Lil bit OCC, don't be mad at me because I didin't mention it earlier hehe. Abal pake banget,

J.K Rowling

.

.

.

Tak ada pergerakan sama sekali dari Malfoy. Dan yang mengkhawatirkan adalah dia terus menunjukkan raut kesakitan, keringat membasahi dahinya. Tak benar-benar seperti orang yang sedang tidur. Hermione hanya duduk memeluk kakinya sendiri disalah satu kursi di pinggir tempat tidur, menatap lurus ke arah Malfoy. Tongkatnya tergenggam erat di tangan kanannya.

Hanya diam diposisi itu entah untuk waktu yang berapa lama ia tak tahu. Pandangannya selalu beralih dari tangan Malfoy ke wajahnya dan kembali ke tangan kiri Malfoy. Sesekali memastikan kalau Malfoy masih bernafas. Tak ada yang lain.

Pertanyaan-pertanyaan berkelebat di pikirannya.

Apa yang dialakukan? Kenapa tanda kegelapan ditangannya seperti habis dibakar? Apa yang sedang terjadi? Apa ini ada kaitannya dengan Voldemort? Apa Voldemort masih hidup? Kenapa...

Tak ada habisnya pertanyaan berkelebat. Dan setiap dia memnganalissi sesuatu dari pertanyaan itu akan muncull pertanyaan lain. Hermione sudah tak ingat lagi jam berapa sekarang. Otaknya bekerja keras menganalisi semua ini.

Harus ada seseorang yang paham tentang hal ini. Seseorang yang tahu banyak tentang hal-hal yang mistis dan besar. Seorang penyihir hebat yang mampu mengatasi. Ini bisa jadi sebuah pertanda. Pasti ada yang salah. Profesor Dumbledoor pasti tahu akan hal yang seperti ini. Siapa lagi yang bisa menganalisis hal seperti ini?

Setiap analisis berakhir pada kebuntuan. Karena focus Hermione masih pada apa yang dipandang didepannya. Ia tak memungkiri bahwa dirinya sendiri takut akan apa yang ditemukannya di lengan Malfoy. Ya, itu sebabnya dia berhenti pada setiap titik analisahnya. Takut untuk menemukan kebenaran yang akan terungkap.

Memangnya dimana sikap Gryffindor yang dimiliki? Hermione mencak-mencak mendengar pemikirannya sendiri yang berputar tak jelas di otaknya. Hermione harus bisa menuntaskan masalah ini, batinya melolong mengingatkan untuk tetap berada di jalannya.

Sesuatu bergerak pada jarak pandang Hermione. Malfoy. Dan ini adalah pergerakan pertama setelah sekian lama dia terbaring disana. Mata Hermione tak lepas dari pergerakan itu. Malfoy baru saja menggerakkan lengan kirinya, napasnya panjang. Jelas Malfoy sedang berusaha mengatur nafasnya sendiri disana. Hermione masih tak melepas pandangannya. Tangannya semakin menggenggam erat tongkatnya. Dan dilihatnya Malfoy mulai membuka matanya. Untuk sepersekian detik raut kesakitan terpatri di wajah aristocrat Malfoy. Tapi kemudian berubah lega tapi juga bingung dalam waktu yang sama, saat melihat Hermione yang duduk tegang disalah satu sisi kamarnya.

.

.

Hening mengawali keduannya. Manik kelabu Malfoy mengunci pandangan Hermione. Duduk tegang sambil menggenggam tongkat erat-erat bukanlah suatu tidakan yang bagus untuk saat ini. Karena Malfoy mengamati gerak-gerik Hermione dengan penuh kecurigaan. Tetap tak mengambil pusing degusan dari Malfoy Hermione masih mengawasi pergerakan dan kondisi Malfoy. Bagaimanapun juga Hermione butuh tahu bagaimana keadaan Malfoy sekarang.

"Bagaimana keadaanmu Malfoy?" Tanya Hermione masih dengan penuturan dingin membekukan.

Mendegus bosan Malfoy menjawab sama dinginnya, membentuk atmosfer kebekuan makin menjadi, "Seperti kau peduli saja."

Tatapan Hermione makin dingin mendengar jawaban Malfoy.

Memang aku peduli bodoh! Kau pikir diamku yang kulakukan disini sedari kemaren malam, sampai sekarang apa gunanya kalau aku tak peduli? Diam mengamatimu yang tak bergerak, bahkan jam berapa sekarangpun aku tak tahu. Hermione membatin penuh kebencian. Tak dihargai sama sekali membuatnya hina.

Melupakan luapan emosinya, Hermione meluruhkan kemarahannya. "Memang aku peduli."

Untuk sementara waktu Hermione bisa melihat kilatan berbeda dimata Malfoy. Kilatan yang mulai melembut dan ada yang lain disana. Membuat Hermione tak mengedip sedetikpun. Belum sempat meganalisis diamnya lawan bicaranya, Malfoy sudah memasang topeng datarnya kembali, menghilangkan kesempatan Hermione untuk mencari tahu.

Tanpa sadar Hermione memutar bola matanya, Malfoy memang pandai menyembunyikan emosinya. Pandangan Hermione beralih ke lain pihak. Dia mengamati gerak-gerik Malfoy. Sama seperti yang dilakukan sedari kemarin malam. Matanya menghujam tajam ke tangan kiri Malfoy yang menunjukan tanda hitam legam bentuk tengkorak dengan ular yang terjulur keluar dari mulutnya, dengan pinggiran yang sedikit memerah seperti bekas bakaran. Merasakan dingin yang menghujani punggungnya, Hermione mencoba untuk menyingkirkan gemetar katakutannya. Udara dingin ini bahkan sama sekali tak membantu, malah membuat semakin mengerikan. Hermione tak melepas pandangan dari tanda itu seakan terhipnotis. Mengawasi tanda itu dalam diam, Hermione tanpa sadar megeratkan pegangan pada tongkatnya.

Mengantisipasi semua kemungkinan yang bisa saja terjadi. Berpikiran bahwa tanda itu akan membawa sesuatu yang tidak diinginkan datang.

Gerakan dan pandangan mata Hermione membuat Malfoy sang empunya mendesisi tajam.

"Apa yang kaulihat?" Menarik kemajanya yang tersingkap. Malfoy menutup tanda kegelapan mengerikan itu dari pandangan Hermione, membuatnya kembali kealam sadar.

Hermione mendongak untuk menghadap ke Malfoy. Manik kelabu yang biasanya memancarkan sinar menyebalkan, penggoda, licik, dan penuh ambisi hilang tak berbekas disana. Semuanya tak ada. Hanya ada sinar kebencian dan membunuh.

"Jauhkan matamu dariku jalang." Nada Malfoy benar-benar lepas dari segala emosi. Rahangnya mengatup keras.

Mulut Hermione sudah akan membuka, tapi tertutup lagi. Tak tahu apa yang inggin dia katakan. Semua kata yang keluar dari mulut Hermione mungkin akan dianggap sama busuknya dengan sebutan jalang yang Malfoy berikan tadi. Hermione tak menjawab, mengambil posisi berdiri Hermione berjalan ke arah pintu keluar, masih diiringin tatapan membunuh Malfoy.

"Stop there, Granger." Suara Malfoy menghentikan Hermione.

Berbalik Hermione kambali menghadap ke Malfoy, mengakat alis meminta penjelasan. Hermione lebih memilih diam ketimbang salah berucap dan malah membuat Malfoy merasa diasingkan. Sama seperti saat di memandang tajam ke tanda kegelapan tadi. Hermione tahu kalau Malfoy saat ini merasa disalahkan, melalui tatapan Hermione. Tapi tak ada yang bisa Hermione lakukan, apa yang kau harap kau lakukan, kalau melihat sesuatu yang membahayakan didepan matamu?

"Berhenti. Kalau kau melapor—"

"Aku tak melapor kesiapapun, Malfoy. Kau yang diam disana jangan bergerak, aku akan kembali setelah ini."

Tanpa menunggu jawaban, Hermione keluar dari kamar bernuasa penuh hijau-perak Slytherin itu.

.

.

.

Hermione jelas tahu bahwa keputusan terbaik adalah melaporkan hal ini ke salah satu professor, khusunya Professor McGonnagal. Seseorang harus tahu. Sambil memegang baki penuh makanan yang baru Hermione angkut dari dapur, Hermione berjalan perlahan. Koridor-koridor masih sepi senyap. Hari ini adalah hari sabtu, kebanyakan siswa akan molor di akhir pekan. Bahkan Hermione ragu dalam kurun waktu 3 jam, atau lebih tepatnya jam 9 nanti akan ada siswa yang sarapan.

Keputusannya memang akan melaporkan perihal tanda kegelapan ini ke Professor McGonnagal, tapi Hermione akan mencoba mencari tahu dahulu apa yang terjadi. Dia tak mungkin bergerak jika apa yang diketahuinya hanya sebatas seperjengkalan kakinya. Dan hari ini dia sudah membawa 5 buku setebal gundukan kue ulangtahun Harry yang ke 17 belas dalam tasnya, untuk mencari tahu apa yang terjadi dengan tanda kegelapan keparat itu.

Hermione tak akan membiarkan sesuatu terjadi, entah itu untuk Malfoy atau seluruh rakyat penyihir. Hermione tak akan membiarkan hal segenting ini berlama-lama tak ditangani. Dia, Harry dan Ron sudah bersusah payah menghentikan peperangan dan kehilangan banyak rekannya.

Hermione tak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi lagi. Tangan Hermione mengepal keras saat bayangan tentang masa lalu perang masuk ke pikirannya. Menggigit bagian dalam pipinya Hermione berusaha mengusir bayang-bayang menyedihkan itu. Bayangan yang menunjukan begitu banyak rekannya yang terluka, bayangan mereka yang tak berdosa teronggok diantara kaki pelahap maut, dan bayangan para pelahap maut yang tertawa gila layaknya binatang diatara semua yang melawannya.

Bayangan dimana Voldemort membawa ketakutan bagi semua mata yang memandangnya. Hermione benci itu. Hermione membenci semua itu. Menggigit semakin keras pipi dalamnya, ia tak memedulikan daraah yang mulai terasa di lidahnya. Hermione mempercepat langkahnya kembali ke asramanya. Dia harus segera menyelesaikan ini.

Bergerak cepat Hermione melintasi koridor-koridor menuju ke asramanya. Hanya sedikit siswa yang sudah memulai harinya. Tak memedulikan anggukan sopan dari beberapa murid, Hermione terus berjalan. Bahkan Gargoylepun hampir dibentak oleh Hermione yang mulai muak dengan bayangan kegelapan yang masih menyelimutinya.

Membenahi letak tasnya yang melorot karena dibawa kesetanan dengan sekali sentakan bahu, Hemione menaiki tangga langsung dua-dua. Dan mendorong pintu sebuah kamar dengan kakinya sampai menjeblak terbuka. Memperlihatkan pemuda yang duduk bersandar di kasurnya yang memandang dengan sorot tidak suka.

"Oh, sungguh halus sekali." Sindir pemuda berambut platina itu.

"Kau diam saja, Malfoy." Hermione bergerak ke kursinya yang sedari semalam ditempati.

Menaruh tas dengan kasar membuat suara bedebum keras. Hermione mengistirahatkan punggungnya sebentar. Melepas beban yang sedari tadi bertengger dipundaknya.

Malfoy mengawasi Hermione, matanya mengamati gadis itu.

"Kau bawa apa, huh? Batu karang?" Tanyanya sambil mengarahkan pandangannya ke tas Hermione.

"Cerewet. Diam saja kau. Nah sekarang makan ini semua sampai habis." Hermione menyerahkan nampan yang berisi makanan ke pangkuan Malfoy.

Malfoy mengamati nampan yang ada di pangkuannya. Seolah menuntut makanan-makanan itu untuk berbicara padanya.

"Makan idiot." Titah Hermione.

Malfoy hanya mendelik kearah makanannya. Lalu kearah Hermione.

Hermione yang sedaritadi tak dalam mood yang baik, mencak-mencak sendiri. Menarik tak sabar nampan dari pangkuan Malfoy, Hermione membawa makanan itu kembali ketangannya.

"Dengar aku sama sekali tak meracuni makanan ini. Kau tak akan mati." Geram Hermione kasar.

Tanpa tending aling-aling Hermione langsung memaksa masuk satu suapan bubur ke mulut Malfoy.

"Hei—" Protes pemuda yang disuap paksa itu.

"Diam saja dan terima, tadi kusuruh makan sendiri tak mau." Hermione kembali menyuapkan sesendok penuh bubur ke mulut Malfoy. Membuat pemuda itu kepayahan.

Belum tertelan sepenuhnya Hermione sudah mengisi lagi mulut Malfoy, terus begitu sampai pemuda itu tersedak. Hermione menghentikan aksi kejar setorannya. Masih dengan mood yang berantakan, Hermione memutar bola matanya bosan. Dengan terpaksa menepuk-nepuk punggung Malfoy. Kalau Malfoy mati karena tersedak itu akan jadi berita yang menyedihkan. Tepukannya yang dianggap membantu, malah dibalas delikkan dari Malfoy.

"Dasar gila!" Seru Malfoy garang.

Hermione tahu kalau dia keterlaluan, tapi untuk bocah satu ini Hermione sama sekali tak peduli. Hermione tak membalas kata-kata Malfoy. Dia menyiapkan satu roket bubur besar untuk dimasukkan ke mulut Malfoy. Baru akan menyuapkan kembali bubur itu, Malfoy menarik mangkok bubur tersebut.

"Berhenti gadis gila. Aku sama saja bisa mati kalau begini. Kau pikir aku butuh bantuanmu untuk makan? Berikan." Tuntut Malfoy, sambil menarik lepas mangkok bubur dari tangan Hermione.

Tak mengubris Malfoy lagi, Hermione mengambil kendali bagian lainnya. Mengambil tasnya yang sebesar babon, Hermione berkutik dengan isi-isinya.

Malfoy makan dengan anggun dan tak bersuara. Matanya mengamati Hermione, alisnya melengkung dengan halus.

"Habiskan semua makananmu, setelah itu minum ini. Ini amoxilin penghilang rasa sakit, yang ini vitamin. Blaise bilang ramuan tak mempan, jadi coba obat biasa saja." Jelas Hermione, tak mengindahkan tukikan alis Malfoy yang sekarang sudah tak terlihat dimana letaknya.

"Apa?" Tanya Malfoy tak percaya. "Itu obat munggle kan? No, Granger. Ramuan jelas tak mempan, apalagi barang bodoh itu."

Hermione mendelik tajam kearah Malfoy. Menantangnya untuk menghina obat yang katanya barang bodoh. Dasar bedebah pirang busuk sialan. Batinnya mencerca Malfoy.

"Habiskan saja makananmu dulu, setelah itu biar aku yang akan mecekokimu dengan obat itu." Balas Hermione tajam.

Mengambil posisi ternyaman Hermione membuka satu dari kelima bukunya, dan langsung terhanyut dalam dunia membacanya. Melewatkan berbagai bagian yang dianggapnya tak penting. Kata demi kata, kalimat demi kalimat Hermione serap. Mengabaikan keseluruhan apa yang Malfoy lakukan.

"Sebenarnya apa yang kaulakukan, Granger?" Tanya Malfoy.

Masih dalam dunia membacanya Hermione menjawab. "Membantumu, jadi diam saja disana. Dan kalau makanmu sudah selesai beritahu aku."

Hermione tak megubris Malfoy lagi. Menanggapi apa yang pemuda itu katakana saja tidak. Hermione masih tekun untuk membaca mekanisme pembuatan dan cara kerja tanda yang dibuat dengan sihir.

Sebuah mediasi yang dibuat penyihir untuk melakukan kominikasi kolektiv adalah dengan mentransfer energy dalam sebuat benda. Membuatnya menjadi objek yang mudah diatur. Yang dilakukan adalah merubah susunan dan memasukkan pola perintah dalam objek media tersebut.

Ya, sama seperti tanda kegelapan. Dan juga koin galleon palsu yang dulu Hermione buat untuk alat komunikasi anggota lascar Dumbledore. Hermione tak menuruskan bacaan ini. Sebenarnya Hermione sudah membaca buku ini dulu. Dia hanya butuh sebuah informasi yang dia lupa dan sekiranya penting tapi mungkin masih tertinggal dari buku ini.

Suara Malfoy yang memanggilinya tak digubris. Hermione masih focus mebaca. Bahkan dengan kecepatannya membaca dia tak menghiraukan sudah berapa lama dia membaca. Yang dia tahu sekarang dia sudah memasuki akhir dari buku tersebut. Tapi masih saja tidak menemukan sesuatu yang penting. Semua berisi informasi standard tak ada yang membantu. Hermione beralih ke buku lainnya, mengorek halaman demi halaman. Memahami setiap pokok-pokoknya. Menyambung data-data yang terkumpul menjadi analisis yang masuk akal. Mengoreksi kembali dengan buku yang lainnya, Hermione berpaling ke buku yang lain. Kembali mebuat pola-pola rangkuman di otaknya

Tanda kegelapan di pelehap maut digunakan untuk komunikasi, dengan menyalurkan panas ke tanda orang yang dibutuhkannya. Lalu itu artinya ada mantra lain yang mengkhususnkan untuk mengirimkan bercak kesakitan.

Mantra apa yang menyerang Malfoy? Razorium Aramis? Mantra ilusi potong? Mungkin itu? Atau mantra Slavia quars? Piker Hermione tekun.

Menekuni buku Hermione tak sekalipun memedulikan sekitar, sampai dia membaui mint disekitarnya.

"Kau tahu jam berapa ini? Jam 2 siang Granger. Merlin apa yang kau pikirkan? Tak berkutik disana. Membuka buku dengan gilanya. Aku ragu kalau kau sadar aku keluar untuk mandi dan ke asrama Slytherin."

Malfoy berbisik dari balik punggung Hermione, membuatnya hampir melompat kaget. Napas Malfoy menggelitik telinga Hermione. Hermione berbalik dan mendapati dirinya dalam jarak yang minim dengan Malfoy. Bahkan untuk bernafaspun Hermione tak berani. Ini terlalu dekat. Batinnya protes.

"Hhmm masih mencoba mencari, huh? Lupakan saja, Granger. Aku bisa tangani sendiri. Kau tahu ada baiknya kau mandi, bau ketekmu mencemari kamarku." Malfoy berkata sambil menyerigai, saat melihat bibir Hermione mengkerut.

Rasa gugup yang tadi melingkupi Hermione hilang digantikan dengan kekesalan.

Hermione mendekatkan dirinya ke Malfoy. "Dengar Malfoy kau sama sekali tak bisa menangani masalah ini sendiri. Kau kira aku tak menghitung? Sudah dari awal tahun pelajaran sampai saat ini kau sama sekali belum menemukan solusikan. Itu artinya kau tak bisa menangani sendiri. Dan masalah bau ketek. Makan ini." Hermione mengangkat tangannya, membuka ketiaknya diantara wajah Malfoy. Yang langsung beringsut mundur menjauh.

Hermione berjalan keluar dari kamar Draco Malfoy. Sekeluarnya dari kamar itu Hermione membaui dirinya sendiri. Sedari tadi pagi dia sama sekali belum mandi.

Sore harinya tak jauh beda Hermione masih berkutik dengan buku-buku yang betebaran dimeja perpustakaan. Perkamen teronggok dengan manisnya. Tapi tentu kali ini dengan keadaan yang lebih menawan. Sudah mandi dan makan maksudnya. Sama halnya seperti tadi Hermione masih menganalisis sampai malam menjelang.

Malamnya Hemione kembali ke asrama sambil memanggul buku-buku kembali. Ini benar-benar gila. Dalam pengumpulan data yang disampaikan dari berbagai buku. Sebuah tanda yang diabuat sama seperti tanda kegelapan, akan tak berfungsi jika sang tuannya tak mengendalikan lagi. Lalu ada apa dengan tanda di tangan Malfoy?

Kekhawatiran muncul dibanaknya. Bagaimana kalau ada apa-apa dengan Malfoy? Hermione tersentak, dia langsung berlari menuju kamar sang Slytherin. Membuka kasar sampai pintunya terjeblak.

"Apa cara masukmu selalu seanggun itu, Granger?" Semprot Malfoy kesal.

"YA!" Hermione mengeram pada diri sendiri. Kenapa dirinya harus panic? Malfoy bahkan tampak sama menyebalkannya seperti biasa. Jadi apa yang dia khawatirkan. Bah pikirannya memang sudah gila sekarang.

Malfoy duduk di kasurnya sambil membaca buku yang Hermione tinggal tadi.

"Bagaimana? Sudah dapat solusi, Granger?" Tanyanya tanpa mendongak dari bukunya. Samar-samar seringai tak bisa ditutupi.

Mendengus keras Hermione rasanya ingin mengutuk pemuda dihadapannya menjadi sekumpulan debu. Masalah siapa, yang bingung siapa. Duh,

Hermione menjatuhkan dirinya dikursi yang dia pakai biasanya.

"Tau apa kau? Aku sudah dapat lebih dari cukup solusi." Jawab Hermione.

Malfoy tertawa. "Yah, tentu saja." Setelah itu hening.

Keduanya larut dalam bacaan masing-masing.

.

.

.

Hermione tak mengingat kapan dia jatuh tertidur tapi yang jelas, tidurnya terasa amat sangat nyenyak dan melegakan. Mungkin karena seharian ini energinya dikuras habis-habisan dengan membaca setumpuk buku. Belum lagi malam sebelumnya Hermione juga tidak tidur seusai patrol, karena Hermione hanya duduk diam tak bisa tidur karena terus-terusan memikirkan Malfoy dan kejadian anehnya.

Tapi Hermione sungguh mensyukuri tidurnya hari ini, terasa sungguh nikmat dan damai. Bahkan dirinya merasa perlindungan melingkupinya. Mungkin untuk sementara waktu Hermione akan mengambil waktu sangat lama hanya untuk tidur.

Tapi keinginannya terusik saat, yang menjadi bantalan Hermione bergerak tak tenang. Perlahan Hermione membuka matanya, mendongak Hermione melongo. Nyaris menjatuhkan rahangnya dari tempat asal.

Disini Hermione sekarang damainya tidur didapatkan disini diatas dada bidang Malfoy! Dan perlindungan yang melingkupinnya didapat disini dipelukan Draco Malfoy! Rembesan rona merah menyebar diantara pipi Hermione. Detak jantungnya melonjak tajam, mungkin setelah ini Hermione bisa terkena serangan jantung. Malfoy mendekapnya erat seolah tak membolehkan Hermione pergi kemana-mana. Hembisan nafas Malfoy hangat mengelitik telinga Hermione. Seolah tersambar listrik dimana-mana Hermione tak bisa berkutik, hanya bisa merasaka getaran-getaran listrik yang melingkupinya.

Dekapan Malfoy semakin erat, tarikan nafasnya yang panjang membuat Hermione khawatir.

"Malfoy? Kau baik-baik saja?" Hermione mencoba bertanya dengan suara pelan.

Tak ada jawaban selain, nafas yang tak teratur. Rintihan kesakitan mulai Hermione dengar. Hermione mulai sadar apa yang terjadi. Ini tak baik.

"Tidak lagi. Malfoy? Kau dengar aku? Katakan kau tak apa." Hermione kembali bersuara. Mencoba beranggapan kalau Malfoy sekarang sedang bercanda dan mencoba untuk merusuhinya, dengan guyonannya.

Tak ada respon yang keluar dari Malfoy. Hermione mencoba untuk keluar dari dekapan Malfoy. Tapi gagal, Malfoy menguncinya. Erangan kesakitan mulai terdengar.

"Malfoy lepaskan aku, mungkin aku bisa melakukan sesuatu"

"Malfoy bagun!" Hermione tetap tak bisa keluar dari dekapan Malfoy. Dia hanya bisa mencoba membangunkan Malfoy dari balik dekapannya.

"Bangun, please" Hermione menggoyang lengan Malfoy.

Dan kali ini erangan kesakitan yang tadi tertahan, tampak lepas walau dalam volume yang biasa. Tapi dari raut wajah Malfoy jelas ini sungguh menyakitkan, semakin lama sakitnya bertambah. Dan Hermione tak bisa menolong, karena dia terperangkap.

"aarrgghh!"

Peluh Malfoy bercucuran, erangan demi erangan keluar dari mulutnya. Hermione bergerak kasar, melepaskan dirinya dari Malfoy. Setelah lepas Hermione berada diatas Malfoy. Mengguncang keras tubuh Malfoy.

"Malfoy bangun! Draco Malfoy BANGUN!"

Dilihat dari sini bahkan Malfoy terlihat begitu menyedihkan. Raut kesakitannya tak dapat disembunyikan. Gerakannya gelisah. Tangan kiri Malfoy bergetar, Hermione bahkan tak punya keberanian untuk menyingkap lengan piayama Malfoy. Dan melihat apa yang ada dibaliknya. Erangan yang terdengar makin membuatnya panic.

"Bangun kumohon! Bangun Draco! Kau tak boleh tidur, itu malah akan meyakitimu. Bagun Draco." Raung Hermione, tak menghiraukan air matanya yang sudah jatuh. Menepuk keras pipi dan lengan Draco. Tapi tak ada sautan.

"BANGUN DRACO!" Hermione berteriak diikuti dengan guncangan kasarnya untuk Draco.

Dengungan suara Hermione membuat Draco tersadar. Terbangun kelepasan mencari oksigen. Tangannya mencengkram tangan Hermione yang sedang menggungcangnya, seolah tangan Hermione adalah tangan pembunuh. Draco berusaha menjauhkan tangan Hermione dari tubuhnya. Matanya masih belum bisa focus karena menahan sakit.

"Draco?" Suara Hermione membawa Draco kearahnya.

Draco langsung duduk bersandar di kepala ranjang, dan menarik Hermione ke pelukannya. Erangan tertahan terdengar ditelingan Hermione. Hermione tau erangan-eranagan ini ditahan sebisa mungkin, dilihat dari bibirnya yang terkatup keras.

"Hermione.." suara Draco begitu terdengar lemah.

Draco memeluk erat Hermione, mendekatkan Hermione keaarahnya. Hermione merasakan dahi Draco bersandar dipundaknya. Bergetar dipenuhi peluh. Draco memanggil-manggil namanya

OoooooooO

Yoo.. seems like forever. I know. Maki saja saya, tak apa. Lebay ya? Maafkan aku, btw ada yang nunggu gak sih? Hahaha ada kok ya insyaallah. Ini chapter selanjutnya. Maafkan dosa-dosa saya ya.. hehe...

Oke ada kabar baik, satu/dua chapter lagi, cerita ini selesai huahahahaha. Next chapter aku janji akan express ngerjainnya, karena leptopku udah sembuh, internet juga udah nyambung \^^/ ada perubahan mode penulisan disini, semoga masih bisa diterima.

ONE MORE CHAPTER LEFT YEAY!

Terimakasih yang udah bersedia review, follow dan fav. Aku cinta kalian. Terimakasih banyak. Byeeee big hug for you guys...