Ini chapter panjang aku bikin agak panjang. Konfliknya udah keluar kawan! Maaf ya chapter-chapter sebelumnya mengecewakan. Ini udah aku buat sepenuh hati. Semoga tak mengecewakan. Enjoy! :D

J.K Rowling poenya

.

.

Hening lama melanda keduanya. Hermione dan Draco sama-sama tak ada yang berusaha memecahkan keheningan, tak ada yang berusaha mengendurkan ego masing-masing. Hermione bangkit dari duduknya yang tidak anggun sama sekali dilantai, ia bangkit dan meninggalkan Draco tanpa sepatah katapun. Berjalan cepat ke kamarnya. Gebrakan pintu kamar ketua putri meraung ke seluruh ruang asrama, lalu hening kembali.

Pagi hari pun tak jauh beda keheningannya. Draco yang baru bagun, segera keluar kamarnya. Terpaan angin pagi yang segar menyambut pagi hari, jendela-jendela di asrama ketua murid sudah dibuka. Itu artinya sebelum Draco bangun, Hermione sudah bagun duluan. Dan tepat dugaan, Hermione sudah memakai seragam lengkap sambil asik memeriksa perkamennya.

Hari masih pagi, sarapan baru dimulai 1 jam lagi tapi Hermione sudah siap. Draco geleng-geleng. Satu yang menjadi pertanyaan Draco, tak pernahkah gadis itu melapas kesempurnaan dalam mengerjakan tugas? Tapi pertanyaan itu tak terucap, Draco menjawab sendiri dengan mengangkat bahunya. Buat apa peduli.

Draco berjalan kearah kamar mandi tanpa mengacuhkan Hermione, begitupun sebaliknya. Di kamar mandi Draco langsung membenamkan diri di bawah kucuran air dingin. Merasakan air yang menyapu tubuhhnya, memberi rasa nyaman. Selepas mandi Draco keluar dari kamar mandi dan tak menemukan Hermione. Dia sendiri di asrama ketua murid. Tak berapa lama setelah ganti akhirnya Draco keluar untuk sarapan.

Hari cukup panjang, semua Profesor memberi tugas bejibun kepada muridnya. Terutama kelas lima dan tujuh. Kelas lima dan tujuh harus menghadapi OWL dan NEWT jadi guru-guru memberikan begitu banyak pekerjaan. Sejak percakapan terakhir saat di ruang rekreasi, Draco dan Hermione sama-sama tak pernah bicara lagi, sudah lebih dari sebulan. Mereka banyak menghabiskan waktu di asrama masing-masing. Kalau ada tugas ketua murid atau rapat saja mereka saling bicara, selebihnya tak ada yang memulai bicara.

Hermione tak banyak menghabiskan waktu di asrama ketua murid. Pagi-pagi ia sudah keluar dari asrama ketua murid untuk sarapan, balik ke asrama ketua murid hanya untuk tidur atau kalau ada tugas untuk ketua murid. Draco pun tak jauh beda. Dari setiap kesempatan bertemu Hermione hanya menatap dengan muak ke Draco.

"Ron setelah jam makan siang nanti ada rapat." Kata Hermione sambil mengisi piringnya denngan kentang tumbuk dan sosis.

"Rapat lagi? Ada apa lagi? Kan dua hari lalu kita rapat." Ron terdengar tak tertarik. Karena memang benar baru dua hari lalu rapat, biasanya rapat rutin diadakan dua minggu sekali. Kecuali kalau ada sesuatu mendesak atau ada acara yang harus diurus.

"Ubah jadwal patroli. Prof McGonagall tak setuju dengan daftar yang kemarin. Patrolinya harus Prefek dari beda asrama. Beri tahu yang lain."

Ron hanya berguman tak jelas disela jeda memasukkan daging panggang ke mulutnya. Hermione terus melontarkan nama-nama prefek yang nantinya bisa dipasangkan.

"Aku kembali teracuhkan oleh tugas para prefek dan ketua murid, betapa menyenangkannya" Harry bersenandung dengan nada muram.

Ron sempat beradu tatapan dengan Hermione. Lalu mereka tertawa geli,

"Sejak kapan kau jadi melodramatic begini Harry" Kata Hermione.

"Aku tak tahu kalau suaramu merdu, Harry" Sambung Ron antara geli dan jijik mendengar suara Harry. Suara Harry sepertinya cocok disandingkan dengan cicitan nyaring Pigwidgeon.

"Oh, diamlah. Berhenti ribut soal tugas-tugas kalian." Sahut Harry, menyesal sudah ia bersenandung. Karena murid yang lain menatapnya dengan penuh tanda tanya seolah tak pernah membayangkan melihat Harry menyanyi.

Sarapan pagi berjalan cukup menyenangkan di meja Gryffindor. Tawa hangat terselebung disekitar. Mereka semua menikmati hidangan yang tersaji, benar-benar nikmat. Ada daging domba panggang yang potongannya besar-besar, sekuali sup tomat yang asapnya mengepul, telur goreng, sosis bakar saus mentega, dan masih banyak lagi makanan yang mebuat perut meraung keras.

Seusai sarapan para murid meninggalkan aula besar untuk mengikuti pelajaran. Hermione, Ron dan Harry pergi belakangan. Mereka (Harry dan Ron lebih tepatnya) sengaja datang agak siang karena pagi ini kelas tujuh harus ikut pelajaran Sejarah Sihir yang membosankan.

"Ayolah kalian sudah makan tiga puding. Sebentar lagi masuk, aku tak mau terlambat." Sentak Hermione ke dua sahabatnya.

"Santai Mione, kita tak akan dapat detensi kalau terlambat." Sahut Ron, di sambut anggukan antusias Harry.

Tapi Hermione tak mau menunggu lagi. Sudah cukup sabar dari tadi menunggu dua orang itu makan sedari tadi. Ia langsung menyambar tasnya dan berjalan cepat ke kelas Sejarah Sihir. Kalau menunggu Harry dan Ron, dia baru akan bisa sampai ke kelas nanti tepat sebelum bel bunyi. Itu artinya dia tak akan dapat tempat yang starategis. Meskipun pelajar Sejarah Sihir membosankan tapi tetap Hermione tak mau jika tak mendapat tempat duduk yang strategis. Hermione mempercepat laju kakinya menuju lantai tiga tempat kelas Sejarah Sihir.

Sesampainya di kelas Sejarah Sihir kelas masih lenggang, padahal tiga menit lagi masuk kelas. Hermione langsung memilih tempat duduk di tengah di deretan ketiga. Dari situ setidaknya Hermione mendapat spot yang bagus untuk memperhatikan Prof Binns nanti. Kurang satu menit lagi masuk, sudah cukup banyak yang masuk tapi, Ron dan Harry masih belum datang. Sepertinya mereka benar-benar berniat untuk datang terlambat.

Hermione menyiapkan pena, tinta, dan perkamennya. Saat tiba-tiba ada yang duduk disebelahnya. Hermione mendongak untuk melihat siapa yang duduk disebelahnya. Matanya mendelik tajam saat melihat siapa yang duduk disana. Malfoy. Draco Malfoy, meskipun mata Hermione sudah mendelik tajam tetapi Dracco tak goyah, tetap duduk disana dengan santai. Duduknya pun cukup anggun untuk laki-laki. Bel berdering, dan dari luar terdengar suara kaki-kaki berlari.

Harry, Ron dan beberapa anak lainnya berbondong-bondong masuk, bersamaan dengan Prof Binns yang datang menembus dari balik tembok. Melihat muridnya terlambat Prof Binns tak mengurangi poin ataupun memberi detensi, ia hanya memandang mencela ke muridnya itu. Menyuruh mereka semua untuk duduk. Dan mereka duduk di deretan paling depan, karena yang lain sudah penuh.

Ron dan Harry sempat menyapa Hermione, tapi begitu tau siapa yang ada di samping Hermione, mata Ron dan Harry jadi menyipit berbahaya. Tapi Draco masih tetap santai. Memandang polos kearah Harry dan Ron. Sepanjang pelajaran Hermione tak menoleh sedikitpun ke Draco.

Prof Binns terus saja bercerita mengenai penyerangan munggle pada penyihir di abat pertengahan. Nada suaranya begitu datar, membuat yang mendegarkan seolah dibacakan dongeng. Tak seorangpun ada yang mencatat kecuali Hermione. Murid-murid yang lainnya sudah tidur, terkantuk-kantuk, bergosip, bahkan Ron hanya butuh waktu 5 menit untuk mendengarkan dan langsung jatuh tertidur.

Hermione berdecak, sampai kapan Prof Binns akan mengganti cara mengajarnya. Materinya sebenarnya cukup menarik jika diajarkan oleh seseorang yang tepat. Prof Binns benar-benar tak bisa mengubah nada bicaranya sedikitpun. Untuk menegur murid yang tak mendengarkanpun tidak pernah. Hermione sangsi kalau Prof Binns tau nama muridnya. Sudah bosan juga rasanya mendengar nada datar ditiap pelajaran Sejarah Sihir. Hermione menghentikan aktifitas mencatatnya. Dia menyandarkan punggungnya, terdengar napas teratur di sebelahnya.

Hermione menoleh ke kiri, mendapati rivalnya duduk bersandar dengan tangan terlipat dan mata terpejam. Napasnya teratur, sebagian rambut putih pirangnya jatuh tak beraturan di sekitar matanya. Ada lingkar hitam disekitar kelopak matanya, Hermione baru sekali ini melihat Draco benar-benar lelah. Bibirnya melengkung manis, tak meninggalkan sedikitpun raut menyebalkan. Wajah Draco benar-benar terlihat er- tampan. Hermione berusaha menyangkal, tapi matanya berkata kalau Draco memang tampan. Tapi raut letih Draco begitu terpancar. Napasnya tenang dan halus.

Apa yang dilakukan? Kenapa dia begitu terlihat capek? Hermione bertanya didalam hati. Hermione baru sadar bahwa ia menatap wajah Draco cukup lama, langsung memalingkan wajahnya dari Draco. Hermione merasa janggal, rasanya dia ingin terus memandangi Draco. Tak terasa pelajaran Sejarah Sihir sudah hampir selasai, Prof Binns memberi tugas. Tapi anak-anak masih banyak yang tertidur. Hermione mencatat tugas yang diberikan Prof Binns. Tugasnya benar-benar banyak. Masih ada sisa waktu 15 menit, tapi sepertinya Prof Binns tak meneruskan mendongeng, dia berkutat dengan perkamennya sambil menunggu bel.

Hermione akhirnya memutuskan untuk membangunkan Draco, memberitahu kalau pelajaran akan berakhir. Hermione menepuk pelan lengan Draco, tapi tak ada sahutan. Hermione menambah intensitas tepukannya. "Malfoy."

Yang dipanggil hanya bergumam, dan membetulkan posisi tidurnya. Akhirnya Hermione memutuskan untuk yang terakhir kalinya untuk menepuk lengan Draco.

"Sudah mau selesai pelajaran, Malfoy" Kata Hermione.

Akhirnya Draco bergerak dan mulai mebuka matanya. Tangannya mengusap pelan wajah dan matanya. Lalu menatap orang yang membangunkannya.

"Hmmm?"

Mata Draco merah masih mengantuk. Sepertinya perlu tenaga hanya untuk membuka kelopak matanya. Hermione menunjuk perkamennya yang ada catatan tugas.

"Ada tugas. pelajaran sebentar lagi selesai." Kata Hermione, berusaha agar suaranya terdengar biasa. Mengigat dia jarang berbicara.

Draco mengangguk dan menyalin catatan tugasnya. Lalu dia membuka mulut.

"Masih marah?" Tanya Draco, sambil masih mencatat.

Hermione mengangkat alisnya, lalu teringat kalau dia marah pada Draco, karena kejadian waktu dia aula besar. Rasanya marahnya memuncak kalau mengingat itu semua. Tanganya gatal untuk membogem bocah satu itu. Tapi melihat Draco yang tak menyebalkan hari ini membuat Hermione mengurungkan niatnya untuk memberi bogeman.

"Marahku sudah cukup lama." Jawabnya singkat.

Draco sudah selesai mencatat, lalu menghadap ke Hermione. Bibirnya melengkung tipis kearah Hermione. Draco tersenyum walaupun tipis. Hermione cengo detik itu juga, mulutnya sedikit terbuka. Matanya mengerjap meyakinkan dirinya kalau Draco barusan tersenyum. Dan senyum samar itu masih ada.

"Kau senyum?" Raut muka heran terpeta diwajah Hermione.

Draco baru menyadari efek ngantuk membuatnya kelepasan untuk senyum ke Hermione. Draco mengeryit melihat Hermione yang heran. Memangnya seburuk apa waktu dia senyum, sampai-sampai Hermione cengo begitu.

"Jangan memandangku seperti seolah kau baru melihat pangeran. Aku tahu aku memang tampan saat tersenyum, Grenger" Seringai Draco muncul.

Hermione membuat muka jijik mendengar itu semua. "Percaya dirimu terlalu tinggi. Aku hanya heran iblis sepertimu bisa tersenyum."

Draco mendengus berpura-pura tak mendegar, sambil berkata. "Aku masih ngantuk bangunkan kalau sedah bel selesai pelajaran."

Draco langsung kembali keposisi bersandar dan melipat tangannya. Matanya terpejam. Tapi Draco masih bisa mendengar Hermione yang protes.

"Enak saja menyuruh-nyuruh, bangun saja sendiri… ini kan kurang lima menit lagi…. Kau kan sudah tidur sepanjang pelajaran… Memangnya habis ngapain aja masih pagi sudah ngantuk.. tak akan ku bangunkan lagi!" Omel Hermione.

Draco mendengar celotehan Hermione. Ia tersenyum lagi tanpa disadari. Matanya memang sekarang berat. Semalam suntuk Draco tak tidur, Draco baru bisa tidur setelah jam empat pagi. Sakit ditangannya muncul lagi tadi malam. Padahal sebelumnya ia sudah berkeliling kastil untuk patroli. Capek plus ngantuk benar-benar membebaninya. Belum lagi dongeng yang dibacakan Prof Binns membuatnya merasa di nina bobokan. Jadi Draco memanfaatkan waktu yang ada untuk tidur.

.

.

.

Setidaknya Hermione dan Draco sudah mulai bicara sejak itu. Saling cibir menghiasi hari-hari mereka. Masih sama keras kepalanya. Tak berhenti melempar ejekan dan beragrumen. Sampai-sampai Prof McGonagall menyerah memisahkan mereka terus.

"Miss Granger, Mr Malfoy sudah berapa kali saya bilang hentikan perdebatan konyol kalian. Bersikaplah professional." Suara putus asa Prof McGonagall tak berpengaruh kepada keduanya, karena dua-duanya masih terus berseteru.

"Profesor ini sudah sangat melenceng, bagaimana bisa dia memotong poin Gryffindor 15 poin hanya karena ada yang menabraknya. Ini penyalah.."

"Temanmu itu menumpahkan tinta kearahku, Ginger" Potong Draco penuh penekanan di akhir. Mencibir dengan sepenuh hatinya.

"Salahmu sendiri bodoh. Kalau sendiri yang asal jalan" Mata Hermione mendelik ke Draco.

"Aku baru memotong 15 poin asramu, dan kau sendiri sudah memotong 80 poin asramaku di hari pertama masuk, belum dihitung dibulan-bulan ini kalau kau ingat." Desisi Draco.

Saling potong memenuhi koridor. Prof McGonagall bahkan tak teracuhkan dari pandangan. Wajah Prof McGonagall sudah merah, rahangnya berkedut meminta untuk melepaskan teriakan.

"Diam! Kalian berdua berhenti. Mr Malfoy berhak memberi potongan poin pada siswa lain kalau ada kesalahan Miss Granger."

Kata yang terucap dari Prof McGonagall terdengar tak sepenuhnya yakin dan setuju sebenarnya. Terdengar berat hati. Hermione sendiri menatap tak percaya ke Prof McGonagall karena tak ada pembelaan. Seringai kemenangan Draco melebar, membuat Prof McGonagall menyesali sendiri telah mengatakan hal itu.

"Terimakasih Profesor" seringai Draco lebar.

"Sudah cukup kalian, bubar. Detensi untuk kalian berdua karena sudah banyak keributan yang kalian buat." Titah Prof McGonagall penuh penahanan, agar emosinya tak meledak pada dua ketua murid ini. Bibirnya sudah membentuk garis tipis.

Sontak Hermione dan Draco menatap ngeri ke Prof McGonagall.

"Tapi Profesor ini penyalahgunaan…"

Protes Hermione tak diacuhkan oleh Prof McGonagall. Seperti tak ada yang menyela Prof McGonagall melanjutkan. "Temui aku setelah makan malam di kantor kepala sekolah untuk membahas detensinya," Prof McGonagall langsung menghilang di balik koridor.

Dua ketua murid itu sama-sama mendelik satu sama lain. Masih mau saling menyalahankan. Tangan Hermione bahkan berkedut untuk menarik tongkatnya keluar. Tangan Hermione mengenggam tongkatnya kuat. Draco yang melihat itu ikut siap mengambil tongkatnya. Tapi suara Prof McGonagall yang mengintrupsi terdengar di seluruh penjuru, terdengar menggelegar ditambahi mantra sonorous.

"Mr Malfoy Miss Granger! Kalau kalian berdua masih saling mendelik dan tak segera bubar, detensi akan di tambah sebulan penuh!"

Mendengar suara gelegar di seluruh kastil, mendadak sunyi senyap mengelayuti. Semua anak diam tak berani mengeluarkan suara. Takut kalau mereka mengeluarkan suara Prof McGonagall akan mendengar dan ikut memberi detensi.

Sejauh ini susah untuk mendamaikan dua asrama ini. Rencana penyatuan asrama dengan menjadikan Hermione dan Draco sebagai ketua murid tak menghasilkan perdamaian, malah keributan.

"Ini salahmu! Pirang sialan. Kau membuatku didetensi." Desis Hermione pelan.

"Berhenti membuat orang panas, Granger. Kau dengar detensi bisa ditambah sebulan penuh kalau mulutmu yang besar itu terus mengoceh." Draco mengucap sama pelannya.

Hermione membuka mulutnya untuk membalas, tapi Hermione menutup mulutnya kembali. Tapi tetap hidung Hermione masih kembang kempis menahan amarahnya. Kalau kelepasan berteriak dan memaki akan ada detensi sebulan menantinya.

Baru beberapa bulan menjadi ketua murid Hermione sudah mendapat detensi. Pada hal sebisa mungkin ia sudah menjaga untuk tak membuat kesalahan. Apalagi yang memberi detensi adalah Prof McGonagall, hancur sudah citranya. Terlebih yang membuatnya didetensi adalah partnernya sendiri. Seharusnya partner berkerjasama tapi tidak dengan dua orang ini mereke terus saja saling menyalahkan dimanapun berada.

Seusai makan malam Hermione langsung berancak dari kursinya, setidaknya semakin cepat dia didetensi maka semakin cepat detensi itu selesai. Tapi tertahan oleh kedua temannya.

"Mau kemana Mione?" Tanya Harry.

"Aku kena detensi Prof McGonagall" Jawab Hermione singkat, ia ingin cepat-cepat melaksanakan detensinya agar bisa kembali ke asramanya.

Dari raut wajah Ron dan Harry terlihat binggung. Tapi Ron terlihat menyadari sesuatu, dia menahan kedutan di bibirnya.

"Yang tadi Prof McGonagall teriak? Kau tahu suaranya menggelegar sampai menara utara. Aku ingin lihat muka McGonagall." Kata Ron hampir terkikik.

Wajah Hermione jadi merona malu, membayangkan semua murid mendengar ketua murid mereka didetensi. Habis sudah mukanya.

"Memangnya kau ngapain lagi dengan Malfoy? Saling serang?" Tanya Harry.

"Aku sempat mau mengutuknya, saat Prof McGonagall pergi. Tapi tiba-tiba kau dengar sendiri dia mengeraskan suaranya. Detensi bisa jadi sebulan penuh kalau aku buka mulut lagi. " Jawab Hermione kesal.

"Sudah dulu ya"

Hermione langsung bangkit dan berjalan cepat keluar aula besar. Berjalan menuju kantor kepala sekolah. Melewati koridor yang sepi, karena sebagian masih menikmati makan malam di aula besar. Dinginnya malam menyelimuti kastil, membuat Hermione merapatkan jubahnya. Sesampainya di kantor kepala sekolah dia disambut dua gargoyle yang garang. Hermione mengucapkan kata masuk kedalam mengetuk pintu ek tua yang ada di depannya setelah menaiki tangga. Tapi tak ada sahutan.

Hermione baru ingat kalau dia tadi tak menoleh ke meja makan guru didepan. Bisa saja Prof McGonagall masih menikmati makan malamnnya. Hermione meruntuki dirinya sendiri. Bingung mau kemana akhirnya Hermione memutuskan keluar dari kantor kepala sekolah. Maunya dia kembali ke aula, tapi tak jadi dia akhirnya menunggu di luar. Beberapa saat kemudian Prof McGonagall datang dibelakangnya Draco mengekor. Menyerigai ke Hermione yang dibalas dengan tatapan bosan dari Hermione.

"Jadwal siapa sekarang yang patroli?" Tanya Prof McGonagall.

"Kami ketua murid, Profesor." Jawab Draco sopan. Pandangan Hermione mencela ke Draco, masih belum sepenuhnya ikhlas dia harus didetensi. Sikap soapan Draco membuatnya muak.

"Well, kalau begitu kalian punya waktu dua jam untuk detensi kalau kalian bertindak cepat setidaknya ada waktu istirahat satu jam sebelum patroli." Terang Prof McGonagall.

Hermione dan Draco mengangguk menandakan kalau mereka mendengarkan perintahnya. Prof McGonagall melanjutkan "Kalian harus menyortir buku di seksi terlarang, Madam Pince belum sempat menyortirnya setelah perbaikan Hogwarts. Jadi lakukanlah secepat mungkin. Tanpa sihir, sesampai di perpustakaan langsung berikan tongkat kalian ke Madam Pince. Dan jangan macam-macam Mr Malfoy aku sudah mendapat peringatan dari Madam Pince kalau kau sering menyelundup ke seksi terlarang."

"Seingat saya murid kelas tujuh diboleh ke seksi terlarang, Profesor" Kata Draco.

Beberapa minggu ini memang Draco sering ke seksi terlarang. Madam Pince memang tak melarang karena Draco murid kelas tujuh, tapi tampaknya Madam Pince masih menaruh curiga ke Draco yang notabene adalah pelahap maut.

"Iya tapi kalu melakukannya dua seminggu penuh untuk mengobrak ambrik seksi itu. Mungkin Madam Pince tak terlalu senang. Sekarang bergegaslah, lakukan detensi kalian tanpa ada pertengkaran. Aku akan menambah detensi sebulan penuh jika mendapat berita kalian bertengkar lagi."

Hermione dan Draco berangkat ke perpustakaan, sebelumnya mereka mengucapkan salam terlebih dahulu. Di perjalanan Hermione terus saja merengut kesal, langkahnya panjang-panjang. Dibelakangnya Draco berjalan santai. Mereka sampai di perpustakaan disambut Madam Pince yang berbunga-bunga. Jelas bahwa Madam Pince menunggu untuk ada yang mengurus buku-bukunya.

"Hah, akhirnya datang juga. Langsung ke seksi terlarang disana sudah ada tumpukan buku-bukunya. Sortir berdasarkan judulnya dan isinya. Kalau judulnya tak terlihat kelompokkan di rak paling kiri itu juga berdasarkan isinya."

"Iya, mam" Jawab Hermione dan Draco serempak. Mereka lantas menyerahkan tongkatnya kea Madam Pince.

Di perpustakaan masih tampak beberapa siswa yang berkutat dengan tumpukan buku dan perkamen. Mereka tampaknya berusaha menyelesaikan tugas masing-masing di jumat malam ini. Draco dan Hermione langsung menuju ke seksi terlarang.

"Kau dua minggu penuh ini ke perpustakaan? Aku tak pernah melihatmu." Hermione membuka pembicaraan diantara acara memilah-milah buku-buku itu.

Hermione berjingit memandang buku-buku itu. Sihir Paling Hitam Dari Yang Terhitam, Kutukan Kuno, Ramuan Dari Bahan Dasar Unicorn, Kutukan Pelepas Nyawa dan masih banyak lagi.. Rasa penasaran untuk membaca buku itu membrontak, tapi ditahan karena buku-buku itu akan lebih banyak membawa keburukan. Bau apek buku-buku tua menguar disekitar mereka.

"Kau sendiri sudah dengar aku di seksi terlarang, Granger" Jawab Draco santai, kelewat santai malah. Seolah seksi terlarang itu tempat yang umum.

"Setiap di perpustakaan kau cuma di seksi terlarang? Kukira tak ada tugas yang mengharuskan ke seksi terlarang. Masih belum lebih tepatnya." Hermione menata buku-buku yang judulnya terlihat jelas. Beberapa kali Hermione tak bisa menahan godaan untuk membukanya.

"Sedang mencari sesuatu. Berhentilah membaca buku-buku itu, kita tak akan selesai tepat waktu kalau kau membacanya." Hardik Draco yang sudah menyortir dua kali dari pada Hermione.

"Berhentilah menasehatiku."

Hermione dan Draco menyortir buku-buku itu dengan cepat. Atau mereka akan terjebak dengan gundukan buku-buku yang masih banyak itu. Hanya beberapa kali mereka bicara. Setelah satu jam akhirnya mereka meyortir buku yang judulnya sudah terkelupas, dan yang menggunakan bahasa rune atau tulisan asing yang tak dikenal.

Hermione mengambil buku sampul coklat yang berjamur. Tebalnya saja 15 cm. Entah masih adakah yang membaca buku itu atau tidak, bukunya sudah rapuh, judul yang ditulis dengan tinta emasnya juga terkelupas. Jadi Hermione harus membukanya untuk mengetahui dikelompokkan kemana buku itu. Hermione membuka acak langsung ke halaman tengah dan buku itu berteriak mengoyak. Sontak Hermione kaget dan berusaha menutupnya. Buku itu terus berontak mengigiti jemari Hermione. Dengan ketebalan itu rasanya jemari Hermione seperti terantuk batu.

Draco yang melihatnya langsung menyambar buku itu, menjauhkannya dari Hermione. Menutupnya dengan kasar sekali hentak. Dan langsung menaruhnya ke rak.

"Ouch, buku gila" Protes Hermione sambil memijat jemarinya yang kebiruan.

"Jangan asal buka. Malah ada buku yang akan mengigit jarimu sampai lepas kalau kau berani memindahkannya." Kata Draco. tinggal beberapa lagi mereka selesai detensi.

"Aku harus memeriksa isinya, untuk tau dimana tempatnya."

Draco sendiri juga sudah menemukan beberapa buku yang mengantuk kepalanya begitu dibuka, adapula yang kosong melompong sampai akhir hanya ada satu noda tinta dan buku itu tebalnya 10 senti. Mereka tak mengubris keanehan buku-buku itu untuk saat ini. Membuatnya mengumpat berkali-kali.

"Dahimu semakin jenong indah, Malfoy" Melihat Draco yang terantuk buku tepat di dahinya membuat Hermione bahagia.

"Diam kau, Granger."

Jujur Hermione jadi trauma membuka buku-buku itu. Dia harus membuat jarak kalau mau membuka buku. Fakta bahwa buku bisa mengoyak jari sampai lepas membuatnya, syok. Belum pernah dia diperlakukan kasar oleh buku, karena selama ini buku menemani tiap harinya. Dia merasa dikhianati.

Akhirnya setelah bergumul dengan buku-buku di seksi terlarang itu selama dua jam mereka , beristirahat di bangku pembaca. Semua bukunya sudah di sortir. Perpustakaan sendiri sudah kosong, karena sekarang sudah jam malam. Ada waktu satu jam untuk istirahat, Draco dan Hermione sama-sama memutuskan untuk istirahat di perpustakaan. Setelah mereka mengambil tongkatnya, Madam Pince memeriksa hasil pekerjaan mereka.

"Well, kerja yang bagus. Kalian boleh kembali." Senyum Madam Pince terkembang. Padahal biasanya Madam Pince selalu sewot ke semua anak. Mungkin hari ini dia bahagia ada yang memperhatikan buku-bukunya.

"Tidak kami akan tinggal, sebentar lagi kami patroli" Kata Hermione. Sambil mengambil salah satu buku.

"Baiklah, kembalikan ke tempatnya kalau sudah selesai. Aku ada di belakang."

Hermione mengiyakan lewat anggukan. Ia kembali ke bangkunya dan Draco. Hermione melihat Draco sudah mengantuk, salah satu tangannya menyangga kepala.

Satu jam berjalan cukup cepat bagi mereka. Hermione yang sedari tadi asyik membaca buku, akhirnya membangunkan Draco.

"Malfoy sudah waktunya patroli" Hermione mengguncang bahu Draco keras.

Susah payah Draco bagun dari tidur pulasnya yang sebentar. Butuh waktu untuk mengumpulkan nyawanya kembali. Matanya mengerjam beberapa kali.

Hermione tersenyum melihat Draco yang baru bangun. Polos dan lucu kalau begini, biasanya Draco terlihat super menyebalkan.

"Aayo aku ingin cepat selesai dan tidur." Draco menguap dan bangkin dari duduknya. Hermione mengangguk dan ikut berdiri.

Patroli untuk ketua murid benar-benar menyiksa. Hanya dua orang untuk mengelilingi kastil yang besar ini, sedangkan biasanya para prefek berempat. Sepanjang perjalanan Draco sudah beberapa kali menguap. Mereka sudah di lantai tiga, dan belum menemukan satu orangpun yang melanggar jam malam.

"Dimana Potty? Biasanya dia melanggar jam malam." Draco selalu senang jika bisa menangkap pelanggar jam malam. Sebuah hiburan.

"Kalau dia melanggar jam malam, kurasa dia tidak bodoh untuk menunjukkan diri didepan hidungmu. Berhentilah memanggilnya Potty." Hardik Hermione.

Sepanjang perjalanan ke lantai empat belum juga ada yang melanggar. Akhirnya mereka naik lagi ke lantai lima, udara dingin menyapu dari lantai ini karena disini dinding batunya terbuka tanpa jendela. Angina basah menyelimuti. Rasanya semua murid sudah mengelung di kasur empuknya masing-masing.

"Sudahi sajalah, tak mungkin ada yang keluar. Ini sudah lewat batas jam patroli, Granger"

"Kita belum selesai tiga lantai lagi. Jangan meneluh terus, Malfoy" Hermione menarik jubah Draco yang sekarang jalannya sudah lebih lamban dari siput.

"Kalau jalanmu masih selambat siput, kita tak akan selesai sampai besok." Hermione menyeret Draco.

Sudah sangat larut sekarang, rasa penat bekas detensi membuat Draco semakin kelelahan. Terus berjalan menyusuri koridor-koridor kastil. Sepi penghuni lukisan semua sudah tidur. Tapi tiba-tiba dia menegak. Hermione yang sedari tadi menarik Draco ikut menegak. Kantuk yang menyerang mereka segera hilang digantikan seringai. Hermione dan Draco saling bertukar pandang penuh kemenangan.

"Sepertinya kita dapat mangsa" Seringai lebar di wajah Draco mengapus noda kelelahannya.

Mereka berdua menajamkan telingannya. Ada suara dibalik koridor didepan mereka. Tak cukup keras memang, tapi di tengah kesunyian ini suara itu terdengar mencurigakan. Draco melangkah perlahan diikuti Hermione.

Suara dari balik koridor itu begitu mencurigakan. Ada bunyi gesekan dinding dan bunyi-bunyian aneh lainnya. Hermione masih memegangi jubah Draco di belakang.

"Wow mate hari yang panas ya" Suara Draco menghentikan aktivitas dua sejoli yang berhasil ditangkapnya. Seringai kemenangan karena berhasil menangkap dua orang sekaligus membuatnya tampak girang.

Blaise yang tadinya menciumi ganas seorang gadis Ravenclaw langsung melepaskan pelukannya. Terkesiap kaget kegiatannya diintrupsi. Sedangkan gadis Ravenclaw itu tampak berantakan. Kancing kemaja atasnya terbuka, dia sembunyi diantara bahu Blaise dan dinding. Tak berani menatap siapapun.

Hermione menatap jijik. Dia memang senang mendapat pelanggar jam malam tapi bukan yang macam ini. Ini sungguh menjijikkan. Berbanding terbalik dengan Draco yang semangat. Padahal sedari tadi Draco tak punya tenaga, tapi begitu dapat pelanggar Draco benar-benar terlihat bugar.

"Err— Drake.. kau bilang kau didetensi, kenapa disini eh"

"Aku didetensi tapi patrolinya masih jalan. Sialan memang McGonagall. Apa aku mengganggu?" Kata Draco kelewat santai. Hermione mengernyit mendengarnya.

Draco bahkan menyunggingkan seringainya ke gadis Ravenclaw yang ada di balik Blaise. Membuat gadis itu menegang, matanya membulat bagai galleon.

"Sejujurnya iya, ku kira kalau kau didetensi, tak usah patroli. Kau sangat menggangu." Jawab Blaise.

Hermione menatap dari Draco ke Blaise. Tak tau bagaimana jalan pikiran laki-laki. Mereka piker bisa seenaknya apa. Dengusan keras Hermione membuat Draco dan Blaise menoleh kearahnya.

"Sedang apa kalian ini? Kalian melanggar jam malam, dan melanggar dua peraturan." Akhirnya Hermione bicara, kalau tidak dua pemuda itu akan mengelar tikar untuk minum teh dan berbincang-bincang.

"Apa kalau aku bilang aku sedang patroli kau percaya?" Tanya Blaise ke Hermione dengan polos.

Hermione mendelik ke Blaise, membuat gadis rambut hitam yang ada di belakang Blaise meraptkan dirinya ke Blaise. "Apanya yang patroli? Kau kira aku bodoh tak bisa menyimpulkan sedang apa kau tadi?" tukas Hermione tajam.

"Sudah jangan dengarkan, dia akan ceramah panjang. Kurasa main-mainnya cukup Blaise. Detensi dua hari. Kalian temui kami hari minggu." Draco mengacuhkan Hermione. Setelah memberi detensi senyum sumringahnya terkembang.

Hermione mendelik ke Draco. Selalu Draco mengambil keputusan sepihak. Tapi sebenarnya ada adilnya juga disetiap keputusanya. Tapi tetap saja menyebalkan. Hermione mengerutu dalam hati.

"Bukan begitu Hermione?" tambah Draco.

Hermione berjingit nama depannya dipanggil. Matanya langsung mengarah ke Draco. Tapi yang diperhatikan tak acuh. Sedikit syok namanya sendiri dipanggil.

"Em.. ya detensi. Sekarang balik ke asrama masing-masing" Perintah Hermione lebih tepatnya ke gadis Ravenclaw itu. Karena memerintah Blaise tak ada gunanya.

Asrama Ravenclaw tak jauh dari koridor ini, setidaknya tinggal berbelok ditikungan ke dan ada pintu rahasia Ravenclaw nantinya, jadi gadis itu langsung pergi setelah menatap Blaise dengan entah pandangan apa itu Hermione tak mengerti.

"Sudah sana tempatmu dibawah tanah, aku mau balik ke asrama ketua murid" Usir Draco ke Blaise setelah mereka berbicara sepanjang jalan.

Draco dan Hermione berpisah dengan Blaise di sebuah lorong yang sekiranya itu adalah jalan pintas terdekat untuk kebawah tanah, sedangkan mereka sendiri berbelok kearah lain.

"Yeah, night dude" Blaise langsung berbelok meninggalkan Draco dan Hermione.

Daraco dan Hermione kembali berjalan ke asrama katua murid. Tugas untuk patroli sudah selesai dan mereka hanya mendapat dua pelanggar. Tapi setidaknya cukup membuat senang. Tak bijaksana memang kalau mengharap adanya pelanggar, tapi rasanya patroli kalau tak mendapati pelanggar itu sia-sia. Saat sedang dalam perjalanan Draco berhenti. Hermone otomatis ikut berhenti.

"Kenapa?" Tanya Hermione heran.

"Tak apa kembalilah dulu,aku menyusul."

Hermione melihat Draco bergetar didepannya. Hermione berjalan kedepan menayamai Draco. Bukan hanya bergetar Draco juga pucat, napasnya pendek. Terdengar eranga tertahan dari mulutnya.

"Kau kenapa?"

"Pergilah, Granger! Aku menyusul!" Bahkan untuk bicarapun terdengar butuh banyak tenaga.

Hermione tak melangkah maju sedikitpun. Ia mendekat ke Draco. Tapi ditepis oleh Draco berulang kali Draco menyuruh Hermione menyingkir. Semakin lama suaranya ikut bergetar. Hermione jelas tak akan pergi sesuai kemauan Draco. Hermione terus kembali mendekat ke Draco. Sepanjang koridor ini adalah koridor kosong jadi jelas tak mungkin meninggalkan seseorang disini. Apalagi keadaan Draco tak jelas mengapa dia menyuruh Hermione untuk minggir.

Hermione kembali mendekat ke Draco setelah beberapakali ditepis.

"Beritahu aku kau kenapa, Malfoy. Ayo ke Hospital Wing" Hermione mulai panic sendiri. Napas Draco yang pendek-pendek membuatnya khawatir. Tapi Draconya sendiri malah menggeleng dan menjauhkan Hermione darinya.

"Aku tak apa, setelah ini akan baik-baik saja. Pergi!"

Tangan Draco yang kanan mulai memegang erat tangan kirinya. Draco menumpukan diri di dinding menahan tubuhnya untuk tak jatuh. Ini mengingatkan tentang ingatannya, sebelumnya ini sudah pernah dilihat Hermione. Yah di hari pertama setelah kedatangan di Hogwarts.

"Kau tak bisa menyuruhku untuk menyingkir, dengan keadaanmu yang konyol ini. Sekarang beritahu aku kenapa apa!" Hermione tak tahu harus apa sekarang. Dia mengeluarkan tongkatnya.

Draco tak bisa menjawab, bernafas saja sudah susah. Ia merosot ke tanah. Sakit di tangan kirinya bahkan 10 lipat lebih sakit dari yang terakhir diterimannya. Perihnya sama seperti ada yang menyayat tangannya dengan pedang timah yang di panaskan. Dan pedang itu semakin lama rasanya di gandakan. Mengulici tangannya. Draco mengeram untuk kesekian kalinya. Pening, sesak, perih, panas, sakit semua jadi satu. Sejauh ini dia bisa menahan untuk tak mengeluarkan teriakan.

Koridor ini benar-benar kosong, jauh dari jangkauan. Hermione tak tau lagi harus apa. Ia mengangkat tongkatnya, dan berkonsentrasi.

"Expecto Pactronum!" Tangan Hermione yang lain mendekap Draco yang kesakitan. Dari tongkatnya keluar berang-beranng perak yang berlari disekitarnya.

"Panggil Blaise Zabini. Suruh dia kembali ke sini, secepatnya." Titah Hermione ke berang-berang itu yang langsung berlari cepat di kegelapan, membentuk seberkas cahaya di tempat menghilangnya.

Entah dia tak tahu apa yang dilakukannya. Tapi Blaise adalah orang yang tau Draco saat dalam keadaan seperti ini.

"Granger.. mantra…silenco, jangan yang.. lain" Draco menunjuk ke mulutnya. Dia masih menggeliat kesakitan. Hermione mendekap erat Draco, berharap sakit apapun yang diderita Draco bisa hilang.

Hermione tak menuruti perintah Draco awalnya, karena dia tak tahu apa yang terjadi. Dia menuntut untuk tau apa yang sedang terjadi. Tapi melihat Draco yang masih menahan kesakitan dibawah dekapannya membuat Hermione menuruti permintaan Draco. Draco membenturkan kepalanya ke dinding berkali-kali. Setelah mantra silenco dirampalkan setidaknya nafas Draco sedikit lebih baik dibanding tadi, dia mengeram kesakitan. Tapi tak ada suara yang keluar. Hermione mencoba meraih lengan Draco yang tergenggam, Draco langsung menepisnya menggeleng walaupun patah-patah.

Hermione meruntuki Blaise yang tak kunjung datang. Atau patronusnya tak tau jalan rahasia masuk ke asrama Slytherin, harusnya Blaise belum cukup jauh dari sini. Hermione mengumpat dalam hati. Hermione bingung sendiri. Draco yang keras kepala membuatnya tak bisa berbuat apa-apa. Tak berapa lama ada derak lari tergopoh-gopoh mendekat. Dan itulah Blaise datang terengah-engah.

"Draco!"

"Dia terus menepisku, saat aku mau menolong. Aku tak tahu apa yang terjadi." Jelas Hermione. Dia tak mau di salahkan kalau Blaise ingin menyalahkannya.

Blaise hanya mengangguk tampa menoleh ke Hermione. Blaise langsung menuju ke Draco yang bersandar di dinding, terpejam dengan nafas berat. Tangan Blaise terjulur ke tangan Draco. Dan untuk kesekian kalinya Draco kembali menepis orang yang mencoba menyentuh tangannya. Mata Draco mulai terbuka.

"Lagi? Sakit lagi? Kau harus bicara keseseorang Drake" Blaise terdengar marah. Blaise mengangkat Draco dari duduknya di lantai. Melingkarkan tangan Draco ke bahunya untuk membantu Draco berdiri.

"Sekarang kau mau kemana?" Tanya Blaise kasar. Tapi Hermione masih mendengar ada nada khawatir disana.

Draco mengucapkan sesuatu. Tak ada suara yang keluar, karena pengaruh mantra silenco yang Hermione berikan. Blaise tampaknya sudah biasa melihat ini, dia tak menyalahkan. Blaise berkonsentrasi dengan apa yang Draco ucapkan. Hermione sungguh tak tahu apapun. Ikut berdiri dan membantu Draco berjalan mengikuti arah yang Blaise ambil.

"Ada apa sebenarnya? Kita sekarang kemana?" Tanya Hermione binggung. Kecemasan meliputinya.

Blaise balik memandang Draco yang menggeleng susah payah. "Kita kembali ke asrama ketua murid. Kau tunjukan jalannya, Granger." Blaise mengacuhkan pertanyaan yang pertama.

Hermione langsung mengambil alih penunjuk arah. "Ada apa sebenarnya?" Tuntut Hermione.

Blaise tak menjawab pertanyaan itu sampai mereka tiba di asrama ketua murid. Rasa jengkel Hermione yang diacuhkan menguar hebat. Blaise dan Draco sama-sama tak mau memberi tahu Hermione. Hermione sudah capek untuk bertanya hal yang sama. Dia tak menanyakan lagi karena tak akan ada jawaban yang diberikan.

Hermione memberi kata kunci sesampainya di dua gargoyle singa dan ular. Gargoyle itu menoleh melihat kedatangan tamu yang dramatis ini. Hermione mengabaikan tatapan itu dan langsung masuk bersama Draco dan Blaise. Tanpa babibu Blaise menuntun Draco ke kamarnya. Blaise jelas sudah tahu mana kamar ketua murid putra. Hanya dengan melihat warnanya saja Blaise sudah bisa menebak mana kamar Draco. Membaringkan Draco ke kasurnya. Hermione tak ikut ke dalam kamar Draco. Punggungnya pengal seusai mengotong Draco.

Dari bawah Hermione bisa mendengar suara Blaise.

"Mau sampai kapan kau tak memberitahu seseorang?"

'Tutup mulutmu! Arghh.." Jelas mantra Silenconya sudah diangkat.

Mendengar erangan Draco, Hermione bangkit dan langsung naik menuju kamar ketua putra. Dia melihat Draco masih menggeliat kesakitan. Draco menghantamkan kepalanya ke dinding berkali-kali. Mungkin menghalau sakitnya.

"Stupefy" Tongkat Blaise teracung ke Draco.

Sinar merah menghantam Draco tepat didada. Membuat Draco mundur menghantam dinding. Hermione terperanjat. Blaise menyerang Draco. Draco langsung pingsan, tak bergerak. Dari raut mukanya masih terlihat kalau di kesakitan. Hermione langsung sigap menarik tongkatnya keluar dari jubah.

"Apa yang kau lakukan?" Hermione masih syok melihat orang yang sekiranya bisa membantu malah menyerang. Hermione menggengam tongkatnya erat.

Blaise menoleh ke belakang mendapati Hermione berdiri diambang pintu menatap bingung ke arahnya. Blaise bisa melihat Hermione menggengam erat tongkatnya.

"Kau gila. Kukira kau satu-satunya yang bisa menolong, Zabini! Kau menyerangnya."

"Dengar aku harus melakukan ini, Granger" Blaise bisa melihat tatapan Hermione yang tak percaya dan waspada. Buru-buru Blaise melanjutkan. "Kalau tidak dia bisa menyakiti dirinya sendiri."

Hermione masih belum percaya. Pikirannya menolak untuk menerima hal ini kalau ini tercetus dari seorang Slytherin.

"Jelaskan apa yang terjadi. Kau menyerangnya bukan membantunya, Zabini."

Blaise menarik napas cukup panjang. "Aku tak bisa menjelaskan, kau harus tanya sendiri ke Draco. Aku tak bisa lama-lama disini Prof Snape tadi sudah mencurigaiku. Kalau Draco bangun dari pingsannya dan masih sakit bius lagi dia. Rampalkan muffliato kalau kau tak mau mendegarnya berteriak kesakitan."

Hermione mengernyit bingung. Dia disuruh menyerang saat yang harus diserang sedang sakit.

"Hah? Dia sakit dan kau menyuruhku menyerangnya. Ini bisa jadi hal yang fatal aku tak tahu, tapi kita tak boleh ambil resiko."

"Aku sudah mencoba menggunakan mantra untuk menghilangkan sakitnya terakhir kali. Dan itu membuatnya malah tambah kesakitan, Granger. Ramuan pereda rasa sakit malah memper parah keadaannya. Selama ini dia hanya menunggu sampai sakit itu hilang sendiri, tak ada cara lain. Aku tak tahu kapan terakhir kali dia sakit. Dua minggu yang lalu dia juga seperti ini. Dia selalu menutupinya. Aku harus kembali."

Blaise langsung keluar kamar, dan menepuk bahu Hermione. Hermione masih berdiri diambang pintu menatapi Draco yang jatuh pingsan. Hermione akhirnya memutuskan untuk mendekat. Dia berjalan masuk ke kamar ketua putra. Ini yang pertama dia masuk kesini. Ruangannya hampir sama hanya warna dinding hijau dan perak yang membedakan. Ada gambar panji ular di salah satu sisinya.

Ragu-ragu Hermione mendekati Draco. Perlahan dia mendekat dan membenarkan posisi Draco. Entah kenapa dilihatnya napas Draco masih pendek-pendek. Hermione cemas bukan main. Selama ini Draco sering seperti ini dan Hermione tak tahu menahu sedikitpun. Dia baru melihat Draco kesakitan dua kali. Kata-kata Blaise yang terakhir membuatnya berpikir keras tentang apa yang sedang terjadi.

Hermione mengambil selimut dan menutupi tubuh Draco. Napas Draco membuat kecemasan Hermione memuncak. Hermione memeriksa kening Draco menyibak rambut pirang platinanya, suhu badan Draco normal. Wajah Draco benar-benar kesakitan. Didekatkannya telinga Hermione ke dada Draco memeriksa detak jantungnya. Jantung Draco berdetak cukup cepat untuk ukuran orang yang sedang tidur atau pingsan. Hermione tak bisa memutuskan sesuatu karena kata Blaise kalau dia berusaha menggunakan mantra atau ramuan penyembuhan, Draco akan semakin kesakitan.

Satu yang diingat Hermione. Draco selalu menjauhkan siapapun yang hendak memegang tangan kirinya tadi. Baik itu Blaise atau Hermione. Akhirnya Hermione memutuskan untuk melihat mungkin akan ada petunjuk tentang sakitnya itu. Hermione membuka perlahan kancing lengan Draco, menarik lengan kemeja itu keatas. Dan Hermione berjingit hampir berteriak. Di lengan Draco ada tanda kegelapan. Hermione tahu Draco dulu adalah pelahap maut, ini kali pertama dia melihat tanda itu di tangan Draco. Dia sering melihat di lengan pelahap maut lainnya, tapi tak pernah melihat di lengan Draco. Tanda kegelapan di tangan Draco tak seperti yang lain. Tandanya masih terlihat baru berwarna hitam legam baru dibakar. Ada kemerahan disekitarnya bahkan tanda itu terlihat timbul.

Hermione mundur beberapa langkah. Tanganya membekap mulut tak percaya. Matanya membelalak tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Setahunya tanda kegelapan itu memang tak bisa hilang, tapi tanda itu akan sedikit memudar setelah kejatuhan Voldemort. Milik Prof Snape yang tak sengaja dilihatnya juga agak memudar. Sedangkan yang ada di lengan Draco terlihat baru. Hermione memberanikan diri kembali mendekati Draco meskipun dia sendiri takut. Hermione menyentuh tanda itu memastikan kalau tanda itu tak benar-benar timbul. Saat disentuh perlahan Draco mengeliat dan berteriak keras dalam tidurnya.

"ARRGGHHHH!" Napas Draco semakin berat. Hermione terlonjak, tangannya gemetar. Draco semakin kesakitan. Melihat Draco berteriak kesakitan Hermione langsung mengangkat tongkatnya

"STUPEFY!" Tangan Hermione bergetar.


How? Konliknya udah mulai keluar loh dapet gak hehe. kok kayak kecepetan ya? Sory aku sering typo. Maklumin ya..

Makasih sudah review Astro O'connor, maulidanh2, Gallatrance Hathaway, poosy-poo20, arrogant spring, hana37! :D

Yang punya akun udah aku bales lewat PM ya..

Buat Arrogant spring: hoho iya makasih kritiknya bisa dterima. Maaf kalau mengecewakan semua, ini aku coba perbaiki. Hermionenya kan gak lemah dicuma tersudutkan kok, dia gak ada tongkat soalnya. Sebenernya yang lebih merana itu Draco, Cuma aku ngambil sudut pandangnya untuk beberapa chapter ini pake punya Hermione.