Minna, chap 5 udah keluar. Maaf ya, lama banget updatenya. Ini semua karena modem Author ilang TT. Ini aja Author update di warnet terdekat. :(. Tapi meski pun modem author ilang, tapi gak menyurutkan semangat author untuk terus mengudate fanfic yang Gaje ini. :D
Review...
Akiraken : Sapa bilang chap ini adalah chap terakhir. Nggak kok, masih puaaanjang... :D. Kan udh di publish nih chap selanjutnya, semoga gk bosen ne ! :)
All : Nih udh dilanjut. Arrigatou udh mau baca... :)
"Panda, kau mau kemana ?". Tanya Naruto saat melihat Tenten tergesa-gesa melihat Tenten memasukkan buku-bukunya ke loker. "Aku ada janji dengan Sasuke". Jawab Tenten tanpa menghentikan kegiatannya. "Woah.., secepat itu kah ?". Tanya Naruto dengan nada mengejek. "Tentu saja. Kalau aku menunggu ide yang muncul dari otakmu yang karatan itu, bisa-bisa sampai tua aku harus terus bersamamu. Aku juga punya kehidupanku sendiri, kau tau ?!". Kata Tenten. "Panda. Sekali saja jika kau bicara padaku, bisakah tidak membahas tentang kekuranganku ?". Kata Naruto. "Memang apa yang bisa dibanggakan darimu ?. Yang kau miliki hanyalah kebodohan yang telah mendarah daging. Dan setiap tetes darah yang ada dalam dirimu, semuanya telah terkontaminasi oleh ketololanmu". Sergah Tenten. "Tapi paling tidak aku cukup tampan bukan ?". Kata Naruto percaya diri sambil meyibakkan rambut jabrik pirangnya. "Bahkan hamster milik adikku lebih tampan darimu". Kata Tenten berlalu pergi. "A..apa ?. Hei, apa kau bilang ?. Dasar Panda !". Teriak Naruto.
"Kau terlambat 32 detik". Kata Sasuke melipat kedua tangannya di depan dada sambil bersandar pada sebatang pohon berukuran besar. "Gomen. Tapi bukankah tadi kau bilang kita latihan di tempat biasa ?. Tapi, kenapa kau malah menyuruhku kemari ?". Tanya Tenten dengan nafas memburu setelah berlari cukup jauh dari aula sekolah menuju ke lahan kosong belakang sekolah. "Kenapa ?. Apa kau tidak suka ?. Kalau begitu, baiklah. Aku pulang". Kata Sasuke akan beranjak. "Tu..tunggu. Ba..baiklah. Aku mau. Ha..hanya saja…". "Hanya saja apa ?". 'Apa aku harus mengatakan padanya kalau disinilah bocah sialan itu mencuri ciuman pertamaku ?'. Batin Tenten. ' akan mungkin dan tidak akan pernah'. Batin Tenten berteriak. "Sudahlah. Kenapa aku membawamu kemari karena tempat latihan kita digunakan untuk para junior yang baru bergabung untuk berlatih. Kau lihat toilet disebelah sana ?. Cepat ganti bajumu. Aku tidak punya banyak waktu". Kata Sasuke menunjuk salah satu toilet. 'Apa aku harus masuk kesana lagi untuk yang kedua kalinya ?. Sasuke, tidak bisakah kau melihat dari raut wajahku kalau aku tidak mau masuk kedalam toilet itu ?'. Pikir Tenten. "A..aku akan ganti baju. Ta..tapi bu..bukan disana". Kata Tenten menggengam baju karatenya dan berlari kedalam gudang. 'Aneh'. Pikir Sasuke.
XxXxXxXxX
"Lihatlah, ternyata dia masih berani masuk sekolah". Bisik seorang siswi pada temannya saat Tenten melintas didepannya. "Kau benar. Dia punya nyali yang besar ternyata". Bisik siswi yang lainnya. Semua siswi di koridor sekolah melihat Tenten dengan tatapan ingin membunuh. Namun karena masih terlalu pagi untuk meladeni para wanita yang menatap jijik padanya, Tenten lebih memilih untuk masuk ke kelas barunya. Sebenarnya dia ingin menemui Hinata, tapi Tenten terlalu malas untuk kesana karena kelas Hinata berada dilantai atas. Dan lagi, tatapan teman-temannya membuat mood nya menjadi lebih buruk saat ini. Kini setiap pagi Tenten akan mengalami yang namanya bad mood. Itu semua dikarenakan ia harus bertemu Naruto setiap ia melangkahkan kakinya disekolah.
"Dia masuk Sakura". Bisik Ino pada teman karibnya itu setelah melihat Tenten duduk dibangkunya. "Aku tau. Pilihan yang salah jika ia memilih masuk sekolah hari ini. Lihat saja, ia tidak akan pernah mengira kalau hari ini akan menjadi hari terbaik yang pernah ada untuknya". Kata Sakura dengan seringai licik.
"Tenten, bisakah kita bicara sebentar ?". Tanya Ino. "Apa yang akan kau bicarakan ?. Ini sudah sore, aku ada janji dengan Ibuku. Dan lagi, Aku tidak ingat kalau aku punya urusan denganmu". Kata Tenten. "Ini soal Karate. Aku punya rencana untuk masuk kedalam club karate. Apa kau bisa membantuku ?". Tanya Ino manis. "Karate ?". Tanya Tenten tak mangerti. 'Ino ingin ikut karate ?. Apa aku tidak salah dengar ?. Ada yang aneh'. Pikir Tenten. "Kau terlalu banyak berpikir. Cepatlah". Kata Ino menarik tangan Tenten.
"Tu..tunggu. Aku tidak sebodoh yang kau pikirkan Ino. Apa yang kau mau sebenarnya ?". Tanya Tenten menghentikan langkahnya saat berada diambang pintu gudang kosong belakang sekolah. "Kau mau tau apa yang aku mau ?". Tanya Ino balik dengan seringai licik. Sreekkk…! "Hei, apa yang kau lakukan ?". Teriak Tenten berontak saat seseorang dari belakang memasukkannya kedalam sebuah kantung yang menutupi separuh badannya. "Diam kau". Kata seorang wanita mengikat kedua tangan Tenten kebelakang. Apa daya, Tenten tidak bisa bergerak sama sekali. Jangankan bergerak, bernafas pun Tenten harus bersusah payah. Tenten rasa tidak hanya Ino yang berada disini. Banyak orang yang berada diruangan ini. Tenten bisa tau dari banyaknya tangan yang menahannya agar tidak lari. Dug…!. Satu benda keras mengahantam punggung Tenten.
"Hai Tenten. Apa kabar ?". Tanya seorang gadis setelah membuka penutup mata Tenten. Tenten hanya bisa mengedipkan mata membiarkan cahaya masuk kedalam kelopak matanya. "Ka..kau ?". Lirih Tenten memicingkan matanya saat cahaya lampu bohlam berebut masuk ke matanya. "Yah, ini aku. Oh, lebih tepatnya kami". Kata Sakura merentangkan kedua tangannya menunjukkan beberapa temannya yang berdiri tak jauh di belakangnya. "Beres". Seru Ino menggenggam ponsel milik Tenten. "Apa yang kau lakukan ?". Tanya Tenten. "Apa yang aku lakukan ?. Menurutmu apa yang harus kami lakukan padamu ?. Kau tau, kau sudah membuat masalah dengan kami ?". Tanya Sakura. "Masalah ?. Bicara padamu pun aku tidak pernah, bagaimana aku bisa punya masalah denganmu ?". Tanya Tenten. "Yah, kau benar. Tapi, sadar atau tidak, kau telah membuat masalah dengan kami saat kau berani menemui Sasuke". Kata Sakura. "Sasuke ?. Sudah kuduga". Kata Tenten dengan tawa ringan. "Kau sudah menduganya. Tapi kenapa kau tetap melakukannya. Kau sudah pasti tau apa yang akan terjadi padamu kan ?". Tanya Sakura licik. "Iya. Dan kau pikir aku takut ?". Tanya Tenten dengan nada menghina. "Baguslah kalau kau tidak takut. Karena ini adalah saatnya untuk mengeksekusi seseorang". Kata Sakura mengambil ember berisi penuh air. Byuurrr…. "Apa sudah ada rasa takut muncul dalam hatimu, sayang ?". Tanya Sakura setelah mengguyur badan Tenten dengan air. "Hanya air tidak akan membuatku takut". Balas Tenten. "Begitukah. Tapi kau jangan khawatir. Ini baru permulaan. Kau akan segera melihat yang lebih menyenangkan dari ini". Kata Sakura licik. "Aku sudah tidak sabar". Balas Tenten tidak kalah licik. Kraakkk…. Suara kain robek terdengar tidak lama setelah Tenten membalas perkataan Sakura. "Hei". Teriak Tenten saat Sakura merobek seragamnya. Untung saja Tenten selalu memakai kaus V neck setiap ia mengenakan seragam. "Sekalian saja robek kausnya". Kata Ino. "Tidak perlu. Ini saja sudah cukup, ia terlihat layaknya wanita penghibur jika berkeliaran diluar". Kata Sakura. "Dasar pengecut. Majulah kalian satu-persatu jika kalian berani". Kata Tenten menahan emosi. "Oh, sayangnya kami tidak mau. Begini lebih seru". Kata Sakura."Cih, kalian tau. Kalian itu tidak lebih dari seorang anak manja yang hanya bersembunyi dibalik kekuasaan orangtua kalian. Kalian tidak akan berani melakukan sesuatu hal yang lebih dari ini". Ejek Tenten. "Kalau kau berpikir kami tidak akan melakukan sesuatu hal yang tidak lebih dari ini, kau salah. Bawa kemari". Kata Sakura. "A..apa yang akan kau lakukan ?". Tanya Tenten sedikit takut saat ia melihat gunting berada digenggaman Sakura. "Hahaha, ternyata teman kita yang satu ini sudah mulai takut ternyata". Kata Sakura dengan tawa meledak. "Sudah seharusnya kalau dia takut Sakura". Kata seorang gadis. "Cepat lakukan Sakura. Aku sudah tidak sabar melihatnya". Kata Gadis yang satunya. "Permintaanmu terkabul tuan putri". Kata Sakura. Kresss…. "Ka…kau..". Lirih Tenten meneteskan air matanya saat Sakura memotong salah satu cepol di kepalanya. "Oh, maaf Tenten. Aku tidak sengaja". Kata Sakura dengan nada menyesal sebelum ia mengeluarkan seringai liciknya. "Kau memang yang terbaik Sakura". Puji Ino. "Tentu saja". Balas Sakura. "Mari kita lihat. Seberapa panjangkah rambutmu sebenarnya ?". Kata Sakura memotong tali rambut cepol Tenten yang belum Sakura potong. Blussh… Rambut panjang Tenten yang ternyata mencapai pinggang jatuh bebas kebawah. "Waah, ternyata kau punya rambut yang indah. Kenapa kau menyembunyikannya ?. Kau tau kalau Sasuke menyukai gadis berambut panjang ?. Aku yakin, jika kau menggerai rambut indahmu ini ketika bertemu Sasuke kemarin, aku yakin. Sekarang kau pasti sudah menjadi miliknya.". Kata Sakura. "Tapi itu tidak akan pernah terjadi. Karena kini kau bukan lagi gadis pemilik rambut panjang dan indah". Ejek Ino dan dibalas tawa keras oleh gadis-gadis yang berada disana. "Berani kau melakukannya lagi, aku akan….". "Akan apa ?. Memang kau bisa apa saat ini ?. Kau tidak ingat tangan dan kakimu terikat ?". Ejek Sakura. "Apa mau mu sebenarnya ?". Tanya Tenten menahan emosi. Meski pun Tenten tomboy, tapi bagi Tenten rambutnya adalah hal penting dan harus dilindungi. "Aku mau kau menjauhi Sasuke ku". Kata Sakura. "Ehm..". Suara keluar dari mulut para gadis yang berada disana. "Ah, maksudku. Sasuke kami". Kata Sakura malas. "Ini adalah peringatan untukmu agar kau tidak menemui Sasuke lagi. Karena jika ada yang ingin menemui Sasuke, mereka harus mendapatkan persetujuan dari kami. Dan jika kau menemuinya lagi, kau akan mendapatkan yang lebih dari ini". Imbuh Ino. "Sudahlah, ini sudah hampir malam. Kita pulang saja". Kata Sakura. "Sudah malam ?". Tanya Ino. "Yah, lamanya dia pingsan tadi yang membuat ini memakan banyak waktu". Kata Sakura. "Lalu apa yang akan kau lakukan padanya ?". Tanya Ino. "Dia ?. Biarkan dia disini. Dia akan selamat jika ada penjaga sekolah yang menemukannya disini. Tapi jika tidak, anggap saja ini bukan hari keberuntunganmu Tenten". Kata Sakura menepuk pipi kiri Tenten dan berlalu pergi di ikuti ke tujuh temannya termasuk Ino keluar dari gudang.
"Hiks..hiks..hiks..". Isak Tenten setelah sekitar 15 menit sepeninggal kedelapan wanita tersebut. "Aku takut Kaasan". Lirih Tenten setelah lampu digudang mati dan meniggalkan dia dalam kegelapan dan kesunyian. Cklek… "Tenten". Panggil seorang lelaki lirih. "Si..siapa ?". Tanya Tenten mendengar suara berat masuk kedalam gendang telingannya.
"Ne..Ne..Neji ?". Lirih Tenten gagap saat melihat lelaki yang tak pernah ia sangka datang untuk menyelamatkan dirinya, berada dihadapannya sekarang. "Gomennasai aku terlambat". Kata Neji melepas tali yang mengikat kedua tangan dan kaki Tenten dan memakaikan jaket miliknya pada Tenten. Tenten tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun saat Neji melepas ikatannya. "Kau baik-baik saja ?". Tanya Neji. Namun Neji menyesal telah menanyakan hal itu pada Tenten saat ia melihat rambut Tenten yang panjang sebelah dan ceceran rambut yang berserakan dibawah kakinya. Bagian kiri yang telah cepak sepunggung dan sebelah kanan yang masih panjang menjuntai sampai pinggang. "Ba..bagaimana ka..kau bisa a..ada disini ?". Tanya Tenten. "Ceritanya panjang. Kita harus keluar dari sini". Kata Neji memasukkan barang-barang Tenten yang berserakan kedalam tas dan menarik tangan Tenten. "Ta..tapi…".
"Apakah aku boleh bertanya ?". Tanya Tenten saat mereka sedang perjalan pulang. "Boleh. Tapi kurasa kau membutuhkan ini. Aku khawatir orang-orang mengira kalau aku sedang berjalan dengan orang gila". Kata Neji melirik rambut Tenten dan memberikan seutas tali rambut pada Tenten. "Oh, maaf". Kata Tenten mengambil tali rambut tersebut dan mengikat rambutnya tinggi. "Bagaimana kau bisa tau kalau aku ada disana ?". Tanya Tenten. "Hinata yang memberitahuku". Jawab Neji. "Hinata ?". Tanya Tenten bingung, "Yah, dia bilang tadi siang dia mendengar pembicaraan Sakura dan Ino. Mereka menyebut namamu dan nama Sasuke. Dia takut terjadi hal buruk padamu. Maka dari itu dia menyuruhku untuk menjemputmu. Sebenarnya dia ingin menjemputmu sendiri. Tapi ia takut Hiashi Jiisan marah karena ini sudah malam". Jawab Neji. "Begitukah. Kalau begitu sampaikan rasa terimakasihku padanya". Kata Tenten. "Baiklah". Kata Neji. 'Kami-sama, apa aku bermimpi bisa berjalan berdua dengan Neji'. Pikir Tenten senang. 'Ini romantis sekali. Berjalan berdua di tengah kota dengan gemerlap lampu-lampu gedung yang tinggi menjulang. Tapi sayang, aku bukanlah siapa-siapa untuknya'. Pikir Tenten kecewa dengan pikirannya sendiri. '21.10'.Pikir Neji. "Belum terlalu malam. Semoga saja masih buka". Kata Neji tiba-tiba dan menarik tangan kanan Tenten. "He..hei, ma..mau kemana ?". Tanya Tenten. "Kau akan tau". Balas Neji tersenyum. 'Kami-sama, apakah ini tanda-tanda aku akan mengalami kebutaan permanen. Kalau iya, aku rela. Kau telah menunjukkan padaku hal terakhir yang terindah yang pernah aku lihat' Batin Tenten berbunga-bunga.
"Karin, apa sudah tutup ?". Tanya Neji pada seorang didalam salon. "Sebenarnya iya. Tapi berhubung kau yang berada disini siapa yang akan aku dandani ?". Tanya pemilik salon tersebut. "Bukan mendandani. Aku hanya ingin kau merapikan rambutnya saja". Kata Neji melirik Tenten. "Waaah, dia cantik. Apa dia kekasihmu ?". Tanya wanita itu. "A..apa ?. Bu..bukan. Dia sahabat Hinata". Jawab Neji gagap. "Oh, sayang sekali". Kata wanita yang Tenten rasa berusia 22 tahun tersebut. "Baiklah. Silahkan duduk". Kata Karin. "Rambutmu akan dirapikan olehnya. Jangan takut, salon ini adalah salon langganan Hinata". Bisik Neji. "I..iya". Lirih Tenten. "Setelah ini selesai, aku akan mengantarmu pulang". Kata Neji.
"A..arrigatou Ne..Neji". Kata Tenten saat sampai didepan gerbang rumahnya. Rumah Tenten tidak sebesar rumah Hinata dan Neji. Tidak semewah rumah milik Naruto. Rumah Tenten sangat sederhana tapi terlihat elegant. Ayah Tenten memang bukan pemilik perusahaan seperti ayah Hinata dan Naruto. Ayah Tenten yang bernama Asuma hanyalah seorang manager di sebuah perusahaan. Sedangkan Kurenai sang ibu adalah seorang guru di sebuah Taman kanak-kanak. "Dou ita. Kau terlihat cantik dengan rambut barumu". Puji Neji yang membuat Tenten mengeluarkan semu merah di pipinya. "A..arrigatou". Balas Tenten malu. "Kau pasti lelah. Istirahatlah, ini sudah malam. Aku pulang dulu". Kata Neji tersenyum dan mengelus lembut kepala Tenten.
"Kau pulang ?. kau bilang kau akan menginap dirumah Hinata ?". Tanya Kurenai saat keluar dari kamar Konohamaru dan melihat Tenten baru pulang. "Apa maksud Kaasan ?". Tanya Tenten bingung. "Bukankah kau tadi mengirim pesan singkat kalau kau akan menginap dirumah Hinata malam ini karena banyak pekerjaan sekolah yang harus diselesaikan malam ini juga ?". Tanya Kurenai lagi. "Benarkah ?". Tanya Tenten mengambil ponselnya dari saku tasnya. "Apa yang terjadi ?". Tanya Kurenai pada anak gadisnya tersebut. 'Pasti Ino yang melakukannya' Batin Tenten setelah melihat pesan terkirim di ponselnya. "Ah, ti..tidak. Tidak ada apa-apa. Yah, tadi aku mengirimnya karena kupikir akan menghabiskan waktu semalan. Tapi ternyata sudah selesai sekarang, hahaha". Jawab Tenten dengan wajah yang Tenten sendiri tidak ketahui. "Mana seragammu ?". Tanya Kurenai. "A..ada di tas. Sudahlah Kaasan. Aku lelah. Aku mau istirahat. Hoahm…., lihatlah aku sudah mengantuk. Daah…. Kaasan". Kata Tenten berlalu pergi. Sedikit keberuntungan berpihak pada Tenten. Karena kausnya telah kering karena angin yang menerpanya sepanjang jalan tadi. Ditambah dengan hembusan AC yang ia rasakan di salon tadi. Dengan begitu, Ibunya tidak akan menjejalinya dengan pertanyaan yang aneh-aneh.
"Jaket ?". Kata Tenten terkejut saat ia melihat jaket milik Neji masih menggantung sempurna di punggungnya. "Untung saja Kaasan tidak menyadari jaket ini". Gumam Tenten. "Mint". Lirih Tenten tersenyum mencium jaket milik Neji. "Arrigatou". Kata Tenten tersenyum bahagia melihat jaket hitam milik Neji tergantung di lemari bajunya.
See you in next chap..
Arrigatou gozaimasu... ^^
