Chapter 2 : Berunding.
Help Len!
By: Adhitya Nogami
Desclaimer : Vocaloid bukan punya saya, tapi ini cerita punya saya
Ranting : T
Genre: romance, friendship
Warning : gaje ,alur gak nentu, typo ada di mana-mana, ada sedikit humor yang garing, kata-kata kurang jelas, dll
Summary : Len kagamine, siswa pindahan yang suda menetap selama 1 semester di smp Voca Junior High School, sejak pertama dia di sana, dia suda memendam hati pada seorang gadis cantik bernama Megurine Luka, melihat itu teman-teman Len yaitu Kaito Cs ingin membantunya. Akankah mereka berhasil ?
Len PoV
"Ohayou Len-kun!"
"Hey! Itu Len-sama, pagi ini dia tampan sekali ya?"
"Iya tampan."
"Len punya banyak pengemar ya? Gak kaya kita."
Itu lah setidaknya yang gue dengar pagi ini, gue udah biasa sih denger hal seperti itu, meski Gue baru satu semester di sini, tapi udah banyak yang gue kenal.
"Ohayou Len!" Ah itu Mikuo, temen sekelas gue, tinggi badannya hampir menyamai tinggi badan Kaito, serta rambutnya yang berwarna teal yang panjangnya sama dengan Kaito.
"Ohayou Mikuo, si Kaito sama si Rei kemana?" Dan lagi gue gak Lihat batang idungnya si Kaito yang biasanya bikin rusuh kelas, dan si Rei, bocah yang ngaco ngomongnya.
"ah, gue di suruh ngasih ini ke loe, ini dari si Bakaito," Mikuo memberikan sesuatu, seperti surat gitu dari kaito. Gue curiga nih ada apa ya? Jangan-jangan si Kaito mau bahas yang kemarin.
"Len-kun!" kayaknya gue kenal nih suara, gue pura-pura gak denger aja dah, Gue udah dapet pirasat buruk ngedenger suara yang manggil gue.
"Len-kun! Jangan pura-pura tuli ya!.
"Ah, Rin-chan sejak kapan kau ada di sana?" Gue mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Huhh dari tadi aku di sini Len-kun, itu apa?" Gawat dia melihat kertas gue, gue aja belom baca, masa mau di embat juga sama dia.
"ahaha, ini sampah yang akan ku buang." Gue Langsung lempar tu kertas ke tong sampah dan langsung menuju bangku Gue, "Huufft hampir saja, ehh! Tapi kan gue belum baca tu surat ! agghh sial."
.
.
Normal PoV
Krinnggg….
Suara bel sekolah dari voca junior high school berdering sekali, menandakan sekolah memasuki waktu pulang, semua anak keluar dari sekolah untuk pulang menuju rumahnya.
"ahh, di mana sih kertas tadi?" Len bertanya-tanya pada dirinya sendiri sambil melempar-lempar sampah-sampah yang ada di tong sampah kelasnya, tetapi kegiatannya itu terhenti saat ada panggilan dari seseorang.
"woy! Len, loe lagi ngapain, korek-korek sampah gini? Apa ini kerja sampingan Loe?" Tanya orang itu dengan santai dan sedikit menyindir.
"Loe sendiri lagi ngapain? Gue lagi cari sesuatu yang penting," Ucap Len ngeles dai fakta yang ada, "ahh, ketemu juga nih kertas."
"Oh jadi loe lagi cari kertas dari si kaito ya?" pemuda berambut putih, dan bermuka seperti wanita itu menanyakan apa yang sedang Len cari.
"Iya lah, katanya si penting banget, jadi gue harus baca." Len pun melihat kertas tersebut da nada tulisan besar terpampang di kertas tersebut seperti ini :
Piko akan menjemput Loe pulang sekolah, dia akan membawa Loe ke tempat perkumpulan kita yang baru untuk merencanakan usaha Loe itu, Cuma itu, jangan Lupa datang ya!
Dahhhh!
Nb : kalo di ambil Rin biarkan saja, dia sudah tau kita akan berkumpul di tempat kita yang baru!
Len terlihat kesal setelah membaca isi surat nista tersebut, apa lagi dia baru tau kalau Rin itu bukan masalah pada kertasnya, soalnya kan si Rin itu keponya selangit hal sedetail apapun pasti dia selidiki. Aura hitam mengitari tubuh Len dan melirik tajam orang yang ada di sebelahnya. "Pikoo!"
"ahhahaha, Len gak usah sekaget itu juga kan?" Piko berusaha menenangkan Len yang udah kaya Kebo ngamuk, "Len ini membuang-buang waktu! Kita harus segera ke tempat pertemuan!"
"ahh, iya juga Gue kan belum tau tempat pertemuan yang baru." kata Len yang sudah menenangkan diri.
"Kalau gitu, ayo kita berangkat." Ucap Piko sambil mulai berjalan menuju tempat yang di tuju.
.
.
Di lain pihak, terlihat Luka dan Miku adik Mikuo, yang sedang membicarakan sesuatu.
"Hah! Luka-chan serius ?" Tanya Miku, dengan sedikit terkejut akan perkataan Luka.
"Ya, begitu lah hehehe." Luka hanya menjawabnya dengan menjulurkan lidahnya.
Miku merasa sedikit kasihan pada Luka, dan berkata, "Aku akan membantu mu Luka-chan."
"Ahh, benarkah itu Miku-chan?" Luka sedikit terkejut akan pernyataan sang teman karibnya itu.
"Yuup! Besok kita berunding ya, dengan teman-teman lain," Ucap Miku meyakinkan Luka, "Sampai jumpa besok Luka-chan!"
"Iya, sampai jumpa!" Luka menjawab dengan datar, "Apa mungkin? Dia mau dengan ku."
.
.
"Apa? Loe gila ya bakaito?" Teriak Len yang sudah ada di dalam tempat perkumpulan yang baru bersama teman-temannya yang lain.
Sebernya sih itu tempat bekas ruang kumpul osis di sekolah, tapi karna terlalu jauh dengan lokasi sekolah, jadi gak di pakai, dan akhirnya di di pake kumpul-kumpul oleh Kaito Cs, untung di kasih ijin, kalau gak, mungkin fic ini akan lebih lama di update.
"Iya lah, loe itu terlalu lembek, loe harus berani dikit napa? Masa gak berani minta nomer ponselnya si Luka?" Teriak Kaito tak kalah dengan teriakan si Len.
"Jadi Cuma itu rencana A yang loe bilang?" Len berteriak lagi, seperti oran kehabisan obat.
"Gak Lah, itu Cuma awalnya doang, Rencana A itu …"
.
.
'drrtt..drrtt..'
"Ah, siapa ini?" Ucap Luka yang sedang membaca buku di ruang keluarga di rumahnya.
"Moshi-moshi, ini siapa?" Tanya Luka pada sang penelpon.
"Ah, Miku? Ada apa?" Ternyata yang menelpon Luka adalah Maiku.
"Apa? Kau mau ke sini? Datang saja, iya," 'tuutt .. tuutt..' terdengar suara hp Luka menandakan telponnya terputus.
Setelah beberapa menit telepon dari Miku terputus, terdengar suara bel pintu rumah Luka berbunyi 'ting-tong-ting-tong'
"Sebentar! Itu pasti Miku," Ucap Luka sambil berlari menuju pintu.
'kreeekk' Luka membuka pintu rumahnya, dan alangkah terkejutnya dia saat melihat orang-orang yang ada di depan Luka, bukan cuma miku yang datang tetapi bersama para anak-anak osis yang lain.
"Teto, Rui, Rin, SeeU, Mayu, dan Miku?" Ucap Luka sedikit terkejut.
"Hai Luka-chan!" Ucap mereka berbarengan.
"Luka-chan, perundingan tentang itu kita rundingkan sekarang ya?"
'Miku aku ingin membunuh mu' Itulah yang sekarang di pikirkan oleh Luka saat ini. "Ah, baikah, silahkan masuk semuanya." Ajak Luka pada semua yang ada di depan rumahnya itu.
"Baik, Permisi!" Ucap mereka berbarengan(Lagi?).
.
.
Back to Len!
"Rencana A itu …" Ucap Kaito yang mengantung perkataannya.
"Ya? Ya?" Ucap yang lain bertanya-tanya berbarengan.
Kaito tersenyum tak karuan, da melanjutkan kata-katanya, "Makan malam romantis."
"Oohh .. " Mereka Cuma ber-oh-ria, membuat Kaito poker face.
"Terus gimana caranya bikin acara kaya gitu?" Tanya Mikuo dengan mengankat tangan seperti anak-anak tk yang polos.
"Itu bisa di atur yang terpenting adalah, Loe harus dapet dulu nomer si Luka." Ucap Kaito sambil melirik Len.
Len yang mendengar hal itu langsung berkata, "Ah? Tapi kan Kaito, itu…"
"Apa? Loe gak berani?" Tanya Kaito yang di ikuti anggukan dari yang Lain.
"Gue bukannya gak berani tapi malu," Ucap Len yang menundukan wajahnya.
"Sama aja," Ujar mereka berbarengan.
Rei yang melihat Len seperti itu langsung menghiburnya, "Tenang Len kami siap membantu kok."
"Bener nih? Gue gak punya duit buat neraktir kalian," Tanya Len yang menunjukan dompetnya yang kosong.
"Kali ini gak ada imbalan bro, kami siap bantu temen yang lagi ke susahan." Kali ini Kaito yang ikut bicara.
Mikuo pun ikut mengibur, "Yup itulah gunanya teman."
"Kita support deh," yang ini si Piko.
"Kalian bener-bener sohib gue," Ucap Len yang sekarang nyengir lebar.
Mendengar itu Kaito si pemimpin rapat kali ini berteriak dengan semangat, "Kalo gitu kita besok bikin langkah-angkahnya !"
"Baik!" Ucap semuanya.
.
.
Sekarang ke si Luka
"Eh?!" Semua yang ada di kamar Luka terkejut (Min Luka).
"Luka-chan, beneran?" Tanya Mayu tak percaya, dan di iringi oleh yang lain(Min Miku dan Rin).
Luka hanya tertawa dan mengaruk-garuk kepala yang tidak gatal, "Ya begitulah hehe."
"Awalnya aku juga tidak percaya, tapi di lihat-lihat, memang benar Luka-chan tidak berbohong," Ucap Miku pada yang lain.
"Aku tidak begitu terkejut," Ucap Rin, yang hanya diam mendengarkan perkataan yang lain.
"Hah?!" Mereka terkejut mendengar ungkapan dari Rin.
"Ah, Rin-chan, gomen aku lupa kalau kau itu ..." Ucap Luka yang menggantung perkatannya, dan memasang wajah sedikit menyesal.
"Tak apa Luka-chan, aku tidak marah kok, Len itu sudah ku anggap seperti kakak ku sendiri, jadi jika ada yang suka padanya, aku akan mendukungnya," Ucap Rin sambil tersenyum ke arah Luka.
"huh, ku pikir kau akan marah sama aku?" Ungkap Luka dengan perasaan lega.
Rin yang mendengarnya hanya tersenyum dan berkata, "Ayolah Luka-chan, kaukan teman ku, aku pasti membantu kok hehe."
"Baiklah! Ayo kita bantu Luka-chan agar bisa jadian sama Len!" Teriak Miku kepada semuanya.
"Ayo!" Teriak yang lainnya (kecuali Luka)
Luka yang melihat reaksi teman-temannya dari perkataan Miku, hanya terkejut tak percaya, "Eh!?"
"Ya Luka-chan, tenang saja kami pasti membantu kok!" Ucap Miku, di sertai anggukan yang lain.
Luka yang melihat teman-temannya bersedia membantu hanya tersenyum dan berkata, "Kalian teman ku yang terbaik!"
"Hehehehe," Semuanya tertawa dengan gembira. Tiba-tiba ada orang yang mengintip di balik jendela kamar Luka, dan yang paling mengejutkan adalah orang itu Luki, ya Luki mantan pacar Luka, setelah melihat mereka Luki langsung pergi dan bergumam "Baguslah, Miku kau berhasil." Ucap nya dan tidak terasa perjalanannya telah sampai di sebuah halte bus.
"Len? Apa loe tidak ingin membagi es krim pisang loe itu?" Ucap Kaito yang sedang berjalan berjalan di sebrang halte bus bersama Len.
Luki melihat Len dan Kaito tapi sepertinya Len dan Kaito tidak melihatnya, Luki hanya memandang denan tatapan kosong, dia seperti sedang memikirkan sesuatu, "Lebih baik, nanti saja, tapi .." Luki menggantung perkataanya, dan mengambil sesuatu di dalam sakunya, sebuah buku atau notebook kecil bertuliskan Voca junior high school, dan melanjutkannya perkataannya, " Ini sudah di catat dengan resmi," Lalu dia pun pergi menaiki bus yang sudah ada di hadapannya.
Kembali ke Len dan Kaito, "Hey! Bakaito, loe kan udah makan tiga eskrim ekstra jumbo kan, kenapa loe masih minta sama gue?" Ketus Len.
"Ayolah Len, sedikit saja," Pinta Kaito
"Iya, iya nih ambil semuannya!" ucap Len dan langsung memberikan eskrim pisangnya itu.
Tak terasa perjalanan mereka sudah sampai di sebuah pertigaan jalan, dan mereka berhenti sejenak, "Yosh! Len jangan lupa besok! Persiapkan saja mental loe, oke?" Kaito membuka percakapan sejak mereka berenti.
"Ya, baiklah, gue bakalan coba," Ucap Len santai, sambil memasukan kedua tangannya ke dalam saku celananya.
"Yup! Bagus, kalau begitu, sampai jumpa di sekolah ya!" Ucap Kaito yang langsung menuju jalan ke arah kiri.
"Ya, sampai jumpa di sekolah!" Len pun berjalan menuju arah sebaliknya dari Kaito, yaitu sebelah kanan.
Kaito side.
'Dia hebat, pasti bisa melakukannya, gue juga harus bisa mendapatkan Miku, jadi gak sabar buat besok' ucap Kaito di dalam hatinya, tiba-tiba Kaito bertemu dengan Teto cewek berambut seperti bor berwarna merah, yan sedang berjalan berlawanan arah dengan Kaito.
"Hai! Teto, Pas sekali, gue bisa bertemu dengan loe!" Sapa Kaito pada Teto.
Teto yang mendengar sapaan Kaito langsung berhenti dan membalas sapaannya, "Hai Kaito! Ada apa memang?" Tanya Teto.
"Ah, gue mau pesen tempat di kedai loe buat hari sabtu, tapi bukan untuk gue sih," Kata Kaito, yang ternyata buat mesen tempat makan.
"Buat siapa?" Tanya Teto datar.
"Buat si Len," Ucap Kaito tak kalah datar.
Medengarnya Teto langsung terkejut, "Hah? Dengan siapa?" Teto langsung melontarkan pertanyaan yang berjurus ke 'Kepo'.
"Rahasia dong, hehe, bisa gak?" Kaito tertawa jail(?).
"Ah—ahh ii—yaa," Jawab Teto terbata-bata.
Kaito yang melihat tingkah temannya itu, hanya menaikan sebelah hailsnya, dan berkata," Ya udah sampai nanti!" Kaito pun melanjutkan perjalanannya menuju rumah.
"Ah, ya sampai nanti," Ucap Teto dan dia juga sama, melanjutkan perjalanannya.
Len side.
'Apa yang harus gue lakukan? Iya sih gue bilang iya iya aja ke temen-temen, tapi belum tentu gue bisa, gimana dong? Agghh! Gue pusing !' Len mengoceh dalam hatinya.
Tak terasa Len sudah ada di depan rumahnya sendiri, "Taidaima" Ucap Len saat membuka pintu rumahnya., dan alangkah terkejutnya Len saat dia melihat cewek yang tadi pagi mengacaukan moodnya 'Rin kagane '
"Okaeri Len-kun!" Ucap Rin dengan senyuman hangat.
"Ahh!, Rin?" Teriak Len.
.
.
.
Yosh! Beres juga chap 2, waduh chap 1 ancur amuradul ya? Sempat down sih, tapi karna saya bener-bener serius dalam fiction, akhirnya saya mutusin buat terus menulis! (Malah curhat). Yup Cuma itu dan Gomenasai buat chap 1 yang jelek, udah di edit kok ^^
Saatnya bales Review(Meski udah di bales di pm)
Liveless-snow : benarkah fic ini bagus? Kalo begitu terimakasih, ya tapi entar si Luka sama si Len kok jadi gak bakal kasihan lagi.
Uki the Great : Sepertinya itu kesalaan paling fatal ya? Apakah chap 2 sudah hampir menyerupai yang kakak sampaikan pada saya? Mohon maaf atas kekecewaannya di chap 1, dan terimakasih untuk semangatnya!
Krocherry'pig : Jujur, saya pertama baca review kakak membuat saya down, tapi saya tau kalo itu bukan review untuk membuat saya down malah itu yang membuat saya menjadi bersemangat kembali, saya benar-benar berniat menjadi seorang author, oke saya buang mental banci saya, saya akan terus menulis fic ini, terimaksih sudah mereview fic saya, mohon bantuannya kembali untuk fic ini, dan terimakasih kritikan kakak membuat saya lebih bersemangat lagi.
Kiriko Alicia : Aduh sepertinya memang jelek ya, chap 1 nya, terimakasih sudah mengkoreksi, dan ini chap 2, semoga suka! Ah, satu lagi terimaksih sudah mereview fic saya kakak.
Yami Nova : Iya, saya gak bakal di hapus kok, dan chap 1 udah di edit^^, Terimakasih atas dukungannya.
Yosh! Sampai jumpa di chapter 3 ^^ dan mohon Reviewnya!
