"Heeeiii! Rin! Rencana apa yang kau punya untuk mencarinya?" Tanya Len dengan nada agak kekanakan sambil mengguncang Rin yang sedang meneliti buku kecil miliknya.

"Bisa kau berhenti mengguncang-guncangku? Itu menggangu! Tunggu dulu, aku sedang berusaha memprediksinya lewat catatanku," Jawab Rin dengan pandangan serius yang tetap tertuju pada buku kecilnya. Len pun mengangguk dan berhenti mengguncang Rin.

"Nee, Len, apa tempat kesukaanmu?" Tanya Rin pelan sambil menatap Len.

"Eh? Tempat kesukaan? Mungkin… Atap sekolah, karena tempat itu paling sepi dan cocok untuk tidur," Jawab Len seadanya. Rin hanya mengangguk dan mencatat sesuatu di buku kecil miliknya tersebut.

"Atap sekolah, udara segar, langit biru, cuaca cerah…," Rin pun menggumam tidak jelas sambil membuat goresan-goresan di buku kecilnya.

"Tunggu di taman dekat sekolah, disana akan ada seseorang yang datang dan mengajakmu bicara," Ucap Rin, tersenyum sambil menutup bukunya dan berjalan keluar dari ruangan tersebut. Namun ia menghentikan langkahnya ketika ia berada di depan pintu dan menoleh kebelakang, tepatnya kearah Len.

"Oh ya, aku nanti mungkin akan datang kesana untuk mengecek," Tutur Rin.

"Eh? Mengecek? Untuk apa?" Tanya Len kebinggungan.

"Karena jika kau sudah bertemu dengannya, maka aku dan kau tidak berhubungan apa-apa lagi," Jawab Rin simpel. Dan entah mengapa saat Rin mengatakannya, Len merasa dadanya sesak.

"Sore jaa," Dan dengan dua kata terakhir tersebut, ia keluar dari ruangan tersebut, menyisakan Len yang sedang berkutat dengan pikirannya sendiri.

-Len's True Love-

*Ch 2*

Story by: Kiriko Alicia

Vocaloid belongs to Crypton Media and Yamaha Corp

Rating: T

Pairing (Main): Kagamine Rin X Kagamine Len

Genre: Romance, Drama.

Warning: Cerita gaje, alur lambat/ngebut, typo bertaburan dimana-mana, dan cerita ini dapat mengakibatkan berbagai macam reaksi terhadap para pembacanya (Menangis terharu, tertawa ngakak, kesel-kesel sendiri karena pairing lainnya tidak sesuai harapan, dll).

Summary: Len ingin mencari cinta sejatinya, dan ia pun meminta bantuan Rin sang peramal sekolah yang sebelumnya tidak pernah gagal. Berbagai cara telah mereka coba. Namun mengapa… Semuanya tidak berhasil? Atau Len melupakan sesuatu?

Len kini tengah menunggu di taman dekat sekolah sambil duduk di bangku taman. Tidak banyak orang yang datang kesana. Hanya lima orang yang datang. Satu pasangan dan tiga sahabat yang sepertinya sedang dalam tugas sekolah.

Entah mengapa sepertinya takdir memang tidak berpihak pada mereka. Buktinya sampai sekarang belum ada yang berbicara dengannya. Jangan bicara, menyapa saja belum. Len mendesah pelan lalu mendongakkan kepalanya ke atas, melihat kearah langit.

Langit tampak cerah tidak berawan. Beberapa burung berkicau pelan dan hinggap di tiang listrik. Ia pun mengamati burung-burung tersebut, kurang kerjaan memang. Tapi ia sendiri tidak dapat berharap banyak berhubung rencana yang lalu gagal. Ia terus melakukan aktifitas tersebut hingga sebuah suara menangkap indra pendengarannya.

"Arigatou Lui-senpai," Ucap seorang gadis yang baru saja sampai di taman dengan nada ramah dan sopan. Ia membungkuk sembilan puluh derajat di depan lelaki di sebelahnya, seorang anak lelaki berambut oreanye. Ia lebih tinggi sekitar lima belas senti dari gadis disebelahnya-Rin.

"Ah, douita," Jawab lelaki yang bernama Lui itu, tersenyum sambil mengusap kepala Rin lembut dengan tangan kanannya, "Jaa ne, Rin!"

Itulah kalimat terakhirnya, sebelum ia kembali ke jalan yang tadi dilewatinya bersama bersama Rin. Rin hanya menatap dari kejauhan, hingga saat Lui menghilang di tikungan, Rin mengedarkan pandangannya ke dalam taman (ia berada di depan taman).

Iris biru langitnya berkeliling hingga menangkap sosok yang dikenalinya. Len, sedang balik menatapnya. Ia pun melambaikan tangannya sambil tersenyum manis kearah Len. Rupanya, sedari tadi Len terus saja memperhatikan Rin dari tempat duduknya.

Len yang tertangkap basah mengintai Rin langsung memerah wajahnya dan mengalihkan pandangannya. Mendapatkan tanda tanya besar dari Rin. Rin pun menghampiri Len dan duduk di tempat sebelahnya.

Len PoV

Entah mengapa melihat Rin bersama lelaki tadi membuatku merasa kesal. Sepertinya Rin mengenal baik lelaki tadi. Dan dari seragam yang dikenakannya, kusimpulkan ia bukan dari sekolahku ataupun Rin. Apalagi aku sempat mendengar Rin memanggilnya dengan embel-embel 'senpai', jadi kurasa ia lebih tua dariku.

Mungkin aku… Cemburu?

Tu-Tunggu dulu! Apa yang barusan kukatakan? Tidak mungkin aku ce-ce-cemburu padanya kan? La-Lagian aku kan baru saja mulai berbicara padanya beberapa hari yang lalu!

Arrghhh! Aku tidak mengerti hal ini sama sekali!

Normal PoV

"Len? Kenapa wajahmu sangat merah?" Tanya Rin kebinggungan ketika melihat wajah Len yang memerah. Len terkejut ketika Rin tiba-tiba saja menepuk pundaknya.

"M-Masa?" Len justru balik bertanya. Rin menganggukan kepalanya.

"Benar-benar merah. Seperti tomat matang, kau tahu?"

"T-Tapi kurasa aku tidak apa-apa."

Rin menaikkan sebelah alisnya, meragukan ucapan Len. Namun bagaimanapun juga, sesama sahabat harus percaya satu dengan yang lain kan? Rin pun menghela nafasnya pasrah.

"Baiklah kalau begitu."

Dan sekali lagi, keadaan diantara kedua insan itu diliputi oleh keheningan. Len hanya memainkan jarinya, sepertinya gugup. Gugup karena apa? Entahlah. Sedangkan Rin, ia sedang sibuk dengan pikirannya sendiri.

"Len…," Rin pun memanggil Len dengan suara pelan.

"A-Apa?"

"Apa ada orang yang sudah berbicara denganmu?" Tanya Rin sambil memperhatikan taman yang terlihat cukup (baca: sangat) sepi tersebut. Len menggelengkan kepalanya lemah.

"Belum ada."

Rin menghela nafas sedih mendengarnya.

"Benar-benar tidak ada ya?" Rin pun memastikan jawaban Len. Len mengangguk lemas. Lalu kedua orang itu langsung menghela nafas mereka bersamaan.

"Apa sebenarnya cinta sejati Len itu tidak ada?" Tanya Rin dalam hati.

"Tidak. Aku yakin pasti ada. Tapi… Ini sudah kedua kalinya gagal? Apa memang ada yang salah dengan kalkulasiku?" Batin Rin kebinggungan dengan tatapan cemas.

"Aku sudah mengecek berkali-kali dan memang tidak ada yang salah, tapi… Apa memang hal ini tidak berkerja terhadap Len?" Gumam Rin pelan.

"Tidak bekerja apanya?" Tanya Len yang kebetulan mendengar sedikit gumamaman Rin. Rin terlonjak lalu menggelengkan kepalanya sambil tersenyum kecil.

"Bukan apa-apa."

Len terlihat agak curiga, namun ia menghapus kecurigaan itu dan mengadahkan kepalanya, melihat kearah langit yang kini sudah berubah warna menjadi oranye. Terjadi keheningan sejenak.

"Sudah sore ya…," Ucap Rin, memecah keheningan tersebut. Len mengangguk.

"Sebaiknya kita lanjutkan besok saja," Ucap Rin lalu berdiri dari tempat duduknya. Len hanya mengangguk menyetujui, toh akan bahaya jika mereka pulang malam.

"Bagaimana kalau kau kuantar pulang?" Usul Len kepada Rin yang kini tengah berdiri dari tempat duduknya dan bersiap pergi. Rin pun menoleh ke arah Len sambil tersenyum.

"Terima kasih atas tawarannya. Tapi maaf, tapi aku bisa pulang sendiri. Lagian rumahku berada sekitar lima rumah dari taman ini," Jelas Rin sambil menunjuk sebuah rumah yang terletak di dekat taman tersebut. Len hanya mengangguk.

"Jaa ne, mata ashita," Lanjut Rin lagi sebelum berlari meninggalkan Len.

.

.

.

"Hmm… Tidak ditemukan ya?" Ulang seorang pemuda berambut biru laut sambil menopang dagunya. Sekarang merupakan jam makan siang. Len sedang menceritakan kejadian yang dialaminya beberapa saat ini dan kejadian di taman tersebut (yang terjadi beberapa hari lalu) kepada Shion Kaito, sahabat terdekatnya.

Mereka berdua kini sedang makan di salah satu meja di kantin. Karena kantin hari ini sangat sepi, banyak murid memilih untuk makan di halaman sekolah berhubung cuaca cerah.

"Iya. Sejujurnya aku juga tidak tahu mengapa, sebelumnya tidak pernah gagal. Namun entah mengapa baru sekarang gagal," Ucap Len sambil memutar-mutar jarinya di udara lalu menyendok nasi bekalnya lagi.

"Oh… Sudah dua kali gagal ya?" Tutur Kaito sambil memakan es krimnya perlahan. Len mengangguk.

"Kau yakin itu hanya kebetulan?" Tanya Kaito, kebinggungan, "Yang namanya kebetulan, takkan mungkin terulang dua kali."

Len pun menatap Kaito lalu menggidikan kedua bahunya, "Mungkin saja, tapi nyatanya saat itu tidak ada orang yang berbicara ataupun datang menghampiriku kecuali Rin-"

Dan seakan-akan menyadari perkataannya sendiri, wajah Len memerah.

"Rin? Oh, Negami-san. Hanya dia yang berbicara kepadamu kan? Jadi mungkin dialah cinta sejatimu," Jawab Kaito terang-terangan.

"T-Tungu Kaito! I-Itu tidak mungkin kan?!" Len pun berteriak berdiri dari tempat duduknya dan memukul mejanya, membuat beberapa pasang mata melihat kearah mereka dengan tatapan binggung, namun segera melanjutkan aktifitas mereka kembali.

"Tidak mungkin apanya? Diam-diam dalam hati sebenarnya kau menyukainya dan berharap cinta sejatimu dia kan?"

"Ti-Tidak kok!"

"Jangan pikir aku tidak tahu kalau kau sebenarnya sudah mengintai Negami-san bahkan sebelum kau berbicara padanya," Tutur Kaito akhirnya sambil tersenyum jahil. Len yang mendengarnya langsung memerah drastis.

"A-AP-AP-Ba-Baga-bagaimana ka-kau…?"

"Kau lupa ya? Aku kan teman baikmu, aku pasti tahu apa yang kau lakukan," Jelas Kaito sambil tetap tersenyum.

"Uugh…," Len pun menggerutu pelan lalu duduk kembali.

"Jadi… Apa kau menyukainya, Len?"

"A-Aku tidak tahu…," Jawab Len sambil mengepalkan kedua tangannya erat-erat dan mengalihkan pandangannya dari Kaito.

"Apa kau membencinya?"

Len tertegun mendengar pertanyaan dari Kaito.

"A-Aku-"

.

Alicia: Yatta! Selesai juga ini chapter! X3 Maaf banget ending chap-nya rada cliffhanger ._. Ehehe… Sebenarnya Alice bisa buat yang pendek (mereka langsung sadar di chap ini) tapi nanti jadinya ngak sesuai sama ide. Jadi Alice buat Len yang sadar duluan, Rin nanti agak lamaan~ XD… Dan disini dua-duanya rada kepo #plak

Kyoko: Ini balasan reviewnya!

.

-Adhitya Nogami

Arigatou! Ini sudah lanjut! Arigatou sudah me-review :3

-Kei-T Masoharu

KEEEEEIIII! LAMA NGAK CHAT! #apaanini

Benerr… Lennya ngak sadar. Dan Len shota itu fakta #digiles

Arigatou sudah me-review! X3

-Kurotori Rei

Teehee, memang sengaja dibuat meleset #digampar ._.

Arigatou sudah me-review! X3

-Wu

Ini sudah lanjut :3 Arigatou sudah me-review! X3

-Salsuno

Ehehe, mungkin ini ngak seberapa cepet ya #plak

Soalnya ujian terus menerus. Derita anak SMP #apaanini

Arigatou sudah me-review! XD

Ini sudah lanjut! Arigatou sudah me-review! X3

-Caroline A S

Ehehe, arigatou, Caroline!

Ini sudah lanjut, arigatou sudah me-review XD

-Kireina Yume

Bener banget. Len dan Rin memang leletnya minta ampun disini #digilesRR

Ini sudah lanjut, arigatou sudah me-review! XD

-Yami Nova

Arigatou! Aslinya sih enggak, soalnya kalau tahu seharusnya Rin gugup banget kalau ngomong sama Len XD

Arigatou sudah me-review! X3

-Kireina Inori

Waa, arigatou!

Eh? Apel? Ngak ada Mangga? Atau keripik tempe? #sudahdikasihmasihmintayanglain

Arigatou sudah me-review! X3

.

Ettou, hontoni arigatou buat semua yang sudah fave, fol, ataupun mengikuti cerita hingga saat ini. Untuk update selanjutnya Alice ga bisa jamin kapan, tapi kemungkinan besar saat liburan kenaikan kelas/weekend ._.

Terakhir… Review please? X3

.

Lanjut atau delete?