A/N: Huehehe oke.. oke berhubung katanya ngantung, dan gak kesampaian maksudnya aku lanjutin.. Pardon.

Maksudku kemarin tamat itu biar kalian nebak sendiri endingnya, Draco ditolong sama Snape/Hermione atau dia sendiri mati disiksa Theo *Eh.* Bercanda-bercanda, Goblet kan cinta sama aaa' Draco *-*

Bukan maksud bilang kalau udah gak suka Dramione, suka kok banget. Cums kebanyakan kan Dramione dan aku pingin coba yang lain ._.v Lupakan a/n di chapter sebelumnya.

Masih OCC, Italic itu untuk pikirannya Hermione ya. I think its will be the looong chapter, so hope you didn't boring yet until the very end. 3102 words without a/n

Tapi beneran deh maaf ya guys. So here we are.. Enjoy the last chapter! UNO! Luv, luv

.

.

.

"Hentikan Theo, dia sekarat."

Suara Snape menggema di kamar Slytherin tersebut. Membuat semua yang ada di kamar tersebut terkesiap.

Theo? Theodore Nott!

Mata Hermione langsung mengikuti arah pandang Snape yang membelakanginya sedari tadi. Dari suara Snape yang Hermione dengar bisa dipastikan Snape menahan geram kemarahan. Suhu udara disekitar Hermione yang begitu dingin membuatnya merinding. Dan entah kenapa kaca-kaca yang ada di ruangan tersebut bergetar, padahal tidak ada angin yang bisa masuk ke ruang bawah tanah ini.

Samar-samar Hermione mendengar suara pemuda lain. Tanpa menolehpun Hermione tahu jika Zabini, dan Goyle terbangun dari tidurnya.

Mungkin mereka juga merasakan aura geram yang dibawa Snape.

"Kenapa harus berhenti, professor?" Hermione bisa melihat Nott terduduk memandang Snape datar, sambil menyerigai.

Kenapa semua Slytherin selalu punya mimic yang sama? Seringai gila. Batin Hermione.

Hermione dikagetkan oleh gerakan disebelahnya.

"Professor."

Draco terduduk sambil bersandar dikepala kasurnya. Draco mengambil napas panjang, tangannya mengusap darah dari sudut bibirnya. Wajahnya lebih pucat dari yang tadi. Tapi setidaknya Draco bisa mengontrol dirinya sekarang. Ramuan Snape berhasil pikir Hermione.

Sanpe tak merespon Draco sama sekali.

"Draco, berbaringlah" Kata Hermione.

Draco menggeleng.

"Theo! Brengsek! Jadi selama ini kau terjaga hanya untuk memantrai Draco. Bedebah gila" Sembur Zabini.

"Apa yang sebenarnya terjadi?" Hermione mendengar Goyle bertanya.

Hermione melihat Zabini sudah berdiri di samping Snape sambil mengacungkan tongkatnya ke Nott. Sedetik bisa dipastikan Zabini akan menyerang dulu, tapi entah kenapa keraguan menggelayuti Zabini.

Nott lebih cepat dalam satu kibasan tongkat, sinar biru elektrik menabrak tepat ke dada Zabini membuatnya terpental ke tembok. Darah merembes dari kemeja Zabini. Goyle yang diam sedari tadi, langsung bergerak maju melihat temannya diserang.

"Theo! Kau gila. Apa yang kau lakukan?" Tanya Goyle.

"Jangan ikut campur jugaVince, aku tak ada urusan denganmu. Kenapa kau tak bawa saja Blaise keluar setidaknya masih ada waktu sebelum darahnya habis." Kata Theo.

Ini gila.

Goyle mendelik garang ke Nott. Dia langsung beranjak kea rah Zabini, membantunya untuk berdiri. Darah merembes deras dari balik kemeja tersebut. Hermione langsung maju membuka kemeja tersebut sambil bergetar. Hermione benci darah itu membuatnya kembali mengingat masa-masa saat perang dulu. Darahnya benar-benar mengalir deras. Mantra apa ini? Hermione tak bisa mengidentifikasinya, karena Nott melakukannya nonverbal.

Hermione mengankat tongkatnya ke dada Zabini. "Episkey Ferula."

Setidaknya itu yang bisa Hermione lakukan sebagai antisipasi awal. Lukanya perlahan tertutup, perban mulai membebat luka di dada Zabini.

"Bawa Zabini ke Madam Pomfrey, Goyle" Kata Hermione.

Goyle memepah Zabini keluar dari kamar. Mendelik kearah Hermione dan Nott. Mendelik kearah Hermione karena dia baru sadar bahwa ada Gryffindor yang terdampar di kamar Slytherin. Dan mendelik kerah Nott karena ia mulai tak mengenal siapa sebenarnya orang dihadapannya tersebut.

"Bersikap pahlawan, Mudblood. Yah selalu." Suara Nott membuat telinga Hermione panas

Bedebah. Panggilan itu lagi. Hermione menahan geram kemarahannya. Menatap penuh kebencian ke Nott yang masih saja menyerigai. Nott sama sekali tak terlihat gentar walaupun dia dikepung baik itu Snape maupun Hermione.

"Jaga mulutmu, Nott" Suara Draco memecah kesunyian.

Nott mendengus kecut mendengar penuturan Draco.

Snape yang sedari tadi masih berkutat dengan aktifitas komat-kamitnya, menoleh kasar ke Draco. Melempar pandangan yang sangat jelas untuk diartikan Diam-ditempat-bocah-bodoh. Tapi Draco sama sekali tak menggubrisnya, pandangan matanya terfokus pada Nott.

Nott berguman sendiri. "Masih bisa bergerak ternyata. Ramuanmu kurasa berhasil, Professor." Berbicara seolah sekarang adalah penilaian ramuan harian.

Snape sama sekali tak melepas pandangannya dari Nott sambil terus merampalkan matra yang tak ada habisnya.

Hermione sudah hendak merampal mantra untuk Nott. Karena sedari tadi Snape tak kunjung memantrai Nott. Jemarinya memegang tongkat erat sambil membentuk pola setengah segitiga, tapi posisi Draco yang jatuh terduduk lagi di kasurnya, menghentikan aksi Hermione. Pandangan menyalahkan dari Snape menghujani Hermione.

Aku belum melakukan apapun. Yang akan kumantraikan Nott.

"Granger.. Granger.. kau mau memantrai ku? Kenapa tidak jadi? Kurasa waktunya tepat. Aku dikepung jadi kau bisa memantraiku kapan saja. Dan mengapa gerangan professor hanya diam ditempat saja."

Snape masih tak bergeming. Pemahaman muncul kembali dibenaknya. Dan salah satu pemahaman Hermione dibenarkan secara tak langsung oleh Nott.

Sambil terkekeh gila Nott berkata. "Kau ingat saja Granger kalau sekarang Draco masih jadi bonekaku."

Draco bangkit kembali dari jatuh tersungkurnya. Dilihat dari raut wajahnya Draco menahan kesakitannya. Rahangnya mengatup keras sambil tak henti-hentinya menutup mata untuk sesaat. Selebihnya ia bersikap seolah tak terjadi apapun.

Snape yang masih menangkal apapun yang dilakukan Nott terhadap Draco sepertinya mulai kehilangan kesabaran. Kaca berderak mengkhawatirkan. Snape mentap tajam ketiga muridnya tersebut dengan garang, tapi tak ada yang merasa ciut sedikitpun, karena mereka semua sama keras kepalanya. Draco tak mau berhenti untuk bergerak, Hermione yang terus berusaha mencari celah untuk memantrai Nott dan Nott yang melampiaskan semuannya ke Draco. Rasanya mereka tak akan bisa untuk keluar dari keadaan tersebut.

"Confringgo"

Mantra Snape membentur dinding penghalang tak kasat mata. Tentusaja Protego. Nott berdecak santai. Dia membisikkan sesuatu mantra yang membuat Draco mengeryit dan mundur selanggkah.

"Apa yang mendasari ini semua Mr. Nott?" Tanya Snape. Memanggilnya dengan nama marganya.

Sejenak saat Snape bertanya Draco mundur selangkah lagi. Saat mulut Snape berhenti untuk merampal mantra penangkal itu artinya Draco tak ada perlindungan.

Nott tersenyum lembut, yang malah membuatnya jauh lebih mengerikan daripada dirinya yang tadi menyerigai.

"Tentu saja pusat dasar tersebut adalah anak baptis anda, Professor"

Draco tak begitu memberikan respon kecuali alisnya yang terangkat. Hermione yang sudah gatal dari tadi, sedang akan membuka suara, tapi sadar kalau itu malah akan membuat semakin panas. Jadi dia diam menunggu kelanjutannya.

"Menurutmu mengapa aku melakukannya, Draco?" Tanya Nott kelewat santai, tak memedulikan kedutan keras yang sudah bercokol di pelipis Hermione.

"Sudah berakhir, Theo." Jawab Draco singkat, tak cocok dengan pertanyaannya.

"Berhentilah bersikap seperti psikopat gila, Nott. Tak tahukah kau, kalau kau melakukan-"

"Ssshtt.." Nott mendiamkan Hemione yang sudah geram.

"Yah, sudah berakhir. Dan diakhirpun aku tak mendapat keadilan. Jadi ini cara yang pantas untuk membayarnya. Hanya sakit ya. Itu pembalasan untuk ayahku yang meringkuk di Azkaban. Dia pelahap maut, dan semua pelahap maut berkhir disana sampai membusuk. Dan didepanku dua pelahap maut dengan bebasnya bisa berkeliaran. Anda tak perlu mendelik kearahku, Profesor!" Kata Nott geram. Nott mengambil napas untuk menenagkan diri.

"Kau ingat saat memamerkan tanda kegelapanmu? Tanda memuakkan yang mebuat gempar semua pelahap maut senior. Kau kira kau sehebat apa? Kau tak ada apa-apanya."

Nott terus berbicara geram ke Draco dan kadang ke Snape. Hermione tak terlalu mendapat perhatian dan itu menguntungkannya. Dia mencoba mencari waktu tepat untuk menyerang atau setidaknya mengamankannya.

Dan dari apa yang didengarkan Hermione semuanya memuakkan. Pelahap maut. Tapi Hermione tahu kalau Nott tak terlalu memusatkan itu semua.

Nott sendiri. Ibunya sudah meninggal. Dan ayahnya pelahap maut yang sekarang ditahan di Azkaban. Dia sendiri. Dan selama ini pula tingkahnya yang menyebalkan adalah kedok dari kebencian yang meradang.

"Kau mendapat semua yang kau mau. Bahkan tak menyisakan untuk yang lain. Kau dapat hidup bebas. Orang tuamu juga. Kau bahkan tak menyelesaikan misimu, ayahmu lebih banyak gagal dalam misinya. Menyedihkan."

"Dan ingatkan aku jika aku salah. Crabbe mati karenamu. Pernahkan kau sejenak menghargainya? Tak sekalipun."

Ini saatnya. Insen— Pikir Hermione sambil hendak memantrai secara nonverbal.

"Crucio!" Lengking Nott.

Mata Nott menatap geram ke Hermione yang menggeliat kesakitan. Tubuhnya perih ditikam puluhan pedang tak terlihat. Kakinya tak mampu menahan lebih lama, tikaman demi tikaman menghujani Hermione. Dia tak berusaha menjerit. Itu akn member Nott kemenangan. Hermione menutup matanya, menahan sakit. Sebuah lengan melingkar dibahunya.

Perih.

Pening.

"Hentikan." Suara Snape menembus telingan Hermione, ia terlalu sibuk merasakan perihnya kutukan ciriatus.

Kalau Snape melepaskan mantra penagkal. Draco..

Hermione membuka matanya. Draco menahan tubuh Hermione. Mata Hermione menghunus tajam Nott. Tongkatnya teracung mantap.

"Jalang! Jangan berani-beraninya kau mrmantraiku."

"Apa mau mu kalau begitu, huh?" Tanya Draco.

Hermione bisa merasakan Draco merengkuh bahunya erat, mendekatkannya ke tubuhnya. Membuat Hermione merasa terlindungi.

"Aku mau kau mati." Jawab Nott dingin.

Bibir Nott bergerak, tapi Hermione tak mendengar ada suara yang keluar dari bibir tersebut. Itu mantra, dan hal terakhir yang tak diinginkan Hermione terjadi. Draco kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri. Menegang keras.

Pandangan Draco tak focus, tangannya mengengam bahu Hermione lebbih keras. Tubuhnya bergetar.

Snape makin mengencangkan laju komat-kamitnya. Tapi sepertinya tak terlalu berpengaruh.

"Berhenti. Kumohon berhenti" Raung Hermione. Rasa nyerinya tadi hilang tak berbekas, tapi digantikan nyeri yang lain saat melihat Draco.

"Kau kira kau siapa, sampai aku harus menurutimu."

Nott mengarahkan tongkatnya. Merampal matra ke arahnya, tapi ia belokkan ke Snape, karena Sanpe berusaha menghalnginya. Sanpe menangkisnya sekali kibasan. Hermione berdiri tangguh mengikuti Snape.

"Expulso" sinar kuning keluar dari tongkat Hermione menuju Nott. Membantu Snape yang juga meluncurkan mantra.

Sinar kuning dan ungu meluncur bersamaan kearah Nott. Nott merampal mantra tanpa mengangkat tongkatnya. Erangan Draco meyeruak, membuat Hermione tercekat. Matra yang tadinya mengarah ke Nott berbalik arah.

Hermione berguling menghindar dari kutukan yang berderak balik, berlindung di balik ranjang Zabini. Tubuhnya nyeri bekas ciriatus tadi.

Debuman terdengar ditelinga Hermione. Ia bergerak ke pinggiran untuk mengintip.

Snape terkulai di depan Draco. Lengannya berdarah, matanya menutup. Snape pingsan. Snape melindungi Draco yang sekarang sedang mencoba mencari control akan tubuhnya.

Hermione bisa saja melempar kutukan ke Nott sekarang, tapi sudut dan jarah Nott dengan Draco dan Snape menutup kemungkinannya.

"Keluarlah manis. Lihat pacarmu bersembunyi di balik ayahnya." Kata Nott.

Hermione muak mendengarnya. Tapi Nott tak memperhatikan Hermione, kata-kata itu ditunjukkan untuk Draco bukan dirinya.

"Aku tak mau... melawanmu, Theo" Kata Draco terengah. Tak ada lagi mantra penangkal dari Snape.

"Memangnya kau bisa? Berhenti bersikap pahlawan. Aku muak." Balas Nott.

"Aku belum pernah mencoba ciriatus padamu. Bagaimana kalau kita lihat." Ujarnya senang.

Dia gila. Dia pikir semuanya masih kurang? Oh, merlin. Draco sudah menahan sakitnya dari tadi. Ia tak akan bertahan kalau masih ada tambahan ciriatus juga.

Hermione memutar otaknya. Tapi semuanya buntu. Satu-satunya jalan hanya melawan langsung. Begitu pikiran itu tercetus badannya langsung kaku. Dengungan suara Theo mengaburkan pikirannya.

"Crucio!"

Hermione diam tak bergerak. Bukan dia bukan terkesiap atau terkejut. Yang ini lebih seperti dirinya dimantrai untuk tak ikut campur.

Apa-apaan ini? Kenapa tak bisa bergerak?

Posisi Hermione tak menguntungkan. Dirinya lebih seperti setengah berlindung, setengah mengintip ke Draco dan Nott.

Ini artinya habis sudah. Dirinya tak bisa bergerak. Snape pingsan. Draco sekarat.

Hermione tak mendengar jeritan memilukan yang biasanya keluar dari mulut orang yang terkena ciriatus dari Draco.

Draco menahannya. Itu yang selalu dilakukannya. Tapi dia sudah menahannya cukup lama.

Hermione mencoba melepaskan diri dari entah apa yang membuatnya tak bisa bergerak. Ia terus meronta, tapi tak ada pergerakan yang terjadi kecuali napas dan gerakan matanya.

Memangnya siapa yang memantraiku? Ini buruk Nott bisa membunuh Draco. Pikir Hermione teringat akan kata-kata Snape. Kutukan yang mengontrol Draco bisa membunuhnya secara perlahan.

"Aku terkesan, kau belum juga menjerit dari tadi. Mungkin harus ada tambahan. Crucio."

Bertahanlah Draco.

Hermione terus meronta sekuat tenaga. Dia tak boleh diam saja disini.

Tenanglah. Diam disitu, biar aku yang selesaikan.

Hermione terkesiap. Suara itu suara Draco. Suara itu bukannya terdengar dari telinga, melainkan langsung terkirim ke otaknya.

"Kau tak.. harus melakukannya, Theo" Suara parau Draco terdengar mengerikan.

"Kenapa tak harus. Kau dapat semuanya, kepercayaan Voldemort, kebebasan, orang tuamu, bahkan kepercayaan semua orang. Diamana aku tak mendapatkan secuilpun." Tukas Nott.

"Aku mencoba, Theo, Aku menemui ayahmu."

Hening lama. Hermione sampai berhenti dari aktivitas merontanya yang tak menghasilkan.

Yah setidaknya Draco tak berbohong dia, benar-benar menemui Mr. Nott Sr. Mencoba mencari jalan keluar untuknya. Begitu juga untu ayah Mr. Goyle Sr. Karena mereka orang tua sahabatnya. Dan dua-duanya tak memiliki siapaun lagi.

Lalu Nott tertawa. Tawanya dingin membekukan. Membuat angin entah darimana muncul.

"Yah tentu kau menemuinya. Dia yang menyelamatkan kepalamu dari bibimu yang gila. Lalu apa? Bedebah."

Bruntal. Tak ada satupun dari mereka pelahap mat yang waras.

Hermione melihat Nott memandang tajam ke Draco, sementara Draco memejamkan mata keras.

Draco menjatuhkan tongkatnya. "Aku tak akan, melawanmu. Lakukan apapun yang kau inginkan."

Hell! No!

Hermione meronta kembali. Badannya sekaku sebongkah batu. Untuk yang terakhir ini dia mulai merasa putus asa. Tak ada hasil sama sekali.

Draco gila. Lepaskan aku bodoh! Hermione berteriak di pikirannya sendiri.

"Ambil tongkatmu. Lawan aku" Nott berbicara dingin. Tak ada nada disana. Sama seperti yang biasa Draco lakukan kalau ia menahan semua rasa yang berkecamuk jadi satu.

Draco menggeleng. "Kau sahabatku. Kau temanku"

"Ambil tongkatmu. Lawan aku" Ulang Nott.

Saat tak ada respon dari Draco. Rahang Nott mengeras, bibirnya bergerak. Tapi tongkatnya diam. Nott menyiksa Draco lagi. Draco tak bergeming hanya memandang sahabatnya tersebut. Menatapnya tanpa kedip. Nott terlihat geram karena tak ada hasil dari siksaanya. Tapi tiba-tiba Draco tumbang. Hermione melihat mata Nott melebar, seakan dia tak mengharapkan hal itu terjadi. Atau mungkin memang itu yang ia inginkan.

Tepat saat Draco tumbang, Hermione lepas dari belenggunya. Menarik napas tajam Hermione mengatur tubuhnya lagi. Ia berlari kearah Draco.

Hermione menghampiri Draco. Tangannya dingin, benar-benar dingin. Hermione mencelos saat memeriksa deyut nadinya. Denyutnya lemah. Refeks Hermione memeluk Draco, menciumnya gemetar.

"Bagun musang" Suara Hermione tak lebih dari bisikan parau.

Bibirnya bergerak sendiri menciumi Draco mulai pipi, hidung, tepi bibirnya sampai kerahang. Rusuknya sakit setiap melihat wajah pucat didepannya. Pintu terdobrak keras. Tapi Hermione tak menoleh. Pikirannya hanya berpusat pada Draco.

masih bisakah ia bertahan? Kau tahu aku bergetar sekarang! Kau membuatku takut bodoh. Bangunlah dan maki-maki aku seperti biasa. Aku tak akan meledak marah, sungguh.

OooooooO

Terkhir kali Hermione ingat dirinya disuruh bersaksi. Tapi ia tak mau. Hermione tak mau meninggalkan Draco, apalagi untuk bertemu Nott. Tidak. Meskipun dia benci Hospital Wing, tapi ini lebih baik dari pada seruangan dengan Theodore Nott.

Saat mengobati Draco tadi, Madam Pomfrey bergerak mengerikan. Membuat ramuan, meyembuhkan dengan mantra, dia melakukannya dengan cepat dan dipenuhi kekhawatiran. Terus menyarankan untuk ke memanggil 5 penyembuh di Hogsmade guna membantunya. Tapi pada akhirnya dia sendiri bisa mengatasi sekejap mata.

Dan disinilah Hermione manatap Draco dalam diam. Terus mengawasi dada Draco. Memastikan kalau pemuda itu masih bernapas.

"Kau tak mau bangun manja?" Hermione menggoyang lengan Draco.

Tapi Draco tak bereaksi. Hermione menghela napas panjang. Semenit terasa begitu lama.

"Miss Granger, tak peduli kau terluka, kalau kau mengganggu pasien lain. Aku yang mendepakmu" Hermione tak menoleh. Ia sudah hafal suaranya. Jadi tak usah dipedulikan.

Hermione menarik napas panjang. Rasanya sudah lama sekali Hermione tak melihat raut arogan menyebalkan dari pemuda ini. Dan Hermione merindukannya. Matanya mulai terasa berat. Tapi Hermione tak mau mengalihkan perhatiannya dari Draco. Memastikan kalau Draco tak hilang seperti kata Snape.

Hermione rasanya ingin terus memegang atau setidaknya melihat kalau Draco masih disini. Tapi tubuhnya benar-benar letih. Hermione tak ingin jauh-jauh dari Draco. Dan tanpa disadari dirinya sudah meringkuk hangat disebelah Draco. Memeluknya erat. Membaui Draco yang wanginya membuat rileks seluruh tubuhnya. Wanginya selalu segar.

.

.

.

Rasanya hangat. Lembut.

Whoa! Apa ini?

Hermione membuka matanya. Mendapati Draco memeluknya erat. Matanya terpejam, bibir Draco melumat halus bibir Hermione. Sengatan listrik menjalari Hermione. Dia tak ingin bangun, degup jantungnya bergerak dengan kecepatan konyol. Pipinya memerah panas. Lumatan Draco membuatnya hilang kenadali. Lagi dan lagi.

Pura-pura tidur, Hermione!

Hermione mengulang perintah yang sama tapi matanya tak bisa tertutup. Ia masih terpaku disana, Draco menjilat perlahan membuatnya merasa digelitiki. Hermione mencoba menutup matanya. Bibirnya tanpa sadar balas mengcup bibir Draco.

Draco melepaskan ciumannya. Untuk beberapa detik semburat merah muda tercetak di pipinya. Membuat wajah Draco terlihat manis, tapi seringainya merusak pemandangan.

"Wah manis sudah bangun."

Blush... panasnya udara pagi ini.

Hermione memaksakan diri untuk tak terlihat gentar. Dia bergerak untuk turun, tapi Draco hanya mengijinkannya untuk sedikit membuat jarak. tangannya memenjara Hermione.

"Kenapa kau tidur disampingku, Hermione?" Tanya Draco sambil menyerigai.

Hermione tak menjawab. Dia panas dingin sendiri. Terakhir kali, Draco memeluknya saat dia tak begitu sadar, jadi tak menggangu. Kalau ini beda lagi.

Draco tampaknya juga tak butuh jawaban. Dia menarik Hermione mendekat, membenamkan wajahnya disamping rambut Hermione sambil menarik napas panjang-panjang.

"Kau tak apa?" Tanya Hermione terpengaruh ritme napas Draco yang panjang.

Draco hanya bergumam. "ehem"

"Sungguh? Kurasa aku harus memanggil madam Pomfrey"

"Jangan. Kau tahu saat aku dalam keadaan waras kau membuatku hilang control, dan saat aku tak waras kau malah membuatku sebaliknya."

"lalu yang ini yang mana? Kau sama aja tak pernah waras bagiku."

Draco tertawa kecil, suaranya hangat ditelinga Hermione. Suara tawa murni.

"Yang pertama" Draco merespon pertanyaan Hermione sebelumnya.

Saat aku dalam keadaan waras kau membuatku hilang control. Maksudnya? Hermione bertanya sendiri.

Hermione mendongak ingin bertanya saja. Tapi begitu melihat mata kelabu Draco segalanya hilang tenggelam dalam kedalam manic tersebut. Mata Draco menelusuri wajah Hermione mulai dari mata, hidung, turun ke bibir dan dagu. Membuat Hermione merona parah.

"Aku ingin menciummu terus." Kata Draco, sambil langsung mengeksekusi bibir Hermione.

Kecupannya tegas. Melumat-lumat bibir Hermione, sampai Hermione mati rasa. Tangan Draco mengembelai rambut Hermione, yang membuatnya gila setengah mati.

Hermione ingin lebih. Hermione mendekatkan diri ke Draco. Tangannya mendorong tengkuk Draco untuk lebih dekat, mengecup dan melumat bibir Draco sama antusiasnya. Lidah Draco mengelitik bibirnya memaksa untuk masuk, membuat Hermione mengerang tertahan,

Merlin! Rasanya aku tak mau berhenti.

.

.

.

Theodore Nott:

Ada rasa kelegaan jahat yang bercokol dibenaknya. Tapi tak dapat dipungkiri lebih banyak dari sisinya yang tersiksa.

Apa yang kulakukan? Dia tak pernah tumbang, sekalipun berkali-kali ciriatus dilancarkan. Dia tak lemah.

Selama interogasi Theo tak menjelaskan apapun. Ia hanya mengangguk ataupun menggeleng. Membuat Professor McGonnagal dan professor yang lain mengerang kesal.

Dirinya tahu kemungkinan untuk tetap berada di jalur aman sudah habis. Mungkin kini saatnya dia mengikuti jejak ayahnya. Azkaban. Masa pembelaannya habis.

"Mr. Nott sekali lagi saya bertanya dan ini akan jadi yang terakhir. Tolong jelaskan mengenai perbuatan anda."

Ada suara ketukan.

Professor McGonnagal mengerang kembali. "Siapa lagi sekarang?"

Snape bangkit menggantikan untuk membuka pintu.

"Boleh saya bicara dengan Theo, Professor?" Tanya sebuah suara lamat-lamat yang paling dikenal Theo. Theo mengangkat wajahnya untuk melihat orang tersebut.

"Merlin! Kau harusnya belum boleh keluar dari bangsal, Mr. Malfoy!"

Dia menyerigai "Saya sudah sehat. Jadi boleh kah?"

Semua professor memandang ke dua pemuda tersebut seakan mengharapkan aka nada pertumpahan darah saat itu juga. Tak terkecuali Snape, meski ia hanya memandang dingin.

"Kurasa ini tak akan bagus diakhir." Kata Slughorn khawatir.

"Professor?" Tak menghiraukan Slughorn, Draco bertanya ke McGonnagal yang sedang mempertimbangkan 1000 alasan logisnya.

Theo tak bergeming hanya memangdang Draco diam seperti patung. Matanya yang biasa dipenuhi gemilang menyebalkan tampak kosong.

"Entahlah, tapi kurasa kalau memang sangat perlu. Jangan lebih jauh dari pandangan mata ku" Katanya.

Seringai Draco melebar membuat professor menyadari aka nada yang tak beres nantinya. Professor Trelawney bahkan komat-kamit penuh prediksi ramalan. Draco mengangguk dan member isyarat pada Theo untuk menghapirinya.

Ragu-ragu Theo mendekat, matanya kosong tapi memandang penuh awas. Mereka menjauh dari grombolan Professor tapi menyisakan jarak bagi para professor untuk bisa memantau.

"Apa?" Tanya Theo.

Seringai Draco masih belum lepas dari sangkarnya. Draco terkekeh. "Kau kaku sekali, rileks mate."

Theo mengangkat alisnya. Tapi tak bersuara. Jadi Draco mengambil alih sambil berbisik.

"Dengar kurasa ini saatnya main peran, mate"

"Maksudmu..?" Tanya Theo tak yakin.

"Kau tahu maksudku, ayo selesaikan aku mulai ngantuk."

"Kenapa kau mau repot-repot melakukannya?"

"Aku sudah bilang sebelumnya. Karena kau temanku. Apa yang lebih penting?"

Dan disanalah mereka saling menyerigai satu sama lain, mengirim sinyal.

.

.

.

.

It's Absolutely Completed

Aduh ancur begini. Tapi...

THE END!

ALHAMDULILLAH~~

Terimakasih :D

Gimana? Klimaks kagak? Kalau gak ada yang mati biasanya gak klimaks, atau akunya gak bisa bikin ending yang keren. Fyi ini ficnya habis 96 lembar di word! Wow! Saya baru kali ini bikin cerita sebegindang banyaknya.

Salam kenal semuanya. Bye... bye...

Aku mau bikin pair lain, baca ya nanti hehe. Ada yang Dramione lagi huahaha!

Makasih banya yang udah baca, fav, follow dan review.

saitou-senichi, Astro O'connor, selvinakusuma1, Mrs. Y Malfoy, nvfaaa, Mikyo, Nitschei, ZeeMe, fennyfe97, priscillaveela, hana37, Shiro Usagi, Minri, PrintempsMalfoy, Guest, , , BlckPearl, ajengtriyanti, Astro O'connor, Sora Hinase, , feltbeats, Guest, Dramionelovers, Guest, ZeeMe, Drakie poo, bubble, Guest, Dipsy, lyn, Aulia, Guest.

Muakasihh banyak udah nyempetin review, ngritik, dan membetulkan di chapter 6 dan 7.

Luv.. Luv cipoks semuanya hehe :D