Last update : July 10 2013. Okeh, itu hampir setahun yang lalu. Bener deh, beneeeeer, Saia bener beneeer beneeeeeeeeeeer minta maaf! Sebenarnya doc. ini udah diketik taun lalu, cuma Saia ga buka berhubung fokus UN :p #dihajar.

Saia harap kalian masih ingat sama Saia #cry. Dan Saia tahu kalian pasti banyak uda lupa cerita ini, tapi karena Saia tidak ingin men'discontinue' fic, Saia main lanjut aja meski Saia tau peminatnya berkurang T.T

Okeh, langsung aja, bersamaan dengan di publishnya chapter ini, Saia juga re-update chapter sebelumnya karena banyak yang nanya 'Kenapa kepala Len bisa berdarah?'. Ah, maaf! Saia lupa jelasin di chapter sebelumnya kenapa kepalanya bisa berdarah, itu karena ada bola yang di lempar dari luar kelas, mecahin kaca jendela dan kena kepala Len, gitu. Honto ni gomenasai! Karena lupa jelasin itu.

Nah, sekarang bales review ya~!

AnimCookies

SeeU jadi... Baca ajah ya~! XD. Okeh, ini uda di lanjut~! Makasi reviewnya~!

Namikaze Kyoko

Okeh, pertanyaan pertama uda di jawab di atas ^^. Kemudian.. Baca aja ya~! Ini uda apdet. Makasi reviewnya~!

Guest

Okeh, pertanyaannya uda di jawab di atas ya~! Makasi reviewnya~!

Usagi Yumi

Hai, Yumi-chan. Ah, makasi banyak. Dan SeeU itu.. Baca aja ya~! Dan ini uda apdet, makasi atas reviewnya~!

NRen

Ahahaha, yap, tebakan Anda benar, uda di jelaskan di atas ya~! Dan ya, rencananya Saia mau mulai konfliknya :3. Ini uda apdet, makasi reviewnya~!

Faboeloes

Okeh ini uda apdet, makasi uda review, fave dan fol~!

Kuro 'Kaito' Neko

Konbawa mo, Kuro 'Kaito' Neko-san~! Nee, daijobu. Ah, soal bb itu uda di accept, arigatou~! Dan soal kepala Len berdarah uda di jelaskan di atas ya~! Makasi reviewnya dan ini uda apdet~!

Reichan Hiyukeitashi

Okeh, ini uda lanjut, makasi ya reviewnya~!

Kumo-Usagi

Okeh... Saia minta maaf juga karena udah hampir setaun ga update #dihajar. Dan.. Aa, Saia ga seseius itu kok XD #apa?. Theeen, ini uda update, makasi yahh reviewnya~!

P.S. : Setaun uda berlalu dan Saia baru bales review Kumo, dan dalam setaun itu kita uda saling punya pin bb XD. Jadi ga Saia tulis lagi disini ya :p

Amicitia Lilium

Ahaha, benarkah? Well, sepertinya Saia sudah pernah membaca karya-karya kalian dalam setaun terakhir sebagai tanggapan review kalian, tapi biarlah, lain kali akan Saia kunjungi lagi profile kalian~! Makasi sudah mereview~!

Uchiha dant57

Makasi, makasi banyak Q.Q Fict ini keren? Saia terharu Anda bilang gitu. Dan update kilat? Gomen Saia ga bisa DX. Tapi makasi uda fave dan review :3

nabmiles

SeeU itu anggota vocaloid :3 #dihajar. Tidaak, review Anda bermutu kok Q.Q Saia aja yang kasi cerita ga bermutu, uda ga update hampir setaun inihh #cry. Theen, okeh, makasi sudah mereview dan atas ucapan 'ganbatte'nya :3.

Arrow-chan3

Iyaa, Len dipanggil Rei karena sedang dalam penyamaran, ada dijelasin di chapter satu :3.

~Makasi banyak atas reviewnya~! Dan maaf atas kesalahan di chapter sebelumnya~!~

.

Summary : Rin tahu, keputusannya untuk tinggal sendiri memang berakibat fatal, tapi dia tidak menyesal, dia mendapatkan apa yang dia inginkan, seperti hidup yang lebih santai, tidak risih dengan keberadaan maid di sekelilingnya./'Rin takut pada badut, huh?'/Tapi dia juga harus terima kenyataan kalau ada badut yang tinggal berseberangan dengan apartementnya./Chapter 3 : Hello, new life! (2)/RnR?

.

Disclaimer :

Vocaloid © Yamaha and Crypton Corp.

Sayonara, My Monoton Life © Chisami Fuka

.

Warning :

Typo(s), OOT, pendeskripsian kurang, alur berantakan, dan ga jelas.

.

Sayonara, My Monoton Life.

Chapter 3 : Hello, new life! (2)

.

Don't like? Click back.

.

.

.

Normal PoV

Rin hanya bisa bertahan mendengar ocehan Kakaknya, sudah 3 jam sejak dia pulang dan Kakaknya terus-terusan mengomel kenapa dirinya bisa terluka begitu.

"Kalau begini, gimana Kakak bisa ninggalin Rinny sendirian? Bisa-bisa Rinny ga berbentuk lagi pas Kakak pulang!" ucap Lenka khawatir sambil menggigit jarinya. "Aku betulan tidak apa-apa kok, Lenka-nee..." gumam Rin.

"Tapi tapi tapi..." Lenka mengambil nafas, "Kakak betulan khawatir sama Rinny, kalau Rinny kenapa-napa gimana?" tanya Lenka. "Aku ga akan kenapa-napa lagi kok, janji deh. Nah, Lenka-nee harus ke Yokohama kan sekarang untuk berkemas karena besok sudah harus pergi, kan? Lenka-nee bisa pergi sekarang, nanti udah keburu malam." ucap(usir) Rin.

Lenka menghela nafas, "Kakak ga bakal pergi deh, ga tega ninggalin Rin sendirian. Kakak bakal minta Papa mindahin universitas aja."

JDAR

Rin gelagapan, dia sudah bahagia karena diijinkan orang tuanya untuk tinggal sendiri, tapi kalau begini... Gimana?

Rin merasa keinginannya sudah di ujung tanduk, maka dari itu dia harus mengeluarkan semua kata-kata meyakinkan yang dia punya untuk meyakinkan Kakaknya bahwa dia betul-betul tidak apa-apa.

Setelah beberapa lama, Lenka mengalah. "Udah pergi sana," ucap Rin datar. "R-Rinny ngusir Kakak?" tanya Lenka dengan nada sedih.

Gelagapan, Rin menggelengkan kepalanya, "B-Bukan itu maksudku. Pergi sekarang, nanti ketinggalan kereta." ucap Rin. "Oh..."

Lenka bangkit dari kasur Rin, karena sebelumnya tadi dia berbaring di kasur Rin. "Kalau ada apa-apa telepon ya..." ucap Lenka pelan sambil mengambil tasnya. Rin mengangguk mantap.

"Janji ya? Kalau ada apa-apa telepon..." ucap Lenka lagi setelah keluar dari apartement Rin. "Iya."

Bersiap-siap menutup pintu, Lenka mencegatnya. "Lenka-nee, nanti betulan telat loh." ucap Rin. Lenka menghela nafas sambil cemberut. "Iyah iyah, Lenka-nee pergi sekarang. Hati-hati ya," ucap Lenka sambil melangkah pergi dengan berat hati.

Setelah Lenka masuk ke dalam lift, Rin menutup pintunya dan berjalan mendekati kasurnya kemudian berbaring sambil melirik ke arah jam dinding.

"Tujuan hidup..." gumamnya mengingat kembali PR sekolahnya, "Eng... Melanjutkan bisnis Papa? Caranya belajar dengan rajin?" gumam Rin lagi.

'Mungkin itu jawabanku..' batinnya. Karena bosan, Rin berjalan ke sebuah single sofa dan menyalakan TVnya, dia punya TV sendiri di apartementnya, tetapi tagihan TVnya dibayar sendiri olehnya.

"Hatsune Miku..." gumam Rin saat melihat seorang gadis berambut hijau tosca yang nampaknya sedang di wawancarai. Rin mengambil setoples cookies yang terletak di meja kecil samping single sofanya itu.

"Ahahaha... Entahlah, kami masih tidak mau memikirkan tentang pernikahan kami. Karena kami masih mau fokus pada sekolah kami." ucap Miku saat di wawancarai. Rin mengangkat alisnya sebelah, pernikahan?

Setelah memutar otak beberapa lama, Rin ingat bahwa diva yang sedang naik daun itu sudah punya calon tunangan.

KREK

Rin menggigit cookiesnya dengan keras saat mengingat calon tunangan dari diva tosca itu.

Tuan Kagamine menggertakkan giginya, sudah semalaman anaknya kabur dari rumah.

Yah, Om, salah sendiri, siapa suruh ngatur-ngatur Lenny?

"Cari anak sialan itu sampai ketemu! Jangan sampai media massa mengetahui apapun soal Len yang kabur dari rumah" teriak Tuan Kagamine pada sejumlah orang berjas hitam yang berlutut dengan hormat di hadapannya. Cuih.

"Baiklah, Leon-sama." ucap sejumlah orang berjas itu sambil bubar. Anak sendiri kabur dari rumah? Nyaman, Om.

"Dasar anak kurang ajar..." geram Tuan Kagamine. "Ah, maaf Hatsune-san, Saya tidak mengira Len akan kabur dari rumah begini." ucap Tuan Kagamine itu sambil menoleh ke arah seorang gadis berumur 16 tahun yang berambut hijau tosca. "Saya mengerti, Leon-san. Tidak masalah." ucap gadis itu.

"Saya juga akan mencarinya dan memintanya kembali. Saya permisi dulu, Leon-san." ucap gadis tosca itu sambil berjalan keluar dari ruangan itu dengan anggun.

"AHAHAHAHAHA! LIHAT MUKANYA! MIRIP ANAK BABI MALANG YANG DITINGGALIN INDUKNYA!"

Gadis tosca itu langsung sweatdrop dengan tidak anggunnya saat mendengar suara itu. "SeeU, berhenti ngerjain orang, ini rumah orang tau," sewot gadis tosca itu pada seorang gadis lain yang sedang tertawa dengan keras, menertawai seorang pria berjas hitam gagah yang mukanya penuh dengan cream.

"Ish.. Miku ga seru.." cibir gadis bernama SeeU itu pelan. Miku yang merupakan gadis berambut tosca itu menghela nafas pelan, "Nee? Bagaimana?" tanya SeeU sambil berlari kecil dan menyamakan Miku yang berjalan duluan.

"Tuan Kagamine mengamuk. Anaknya juga sih, menghilang tanpa kabar." gumam Miku. SeeU memutar badannya dan berjalan mundur agar dia berhadapan dengan Miku, "Mungkin dia sangat menentang pertunangan kalian?" tanya SeeU pelan.

"Kalau bisa aku juga ingin menantangnya, tapi pikirkan keuntungan yang bisa kudapat kalau aku menikahi anaknya. 40% kekayaannya akan jatuh di tanganku." ucap Miku sambil berbisik pelan. SeeU hanya diam, "Ya sudah, soal pemindahan sekolah kita sudah kuatur, tujuan kita sebenarnya hanya mendekati Hatsune Mikuo untuk mencari informasi tentang Len, tapi kurasa kita bisa sekalian belajar, Crypton itu sekolah yang bagus." gumam SeeU. Miku mengangguk-ngangguk.

Hatsune Miku, diva 16 tahun yang sedang naik daun. Seperti yang dikatakan, dia adalah tunangannya Kagamine Len.

Sementara SeeU, gadis asal Korea yang merupakan teman sekaligus manager Miku ini selalu menempel dengan Miku, umur mereka sama membuat mereka lebih dekat.

Len terus-terusan mengeluarkan keringat dingin, Mikuo yang berdiri di sampingnya menghela nafas pasrah. "Aku hanya membaca nama SeeU sekilas ketika masuk ke kantor kepala sekolah kemarin, tidak ada nama Hatsune Miku. Tapi kalau SeeU ada, Hatsune Miku pasti ada, kan?" ucap Mikuo. Len terdiam, "Kenapa mereka tiba-tiba pindah kesini?" tanya Len. Mikuo hanya mengangkat bahunya.

"Nah, orangnya udah datang tuh..." gumam Mikuo sambil melihat ke arah luar jendela yang menampakkan halaman depan sekolahnya, sebuah mobil berwarna hitam yang di kelilingi banyak orang, beberapa lama kemudian seorang gadis berambut hijau tosca dan dirty blonde keluar dari mobil itu, para murid yang ada di sana langsung bersorak.

"Ada Hatsune Miku..." Sementara Mikuo, Len dan yang lainnya sedang sibuk melihat keluar kelas, Rin sendiri duduk di tempatnya dan mengerjakan PRnya.

"Tujuan... Melanjutkan bisnis orang tua. Caranya... Belajar yang rajin." gumam Rin sambil tersenyum samar, lega karena PRnya sudah selesai dan tidak perlu dipikirkan lagi. Meski PRnya di kumpulkan besok, Rin memilih mengerjakannya hari ini.

Rin menggaruk kepalanya pelan dengan ujung pensil mekaniknya, dia merasa jawabannya kurang memuaskan. Tapi yah.. Biarkanlah.

Rin menoleh ke arah jendela kelasnya yang di penuhi murid-murid kelasnya berdempetan disana, merasa bodoh amat, Rin memilih mengeluarkan ponselnya dan memainkannya.

Beberapa lama terdengar bel berbunyi, semua murid tentu saja kembali ke tempat duduk masing-masing.

Wali kelasnya masuk dengan dua orang gadis di belakangnya, kening Rin berkerut melihat dua orang itu.

"Perkenalkan, namaku Hatsune Miku. Mulai sekarang Saya akan bersekolah disini, salam kenal." ucap Miku sambil membungkukkan dirinya. "Namaku SeeU, salam kenal semuanya." susul gadis di sebelahnya. Mendengar kebanyakan murid kelasnya berteriak heboh, Rin hanya diam sambil memasang wajah datar.

"Itu Miku kan? Tunangannya Kagamine Len, kan?" bisik seorang murid yang duduk di depan Rin pada teman sebelahnya. Mendengar nama Kagamine Len, Rin hampir saja mematahkan pensilnya.

Rin pernah bertemu langsung dengan Tuan Kagamine, ayah dari Kagamine Len. Dan orang itu, sangat menyebalkan. Karena itu Rin juga menganggap pasti anaknya menyebalkan.

Merasakan hawa mengerikan dari teman sebelahnya, Len hanya mampu diam tak berkutik. Ada 3 orang yang harus dihindarinya di sekolah ini, pertama adalah Kaganemika Rin yang merupakan musuh keluarganya. Kedua Hatsune Miku yang merupakan tunangannya. Dan ketiga adalah SeeU yang merupakan teman bagaikan lemnya Miku.

"Kalian berdua boleh duduk di bangku kosong di belakang Kagene-san dan Kaganemika-san, maaf tapi sekarang hanya tempat itu yang kosong." ucap wali kelas mereka.

Miku dan SeeU sedikit menyipitkan matanya, untuk mencari gadis bermarga Kaganemika di kelas itu. Tentu saja mereka kenal keluarga Kaganemika, keluarga yang menjadi musuh utama keluarga Kagamine.

'Ini terlalu mainstream! Kenapa aku harus duduk di antara mereka? Hidupku bukan drama...' Len mulai membatin tidak jelas.

Len merasa dirinya benar-benar terkutuk, kenapa dua orang itu harus duduk di dekatnya?

Tiga orang, tiga orang yang harus di jauhinya malah berada di dekatnya.

"Wah wah wah... Jadi ini, putri Kaganemika itu?" tanya SeeU saat melewati samping Rin. Rin hanya mendecak pelan. Dan pelajaran pun di mulai.

"GAKU! KALO EMANG FLU GA USAH MASUK AJAHH!"

"IA-SAN PINGSAN! IA-SAN PINGSAN!"

"KAITO! JANGAN NGUPIL DI KELAS!"

Heboh, guru absen, ga ada yang ngawas, ketua kelas dan pengurus kelas lainnya di cuekkin.

"Nee, Hatsune-san. Kenapa ga ikut Kagamine Len-san sekolah di luar negri saja?" tanya seorang murid perempuan yang merupakan fans Miku pada Miku yang duduk tenang di belakang Len.

'Sekolah di luar negri, huh?' batin Len.

"Yah.. Karena aku punya pekerjaan disini. Itu saja. Dan kau boleh memanggilku Miku saja." Len mendengar balasan Miku.

Miku itu cantik, manis, berbakat, dan pintar. Hanya saja... Len tidak merasa tertarik padanya.

Lain di tempat Miku, lain di tempat Rin, beberapa gadis terlihat sedang menatapnya dengan tajam. Cuek, Rin hanya diam tanpa mempedulikan tatapan gadis-gadis aneh itu.

"Cih, pasti dia merasa tertekan karena calon tunangannya Kagamine Len-sama ada disini." ucap seorang gadis yang jelas-jelas bisa di dengar banyak orang.

Diam, Rin hanya diam tanpa mempedulikan orang itu.

"HATCYHOO!"

Lagi-lagi seorang Kamui Gakupo bersin, mengenai telak di kepala gadis yang menyindir Rin tadi.

"KYAHAHAHAHA! KEREN! KENA TELAK DIMUKANYA!" teriak SeeU saat melihat kejadian itu, Rin tersenyum sinis sambil menyandarkan punggungnya di sandaran kursinya dan melipat tangannya, seraya tersenyum sinis dan menatap gadis tadi dengan tatapan mengejek.

"Karma masih berlaku, gadis tukang gossip." ucap Rin. Beberapa lama kemudian, gadis tersebut pingsan di tempat.

"Kain! Mana kain?" Sementara murid yang lain sibuk menolong gadis itu, Kamui Gakupo dan Megurine Luka juga Hatsune Mikuo berjalan mendekat ke arah Len, dan tentunya dengan keadaan Luka yang memarahi Gakupo.

Hatsune Mikuo dan Hatsune Miku, meski cara pelafalannya sama, cara penulisannya berbeda dan berarti mereka tidak berhubungan darah.

"Tidak bosan duduk diam disini?" tanya Mikuo sambil duduk di bangku sebelah kiri Len yang kebetulan pemiliknya entah bersilahturami kemana.

Len mengangkat bahunya, "Hanya mencoba menjadi anak alim." canda Len. "Nee, Rei. Kau belum mengikuti klub apapun, kan? Mau ikut dengan kami? Klub musik!" ucap Luka. "Ikut saja, aku juga ikut. Aku sudah jago bermain bass." ucap Mikuo sambil membanggakan diri, Len terkekeh pelan, "Baiklah, aku ikut klub musik saja kalau begitu." ucap Len.

"Mikuo-san?" panggil Miku tiba-tiba, Mikuo menoleh dan memberi tatapan 'Apa?'

"Bisa bicara sebentar? Nanti waktu jam istirahat." ucap Miku. Tidak berani menolak, akhirnya Mikuo hanya mengiyakan.

"Hah..." tiba-tiba Gakupo mendesah pelan. Menyadari bahaya, Luka dan Mikuo berlari menjauh, Len yang sudah tahu segera berlari menjauh juga. Sadar akan keadaan, Rin bangkit dari kursinya dan berjalan agak jauh dari sana.

Bingung apa yang terjadi, Miku hanya diam di tempat.

"HYATCHOOOOO!"

Syukur saja diva tosca dan temannya itu gesit, berhasil menghindar, tembakkan Gakupo 60% mengenai meja Len, 20% mengenai meja Rin, 15% mengenai meja Miku dan 5% mengenai meja SeeU.

"KYAAAAA! GAKU JOROKKKK!" teriak Luka dari jauh.

Bersyukurlah karena tidak ada korban dalam kejadian ini.

"Tentunya kau sudah tahu kan apa yang ingin kubicarakan?" tanya Miku datar sambil meletakkan sikunya di jendela dan menghadap keluar, sekarang mereka sedang berada di salah satu koridor sekolah yang syukurnya sepi.

"Tentang Len." gumam Mikuo. "Yah.. Tepat sekali."

"Aku tidak yakin kau tidak mengetahui keberadaannya." lanjut diva tosca itu. Mikuo menghela nafas, bersandiwara kalau dirinya sudah lelah dengan masalah ini, "Aku juga khawatir padanya. Aku khawatir karena aku tidak tahu dimana dia." balas Mikuo bohong.

Bohong, nyatanya orang yang sedang mereka bicarakan sedang bersembunyi tidak jauh dari mereka, tentu saja Len penasaran apa saja yang mereka bicarakan meski Mikuo sudah berjanji akan menceritakan semuanya.

"Kau tahu, kan? Hukuman apa yang akan dia terima jika tertangkap oleh Leon-san?" tanya Miku, dia benar-benar mencurigai Mikuo. "Tentu saja tahu," ucap Mikuo. "Tapi berhentilah bertanya karena memang aku tidak mengetahui keberadaannya. Sudah selesai pembicaraannya? Aku punya janji dengan temanku sekarang." ucap Mikuo tajam. Miku hanya mengangkat bahunya, "Sudah, kau boleh pergi sekarang." ucap Miku.

Mikuo berjalan pergi dengan tenang, berusaha tidak membuat Miku curiga lebih lanjut. Menyadari pembicaraan selesai, Len juga berniat pergi. Membalikkan badannya, Len hampir berteriak karena seorang gadis tiba-tiba lewat di sampingnya.

"Hosh... Hosh..." Len memegang dadanya sendiri, jantungnya berdetak cepat karena mengira gadis itu adalah hantu. Nyatanya dia adalah Rin yang berjalan melewati samping Len dengan diam.

"Dasar gadis aneh..." gerutu Len sambil berjalan pergi.

Selama perjalanan ke kelasnya, Len hanya berpikir apa yang harus dia lakukan? Tetap seperti ini atau melakukan sesuatu yang lain? Seperti mencari cara agar Ayahnya mau membatalkan pertunangannya?

Len hanya akan menikahi orang yang dia cintai, titik.

"Rei!" Baru saja mau masuk ke dalam kelas, seseorang memanggilnya dan Len menghafal suara itu, suara Luka.

"Ini, isi ini, formulir pendaftaran. Kalau bisa serahkan besok padaku." ucap Luka sambil menyerahkan selembar kertas pada Len. "Ah, iya." jawab Len.

"Oh ya, ngomong-ngomong, boleh kami minta nomor handphonemu? Kalau ada acara ramai-ramai kami bisa menghubungimu untuk mengajakmu." ucap Luka sambil mengeluarkan handphonenya.

DEG

Jantung Len tiba-tiba berdegup kencang. Bertukaran nomor handphone dan mempunyai rencana keluar sama-sama.. Sudah seperti teman, kan? Len tidak pernah bertukaran nomor sebelumnya dengan anak seumurannya selain Mikuo dan Miku.

Len cepat-cepat mengangguk, "Tentu." Dan kemudian, Len memberikan nomor handphonenya.

Jam pulang sudah lewat, tapi karena ketua kelas meminta waktu sebentar, mereka tiba-tiba menjadi penurut dan menuruti keinginan ketua kelas mereka.

"Semuanya, perhatian sebentar~!" teriak ketua kelas Len sambil berdiri di depan kelas mereka, membuat semua menoleh ke arahnya.

"Lusa besok 'kan hari Minggu, tepat ulang tahun wali kelas kita!" ucap ketua kelas mereka bersemangat. "Dan.. Sebagai ucapan terima kasih kita padanya meski baru beberapa hari menjadi wali kelas kita, bagaimana kalau kita merayakan ulang tahunnya?" tanya ketua kelas.

"Setuju!" jawab kebanyakan orang kompak.

Ketua kelas mereka tersenyum, "Kita rayakan ulang tahunnya di cafe milik Clara-san saja! Sekalian pinjem taman hiburannya!" ucap sang ketua kelas. Semua menoleh ke arah anak yang bernama Clara, pemilik sebuah cafe dan taman hiburan yang lumayan ramai di kota mereka.

"Tentu saja boleh." ucap Clara singkat. "Baiklah! Datang jam 9 pagi! Wajib dateng! Yang ga dateng bakal di hukum! Tanpa terkecuali! Semua wajib dateng!" Ketua kelas pun ngotot semua harus datang. "Yang mau protes, angkat kaki!" lanjut ketua kelasnya.

Tidak ada.

Sepakat, semua anggota kelas itu punya janji jam 9 di sebuah taman bermain di Tokyo. Len tersenyum, pertama kali dia pergi bermain dengan temannya.

Satu persatu murid pun keluar kelas, dengan aura bahagia, Len melangkah keluar kelas.

"Ciyeh yang senang karena pertama kali keluar sama teman," bisik Mikuo sambil menyenggol bahu Len pelan. Len tertawa, "Senang sih, pertama kali loh!" ucap Len.

"Oh ya, kalau keluar... Harus gimana? Pakai baju apa?" tanya Len polos. Maklum, anak kuper.

"Pakai tuxedo," jawab Mikuo ngasal. Len mengangguk-ngangguk, percaya begitu saja pada orang Mikuo. Melihat Len yang nampak bodoh, Mikuo merasa kasihan.

"Bercanda, pakai baju bebas aja." ucap Mikuo akhirnya. "Eh? Jadi yang benar yang mana?" tanya Len. "Baju bebas lah," jawab Mikuo jujur. Len hanya mengangguk semangat.

"Kalau begitu aku duluan, jaa." ucap Mikuo sambil berjalan lebih cepat dan masuk ke dalam mobilnya. Masih dengan perasaan bahagia, Len pulang ke apartementnya.

BRUK

Len tersentak karena mendengar suara benturan keras pada dinding kamarnya, benturannya berasal dari apartement sebelah. Dari apartement Rin.

Bodoh amat, Len kembali melanjutkan kegiatannya, memilih baju yang tepat saat acara lusa. Ya ampun Len, kayak mau pergi kencan ajah.

Tok Tok Tok

Tiba-tiba seseorang mengetuk pintunya, Len menoleh ke arah jam dindingnya. Jam 8 malam. Siapa?

Len memakai lensa kontaknya lagi, syukur saja dia belum keramas, jadi rambutnya masih berwarna hitam.

Len membuka pintunya, melongo sebentar.

"S-Saya penghuni baru di apartement nomor 26," ucap orang itu sambil menunjuk pintu nomor 26 yang berhadapan dengan milik Rin. Len mengangguk pelan.

"Dan yah.. Pekerjaanku adalah sebagai seorang badut, jadi jangan heran kalau aku berdandan seperti ini..." ucap orang itu pelan sambil menggaruk rambut kribonya yang berwarna merah. Len langsung mengerti, pantas saja orang itu berpakaian seperti badut.

"Ah, namaku Bruno. Salam kenal." ucap orang itu lagi. Len mengangguk, "Kagene Rei, salam kenal juga." balas Len ramah.

Bruno tersenyum, "Etto.. Kau tahu gadis yang tinggal di apartement nomor 25?" tanyanya. Len mengangguk ragu. "Bisa kau tolong lihatkan keadaannya? Tadi pas aku mengetuk pintunya, dia membukanya dan menatapku sebentar, sebelum berteriak dan menutup pintunya lagi, beberapa saat kemudian aku mendengar suara benturan yang sangat keras." ucap Bruno panjang lebar. Dengan agak berat hati Len mengangguk dan berjalan menuju pintu nomor 25.

Len mengetuk pintunya sambil meneriakkan nama Rin, tidak ada jawaban. "Mungkin lebih baik kalau kita dobrak paksa? Takutnya dia kenapa-napa..." gumam Bruno. Len yang juga mulai khawatir memegang knop dan membuka pintunya.

JDUAGH

Len menyesal membuka pintu itu. "A-Apa maumu?!" teriak Rin sambil memegang sebuah panci yang digunakannya untuk memukul orang yang membuka pintunya tadi.

Len berdiri dari posisinya yang sebelumnya jongkok sambil memegangi kepalanya, "Etto... Ada orang yang ingin berkenalan denganmu," ucap Len sambil mengusap-ngusap kepalanya. "Badut yang tadi?" tanya Rin tajam. Len mengangguk, "Katakan padanya aku tidak ingin melihat badut sekarang dan selamanya." ucap Rin dengan nada kasar.

"Kenapa? Kau takut pada badut?"

To the point, muka Rin memerah. "Katakan saja padanya jangan menemuiku dalam wujud badutnya!" teriak Rin sambil mendorong Len keluar dan menutup pintunya dengan keras.

"Ah... Aku mengerti, aku akan mengganti pakaianku dulu baru berkenalan dengannya. Terima kasih atas bantuannya, Rei-san." ucap Bruno sambil masuk ke dalam apartementnya.

Dengan tersunggut-sunggut, dia sendiri kembali ke apartementnya dengan kepala benjol.

'Rin takut pada badut, huh?' batin Len sambil mengusap-ngusap kepalanya.

'Cewe aneh,'

Sedangkan di apartement Rin, Rin sedang duduk di lantai sambil memeluk lututnya dan menangis. Takut pada badut memang hal yang memalukan, tapi bagaimana lagi kalau dia memang punya penyakit itu sejak kecil, sejak lahir.

Mendengar handphonenya berdering, Rin cepat-cepat berlari mendekati handphonenya. "Halo?" ucap Rin sambil mendekatkan handphonenya ke telinganya setelah menekan tombol hijau.

"Masih ingat padaku?" tanya suara seberang. Rin mengerutkan dahinya saat mendengar suara yang terasa familiar itu, tapi Rin lupa. "Siapa?" tanya Rin.

"Rinto, Kagami Rinto. Ingat?"

~To be Continue~

Author's Territorial

Ga ada bashing chara disini, Miku sama SeeU sebenarnya baik kok, ciyus :'D #hah?

Well, bagaimana? Ada yang masih tertarik setelah semua yang terjadi? #dihajar. Udah deh, sekali lagi Saia minta maaf karena menghilang sangat lama #gomennee~.

Mind to review?

Sign,

Chisami Fuka