"Tadaima," ucap Rin setelah memasukki pintu rumahnya. Ia menutup pintu rumahnya lalu mendesah. Dan tanpa menunggu jawaban dari dalam rumah, ia langsung masuk ke ruang tamu dan merebahkan dirinya ke sofa.

Tangannya menggapai ke meja, untuk mengambil remot TV. Hingga saat ia mendapatkannya ia menekan tombol untuk menyalakan televisi tersebut.

KLIK!

Rin pun langsung mengganti acara yang sedang tampak ke channel anime favoritnya, yang kini sedang memutar anime berjudul Full Moon O Sagashite*.

"Hah… Susahnya jadi peramal," ucapnya sambil menghela nafas, "Apalagi dengan permintaan Len itu… Kenapa sih? Susah sekali, padahal hanya satu orang yang dicari."

Ia pun mendesah. Ia merasa usahanya menjadi sia-sia jika memang orang tersebut tidak ada. Tapi ia sendiri tidak dapat menarik kembali kata-katanya, berhubung ia telah berjanji kepada Len untuk membantunya.

"Kalau begitu aku tidak boleh menyerah! Masih ada banyak waktu untuk mencarinya!" Batinnya semangat.

-Len's True Love-

*Ch 3*

Story by: Kiriko Alicia

Vocaloid belongs to Crypton Media and Yamaha Corp

Rating: T

Pairing (Main): Kagamine Rin X Kagamine Len

Genre: Romance, Drama.

Warning: Cerita gaje, alur lambat/ngebut, typo bertaburan dimana-mana, dan cerita ini dapat mengakibatkan berbagai macam reaksi terhadap para pembacanya (Menangis terharu, tertawa ngakak, kesel-kesel sendiri karena pairing lainnya tidak sesuai harapan, dll). All in Normal PoV.

Summary: Len ingin mencari cinta sejatinya, dan ia pun meminta bantuan Rin sang peramal sekolah yang sebelumnya tidak pernah gagal. Berbagai cara telah mereka coba. Namun mengapa… Semuanya tidak berhasil? Atau Len melupakan sesuatu?

"Len, apa kau punya clue atau siapa cinta pertamamu? Mungkin aku akan dapat lebih mudah mencarinya jika seperti itu," jelas Rin sambil tersenyum.

Kini Len dan Rin sedang berada di sebuah café, tentunya Rin yang meminta hal itu. Ia sebenarnya cukup berharap tugasnya dengan Len akan cepat selesai. Mereka berdua duduk berhadapan, dan itu mempermudah Rin untuk 'menginterogasi' Len.

Namun Len hanya terdiam dengan wajah memerah. Ia menjadi agak ragu, setelah mengetahui 'kenyataan' tersebut dan percakapannya dengan Kaito. Rin hanya memiringkan kepalanya, cukup binggung dengan reaksi Len yang sama sekali tidak ia duga.

Flashback: ON

"Apa kau membencinya?"

"Aku-," Len menjeda kalimatnya sejenak, "Tidak membencinya."

"Kalau begitu, kau pasti menyukainya kan? Jika kau tidak membencinya, setelah semua pengamatanku, tidak mungkin kau menganggapnya netral."

"A-AP-"

"Jangan mengelak Len, sebagai temanmu, aku harus membantumu untuk menyadari perasaanmu sendiri," ucap Kaito sambil tersenyum menakutkan. Len meneguk ludahnya dengan wajah merah.

"S-Siapa juga yang mengelak!" Len akhirnya membantah. Sudah jelas kalau ia tipe tsundere.

"Kau berusaha mengelak terus Len, aku tahu jelas hal itu."

Len terdiam, tidak dapat berkata apa-apa lagi, wajahnya sudah menjadi sangat memerah. Tertangkap basah kau, Kagamine Len.

"A-Aku ti-tidak- Hah… F-Fine! Aku memang menyukai Rin! Puas?" Akhirnya Len mengatakannya juga dengan wajah memerah. Kini Len mengembungkan pipinya dengan wajah masam, memang agak childish, tapi begitulah Len.

Sedangkan Kaito? Ia hanya menyeringai puas dengan jawaban Len.

"Akhirnya kau mengaku juga, Len," batinnya.

Flashback: OFF

"Len?" Tanya Rin lagi.

"A-Apa?" Akhirnya Len menjawab juga dan menatap Rin. Sedangkan Rin hanya menatap Len dengan tatapan datar.

"Len? Kau aneh sekali hari ini," ucapnya terus-terang, "Apa ada sesuatu yang terjadi?"

Dan Len langsung membatu mendengar pertanyaan dari Rin.

"Em, itu- sebenarnya- em-"

Rin hanya bisa menaikkan sebelah alisnya, kebinggungan dengan perilaku Len yang terlihat aneh.

"Jadi sebenarnya- eh- itu- em- I-itu- Err- Arrgh!" Dan akhirnya Len mengacak-acak rambutnya frustasi dengan wajah merah. Hingga tiba-tiba saja Rin memekik sambil melihat ke arah jam tangan kuning miliknya.

"Ah! Sudah jam empat! Gomen, Len. Aku harus pergi sekarang! Jaa ne!" Dan tanpa persetujuan Len, Rin langsung beranjak pergi, meninggalkan Len yang diam-diam menghela nafas lega. Namun tiba-tiba saja, Rin berbalik. Membuat Len terkejut setengah mati.

"Ah, dan karena kau memintaku untuk membantumu, kau harus memberitahuku siapa yang kau sukai atau siapa yang 'pernah' kau sukai, dengan begitu aku bisa menduga siapa sebenarnya cinta sejatimu itu," tuturnya sambil tersenyum manis lalu pergi keluar dari café, meninggalkan Len yang mematung di tempatnya.

.

.

.

"Jadi? Konsultasi lagi kepadaku?" Tanya Kaito sambil menaikkan sebelah alisnya saat melihat Len berada di depan pintu rumahnya. Memang, Kaito dan Len bertetangga, karenanya Len dapat dengan mudah pergi ke rumah Kaito.

Len mengangguk singkat, sebelum masuk ke dalam dan mengedarkan pandangannya ke dalam rumah Kaito. Rumah yang cukup besar dengan warna tembok berwarna biru dan lima lemari pendingin ciri khas keluarga Shion- es krim.

"Kau tidak usah sungkan, langsung saja masuk ke kamarku, Kaa-san, Tou-san, Akaito-nii, dan para otouto yang baka-nya lebih dariku itu tidak ada disini," ucap Kaito dengan nada datar. Len mengangguk lalu masuk ke dalam kamar Kaito diikuti oleh Kaito di belakangnya.

CKLEK!

Len pun membuka pintu, menampakkan ruangan –yang tidak terlalu rapi- dengan tembok berwarna biru muda cerah, lantai terbuat dari keramik, dan beberapa es krim di meja belajarnya.

"Duduklah," perintah Kaito, mempersilahkan Len duduk di kursi belajarnya, sementara ia sendiri duduk dihadapan Len, tepatnya di pinggir ranjang miliknya.

"Jadi, apa yang mau kau bicarakan?" Tanya Kaito dengan nada serius.

"Mengenai Rin…," Gumam Len. Kaito yang mendengar nama Rin disebutkan langsung menaikkan sebelah alisnya, heran.

"Ada apa dengannya?" Tanyanya.

"Rin takkan berhenti mencari sampai menemukan cinta sejatiku," Dan Kaito yang mendengar ucapan Len langsung sweatdrop di tempat.

"Len… Apa kau belum bilang yang sebenarnya pada Rin?" Tanya Kaito akhirnya. Len membeku ditempat.

"Ta-Tapi kan kalau aku bilang kepadanya aku sudah menemukan cinta sejatiku, a-aku kan harus mengatakan semuanya termasuk kalau orang itu adalah R-Rin…"

Kaito menaikkan sebelah alisnya.

"Dan kau mau bilang kalau kau tidak dapat mengatakannya begitu?" Tanya Kaito dengan nada datar. Len mengangguk pelan dengan wajah merah.

"Tapi… Aku juga tidak ingin berbohong terus padanya…," ucap Len sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam. Kaito terdiam mendengar jawabannya, sebelum memberi usul yang mengejutkan.

"Kalau begitu, hanya ada satu solusinya kan? Tembak dia," ucap Kaito sambil menepuk kedua tangannya, semangat dengan idenya sendiri.

Len mematung mendengar jawaban Kaito. Tentunya, ia mengharapkan solusi lainnya, tapi apa daya Kaito justru memberikan solusi itu kepadanya secara terang-terangan.

"AP-AP-APA?!"

"Kau kan tidak ingin berbohong terus padanya kan?" Tanya Kaito sambil tersenyum. Len mengangguk pelan dengan wajah memerah.

Len PoV

"Tapi apa tidak ada solusi lainnya?!" Jeritku histeris sambil berdiri. Maksudku, menembak R-R-Rin?! Mau ditaruh dimana mukaku nantinya?!

Kaito menggeleng mantap sambil tersenyum jahil.

Oh Tuhan.

Ini mimpi burukku.

"Jadi bagaimana?" Tanya Kaito. Aku menundukkan kepalaku, menyembunyikan wajah merahku, walaupun Kaito pasti sudah tahu kalau sekarang aku sedang blushing.

"E-Entahlah…," tiba-tiba saja jawaban itu keluar dari mulutku.

Normal PoV

"E-Entahlah…," jawab Len pelan. Kaito kelihatannya tidak menerima jawaban tersebut dari Len.

"Ayolah, Len! Kalau kau tidak tahu, apalagi aku?!" Jerit Kaito, "Kau harus membuat sebuah keputusan!"

Len masih saja terdiam. Kaito pun menghela nafasnya.

"Kalau begitu, tembak dia besok," akhirnya Kaito angkat bicara.

"A-A-APA?!"

"Kalau kau tidak mau membuat pilihan, aku saja yang membuatnya. Mudah kan?"

"T-Tapi… Besok?!"

"Kau sendiri yang bilang kalau kau tidak ingin membohonginya terus, Len."

"I-Iya sih, ta-tapi kan-"

"Tidak ada tapi-tapian! Pokoknya besok! T-I-T-I-K!"

Len menggerutu pelan. Ia tahu, jika Kaito seperti ini, maka keputusannya takkan bisa diganggu gugat. Dan kalau ia mencoba mengelak, maka pisang pisang kesayangannyalah yang menjadi korbannya.

"Besok ya?" Len menggumam pelan.

.

Alicia: Hai~! Akhirnya chap ini jadi juga :3 Chap depan adalah chapter terakhir… Ngak lama memang ini cerita. Intinya, tidak selama Tower ataupun GHOST ._.

Yuki: Ini bawah balesan reviewnya *nunjuk bawah*

.

-Kei-T Masoharu

Iya, Rin-nya terlalu ga peka! #dilidesRR

Ok! Ini sudah lanjut, arigatou Kei sudah me-review! X3

-Kurotori Rei

Bener X3 Kaito itu stalker! #ditimbuneskrim

Teehee, ini sudah lanjut! Arigatou Rei sudah me-review! XD

-Caroline A S

Eh? Panjang? Chap depan chap terakhir kok XD

E-Eh? Hontou? Arigatou Caroline! Dan arigatou sudah me-review! :3

Ini sudah lanjut, arigatou sudah me-review! X3

-Ryuuna Hideyoshi

Yap! Ini sudah lanjut, arigatou Ryuuna sudah me-review! X3

-Yami Nova

Benar sekali Yami-senpai! –w-)b

Len akan langsung menembak Rin! Ini sudah lanjut, arigatou sudah me-review XD

-Kireina Yume

Ampun emak! #disabetpisang … Ini sudah ketahuan Len di chap sebelumnya ngomong apa :3 Arigatou sudah me-review! X3

.

Arigatou buat semua yang sudah me-review, fav, fol, atau mengikuti cerita sampai sini! Alice harap kalian suka dengan hasilnya. Maaf jika kurang memuaskan :( Tapi Alice tetep harap semua suka :3

*Full Moon O Sagashite: Salah satu anime yang menurut Alice menarik, jika berkenan bisa mencoba untuk menonton :3

Saa, mind to review?

.

Lanjut atau delete?