Jeng jeng jeng...

Karena dari hasil vote sebelumnya yang menang KidoKano, Kyo bikinin satu nih hehehe. Maaf lama publishnya, Kyo barusan habis UN nih Dx.

Enjoy! And don't forget to vote!


Drabble 2: Under The Rain

Pairing: Shuuya Kano x Tsubomi Kido

.

.

.

Tsubomi tidak bisa mempercayainya begitu saja—tidak, tolong katakan tidak. Matanya mungkin saja berbohong. Mungkin saja ini hanyalah ilusi belaka.

Tapi, ilusi adalah sesuatu yang bisa saja terjadi, bukan?

Shuuya menciumnya, bukan dia, tetapi gadis lain tepat di depan matanya.

Tsubomi pergi begitu saja, mengabaikan air mata yang mengalir di pipinya. Ia tidak ingin mengganggu Shuuya lagi, ia sudah selesai dengannya. Jika Shuuya memohon akan sebuah kesempatan kedua, maka jawabannya sangatlah singkat dan sederhana—tidak.

Shuuya mendorong gadis yang ada di depannya itu. Ia merasa terkejut, kesal dan panik di waktu yang sama. Bagaimana jika Tsubomi melihat mereka? Bagaimana jika Kido salah paham? Tidak bisa, ia tidak bisa membiarkan hal itu terjadi.

"Apa kau gila? Apakah kau sudah kehilangan akalmu, Azami? Bagaimana jika seseorang melihat kita dan salah paham?" seru Shuuya.

"Oh, jika yang kau maksud adalah gadis Tsubomi itu, dia sudah melihat semuanya." jawab Azami seraya menyunggingkan senyum licik.

Pemuda itu menggelengkan kepalanya dan mencoba untuk pergi dari kelas yang sudah kosong beberapa saat yang lalu, tetapi Azami meraih lengannya.

"Tidak, Shuuya. Tinggallah disini bersamaku, aku menyukaimu. Shuuya ga sukida."

"Gomennasai, Azami. Perasaanku padamu hanyalah sebatas teman biasa, tidak lebih. Dan aku hanya mencintai Tsubomi."

Si pemilik sepasang mata kucing itu menoleh ke seluruh penjuru lorong kelas, tetapi tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa gadis berambut hijau itu masih di sekolah. Gemuruh mendung tampak semakin beradu dengan kilatan cahaya, mengancam seolah-olah akan menurunkan hujan yang lebat. Dan benar saja, tidak sampai sepuluh menit, hujan akhirnya turun.

Tsubomi berjalan di bawah rintikan hujan, ia tidak peduli dengan seragamnya yang basah. Ia merasa benar-benar marah untuk beberapa alasan. Ia mencoba untuk menahan tangisnya, tetapi pelupuk matanya menolak untuk menampung kristal-kristal bening itu lebih lama lagi. Baguslah sekarang sedang hujan, tidak ada yang akan sadar kalau The Almighty Seito Kaichou sedang menangis.

Dia memasuki taman kota yang tampak sepi dan duduk di sebuah bangku panjang. Ingatannya terus memutar kembali adegan yang paling tidak ingin dilihatnya—ketika Shuuya mencium gadis lain, yang mana semakin membuatnya merasa kesal dan marah. Shuuya bahkan bukan pacarnya, jadi kenapa dia harus menangisinya? Dia terus menanyakan pertanyaan yang sama.

Tiba-tiba sesuatu yang hangat membungkus pundaknya yang sudah terlanjur basah sedari tadi, hoodie berwarna coklat yang sangat familiar dengannya. Oh great, Tsubomi baru ingat ia meninggalkan hoodie ungu yang biasa dia pakai di kelas tadi.

"Seharusnya kau membawa payung," Shuuya tampak mengkhawatirkannya, jelas dari mata kucingnya yang tampak sayu dan alisnya yang bertaut, tetapi Tsubomi tidak menggubris sedikitpun. Dia tidak ingin Shuuya melihatnya menangis.

"Omedettou." ujar Tsubomi dengan nada (sangat) meledek.

Shuuya menaikkan salah satu alisnya seraya mengisi posisi kosong di samping Tsubomi, "Dou iu koto?"

Tsubomi berdehem, supaya bisa berbicara dengan lebih luwes. "Sekarang kau dan Azami berpacaran, bukan?" gadis berambut hijau itu memalsukan senyumnya.

Tanpa dikomando, tawa meluncur dengan mulus dari bibir Shuuya, seraya kepalanya menggeleng.

"Apa yang lucu?" geram Tsubomi.

"Siapa yang berpacaran dengannya?" Shuuya tersenyum tulus. "Kami tidak berpacaran, bahkan aku tidak punya perasaan dengannya lebih dari sekedar teman sekelas."

Tsubomi merasakan suhu wajahnya naik drastis, diiringi bersemunya garis-garis merah di pipinya.

"D-demo, omaetachi wa, chotto matte!" matanya melebar, seakan meminta penjelasan pada pemuda yang ada di depannya itu saat ini juga.

"Aku bertaruh kau langsung melarikan diri saat kau menyaksikan kami berciuman," Shuuya nyengir lagi. "tetapi asal kau tahu saja, Azami yang memaksaku. Yah, lagian sekolah bukanlah tempat yang bagus untuk berciuman." tambahnya.

"Baka Shuuya!" seru Tsubomi seraya memalingkan wajahnya yang sudah memerah.

Shuuya kembali terkikik geli, "Hee? Bakatte iu na, Tsubomi-chan."

Gadis itu kini benar-benar membeku di tempatnya, malu akan dirinya yang sudah asal tuduh saja. Dia hanya bisa memainkan jemarinya, tetapi entah kenapa dia merasa penasaran dan ingin menoleh pada Shuuya. Setelah mengumpulkan keberaniannya, dia memberanikan diri untuk sekedar mencuri pandang kepada si pemuda bermata kucing itu. Betapa menyesalnya ia saat mendapati Shuuya sudah menatapnya lekat-lekat, begitu intens. Tsubomi menelan ludahnya ketika dia melihat Shuuya tersenyum licik.

"Shuuya, jangan berpikir yang aneh-aneh. Atau jangan-jangan kau sudah ketularan Shintaro-senpai." dia meninju pelan dada Shuuya.

"Memangnya kenapa? Tidak ada yang menarik untuk dilihat." ledek Shuuya, dan sukses membuat gadis itu mengerucutkan bibirnya.

"Nee, Tsubomi-chan, sudah jam lima sore. Akan kuantar kau pulang." pemuda itu bangkit dan mengulurkan tangannya pada si gadis.

"Kau pikir kau siapa? Aku adalah Tsubomi Kido, aku tidak butuh bantuanmu." Tsubomi masih gengsi, dia berusaha mempertahankan harga dirinya.

"Aku adalah, calon pacarmu?"

Mata Tsubomi pun melebar karena terkejut, ketika dia merasakan bibir Shuuya yang lembut menyentuh pipinya.


Shuuya ga sukida: Aku menyukaimu, Shuuya.

Gomennasai: Maaf.

Seito Kaichou: ketua OSIS

Omedettou: Selamat.

Dou iu koto?: Apa maksudmu?

D-demo, omaetachi wa, chotto matte!: Tapi, kalian, tunggu sebentar!

baka Shuuya!: Shuuya bodoh!

Bakatte iu na, Tsubomi-chan. : Jangan memanggilku bodoh, Tsubomi-chan.

Oh ya, request pairing juga masih dibuka lho, readers!