Hai semuanya! Saya sudah meng-update lagi. Buat yang gak suka, harap klik back. MAAF SEKALI KARENA SAYA UPDATE-NYA LAMA. Soalnya lagi nggak ada ide nih. Siapa tahu para readers sekalian ada yang mempunyai ide untuk cerita saya silakan pm saja
WARNING : AU, gaje, maybe ooc, no Flame. Saran, yes. Favorit, apa lagi.
Summary : Dia pergi, dan aku sudah menyiapkan hatiku. Tanpa aku tahu, aku masih tetap menyayanginya. Sekarang dia kembali, apa yang harus aku lakukan? Mencintainya untuk yang kedua kali? Oh bukan, aku hanya menunggu bagaimana cahaya menemukan dia disudut hatiku, dan mengeluarkannya dari sana? Entahlah, aku hanya mengikuti apa yang takdir mau, meskipun takdir sering kali mempermainkan hidupku, dan hidupnya.
Disclaimer : Masashi kishimoto-sensei, tapi cerita ini murni milik saya ^^
R&R, DLDR..
SELAMAT MEMBACA! SEMOGA ANDA SUKA! ^.^
The Hidden Feeling
You can't tell me not to fall in love with you. I can't. You exist. - ohteenqoutes
"Hey, apa kau tak tau? Ketika kau cemberut, wajahmu sangat jelek tau."
"Ya memang. Siapa yang berkata aku cantik, huh?"
"Kau barusan mengatakannya."
"Huh. Sudahlah, aku sedang tak ingin berbicara denganmu Suke.."
"Kau berapa tahun tidak makan es krim, hime? Cara makanmu berbicara seolah-olah kau sudah tidak makan eskrim sejak terakhir kita bersama?"
"Apa? Siapa bilang? Ini kan hanya karena kau yang mentraktir."
"Tsk. Pantas saja. Aku lupa malahan."
"Hime. Kau melihat dimana tadi aku menaruh kunci mobilku?"
"Loh tadi dipegang olehmu, bukan?"
"Iya tadi aku pegang, tapi sekarang sudah tidak ada."
"Coba ditasmu."
"Tidak ada, Hime."
"Coba di saku celanamu."
"Ah iya. Ini. ternyata disaku celana. Hehe."
"Kenapa kau sekarang kamu jadi pelupa? Dasar Pelupa. Wajah sih memang masih muda, tapi daya ingat kayak nenek-nenek. Hahaha."
Hinata tahu, mulai sekarang ia harus benar-benar mematikan cahaya hatinya agar hatinya tidak menemukan Sasuke lagi. Karena kenyataannya, Sasuke sudah akan menjadi milik orang lain. Apa serendah itu harga diri Hinata, dengan mengambil Sasuke dari tunangannya—Sakura—sekaligus orang yang dia anggap teman. Apa ia tega melukai Sakura—yang notabene sama-sama perempuan? Apa pasti Sasuke tidak akan mempermainkannya jika ia merebut Sasuke dari si model itu? Entahlah. Yang Hinata tahu hanya sekarang ia harus mematikan cahayanya—meskipun sekarang sudah terlambat.
ooOoo
It's so hard to forget someone who gave you so much to remember. -unknown
Sasuke memutuskan untuk pergi kerumah Sakura untuk membicarakan soal perjodohannya dengan Sakura.
"Sakura, sekarang kau tahu bukan, siapa orang yang aku sayangi sebenarnya?"
"Ya, tanpa kau beritahu pun aku tahu. Hinata Hyuuga, bukan? Benar-benar pilihan yang tepat." Ucap Sakura sambil tersenyum miris. Semiris hatinya sekarang. Memprihatinkan.
"Hm. Terimakasih. Untuk itu, aku minta tolong kepadamu untuk membatalkan perjodohan ini, aku minta maaf. Dan aku yakin kau akan membantuku bukan?"
"Hah? Ya tentu. Aku akan membantumu—(meskipun aku harus hancur)"
ooOoo
Sometimes, the one who you can't forget, is the one who you can't have.
"Jadi, bagaimana? Apa kau sudah berkata yang sebenarnya ke Hinata maupun Sakura? Mau sampai kapan kau menyembunyikan semua ini dari mereka? Mereka juga berhak tau yang sejujurnya. Bukan malah mementingkan keegoisanmu, Sasuke. Sasuke, minggu depan kau sudah harus pergi bukan? Manfaatkan waktumu. Jangan pernah kau menyakiti hati perempuan yang menyayangimu, Sasuke."
Sasuke baru saja sampai rumah, dan langsung mendapat sambutan seperti itu dari Kaa-san-nya. Sasuke benar-benar sudah jenuh mendengarkan wejangan dari Kaa-san tentang hal ini. 'Kaa-san, aku juga lelah selalu pura-pura didepan mereka. Tapi aku tidak tega memberi tau mereka yang sesungguhnya. Jadi mungkin aku bakal menunggu waktu yang tepat.' Batin Sasuke . Sekarang, Sasuke hanya bisa menjawab iya. Tapi, entah kapan Sasuke akan jujur.
Sasuke mengirimi Hinata pesan teks :
Hime. Kau sedang berada dimana? Aku jemput kau dikantor, oke? Aku ingin mentraktirmu ramen hari ini. Bagaimana? Mau? Tapi setelah kau pulang. Oke? xx
Tiba-tiba saja ponsel Hinata bergetar menandakan ada sebuah pesan singkat masuk. Langsung saja ia mengecek ponselnya dan membuka pesan yang masuk. 'Jangan Hinata, ia sudah milik orang lain! Sasuke bukan milikmu!' batin Hinata setelah membaca apa dan dari siapa isi pesan tersebut. Tapi, apa yang ia ketik berbeda dengan batinnya.
Hinata membalas :
Wah jarang sekali dia akan mentraktir tiba-tiba? Ada apa? Kenapa perasaanku tidak enak ya? Tapi oke. Aku selesai jam 4.30. xx
Padahal, belum ada 5 menit Sasuke mengirimnya pesan, Hinata sudah membalas pesan Sasuke.
Sesampainya, Sasuke hanya memandangi Hinata yang sedang asyik memakan ramen kesukaannya. Sasuke masih bingung apakah mau membicarakannya sekarang atau tidak.
"Kau akan berbicara apa, Suke?"
"Ah?Aku hanya ingin bilang, aku sangat menyayangimu. Ah tidak, I love you. yesterday, now, and tomorrow. Forever and always." Hinata menghentikan kegiatan makannya. Menatap onyx didepannya berusaha mencari kebohongan disana. Nihil. Apa maksud pria ini? Sasuke akan bertunangan dengan wanita pilihan orang tuanya, tetapi Sasuke malah menyatakan cinta kepadanya—meskipun Hinata tahu, ia tidak perlu menjawabnya karena Sasuke hanya ingin mengungkapkan apa yang Sasuke rasakan. Tiba-tiba saja tenggorokannya tercekat, seperti ada sesuatu yang menahannya disana. Matanya pun terasa panas. Salahkan Sasuke yang sudah mengacak-acak hatinya lagi seperti dulu. 'Kenapa ia tidak mengatakannya sebelum ia dijodohkan dengan Sakura.' Batinnya miris.
"Uhm, lantas aku harus bagaimana? Bukankah kamu akan menjadi tunangan Sakura?"
"Untuk itu, aku akan mencoba mencintai Sakura seperti aku mencintaimu. Ini bodoh, ini sungguh mustahil. Kau bahkan tak kan tergantikan Hime." 'Barusan dia berkata apa? Mencoba mencintai Sakura? Hebat. Ramen ini bahkan sudah tidak ada rasanya.
"Ya. Tentu kamu harus mencintainya. Semoga kamu bisa." Setelah mengatakan hal tadi, Hinata memutuskan untuk pergi keluar dari tempat ia duduk tadi. Ia benar-benar membohongi perasaannya. Ia menangis sepanjang jalan. Entah, ia bahkan tidak tau akan kemana ia melangkah, ia tidak mempunyai tujuan lagi sekarang, cahaya hatinya redup lagi. Kirei. Ya, ia ingin bercerita kepada Kirei saat ini.
'Maafkan aku Hime. Aku harus melakukan kebohongan ini. Aku hanya tidak ingin kau terluka lagi.' batin Sasuke, sembari menatap punggung Hinata yang mulai berjalan menjauhinya, tanpa melakukan apapun.
"Aku mencintaimu untuk kali kedua, tapi kau telah mematahkannya untuk banyak kali." Lirih Hinata, yang mungkin hanya bisa didengar olehnya.
ooOoo
Life is unfair. You put someone first who puts you second. It seems like you're giving everyone everything, and they're just walking with it. –unknown
Sakura sedang menunggu Sasuke pulang. Ia sengaja menunggu diruang tamu rumah Sasuke. Tapi Mikoto-baasan menyuruhnya menunggu dikamar Sasuke karena Mikoto-baasan akan pergi menghadiri perkumpulan sosial. Akhirnya dengan menurut, ia pergi menuju kamar Sasuke . Kamarnya tergolong rapi untuk ukuran pria. Hanya saja jendelanya tidak dibuka, jadi terdapat kesan gelap. Ia memutuskan untuk membuka gorden dan jendela kamar Sasuke . Tiba-tiba saja sebuah kertas terlihat memantulkan cahaya matahari. Sakura tertarik untuk melihatnya. Sebuah amplop ternyata. Ia membukanya, membacanya, dan mencoba mencernanya. Kertas itu terjatuh begitu saja dari tangannya setelah ia selesai membaca. Ia benar-benar shock atas semua ini. kenapa Sasuke menyembunyikan semua ini darinya? Ia kecewa untuk kedua kalinya. Sasuke benar-benar menutupi semuanya dengan sangat baik. Hingga Sakura pun tidak tahu—dan tidak menyadarinya. Ia berlari menuruni tangga mencari Baa-san, untuk memastikannya.
"Baa-san, apa Baa-san tahu yang sebenarnya tentang Sasuke?"
"Apa maksudmu, Sakura? Baa-san tidak mengerti maksudmu."
"Baa-san aku permisi dulu."
"Apa yang terjadi? Baiklah, hati-hati, Nak."
Digerbang, Sakura bertemu dengan Sasuke yang hendak masuk kerumah. Yang entah habis dari mana.
"Puas kau menyakiti aku dua kali? Kenapa kau tidak pernah bercerita yang seseungguhnya kepadaku? Setidaknya meskipun aku tidak menjadi tunanganmu, aku bisa menjadi sahabatmu. Sahabat, ya sahabat." Ucap Sakura sambil menangis.
"Maksudmu? Maaf, aku minta maaf, Sakura. Aku berniat menjelaskannya besok. Dan kau sudah tau sebelum aku menjelaskannya. Maaf."
"Aku. Benci. Kau." Setelahnya, yang Sasuke lihat hanya punggung Sakura yang berjalan menjauh.
ooOoo
we all have that one person that we'll always have feelings for, no matter what. Just one look, & it takes you right back to those memories. -unnamed
Pagi ini, Hinata memutuskan untuk berangkat ke kantor lebih gasik. Dia ingin mengenyahkan segala pemikiran-pemikiran yang berhungan dengan perasaannya—kepada Sasuke tentunya.
Dan sekali lagi, ia melihat Sakura mendorong pintu masuk kantornya. What a fuckin' day it is.
"Hai, Hinata-san." Sakura menyapanya terlebih dahulu.
"Hai juga, ada yang bisa aku bantu Sakura-san?" Canggung, tetapi Hinata mencoba untuk profesional.
"Ya, kau ada desain untuk gaun pra-wedding?" 'Tunggu, apa dia bilang? Pra-wedding?' batinnya. Hati Hinata mendadak menjadi berdetak lebih cepat. Padahal baru kemarin Sasuke menyatakan cintanya, dan sekarang Sakura dan Sasuke akan menikah? Hinata tidak ingin menduga seperti ini. Tapi orang bodoh pun tahu, jika dua orang yang sudah tunangan menanyakan pra-wedding dress, maka mereka akan segera melanjutkannya kejenjang yang lebih serius. Hell what. Ia ingin pergi dan berteriak sekeras-kerasnya. Ia lelah terus berpura-pura. Seandainya bisa, ia ingin egois, ia ingin Sasuke bersamanya dan membuat sebuah cerita baru seperti cinderella, snow white, atau apapun itu yang memiliki ending : 'Then, they lived happily ever-after'.
"Ya tentu, kau ingin melihatnya?" Benar-benar profesional. Padahal hatinya sudah hancur berkeping-keping. Tapi ia tak mau mengakuinya.
"Yang ini bagus, Hinata-san. Tapi bisa tolong diubah coraknya yang dibagian punggung?"
"Ya bisa. Untuk pra-weddingmu dengan Sasuke, eh?"
"Maksudmu? Bukan. Ini untuk pemotretan karirku. Bukan untuk masalah percintaanku. Bukankah seharusnya Sasuke yang menjadi tunanganmu?"
"Jangan melucu, aku tidak pantas. Semua orang pun tahu kalau kau dan Sasuke calon suami-istri."
"Masih calon bukan? Dan Sasuke memiliki keputusan untuk tidak meneruskan pertunangannya, karena sudah memiliki wanita yang ia cintai sendiri. Hinata Hyuuga. Mantan kekasihnya sendiri, benar bukan, atau aku salah?"
"Maaf Sakura-san, tapi sepertinya itu hanya sejarah. Aku tidak memiliki perasaan apapun kepada Sasuke."
"Sudahlah, ayo lanjutkan lagi desainmu."
"Huh, baiklah."
"Hinata-san, bagaimana jika nanti temani aku sarapan? Juga ada yang ingin aku bicarakan. Bagaimana?"
"I have no choice, right?"
"Yes, you have not. Haha"
ooOoo
I became strong when you set me free and I became stronger when I let you go. -unknown
"Hinata-san, apa kau tau kondisi Sasuke yang sebenarnya?"
"Kondisi Sasuke baik-baik saja. Bahkan hyper-active." Jawab Hinata asal sambil memakan pancake-nya untuk mengurangi rasa sakit dihatinya. 'Yang pasti, lebih baik dari kondisiku, Sakura-san' batinnya.
"Hinata-san, aku serius." Sakura berbicara sambil menghentikan kegiatan makan sandwich-nya.
"Memang kenapa? Aku lihat dia baik-baik saja."
"Apa kau tau, kalau dia mengidap penyakit Alzheimer?"
Hinata menghentikan makannya. Jantung Hinata seperti berhenti berdetak untuk sesaat dan tenggorokannya seperti ada yang mengganjal. Dia benar-benar takut sekarang. Setaunya, alzheimer adalah keadaan dimana beberapa jumlah sel yang diotak mati, yang mengakibatkan sinyal diotak disalurkan dengan tidak baik dan dapat menyebabkan hilangnya memori jangka panjang. Lebih baik ia menerima kenyataan bahwa Sasuke bertunangan dengan Sakura , tetapi Sasuke masih dapat mengingat segala sesuatu tentangnya, dan masih mengingat bahwa Sasuke mencintainya. Bukan malah dilupakan. Hinata rasa matanya memanas (lagi).
"Apa maksudmu? Ini tidak lucu." Hey Hinata tidak merasa menangis, tapi Sakura bilang Hinata menangis.
"Aku bilang, aku serius! Kau benar-benar tidak tahu ya? Ternyata Sasuke menyimpannya dengan sangat baik. Aku pun awalnya seperti orang bodoh yang baru tahu rahasia ini. tapi ternyata kamu juga tidak tahu." Ia tersenyum kecut. "Jangan tanya kenapa aku bisa tahu, karena ceritanya sangat panjang dan aku tahu juga bukan dari Sasuke sendiri."
"Tapi, dua hari lalu dia bilang dia ingin belajar mencintaimu, Sakura-san." Hinata mengucapkannya sambil menahan nyeri didadanya, panas dimatanya.
"Dan kau tahu? Kemarin, Sasuke sudah membatalkan pertunanganku dengannya. Sakit memang, tapi bisa apa aku? Jadi, aku harap kau tahu apa yang harus kau lakukan sekarang."
"Terimakasih, Sakura-san. Terimakasih." Lantas saja Hinata meninggalkan Sakura di cafe' itu. Dan bergegas kerumah Sasuke . Ia tahu apa yang harus dilakukannya sekarang. Ia memutuskan untuk menaiki taksi untuk kerumah Sasuke .
'Jadi, waktu dia bilang dia lupa dengan janjinya itu benar, karena seorang yang menderita alzheimer akan menjadi pelupa. Bodoh! Aku benar-benar bodoh. Kenapa aku tidak memercayainya dan malah beranggapan buruk tentangnya? Tuhan, maafkan aku. Semoga aku belum terlambat.' Batinnya. Ia tidak peduli dengan matanya yang sembab karena menangis.
ooOoo
This pain is just too real. There's just too much that time can't erase. -Evanescence
"Maaf, Nak Hinata. Sasuke kemarin baru saja berangkat ke jerman untuk menjalani pengobatan untuk penyakitnya. Nak Hinata tentu sudah tahu bukan tentang ia? Dan ia menitipkan sebuah surat untukmu ke Baa-san sebelum ia pergi."
DEG!
"Jadi, aku sudah terlambat, Baa-san?"
ooOoo
I love him. That's the beginning and the end of everything. -life fact
Hinata's POV
Aku merasa tubuhku benar-benar lemas sekarang. Lagi, ia mematahkannya lagi. Aku menangis sejadi-jadinya sekarang. Aku terlambat.
Aku mencintaimu untuk kedua kali, kau mematahkannya berkali-kali. Tapi aku tak mengapa. Karena orang yang mematahkan hatiku, dia juga orang yang menyusun hatiku kembali.
Kalau aku bisa, aku hanya ingin meminta maaf. Memintamu kembali padaku tentunya. Aku tak peduli apakah kau akan melupakanku atau tidak, aku hanya ingin berada disampingmu disaat-saat tersulitmu.
Kenapa kau pergi ketika semuanya sudah jelas? Kenapa waktu dan keadaan tak pernah sejalan? Kenapa aku harus terluka lagi? Kenapa kau tak pernah memberitahuku? I Love You without 'because', without 'why'. I just do. I dont care who you are, I dont care how you are. Yang aku tanyakan, mengapa kau, kau yang selalu menyakitiku? Tapi aku tak menyesal. Dan tak punya keinginan menyesal. Aku akan menunggunya. Aku tidak peduli apa yang terjadi esok, ataukah penantianku sia-sia atau tidak, yang pasti aku akan menghadapi kenyataan yang ada didepanku. Aku menunggumu kembali.
ooOoo
Untuk, Hinata Hyuuga
Mungkin ketika kau membaca pesan ini, aku sudah tidak ada didekatmu lagi, dan kau sudah tahu tentang keadaanku yang sebenarnya. Mungkin kau akan membenciku lagi karena menyakitimu berkali-kali, membohongimu, dan menutup-nutupinya darimu. Tapi, percayalah aku hanya tidak ingin aku menyita perhatianmu dari kerjamu, karena aku tahu kau benar-benar mencintai pekerjaanmu. Aku juga tidak ingin kau bersamaku hanya karena kasihan dengan penyakit yang ada padaku. Terlebih aku belum siap, jika harus melihatmu menangis, karena sudah sengaja melupakanmu. Untuk apa aku tetap disampingmu jika pada akhirnya aku tidak dapat mengingatmu? Apalagi mengingat bagaimana awal kita bertemu. Mungkin aku akan melupakan segala rasa yang pernah aku berikan kepadamu karena penyakitku ini, tapi percayalah, aku selalu mengingatkanku agar aku mengingatmu terlebih dahulu dibawah alam sadarku, agar tentunya dialam sadarku, aku tetap mengingatmu diluar kepala. Esok, untuk sekedar mengingat kenangan kita, kebahagiaan kita, dan kesalahanku dulu pun aku tak bisa. Jadi, lebih baik aku berusaha untuk sembuh agar aku dapat mengingatmu terus.
Jangan menungguku, aku pun belum tahu ini akan berhasil atau tidak.
I Love You. I still do for now, tomorrow, a years, even a thousand years, I still remember.
I have died everyday waiting for you
Darling don't be afraid
I have loved you for a thousand years
I'll love you for a thousand more
Christina Perri – A Thousand Years
*TAMAT*
YUHUUUU AKHIRNYA TAMAT JUGA. MESKIPUN GANTUNG AKHIRNYA. TAPI TENANG AJA, KALO YANG REVIEW BANYAK, NANTI AKU BIKIN SEKUELNYA KOOOK
A/N : maaf belum update cerita yang sebelumnya tapi udah ngeupdate cerita baru aja. buat yang nungguin fic Play Behind, Funny pasti terusin kok.. cuma nggak dalam waktu dekat, soalnya Funny kehabisan ide nih
mohon Reviewnya ya..
Best Regards,
Mrs. Funny
