Maaf lama idenya kesandet belum lagi rebutan laptop. Ini chapter 4 enjoy!


Hell apa-apaan itu tadi? Draco masih bingung dengan semua kejadian yang berkelebat di otaknya. Memutar semua kejadian yang baru saja terjadi. Yang dia ingat adalah Hermione yang terus menyudutkannya dengan semua sikap manis yang diberikan, lalu dia dipermalukan didepan seluruh murid yang ada di Aula besar. Sampai saatnya Draco mengingat dirinya yang sangat emosi karena dipermalukan oleh Hermione, dan diluar nalar Draco membalas Hermione dengan tindakan yang paling mengerikan sepanjang hidupnya. Tak pernah terpikir sebelumnya. Dia mengingat bahwa dirinya telah mencium Hermione. Mencium paksa Hermione didepan seluruh murid Hogwarts.

Pening menghinggapi kepala Draco yang berusaha mencerna semua kejadian yang telah terjadi. Belum lagi pipinya berdeyut akibat tamparan yang diterimanya dari Hermione. Masih ada rasa marah yang menghinggapinya, dan ada perasaan lain yang aneh campuran antara kesal, puas dan…. Khawatir? Hah semakin lama waktu berjalan rasanya semakin melilit pula perut Draco.

"Pertunjukan yang menarik Drake" Seringai lebar menghiasi wajah Blaise. Murid Slytherin yang lain juga sama girangnya seperti Blaise. Setidaknya mereka sepaham untuk apa yang telah dilakukan Draco. Membalas siapa yang membuat ulah.

Darco keluar dari lamunannya matanya menatap dingin kearah pemuda yang baru saja angkat suara tadi. Belum sempat Draco mengeluarkan sepatah kata dia sudah diterjang dua pemuda yang mengamuk.

Harry dan Ron yang sedari tadi berontak benar-benar mengamuk sekarang, meronta keluar dari cengkraman murid Slytherin dan langsung melesat ke Draco. Ron benar-benar masak sekarang mukanya merah menyala sampai ke cuping telinga.

"Apa-apaan kau ferret!" Tongkat Ron sudah teracung ke arah Draco.

"Berlagak jagoan sekarang, Weasley? Ini semua salah teman kecilmu"

"Diam! Ini jelas-jelas salahmu Malfoy" Ron mengeram menarik tongkat yang ada di sakunya, hendak mengeluarkan kutukan yang sudah menari-nari dipikirannya.

Tangan Ron benar-benar sudah gatal untuk melambaikan tongkatnya seirama dengan mantra. Sedangkan Draco sendiri tak mengakat tongkatnya. Seolah malas meladeni bocah tempramen seperti Ron.

Harry mencegah sebelum ada mantra yang terlontarkan. Setidaknya Harry masih waras untuk tidak melanjutkan perkelahian ini atau akan ada hal yang lebih buruk akan terjadi.

"Berhentilah ,Ron. Jangan diladeni kita cari Hermione"

Tapi menenangkan Ron yang sudah meledak seperti sekarang ini sangat sulit. Kalau sudah marah Ron tak mau mendengarkan siapapun yang tak sepihak denganya. Baik dari kubu Slytherin maupun Gryffindor sama-sama tak mau mengalah. Sama-sama mata saling mendelik menantang satu sama lain. Sedangkan tangan Ron yang mengacungkan tongkat sudah benar-benar gatal untuk digerakkan.

"VERA VER-.."

Belum sempat mantra Ron selesai diucapkan sudah muncul penghalang transparan yang menghalanginnya. Menegahi antara Ron dan Draco, hidung Ron bahkan terantuk penghalang tersebut. Mata Ron langsung berkilat tajam kearah orang yang tadi mengucapkan mantra pelindung Protego.

"Ginny! Kenapa kau halangi? Gagal sudah mengutuk idiot ini"

"Kau kira ini apa RONALDDD!" Teriak Ginny yang sekarang wajahnya sama merahnya seperti Ron.

"Kita baru mulai tahun ajaran baru, kau tak lihat anak kelas satu semua ketakutan! melihat kakak kelasnya yang bertindak konyol seperti sekarang seolah dia berandalan main kutuk sana kutuk sini"

Benar saja sekarang anak kelas satu merapat satu sama lain dan ada yang bergetar melihat kakak-kakak kelasnya yang memasang wajah saling membunuh. Bahkan beberapa hampir menangis. Takut kalau ini bisa jadi perang ke dua setelah Voldemort binasah.

Tak memberikan jeda yang lama untuk Ron membalas sekarang mata Ginny beralih ke Draco.

"Dan kau Malfoy! Kau ini ketua murid sekarang, tapi kelakuanmu.."

Belum selesai Ginny bicara Draco memotongnya, merasa sedang diingatkan sesuatu oleh perkataan Ginny yang barusan. Seringainya melebar menghiasi wajahnya. "Ah iya aku ketua murid berarti detensi untuk…"

"Apa kau mau mendetensi siapa huh? Bagaimana bisa Prof. McGonagall menjadikanmu ketua murid? Ini gila" Sangkal Ron

"Oh, ayolah Weasley berikan sedikit kesopananmu kepada ketua murid, mungkin detensimu akan lebih kupersulit kalau kau begini" Seringainya masih belum lepas, nada bicara Draco terdengar sangat halus. Ada kilatan geli di matanya.

"FERRET PIRANG BUSUK BEDEBAH"

"Kau semakin mempersulit dirimu sendiri bodoh" Desis Draco.

Ron dan Draco terus saling melempar argumentasinya. Saling mengumpati satu sama lain. Teriakan Ron yang menggelegar dan nada dingin dari Draco membuat anak-anak kelas satu tambah menciut ke dinding aula. Saling merapatkan diri seakan kalau mereka memisahkan diri mereka bisa jadi santapan Draco dan Ron.

Ruang aula besar searasa tambah dingin depenuhi oleh aura saling membunuh. Murid dari asrama Hufflefpuff dan Ravenclaw tak berani ambil bagian pada pertengkaran ini, apalagi ini menyangkut masalah sang ketua murid pria. Kalau saja ada yang berani pastilah salah satu dari mereka bisa dikuliti oleh murid Slytherin.

Ginny sudah benar-benar muak mendengar semua celotehan bodoh Draco dan Ron, sebisa mungkin dia menjaga agar tangannya yang mengangkat tongkat tak memunculkan mantra yang berbahaya. Harry hanya menenangkan Ginny lewat pandangan kendalikan-dirimu-Ginny-mereka-memang-konyol-gila-idiot. Tangan Harry masih menahan Ron agar tak terlepas sehingga bisa menerjang Draco kapan saja. Susah benar menahan Ron yang badannya sebegitu gedenya lebih gede daripada Harry sendiri.

"Kau kira lucu mencium Hermione di Aula besar? Mulutmu yang kotor menjijikkan itu tak layak pakai untuk mencium Hermione" Auman Ron masih saja memenuhi Aula besar.

"Kurasa tadi banyak yang tertawa, Weasel jadi bisa disimpulkan kalau itu lucu. Ada kalanya kemampuan analisis diperlukan, mulutku jelas lebih berharga ratusan kali dari pada mulutmu" Balas Draco.

"Aku bwnar-benar muak denganmu" Tongkat Ron kembali teracung ke Draco.

"LANGLOCK!" Teriak Ginny.

Tak tahan sudah Ginny melihat tingkah bodoh di depannya. Langsung saja, Ron dan Draco tak bisa bicara sekarang. Lidahnya terkunci di langit-langit mulut. Tak dapat mengeluarkan satu patah kata, hanya bisa mengatup-katupkan bibir atas dan bawah saja. Sama seperti ikan yang sedang bernapas di air, bibirnya hanya bisa membuka setidaknya tiga senti itupun kalau dipaksa. Gigi mereka bahkan tak bergerak. Mata Draco dan Ron mendelik kearah Ginny.

"Hah diam juga mulut wanitamu itu sekarang" Cibir Ginny sambil menyerigai puas pada Draco dan Ron.

Kikikan geli terdengar di segala penjuru ruangan, mendengar cibiran Ginny. Sayang duo kembar Weasley sudah tak ada (George sudah lulus dan Fred gugur) kalau mereka masih di Hogwarts pastilah semakin ramai pagi ini. Entah itu dengan melempar peluru bau ke murid Slytherin atau memeriahkan dengan kembang api filibuster yang menari-nari atau malah membuat suara memantul balik dengan mantra andalan mereka sehingga suara akan terdengan dua kali lebih banyak menambah seru perdebatan tadi.

"Sekarang berhenti bersikap bodoh, dan kalian juga –-menunjuk murid Slytherin dan Gryffindor yang saling pandang dengan sengit—- hentikan ini semua sebelum ada Profesor yang datang. 20 menit lagi jam pelajaran dimulai!" Titah Ginny pada semua murid, matanya menyipit. Memberi kesan bahwa pesan ini harus sampai kepada semua orang.

Murid Ravenclaw dan Hufflefpuff yang dari tadi sebagai penonton perseteruan Gryffindor dan Slytherin sama bergidiknya mendengar perintah Ginny. Tak kalah menyeramkan ekspresi Ginny dengan Prof. McGonagall.

Ginny buru-buru keluar dari aula besar. Ron langsung kelimpungan melihat adiknya yang murka dan meninggalkannya. Tapi bahu Ron masih ditahan Harry. Ron hanya bisa berisyarat pada Harry tangannya menunjuk mulutnya kemudian Ginny, dia membuat isyarat menggerakkan tangannya berbentuk seperti mulut yang sedang bicara.

Harry nyengir minta maaf, baru teringat kalau temannya ini masih dibawah pengaruh pengunci lidah dari Ginny. Harry melepaskan Ron yang langsung disambut Ron dengan berlari kea rah Ginny, diikuti Draco. Ron berhenti menatap pemuda yang mengikutinya berlari. Matanya menatap tajam ke Draco tangannya menunjuk bahu Draco dan mengusirnya dengan kibasan tangan. Mulutnya terkatup-katup dan berkedut seperti ikan kepayahan tak ada suara yang keluar. Malah yang keluar seperti suara tikut mencicit.

Draco ikut berhenti dan memutar bola matanya bosan. Mereka berdebat kembali tapi kali ini tak ada suara yang keluar. Jari Draco menunjuk-nunjuk mulutnya dan mulut Ron lalu menunjuk kearah dimana Ginny pergi. Membuat isyarat-isyarat yang tak di menegerti Ron. Tangannya menunjuk sana tunjuk sini, dan kadang membuat symbol-simbol.

Ron tangannya menunjuk Draco, memanggut-manggutkan kepalanya dengan senyum lebar tapi giginya terkatup rapat, matanya memancarkan kegelian. Ini adalah Ron yang sedang tertawa melihat tingkah bodoh Draco, tapi dimata Draco ini jauh lebih bodoh seperti orang yang mau tertawa tapi mulutnya tak bisa dibuka dan tak ada suara. Seperti ayam mencucuk seseatu.

Draco menepuk jidatnya geram menunjuk ke arlojinya. Mata Ron langsung mendelik melihat jarum-jarum disana. KURANG 14 MENIT pelajaran ke dua dimulai. Langsung saja mereka berlari kearah yang sama dengan Ginny yang keluar, tapi Ron kemudian berhenti. Draco ikut berhenti menatap Ron dan mengedikkan dagunya seraya berkat 'apa?'

Ron lalu membuat isyarat-isyarat dengan tangannya ditambah dengan kepalannya. Menunjuk kearah lorong yang bencabang lalu mengedikkan bahunya. Draco menangkap pesan yang artinya Ron tak tahu Ginny kearah mana. Lalu Draco mengeluarkan tongkatnya melambaikan tangannya, tapi dia lupa kalau mulutnya terkunci dan tak bisa mengucapkan mantra alhasih gagal sudah untuk menggunakan mantra pencari. Ron mencibir 'bodoh, bodoh!' menunjuk pelipusnya yang di balas dengan tatapan membunuh dari Draco.

Menit demi menit terus berjalan mendekati jam pelajaran ke dua. Ron sudah kepayahan mencicit dari tadi sampai tenggorokannya kering total. Draco mengambil perkamen dan penanya dari tas. Lalu memutuskan untuk menuliskan pesan dari pada membuat isyarat-isyarat tak berguna 'kira-kira Ginny kemana sekarang?'

Ron menyambar pena Draco menuliskan tempat-tampat dimana sekiranya Ginny berada sekarang ini.

'Menara Gryffindor? Tapi kita tak bisa masuk kalau tak bisa mengucapkan kata kunci, atau mungkin perpustakaan, kamar mandi wanita, atau dia sudah di kelas Telaah Rune kuno'

'Tulisanmu jelek Weasel besar-besar mataku sakit membacanya! Satu-satunya tempat masuk akal yang bisa kita masuki sekarang perpustakaan dan kelas Telaah Rune Kuno. Ayo'

Ron mendengus membaca pesan terakhir Draco. Enak saja tulisannya dhina. Tulisan Draco memang rapi dan halus tapi setidaknya tulisannya juga tak kalah rapi cuma besa-besar dan miring-miring menurutnya. Cowok dengan tulisan rapi malah cederung terlihat janggal bagi Ron.

Mereka berdua langsung berlari ke perpustakaan, menyentak dengan pandangan mata garang pada adik kelas yang lewat untuk minggir sejauh-jauhnya dari pandagan. Sampai di perpustakaan napas mereka tersenggal-senggal. Madam Pince menatap mereka dengan curiga

"Tumben ke perpustakaan kalian berdua? Ah, kususnya anda Mr. Weasley kemajuan yang sangat menarik"

Ron mendengus keras tak menjawab perkataan Madam Pince, yang membuat Madam Pince memandang mencela ke Ron. Ron dan Draco langsung melesat ke dalam perpustakaan dan matanya mengembara ke seluruh ruangan, mencari gadis berambur merah.

Di perpustakaan hanya ada setidaknya 7 anak Ravenclaw, 1 anak Hufflefpuff dan 1 anak Gryddindor. Hermione.

Hermione memandang bingung kearah Ron dan marah kearah Draco. Tak biasanya Ron ke perpustakaan saat jam kosong. Biasanya Ron hanya keperpustakaan saat kepepet saja. Belum lagi Ron seperti mencari sesuatu. Dan yang paling janggal adalah Ron ke perpusustakaan bersama Draco Malfoy.

"Ron?" Suaranya kecil, tapi setidaknya yang dipanggil mendengarnya.

Mata Ron langsung melesat ke Hermione ingin menyapanya. Baru membuka mulut sepersekian milimeter mulutnya kembali menutup. Ron baru ingat kalau lidahnya terkunci jadi tak bisa mengeluarkan suara. Melihat Hermione mata Ron langsung melesat garang ke Draco disebelahnya, menyipit marah ke Draco. Ia baru ingat Draco tadi di aula membuat masalah dengan mencium Hermione. Rasanya tanganya berkedut ingin mengambil tongkat untuk menyerang Draco.

Draco yang melihat Hermione hanya bisa menelan ludahnya susah payah. Jelas kalau di sini ada Hermione nyawanya terancam dia tak bisa menggumamkan mantra apapun kalau Hermione menyerang, karena lidahnya terkunci. Belum lagi di sebelahnya ada Ron.

Draco langsung menunjuk mulutnya ke Ron mengingatkan Ron kalau mereka disini mencari Ginny. Bukan waktunya bertengkar setidaknya.

"Kau sedang apa Ron?" Tanya Hermione

Melihat Draco yang menunjuk mulutnya, sambil mendelik membuat Ron kembali ke tujuannya untuk menemukan Ginny. Ron tersenyum ke Hermione dan melambaikan tangannya ke Hermione. Melarikan diri dari pertanyaan yang Hermione.

Hermione menatap penuh kebingungan campur kemarahaan sisa dari aula besar kearah Ron dan Draco yang sekarang sudah berbalik dan keluar perpustakaan sambil berlari.

Ron dan Draco kembali berlari memutar arah ke kelas Telaah Rune kuno. Mempercepat lari mereka karena 8 menit lagi mereka masuk kelas. Secepat kila mereka melewati koridor-koridor dan naik ke latai empat. Berlari menaiki tangga. Napasnya tersenggal karena terus berlari. Dan akhirnya 2 koridor lagi mereka akan sampai di kelas Telaah Rune kuno. Draco langsug menjeblek pintu kelas dengan keras.

Matanya tambah berkilat saat menemukan gadis berambut merah menyala. Belum ada murid lain yang datang di kelas itu, baru ada Ginny yang mukannya masih masam sambil mempersiapkan peralatannya.

Mendengar pintu yang menjeblak Ginny menoleh mendapati Draco yang marah mendatanginya diikuti Ron beberapa langkah dibelakang Draco.

"Mau apa?" Tanya Ginny dengan nada yang terdengar garang.

Draco mengebrak meja Ginny keras membuatnya sedikit terperanjak kaget. Ron yang ada dibelakangkang Draco langsung membogem bahu Draco keras saat melihat Draco mengancam adiknya. Ron menarik Draco mundur menjauhi Ginny, matanya mendelik kearah Draco.

Ron langsung menunjuk mulutnya dan mulut Draco yang masih dibawah kutukan lidah terkunci Ginny. Memintanya untuk melepaskan kutukan itu, membuat kembali isyarat aneh dengan tangannya yang maju mundur memutar.

"Bukankah lebih bagus seperti ini, tenang kalau tak ada suara kalian" kata Ginny santai, menikmati pemandangan dua pemuda yang sedang mengerak-gerakkan tangannya ingin menyampaikan pesan. Tak mau susah-susah menafsirkan gerakan apa itu, Ginny hanya mengangguk bosan.

"Tunggu saja sampai nanti makan malam, suara kalian pasti kembali" Kata Ginny.

Mata Draco dan Ron mendelik. Dan mereka kembali membuat pola aneh dengan tangan mereka mengisyaratkan sesuatu. Yang ditangkap Ginny hanya 'lepaskan kutukan ini' 'Sebentar lagi masuk'

Ginny masih menikmati tontonan didepannya. Menyaksikan Draco yang seorang bangsawan bergerak meliuk-liuk menyampaikan pesan tanpa suara, dengan tampang masam. Beberapa siswa mulai masuk ke kelas Telaah Rune kuno mereka menatap geli ke Draco dan Ron.

Sebagian dari mereka anak Gryffindor dan Ravenclaw. Sisanya hanya beberapa anak Hufflefpuff dan Slytherin.

"Tertawalah tak apa teman-teman. Kurasa jarang melihat seorang bangsawan dan seorang pahlawan yang bertingkah konyol seperti sekarang" Ginny nyengir lebar ke semua anak.

"Well seorang Malfoy agung yang sedang meliuk-liuk butuh didokumentasikan, tunggu sampai ayahmu mendengar ini, pasti akan menarik"

Gemuruh tawa terdengar di seluruh ruangan. Lebih banyak lagi murid yang berdatangan semakin lama. Mata Draco berkilat marah dan ingin mencekik Ginny.

"Oh Hai Malfoy, sedang apa? Berlatih menggunakan bahasa tubuh? Sebentar lagi masuk loh" Kata Luna yang baru saja datang.

Draco makin mencak-mencak disapa Luna Lovegood. Sedangkan tampang Ron sudah merah malu dijadikan bahan tertawaan adiknya sendiri. Ron mengambil bahu Ginny, menunjuk jam tangannya yang sudah mau masuk. Mengguncang-guncang bahu Ginny.

"Baiklah kakakku tersayang aku akan melepaskanmu" Kata Ginny manis sambil megambil tongkatnya dan menggumamkan mantra penangkal lidah terkunci.

Mulut Ron langsung bebas "Harusnya dia saja yang di kunci lidahnya" sambil menunjuk Draco.

Draco menunjuk mulutnya mengisyaratkan agar Ginny melepaskan kutukan lidah terkuncinya juga. Melipat tangannya di dada menunggu.

"Cih masih saja berlagak, Malfoy. Bisa seperti ini?" Kata Ron sambil menggerak kan mulutnya menguap besar-besar. Lidahnya juga ikut digerakkan. Giginya dibuka-tutup sampai terdengar bunyi tuk-tuk-tuk dari gigi Ron. Dan sebagai penutupnya Ron melakukan senam mulut menggabungkan semua gerakan yang tadi sudah dilakukan.

Murid-murid tertawa keras melihat apa yang di lakukan Ron. Sementara Draco mengeras gemas berusaha menjaga emosinya. Draco menarik tangan Ginny yang memegang tongkat menyuruh untuk melepaskan kutukannya.

Tapi tangan Draco ditepis Ron, yang tak membarkan adiknya disentuh barang sedikitpun oleh seorang Malfoy.

"Tak usah mengancam. Kau lebih baik seperti ini. Iya kan Gin?"

"Iya lebih terlihat manis kalau kau diam begini, Malfoy"

Ron menatap jijik ke Ginny, mulutnya menbentuk 'eywh' "Hell kau tak tertarik dengan ferret busuk ini kan?"

"Tenang-tenang dia memang lebih tampan darimu, Ron –Ron mendelik ("Ku adukan Harry kau, Gin")— tapi kau kakakku yang paling tangguh" Ginny kehilangan akal untuk menyangkal.

"Pirang ini kau bilang tampan? Perlu kucuci dulu matamu Gin"

"Tapi memang Malfoy terlihat lebih keren kalau diam. Jangan tersinggung ya Ron. Ginny memang benar kok" Sahut Luna polos. Ron membuka mulutnya utuk bicara, tapi segera di tepi oleh Ginny.

"Berisik sudah sana pergi, sebentarlagi masuk. Kau mengganggu" Ginny mendorong Ron menjauh.

Draco memutar bola matanya bosan melihat pertengkaran saudara didepannya. Draco menarik Ron ke belakang kembali menunjuk arlojinya ke Ginny. Tinggal beberapa detik lagi masuk.

"Benarkan saja sendiri, Malfoy. Kau kan hebat" Cibir Ginny diikuti seringai Ron.

"Tak seharusnya darah murni minta bantuan darah penghianat, iya kan?" Lanjut Ginny santai.

"Gin sudah mau masuk aku pergi dulu. Kutuk saja lagi musang ini" Kata Ron nyelonong pergi keluar kelas.

Ron sudah menghilang keluar dan lama-kelamaan kelas Telaah Rune Kuno sudah semakin banyak yang masuk. Ginny mencoba berpura-pura tak punya masalah dengan Draco. Membuat tampang sepolos mungkin.

Draco yang sudah berang dari tadi, tak bisa menahan amarahnya lebih lama. Sekarang sudah bel masuk (hanya saja Profesor Babbling yang mengajar Telaah Rune Kuno belum datang) dan Draco sudah pasti terlambat masuk kelas. Mata Draco mengancam Ginny menatapnya dengan pesan yang begitu diserap Ginny lepaskan-atau-kau-mati. Rahangnya mengeras, buku-buku jarinya memutih.

Ginny yang juga agak bergidik dengan pandangan itu perutnya melilit, ditambah lagi sekarang sudah masuk. Sangat tidak mungkin nanti saat Profesor Babbling datang masih ada Draco yang satu kelas diatasnya ada disini, akhirnya dia mengambil tongkatnya di meja. Megayunkan tongkat itu kearah Draco. Melepaskan kutukan lidah terkuncinya.

"Awas kau, Weasley!" Desis Draco ke Ginny.

Draco langsung keluar kelas dengan membanting pintu keras, sampai semua anak terlonjak kaget. Sebelumnya pandangan mematikan Draco berkelana ke semua anak di kelas Telaah Rune Kuno. Membuat kelas menjadi sepi senyap tak berani mengeluarkan kata.

"Dia benar-benar marah, Gin. Kurasa kau dalam bahaya"

"Oh berhenti membuatku merinding, Lun"

.

.

Sebagian murid sejak menghabiskan waktu di Aula besar, tetapi tidak dengan Ketua murid putrid. Hermione. Sejak insiden saling menjatuhkan antar ketua murid, Hermione langsung ke perpustakaan. Mukanya merah padam, tak bisa di tafsirkan mana emosi yang paling besar. Entah itu emosi marah, dendam, malu.

Berulang kali tangan Hermione menyeka mulutnya kasar. Masih terbayang apa yang tadi dilakukan Draco. Draco menciuminya dengan kasar dan memaksa. Bahkan membuka celah untuk diolak saja Draco tak mau. Semua murid wanita mungkin akan sangat senang diperlakukan seperti itu oleh seorang Malfoy. Tapi tidak dengan Hermione ini sama saja merendahkan martabat, hanya wanita bodoh yang mau diperlakukan seperti itu.

"Enak saja main cium. Kemarin mengatai bodoh sekarang malah… Ahh kau kira kau siapa? " Hermione mengeram pada dirinya sendiri, kembali mengusap mulutnya kasar.

"Harus dicuci pakai apa ini? Pembersih segala noda?" Mengguman sendiri.

Buku yang ada dihadapan Hermione tak menjadi bacaan yang menarik seperti biasanya. Lebih tepatnya hanya untuk penyalur emosi tapi tak berhasil. Yang terbayang hanya genggaman Draco, bagaimana cara Draco merengkuhnya, bagaimana pandagan matanya yang marah, dan sensasi saat Draco mencium bibir Hermione. Tangan Draco bahkan sekarang terasa masih merengkuhnya. Hermione sampai merinding.

Hermione menggelengkan kepalanya berharap bayangan-bayangan itu hilang. Jantungnya tiba-tiba berdetak keras memikirkan hal-hal seperti itu. Terlebih lagi disaat bayangan yang lain pudar, malah bayangan Draco yang menatapapnya lembut berkelebat semakin jelas. Hermione menghentakkan kepalanya ke meja, pikirannya sekarang malah dikerumuni tentang Draco Malfoy.

Berhenti membuat gambar seorang Malfoy otakku tersayang! Hermione memerintah pikirannya sendiri. Geram sendiri rasanya orang yang kau benci terus berkelebat dipikiranmu.

Akhirnya Hermione mencoba kembali focus ke bukunya. Dia berusaha memahami kalimat pertamanya, dibutuhkan tiga kali membaca sampai otaknya kembali berfungsi normal. Saat mulai memahami apa yang di baca Hermione mendengar derap kaki berlarian di perpustakaan. Jelas Hermione jengkel sedari tadi di kepayahaan mengatur pikirannya, dan saat dia sudah mengontrol kembali pikirannya ada saja yang memecah konsentrasi. Dilihatnya dua murid masuk ke perpustakaan.

"Ron?" Tanya Hemione.

Hermione tambah berang saat dilihatnya disebalah Ron ada Draco. Tatapan marah langsung menusuk tetpat ke Draco. Melihat Draco rasanya Hermione pingin mencekik kuat-kuat.

Dilihatnya Ron mencari-cari sesuatu, dan saat di panggil Ron menoleh hendak menyapa balik tapi tak jadi. Hermione melihat Ron dan Draco saling sikut, pandang, dan menunjuk-nunjuk.

Kalau mereka beda gender pasti Hermione sudah mengira kalau mereka pasangan kekasih yang sedang bertengkar. Saling pandangnya tanpa mengeluarkan suara itu sangat menggelikan. Dan sesaat kemudian Ron melambaikan tangannya, berbalik diikuti Draco dan berlari pergi.

Hermione menatap kepergian Ron dan Draco dengan penuh kebingungan.

Hell bagaimana bisa mereka pergi bersama-sama seperti itu? Ron tak akan pernah sudi diikuti seorang Malfoy, dan Malfoy tentu saja mana sudi mengikuti Ron. Hermione benar-benar merasa dipermainkan disetiap keadaan pagi hari ini. Tak mau ambil pusing dia kembali ke bukunya untuk pemanasan sebelum pelajaran dimulai nanti.

Setidaknya pikiran Hermione kembali rileks setelah membaca. Gairah untuk mengikuti pelajaaran pertama nanti benar-benar memuncak. Setidaknya pemanasan membaca buku selama 15 menit tadi membuatnya siap untuk menghadapi pelajarannya nanti. Pelajaran dengan guru favoritnya Prof. McGonagall. Senyumnya cerah mengembang, dia siap memulai pelajaran. Saat tau Hogwarts dibuka kembali dan dia mendapat surat untuk melanjutkan, Hermione sudah mempersiapkan diri untuk tau terakhirnya. Setidaknya sebagian besar buku pelajarannya sudah habis dibaca dan dipelajari, hanya kurang ¼ bagian akhir yang belum.

Hermione memutuskan untuk ke kelas Transfigurasi lebih awal. Belum ada anak yang datang. Dia mengambil tempat paling depan untuk mendapat spot yang strategis. Menyiapkan semua peralatan. Transfigurasi masih menjadi pelajaran wajib, dan hari ini Gryffindor mendapat jam yang sama dengan Slytherin. Hermione mendengus keras mengingat dia harus sekelas dengan murid-murid paling menyebalkan sepanjang masa. Hermione menyibukkan diri mempersiapkan perkamen, tinta, dan penanya.

"Oh, kau sudah siap rupanya Miss. Granger senang melihatnya" Profesor McGonagall baru kelaur dari kantornya.

"Selamat siang Profesor, tentu saja ini hari pertama masuk saya tak akan melewatkan sedikitpun" Balas Hermione sopan.

"Bagus, bagus. Contoh yang bagus sebagai ketua murid"

Hermione dan Prof. McGonagall terlibat diskusi tingkat tinggi mengenai aturan Transformasi untuk manusia yang seharusnya diperbaharui dengan melibatkan beberapa aspek. Mendesak Prof McGonagall untuk mau menngajarinya menjadi animagus. Sampai akhirnya satu persatu murid Gryffindor dan Slytherin berdatangan.

Hermione melihat Harry datang dan dibelakangnya Ron menyusul sambil berlari dan ngos-ngosan. Hermione melambaikan tangannya menyapa dua sahabat karibnya. Harry balas menyapa Hermione.

"Hai Mione!" Sapa Harry.

"Hai! Habis ngapain sih?" Tanya Hermione ke Ron.

"Kurasa kau akan muak kalau mendengarnya, Mione. Ayo Harry" Balas Ron sambil mengajak Harry untuk duduk di bangku dua dari belakang. Bangku-bangku dibelakang sudah penuh semua. Banyak yang merasa pelajaran pembukaan hari ini terlalu menyiksa, jadi mereka mengasingkan diri di bangku-bangku belakang.

Salah satu murid Gryffindor dan Slytherin ikhlas untuk duduk didepan hanya Hermione. Ada memang yang duduk di depan tapi itu semata wayang karena bangku-bangku belakang sudah penuh dan mereka terpaksa. Bel berbunyi mengawali pembelajaran hari ini.

Professor McGonagall memberikan penjelasan susahnya mantra pencipta, bagaimana agar bisa berhasil dan teknik yang bisa digunakan agar kualitas bendanya bagus. Mewanti-wanti semua murid bahwa ini akan menjadi salah satu bagian ujian NEWT nanti, dan mereka harus menguasainya. Sampai pada saat sedang mendemonstrasikan bagaimana caranya untuk melakukan penciptaan sebuah benda pada udara kosong, pintu kelas terbuka. Menampilkan seorang murid yang diambang pintu tersebut.

"Mr Malfoy bagaimana bisa kau terlambat. Kemana saja kau? Sekolah sundah memberi kelonggaran selama satu pelajaran penuh supaya semua murid bisa mempersiapkan diri, dan lihat apa yang ku temukan? Kau terlambat lebih dari lima menit." Raung Prof McGonagall yang terintrupsi oleh keterlambatan muridnya.

Dari ketipisan bibir yang hanya bisa dilihat setipis kertas, menunjukan bahwa Prof McGonagall masih belum puas dengan omelannya. Tapi beliau menelan kembali memasukkan udara kosong ke rongga mulutnya.

"Maaf. Profesor." Jawab Draco dingin penuh penekanan. Mata kelabunya memandang tajam Prof McGonagall lalu kearah murid Gryffindor.

Jelas emosinya benar-benar buruk. Prof McGonagall bahkan tak berkomentar banyak beliau hanya memotong 5 poin Slytherin sebagai gantinya.

Mata Draco masih memandang tajam semua yang berada dalam jangkauan pandangnya, dingin dan kesal. Dia kemudian mencari bangku kosong, tapi hanya ada satu bangku tersisa. Bangkunya berada di deretan terdepan, paling stategis dengan Prof McGonagall dua dari pojok. Dia mendengus keras terlebih karena dia harus sebangku dengan orang yang menyebabkannya sial sepanjang hari ini. Draco berjalan kearah bangku tersebut.

"Tak ada bangku kosong lagi, Aku duduk sini" Kata Draco dingin.

"Aku tak peduli" Jawab Hermione, dari bangkunya. Masih focus pada apa yang dijelaskan Prof McGonagall, berkutat dengan perkamennya.

"Aku tak menyuruhmu peduli, Granger. Tas kotormu ini menghalangi" Nadanya masih sama dinginnya minim ekspresif.

Hermione mengalihkan perhatiannya dari Prof McGonagall. Menatap penuh dendam ke Draco sambil menari tasnya kesisi lain, jauh dari jangkauan sang Malfoy.

Bagaiman bisa aku akan ber-partner dengannya setaun ini?mata gila bisa-bisa aku. Batin Hermione.

Perhatiannya langsung kembali pada penjelasan Prof McGonagall, tapi Hermione bisa melihat dari ujung matanya bahwa Draco wajahnya masih masam. Tongkat di tangannya diputar-putar bosan. Hermione tak mengacuhkannya.

"Ini jelas lebih susah dari mantra penghilang yang sudah kalian pelajari. Kalau mantra penghilang jelas benda ada, kebalikannya dengan matra pencipta yang menciptakan atau memunculkan benda dari udara kosong. Jelas berbeda dengan mantra panggil. Tingkat konsentrasi harus penuh membayangkan benda apa yang akan kita ciptakan. Mantaranya adalah 'Waddiwasi'" Jelas Prof McGonagall.

Prof McGonagall kemudian memperaktekannya dengan lambain tongkat yang anggun, menciptakan kursi lipat merah mencolok didepannya. Prof McGonagall lalu berkeliling ruangan menyuruh semua anak untuk mencoba mantra pencipta tersebut.

Hermione mendegar banyak yang salah melafalkan matra. Dilihatnya Draco yang masih memutar-mutar tongkatnya malas.

"Apa?" Tanya Draco merasa diawasi.

"Tingkahmu dari tadi bodoh" Jawab Hermione jujur matanya menyipit. Belakangan ini Hermione melihat Draco tempramen, jauh dari kesan menyebalkan seperti biasanya. Dan memang dia melihat banyak keganjilan. Efek kejatuhankah?

"Tingkah yang mana Granger? Saat bersamamu di Aula besar?" Tukas Draco datar.

Tanpa diperintah langsung otak Hermione memutar rentetan kejadian saat Draco membungkam bibirnya, menariknya kedalam pelukan. Mendadak panas melingkupi atmosfir sekitar Hermione.

"Musang busukk!"

Diantara kesibukan teman yang lainnya, akhirnya Hermione memutuskan untuk menghalau pikirannya bertindak lebih, lalu mengambil tongkatnya dan memulai mencoba mantra pencipta. Tangannya merayap masuk ke kantong jubah mengambil tongkatnya, anehnya kantongnya kosong. Hermione meraba tiap inchinya tapi tak ada yang lubang. Jadi tak mungkin jatuh tadi. Hermione ingat betul dimana ia selalu menyimpan tongkatnya.

Tak menemukan di kantong, Hermione menyambar tasnya menobrak-abriknya. Seingatnya tongkatnya tak pernah jauh-jauh dari jubah atau tasnya. Semua buku, pena, tinta dan perkamenya sudah keluar dari tasnya. Tapi Hermione tak menemukan tongkatnya. Dan tak mungkin tertinggal di kamar, karena dari tadi dia belum menggunakannya.

Profesor McGonagall jelas sedang sibuk berkutat dengan murid lain yang gagal menggunakan mantra pencipta. Ron dan Harry sepertinya putus asa, mereka meneriakkan keras berharap dengan semakin kerasnya suara mereka bisa memunculkan suatu benda. Seamus sudah hampir berhasil dia menciptakan gelas kaca, tapi gelas kacanya muncul pada jarak 3 meter didepannya dan tepat diatas kepala Millicent Bulstrode yang langsung pecah dikepalanya. Kelas gempar.

Hermione sendiri belum mencoba, apa sih arti penyihir tanpa tongkat? Dia kembali mengobok-obok tas dan kantong jubahnya meskipun ia tau tongkatnya tak ada di situ. Matanya berkeliling siapa tahu menemukan tongkatnya. Mata Hermione menangkap alis mata Draco yang terangkat dan memandanginya. Tapi tak digubrisnya. Di depan Draco sendiri ada satu kursi, satu meja, dan satu vas (ukuran sedang), satu-satunya orang yang berhasil rupanya. Bahkan Draco menciptakan tiga benda. Mau minum teh dia?

Tentu saja kalau tongkat Hermione ada, dia yakin dia yang akan lebih dulu berhasil menggunakan mantra pencipta.

"Kau lihat tongkatku?" Mata Hermione masih menelusuri mencari tongkatnya.

Alis Draco bertambah naik "Mana kutahu"

Hermione kembali memeriksa semua barangnya dengan teliti mencari tongkatnya.

"Berhentilah, Granger. Kau merusak konsentrasi dari tadi, memang…"

"Tongkatku hilang, Malfoy! Lagian kau sudah berhasil melakukan mantra pencipta, setidaknya jika tak mau mebantu mencari. Tak usah komentar" Potong Hemione, seraya memerikasa bawah meja termasuk bawah meja murid lainnya.

Hermione langsung teringat, kepalanya langsung terjulur "Ah, aku ingat! Slytherin!" Pekiknya.

Draco mengeryitkan dahinya. Hermione langsung duduk menghadap Draco.

"Tertinggal di asram Slytherin! Mana sekarang tongkatku Malfoy!"

"Manaku tahu, Memangnya kenapa bisa di asrama Slytherin? Jangan-jangan kau menguntit, Granger?" Salak Draco

"Bodoh aku menjengukmu waktu itu, Parkinson menyerangku" Mata Hermione langsung melayang ke Pansy Parkinson.

Dibelakang Pansy Parkinson menyerigai ke Hermione, disebelahnya Theodore Nott sama-sama memuakkan. Disana Theo mengayun-ayunkan tongkat coklat yang sudah sangat dikenali Hermione. Itu tangkatnya. Tanpa babibu Hermione menghampiri bangku Theo.

"Berikan tongkatku, Nott!"

"Berikan alasan yang bagus kenapa aku harus mengembalikan tongkatmu. Mengingat kau telah lancang masuk ke asrama kita dan mengurangi 80 poin, sebelum kami sendiri mengumpulkan poin." Desis Theo tajam.

"Berikan saja tongkatku sekarang, tak sadarkah ada Prof McGonagall disini." Kata Hermione.

"Mencari perlindungan mama Granger?" Suara Pansy menimpali pembicaraan mereka.

"Asal kau tahu, setidaknya kita Slytherin tau kapan harus bertindak. Lihat gurumu tersayang kepayahan" lanjutnya.

Benar saja Prof McGonagall masih sibuk dengan murid-murid dibelakang yang membuat ulah. Para Slytherin juga ada yang mengalihkan perhatiannya. Setidaknya mereka memainkan peran acting yang luarbiasa terorganisir. Itu yang dipikirkan Hermione.

Tak mau ambil pusing Hermione malah mendekat berusaha menyambar tongkatnya. Tanganya terulur menjangkau tongkatnya, tapi terhenti. Di tangannya sekarang ada tangan Theo yang memeganginya dan tongkat Theo yang menghentikan pergerakannya. Tongkat Hermione sendiri berpindah ke Pansy.

"Eits enak saja, kau kemarin membuatku babak-belur dihantam Draco. Harus ada balasannya"

Hermione sudah tak mau kompromi, dua kali dia disudutkan seperti ini. Ah tidak tiga kali ditambah yang tadi pagi. Amarahnya bercampur jadi satu membuatnya mengeluarkan umparan kasar melebihi ambang batas untuk Theo. Meskipun pelan tapi setidaknya Theo mampu menangkap jelas semua hinaan dan umpatan untuknya.

Muka Theo sudah merah marah mendengar umpatan Hermione terhadap dirinya. Matanya tak kalah sangar mendelik ke Hermione. Tongkatnya ditekan ke pergelangan tangan Hermione, Theo tak mengucapkan apapun. Tapi yang jelas tangan Hermione panas seperti di bakar. Hermione menarik tangannya tapi tak bisa. Panas dan perih. Anehnya tak ada yang tahu kalau Theo memantrainya padahal Hermione sudah merintih, tapi sepertinya Prof McGonagall masih sibuk dengan murid-murid dibelakang.

Tawa melengking Pansy rasanya juga cukup keras, tapi tetap Prof McGonagall tak memperhatikan apa yang terjadi antara tiga orang ini. Lama-kelamaan rasanya tambah perih lengan Hermione. Hermione geram tak bisa melawan, satu-satunya senjata yang ia miliki adalah mengumapti Theo, dan itu yang dia lakukan sekarang.

"Kau tak lebih menyedihkan dari pengikut Voldemort. Atau lebih menjijikkan lagi menyerang wanita tak bersenjata. Apa namanya ya banci kurasa?" Hermione berusaha menjaga suaranya agar tetep stabil.

Theo menyerigai tak berkomentar tapi tongkatnya makin ditekan membuat tangan Hermione seperti di paku. Diseretnya tongkat Theo lebih keatas perlahan. Rasanya seakan paku yang tadi menancap detarik keatas seirama tongkat Theo, pelan dan menyakitkan. Tak ada darah yang keluar memang. Hermione terpekik tertahankan

"Agghhh!" Tak ada orang yang menoleh kearahnya dibelakang. Memang tak keras tapi itu juga tak bisa dibilang pelan. Tak mungkin tak ada yang mendengar. Mereka dibelakang seperti sibuk sendiri.

Tangannya berdenyut-denyut sakit. Hermione terus berusaha menarik tangannya, tapi semakin ditarik, tongkat Theo semakin bergerak kearah lain. Menorehkan rasa sakit yang lebih. Hermione ingin meneriaki Theo sekarang, apalagi tawa Pansy yang bedengung tambah membuatnya pusing bukan main. Kikikan Pansy akan semakin keras kalau Hermione merintih.

"Cukup Theo."

Hermione sekarang mendengar suara lain. Mata Hermione yang tadi terpejam karena menahan sakit sekarang terbuka. Disebelah Theo ada Draco yang mengacungkan tongkatnya ke leher Theo. Wajah Draco lebih kejam dari pada kali pertama dia masuk kelas.

"Berikan tongkatnya sekarang, Pans" Suara Draco benar-benar dingin.

Sementara Pansy sendiri sedang menimang-nimang apa yang harus diperbuat.

"Wo, wo, wo. Drake calm down. Aku sedang menghukum teman kecil kita" Kata Theo. Tapi ini malah membuat Draco menekan tongkatnya ke leher lebih dalam.

"Lakukan apa yang kataku sekarang. Kenapa kau selalu melakukan tindakan bodoh, huh?"

Tak ada jawaban tapi Theo memberi isyarat Pansy untuk memberikan tongkat Hermione ke Draco. Draco menangkap tongkat itu. Wajah Pansy terlihat bodoh sekarang.

"Kau kenapa sih Drake? Ini semua salah dia. Dia yang masuk ke asrama kita, memotong 80 poin sebelum kita mengumpulkan nilai, dan dia yang membuat keributan" Kata Pansy menunjuk Hermione.

Draco menatap tajam ke Hermione, kilatan begis terpancar di mata kelabunya. Buru-buru Hermione membela diri.

"Aku sudah bilang aku ke asrama Slytherin itu diutus! Dan aku tak akan memotong poin kalau teman-temanmu tak menyudutiku. Yang terakhir. yang membuat keributan itu kalian sendiri! Aku tak melakukan kesalahan idiot" Cerocos Hermione dalam satu tarikan napas.

Anehnya tak ada murid yang menegahi mereka, menolehpun tidak. Hermione sampai heran sendiri. Mereka masih berkutat dengan pekerjaannya.

"Dan aku sudah memanggilmu tiga kali, Malfoy! Dua kalinya berteriak, kalau kau tidak tuli kau pasti dengar" lanjut Hermione ke Draco.

Pansy dan Hermione saling menyalahkan. Draco dan Theo menjadi pendengar yang bosan. Hermione dan Pansy wajahnya sudah merah padam, saling menghina. Draco sudah tak kuat berada dekat-dekat dengan dua wanita ini.

"Hilangkan semua mantra ini, aku mau lihat penutupan akhir pelajarannya. Suruh mereka diam kepalaku pusing lama-lama" Perintah Draco ke Theo.

"Yeah. Suara mereka seperti banshee." Kata Theo.

Draco kembali ke tempat duduknya di depan. Sementara Theo mendiamkan Hermione dan Pansy yang meranung-raung, butuh waktu untuk memisahkan mereka. Setelah mereka berdua normal Theo mengembalikan kondisi kelas seperti semula. Waktu pelajaran Transfigurasi sudah mau habis. Buru-buru Hermione mencoba mantra pencipta. Setidaknya karena diburu waktu Hermione bisa melakukan mantra tersebut dalam satu kali percobaan.

"Kenapa mereka tadi tak tau kalau ada keributan?" Tanya Hermione ke Draco. Tapi tak digubris oleh Draco.

.

.

Hari berjalan cepat hari ini. Banyak anak yang menggerutu karena baru hari pertama tapi tugas yang diberikan sudah bejibun. Hampir semua Profesor memberikan mereka tugas, kadang di dobel untuk merefres kembali pasca libur panjang.

Hermione sudah mulai pindah di ruang ketua murid. Yang membuatnya uring-uringan sedari tadi karena harus seasrama dengan Draco. Tapi setidaknya karena Draco tongkatnya kembali.

Asrama ketua murid bisa dibilang sama besarnya seperti asrama-asrama lain. Hanya saja untuk dua orang. Didepan pintu masuk ada patung gargoyle singa dan ular melambangkan kedua asrama ketua murid yang sekarang. Di asrama ketua murid rasanya canggung karena ruangannya sangat besar dan digunakan hanya untuk dua orang. Ruang rekreasinya punya 2 sofa satu merah dan satu hijau, perapiannya ditengah.

Setelah makan malam biasanya Hermione akan berkumpul di ruang rekreasi Gryffindor. Tapi kali ini ia akan lebih banyak menghabiskan waktu di asrama ketua murid, untuk mejalankan tugasnya sebagai ketua murid. Saat sampai di ruang rekreasi ternyata Draco sudah di sana duluan. Mendiami sofa hijau sambil berkutat dengan grafik Arithmancy. Mencot-coretnya dengan angka-angka.

"Hai Malfoy" Hermione menyapa Draco, tak mungkin mereka akan saling diam. Akan sangat membosankan.

Sapaan Hermione hanya di jawab dengan gumaman tak jelas dari Draco. Dia masih berkutat menghitung angka-angka. Hermione tau ini adalah tugas Arithmancy tadi siang, dan Hermione sudah menyelesaikannya waktu istirahat tadi. Jadi dia memutuskan merecoki Draco. Hermione duduk di sofa hijau membuat jarak.

"Kenapa duduk sini? Sana sofamu yang merah. Aku tak mau sofaku tercemar olehmu, Grenger"

Hermione mendengus keras meninggalkan keanggunannya.

"Oyayaya sofa Draco Malfoy bisa tercemar dengan adanya munggleborn disekitarnya. Sungguh mengesankan." Hermione turun dari sofa dan duduk dibawah bersandar pada sofa.

"Mau apa kau?" Tanya Draco masih memperhatikan punggung Hermione yang menyentuh sofanya. Hermione mendongak melihat ekspresi Draco yang seperti ingin menjauhkannya dari sofa hijau.

Hermione berbalik sehingga berhadapan dengan Draco. Menatap pemuda itu tajam

"Apa yang terjadi di kelas Transfigurasi tadi? Kenapa sepertinya tak ada yang tahu kalau Theo dan Pansy menyerangku, kelaskan ramai" Tanya Hermione.

"Harus kau tau? Merepotkan sekali. Itu mantra ilusi Theo memasang ilusinya, kau, dan Pansy jadi yang orang-orang lihat kalian tak punya masalah tadi saat pelajaran Transfigurasi. Mantra lain juga dipasang Theo mencegah Prof McGonagall untuk ke depan, mengingatkan bahwa murid di belakang lebih bodoh dan butuh bantuan. Sudah aku mau menegrjakaan PR."

"Ilusinya katamu untuku, Theo dan Pansy yang lain tak bisa melihat. Kenapa kau bisa melihat kalau begitu? Mantra apa itu? Kok yang kedua kayak Imperius?"

"Cerewet! Aku sudah tak asing dengan mantra itu, jadi kerasa. Lagian kau kan tadi disebelahku seperti orang gila merancau. Dan kau tak perlu tau mantra apa itu. Ada pertanyaan lagi nono-sok-tau?"

Hermione cemberut sejadi-jadinya, dihina habis. "Ah iya kau harus minta maaf padaku soal yang tadi pagi"

"Kau yang harusnya minta maaf semak belukar! Seenaknya menertawakanku di Aula" Kata Draco kesal mendongak dari pekerjaannya.

"Dengar pirang. Kau pikir apa yang kau lakukan sejak dulu? Kau juga sering mengolokku"

"Ku kira kau sudah dewasa Granger" Nadanya berubah dingin. Dia kembali ke pekerjaannya.

Hermione diam cukup lama, menganalisis perubahan nada Draco. Draco sudah kembali focus ke Arithmancy tak menoleh ke Hermione. Suasana ini benar-benar menakutkan. Angin malam masuk melalui satu jendela yang sengaja dibuka. Awalnya Hermione ingin mendesak sampai Draco mau minta maaf padanya, tapi entah kenapa rasanya berbalik dia yang harus meminta maaf. Hening begitu menyiksa, sampai akhirnya Hermione kembali berkata

"Iya, iya aku minta maaf juga! Tapikan kau jauh lebih salah apa-apaan itu"

"Wow Our hero meminta maaf, apanya yang apa-apaan?" Tanyanya sambil menyerigai.

"Tindakan bodohmu! Kau juga harus minta maaf, susah amat sih" Geram sudah Hermione.

Draco mencondongkan kepalanya ke Hermione yang duduk di bawah. Seringainya jauh lebih lebar dari sebelumnya. Membuat Hermione harus mundur sedikit, bentuk antisipasi refleks. Siapa tau nanti diserang.

"Mengharap Grenger? Dari tadi kau membual terus tentang tindakan bodohku. Atau sebenarnya kau mau lagi ciuman dasyat ku"

Mata kelabunya memandang hazel coklat Hermione, pipi Hermione sudah merona koyol gara-gara kata-kata Draco. Tapi bukan itu yang utama ini lebih ke amarahnya. Cuping Hermione memerah merasakan kata-kata itu. Memangnya dia pikir siapa? Batin Hermione.

"Dengar aku sudah menjatuhkan egoku untuk membuatmu tau apa kesalahanmu. Kau pikir bisa seenaknya mencium orang paksa? Didepan orang banyak? Kau anggap apa orang itu? Menjijikkan memainkan perasaan orang. Kau tahu? Rasanya aku ingin menonjok muka busukmu"

Alih-alih mendorong dengan tangan, Hermione mendorong dada Draco mundur dengan kakinya. Entah sekoyol apa sekarang ini, tapi yang jelas tendagan itu mebuatnya terhuyung mundur. Sebenarnya masih belum cukup itu semua untuk menghapuskan semua yang berkelebat dipikirannya.


How? abal ya? aduh susah bikin fic ternyata xD

tungguin kelanjutannya! Ini masih belum seru, tapi selanjutnya mungkin udah bisa keluar konfliknya.

poosy-poo20, priscillaveela, SpecialNumber1, Drakie poo, Hikari Rhechen, bubble, maulidanh2 makasih udah mau review :D makasih juga yg udag follow dan fav!