Maaf lama. waktu mau post nya gak bisa, terus selanjutnya aku udah mulai UAS. Ini chapter 3 nya. Enjoy :D
Hermione hampir mati dimangsa para ular kalau Draco tak kunjung datang. Sungguh mengenaskan bisa sampai masuk ke sarang ular tanpa ada persiapan matang sebelumnya. Belum lagi sekarang Hermione harus berhadapan dengan Draco yang 100 kali terlihat lebih buas. Matanya berkilat marah, nafasnya berat penuh penekanan berusaha untuk menahan agar tak mengoyak Hermione saat itu juga.
"Apa liat-liat huh?"
Hermione tersentak, ia menggeleng. "Kau terlihat berantakan?"
Bukan pernyataan malah pertanyaan yang keluar dari mulut Hermione. Hermione jujur agak takut, tapi berusaha untuk dipendam rasa takutnya. Sedikitpun ia tak boleh terlihat takut.
Draco benar-benar terlihat kacau, masih dengan kemaja Hogwartsnya yang sudah keluar, dua kancingnya terbuka, dan lengan kemeja yang dilipat dua kali tapi tak beraturan. Rambutnya yang biasanya rapi sekarang sudah acak-acakan. Meskipun dasarnya terlihat tambah cool atau bahkan hot (?). Tapi tetap dengan tampang yang sekarang semua pasti bergidik ngeri, benar-benar seperti orang yang ingin meremukkan semua tulang yang ada di hadapannya.
Draco menelangkupkan talapak tangannya ke wajah. Tak habis pikir ini baru hari pertama masuk setelah masa libur yang panjangnya bukan main, dan dia harus dihadapkan pada kondisi yang memuakkan.
Pertama dia kesakitan luar biasa saat makan malam tadi. Kedua semua orang di asrama Slytherin yang sudah diperingatkan untuk tak menggangu atau bahkan tak diijinkan membuat kegaduhan malah membuat keributan luar biasa, yang membuatnya naik pitam sampai ke ubun-ubun. Mereka berani tak mengindahkan ancamannya. Sungguh hari ini Draco berusaha menahan sakitnya yang sedari tadi muncul dan dia tidak ingin ada seorangpun membuat sedikit saja kegaduhan.
Dan yang paling mengejutkan adalah datangnya Hermione ke asrama Slytherin dengan entengnya. Hermione, ya gadis bodoh yang mau masuk ke asrama para ular licik penuh bisa. Sendiri.
"Bukan urusanmu. Kau sendiri sama terlihat berantakan, Grange" Draco berkata masih dengan tangan yang tertelangkup di wajahnya.
Sejak tadi di asrama Slytherin sampai sekarang raut khawatir dan takut di wajah Hermione memang masih setia terpatri. Membayangkan kejadian saat sedang terpojok sungguh mengerikan.
Hermione tak menjawab perkataan Draco. Hanya ada suara tarikan dan hembusan napas yang panjang.
Alis Draco terangkat satu "Kenapa?"
"Apanya yang kenapa?"
"Oh, Granger liburan membuatmu tambah kehilangan logika kah? Tentusaja kenapa kau menarik napas panjang bodoh"
Hermione mendengus. Bisa-bisanya ada yang menyebutnya bodoh secara terang-terangan. "Oh, kuanggap itu suatu bentuk ucapan rindu, Malfoy. Aku tak apa"
Dan sekali lagi tarikan napas berat terdengar dari hidung Hermione.
"Tak ada yang tak apa. Apa yang mereka lakukan padamu?"
Hermione memandang Draco binggung lalu menggeleng. Sepintas Draco seperti seorang teman yang care, tapi kalau didengar dari nada bicaranya ini jauh dari kata care. Nada bicaranya seperti campuran antara menuntut dan marah dengan dibumbuhi tatapan yang menusuk.
Dinginnya malam terasa semakin dingin menusuk ke tiap jengkal kulit Hermione. Tatapan mata Draco yang berkilat penuh amarah seakan membekukan udara sekitar. Belum lagi ini adalah koridor yang ada di bawah tanah, udaranya sedikit basah tak terjamah sinar matahari. Bau khas bebatuan dari dinding batu semakin tercium sedikit seperti batu dan tanah yang lembab tapi segar. Tiba-tiba Hermione tersentak dengan adanya jari yang merengut dagunya, menarik paksa arah pandangan Hermione kearah mata kelabu Draco. Hermione mencoba mengalihkan pandangannya ke obor yang ada di pojok, ia sedikit begidik dengan Draco yang sekarang. Draco yang temperamental, meledak-ledak, dan tatapan mata yang mengoyak.
"Aku bicara padamu. Apa yang Theo dan yang lain lakukan padamu?" Desis nada Draco terdengar menuntut.
Draco tak pernah suka diabaikan. Malfoy tak pernah diabaikan.
Hermione menatap Draco. Menatap mata Draco dengan tajam mencoba melawan, Hermione merasa sudah kelewat batas dipojokan oleh semua Slytherin. Dan ia tak akan membiarkan seseorang mengintimidasinya sekali lagi. Mencoba mengumpulakan keberaniannya Hermione menjauhkan dagunya dari jemari Draco.
"Kau berbicara seolah kau peduli. Huh? Bodoh. Teman-teman brengsekmu hampir menjadikanku makanan penutup yang menggugah. Menyerang padahal aku disini diutus. Meneriakiku layaknya sampah, dan kau tau apa yang mereka lakukan? Mereka, - Nott hampir…"
Hermione berhenti bicara, dia bergidik ngeri mengingat apa yang akan Theodore Nott lakukan waktu itu. Theo yang memojokkan sampai tak berkutik, hampir saja menciumnya, dan entah apalagi yang akan dilakukan kalau saja Draco tak datang waktu sedikit bergetar. Matanya panas, tak pernah ada yang bertindak hampir menyetuhnya.
Ini merupakan ketakutan pertama yang tak jauh lebih mengerikannya seperti saat perang melawan Voldemort. Hermione mengumpulkan rasa beraninya sekali lagi,
"Kau tau Nott hampir menyentuhku!" Hermione menatap Draco tajam, marah. Ia tertawa sinis pada Draco "Dan kau datang diwaktu yang tepat. Terimakasih"
Hermione menekan pada kata terakhirnya. Mencemooh Draco, atau mungkin pada kecerobohan dirinya sendiri. Draco menatap Hermione lama entah apa itu artinya, Hermione tak tahu tatapannya sedikit aneh. Hermione tak akan pernah mau tahu apa yang ada di diri Malfoy muda ini. Belum lagi tiba-tiba seringainya muncul. Seringai paling memuakkan yang pernah ada. Tapi malah dianggap seringai yang meluluhkan hati wanita.
'Bocah brengsek! disaat seperti ini malah menyerigai. Ku bunuh kau' Batin Hermione.
"Well aku datang disaat yang tepat ya. Kau berutang budi padaku kalau begitu semak belukar"
Sontak mata Hermione terbelalak. "Apa-apaan ini. Aku sama sekali tak sudi berhutang budi padamu. Ini semua salahmu ferret!"
"Kau yang salah. Sapa suruh masuk ke sana, dasar idiot" Draco menatap Hermione dengan penuh cemooh. Kemarahannya sudah mulai surut.
"Aku tak idiot. Kau yang autis! kau kira aku mau masuk kesana? Kalau Prof. McGonagall tak memaksaku tak akan pernah aku mau menjejakkan kakiku seincipun kesana. Dasar kau ferret bodohhh"
Muka Hermione sudah merah bercampur antara marah dan kesal karena Draco sedari tadi mengolokinya dengan sebutan bodoh dan idiot. Tak ada yang berani bicara seperti itu pada Hermione kecuali musang pirang yang satu ini. Draco memang termasuk jajaran siswa pintar yang disandingkan dengan Hermione. Tapi tetap saja Hermione tak pernah kalah dari Draco. Ah, pernah kalah sebenarnya saat ramuan, terbang dan quiditch.
"Sudah aku mau pergi. Aku sudah menjengukmu. Jangan lupa besok kita harus menemui Prof. McGonagall"
"Terserah aku tak peduli" Jawab Draco singkat dan sukses membuat Hermione mendelik.
"Apa yang tak kau pedulikan? Kau harus peduli. Ini tugas ketua murid pirang!"
"Yeah, yeah. Enyahlah sekarang juga rambut semak"
Hermione tak menjawab ia hanya mendengus dan berjalan cepat meninggalkan koridor bawah tanah itu. Draco tertawa seakan mendapat hiburan dari sebuah tontonan komedi. Yah, itulah Draco seseorang yang selalu merasa puas dan senang disaat seseorang yang lain muak atas sikapnya.
/\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\
Segarnya udara pagi di musim gugur megawali aktivitas semua penghuni Hogwarts. Dingin, sejuk dan menenangkan. Pagi ini jam pelajaran pertama dikosongkan untuk persiapan dan pembenahan jadwal. Semua murid sudah berada di aula besar untuk sarapan. Masih terdengar diantara mereka yang saling tukar cerita selama liburan kemarin. Saling menyapa, berpelukan rindu menjadi tontonan yang lumrah.
Harry, Ron, dan Hermione mendapat banyak perhatian dan sapaan. Terlebih lagi dari mereka yang baru masuk ajaran tahun ini. Mereka menatap kagum kearah Harry, Ron dan Hermione sang Our Hero. Tak jarang dari mereka yang menatap terkagum-kagum dan cengo. Untuk ukuran bocah kelas pertama tentusaja Harry, Ron dan Hermione menjadi pahlawan idolanya. Pahlawan yang telah berhasil menumpas kejahatan.
"Whoa! Liat tatapan mereka, mungkin aku akan menjadi terkenal saat ini juga" Senyuman lebar dan mata berbinar Ron terpampang di mimiknya..
Hermione dan Harry tertawa melihat ekspresi Ron.
"Yah, tentu. Kau akan jadi bintangnya Ron"
"Mereka pasti menggilaimu saat ini. Mungkin akan ada yang minta tanda tanganmu" Hermione ikut mendukung Harry
Dari meja makan Gryffindor paling pojok tempat dimana murid kelas satu berkumpul sambil memandangi Golden Trio dan berbisik-bisik kagum. Ada beberapa dari yang berusaha mendekati tapi masih malu. Dengan entengnya Ron melambai bak seorang pangeran pada rakyat kecilnya. Senyumnya yang lebar membuat gadis-gadis disana bergetar dan tak mengeluarkan suara.
"Oh ayolah kau tak berniat mengajak kencan salah satu dari mereka kan" Hermione mentap jijik melihat kelakuan Ron.
"Ah kau cemburu ya, Mione? aku hanya menikmati saat-saat indah ini saja"
Raut muka Hermione bertambah jijik, ia memutar bola matanya dan tak mengurusi lagi Ron yang sekarang sedang asik dikerubuti pengemarnya.
Benar saja seperti yang dikatakan Hermione ada yang minta tanda tangan pada Ron. Tak jarang mereka memotret Ron. Harry dan Hermione hanya tersenyum pada mereka murid murid kelas satu lalu mengacuhkannya. Maka dari itulah lebih banyak yang mengerubungi Ron yang lebih memberi respon positif dan sesekali bercerita tentang petualangannya. Mereka mendengarkan seksama apa yang diceritakan Ron.
"Kalian harus tau horcrux itu berpengaruh kuat pada mereka yang bisa menghancurkannya. Dan horcrux ketiga yang aku hancurkan itu bla bla bla…."
Ron bercerita panjang lebar pada mereka yang mengerubing Ron. Kilatan mata berbinar dan kagum dari murid kelas satu tak terbendung.
"Mione ada yang menatapmu tajam dan seperti marah dibelakang" Harry sedikit berbisik pada Hermione.
Hermione berbalik menatap kabelakang. Hermione tau pasti yang menatap tajam di belakang adalah murid Slytherin musuh bebuyutannya. Hermione langsung mengarahkan pandangannya ke partner ketua muridnya. Tapi dugaan Hermione salah, yang ditatap tak menatapnya. Darco yang ditatap masih asik berbincang dengan Blaise sambil kadang tertawa.
Hermione menatap Harry bingung. Memang siapa lagi yang berani menatap tajam kearahnya selain musuh bebuyutannya Draco Malfoy?
"Siapa Harry? Aku tak melihat Malfoy menatapku"
"Bukan Malfoy, Mione. Lima meja di sebelah kiri Malfoy"
Hermione langsung berbalik lagi dan mencari siapa yang sedang menatapnya. Hah benar saja ada yang menatap Hermione dengan tatapan tajam dan penuh amarah, dan orang-orang disekitarnya menyerigai saat melihat Hermione. Hermione menatap tajam kearah mereka mengisyaratkan kalau ia tak takut.
Hermione langsung beranjak dari kursinya. Tapi ditahan oleh Harry.
"Mau kemana? Kenapa mereka menatapmu seperti itu? Sepertinya kita sedang tak ada masalah dengan mereka"
"Aku lupa sekarang aku harus ke ruangan Prof. McGonagall, Harry. Nanti saja aku beri tahu."
Hermione langsung beranjak dari kursinya. Dan menuju meja Slytherin. Dia tak memedulikan tatapan para siswa Slytherin. Terlwbih lagi seseorang yang sedang menatapnya dengan tatapan marah. Hermione langsung menuju kea rah Draco.
Draco mengangkat wajahnya melihat ada yang datang kearahnya.
"Kita harus menemui Prof. McGonagall sekarang, Malfoy"
Draco tak menjawab tapi langsung berdiri mengikuti Hermione. Hermione sempat menoleh pada pemuda yang sedari tadi menatapnya tajam, pemuda itu seperti mau meledak. Hermione tak mengubrisnya ia langsung beranjak ke ruangan kepala sekolah.
Di ruang kepala sekolah Prof. McGonagall memberi tahu semua tugas-tugas ketua murid dan password semua ruangan kecuali beberapa ruang rahasia. Prof. McGonagall juga memberi password asrama ketua murid yang nantinya akan ditempati Draco dan Hermione. Beberapa kali Prof. McGonagall mewanti-wanti agar Draco dan Hermione bisa menjadi partner yang baik dan tak membuat keributan seperti yang sering terjadi atau bahkan saling melempar kutukan. Hermione dan Draco sama-sama mengiyakan hal itu dengan terpaksa dan tak yakin.
Kalian para reader adakah yang bertanya kenapa Draco dan Hermione disatukan dalam ikatan ketua murid? Hah banyak jawabannya.
Karena ini termasuk amanat dari alm Prof. Dumbledore. Prof Dumledore sudah jauh-jauh hari membuat keputusan ini. Ini adalah salah satu pilihan yang diambil untuk menyatukan seluruh asrama di Hogwarts. Khususnya asrama Gryffindor dan Slytherin yang dari zaman ke zaman tak pernah surut dari permusuhan dan saling menjatuhkan.
Draco dan Hermione termasuk jajaran siswa pintar Hogwarts. Meskipun kepribadian mereka yang bertolak belakang. Draco yang tak teratur dan suka merendahkan setidaknya bisa diseimbangkan dengan Hermione yang tegas dan disiplin.
Draco dipilih karena semua murid dari Slytherin menggap Draco sebagai sosok paling disanjung di Slytherin dan jika Draco bisa berdamai dengan Hermione maka tak dapat dipungkiri para Slytherin bisa saja ikut berdamai.
Hermione dan Draco sama-sama tangguhnya. Dan itu memastikan kalau yang lain bisa tunduk di bawah pengaruhnya.
Masih banyak lagi mungkin….
Selepas bertemu dengan Prof McGonagall Draco langsung berjalan didepan Hermione. "Pastikan kau tak membuaku muak, Granger"
"Aku yang seharusnya berkata seperti itu Malfoy!" Jawab Hermione acuh dan mempercepat langkahnya mendahului Draco.
"Whoa mulai mengclaim kata-kataku, Granger?" Draco menambah kecapatannya dan mensejajarkan dirinya dengan Hermione. Tak lupa tambahkan serigai khas Malfoy pada bagian ini.
Hermione tak menggubris Draco. Dia terus berjalan kearah aula besar, begitu pula Draco. Mereka setidaknya ingin menyelesaikan acara sarapan yang sedikit terganggu. Untuk pagi ini banyak murid yang menghabiskan waktu di aula besar masih dengan bergosip dan melepas rindu sampai jam pertama. Semua guru sudah tak ada di aula besar, mereka sudah mulai mempersiapkan semua untuk pembelajaran yang akan dimulai nanti jam kedua.
Mereka berpisah dipintu aula besar. Semua mata terus saja memangdang Hermione dan Draco. Mereka tak melepas pandangan mereka, mungkin saja akan ada duel atau rampal-merampal mantra antara yang bisa terlewatkan. Tapi tak ada.
Hermione merasa risih dengan semua orang yang memandang "Jauh-jauhlah dariku, Malfoy"
"Oh, kenapa aku harus jauh-jauh darimu? Aku masih merindukanmu partnerku" Draco memasang muka manis yang dibut-buat, membuat Hermione menatapnya jijik. Seringai Draco langsung muncul kemudian. Dan malah tambah mendekatkan diri ke Hermione.
Sontak semua siswi cewek yang ada di aula besar berbisik-bisik. Ribut melihat Draco yang dekat-dekat dengan Hermione.
Sedetik kemudian tatapan jijik Hermione berubah. Menjadi senyuman paling manis yang ia punya. Sampai-sampai Draco berhenti sejenak dari segala aktivitasnya. Menatap Hermione yang tersenyum manis, tapi hanya sejenak, senejak kemudian dia sudah kembali ke wajahnya yang luar biasa menyebalkannya.
"Kau merindukanku Malfoy? Oh manis sekali" Hermione menatap Draco dengan tatapan manisnya. Membuat Draco sedikit bergidik dan memandang dengan tatapan kau-pasti-sakit.
"Mau pelukan hangat dan kecupan rindu Malfoy?" Lanjut Hermione masih dengan nada yang lembut dan manis. Yang malah membuat Draco semakin tertekan. Hermione yang manis lebih terlihat menakutkan dimata Draco, yang sebelumnya selalu melihat Hermione yang meledak-ledak.
"Kau bercanda Granger" Draco mulai menjauhi Hermione.
Hermione malah mendekati Draco yang menjauh. Semua mata terus memandang Draco dan Hermione, bahkan terheran-heran dengan semua yang Hermione lakukan. Mata-mata itu tak pernah melapas pandanganya dari arah pasangan ketua murid itu.
"Tentu tidak, kau sendiri yang bilang kau merindukanku Malfoy" Hermione masih mendekat dan terus mendekat.
"Berhenti Granger. Sikapmu yang manis didepan ini membuatku bergidik ngeri"
"Oh ayolah kau merindukanku tadi. Aku hanya ingin membalas dengan pelukan hangat atau.. kecupan mungkin"
Semua yang ada di aula besar sontak melongo sejadi-jadinya. Well seorang Hermione Granger yang terkenal dengan kejudesannya terhadap laki-laki bisa menggoda laki-laki. Terlebih lagi yang digoda seorang Malfoy. Draco sama-sama melongonya, ini sungguh mengerikan melihat musuhmu merubah wajah menjadi sangat manis dan terlihat cantik menggoda. Tentu sangat mengerikan mungkin saja di baliknya Hermione sedang mencari cara untuk merampalkan mantra barunya, atau menggunakan Draco sebagai bahan percobaan avadanya.
Hermione tak pernah sekalipun bersikap manis ke Draco. Tentusaja ini membuat Draco bingung harus berbuat apa. Draco yang biasa akan meledek Hermione, dan Hermione yang biasa akan memaki-makinya sambil menahan semua amarahnya. Bukan seperti sekarang. Ini malah terlihat lebih buruk dari Pansy. Bukan karena Hermione tak bisa disandingkan dengan Pansy. Justru jauh lebih baik telak bahkan Hermione dari Pansy. Tapi kalau yang melakukan ini semua adalah seoarang Hermione Ganger ini sungguh terlihat menakutkan. Mengingat segala kebruntalan Hermione yang mampu meledakkan Hogwarts ini malah menjadi tekanan bagi Draco.
Hermione merentangkan tangannya hendak memeluk Draco
"STOP Granger kau menakutiku!"
Suara Draco menghentikan langkah Hermione yang hendak memeluknya. Hermione berhenti dan raut mukanya berubah. Tak lagi sama seperti yang sebelumnya yang manis. Membuat Draco keheranan.
'Sudah gila ini orang' batin Draco.
Seiring berhentinya langkah Hermione. Semua murid ikut berhenti bernafas sejenak, mereka-reka apa yang akan terjadi selanjutnya.
Ledakan tawa tak terbendung keluara dari mulut Hermione
HUAHAHAHAHAHAHHAHAHAHAHAHAHAHAHAHHAHAHA!
"Ka- kau harus liat mukamu itu Malfoy.. itu .. hahahah itu sangat lucu. Kau seperti kucing yang akan bertemu anjing. Hahahaha wajahmu.. hahaha wajahmu.."
Hermione terus tertawa. Draco tak menggap ini lucu sama sekali ia menatap Heermione tajam dan marah.
Berani-beraninya seorang mungleborn menertawakan seorang Malfoy.
"Berhenti tertawa Granger" Desis suara Draco terdengar sungguh berbahaya. Tapi Hermione masih tertawa terpingkal-pingkal. Air matanya hampir keluar, Hermione memegang perutnya yang sedikit nyeri karena kebanyakan tertawa. Hermione belum menyelesaikan tawanya.
"Kau fikir aku akan benar-benar memelukmu Malfoy? Hahaha kau-.. hahaha kau lucu sekali. Demi Merlin Malfoy ini sangat-sangat lucu hahahaha "
Gema tawa ikut terdengar dari meja Gryffindor. Tentu mereka sangat sependapat dengan Hermione. Tak mungkin seorang Gryffindor akan mau memeluk Slytherin. Mereka tertawa keras bahkan mengolok. Di sisi lain para Slytherin menatap tajam dan jijik kearah Gryffindor dan Hermione. Anak-anak Hefflepuf dan Ravenclaw banyak yang tertawa geli. Kecuali mereka para penggemar Draco. Tentu mereka lebih bersimpati ke sang pujaan hati Draco Malfoy. Ini sungguh sangat hiburan untuk mengawali tahun ajaran baru di Hogwarts.
Hermione yang masih dengan tawa tapi berusaha ditahan karena melihat muka Draco sudah sangat kesal, langsung berbalik hendak meninggalkan Draco. Takut-takut kalau dia masih disini dan tertawa Draco bisa saja langsung meng-avada Hermione. Hermione terus menahan tawanya dan mengisyaratkan teman-temannya di Gryffindor untuk berhenti tertawa. Menyuruh teman-temannya untuk diam. Baru satu langkah meninggalkan Draco tiba-tiba ada tangan yang menggenggam tangan Hermione dengan keras. Menarik tangan Hermione kearah sang empunya. Hermione tersadar langsung berhenti tertawa. Dan kini Hermione menatap seseorang yang menariknya tadi.
Mata kelabu itu benar-benar marah. Tangan Draco meremas tangan Hermione keras. Hermione berusaha melepaskannya. Tapi genggaman Draco malah semakin keras. Matanya seolah membekukan semua yang ada disekitar.
"Kau selalu membuatku marah Granger!" Desis Draco tajam.
"Kau yang duluan Malfoy, aku hanya mengikuti permainanmu" Balas Hermione sama mendesisnya. Semua kata yang diucapkan penuh penekanan.
Atmosfer perang mualai terasa disekitar. Tak ada yang berani menghentikan. Karena baru saja seorang prefek kelas tujuh Ravenclaw mendapat tatapan membunuh dari Draco karena hendak melerai.
"Ah kau mau main-main rupanya. Kau sudah mempermalukanku Hermione Jean Granger" Tak dapat dipungkiri semakin lama suara Draco semakin terdengar berbahaya.
"Aku tak peduli. Kau yang duluan Draco Lucius Malfoy, Kenapa? Merasa kalah oleh seorang mungleborn. Ouch terdengar menjijikkan. Bagaimana kalau aku kirimkan artikel tentang ini semua ke Daily Prophet. Ehmm Sang pewaris tahtah Malfoy dikalahkan oleh seorang mungleborn. Itu akan sangat menarik."
Hermione menarik tanganya dengan keras. Alih-alih terlepas genggaman tangan Draco malah semakin keras. Membuat Hermione sedikit meringis kesakitan. Mendegar jawaban dari Hermione malah semakin membuat amarahnya naik.
"Lepas! Sakit bodoh!"
"Tak akan ku lepas, sebelum ini semua terbayar"
HERMIONE POV
"Apa maksudmu?" Tanya Hermione.
Memangnya apanya yang harus dibayar? Bukankah ini impas. Dia yang memulai dan aku yang mengakhiri, kenapa ada acara bayar-dibayar segala. Dasar Malfoy tak pernah mau kalah.
Detik berikutnya sungguh tak diduga. Draco mendekat kearah Hermione.
"Apa yang kau lakukan jangan dekat-dekat, atau aku akan-…"
Kalimat Hermione terpotong. Secara tiba-tiba Draco sudah merengkuh bibir Hermione. Melumatnya dalam-dalam. Mata Hermione terbelalak syok, sengatan listrik menjalari tubuhnya. Ini salah! Draco terus melumat bibirnya, meminta balasan. Mata Draco terpejam tak memedulikan semua yang ada disekitarnya. Sungguh rasa marah dan kesal tergambar disini.
Hermione mendorong tubuh Draco dengan tangannya yang bebas, berusaha melepaskan diri. Tapi tak bisa Draco malah melingkarkan tangannya di pinggang Hermione dan menarik tubuhnya untuk lebih dekat. Hermione melirik kearah teman-temannya untuk meminta bantuan.
Tapi apalah daya teman-temannya yang akan membantu malah dihadang oleh murid-murid Slytherin. Ron dan Harry terus berontak melawan tapi sayang tak bisa. Murid-murid Slytherin benar-benar mengunci murid Gryffindor. Hermione hanya bisa terus berontak. Tangannya memukul dada draco, yang dipukul tak bergeming. Mendorong tubuh Draco juga tak memberi efek ke pemuda ini. Hermione menjauhkan badannya dari Draco. Draco malah semakin menarik Hermione mendekat kearah tubuhnya. Melumat bibir ranum Hermione, genggaman tangan Draco masih mengeras menadakan dia masih benar-benar kesal pada Hermione. Hermione benar-benar kehabisan tenaga, ia mencoba memalingkan wajahnya menjauhi Draco. Bibirnya bisa terlepas dari Draco.
"Ini balasan untukmu Granger karena kau sudah mempermalukanku, dan aku belum selesai."
Bibir Draco kembali menarik bibir Hermione, melumatnya keras dan marah. Terlebih karena Hermione mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Semakin marah Draco semakin ia terus mencoba melumatnya kasar mengisapnya dalam-dalam, sampai akhirnya bisa mendapatkan bibir Hermione.
Semua murid Slytherin tertawa mengejek karena Draco berhasil mengalahkan dan balik mempermalukan Hermione. Meskipun sebagian dari mereka bertanya-tanya.
Hermione tak berkutik lagi, Draco masih menikmati bibir Hermione. Merasakan lembutnya bibir itu. Sebulir air mata jatuh dari mata Hermione. Draco langsung melepaskan ciumanya.
Napasnya sedikit tersenggal-sengal. Ia menatap Hermione dalam-dalam. Genggaman tangan Draco merenggang. Hermione langsung menarik tangannya dari Draco. Hermione mengusap air matanya kasar tak mau terlihat lemah.
"Brengsek kau, Malfoy" Satu tamparan terlepas mengenai pipi menarik tubuhnya untuk lebih dekat. asan. du. itahan karena melihat
. Draco tak bergeming.
How? Makasi ya yang udah review jadi merasa ada yang nunggu ceritanya, ngak kacang. Aku seneng huahaha :D Terimakasih banyak! Drakie poo, safira assyifas, Fadila malfoy, VicaJoy1, Hikari Rhechen, delphinus malfoy. Kalian yang bikin aku ngelanjutin.
Buat Drakie dan Dee hehe masalah sakitnya Draco ada kaitannya sama chapter-chapter selanjutnya. Nanti diceritain kok, ditunggu ya
Buat Hikari makasih idenya keren! boleh :D
untuk Typo saya minta maaf huehehe udah dicek tapi masih aja ada yang typo maaf ya kawan. Tunggu chapter selanjutnya :D Byeeeee...
