No Me A Mes
Main casts: Kwon Jiyong, and Choi Seunghyun.
Support casts: Dong Young Bae, Kwon Yuri, Kim Ryeowook, Kim Taeyeon, Kim Jaejoong, Lee Seungri, Jang Hang Sun, and Lee Ji Eun.
Warning: AU, PG 17, typo(s), pasaran, and manymore.
Genre: Romance, and drama.
youngdinna present
.
.
.
Enjoy it!
.
.
.
Part 2
No me ames, porque pienses
Que parezco diferente..
I want to love you
Don't love me because you think I'm
different..
"Kupikir aku tak akan bertemu orang Korea. Aku sedikit kikuk berada di luar negeri sendirian." Jiyong berceloteh sembari membawa kopernya, di bantu pria bernama Choi Seunghyun, pemilik homestay.
"Jadi ini yang pertama kali bagi anda?"
"Tidak juga, sih. Aku juga pernah ke luar negeri. Tapi, untuk Indonesia, aku baru pertama kali ke sini." tutur Jiyong. "Aku cukup terkesan mendengar penjelasan budaya Indonesia dari tour guide-ku, kuharap Negara ini memang benar-benar menyenangkan."
"Tentu. Anda akan mengetahui banyak hal lainnya yang lebih.."
Mereka berdua terus mengobrol selama perjalanan menuju kamar Jiyong. Pritika Homestay merupakan penginapan dengan nuansa Jawa yang kental. Halamannya cukup luas. Dengan taman air mancur bambu di depan pintu masuk dan papan tulisan huruf yang Jiyong tak mengerti apa-apa saja artinya. Begitu masuk ke dalamnya, Jiyong semakin suka dengan desain bangunan penginapan yang lega dan di dominasi nuansa kayu-kayuan, lampu kuno menghiasi langit-langit ruangan yang di sewa Jiyong, sangat artistik.
"Mengapa ia mematok harga yang cukup murah?"
"Anda mengatakan sesuatu?
"Ah, anniyo.. Tidak ada." Seunghyun tersenyum. Ia lalu membungkuk sopan pada Jiyong.
"Selamat beristirahat kalau begitu."
"Ah, iya.. Terima kasih." sahut Jiyong sembari tersenyum.
Jiyong mendesah sambil membaringkan tubuhnya ke ranjang. Nyaman sekali, ingin rasanya ia tinggal di sini terus tanpa harus kembali ke Seoul dan menghadapi pernikahannya dengan Kim Taeyeon.
"Ah, lupakan tentang Seoul sejenak, Kwon Jiyong! Kau membutuhkan ketenangan.." gumam Jiyong pada dirinya sendiri. Pria itu meraih ponselnya, sama sekali tak berniat menghidupkannya. 'Kalau kuhidupkan, Young Bae pasti akan meneleponku.' menyeringai jahil, Jiyong kembali meletakkan ponselnya. Lagipula di ruangan ini ada pesawat telepon. Jiyong tak perlu repot-repot menghidupkan ponselnya bila ia ingin menghubungi Ji Eun.
"Ah, aku lapar.. Tapi, di mana aku harus makan, ya?" Jiyong beranjak dari tidurnya dan keluar. Beberapa turis yang juga menginap di sini terlihat memiliki tujuan yang sama dengan Jiyong.
'Mungkin sebaiknya kuikuti saja mereka.' Jiyong beringsut mendekat ke arah rombongan itu. Sebenarnya Jiyong bisa saja memakai bahasa Inggris untuk bertanya pada mereka, hanya saja Jiyong tak mau terlihat norak dan tak tahu apa-apa tentang Yogyakarta.
"Kenapa di sini?" meski bingung, Jiyong mengikuti saja apa yang di lakukan para turis tadi. Mereka tidak pergi mencari makanan, mereka sekarang malah duduk di sebuah aula besar beratap Joglo, di depan aula itu nampak Seunghyun -si pemilik homestay- yang tengah menyiapkan sesuatu.
"Uhm, excuse me.. What will he doing?" Jiyong memberanikan diri untuk bertanya pada seorang wanita berkebangsaan Perancis, wanita itu mengernyit.
"Is this your first time to see Mr. Choi's performance?"
"Performance? What performance?" Si wanita tersenyum penuh arti ke arah Jiyong.
"You'll be like it! It's really lovely."
Jiyong mengerjap beberapa kali, namun rasa penasarannya segera terjawab saat Seunghyun berpidato singkat. Jiyong tak mengerti bahasanya, karena Seunghyun tak memakai bahasa Inggris, sepertinya menggunakan bahasa masyarakat setempat, dan sialnya hanya Jiyong yang tak tahu apa yang di ucapkan Seunghyun. Baru setelah Seunghyun meraih segumpal tanah liat dan membentuknya di atas mesin khusus Jiyong mengerti apa yang Seunghyun lakukan. Membuat tembikar. Jiyong menatap tangan Seunghyun yang nampak sangat terlatih dengan antusias.
'Oh, jadi dia seniman tembikar..' Jiyong mengangguk paham. Rencana awalnya yang hendak mencari makanan, hilang sudah dan kini pria mungil itu lebih memilih menonton aksi Seunghyun sampai selesai. Begitu acara selesai, para turis yang berminat bisa mendapatkan karya tembikar Seunghyun secara cuma-cuma bila mereka berani mencoba membuat tembikar yang sama terlebih dulu.
"Kukira anda tak berminat menontonnya?" Seunghyun kembali menyambut Jiyong di akhir acara.
"Anda bercanda? Itu tadi pertunjukkan yang luar biasa. Sayang aku kalah cepat." tutur Jiyong tulus. Jiyong lalu kembali menghadap Seunghyun. "Sebenarnya tadi aku keluar untuk mencari tempat makan yang bagus."
"Anda bisa pergi ke kafetaria penginapan. Kami menyediakan menu masakan Indonesia dan Western."
"Masalahnya aku tak tahu di mana tempatnya?" gumam Jiyong pelan namun cukup di dengar Seunghyun. "Uhm, tunggu sebentar." Jiyong pada akhirnya menghidupkan ponselnya, mengabaikan beberapa pesan dari Young Bae dan lebih memilih menghubungi Ji Eun.
"Yeoboseyo?"
"Ji Eun-ssi? Ini aku Kwon Jiyong.." Jiyong beberapa kali menggumam pelan, ekspresi mukanya berubah-ubah. "Ne, gomawo."
"Ada masalah?" tanya Seunghyun begitu menyadari muka muram Jiyong.
"Tour guide-ku tak bisa mendampingiku lagi. Padahal aku malas menghubungi orang-orangku di Seoul."
"Malas?" Jiyong mengukir cengiran kaku.
"Ah, ada sedikit masalah. Aku malas menghubungi, lagipula biayanya juga mahal." ucap Jiyong tidak begitu menjabarkan. "Anda bilang kafetaria menyediakan masakan yang beraneka ragam. Apa ada masakan Korea?"
"Tentu." Seunghyun tersenyum. "Aku juga orang Korea, sesekali aku meminta juru masakku untuk memasak, baik itu untuk tamu maupun aku sendiri."
Akhirnya, Seunghyun mengantar Jiyong ke kafetaria penginapan. Jiyong mengagumi pengetahuan Seunghyun tentang budaya Indonesia. Lelaki itu ternyata sudah menetap selama tiga tahun di sini, mendalami seni Indonesia dan membuka usaha penginapan.
"Wah, pantas anda terlihat luwes berbahasa Indonesia tadi di panggung."
"Itu bukan bahasa Indonesia. Itu bahasa daerah masyarakat Jawa."
"Maksudmu aksara jawa?" Seunghyun mengernyit mendengar pertanyaan Jiyong. Mereka tengah duduk santai sambil menunggu pesanan makanan mereka.
"Anda tahu soal itu?"
"Ah, tidak. Aku hanya pernah dengar dari tour guide-ku." Seunghyun mengangguk paham.
"Aku bukan mengucapkan aksara jawa. Tadi aku berbicara bahasa jawa."
"Apa perbedaannya?" Seunghyun tersenyum. Keingintahuan Jiyong begitu besar mengenai budaya Indonesia.
"Tentu berbeda. Aksara jawa bukan berupa bahasa biasa tapi seperti bahasa kode sandi." jelas Seunghyun. "Dalam aksara jawa ada dua puluh macam sandi dengan bunyi yang berbeda."
"Begitu?"
"Ya." Seunghyun nampak mengingat sesuatu. "HA NA CA RA KA, DA TA SA WA LA, PA DHA JA YA NYA, MA GA BA THA NGA." Jiyong mengernyit bingung. Seunghyun tersenyum sabar.
"Anda bisa membuat berbagai macam kalimat berbahasa jawa dengan sandi yang tadi baru saja kusebutkan."
"Ah, itu hebat!" puji Jiyong. "Sayang sekali besok aku harus mencari tour guide baru dulu."
"Kalau boleh tahu, apa yang terjadi dengan tour guide lamamu?"
"Dia baru saja mendapat kabar dari Seoul. Ayahnya sakit dan ia belum bisa kembali dalam waktu yang tak pasti." ucap Jiyong. "Padahal aku ingin lebih mengeksplorasi daerah sini."
"Apa tidak ada penggantinya?"
"Ada. Tapi, aku lebih senang mencarinya sendiri. Lee Ji Eun adalah tour guide terbaik saat temanku mencarikannya untukku. Bisa saja, kan penggantinya tak kompeten.. err, anda tahu maksudku, kan?" Seunghyun mengangguk paham.
Mereka terdiam, kali ini mereka lebih memilih menikmati makanan terlebih dahulu. Seunghyun menu Indonesia, Jiyong menu Korea.
"Jika anda butuh bantuan. Kebetulan besok aku akan pergi keluar sebentar."
"Ah, jangan. Lagipula apa yang kulakukan di sini hanya liburan, aku akan merasa tak enak jika merepotkan." Seunghyun mengulum senyum tipis sebelum kembali mengunyah makanannya pelan. Seunghyun tak bermaksud lebih, ia hanya kasihan saja bila melihat orang di depannya ini tak bisa keluar untuk bersenang-senang karena tak tahu apa-apa mengenai Yogyakarta. Seunghyun tersenyum tipis. Melihat sosok Jiyong sekarang membuat Seunghyun teringat sosoknya saat pertama kali sampai di sini. Sama halnya dengan Jiyong, rasa ingin tahu Seunghyun begitu besar mengenai kebudayaan, dan adat istiadat masyarakat setempat.
"Biar aku yang membayarnya."
"Eh? Tapi-"
"Tak masalah. Terima kasih sudah menjadi teman mengobrolku."
Jiyong tersenyum penuh tanda terima kasih sebelum Seunghyun undur diri dari hadapannya, ia kembali mengecek ponselnya. Ya, ia sempat mengabaikan pesan dari Young Bae tadi.
'Jaga kesehatanmu, jangan buat masalah.' Jiyong tertawa kecil begitu membaca pesan singkat Young Bae. Ah, Young Bae benar-benar lelaki penyayang, Yuri sangat beruntung memiliki suami sepertinya.
Jiyong cemberut. Bila mengingat tentang Young Bae dan Yuri, ia pasti akan ingat juga tentang perjodohan dirinya dengan Taeyeon.
'Bahkan acara liburanku gagal. Apa memang aku di takdirkan menikahinya? Aku tak mau buru-buru pulang!' Jiyong menghela napas sambil meletakkan kepalanya di atas meja.
"Jika anda butuh bantuan. Kebetulan besok aku akan pergi keluar sebentar." Jiyong menggigit bibirnya ragu, apa mungkin ia meminta bantuan Seunghyun, ya? Tapi, bagaimana caranya? Mereka bahkan belum begitu saling mengenal.
Seunghyun menghela napas pelan sembari mengunci rumahnya. Hari ini ia ingin pergi keluar untuk mencari referensi bahan karya tembikar terbarunya. Meski belum sepenuhnya memiliki inspirasi untuk membuat apa, paling tidak Seunghyun sudah memiliki bahannya terlebih dulu. Seunghyun sedikit merapikan jaketnya, musim kali ini terasa lebih sejuk mengingat ini sudah masuk bulan Januari 2015. Meski sejuk, hawa hangat masih terpancar kuat di Indonesia yang beriklim tropis.
"Tunggu!" Seunghyun menghentikan dirinya yang hendak melangkah keluar penginapan. Ia mendapati sosok Kwon Jiyong tengah berlari kecil ke arahnya. Jiyong perlahan mengatur napasnya.
"Ada yang bisa kubantu?" tanya Seunghyun.
"Penawaranmu yang kemarin.. Apa masih berlaku?" tanya Jiyong, sepertinya ia benar-benar mengharapkan kesanggupan Seunghyun.
Seunghyun tersenyum. Entahlah, ia selalu merasa Jiyong adalah sosok yang lucu, keingintahuannya yang besar membuat Jiyong terkesan polos, seperti anak kecil.
"Ya. Itu masih berlaku." ucap Seunghyun. "Tapi aku harus pergi ke beberapa tempat dulu. Apa tidak apa-apa?" Jiyong tersenyum sembari mengangguk.
"Tak masalah."
"Baiklah. Masuklah." Seunghyun dengan segala kesopanannya mempersilahkan Jiyong memasuki mobil. Jiyong menyamankan duduknya di mobil jeep milik Seunghyun.
Mobil Seunghyun tidak mewah, terkesan lebih sederhana dan hanya di lengkapi pekakas mobil normal lainnya. Berbeda jauh dengan mobilnya.
"Mian, mobilku memang tidak keren."
"Ah, kau bicara apa!" Jiyong buru-buru membekap mulutnya. "M-maksudku.. Mobil anda menurutku terkesan lebih klasik."
"Ya." sahut Seunghyun setelah sebelumnya melirik Jiyong. "Aku memang lebih menyukai mobil klasik."
"Kenapa?" Seunghyun mengangkat bahu acuh.
"Entahlah. Menurutku lebih terasa artistik saja." tutur Seunghyun.
Mereka berhenti di tengah keramaian pasar. Jiyong menyipitkan mata untuk membaca papan jalan.
"Mal-mali-"
"Malioboro." ucap Seunghyun. "Anda menunggu di sini atau-"
"Boleh aku ikut? Aku akan bosan bila di sini." potong Jiyong. Seunghyun mengulas senyum sambil mengangguk pelan. Mereka berdua berjalan beriringan di tengah keramaian pasar tradisional itu.
"Pasar ini memiliki nama Pasar Malioboro. Di sini banyak sekali kerajinan tangan di jual dengan berbagai macam harga." Seunghyun menjelaskan. Ia sudah berjanji untuk menjadi tour guide pribadi Jiyong, lagipula ia sendiri yang menjanjikannya.
"Apa termasuk kerajinan tembikar juga?"
"Ya. Tapi, tidak sebanyak di pasar Kasongan." ucap Seunghyun. Mereka kini tengah melihat-lihat kerajinan gelang dan kalung dari kayu. "Anda mau ke sana juga?"
"Apa tidak masalah?"
"Aku sudah menawarkan bantuan kemarin. Tentu sudah tak menjadi masalah."
Mereka berdua kembali berjalan beriringan, menikmati suasana hiruk pikuk keramaian pasar tradisional itu.
Jiyong beringsut mendekat ke sebuah kios penjual pernak-pernik dinding. Kelihatannya ia tertarik dengan hiasan dinding bertuliskan simbol-simbol unik.
"Anda ingin membelinya?" Jiyong menoleh, mendapati Seunghyun yang tengah menatapnya bertanya.
"Ini.. apa?" Seunghyun ikut menonton benda yang di sentuh Jiyong.
"Itu ukiran aksara jawa." ucap Seunghyun. "Yang anda tanyakan kemarin."
"Indah sekali." puji Jiyong, nampak berminat membelinya.
"Anda mau membelinya?" Jiyong menarik kembali tangannya. Seunghyun sedikit terkejut dengan tindakan Jiyong yang langsung meraup telapak tangannya dan berjalan pergi.
"Jiyong-ssi.."
"Harganya terlalu mahal kurasa." ucap Jiyong. Ia lalu menoleh ke arah Seunghyun tanpa melepas gandengannya. Baru beberapa saat kemudian Jiyong menyadari apa yang ia lakukan. "Ah, josonghamnida.."
"Gwenchana.." Jiyong dan Seunghyun sedikit terdorong oleh pembeli dan penjual yang berlalu lalang. Jiyong terkejut saat Seunghyun kembali meraih tangan Jiyong. "Terlalu ramai.. Aku takut anda terpisah. Ayo."
"Yeppoda.." Seunghyun tersenyum saat Jiyong berbisik pelan. Memuji bangunan seni di depan mereka.
Tadinya Seunghyun ingin langsung pulang, mengingat bahan yang ia butuhkan untuk membuat tembikar sudah ia dapat. Namun, rencananya berubah karena Jiyong ikut dengannya. Seunghyun tak keberatan, lagipula Jiyong bukan jenis orang yang banyak tingkah. Pria mungil itu lebih banyak diam dan terus mengekor kemana pun Seunghyun pergi, meski sesekali ia mengungkapkan rasa kagumnya diam-diam.
"Jadi ini yang orang-orang sebut candi Prambanan. Ini kali pertama aku kemari, dan ternyata lebih cantik aslinya."
"Anda mengetahui candi Prambanan?"
"Uhm, sedikit.. Aku pernah melihatnya di televisi. Salah satu warisan dunia UNESCO dan candi tercantik se-Asia Tenggara." ucap Jiyong bangga, paling tidak kali ini ia tak terlihat bodoh di depan Seunghyun. Seunghyun tersenyum.
"Benar." ucap Seunghyun. Jiyong menghela napas sambil sedikit meregangkan tubuhnya yang terasa pegal. "Kita istirahat dulu?" Jiyong mengangguk menyetujui. Seunghyun memilih tempat duduk yang dekat dengan kios penjual minuman -Jiyong tak tahu- apa namanya.
"Monggo.. Pinarak lenggah rumiyin, mas." Jiyong menoleh ke arah Seunghyun dengan tatapan bertanya.
"Dia menyuruh kita untuk duduk dulu." Seunghyun menjelaskan. Jiyong mengangguk paham. Seunghyun kemudian berbicara dengan penjual itu, entah apa yang di bicarakan.
"Kau mentraktirku lagi?" Seunghyun tersenyum.
"Aku menyetujui untuk menjadi tour guide anda hari ini." Jiyong mendecak.
"Aku yang bayar kali ini."
"Tidak ap-"
"Aku yang meminta bantuanmu, jangan membuatku tak enak hati." Seunghyun menghela napas sejenak.
"Baiklah, aku menyerah.." begitu Jiyong membayar, dua gelas minuman pesanan mereka datang. Jiyong menatap heran minuman itu.
"Ada apa?"
"Apa ini?" Seunghyun tersenyum geli. Jiyong pasti tak tahu juga soal minuman ini.
"Ini namanya dawet."
"Dawet?"
"Ne. Dawet." ucap Seunghyun. "Orang-orang biasanya memakai tepung beras untuk membuat benda kenyal ini."
"Lalu apa nama benda kenyal ini?"
"Ini cendol. Sedangkan air dari minuman ini di buat dari campuran santan dan gula jawa."
"Gula Jawa?"
"Hm.. Semacam gula tapi dari aren buah kelapa. Lihat, kan warnanya cokelat dan rasanya manis." Jiyong mengangguk paham. Ia mulai minumannya sedikit, rasanya lumayan.
"Boleh aku bertanya?"
"Tentu."
"Apa anda juga sering menjual karya tembikar anda di pasar Kasongan?"
"Uhm, beberapa penjual yang sudah berlangganan akan memesannya terlebih dulu padaku. Tapi, sekarang aku sudah punya gerai penjualan tembikar sendiri."
"Itu hebat. Anda benar-benar memanfaatkan bakat dengan baik." Seunghyun tersenyum kecil.
"Anda terlalu berlebihan, tapi terima kasih." Seunghyun mengaduk minumannya. "Bagaimana dengan anda sendiri?"
"Aku?"
"Ya. Hal apa yang anda kerjakan di Seoul?"
"Bukan hal besar." Jiyong mengangkat bahu acuh. "Aku hanya seorang penjahit." gurau Jiyong.
"Penjahit?"
"Bukan.. aku memiliki usaha di bidang fesyen dan desain." tutur Jiyong.
"Kelihatannya anda benar-benar memanfaatkan bakat anda dengan baik." Jiyong tertawa mendengar Seunghyun mengutip ucapannya tadi, begitupun Seunghyun. Suasana di antara keduanya terlihat semakin akrab. "Lalu mengapa anda pergi meninggalkan usaha anda?"
"Bukan pergi. Aku hanya ingin lari sejenak dari 'mereka'." Jiyong menatap ke depan tak fokus. "Ada sedikit masalah yang membuatku muak."
"Muak?" Jiyong mengangguk pasti.
"Sesuatu yang sebenarnya tidak kau sukai, bukankah itu membuatmu muak?" Jiyong tertawa hampa. "Dan aku benar-benar berharap hal itu tak terjadi."
"Sepertinya cukup serius."
"Ya." sahut Jiyong, ia lalu mengaduk-aduk minumannya. "Kau tahu perjodohan itu memang tak menyenangkan."
Menit-menit berikutnya, tanpa sadar bibir Jiyong bergerak menceritakan semua masalahnya pada Seunghyun. Jiyong tak peduli bila Seunghyun tak mendengarkan, yang penting ia bisa mengeluarkan semua pikiran yang mengganjalnya saat ini.
"Aku tak mungkin menikahinya. Aku bahkan baru mengenalnya beberapa kali." tutur Jiyong. "Lagipula sebuah cinta itu tak bisa di paksakan."
"Mengapa tidak menampiknya?"
"Mudah rasanya jika hanya berkata, aku tidak enak dengan pamanku yang sudah banyak berjasa dalam hidupku." Jiyong menandaskan minumannya. "Tapi aku tak bisa menuruti keinginannya itu. Aku tidak mencintai gadis itu."
Keheningan menyelimuti keduanya begitu Jiyong menyelesaikan sesi curhatnya dengan Seunghyun. Mereka sibuk dengan gejolak pikiran masing-masing.
"Kisahmu membuatku ingat legenda candi Prambanan."
"Perjodohan maksudmu?"
"Bukan. Maksudku tentang cinta yang di paksakan." ucap Seunghyun. "Kau hanya hidup seperti sebuah mesin ketika kau menjalani sebuah paksaan, bukan takdirmu sendiri." Jiyong tersenyum mendengar ucapan Seunghyun.
"Ya. Kau benar.." ucap Jiyong. "Jika kau berada di posisiku. Apa yang akan kau lakukan?"
"Aku tak tahu. Tapi, mungkin aku akan mencari jalan keluar tanpa harus menyakiti orang yang kusayangi." Seunghyun tersenyum tipis. "Kurasa itu lebih dari cukup." Jiyong tersenyum kecil. Bebannya berangsur berkurang begitu ia sudah bercerita dengan Seunghyun. Sikap Seunghyun yang jauh lebih dewasa dan tenang membuat Jiyong nyaman berada di sisi pria ini.
"Gomawoyo.. Kau teman bicara yang baik, Seunghyun-ssi." Seunghyun tersenyum.
"Ya. Kuharap masalahmu segera selesai." Jiyong tersenyum, begitupun Seunghyun. Ada getar nyaman yang di rasakan hati Jiyong saat ia bersama Seunghyun, rasa nyaman yang jauh lebih menyenangkan daripada saat ia bersama Young Bae -sahabatnya- atau Hang Sun -pamannya.
"Boleh aku bertanya kisah candi Prambanan itu?"
"Cerita itu sering di angkat dalam seni pertunjukan drama." jelas Seunghyun. "Mengisahkan seorang putri bernama Rara Jonggrang, ia adalah seorang gadis jelita yang di cintai seorang pemuda sakti bernama Bandung Bandawasa."
"Apa yang mirip dengan nasibku?"
"Kau bilang kau tak menyukai gadis yang akan menjadi istrimu itu, kan?" tanya Seunghyun. "Di kisah itu, Jonggrang juga tidak mencintai Bandung, namun Bandung terus memaksanya."
"Lalu apa yang terjadi?"
"Jonggrang meminta Bandung untuk membuatkan seribu candi dalam waktu semalam. Permintaan yang cukup mudah, mengingat Bandung seorang pemuda yang sakti."
"Jonggrang yang awalnya biasa saja, menjadi cemas begitu melihat bahwa bangunan candi mendekati selesai. Ia pun melakukan kecurangan untuk menggagalkan usaha Bandung."
Jiyong terus mendengarkan cerita Seunghyun hingga pemuda itu selesai. Tak terasa waktu sudah beranjak menuju sore.
"Sudah sore. Ayo, kita pulang." Jiyong mendesah kecewa.
"Padahal kita belum melihat-lihat pasar Kasongan. Aku terlalu asyik mendengar ceritamu tadi." Seunghyun tertawa pelan.
"Aku antar besok. Kebetulan aku juga ada keperluan ke sana."
"Ah, tapi aku akan terus merepotkanmu."
"Kau terus bicara 'aku merepotkanmu'. Kita sudah melewati banyak hal hari ini, dan kurasa itu cukup sebagai tanda pertemanan kita." Jiyong terkekeh pelan.
"Baiklah, terserah padamu saja. Ayo pulang."
Jiyong dan Seunghyun berjalan meninggalkan pelataran taman Prambanan. Langit sore yang menempa bangunan candi menjadikan latar belakang mereka berdua, begitu indah.
"Gomawoyo, Choi Seunghyun.." Jiyong tersenyum ke arah Seunghyun saat mereka sudah tiba di homestay. "Terima kasih untuk hari ini.."
"Ya." Seunghyun ikut tersenyum. "Selamat malam, Kwon Jiyong.."
Malam itu, baik Jiyong maupun Seunghyun jatuh tertidur dengan seulas senyum damai. Rasa nyaman dan aman yang di rasakan kedua insan itu saat bersama sepertinya berefek kuat.
*TBC
*Monggo.. pinarak lenggah rumiyin, mas: Mari.. Silahkan duduk dulu, tuan..
*Dawet: Minuman khas Jawa, tapi orang Jakarta/luar Jawa nyebutnya Es Cendol
Halluu! Nah, di sini uda mulai banyak GTOP moment meski belum begitu memasuki konfliknya.. hehehe.. Sabar aja ya..
Nah, di sini saya sengaja nyisipin bahasa Jawa n kisah legenda candi Prambanan. Suer, meski aku asli orang Jawa aku belum pernah main ke Prambanan..T.T.. Ada yang mau ngajak saya?#plak. Bang, kita ke sana yuk! #seretYB #plak
Oke, tak banyak omong lagi lah, monggo tinggalkan review-nya readers!^_^
Kansahamnida youngdinna
