Balesan ripiu~:
Namikaze Kyoko
Okeh, ini uda apdet. Makasi reviewnya~! ( 'v' )
Kuro 'Kaito' Neko
Konbawa mo, Kuro 'Kaito' Neko-san~! Ah, ya gitu deh XD Kalo soal rambut Rei, saia kurang jelas ._. Tapi mungkin di fanfic ini di urai aja ya :3. Oh ya.. Etto, Saia uda add pin bb Kuro-san, di accept ya yg blakangnya 1B~. Okeh, ini uda apdet. Makasi uda ripiu, fave dan follow~!
z
Ini uda lanjut, ga di delete kok. Makasi ya reviewnya~!
AnimCookies
Okeh, cerita ini di keep(?) 'v')9. Bikin penasaran ya~? Gomen, hahaha. Makasi ya reviewnya~!
NRen
Halo juga :D. Oh.. Ini uda apdet, ga di delete kok :3. Makasi reviewnya~!
Kagami Juci-sama
Kalo jawaban dari pertanyaannya, baca aja ya~! #plak. Ehehehe.. Wah, makasi ya uda mau fav dan review ( 'w' ), ini uda apdet~
Okami no Amemori
Ah, ini uda lanjut~. Okeh, salam kenal juga :D~. Makasi uda review~!
Shinichi Rukia
Okeh, ini ga di delete :3. Ah, makasi ya~! Review panjang pendek ga masalah kok ^^. Dan ini uda apdet~! Makasi buat reviewnya~!
Chiao-chan Kumikawa
Yo! Chiao-chan! Hahaha, iyalah, soalnya file-file yg ilang itu berharga banget :') #plak. Ah, oke, makasi banyak Chiao-chan~! Makasi juga buat reviewnya~! :3
Guest
Okeh, ini udah lanjut! Makasi reviewnya :3
~Really thank you for your review~!~
Summary : Len tahu, keputusannya untuk kabur dari rumah memang berakibat fatal, tapi dia tidak menyesal, dia mendapatkan apa yang dia inginkan, seperti suasana kelas yang terasa santai, tidak formal tapi he—/"HYATCHOOOOOOO!"/"KYAAA! GAKU! KALO BERSIN GA USAH DISKONIN KUAH DAN SAMBEL SEGALA! CABE SAMA BAWANG LAGI NAIK HARGA! HEMAT DIKIT NAPAH?!"/Chapter 2 : Hello, new life!/RnR?
.
Disclaimer :
• Vocaloid © Yamaha and Crypton Corp.
• Sayonara, My Monoton Life © Chisami Fuka
.
Warning :
Typo(s), OOT, pendeskripsian kurang, alur berantakan, dan ga jelas.
.
Sayonara, My Monoton Life.
Chapter 2 : Hello, new life!
.
Don't like? Click back.
.
.
.
Normal PoV
"Perkenalkan, namaku Kagene Rei, aku pindahan dari desa kecil di suatu tempat, dan sekarang aku tinggal sendirian di sebuah apartement karena orang tuaku bekerja di luar negri. Salam kenal." ucap Len sambil memperkenalkan dirinya lagi, secara resmi di depan kelas.
Beberapa orang terlihat tersenyum menatap Len, mereka suka sosok Len yang ramah, ceria, dan seru—setidaknya itu yang banyak orang pikirkan.
"Nah.. Rei-san, kau bisa duduk di... Samping Kaganemika-san. Kaganemika-san, angkat tanganmu." ucap guru yang daritadi berdiri di samping Len. Semua sudah tahu kalau Rei(Len) pasti akan duduk di samping Rin karena jumlah anggota kelas mereka sebelumnya ganjil dan setiap bangku di tempati dua orang.
Rin mengangkat tangannya tidak terlalu tinggi, Len segera berjalan ke arah Rin dan duduk di sampingnya.
"Buka buku kalian halaman 4—.."
"Hei Rei-san! Sebaiknya kau hati-hati pada anak yang di sampingmu, dia itu menyebalkan." ucap seorang lelaki yang duduk di depan Len, secara terang-terangan dia mengatai Rin padahal Rin ada di dekat mereka. Tapi Rin hanya diam dan sibuk memperhatikan bukunya.
Len hanya tertawa pelan, tidak bermaksud menjawab ucapan orang tadi. Kasian 'kan Rinnya?
"Kau tidak marah kalau orang-orang membicarakanmu begitu?" tanya Len sambil berbibisik pada Rin.
Diam, tidak ada jawaban.
"Hei, aku bicara padamu." ucap Len.
Masih tidak jawaban.
"Kau de—"
"Tuli ya? Bukannya tadi aku sudah bilang padamu untuk tidak berbicara padaku? Punya telinga atau tidak? Bisa dengar atau tidak? Dan soal yang kau tanyakan itu adalah urusanku, bukan urusanmu. Jadi diamlah dan jangan banyak tanya." potong Rin.
Auch, sadis.
"Oh.. Ya.. Engg.. Baiklah..." gumam Len, sawan karena Rin jauh lebih 'berlidah tajam' daripada yang dia bayangkan.
'Pantesan aja ga punya teman...' batin Len.
Len menghela nafas, teman sebangkunya sama sekali tidak seru. Tapi yah mau bagaimana lagi, Mikuo duduk jauh darinya, dan Len masih tidak terlalu dekat dengan yang lain.
Tapi yang penting, jangan dekat-dekat dengan Kaganemika.
Keluarga Kagamine dan Kaganemika bisa bersaing karena beberapa tahun yang lalu, jauh sebelum Len lahir, keluarga mereka adalah sama-sama keluarga Yakuza, akibat suatu masalah kedua keluarga itu saling membunuh. Hingga sekarang mereka masih bersaing tapi tidak saling membunuh lagi, dan mereka bukan Yakuza lagi.
Meski Len merasa bodoh amat tentang masalah itu, tapi anggota keluarganya yang lain sepertinya masih menaruh dendam pada keluarga Kaganemika, begitu juga sebaliknya.
Len pernah bertemu dengan Lenka dan Rin di suatu pesta perusahaan, salah satu perusahaan mengadakan pesta dalam rangka entah apa dan mengundang keluarga pemimpin perusahaan lain. Dan Len menghadirinya, dia sempat berpapasan dengan Lenka dan Rin yang menatapnya dengan tajam. Karena bingung, Len bertanya pada Mamanya dan Mamanya menjelaskan semuanya.
Tapi itu sudah 10 tahun yang lalu, Mamanya juga sudah meninggal sekarang.
Tuk
Lamunan Len terbuyar karena sebuah lipatan kertas mendarat di kepalanya. Len menoleh ke kanan-kiri, seorang laki-laki berambut biru tengah tersenyum padanya. Dan Len merasa senyuman itu...agak menggelikan.
Dengan ragu, Len membuka lipatan kertas itu,
'Hai~! Namaku Kaito, salam kenal~!'
Sekian isi kertas itu.
Len menelan ludahnya, dengan agak canggung dan illfeel dia menoleh kembali ke arah laki-laki itu dan tersenyum canggung. Setelah itu dia segera mengalihkan pandangannya.
Len kembali memperhatikan suasana kelas sambil tersenyum, guru mengajar dengan santai, para murid menyimak dengan santai, suasana yang terasa santai, tidak formal tapi he—
"HYATCHOOOOOOO!"
Semua menoleh ke asal suara.
"KYAAA! GAKU! KALO BERSIN GA USAH DISKONIN KUAH DAN SAMBEL SEGALA! CABE SAMA BAWANG LAGI NAIK HARGA! HEMAT DIKIT NAPAH?!" teriak sebuah suara melengking dari samping asal suara bersin pertama.
Len bisa melihat seorang gadis berambut pink sedang berteriak minta tissue pada orang-orang sekelilingnya sedangkan orang yang duduk di sampingnya berambut ungu yang menjadi pelaku bersin hanya diam sambil mengusap-ngusap hidungnya.
Len langsung sweatdrop. Bersin ke muka orang di sertakan ludah dan ingus, siapa yang engga jijik coba?
Sementara semua sibuk tertawa, guru membuka mulutnya. "Gakupo-san, cepat bersihkan..." ucap gurunya.
"Luka-san juga." lanjut gurunya pelan.
Sambil menyumpah serapah, Luka yang berambut pink berjalan keluar kelas dan di ekori oleh Gakupo yang berambut ungu.
"Ehm.. Kita lanjutkan pelajaran." ucap guru itu tegas.
"Eng.. Sensei.." panggil seorang murid pelan. "Hm?"
"IA-san pingsan, tuh..." ucap murid itu pelan. "Eh? Kenapa bisa?" tanya si guru panik sambil mendekat ke anak yang di maksud.
"Kena semburan racun Gakupo."
CKIIT
Sang guru mengerem langkahnya, mengurung niatnya untuk langsung membawa si murid ke UKS. "Siapapun, tolong bawa IA-san ke UKS." perintah sang guru.
Semua tahu, kalau bersin Gakupo itu sangat menjijikkan.
Karena panik tidak ada yang mau membawa murid menyedihkan yang pingsan akibat semburan Gakupo itu ke UKS, akhirnya seorang laki-laki memberikan usul.
"Pertama, kita bungkus IA-san dengan kain, lalu baru kita bawa ramai-ramai ke UKS." ucap laki-laki itu tenang.
Krik krik
"Kau kira kita mau nguburin mayat?"
"Kau mau menyentuh IA-san yang sudah terlanjur terkena semburan Gakupo?"
Krik krik
"Kain mana kain?"
IA-san telah dibawa ke UKS, Gakupo dan Luka juga sudah kembali.
"Lain kali kalau mau bersin langsung lari keluar, jangan sampai jatuh korban lagi." perintah sang guru.
Entah bego atau apa.
Len hanya bisa bengong daritadi, konyol, pikirnya.
"Nah, karena sebentar lagi pelajaran selesai. Saya akan memberi kalian PR. Tuliskan tujuan hidup kalian dan cara mencapainya, kumpulkan pada pertemuan berikutnya." ucap sang guru.
"Mengerti, sensei." jawab murid serempak. Setelah itu guru pun pergi meninggalkan kelas.
Len berpikir keras, tujuan hidupnya? Len tidak pernah memikirkannya. Len hanya menjalani hidupnya pada apa yang terjadi.
Bangun, pergi sekolah, pulang, mempelajari bisnis orang tua, tidur. Itu saja kegiatan Len selama yang dia tahu. Yang dia tahu dia hanya akan melanjutkan bisnis orang tuanya karena dia satu-satunya penerus keluarga Kagamine. Tapi setelah dia kabur dari rumah,
Apa hidupnya akan berubah?
Tiba-tiba Len mendengar suara ketukan di sampingnya, Len melirik sedikit, terlihat Rin sedang menopang dagunya dengan tangan kirinya dan tangan kanannya sibuk mengetukkan pensilnya ke meja. Len bisa melihat Rin sedang menggumamkan sesuatu dari gerak mulut Rin.
Tujuan hidup. Itu yang di gumamkan Rin.
Sepertinya Rin juga bingung dengan tujuan hidupnya.
Sama-sama ga punya tujuan hidup?
"Mikuo... Apa ini?" tanya Len pelan sambil memperhatikan sepiring nasi berwarna coklat—nyaris hitam—yang terletak di depannya.
"Makan aja, enak kok." jawab Mikuo sambil memasukkan sesendok makanan yang sama dengan milik Len ke mulutnya. Demi menjalani hidup yang biasa, Len akhirnya menyendok sesendok nasi itu dan memakannya.
"Enak..." gumam Len pelan. "Itu namanya nasi goreng ala kantin Crypton. Ga seperti nasi goreng yang ada di kantin sekolahmu dulu, yang jujur, nasi goreng sekolahmu bikin enek. Disini meski pelengkapnya ga banyak, tetap terasa enak." jelas Mikuo. Len hanya mengangguk-ngangguk.
"Boleh kami duduk disini? Tempat lain penuh." ucap sebuah suara. "Tentu," jawab Mikuo langsung. Orang itu adalah Luka, dan di sampingnya ada Gakupo. Luka mengambil tempat disamping Len sementara Gakupo disamping Mikuo.
"Udah higenis belum? Katanya pas sadar IA muntah-muntah loh," sindir Mikuo sambil bercanda.
"Ish! Gaku bener-bener menjijikkan! Kasian kan IAnya. Syukur juga aku bawa baju ganti." timpal Luka sambil marah-marah. "Lukacchi, bersin dengan suara keras itu hal yang wajar, kok." ucap Gakupo membela diri. Mikuo berdehem dan menutup telinganya,
"BUKAN MASALAH SUARANYA, BEGO! KUAH DAN SAMBELNYA ITUHLOH YANG JADI MASALAH!" teriak Luka dengan suara melengking. Telinga Len langsung terasa 'ngiiiing-ngiiiiing'(?). "Lukacchi, ngomong pake volume normal aja." ucap Gakupo tenang.
"..dan jangan kasi bonus kuah, aku udah mesan sup kok." lanjut Gakupo lagi. Seketika Luka langsung blushing.
"N-Nee.. Kau Rei, kan? Kita belum berkenalan daritadi. Perkenalkan, namaku Megurine Luka, panggil saja Luka." ucap Luka mengalihkan pembicaraan sambil mengulurkan tangannya, bermaksud untuk jabat tangan sebagai tanda sahnya suatu perkenalan.
"Aku Kagene Rei, panggil saja Rei. Salam kenal." balas Len ramah dan menjabati tangan Luka. "Kalau dia Kamui Gakupo, temanku sejak kecil." ucap Luka sambil menunjuk Gakupo yang sedang melahap sebuah roti. "Salam kenal," ucap Gakupo datar, "Hn, salam kenal juga." balas Len ramah.
"Oh ya, ngomong-ngomong, tujuan hidupmu apa, Mikuo?" tanya Luka sambil membuka penutup mangkuk supnya. "Memajukan bisnisku, membangun keluarga kecil yang bahagia. Itu saja." jawab Mikuo. "Kalau Gakupo?" tanya Mikuo sambil mengedarkan(?) pertanyaannya. "Memperbesar klan Kamui." jawab Gakupo singkat. "Kalau kau, Lukacchi?" Gakupo mengembalikan pertanyaan pada si penanya.
Luka tersenyum, "Memenuhi samudra dan lautan dengan ikan tuna," jawab Luka semangat sambil menggepalkan tangannya. Bego.
"Mustahil," ucap Mikuo.
"Ikan tuna cuma bisa hidup di akuarium." lanjut Mikuo, sama begonya. Len hanya sweatdrop, seperti beginikah pergaulan Mikuo selama 15 tahun? Meski agak konyol, tapi rasanya... Seru.
Jujur, dia iri pada Mikuo.
Meski dia dan Mikuo sama-sama berasal dari keluarga terpandang dan penting, Mikuo di beri kebebasan untuk bergaul, bebas tapi masih teratur.
Berbeda dengannya yang bahkan percakapan sehari-harinya di sekolah harus menggunakan 'Anda-Saya.'
"Kalau Rei?" tanya Luka. Len menggeleng pelan, "Entahlah," jawab Len. Luka menempelkan ujung sendoknya pada mulutnya. "Susah juga sih buat nentuin tujuan hidup," gumamnya.
"Lahir, sekolah 14 tahun, kalau beruntung nikah kalau engga ya ga nikah, mati. Hidup itu sederhana." ucap Gakupo.
"Engga gitu juga kali,"
PRANG
Suasana kantin yang awalnya ramai dan ribut menjadi hening seketika saat mendengar suara pecahan.
"Sudah mengertikan? Keluar dari sekolah ini! Anak sepertimu seharusnya tidak di lahirkan di dunia ini!"
"Apa masalahmu mencacimakiku begitu, hah? Dasar gadis tiran! Punya masalah apa denganku, hah?! Asal kau tahu, aku tidak punya waktu untuk melayani gadis aneh sepertimu!"
"Wow wow wow," gumam Mikuo sambil berdiri dari kursinya dan menghampiri kedua gadis yang sedang bertengkar itu, Len, Luka dan Gakupo hanya mengekor.
"Jangan mentang-mentang kau lahir di keluarga kaya, kau bisa bersikap sombong dan angkuh seperti itu! Bangga lahir di keluarga Kaganemika, hah?!" teriak gadis pertama lagi. Len langsung mengalihkan pandangannya pada gadis satunya, Rin.
Tapi perhatian Len terpusat pada lengan Rin yang mengeluarkan banyak darah, membuat Len agak ngeri.
Tiba-tiba gadis pertama menarik rambut Rin, Gakupo sebagai murid yang berbadan besar segera menarik gadis pertama menjauh, menghentikan aksi cabut(baca : jambak)nya pada Rin.
"Punya masalah apa denganku, hah? Katakan dengan jelas apa masalahmu sekarang! Sadarlah, orang pertama yang mencari masalah adalah kau! Masalah kalau aku hanya duduk diam di meja sambil makan? Kau saja yang kurang kerjaan, datang-datang menggebrak meja orang dan menumpahkan minuman ke arahku! Cih, dasar gadis aneh." ucap Rin dengan nada tajam.
Gadis itu diam, "Yang kuinginkan hanya kau pergi dari sekolah ini! Jangan terlalu banyak gaya! Aku muak melihat sifat sombong dan angkuhmu!" balas gadis itu.
Rin tersenyum, "Jadi? Kau sirik padaku karena banyak guru yang memujiku meski sikapku ini menyebalkan? Dan jika kau mau protes soal keberadaanku di sekolah ini, ungkapkan saja langsung pada kepala sekolah. Mengerti?" ucap Rin sambil berjongkok, memunguti pecahan piringnya dan membuangnya ke tong sampah terdekat sebelum pergi dari area kantin.
Terlihat beberapa murid bergidik ngeri melihat beberapa tetes darah di lantai, darah Rin.
Setelah beberapa lama, petugas kebersihan sekolah datang dan membersihkan area itu. Dan bel masuk pun berbunyi.
Setelah masuk ke dalam kelas, Len hanya duduk dengan diam. Masih terbayang-bayang banyaknya darah yang mengalir keluar dari lengan Rin tadi, Len juga menoleh ke samping tempat Rin duduk, kosong. Rin masih belum kembali.
Len mengedarkan kembali pandangannya ke sekeliling, semenyebalkan itukah Rin sampai tidak ada yang khawatir padanya? Padahal kalau ucapan Rin tadi benar, yang soal gadis itu datang tiba-tiba dan mengganggunya, berarti Rin tidak bersalah, kan?
'Ah, jangan terlalu khawatir Len. Kalian itu musuh...' batin Len.
Setelah beberapa lama, seorang guru masuk.
"Karena Saya ada urusan, Saya akan memberikan catatan saja. Sekretaris kelas, tolong catat ini di papan tulis dan yang lain mencatat. Jangan ribut, sekian." ucap guru itu buru-buru sambil memberikan beberapa kertas pada sekretaris kelas itu dan berjalan keluar.
Setelah guru keluar, satu kelas langsung bersorak gembira, terkecuali Len yang bengong.
Memangnya ada yang begini? Guru meninggalkan muridnya di kelas? Jujur, di sekolah lama Len tidak ada yang beginian.
PRANG
JDUAGH
Tiba-tiba pandangan Len menjadi buram, samar-samar dia mendengar beberapa orang meneriakkan namanya. Tangannya memegangi kepalanya yang tiba-tiba terasa pening, sesuatu membentur kepalanya, itu yang dia tahu.
"Rei-san? Rei-san? Kau tidak apa-apa?"
Pendengaran Len sudah pulih, dia segera menatap sekitar, banyak murid yang sedang menatapnya dengan khawatir. "N-Ng.. Tidak apa-apa.." jawab Len pelan.
"Darah! Darah! Daraaaah!" teriak seorang murid sambil menunjuk kepala Len, merasa aneh, Len melihat tangannya.
Darah.
"Ada yang terluka?" tanya guru yang entah sejak kapan ada di kelas, mungkin karena mendengar suara bising dia kembali kekelas.
"Rei-san terluka!" adu beberapa murid. "Bawa dia ke UKS. Yang lain keluar dari kelas dulu, bahaya karena banyak pecahan kaca disini." perintah sang guru.
Entah kenapa, kok rasanya jadi kayak fanfic horror ya karena banyak darahnya? ._.
Ah bodoh amat, lanjut~
Len segera di antarkan oleh satu orang yang tidak di kenalnya ke UKS, alasannya karena Len belum tahu jalan menuju UKS.
"Permisi," ucap seorang murid sambil membuka pintu UKS. Tidak ada pengawasnya?
Len langsung berjalan masuk, "Aku akan cari pengawasnya, tunggu sebentar ya." ucap murid itu buru-buru sambil berlari keluar.
Len membeku, bisa-bisa darahnya keburu habis.
Len yang panik segera melihat ke kanan-kiri, pandangannya berhenti ketika melihat Rin yang sedang duduk sambil mengobati dirinya sendiri, sedang memperban lengannya.
Merasa di lihat, Rin menolehkan pandangannya pada Len, sebelum melempar sebuah kotak P3K pada Len.
'Bagaimana cara mengobati luka di kepala?' batin Len panik. Awalnya dia ingin meminta bantuan pada Rin, tapi keinginannya langsung sirna begitu Luka muncul sambil mendobrak pintu, di belakangnya terlihat Gakupo dan Mikuo.
"Kenapa belum kau obati? Kau tidak takut mati kehabisan darah gara-gara kepalamu bocor?" tanya Luka sambil memasang wajah horror.
"A-Aku tidak tahu caranya." gumam Len. "Bodoh," ucap Luka sambil berjalan mendekati Len. Len menghela nafas lega, setidaknya dia tidak perlu meminta bantuan Rin, mereka musuh secara tidak langsung.
Luka segera mengambil handuk dan membersihkan luka Len, setelah bersih dia mengambil perban.
Sementara Rin masih sibuk memperban lengannya sendiri yang terkena sayatan besar dan luka dimana-mana.
"Lukacchi, ingat, kau lagi perbanin kepala orang yang terluka, bukan perbanin mayat." ucap Gakupo tenang.
Freeze.
"Mikuo? Kau jago merawat orang sakit, kan?" tanya Luka kemudian. Mikuo mengangguk pelan, "Nah, tolong perbankan kepala Rei." ucap Luka sambil mundur, Len langsung sweatdrop. Tapi setidaknya Luka sudah berusaha.
Setelah beberapa lama, Mikuo selesai memperban kepala Len. Mereka kembali ke kelas.
Len merebahkan dirinya di kasur, dia sudah sampai di apartemetnya sendiri. Kepalanya masih terasa nyut-nyutan akibat luka tadi. Sebenarnya dia merasa agak aneh dengan perban melilit di dahinya, tapi Mikuo bilang jangan di lepas sampai lukanya benar-benar kering, mungkin nanti malam.
Len segera berdiri dan berjalan ke arah cermin kemudian melepas lensa kontaknya, jujur matanya agak terasa aneh ketika memakai lensa kontak. Tapi Len langsung merasa lega begitu lensa kontaknya di lepas.
Len segera berjalan ke arah kamar mandinya dan mandi, sebelum keluar dan memakai baju santainya. Rambutnya masih berwarna hitam karena dia tidak bisa keramas.
Sudah jam 3 sore dan setaunya apartementnya masih menyediakan makan siang. Tapi karena malas memakai lensa kontak, Len akhirnya memilih memasak sendiri.
Len, kau bisa masak?
Tiba-tiba Len menggeleng, memasak bukanlah ide bagus. Karena seumur hidupnya dia bahkan tidak pernah menghidupkan kompor. Dia harus meminta seseorang mengajarinya masak. Dan dia tahu Mikuo bukanlah orang yang tepat, Mikuo bisa memasak, tapi semua menunya pasti mengandung 50% negi.
Menghela nafas, Len kembali pada cerminnya dan memakai lensa kontaknya setelah itu dia berjalan keluar.
Pendengaran Len menajam saat mendengar teriakkan heboh dari apartement sebelahnya, 25. Pintu apartement itu tidak di tutup rapat jadi Len masih bisa mendengar percakapan mereka.
"Kenapa tanganmu bisa begini?" Len hafal suara itu, suara Kaganemika Lenka. Mungkin dia sedang heboh karena Rin pulang dengan tangan di perban?
Len, menguping itu tidak baik loh.
Penasaran dengan jawaban Rin, Len membulatkan tekad nekadnya untuk menguping lebih jauh.
"Ke gores sesuatu waktu perjalanan pulang, tidak apa-apa kok." jawab Rin. Dan Len tahu, kalau Rin berbohong.
Sadar karena perutnya melolong makin keras, Len segera turun ke lantai 1 untuk makan.
Len sudah mendapat sepiring makanan dan dia duduk di salah satu meja kosong di situ, teringat akan PRnya, dia kembali berpikir.
Tiba-tiba handphonenya berbunyi. "Halo?" jawab Len.
"Rei, ada kabar buruk." ucap suara seberang, Mikuo. "Apa?"
"SeeU... Dia pindah ke Crypton juga. Di kelas yang sama."
Seketika Len langsung membeku.
~To be Continue~
Author's Territorial
Okeh, Saia tahu kalau chapter ini ngaco. Tapi ide Saia mengalir bagaikan air di sungai di Jakarta begitu ajah. #plak
Disini Saia buat Gakupo sifatnya kalem tapi idiot, soalnya ribut dan idiot udah terlalu mainstream~! XD #dihajar
Begitupun dengan Luka, agak ribut dan baka :D #prang
Kemudian yang bagian Luka perbanin kepala Len, pas Gakupo bilang 'perbanin kepala orang, bukan perbanin mayat.' Gini loh kalau yang belum ngerti, perbanin mayat itu seperti yang mumi-mumi maksud Saia :3 Biasakan kalo yg mumi itu perbanin satu kepala trus sisain bagian matanya XD #kebanyakan main game horror #plak
Last, thank you for reading dan review sebelumnya~!
Mind to review?
Sign,
Chisami Fuka.
