Still lil bit OCC, don't be mad at me because I didin't mention it earlier hehe. Abal pake banget. Mari kita selesaikan cerita ini secepatnya! :D

J.K Rowling

.

.

.

"Hermione.."

Hermione ... Hermione ... Hermione..

Suara lemah Malfoy, membawa Hermione ke gerbang ketakutan. Selemah itukah Malfoy. Hermione tahu dekapan erat dibahunya adalah suatu bentuk penyaluran rasa sakit yang dideritannya. Hermione tahu kalau disetiap gemetar tarikan nafasnya itu diiringi rasa perih. Hermione tau kalau di balik kemeja itu Malfoy menahan sakitnya, yang mungkin lebih sakit dari kutukan Ciriatus sekalipun.

"Ayo beritahu seseorang, kau butuh sesuatu" Suara Hermione terdengar. Hermione tak mampu mendongak ke Malfoy, ia lebih memilih menyembunyikan diri di dada Malfoy, dari pada melihat pemuda yang terlihat menahan kesakitan luar biasa.

"Tidak, aku... aku bisa mengatasinya. Beri aku waktu, sakitnya akan hilang." Suara itu tak lebih dari sekedar bisikan parau, yang makin menyayat Hermione.

Hermione makin memeluk erat Malfoy. Perlahan Hermione mengangkat wajahnya untuk menatap Malfoy. Wajah Hermione sudah penuh dengan air mata, Malfoy menatap Hermione. Hermione bisa melihat senyum lemah yang Malfoy berikan untuknya.

"Bodoh kenapa kau tersenyum? Kau—"

Kata-kata Hermione terputus saat Malfoy menutup matanya mengambil napas tajam. Dekapannya semakin mengerat. Dada bidangnya bergerak tak beraturan, memaksa Hermione bertidak.

"Malfoy? Harus ada yang tau"

"Aku tak apa, sebentar lagi selesai. Terus bicara, Granger. Meskipun.. aku tak menjawab. Teruslah bicara, aku mendengarkanmu, please, biarkan seperti ini."

Ini kata terpanjang yang diucapkan sedari tadi, dan kata ini membutuhkan banyak tenaga. Malfoy bahkan membutuhkan waktu lama untuk menenangkan dirinya. Bibirnya pucat, mumbuat Malfoy terlihat sama seperti vampire transilvania.

Hermione panic melihat Malfoy yang masih menutup paksa matanya menahan kesakitan. Tanpa sadar membuatnya menggumam memangnggil nama depan Malfoy terus menerus, membuat sang empunya mencium dalam-dalam rambut belukar tersebut. Dan Hermione menyukai ini. Dekapan Malfoy, pelukan Malfoy, setiap Hembusan napasnya. Cara Malfoy mendekapnya mebuat Hermione merasa aman. Tapi Malfoy sendiri sedang kesakitan.

"Please,.. keep talking Hermione." Bisik Malfoy parau.

Hermione menuruti pemintaan Malfoy. Memeluk erat Malfoy, Hermione menenggelamkan wajahnya di dada Malfoy. Tak mau melihat raut kesakitan, yang setia terpatri di wajah arogan pemuda itu.

"Aku tau Malfoy, kau tak bisa minum ramuan karena, kau sudah mencoba minum ramuan sebelumnya. Dan itu bisa mengurangi rasa sakit kan? Beri aku tanda kalau iya" Raung Hermione tak sedikitpun melepaskan Malfoy.

Malfoy menarik napas tajam, menempelkan bibir di rambut Hermione. Malfoy menjawab. "Y,, ya"

"Tapi itu tak berlaku untuk yang keduakalinya kan? Itu malah meningkatkan kesakitannya untuk yang selanjutnya kan?"

Hermione merasakan anggukan lemah dari Malfoy. Air mata Hermione mengalir deras, dia tau kalau Malfoy masih menahan sakitnya,

"Itu berlaku juga dengan semua mantra, pertama akan meredakan rasa sakitnya. Tapi untuk selanjutnya akan lebih memperparah sakitnya. Seseorang mengontrolmu, Malfoy."

Erangan kesakitan lepas dari mulut Malfoy, membuat Hermione mengeratkan kembali pelukannya. Mencoba menenangkan Malfoy. Mencoba menguatkannya. Hermione mencoba untuk menyalurkan rasa sakit Malfoy ke dirinya, tapi tak tahu apa yang harus dilakukannya.

"A..apa? Siapa?" Bisiknya.

"Aku tak tahu, itu yang aku pikirkan sedari tadi. Seseorang yang pernah menghubungkan suatu mantra dengan tanda kegelapanmu, sehingga dia bisa mengontrolmu. Bukan Voldemort." Terang Hermione. Hermione mengangkat wajahnya dari dada bidang Malfoy. Mencoba untuk menatap Malfoy langsung.

Tapi Malfoy tak mengijinkannya. Pelukannya memegang erat tubuh Hermione, seolah berkata tetap-seperti-ini. Hermione tak protes, karena semakin dia protes, Malfoy akan semakin kehabisan tenaga hanya untuk mencegah segala pergerakan Hermione.

"Siapa yang pernah memantrai tanda kegelapanmu, Malfoy? Mungkin dia yang sekarang masih mengontrolmu. Bahkan dalam tidur juga."

Malfoy tak menjawab. Dia berusaha memburu napasnya atau mungkin menahan erangannya agar tak memecah keheningan malam. Lagi-lagi Malfoy menarik napas panjang.

"Semua di Manor kecuali ayahku dan Snape. Itu bentuk hukuman jika tak berhasil melakukan misi, Granger. Memantrai tanda kegelapan orang yang gagal."

Mata Hermione membelalak tajam, Hermione hendak menarik tubuhnya untuk melihat kearah Malfoy, tapi Malfoy menahannya sekali lagi.

Menghukum orang yang gagal. Bisikan itu membuatnya merinding. Hermione tak mau membayangkan dengungan para pelahap maut yang meghukum Malfoy. Terakhir kali Hermione ingat, mantra yang digunakan untuk menyiksa adalah kutukan Ciriatus. Dan itu artinya Malfoy akan selalu mendapat bonus kutukan itu atau lebih parah lagi. Hermione benci melihat bayangan-bayangan psikopat gila yang tertawa di benaknya sambil menyiksa orang-orang termasuk Malfoy.

Memaksa mendongak, Hermione langsung menatap manic kelabu yang bersinar redup.

"Lihat sakitnya sudah mereda, beri aku waktu istirahat. Jangan bertanya teruslah bicara. Aku mendengarkanmu." Malfoy tersenyum, tapi erangan kesakitan terdengar disana.

Dasar bodoh! Kenapa dia malah menghiburku! Pikir Hermione. Hermione menutup matanya menghilangkan benik kelabu itu. Hermione mencium rahang bawah Malfoy, yang mengejang.

.

.

.

Sejak malam terakhir Hermione menemani Malfoy yang kesakitan. Malfoy tak pernah menyinggung lagi masalahnya. Topeng dingin selalu membingkai wajah aristocrat tersebut.

Dan kau tak akan pernah bisa menebak dibalik topeng itu. Lihat saja Malfoy, balik kesikapnya yang biasanya arogan dan menyebalkan. Tak ada jejak kalau dia pernah mengalami kesakitan. Hermione terus mengamati pemuda Slytherin itu dari mejanya, sama sekali tak mengubris makanan yang ada dihadapannya. Sudah dua hari ini Malfoy tidur di asrama Slytherin. Apa kau sakit lagi Malfoy? Tanyanya dalam hati. Hermione menghela napas panjang Whoa apa yang barusan kupikirkan? Jangan pedulikan Malfoy, jangan pedulikan Malfoy. Hermione berusaha untuk mengalihkan pandangannya dari Malfoy, tapi entah kenapa rasanya ada magnet yang menahan pandangan Hermione pada Malfoy.

Dari sebrang Hermione bisa menebak kalau Goyle baru membuat lelucon, dan Malfoy tertawa karenanya. Tawanya berbeda tak ada tawa mengejek, itu benar-benar tawa murni, yang membuat wajah Malfoy terlihat makin bercahaya olehnya.

"Hermione kau menatap Malfoy" Suara Ron membawa Hermione kembali ketempat.

Hermione gelagapan menatap Ron didepannya. Tampang Ron penuh kecurigaan, padahal biasanya saat makan Ron tak akan peka pada apapun disekitarnya kecuali makanan..

"Kau tahu, ku kira kau menatap keseksianku. Tapi ternyata aku baru sadar kau menatap Malfoy. Merlin! Tanpa kedip Hermione" Kata Ron sambil menyeruput mienya.

Sial. Sejelas itukah. Hermione mengutuk dirinya sendiri. Dan entah kenapa dia merasa kalau Malfoy menatapnya. Atau mungkin setidaknya itu yang ia bayangkan. Duh.

"Benarkah?" Tanya Hermione polos.

"Yah. Tadinya kukira kau menatapku. Kau tahu aku sampai panas dingin—"

"Ron berhenti bercanda," Potong Hermione. Hermione tau sahabatnya ini memang sempat menyukainya. Tapi tidak sekarang dia sudah jadi pemuda kekar yang digilai banyak wanita. Dia juga sudah punya Luna. Yah Luna Lovegood betapa antiknya.

Ron tertawa kecil "Bercanda Hermione. Tapi ini serius kenapa kau terus menatap bedebah pirang sialan itu?"

Hermione meringis mendengar hinaan Ron.

"Itu terserah Hermione, Ron. Dia tentunya bosan kalau pemandangannya itu kau." Timpal Ginny sebelum Hermione menjawab.

Ron mendengus panjang. Tangannya mengapai potongan ayam yang jauh dari tangannya. Sampai menyikut Dean yang ada disebelahnya.

Begitulah tipikal Ron, Hermione memutar bola matanya. Hermione menoleh ke Harry "Harry boleh aku Tanya?"

"Tentu saja Hermione, ada apa?" Balas Harry. Tersenyum hangat ke sahabatnya,

"Apakah bekas lukamu pernah sakit lagi, Harry?"

Harry mengangkat alisnya. "Tidak. Sejak Voldemort jatuh, tandanya sudah tak pernah sakit."

Satu pembuktian dari analisis Hermione. Kalau bekas luka Harry sudaah tak pernah sakit, berarti Voldemort sudah benar-benar mati. Tidak ada yang perlu dikawatirkan. Setidaknya itu. Tanda kegelapan milik Malfoy?

OoooooO

Hermione merasa jika sekarang Malfoy cederung menjauhinya, bahkan Hermione sama sekali tak tahu apakah sakit Malfoy kambuh akhir-akhir ini.

Dan disinilah sekarang Hermione, menjalankan detensi Snape membersihkan usus kodok dengan tangan kosong. Oh eww. Lendir dan bau anyir mengelilinginya. Detensi yang baru berjalan setengah jam ini, memakan banyak oksigen sekitar. Hermione harus berusaha keras untuk menjaga agar dirinya tak mual diantara berjajar-jajar bedahan yang tercecer.

"Sudah berapa toples yang kau kumpulkan Miss Granger?" Suara Snape, menggema dari balik mejanya.

"Dua Professor." Jawab Hermione mengernyit, sambil menarik usus perlahan dari perut kodok Alaska. Meninggalkan bercak bercak lender dan darah di sekitar tangannya.

"Bagus lakukan terus begitu. Sampai terkumpul 7 toples." Jawab Professor Snape. Seringainya terpampang jelas, tanpa disembunyikan.

"apa yang kau pikirkan, menumpahkan satu kuali ramuan polyjus. Sebenarnya apa yang kau rencanakan Miss Granger?"

Pertanyaan Snape membuat Hermione mengalihkan pandangannya dari kodok-kodok kecintaannya ini.

Apa dia tau? Tanya Hermione pada dirinya sendiri.

Mengangkat alis tingi Hermione mengamati guru ramuannya. Hah, suatu pemahaman mengetok keras isi kepala Hermione. Bagaimana dia bisa lupa? Ini Snape yang dihadapannya. Seseorang yang ahli dalam membaca dan menyembunyikan pikirannya.

Hermione meruntuki dirinya sendiri. Apa Snape sudah melegillimensnya? Pikiran Hermione bergelora. Di satu sisi dia percaya kalau Snape sudah melegilimensnya, tapi disatu sisi Hermione tak merasakan sensasi dimana seseorang memasuki pikirannya. Panik menguasainya.

"Apa yang kau rencanakan, Miss Granger?" Ulang Snape.

Mencoba menutup pikirannya.—yang sebenarnya masih belum dikuasai. Hermione menjawab singkat. "Tidak ada Professor."

"Ya tidak ada. Sangat jelas sekali. Potongan 30 poin plus detensi dua jam tak disambut raungan dari bocah pengharap kesempurnaan. Benar-benar tak ada yang patut dicurigai." Tukas Snape licin selicin rambut klimisnya yang jatuh rapi tak meninggalkan celah.

Menahan erangan Hermione, menghindari mata Snape.

"Ada yang perlu saya ketahui dari anda, Professor."

Snape tak menjawab. Jadi Hermione melanjutkan. "Bolehkan saya melihat tanda kegelapan milik ada Professor?" Hermione mendongak menatap penuh ketegasan kepada Snape. Memamerkan sikap Gryffindornya tanpa sadar, dan membuat Snape mendelik jijik.

"Untuk apa?"

"Saya harus memastikan Professor. Ada sesuatu hal yang terjadi akhir-akhir ini."

.

.

.

Draco Malfoy:

Entah aku harus malu atau lega. Hermione melihat semua yang terjadi saat tanda kegelapan ini kembali terasa menyakitkan. Dan ingat apa yang kulakukan saat itu? Berlindung didekapan Granger. Merlin. Apa yang akan dipikirkan gadis itu nanti? Melihat kelemahannya. Melihat kondisinya. Draco mengacak-acak rambur pirang platinanya geram.

Sebisa mungkin Draco sudah menjaga jarak dari Hermione. Dan lihat sekarang bahkan Draco lebih fasih memanggil gadis itu dengan nama depannya. Membuatnya mendengus tak sabar. Draco selalu menghindari gadis itu saat dia bertanya bagaimana keadaanya. Draco merasa dirinya diselimuti getaran aneh saat mata hazel Hermione memandangnya khawatir. Sebisa mungkin dia tak menatap mata hazel hangat itu, itu membuatnya kelepasan. Membuat Draco ingin terus mendekap Hermione sama seperti malam itu. Malam dimana dirinya menghilangkan rasa sakit itu dalam dekapan Hermione. Tapi ia tak bisa melakukannya lagi dan itu makin membuatnya merana kesakitan.

Sakitnya memang masih datang, dan saat terbangun untuk menjalani harinya setelah itu, Hermione akan datang dengan sorot penuh perhatiannya. Menanyakan apakah dia tak apa. Draco sama sekali tak bisa membalas. Mati-matian Draco menahan gejolak untuk menghambur dan mendekap erat gadis itu. Hermione memang bisa mengalihkan rasa sakitnya. Tapi kalian tak pernah tau apa yang terjadi, bentuk pengalihan rasa sakitnya adalah dengan mendekap Hermione erat-erat. Draco bahkan bisa saja mendekap Hermione sampai dia kehabisan napas dan menyakitinya, dan itu memang hal terakhir yang terjadi. Suatu hal yang membuat Draco merasa bersalah. Dan dia tidak akan mendekap gadis itu lagi.

Dan disinilah Draco sekarang. Mengunci diri di kamar lamanya di asrama Slytherin. Draco tak menginginkan untuk bertemu Hermione. Tak bisa dibilang mengunci diri sebenarnya, karena kamar ini milik bersama. Draco masih lebih memilih diruangan ini bersama Blaise Zabini, Theodore Nott, dan Vincent Goyle. Ketimbang satu ruangan dengan Hermione, tapi tak mampu menyentuhnya, itu malah menyiksa.

Menyibukkan diri dengan membaca buku, Draco tak terlalu menghiraukan teman sekamarnya.

"Kau belum bilang kenapa, kau menginap disini terus, mate" Blaise bertanya dari ranjang sebelah Draco.

Menyerigai samar Draco membalas. "Merindukan teman tidur lama tentusaja." Mengirim ciuman jauh untuk Blaise yang beringsut mundur.

Derai tawa terdengar dari mulut Vincent dan Theo.

"Merindukan teman lama, huh? Alibi klasik. Kau menghindari sesuatukan" Tanya Theo menantang ke Draco.

"Atau Granger sedang tak ingin tidur denganmu, Draco? Kau perlu gaya baru sepertinya." Timpal Vincent sambil menyerigai.

"Bedebah. Gaya apa memang yang menurutmu bisa mennakhlukan singa sepertinya?"

Gelak tawa memenuhi ruangan. Obrolan berputar pada topic laki-laki yang tak begitu dimengeri kau wanita. Jadi kalian tak perlu mendengarkannya.

Yah malam ini Draco disini. Tidur dikamar lamanya. Sempat ada pikiran ngawur diotaknya yang membahas bahwa Hermione merindukan ketiadaan dirinya di asrama Ketua Murid. Dan Draco dibuat tertawa oleh pikirannya sendiri itu.

Yah disini dikamar ini. Kamarnya yang sudah ditempati sejak usianya 11 tahun. Dan dikamar ini awalmula rasa sakitnya menyerang. Tapi tidak hari ini. Dirinya pasti akan tidur nyaman. Sedikit lega, karena kemarin Draco lagi-lagi hanya memiliki waktu tidur yang minim akibat rasa sakitnya.

Dan Draco berharap tidak ada rasa sakit untuk hari ini. Karena dia menginginkan waktu tidurnya. Ditengah kenikmatan mengistirahatkan tubuhnya, Draco merasakan tubuhnya mengejang. Mengeram rendah Draco mencoba menghalau tanda awal kesakitannya.

"Shit.." Mengubah posisi tidurnya, Draco mencoba untuk tidak merasakan rasa sakit yang mulai dari saat ini akan terasa.

Draco menggigit bibirnya keras, mencoba mencari pelarian rasa sakit. Tapi sakit di tangan kirinya merembet ke seluruh badannya. Sama seperti biasa hujaman timah panas menghujani lengan kirinya. Draco mengingatkan dirinya sendiri bahwa dia sudah terbiasa. Kali ini tak butuh membangunkan orang lain, cukup selesaikan sakit ini sendiri. Draco tak bisa bangun, dia hanya tidur disana. Entah dirinya merasa lebih baik untuk tak bangun sekalipun. Setiap napas yang ditari begitu terasa pedih. Dan Draco benci itu. Samar-samar Draco mendengar suara serak dari sebelah kanannya.

"Kenapa kau selalu terjaga malam-malam, Theo?"

"Ada sesuatu yang harus ku lakukan." Nada dingin lainnya menjawab.

Perlahan Draco membuka matanya, menyembunyikan rasa sakitnya dia memandang kearah suara. Yang langsung dihadiahi oleh pandangan dua temannya.

"Err.. sory Drake aku tak bermaksud membangunkanmu." Blaise berkata. Tapi matanya mencoba berkomunikasi dengan Theo, yang lebih menatap dingin ke Draco.

Kenapa dia?

"Kenapa kalian berisik sih" Suara gerutuan serak memecah keheningan.

Dan sekarang Vincent juga bangun. Dan Draco mengumpat dalam hati. Kalau semua dikamar ini bangun maka dirinya tidak akan bisa lebih lama lagi menahan sakit tanpa terdeteksi.

"Kenapa jadi bangun semua? Lupakan suaraku tadi. Tidurlah guys." Blaise berkata sendiri tak ada yang menyahuti.

Kembali menuutup mata kembali. Tak menggubris rasa sakitnya, tapi tetap saja napasnya tak bisa dikendalikan. Draco hanya berharap Theo, Vincent dan Blaise tidak mendengarnya.

Pikiran Draco sekarang hanya di forsir untuk rasa sakitnya, tak ada ruang yang lain. Membungkam mulutnya rapat-rapat Draco menjaga agar dirinya tak menjerit dan membangunkan semua orang di asrama Slytherin. Dia membuka matanya, memfokuskan netra itu ke langit-langit batu diatasnya yang berpendar hijau lemah.

lupakan sakitnya. Jangan rasakan sakitnya. Nikmati sakitnya. Jadikan sakit sebagai kekuatan. Yah sakit tak boleh mengendalikanku. Draco memperingatkan dirinya. Aunt Bella sudah sering mengutuknya, Ciriatus bahkan. Draco sudah berkali-kali merasakan sakit ini, jadi ini hal yang mudah.

Menata napas Draco menenangkan dirinya. Mengulang ulang pikirannya untuk menikmati sakitnya. Draco bisa merasakan tubuhnya seperti ditusuk puluhan pedang panas. Lupakan sakitnya.

Pusing menghantam Draco, tapi dia masih berusaha untuk tak menggubrisnya. Tangan kiri Draco rasanya seperti tercabik-cabik. Lupakan sakitnya.

"Hermione.." Bisikan lemah keluar dari mulut Draco tanpa sadar.

Ini benar-benar membuatnya gila. Dia lebih memilih untuk mati setiap sakit ini datang, sama juga untuk hari ini. Menutup matanya perlahan Draco menghapus pikirannya.

Bayangan lain muncul. Bayangan gadis berambut ikal, dengan mata hazelnya yang hangat. Hermione. Gadis itu bisa mengalihkan sakitnya, setidaknya itu yang dirasakan Draco sebelumnya. Dan dia menginginkan gadis itu sekarang. Nikmati sakitnya.

Bayangan Hermione terus berputar dibenaknya. Mata coklat hazel itu. Bibir mungil itu, bibir manis yang pernah diciumnya. Senyum Draco mengembang walaupun terlihat lemah. Dia butuh gadis itu. Tubuhnya terasa makin sakit, dan sakitnya lebih lama dari biasanya. Nikmati sakitnya.

Hermione.

Draco tak mengizinkan mulutnya untuk mengerang bahkan berteriak. Nikmati sakitnya. Nikmati sakitnya. Draco tak menghiraukan sama sekali sekitarnya. Yang ada di pikirannya hanyalah perintah untuk mengiraukan sakitnya dan gadis berambut ikal. Hermione. Sampai dia merasakan ada jemari yang menggengam erat tangannya.

"Draco.." Sebuah suara bergaung ditelinga Draco.

Oke apa aku sudah mulai gila karena sakit ini, sampai berhalusinasi begini? Batinnya.

Masih menutup matanya erat, dia kembali mendengar suara itu bergetar ketakutan.

Pening menghujaninya, mendengar suara itu malah membuat sakitnya bertambah parah. Lebih, dan lebih parah lagi. Melawan rasa sakitnya Draco mencoba membuka matanya. Nafasnya tak begitu teratur. Dan disana Draco melihat mata coklat hazel itu. Menatap dirinya penuh kekhawatiran.

Hermione.

Draco mencoba untuk terus membuka matanya. Menatap Hermione yang ada dihadapannya. Mulut Hermione bergerak, tapi Draco terlalu kepayahan memahami perkataan Hermione. Menahan matanya untuk tetap focus saja sudah sangat sulit. Dia butuh gadis itu.

Hermione Granger:

Ini gila. Tanda kegelapan milik Snape pudar dan seperti mati, dan yang kulihat dilengan Malfoy benar-benar berbeda. Tanda kegelapan milik Malfoy masih terlihat baru dan segar. Hermione mendelik ngeri pada Snape. Dan kalu perkiraan Hermione benar, berarti memang ada yang mengendalikan Malfoy.

Bau anyir dari darah kodok yang ada di sekitarnya tiba-tiba menghilang. Hermione bahkan tak mengingat kalau dia masih berada dalam detensi Snape.

"Siapa yang menyuruhmu berhenti bekerja Miss Granger?" Suara dingin Snape mengalun mengerikan diruangan bawah tanah ini.

Tak memedulikan masalah detensinya Hermione bertanya balik.

"Apakah semua tanda kegelapan pelahap maut memudar Professor?"

Snape menatap Hermione jijik. Oh sudahlah dia tak memedulikan professor ini.

"Ya, tentu saja. Apa yang kau harapkan?"

Lagi-lagi Hermione tak mengubris pertanyaan Snape. "Anda tahu mengenai tanda kegelapan milik Malfoy? Draco Malfoy?"

Sekilas Hermione melihat kekhawatiran dimata Snape. Tapi hilang tak berbekas detik berikutnya. Kesimpulan Hermione adalah bahwa Snape memasang perhatian untuk anak angkatnya itu. Dinginnya ruang bawah tanah membuat Hermione muak. Dia ingin pergi jauh-jauh dari sini.

"Apa maksudmu?" Tanya Snape.

"Tanda kegelapan milik Malfoy, seperti baru terbakar professor. Dan tanda itu timbul..." Hermione menjelaskan semua yang ia ketahui. Termasuk sakit yang diderita Malfoy.

Tak ada perubahan ekspresi yang berarti dari Snape. Dia hanya memasang konsentrasi pada apa yang diberitahukan Hermione.

"Dia menunjukan tandanya padamu?" Tanya Snape.

Tatapan Snape sinis menghujani Hermione, membuat bulu romanya naik.

"Saya.. memaksa melihat" Jawab Hermione singkat.

Raut keras tak meninggalkan wajah Snape sama sekali. Matanya terfokus pada Hermione.

"Sudah kuduga." Kata Snape.

Snape bergerak cepat kearah lemari ramuannya. Hermione diam ditempat tak bergerak. Menatap kearah Snape yang panic diatara ramuannya.

"Professor.. maaf tapi ramuan tak mempan pada Malfoy, dia terus—"

"Diam. Kau pikir kau tahu segalanya, sampai menasehatiku? Dengar Miss Granger ada yang mengontrol tanda kegelapan milik Draco. Perlahan tapi pasti jika Draco tak mampu lagi menahan sakit itu, dia akan mati."

Hermione mendelik tajam kearah Snape. Yah ia tau kalau ada yang mengontrol Malfoy. Tapi ia tak tahu kalau itu bisa membunuhnya. Snape masih sibuk dengan ramuannya. Bergerak cepat, berbalikan dengan sikapnya yang asli.

"Bagaimana—" Belum sempat menyelesaikan kalimatnya Snape sudah menjawab.

"Itu kutukan kuno. Lurtos Arctarus. Sihir hitam yang mengontrol jiwa seseorang, kutukan yang mungkin terlalu lama untuk membunuh sehingga tak digunakan. Kutukan itu melemahkan jiwa seseorang dengan mengontrolnya dibawah siksaan sesuai dengan intensitas pemegang jiwanya. Dan setelah jiwanya rusak, satu kutukan pemungkas akan membunuhnya tanpa bekas dan tak meninggalkan jasad."

Hermione membeku ditempatnya. membunuhnya tanpa bekas dan tak meninggalkan jasad. Kata terakhir Snape terus bergaung ditelingannya. Malfoy? Sial Hermione benar-benar tidak tahu apa-apa kalau itu kutukan kuno. Dan dari penuturan Snape Hermione bisa menyimpulkan kalau itu benar-benar sihir hitam gila.

"Professor? Adakah cara untuk menyelamatkannya?"

"Cari orang yang mengendalikannya." Jawab Snape singkat.

Kau akan bisa melihat Snape yang lain disini. Raut wajahnya keras dan diliputi kekhawatiran tak berdasar. Gerakannya meramu ramuan juga begitu gesit. Satu pemahaman yang bisa ditangkap. Snape punya perhatian khusus untuk Draco satu-satunya anak angkatnya.

"Kapan terakhir kali Draco kambuh?"

"Seminggu yang lalu. Tapi sejak saat itu Malfoy menghindari saya, dan beberapa hari ini dia kembali ke asrama Slytherin jadi saya tak tahu apakah kambuh lagi." Jawab Hermione cepat.

Mendengar jawaban tersebut Snape makin mepercepat ramuannya. Hermione merasa bahwa tubuhnya diselubungi sihir yang berderak mengerikan, lampu-lampu juga berpijar keras. Kemungkinan besar ini adalah sihir professor Snape. Snape melirik tajam ke Hermione "Pergilah, detensimu selesai."

"Kurasa kita harus mengecek Dra—Malfoy. setiap pagi wajahnya terlihat lesu professor. Ada kemungkinan kalau sudah beberapa hari ini dia kambuh"

Snape sepertinya sudah menyelesaikan ramuannya. Karena dia sudah mulai memasukkan hasil ramuannya ke dalam botol.

"Itu yang akan aku lakukan. Jadi pergilah"

"Saya ikut professor!"

Snape mendelik garang ke Hermione, tapi Hermione tak merasa takut sedikitpun. Dia harus mengecek Draco.

Dan rupanya Snape juga tak punya waktu untuk mengubris Gryffindor satu itu, jadi dia bergerak cepat melewati koridor bawah tanah. Lorong-lorong berbayang disekitarnya. Hermione merasa muak berjalan disini, seperti dipemakaman. Sepi dan menakutkan.

Dia terus mengikuti Snape yang berjalan super cepat. Dan akhirnya dia tiba di jalan masuk rahasia ke asrama Slytherin. Snape sepertinya tak mengetahui jika Hermione masih mengikutinya dan disinilah Hermione. Masuk kesalah satu kamar laki-laki.

Mata Hermione terpancang ke salah satu ranjang, dimana ditiduri oleh pemuda berambut pirang. Draco Malfoy. dan seperti biasa raut wajahnya tak seperti sedang tidur, raut wajahnya lebih menunjukkan ketidak nyamanan.

"Draco.." Hermione menghampirinya, memegang erat lengan pemuda tersebut.

Tak ada respon dari Draco.

"Berikan ini padanya Miss Granger."

Snape memberikan sebotol ramuan hijau pekat ke tangan Hermione. Mulut tipis Snape berkomat-kamit tanpa jeda. Matanya menyipit tajam tapi bukan kearahnya, melainkan jauh kearah sebaliknya.

Fokus Hermione terpancang ke Draco. Draco benar-benar pucat, keringat membasahi pelipisnya. Hermione kembali memanggil Draco.

"Draco.."

Awalnya tak ada respon, tapi perlahan Draco membuka matanya. Lensa kelabu itu terpancang langsung pada Hermione. Menunjukan penuh pengharapan dan kelegaan.

Oh.. Draco.

"Cepat minumkan."

Suara Snape menyadarkan Hermione. Hermione melihat bahwa Snape masih berkomat-kamit cepat. Tongkatnya terkepal erat, tapi ia tak meluncurkan mantra sama sekali. Apa itu penangkal?

Hermione kembali ke Draco.

"Apa sakitmu kambuh? Kau harus minum ini Professor Snape membuatkan untukmu, kurasa ini bisa menyembuhkanmu."

Mata Draco seperti kehiangan focus, tapi dia masih menatap Hermione. Dan Draco sepertinya tak mendengar perkataan Hermione. Dari sudut bibir Draco, Hermione bisa melihat darah segar mengalir.

Apakah kau menahan bibirmu untuk tak menjerit?

Memegang erat Draco, Hermione mencoba untuk mengangkat kepala Draco perlahan dan meminumkan ramuannya. Draco benar-benar kehilangan focus matanya sudah tak kuat lagi untuk terbuka. Berkali-kali dia mengerjab. Tapi Draco masih mencoba untuk terjaga.

"Tetap bersamaku Draco, ini akan segera berakhir. Ada professor Snape disini. Kau harus tetap disini."

Mengecup tepian bibir Draco, Hermione takut. Draco seperti sudah tak mampu bertahan. Dia tak mengeluarkan sedikitpun kata. Dan itu membuatnya takut.

Draco.. Bertahanlah.

Hermione mengenggam erat tangan Draco. Dimana Professor Snape? Entah sepertinya Hermione hanya memperhatikan Draco. Cepat-cepat Hermione mencari Snape, hendak memperingatkan professornya itu tentang keadaan Draco.

Tapi sepertinya Snape sibuk.

"Hentikan Theo, dia sekarat."

TAMAT!

Actually I don't know how to end up this story. I'm begging for your mercy hehe ._.v

Berhubung saya bosen sama Dramione jadi tamatin aja ya. Pinginnya Scorose, huahahah sama ajah *digetok* Horay! TAMAT uye~ Thanks for reading guys. Makasih buat semuanya yang udah read, follow, fav, dan review! Review kalian bikin saya merasa cerita ini ada yang membaca terimakasih.

Untuk yang terakhiir ini boleh mintak Reviewnya? Kritik, protes, saran, curhat apapun marah ke saya juga gak apa :D

Kasih pendapat ya ceritanya jelek? Lebay? Bilang aja gak papa jujur, saya memang merasa tidak puas -..-

Oiya aku ada 2 ide nih maunya bikin next gen, mungkin ada rekomendasian dari teman-teman?