Hai semuanya! Saya sudah meng-update lagi. Buat yang gak suka, harap klik back. MAAF SEKALI KARENA SAYA UPDATE-NYA LAMA. Soalnya lagi nggak ada ide nih. Siapa tahu para readers sekalian ada yang mempunyai ide untuk cerita saya silakan pm saja
WARNING : AU, gaje, maybe ooc, rated m
Summary : Dia pergi, dan aku sudah menyiapkan hatiku. Tanpa aku tahu, aku masih tetap menyayanginya. Sekarang dia kembali, apa yang harus aku lakukan? Mencintainya untuk yang kedua kali? Oh bukan, aku hanya menunggu bagaimana cahaya menemukan dia disudut hatiku, dan mengeluarkannya dari sana? Entahlah, aku hanya mengikuti apa yang takdir mau, meskipun takdir sering kali mempermainkan hidupku, dan hidupnya.
Disclaimer : Masashi kishimoto-sensei, tapi cerita ini murni milik saya ^^
R&R, DLDR..
SELAMAT MEMBACA! SEMOGA ANDA SUKA! ^.^
Move on. It's just a chapter in your life. Dont close the book, just turn the page for a new chapter.
Tanpa Hinata duga, ternyata Sakura langsung menyetujui desain yang sudah ia buat. Menurutnya, Sakura tidak banyak protes, tidak seperti kebanyakan model lainnya yang minta diubah ini diubah itu. Dan sekarang baju itu sedang dalam proses penjahitan. 'Semoga dia puas dengan hasil karyaku nantinya.'batinnya. Meskipun Hinata bisa jamin, gaun itu akan sangat cocok apabila dipakai oleh model cantik dan ramah senyum seperti Sakura.
Hinata hanya bisa berdoa, semoga ketika pentas nanti, Tuhan melancarkan segalanya.
Promises are made just to make someone expect and get hurt in the end. That's the point.
Tanpa terasa hari ketika pertunjukan opera itupun tiba. Waktu berjalan dengan sangat cepat. Dengan Sasuke yang senantiasa mengisi harinya, tentu saja. Seperti mengulang kebiasaan masa lalu. Rasanya aneh memang, tapi ini menyenangkan meskipun seperti diliputi ketakutan semua ini hanya mimpi belaka. Kebiasaan-kebiasaan kecil Sasuke yang membuat Hinata nyaman berada disampingnya—meskipun kadang menjengkelkan. Ya. Mereka jatuh cinta karena terbiasa. Terbiasa melihat senyum satu sama lain setiap hari, terbiasa berdebat setiap hari, terbiasa mengerti satu sama lain, terbiasa menyayangi satu sama lain, terbiasa mencintai satu sama lain, dan terbiasa bersama.
Hinata mendapat dua tiket gratis dari Sakura untuk menonton pertunjukan operanya. Hinata mengajak sahabat sekantornya. Kirei namanya. Kirei sudah lama berteman dengannya, karena sejak awal ia masuk kerja, Kirei mau membantunya yang bisa dibilang masih baru. Ia dan Kirei menempati posisi tempat duduk di tengah saat menonton opera. Masih cukup jelas untuk melihat pertunjukannya.
Amazing. Itu kata yang tepat untuk mendefinisikan Sakura di pertunjukkan opera tadi. Lihat, tubuh langsing itu dibalut dengan gaun yang apik benar-benar terlihat pas ditubuhnya. Wajah cantik juga senyum lima jarinya selalu Sakura tunjukkan dihadapan semua pengunjung.
Sakura benar-benar cocok memegang peran sebagai Putri Helena. Karena kecantikan Putri Helena, maka ia diperebutkan oleh Pangeran Manelause juga Pangeran Paris. Putri Helena benar-benar mencintai keduanya. Hingga akhirnya, Pangeran Manelause menyatakan perang dengan Pangeran Paris. Dan dalam peperangan itu, Pangeran Paris tertusuk mati oleh pedang Pangeran Manelause. Setidaknya, Pangeran Paris sudah berusaha untuk memperjuangkan cintanya. Karena pada kenyataannya setiap manusia hanya diciptakan dengan satu hati dan tidak bisa mencintai dua orang sekaligus dalam satu waktu. Penampilan Sakura benar-benar memukau pengunjung yang datang. Akhirnya pengunjung pulang dengan wajah memancarkan kepuasan atas aktingnya.
Hinata masih tetap duduk karena tidak ingin ikut berdesak-desakkan keluar dengan pengunjung-pengunjung lainnya.
"Hinata-chan, bukannya itu pria yang sering jemput kamu dikantor ya?" Kirei bertanya kepadanya sambil menunjuk pria dikursi penonton yang berjarak 4 baris didepan kursi mereka.
Ah wajah pria itu sangat jelas dilihat dari tempat duduk mereka. Ya, pria itu disana. Sasuke Uchiha yang sedang bergurau ringan dengan Sakura Haruno. 'kenapa mereka bisa saling mengenal? Apa aku yang terlalu kuper sampai tidak tau kalau mereka berteman?' Hinata mulai gelisah. Ia mencoba mengabaikan mereka dan mencoba bersugesti kalau mereka hanya teman biasa. Apa ini bisa disebut sebuah pengharapan? Atau penyangkalan? Memang Sasuke milik Hinata? Apa karena mereka tidur bersama itu bisa menjadi semacam kepemilikan?
"Ya, itu memang Sasuke-kun yang sering menjemputku pulang kantor. Dan wanita disampingnya itu adalah model yang memintaku untuk menjadi desainer gaunnya, sekaligus pemeran Putri Helena di opera tadi. Sakura Haruno. Ayo pulang, Ki-chan. Mumpung sudah sepi."
Hinata pulang dengan perasaan campur aduk. Senang karena gaunnya dilihat oleh banyak orang dan sedikit tidak senang karena tau Sasuke dan Sakura berteman. Atau mungkin ia hanya takut, kalau-kalau Sasuke jatuh cinta pada kecantikan Sakura? Lagi-lagi ketakutan ini datang lagi. Ia sungguh benci keadaan seperti ini. Sedang ia hanya bisa diam tanpa berbuat apapun untuk menyelidiki segalanya. Karena ya.. Sasuke memang bukan siapa-siapanya. Hak apa yang dimilikinya atas Sasuke? Mungkin benar Sasuke hampir setiap hari menginap di apartemen Hinata, tapi sekali lagi itu tidak membuktikan kalau sasuke milik Hinata.
The first person you think of in the morning, or last person you think of at night, is either the cause of your happines and your pain.
Berhubung hari ini libur akhir pekan, Sasuke akan mengajak Hinata pergi bermain ke Game Center. Sasuke tahu kalau Hinata adalah seorang gamer. Seharian ini ia selalu tersenyum ramah ke orang-orang yang berjalan hilir mudik didepannya dan Kirei.
"Ehem ehem. Sepertinya aku melihat ada bunga-bunga bertebaran dibelakangmu menjadi background. Kenapa kau terus tersenyum, Hinata? Kau diajak kencan ya.." Ah Kirei benar-benar sahabatnya. Kirei selalu tau apa yang sedang Hinata rasakan.
"Ah tidak kok, Kirei-chan. Aku nanti hanya akan diajak ke Game Center."
"Wah tapi kok senyum terus? Pasti ada yang lain ya?"
"Tidak ada, serius." Mereka terus berbincang-bincang ringan dibawah pohon yang ada ditaman. Tak terasa, sekarang sudah pukul 2 siang. Itu berarti Sasuke akan meneleponnya atau mengirimnya pesan untuk menjemputnya. Tapi nyatanya, jam 2 lewat pun, Sasuke tetap tidak menghubunginya. 'Kemana dia? Apa dia lupa kalau dia punya janji untuk mengajakku bermain? Atau mungkin ia sedang ada acara dengan teman wanitanya? Atau bahkan pacarnya?' Hinata lupa, ia tidak menanyakan apakah Sasuke sudah mempunyai pacar atau belum. Tapi toh untuk apa? Punya ataupun tidak punya, hubungan mereka tidak akan berubah lagi bukan? Yang pasti, sekarang ia benar-benar kesal karena Sasuke melupakan janjinya. Bahkan menjawab panggilannya pun tidak.
Aku memang mudah dilupakan dan terlupakan. Tapi, aku tidak mudah melupakan.
Sasuke berjalan menyusuri lorong berwarna putih yang sangat hening. Hingga akhirnya berhenti disuatu pintu.
'Cklek.' Suara pintu terbuka.
"Dok, jadi bagaimana? Apa memang efeknya seperti ini?"
"Ya. Itu wajar karena memang prosesnya seperti itu."
"Apa tidak ada cara lain untuk menyembuhkannya, Dok? Terapi? Obat?"
"Tidak. Semua itu hanya menunda saja. Pada akhirnya akan tetap sama."
"Baiklah, Dok. Terimakasih. Saya permisi."
"Ya silahkan."
Sasuke berpikir segalanya bertambah rumit. 'Harus dari mana lagi aku memulainya?' Batin Sasuke .
Terkadang, apa yang menjadi kenyataan tak seindah apa yang diharapkan. Ini terjadi karena pengharapan yang terlampau besar, bukan?
Sasuke masuk kedalam rumah dengan keadaan lesu. Dan Sasuke baru sadar kalau didepan rumahnya tadi ada mobil merah yang terparkir disana. Ternyata dugaan Sasuke benar, calon tunangan Sasuke, Sakura Haruno, sedang berbincang-bincang dengan mamanya diruang tamu. Ya, Sasuke memang dijodohkan oleh ayah dan ibunya agar bertunangan bahkan menikah dengan putri dari salah satu kolega ayahnya. Dan yang tidak terduga, putri itu adalah seorang model cantik bernama Sakura Haruno, yang memang semua mengenalnya karena popularitas Sakura sedang menanjak. Sasuke tidak pernah berkata menyetujui pertunangan tersebut. Tapi Sasuke juga tidak ingin menolak perintah kedua orang tuanya.
"Sasuke-kun sudah pulang.. Habis dari mana kau, Sasuke ? Dari tadi Sakura-chan nungguin kamu disini loh." Kaa-san dan Sakura-chan menyambutku dengan senyuman khas masing-masing.
"Tadi aku habis jalan-jalan, Kaa-san. Ada apa, Sakura-chan? Kenapa tiba-tiba kerumahku?"
"Ya ampun, Sasuke-kun. memangnya salah calon tunanganmu main kerumahmu? Aku hanya ingin main. Itu saja. Juga ingin mengobrol dengan Baa-san."
"Terserah." 'ini wajar, hanya saja aku merasa tidak terbiasa.'Batin Sasuke.
"Sasuke , kau temani Sakura dulu ya. Kaa-san akan menyiapkan pakaian untuk menemani Tou-sanmu rapat nanti malam, ya?"
'Tok tok tok.' Suara pintu diketuk oleh seseorang.
"Biar aku saja yang buka, Sasuke-kun."
"Terserah."
"Iya, ada perlu- " ucapan Sakura terpotong oleh ucapan orang lain yang sedang berdiri dihadapan Sakura.
"Sakura?" Hinata tak percaya itu benar-benar Sakura . 'Kenapa Sakura ada dirumah Sasuke? Dan dimana Sasuke sekarang?' Hinata rasa, ia benar-benar gelisah sekarang. Memikirkan segala kemungkinan yang ada.
"Hinata?"
"Apakah ini masih rumah Sasuke? Kenapa kau ada disini, Sakura-san? Kau kenal dengan Sasuke-kun? Dimana Sasuke-kun sekarang?" Ia mengucapkan segala pertanyaan itu hanya dengan sekali tarikan nafas, dan membuatnya sedikit terengah.
"Siapa tamunya Sakura-chan? Kenapa lama sekali?" Suara bariton pria yang sedang ingin Hinata lihat sekarang ada didepannya.
"Hinata? Sedang apa kau disini?" Suara Sasuke itu menyadarkan Hinata dan Sakura dari lamunannya masing-masing.
"Aku? Aku kira ada seseorang yang memiliki janji denganku, tetapi ternyata orang itu melupakan janjinya. Ah, maksudku aku hanya mampir. Tidak sengaja tadi lewat depan rumah Sasuke-san." Ucap Hinata sambil memberikan deathglare-nya kearah Sasuke .
"Hey hey ada apa ini? Hinata-san, kau kenal dengan Sasuke-kun? Dia calon tunanganku. Jadi wajarkan kalau aku ada dirumah calon tunanganku?" Sakura mengucapkan kata tadi seolah tanpa beban dan tanpa mengetahui apa efek yang ditimbulkan akibat pertanyaan Sakura barusan kepada Hinata.
Sial! Mereka saling memanggil dengan suffix –chan dan –kun. Apa ada yang aku tidak tahu disini?
Tenggorokannya tercekat. Entahlah seperti ada sesuatu yang menahan disana. Matanya juga terasa panas. 'Oh Tuhan, jangan. Jangan menangis disini.' Batinnya. Ia kecewa tentu. Ia kecewa karena Sasuke mengingkari janjinya, terlebih saat ia menemukan Sasuke sedang bersama Sakura—ketika seharusnya Sasuke menepati janjinya. Ia kecewa karena setelah Sasuke mendapatkan hatinya untuk yang kedua kali, Sasuke juga meremukkan untuk yang kedua kalinya. Ia juga kecewa kenapa Sasuke tidak memberitahunya kalau ia sudah akan bertunangan. Bahkan memiliki pacar pun Sasuke tidak mengatakannya.
"Ya, aku (sangat) mengenalnya. Kita hanya...Saling mengenal. Ya, sebatas saling mengenal. Calon tunangan? Jadi dia Sasuke calon tunanganmu? Wah. Kalian benar-benar serasi."
"Selamat Sakura-san, Sasuke..san. Semoga kalian bahagia. Dan maaf aku sudah mengganggu acara kalian. Jadi aku permisi dulu. Bye."
"Oh ya, hati-hati." Jawab Sakura.
"Hina-chan, tunggu Hina-chan. Kau salah paham, Hina-chan." Sasuke berusaha menyamakan langkah dengan langkah Hinata yang sudah keluar dari gerbang rumahnya.
"Sasuke. Kau mau kemana, Sasuke ?" Sakura mulai paham dengan kondisi apa yang sedang dihadapinya. Tapi Sasuke malah memilih untuk mengacuhkan pertanyaan Sakura dan terus berlari mengejar Hinata .
'Oh, jadi dia wanita yang ada di album hati dan fotomu?' Sakura tersenyum miris. 'Kurasa dia wanita yang tepat untuk Sasuke . Dan kurasa, perjodohan bodoh ini tak akan bisa diteruskan. Karena, Sasuke sudah memiliki seseorang yang berarti untuknya. Aku tidak cukup bodoh untuk terus mengejar Sasuke dan berusaha membuat Sasuke jatuh cinta kepadaku. Aku tau, cinta berawal dari kebiasaan-kebiasaan kecil. Dan Sasuke tidak terbiasa dengan hal-hal kecilku. Aku tahu, mungkin ini terdengar seperti kalah sebelum berperang. Tapi biarlah. aku hanya tidak ingin jatuh terlalu dalam lagi setelah ini. Bukankah lebih baik mencegah daripada mengobati?—meskipun sudah cukup terlambat untuk mencegah agar tidak jatuh ke hal-hal kecil yang biasa Sasuke lakukan.Sakura rasa, Sakura sudah benar-benar menangis sekarang.
Cowok yang pernah bikin kamu tertawa kencang juga berpeluang membuat kamu menangis kencang.
"Hina-chan, tunggu Hinata-chan. Ada yang perlu aku jelaskan, Hinata-chan." Sasuke berlari mengejar Hinata dan meninggalkan Sakura dirumahnya.
"Apalagi? Apalagi yang ingin kau jelaskan? Semuanya jelas. Kamu. Calon. Tunangan. Sakura . Haruno. Sang model cantik." Ucapnya setengah berteriak.
Hinata benar-benar pusing sekarang. Ia kecewa. Ia marah. Ia sedih. Dan, air matanya menetes begitu saja tanpa bisa ditahan. Salahkan Sasuke yang sudah membuatnya tidak karuan seperti ini. Salahkan Sasuke yang selalu saja membuat air matanya turun. Salahkan Sasuke yang sudah membuatnya jatuh cinta dan patah hati sekaligus untuk yang kedua kali.
"Hina-chan, sebenarnya aku dijodohkan oleh Kaa-san dan Tou-san. Mereka berniat menjodohkanku dengan Sakura karena ayahnya Sakura adalah rekan ayahku. Jadinya mereka sepakat untuk menjodohkan kami. Dan aku sampai sekarang benar-benar belum menyetujuinya dan.. masih mencintaimu. Aku minta maaf karena tidak mengatakan kepadamu dari awal. Tapi serius aku juga baru tau beberapa hari yang lalu, Hinata. Tolong percaya sama aku."
"Apa? Dijodohkan? Ini benar-benar terdengar seperti drama. Entahlah aku bingung harus bersikap seperti apa, Sasuke-kun. Beritahu aku, seperti apa seharusnya aku bersikap? Sok tegar? Atau memohon kepadamu agar kamu tidak menyetujuinya?"
"Hime, kalau kau bilang aku untuk menolaknya pun pasti akan kuturuti. Untukmu, Hina-chan. Semuanya untukmu. Aku menyayangimu." Sasuke menjawab sambil memeluknya. Ia diam. Tidak menolak ataupun membalasnya. Dia benar-benar kalut saat ini.
"Terus kenapa kau tidak menepati janjimu untuk bermain denganku di Game Center, dan malah bersenang-senang dengan model cantik itu, Suke-kun?"
"Ya ampun! Hina-chan, maaf banget. Kalo yang itu aku benar-benar lupa. Serius. Maaf. Dan lagi, aku tidak bersenang-senang dengan Sakura, ketika aku pulang sudah ada dia dirumah dengan Kaa-san sedang berbincang-bincang, Hime. Percayalah."
"Aku ingin es krim dan ramen sekarang. Dan aku tidak ingin tau kau harus mentraktirku berapapun ramen dan es krim yang aku makan. Titik." Jawab Hinata sambil berlari meninggalkannya menuju tempat penjualan eskrim.
"Hah? Apa? Baiklah-baiklah. Hey. Kenapa aku ditinggal? Hime, tunggu Hime. Kau jahat meninggalkanku."
"Kau lebih jahat meluupakan janjimu sendiri, Suke-kun." Balasnya sambil berteriak.
A/N : maaf belum update cerita yang sebelumnya tapi udah ngeupdate cerita baru aja. buat yang nungguin fic Play Behind, Funny pasti terusin kok.. cuma nggak dalam waktu dekat, soalnya Funny kehabisan ide nih
by the way, gimana nih ceritanya? lebih bagus dari yang pertama atau nggak?
untuk rate, saya sudah kasih lemon tapi belum bisa bikin yang asem-asem ya. masih newbie.
Lanjutin apa nggak nih?
kalau iya, mohon Reviewnya ya..
Best Regards,
Mrs. Funny
