pulang awal, melamun, banyak diam, banyak tidur di kelas, menempel pada Baekhyun atau Kyungsoo, dan kelihatan makin lelah. Ternyata rencana Kyungsoo dan Kai untuk membuat Sehun kembali seperti sebelumnya gagal.

Pikiran Sehun sangat penat. Di antara tekanan rasa takut dan waspada, Sehun masih harus belajar dan ditimpa banyak tugas. Ujian kenaikan kelas di depan mata. Sehun harus mempersiapkan segalanya dengan baik kalau mau naik kelas tiga. Sementara konsentrasinya sekarang sedang terpecah-belah.

Luhan yang memang mengerti keadaan mengajak Sehun jalan-jalan hari Sabtu, saat Sehun libur. Luhan tidak bilang mau kemana, tapi yang jelas, Luhan minta Sehun pakai celana panjang dan jaket agak tebal. Jadilah Sehun sekarang, berdiri di depan rumah Luhan dengan sneakers kesayangannya, celana levis navy, dan kaos yang dilapisi sweatter tebal.

Sudah hampir lima menit Sehun menunggu, sesuai jam janjian mereka, jam 10. Beberapa kali Sehun berkeinginan untuk masuk, tapi Luhan ingin Sehun menunggu di luar. Jadi Sehun memilih untuk tetap di luar.

Selang beberapa saat, pintu pagar Luhan terbuka. Luhan keluar dengan gaya berpakaiannya yang biasanya, rapi tapi santai, Sehun selalu suka.

"Selamat pagi," sapa Luhan dengan senyuman mautnya. Lutut Sehun mendadak lemas.

"Kita mau kemana ?" tanya Sehun, tidak menjawab sapaan Luhan.

"Jalan-jalan sebentar," Luhan menyangga tubuhnya dengan tangan kirinya pada pagar. "Soalnya siswa yang satu ini sedang bosan belajar."

Sehun tersenyum, tapi tidak menanggapi pernyataan Luhan.

"Tunggu aku mengeluarkan motor dan kita langsung berangkat, oke ?" tanya Luhan.

"Oke."

Luhan masuk ke dalam rumah dan kembali dengan motor sport-nya. Sehun menutup pagar rumah Luhan dan naik ke atas motor. Setelah Sehun memakai helm, Luhan mulai menjalankan motornya.

"Kita mau kemana, sih ?" tanya Sehun lagi sambil memeluk Luhan dari belakang. Suaranya nyaris tidak terdengar karena terbawa angin.

"Ke Pulau Jangsa," jawab Luhan.

Sehun mendelik. Bukan Jangsa yang itu, 'kan ?

"Serius ?" tanya Sehun lagi, setengah berteriak.

"Iya," jawab Luhan.

"Kau gila ? Lima jam naik motor ?"

"Iya. Kau tidak mau ?"

Sehun diam. Jujur saja Sehun belum pernah ke Jangsa dan dia ingin melihat matahari terbenam di sana, yang katanya keren.

"Oke. Lanjut saja," Sehun memberi keputusan final.

Luhan menjawab dengan menambah kecepatan.

Sudah hampir lima jam Sehun dan Luhan di atas motor, terus bergerak menuju Gyeongsang Selatan sebelum jam tiga sore. Rasanya sangat lama. Bahkan Sehun sampai tidak bisa merasakan kaki dan pahanya saat turun dari motor.

Luhan membawa Sehun ke sebuah tempat makan di dekat Pelabuhan Tongyeong begitu mereka sampai. Sehun perlu makan sebelum menyeberang ke Pulau Jangsa. Tapi, Sehun menolak. Sehun bilang dia takut mabuk laut. Jadi, lebih baik Sehun membiarkan perutnya kosong agar ia tidak muntah.

Setelah membeli beberapa makanan kecil, Sehun dan Luhan menyeberangi jalan yang membentang di atas laut sepanjang delapan kilometer, menuju Pulau Jangsa. Sehun benar-benar menyukai pemandangannya.

.

.


.

.

"Suka ?"

Sehun tidak menjawab. Matanya terus beredar mengamati sekitarnya. Puluhan anak tangga menukik turun dan sebuah altar di ujung bawah sana yang langsung menghadap ke Laut Selatan membuat Sehun lupa cara bicara. Semunya kelihatan keren.

"Suka ?" tanya Luhan lagi. Dan kali ini Sehun menjawab dengan anggukan senang.

Sehun kembali menatap sekelilingnya. Anak tangga panjang, altar di bawah sana, Laut Selatan, pohon-pohon, tanaman rambat, semuanya. Sehun berusaha mengingat semuanya.

"Ayo duduk."

Luhan membimbing Sehun untuk duduk di salah satu anak tangga. Keseluruhan bagian dari taman terlihat jelas. Luhan tahu Sehun senang. Sehun tidak bisa berhenti tersenyum sambil mengamati sekeliling.

"Terima kasih," Sehun menggenggam tangan kanan Luhan, lalu mengecup pipinya sekilas.

"Sama-sama," Luhan menyelipkan jari-jarinya di antara jari-jari kurus Sehun. "Kita sudah pernah lihat sunrise. Sekarang sunset. Lengkap sudah. Tunggu beberapa jam lagi."

"Iya. Kalau tempatnya sebagus ini, aku mau menunggu," ucap Sehun sambil nyengir.

Obrolan surut. Sehun dan Luhan sama-sama diam sambil menggenggam tangan satu sama lain. Keheningan semakin menjadi karena pengunjung pulau ini sudah semakin berkurang. Banyak orang yang memilih kembali ke Tongyeong karena hari mulai gelap.

"Luhan," Sehun kembali membuka suara. "Aku ingin bertanya sesuatu."

"Apa ? Tanya saja," timpal Luhan.

"Soal yang kemarin, waktu Tao dan saudara-saudaranya mengejarku. Bagaimana bisa kita bertelepati ?" tanya Sehun.

Luhan terkekeh.

"Karena ini," Luhan menyentuh giwang di telinga Sehun, lalu menyentuh miliknya sendiri. Giwang yang diberikan Luhan untuk Sehun tempo hari. "Tiga moonlace. Kau masih ingat ?"

Sehun mengangguk.

"Giwang yang aku pakai, dan milikmu juga, sebenarnya adalah tiga moonlace yang aku ceritakan. Aku mengubahnya menjadi giwang agar lebih mudah dibawa. Awalnya, aku ingin menyimpannya untuk diriku sendiri. Tapi, aku rasa, kau membutuhkannya," jelas Luhan.

"Membutuhkan moonlace ? Untuk apa ? Aku tidak tersesat, kok," timpal Sehun. Luhan tersenyum lagi.

"Menurut legenda, tiga moonlace selalu menunjukkan arah. Hampir mirip seperti Janus, Hecate, Nemesis–"

"Siapa mereka ?" potong Sehun.

"Dewa-dewi minor Yunani. Lupakan," Luhan melanjutkan. "Pokoknya moonlace selalu menunjukkan arah yang benar. Tiga moonlace selalu terhubung walaupun dipisahkan. Dan aku rasa, tiga moonlace ini yang bisa membuat kita bertelepati."

Sehun tidak begitu mengerti penjelasan Luhan. Yang Sehun tangkap, pokoknya sekarang mereka bisa bertelepati.

"Kau tahu, Oh Sehun ? Aku senang kau memakai moonlace itu," lanjut Luhan.

"Memangnya kenapa ?"

"Karena aku bisa membaca pikiranmu sekarang."

Luhan menatap lurus ke mata Sehun, lalu tersenyum–lagi.

"Vampire punya kemampuan membaca pikiran. Lakukan skinship, tatap matanya, then you'll see anything. Tapi, hukum itu tidak berlaku bagimu, Oh Sehun. Aku tidak pernah bisa membaca pikiranmu. Berkali-kali aku melakukan skinship padamu. Tapi, hasilnya nihil. Kau seperti… buku tertutup ? Kau tidak terbaca," Luhan lagi-lagi menatap dalam mata Sehun.

"Bagaimana bisa ?" cicit Sehun.

"Entahlah," Luhan mengusap kepala Sehun. "Tapi, setelah kau memakai moonlace itu, aku tahu apa yang selalu kau pikirkan."

Sehun diam.

"Aku tahu apa ketakutan terbesarmu sekarang. Maafkan aku," lanjut Luhan.

Sehun masih diam, tidak menanggapi. Matanya menerawang menatap Laut Selatan yang warnanya kian menguning karena senja hampir datang. Pikirannya tertuju pada ketakutannya akhir-akhir ini. Sehun ingat kalau dia sedang dikejar segerombolan vampire dan harapan hidupnya tinggal sedikit.

Sehun tidak tahu bagaimana nantinya. Jika dia benar-benar mati, apa reaksi Kyungsoo, Baekhyun, dan Kai ? Mereka tidak tahu apa yang sedang dihadapi Sehun. Sama sekali. Begitu juga ibunya. Sehun tidak tahu harus bagaimana. Memikirkan ibunya tinggal sendirian di rumah kecil mereka membuat Sehun ingin menangis.

Sehun takut mati. Sehun belum mau mati.

Sehun mengangkat wajahnya saat Luhan berdiri sambil membawa ponselnya, memutar sebuah lagu blues yang sama sekali tidak Sehun ketahui. Kemudian, Luhan mengulurkan tangannya sambil tersenyum manis.

"Mau berdansa ?"

Sehun sempat ragu, tapi toh, dia tetap menerima tangan Luhan.

Luhan membimbing Sehun menuruni tangga menuju altar yang menghadap langsung ke Laut Selatan. Senja sudah dekat dan Pulau Jangsa berubah jadi sepi. Lagu yang diputar Luhan terdengar makin keras, bahkan tetap terdengar walaupun suara deburan ombak mendominasi.

Luhan menggenggam kedua tangan Sehun begitu mereka sampai di altar. Luhan tersenyum sementara Sehun masih terdiam, memasang ekspresi tak terbaca, karena memang hati dan pikirannya agak kacau sekarang.

Sehun kira, acara dansa mereka bakal sekeren di acara pesta dansa sungguhan. Tapi, ternyata, Luhan sama sekali tidak bisa dansa. Tariannya aneh, hanya seputar menarik dan mengulur lengan Sehun saja. Sesekali Luhan berputar dan malah Sehun yang harus menangkap. Mau tidak mau Sehun tersenyum melihat tingkah Luhan. Ternyata, seorang Luhan juga bisa bertingkah tidak sempurna.

Sehun dan Luhan terus menari dan melakukan gerakan-gerakan aneh. Sehun tidak malu karena di sekeliling altar tidak ada siapa-siapa. Hanya mereka berdua. Dan menjadi gila bersama terkadang menyenangkan.

Hingga lagu selesai dan Sehun jatuh ke pelukan tangan panjang Luhan. Sehun menyandarkan dagunya pada bahu Luhan.

"Aku mencintaimu," bisik Sehun.

Luhan tersenyum walaupun ia yakin Sehun tidak bisa melihat wajahnya.

"Aku juga," Luhan melepaskan pelukan Sehun, lalu menyatukan dahi mereka. "Jangan pernah berfikir soal mati lagi. Tidak akan ada satupun dari kita yang mati–aku, kau, Kris. Aku yakin kita bisa melalui ini."

Sehun menggenggam tangan Luhan. Sehun tahu Luhan sudah membaca semua yang ada di dalam pikirannya. Sehun merasa lega. Setidaknya, Sehun tidak perlu menceritakan ulang ketakutannya yang bakal memperparah keadaan.

"Kau percaya padaku ?" tanya Luhan.

Sehun mengangguk.

Dan senja pun turun.

.

.


.

.

Luhan menurunkan Sehun di depan rumahnya. Setelah lima jam perjalanan kembali ke Seoul, mereka sampai tepat pukul sebelas malam. Hari sudah larut dan Sehun sempat takut. Kebiasaannya berada di rumah sebelum gelap membuat Sehun lebih waspada.

"Tenang saja," ucap Luhan sambil mengelus rambut Sehun. "Langsung masuk dan ganti baju. Kau aman."

Sehun menjawab dengan senyuman. Lalu, setelah mengucapkan selamat malam, Luhan kembali ke rumahnya sendiri.

Sehun kira, Luhan benar, berada di luar rumah sebentar saat gelap bakal aman-aman saja. Tapi, setelah berbalik dan hendak meraih gerendel pintu gerbang rumahnya, segalanya berubah jadi gelap, bagi Sehun.

.

.


.

.

TO BE CONTINUED

.

.

Gimana ? Ditunggu review-nya ^^