HARI MINGGU, KANTOR DETEKTIF MOURI, BEIKA

"Baiklah aku pergi dulu ke minimarket. Ai-chan, tak perlu sungkan, anggap saja rumah sendiri."

"Terima kasih, Ran-san. "Haibara berkata dengan sopan.

"Dan kau, Conan-kun, lakukan apa yang harus kau lakukan. "Ran memberi tatapan galak pada Conan.

"Baik, Ran-neechan."

KLAP – Pintu depan ditutup, hanya ada Conan dan Haibara di dalam kantor detektif. Begitu Ran tahu bahwa terjadi insiden (?) antara Conan dan Ai, dia sama sekali tidak senang. Ran berkata jika Conan marah pada Ai, Conan juga harus marah pada Ran karena dia yang meminta Ai datang ke kantor detektif. Setelah nasehat (baca: omelan) yang rasanya berjam-jam, Conan akhirnya bersedia untuk meminta maaf kepada Ai 'putri sinis' Haibara yang datang ke kantor detektif –lagi-lagi atas permintaan Ran.

"Haibarakumintamaaf"

"Ng? Tadi kau bilang apa, Edogawa-kun?" Haibara mengangkat sebelah alisnya, menyeringai.

'Grr, kalau bukan karena Ran, aku tidak akan melakukan ini.'Conan menggerutu dalam hati.

"Begini, aku minta maaf atas kesalahanku tempo hari, aku tahu aku salah karena telah menghardikmu. Maaf, waktu itu aku sakit, jadi aku tidak berpikir jernih."

"Oh, sekarang kau mengakui kalau dirimu sakit?Butuh waktu lumayan lama."Haibara masih mempertahankan seringainya, "Kalau keperluanmu hanya minta maaf, itu tak masih banya urusan, aku harus memecahkan kode enkripsi data disk itu."

"Tunggu," ujar Conan, "Setelah kupikir-pikir, sebaiknya kau tidak tergesa-gesa, nanti hasilnya jadi tidak optimal. Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu."

"Kalau kau ingin teman ngobrol mengenai Holmes, maka saying sekali aku…"

"Bukan tentang Holmes. Tentang Ran."

"Oh."Haibara hanya memasang pokerface.

Hatinya kembali menjadi tawar dan getir, selalu begini jika mereka berdua membahas Ran.

"Kita sudah lebih dari enam tahun menjadi anak saja, aku tidak yakin bisa kembali ke tubuhku yang semula, tubuh Shinichi Kudo. Jika aku tidak bisa kembali ke wujud asalku, aku harus mencari alasan yang masuk akal untuk meyakinkan Ran."

Haibara tetap mendengarkan dengan pokerface nya yang khas.

"Jika aku memberitahu bahwa Shinichi dan Conan adalah sama, Ran akan berpikir aku menipunya selama enam tahun ini. Mungkin dia akan membenciku. Tetapi jika aku menyembunyikan fakta ini, Ran akan terus menunggu tanpa tahu kapan saatnya berhenti. Katakan, Haibara, apa yang harus kulakukan?"

Haibara menyeringai.

"Bukankah kau adalah detektif hebat yang selalu bilang Kebenaran selalu hanya ada satu? Kau pasti tahu bapa yang harus kau lakukan, bukan? Kenapa baru sekarang kau menjadi galau? Seperti bukan dirimu saja."

"Aku… hanya ingin tahu pendapatmu, tahu, aku tidak bisa membiarkan Ran menunggu lebih lama lagi."

Hening selama beberapa menit, sebelum Haibara kembali membuka pembicaraan.

"Pada umumnya," Haibara berkata, "Seorang perempuan tidak akan menunggumu sampai sebegini lamakecuali kau memiliki hubungan suami-istri atau saudara kandung dengan objek yang bersangkutan; dan dalam hal ini kau dan Ran-san memang tidak atau lambat, dia akan segera melupakanmu, atau mungkin barangkali sudah berhenti menunggumu."

Ups.

Rasa bersalah menyelimuti hati -katanya barusan memang sudah sudah terlalu lama memendam rasa terhadap laki-laki berkacamata di hadapannya, dan orang itu sudah ada yang punya, sehingga dia tidak dapat berbuat begitu, seharusnya dia lebih menahan emosinya. Haibara yang mengira Conan akan marah dan melontarkan kata-kata tajam, terheran ketika Conan malah tersenyum.

"Mungkin benar kalau kau berkata begitu," suara Conan lebih pelan dan dalam dari biasanya, "Dilihat dari sudut pandang ilmuwan dengan segala pemikiran yang bersifat ilmiah. Tapi kau tidak bisa membuat hipotesis dengan cara itu mengenai hati dan perasaan manusia. Aku bukan ahli dalam memahami perasaan, tapi aku tahu perasaan bukanlah buku yang bisa dibaca setiap saat, dan perasaan sangat rapuh. Jika objek afeksi kita membalas perasaan kita, akan timbul kegembiraan yang luar biasa. "

Haibara terdiam, Conan melanjutkan kata-katanya.

"Tetapi kata-katamu ada benarnya. Ran sudah banyak menderita, karena itulah aku tidak keberatan kalau Ran memutuskan untuk move on. Aku pernah berkata bahwa aku bersedia untuk menghilang dari hatinya, asalkan dia tidak bersedih lagi. Aku tidak pernah menarik kembali kata-kataku."

'Tidak, Kudo-kun.' batin Haibara, buku-buku jarinya memucat, kakinya gemetar, 'Kumohon, jangan katakan itu.'

"Aku mencintai Ran. Hal itu belum berubah sedikitpun dan tidak akan berubah."

0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0

Vonis sudah dijatuhkan.

Sakit. Lebih sakit dari gesekan peluru yang ditembakkan oleh Gin.

Sesak. Lebih sesak dari disekap di ruang penuh gas beracun.

Dingin. Lebih dingin dari angin malam.

0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0

Haibara menggigit bibirnya, tangannya mengepal begitu kuat sehingga kukunya menghujam telapak tangannya. Rupanya usaha untuk menahan air matanya membutuhkan kerja keras seluruh anggota tubuhnya.

KLIK – Pintu depan terbuka, Ran sudah kembali dari minimarket.

"Wah sepertinya kalian membicarakan sesuata yang serius nih?" Ran menaruh belanjaanya di dapur.

"Ran-neechan!" Mendadak suara Conan berubah menjadi kekanak-kanakan, seperti yang biasa dilakukannya di hadapan orang dewasa (jika keadaan santai).

"Tapi, aku…" Haibara berbisik lirih, dia seperti tidak menyadari keberadaan Ran. Ran dan Conan menoleh ke arah Haibara.

"Aku juga… " Haibara berkata, "Aku juga mencintaimu."

Dia sudah mengatakan apa yang dipendam olehnya selama bertahun-tahun. Emosinya meluap-luap. Air mata Haibara tidak dapat dibendung lagi. Wajahnya merah padam, menangis tanpa suara. Dia langsung menyeka wajahnya dan beranjak menuju pintu depan. Secara refleks Conan menangkap tangan kanan Haibara sebelum sampai pintu depan.

"Tunggu, Haibara."

Haibara menatap Conan dengan ekspresi yang sulit dipahami. Masih ada bekas air mata di pipinya, matanya memerah, tatapannya menyiratkan kesedihan. Seperti bukan Ai Haibara yang dikenalnya.

"K-kau tadi bilang, kau mencintaiku." Conan sendiri bingung dengan kata-kata yang dia lontarkan.

"Kau salah dengar." Haibara menyanggah.

"Tidak, aku tidak salah dengar," Conan berkeras, "kau sendiri yang mengatakannya."

"A-aku tadi hanya bercanda." Haibara berusaha terdengar cuek, tapi suaranya malah seperti tercekat, dan itu membuat Conan khawatir.

"Tolong jujur, Haibara." Conan berkata pelan namun tegas.

"Baik! Aku tidak bercanda! Puas?" Haibara setengah berteriak, air matanya kembali menetes. "Sudahlah, itu tak penting bagimu, kan?"

"H-Haibara, aku…" Conan mendadak tergagap, tak tahu harus menjawab apa. Tangan Haibara lepas dari genggamannya.

"Aku mau pulang, Edogawa-kun. Ran-san, aku mohon diri."

Haibara membuka pintu, meninggalkan Ran yang yang dalam perasaan kalut, masuk ke kamarnya tanpa mengucapkan sepatah katapun pada Ran.

"Ai-chan… Conan-kun…"

Ran merenung sendirian. Sebenarnya ini bukan urusannya. Tapi sebagai kakak yang baik, Ran berikrar akan membantu Conan dan Ai dalam masalah gejolak remaja yang mereka alami.

"Yosh! Aku akan berjuang. Demi Conan-kun dan Ai-chan!"

A/n: Tolong review nya yah. Thanks for reading! Co-Ai forever!