"Hei, apa itu ?" Tanya Naruto saat melihat sesuatu digenggamanya."Bukan apa-apa, lagi pula ini bukan urusanmu". Balasnya tanpa menoleh pada lawan bicaranya. "Siapa namamu ?". Tanya Naruto. Tidak ada jawaban keluar dari mulutmu sang gadis, Naruto pun memutuskan untuk mengikutinya. Setelah membuntuti sang gadis yang ternyata berhenti di bak sampah dan melemparkan benda hitam yang di genggamnya tadi. Gadis itu membalikkan badan dan mendapati Naruto berada tak jauh dari tempat dirinya berdiri. "Kau mengikutiku ?". Tanyanya. "Ya". Jawab Naruto enteng. "Kenapa ?". Tanyanya lagi. "Karena aku ingin tau siapa namamu". Jawab Naruto. "Apa kau perlu tau ?". "Kurasa iya". "Apa itu penting bagimu ?". "Sebenarnya tidak". "Bagus". Kata gadis itu lalu berjalan melewati Naruto. "Gadis ini". Gumam Naruto. Naruto mengejar gadis itu yang masih berjarak beberapa meter berada di belakangnya. Namun saat Naruto berhasil menyentuh pundak kiri gadis itu, tiba-tiba. Grusakk…! Brukk…! Brukk…!. Mereka berdua jatuh kedalam selokan. Alhasil kini Naruto berada di dalam selokan dengan tubuh gadis itu tersaji di atas badanya. Dan yang membuat mereka shock setengah mati adalah, bibir mereka melekat satu sama lain. Bau khas tubuh gadis itu mengisi relung paru-paru Naruto. Detakkan jantung mereka makin lama makin terdengar sampai akhirnya. "Kyaaaa….!". "Kau. Apa yang kau lakukan?. Kenapa kau menciumku ?. Dasar kau lelaki cabul !". Teriak gadis itu sambil beringsut dari tubuh Naruto. "Apa ?. Mencium mu ?. Jelas-jelas kau yang yang berada diatasku. Itu artinya kau yang menciumku". Kata Naruto membela diri. "Pelecehan. Ini tidak akan terjadi kalau kau tidak memegang bahuku dan membuatku terkejut". Balas gadis itu tak mau kalah. "Dan ini juga tidak akan terjadi kalau kau menjawab pertanyaanku, bukan malah membantingku. Dan lagi, apa yang kau lakukan disini ?. Bukankah banyak toilet disekolah ini ?". "Aku ke toilet mana pun itu urusanku, tidak ada hubungannya denganmu. Dan soal aku membantingmu, aku hanya reflek tadi. Sudahlah, aku tidak mau membuang waktuku dengan orang bodoh sepertimu". Katanya seraya berdiri lalu pergi. "Bodoh kau bilang ?". Kata Naruto yang membuat langkah gadis itu terhenti. "Kalau aku bodoh, aku tidak mungkin bisa mendapatkan ini". Kata Naruto sambil menunjukkan sebuah foto yang terpampang di ponselnya. "Kau mengambilnya ?". Tanya gadis itu panik melihat sebuah foto yang sama sekali tak pernah ia harapkan untuk ada. Foto ciuman mereka tadi. "Seperti yang kau lihat'. Kata Naruto enteng. "Berikan padaku !". Kata gadis itu berlari kearah Naruto. "Tidak". "Berikan !". "Tidak, Tidak, dan tidak". Kata Naruto berusaha menjauhkan ponselnya dari jangkauan gadis itu. "Kau ini. Sebenarnya apa maumu ?. Kalau kau ingin tau namaku, kau tidak perlu seperti ini". Kata gadis itu masih berusaha merebut benda dari genggaman Naruto. `Sepertinya aku bisa menggunakan dia`. Batin Naruto. "Tidak, aku tidak tertarik lagi untuk mengetahui siapa namamu. Aku ingin kau mau melakukan sesuatu untukku". Kata Naruto. "Apa kau gila ?. Mana mungkin aku mau. Kau pikir siapa dirimu ?. Kalau kau pikir aku mau menuruti perkataanmu, itu artinya kau bodoh". "Dan akan lebih gila dan bodoh lagi kalau seisi sekolah ini tau kalau ada seorang wanita masuk ke toilet laki-laki untuk alasan yang tidak jelas. Lalu wanita itu mencium seorang laki-laki secara paksa". "Itu bukan paksaan. Itu kecelakaan yang sama sekali tidak diharapkan. Dan aku yakin mereka tidak akan percaya padamu". Sergah gadis itu. "Foto ini akan menjadi bukti kalau perkataanku memang benar adanya. Aku bisa membayangkan kalau sampai hal ini terjadi, akan kupastikan ini akan menjadi trending topik selama berbulan-bulan". Kata Naruto. "Kau mengancamku ?". "Tidak. Aku hanya memberimu sebuah pilihan". "Apa imbalan untukku kalau aku berhasil melakukannya ?". "Foto ini akan kuhapus. Dan akan kupastikan kau tidak akan bertemu denganku setelah kita lulus dari sekolah ini". "Deal". Kata gadis itu langsung menjabat tangan kanan Naruto tiba-tiba. "Aku pegang kata-kata terakhirmu tadi". Imbuhnya.

Flashback end

"Memang siapa wanita itu ?". Tanya Lee. "Aku juga tidak tau". Balas Naruto. "Lalu apa yang terjadi dengan seragammu ?". "Yah, karena kupikir kotor dan aku tidak mau memakainya lagi, ya kurobek saja". Jawab Naruto tanpa dosa.

"Kau mau pesan apa Hinata ?". Tanya Tenten. "A..aku pesan teh saja". Jawab gadis berambut indigo. "Hanya itu ?". Tanya Tenten lagi. "Ya. A..aku sedang d..diet". Jawab gadis itu lagi. Doeng…!. `Hinata, apa perkataanmu itu kau tujukan padaku ?. Harusnya aku yang berkata seperti itu mengingat berat badanku sekarang`. Batin Tenten. "Baiklah, kami pesan 2". Kata Tenten pada panjaga kantin. "Hinata, ada apa denganmu ?. Apa kau sakit ?. Kenapa mukamu merah?". Tanya Tenten saat mendapati temannya itu sedang merunduk. "Ti..tidak, ha..hanya saja a..ada Na..Naruto-kun". Jawabnya. "Naruto kau bilang ?". Tanya Tenten. "I..iya, dan sepertinya dia menghampiri kita". Kata Hinata masih merunduk menyembunyikkan wajah merahnya di balik rambut panjangnya. `Naruto ?. Itu Artinya`. Gumam Tenten. "Hai semua. Hai Hinata. Dan hai untukmu juga nona toilet". Sapanya. "Tidak sopan. Mengganti nama orang seenaknya". Cercah Tenten. "Salah sendiri kau tidak mau memberitau namamu". Kata Naruto. "Apa kau ingat janji kita yang kemarin?". "Janji ?. Janji apa ?". Tanya Hinata pada Tenten. Tenten tau, Hinata sedang cemburu padanya sekarang. Tenten dapat melihat jelas sorot mata yang Hinata tujukan padanya. "Janji kalau dia akammpph….". "Jangan dengarkan dia Hinata. Dia hanya mantan orang gila yang belum sembuh sepenuhnya". Kata Tenten sambil membekap mulut yang menurutnya tidak beda jauh dengan sampah itu. "Tenten, apa yang kau lakukan ?". Tanya Hinata panik melihat perlakuan Tenten pada Naruto. "Kau jangan khawatir. Dia akan baik-baik saja. Aku akan menyelesaikan urusanku dengannya dahulu. Dan kalian, jaga Hinata. Kalau sampai terjadi apa-apa denganya, akan kuremukkan tulang iga kalian". Kata Tenten pada 3 teman Naruto yang dibalas dengan menegakkan badan oleh mereka bertiga.

"Kau. Apa yang kau lakukan ?. Kau mau membunuhku, hah ?!". Kata Naruto berontak setelah terlepas dari bekapan Tenten. "Ya, dan aku harap kau segera mati agar aku bisa terbebas darimu". "Kau akan di penjara". "Tidak mungkin aku dipenjara hanya karena aku membunuh seekor kecoa". Balas Tenten asal. "Apa kau bilang ?". Teriakknya tidak terima. "Sudahlah, sekarang apa yang kau inginkan dariku". Tanya Tenten to the point. "Aku dengar kau anak karate ?". Tanyanya memulai. "Lalu ?". "Dan aku dengar Uchiha Sasuke juga anak karate, apa aku benar ?". "Ya, kau benar". " Kau pasti tau kalau Sakura suka pada Sasuke". "Bahkan penjaga sekolah pun tau kalau Sakura sangat terobsesi dengan bungsu Uchiha itu". "Bagus". Kata Naruto. "Lalu apa maumu ?". "Aku tau Sasuke tidak pernah sekali pun merespon apa yang Sakura lakukan padanya". "Jadi ?". "Aku ingin membuat Sakura berpaling padaku". Jawab naruto percaya diri. "Aku salut padamu. Kau sangat berani membuat wanita itu berpaling padamu. Aku bangga padamu". Kata Tenten sambil menepuk bahu lelaki berambut pirang itu. "Jadi, kau ingin aku melakukan apa ?. Apa kau ingin aku memberika sebucket bunga padanya dan mengatakan kalau bunga itu darimu ?. Atau, kau ingin aku meletakkan sekotak cokelat di mejanya setiap pagi ?. Itu hal yang sangat mudah. Serahkan saja padaku". Imbuh Tenten. "Tidak. Aku tidak ingin memintamu melakukan itu semua". Kata Naruto. "Lalu ?". "Aku ingin kau membuat Sasuke berpaling padamu. Kalau kau bisa membuat Sasuke jatuh cinta padamu, otomatis hati Sakura akan hancur. Dan saat itulah, celah untukku mendapatkan Sakura". "Apa kau sudah gila ?. Itu sama saja kau mengorbankan perasaan orang lain demi keinginanmu". Kata Tenten emosi. "Kenapa kau marah ?". Kata Naruto mendorong Tenten ke dinding dengan kedua tanganya berada di sisi kanan dan kiri kepala Tenten seolah ia memenjarakan wanita itu agar tidak pergi. "Dengar, kalau kau mau dan berhasil. Pertama, foto itu akan lenyap dengan. Kedua, kita tidak akan pernah bertemu lagi, bukankah itu yang kau inginkan ?. Dan sebagai bonus, kau mendapatkan Uchiha Sasuke. Pria tampan, jenius, dan kaya. Apa kau tidak mau ?". Tanya Naruto dengan nada yang tak pernah sekalipun Tenten dengar keluar dari mulutnya. "Tidak !. Dengar, kalau kau memang laki-laki, bermainlah secara sehat. Aku tidak menyangka, di balik kebodohanmu, terdapat pikiran licik yang amat sangat berdiri kokoh disana. Jangan pernah menyuruhku untuk melakukan hal bodoh itu. Aku tidak akan mau melakukan permainan kotormu itu". Sergah Tenten."Bermain secara sehat kau bilang ?. Aku sudah pernah melakukannya". Kata Naruto dengan nada bicara yang berbeda dan aura yang semakin tajam bisa Tenten rasakan. "8 tahun. 8 tahun aku melakukannya. 8 tahun aku mencobanya. Tapi apa ?. Berharap dia berpaling padaku ?. Bahkan tersenyum pun tidak pernah kulihat ia lakukan padaku. Apa 8 tahun belum cukup untukku bermain secara sehat ?. Menurutmu, berapa lama lagi aku harus menunggu ?. Kau bahkan tidak tau bagaimana perasaanku". Kata Naruto tertunduk. 'Tidak !. Kau salah Naruto. Aku tau bagaimana perasaanmu. Karena kita mengalami hal yang sama. Kau sama sepertiku. Lelaki yang kucintai, tak pernah sekalipun melihatku'. Batin Tenten menjerit. "Apa yang harus aku lakukan agar si bungsu Uchiha itu berpaling padaku ?". Kata Tenten tiba-tiba. "Nona toilet, kau ?". "Ya, aku mau membantumu. Jadi cepat katakan apa yang harus aku lakukan ?. Dan satu hal, jangan lagi kau panggil aku dengan sebutan nona toilet. Itu menjijikkan".

"Ohayou minna". Sapa seorang guru cantik bernama Shizune. "Ohayou gozaimasu". Balas semua murid serempak. "Tenten, kau dipanggil oleh Tsunade-sama". Kata Shizune pada muridnya. "Aku ?". Tanya Tenten. "Ya,kau". Balasnya. "Ada apa ?". Tanya Tenten lagi. "Entahlah, aku juga tidak tau. Cepatlah kau kesana. Beliau sudah menunggumu". "I..iya se..sensei". Balas Tenten gagap.

"Tsunade-sama". Panggil Tenten setelah membuka pintu ruang kepala sekolah. "Ah, kau sudah datang. Duduklah". Perintahnya. "Ada apa Tsunade-sama ?". Tanya Tenten memulai pembicaraan. "Apa benar kau saat ini berada di kelas 3-4 ?". Tanya Tsunade pada gadis di depannya. "I..iya Tsunade-sama. Apa ada masalah ?". Tanya Tenten takut jikalau benar ada masalah. "Tidak. Hanya saja akan ada pertukaran murid antar kelas. Dan kau akan jadi murid yang akan di pindahkan ke kelas lain". Jelas wanita berambut pirang tersebut. "A..apa ?. A..aku ?". Tanya Tenten terkejut. "Ya, seperti yang kau dengar". Balasnya. "Ke..kenapa ?". Tanya Tenten gagap. "Karena kau lah yang di tunjuk langsung oleh pemilik sekolah ini". Jawab Tsunade. "Minato-sama ?". Kata Tenten. "Iya. Dan tidak hanya akan pindah kelas. Kau juga akan membimbing anaknya yang bisa dikatakan, yah, kurang cerdas". Jelas Tsunade lagi. "Na..Naruto ?". Tanya Tenten tak percaya. "Iya". 'Pasti dia yang merencanakan semua ini'. Batin Tenten geram. "Gomenasai Tsunade-sama. Tapi kupikir, aku tidak mau". Tolak Tenten. "Kenapa ?". Tanya Tsunade sedikit terkejut mendengar kata penolakan dari bibir gadis bercepol di depannya itu. 'Apa aku harus cerita masalah ini pada Tsunade-sama ?. Tidak. Tidak ada yang boleh tau masalah ini'. Batin Tenten. "Aku punya alasan sendiri". Jawab Tenten. "Apa itu ?". "Aku tidak bisa mengatakannya". Elak Tenten. "Baiklah akan kujelaskan karena kupikir kau tidak tau benar apa yang kukatakan tadi. Kau akan pindah kelas. Dan kau akan membimbing Naruto untuk belajar. Tenten, apa kau pikir Minato-sama menyuruhmu melakukan semua hal itu tanpa memberimu imbalan ?. Kalau kau berpikir seperti itu, kau salah. Pertama, kalau kuamati kau cukup pandai untuk berbagai mata pelajaran. Setelah kau lulus dari sekolah ini, bisa dipastikan kau akan masuk ke Universitas Konoha tanpa melalui tes. Kedua, kemampuan karatemu akan dipromosikan ketingkat yang lebih tinggi. Bagaimana ?". Tanya Tsunade setelah menjelaskan panjang lebar. "Kenapa aku ?. Kenapa bukan Sai, Sasuke, Shikamaru, Sakura, Hinata, atau Neji yang jelas-jelas lebih cerdas dariku ?". Tanya Tenten tak habis pikir. "Karena hanya kau yang diinginkan Naruto untuk jadi pembimbingnya. Selain kau, ia tidak mau. Dan kalau aku jadi dirimu, tidak perlu waktu lama untukku menyetujuinya. Kau tau, bagiku imbalan yang akan kau dapat sangatlah menggiurkan". Kata Tsunade. "Kapan aku dipindahkan dan siapa yang akan jadi penggantiku ?". "Mulai besok. Dan penggantimu adalah Yamanaka Ino dari kelas 3-2". Jawab Tsunade. "Dan mulai kapan aku harus membimbing Naruto ?". Tanya Tenten lagi. "Sore nanti""Sumimasen. Apa benar ini rumah Uzumaki Naruto". Tanya Tenten pada penjaga rumah. "Iya. Kalau boleh tau, adik ini siapa ?". Tanyanya sopan. "Saya Tenten Sarutobi. Saya adalah teman sekolah Naruto". Jawab Tenten. "Oh temannya. Kalau begitu, silahkan masuk". Katanya sambil membuka pagar kokoh dihadapan Tenten. "Arrigatou gozamasu Jisan". Kata Tenten pada lelaki yang berusia 40 tahun itu. "Apa perlu kuantar ?". Tawar lelaki itu. "Tidak perlu Jisan. Aku bisa melakukannya sendiri".

"Naruto, ada gadis manis mencarimu". Teriak Ibu Naruto dari ruang tengah. "Siapa ?". Teriak si empunya nama dari lantai atas. "Oh, kau ternyata. Apa dia yang Kaasan bilang gadis manis ?. Kaasan, dia tidak ada apa-apanya dibanding Sakura". Kata Naruto. 'Bocah sialan. Beraninya kau membandingkanku dengan Sakura.'. Batin Tenten. "Tapi menurut Kaasan dia juga tidak kalah cantik dan manis dari Sakura". Kata Ibu Naruto. "Sudahlah Kaasan, jangan di puji terus. Nanti dia besar kepala". Kata Naruto dengan nada mengejek. 'Sial. Kalau bukan karena ada Ibumu disampingku, sudah pasti akan kuptuskan semua urat nadimu'. Batin Tenten lagi. "Sudahlah. Ayo ke kamar". Kata Naruto menarik tangan kiri Tenten. "Ka..kamar ?. Bukankah kita akan belajar ?". Tanya Tenten sedikit takut. "Ya. Dan aku biasa melakukannya dikamar. Jangan takut, aku tidak akan berbuat macam-macam padamu. Kau bukan tipeku". Kata Naruto lagi-lagi dengan nada mengejek. "Naruto. Kalau kau masih mengejaknya, lebih baik tutup mulutmu". Marah Ibu Naruto. "Aku tau".