Give Me Your Heart
Dislaimer: Masashi Kishimoto
Pair: NaruTen
Warning: Abal-abal, Gk jelas, Typo.
Hai minna-san, Author hadir dengan chap terbaru neeeeh. Pada kangen sma Author yang kece ini ? #plaakk (lupakan) :D.
Author gk tw nih, chap ini lebih pnjang dari chap sbelumnya atau gk (tpi mnurut author sih iya) :D.
Review...
Minatooo: Minatooo ?. Minatooo spa yah ?. Author gk kenal tuh. Yah,yah,yah. Jngan nangis donk, Author kan cma bcanda *Plakk :D. Hehehe, naek apa`an kok bsa nyampek ksini ?. Huhuhu, iya. Smua reader dsini jga blang gt Minatooo ;(. Tapi aku bkalan pebaiki lagi cra pnulisannya. Smoga yg chap ini gk membingungkan neee #Teriak. (Yah, meski pun masih abal-abal) :D.
Akiraken: Bukan, bukan Sasuke yg nolongin Tenten. Sasukenya lagi sibuk nyasak rambut buat sekolah besok :D. Udh di update. keep read ya. Arrigatou gozaimasu #nunduk smpek kaki (nah lho) :D.
All: Udh di update neeh, jngan lupa review yaaa... :).
"Ohayou". Sapa Tenten menuruni tangga menuju meja makan.
"Ohayou Ten..ten". Balas Akane terkejut melihat penampilan anak sulungnya. "Ra..rambutmu. A..apa yang terjadi ?". Tanya Akane.
"Aku hanya merasa bosan dengan model cepol dua yang biasa aku gunakan". Kata Tenten duduk melahap sarapan buatan Ibunya.
"Aku benci mengakuinya. Tapi kau terlihat cantik". Kata Konohamaru melahap sereal favoritnya.
"Aku memang cantik dari dulu. Apa kau baru menyadarinya ?". Kata Tenten menjitak kepala adiknya.
"Konohamaru benar. Tousan saja terkejut melihat perubahanmu pagi ini". Kata Asuma menyesap secangkir kopinya.
"Sejak kapan kau memotongnya ?". Tanya Kurenai yang masih sibuk menyiapkan bekal untuk Konohamaru sebelum ia berangkat kerja.
"Kemarin". Jawab Tenten meneguk susu dihadapannya. "Tapi kenapa Kaasan tidak menyadarinya tadi malam ?". Tanya Kurenai lagi.
"Karena aku mengikatnya saat aku pulang kemarin". Jawab Tenten enteng.
.
.
.
.
.
.
"Hinata". Seru Tenten setelah ia keluar dari mobil Asuma dan hendak memasuki gerbang sekolah.
"Tenten". Lirih Hinata memicingkan kedua matanya untuk memastikan apa benar yang memanggilnya barusan adalah Tenten ?.
"Ohayou". Sapa Tenten.
"O..ohayou. A..apa yang terjadi dengan rambutmu ?". Tanya Hinata melongo.
"Oh, ceritanya panjang. Tapi ini semua berkat Neji". Bisik Tenten.
"Neji Niisan ?". Tanya Hinata.
"Hm". Balas Tenten. "Tapi, tumben sekali kau diantar Asuma Jiisan. Mana sepedamu ?". Tanya Hinata.
"Oh, sepedaku dipakai Konohamaru. Di sekolahnya mengadakan lomba balap sepeda. Sepeda miliknya rusak karena di pakai untuk latihan kemarin. Jadi, sepedaku yang ia pakai untuk lomba". Jelas Tenten.
Dari Tenten duduk di sekolah dasar, Tenten selalu memilih sepeda untuk ia kendarai menuju sekolah. Dan kebiasaan yang ia sukai dari kecil tersebut, terbawa hingga sekarang. Sudah berkali-kali Kurenai mengingatkanya untuk mengubah sedikit kepribadian Tenten yang tomboy karena ia sudah menginjak dewasa sekarang. Tapi bukan Tenten namanya jika ia menuruti perkataan orang tuanya begitu saja. Karena menurut Tenten, kedewasaan bukanlah alasan yang tepat untuk membuatnya merubah penampilan. Tapi mulai hari ini adalah pengecualian bagi Tenten. Ia tidak bisa lagi mencepol rambutnya, dikarenakan rambutnya yang panjangnya hanya sedikit melewati bahu tidak bisa ia cepol keatas seperti biasanya. Jadi mulai hari ini, dia hanya akan menggerai rambutnya, atau paling tidak menguncirnya seperti ekor kuda.
oOoOo
"Sa-ku-ra. Apa mataku bermasalah ?". Tanya Ino.
"Aku baru akan menyanyakan hal yang sama padamu". Balas Sakura menatap Tenten yang berjalan menuju bangku Neji.
"Kau bilang kemarin akan memberi dia pelajaran. Tapi kau malah membuatnya makin cantik Sakura". Kata Ino gusar.
"Bukankah kau juga melihatnya kemarin, aku memangkas rambutnya ?". Balas Sakura.
"Lalu, kenapa dia malah jadi seperti ini ?". Tanya Ino lagi.
"Diamlah Ino pig, aku sedang berfikir sekarang". Balas Ino.
"Ohayou Neji". Sapa Tenten.
"Ohayou". Balas Neji ramah. "Aku hanya ingin mengembalikan ini". Kata Tenten memberikan jaket Neji yang ia kenakan kemarin. "Oh, arrigatou". Kata Neji. "Tidak. Aku yang harusnya berterimakasih padamu. Aku tidak tau apa yang akan terjadi padaku kalau kau tidak datang kemarin". Balas Tenten.
"Ohayou Tenten". Sapa Kiba dan Sai.
"O..ohayou". Balas Tenten heran. Wajar jika Tenten heran. Karena tidak biasanya dua mahluk yang sedang menatapnya intens menyapanya. "A..apa ka..kalian salah obat ?". Tanya Tenten.
"Huh, ternyata kau bisa mengubah penampilanmu. Kau masih terlihat sama dimataku. Dengan kau menggerai rambutmu, kau malah terlihat seperti Sadako". Ejek Naruto menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Terimakasih atas pendapatmu. Tapi aku tidak butuh !". Sergah Tenten melangkah kasar menjauhi 3 lelaki yang mengerubunginya.
"Apa kau tidak berniat meneriaki mereka ?". Tanya Sasuke melirik Kiba, Sai, dan Lee yang menatap Tenten tanpa henti.
"Kenapa aku harus melakukan itu ?". Tanya Tenten. "Karena aku terganggu dengan tatapan mereka". Balas Sasuke.
"Kenapa kau harus merasa terganggu ?". Tanya Tenten lagi.
"Karena kau yang duduk disampingku". Sergah Sasuke berdiri dan keluar dari kelas.
'Ada apa dengannya ?'. Pikir Tenten
.
.
.
.
.
.
.
.
Sudah hampir 2 minggu Tenten menjalani hidupnya dengan penampilan yang berbeda. Dan tak pernah sehari pun Tenten mendapati mejanya bersih dari hadiah-hadiah penggemarnya. Yah, semenjak Tenten mengubah penampilannya, ia kini mempunyai penggemar rahasia. Setiap hari, selalu ada sesuatu yang dibungkus kertas berwarna cerah berbaris di mejanya. Dari mulai yang terkecil sampai yang terbesar. Dari mulai jam tangan manis sampai lukisan tangan lengkap dengan pigora bergambar dirinya. Tenten sempat dibuat bimbang dengan itu semua. Apa yang harus Tenten lakukan pada semua benda itu. Di satu sisi Tenten tidak membutuhkannya. Tapi di sisi lain, ia akan merasa bersalah jika harus membuangnya. Terlebih, ia selalu mendapat surat dari seseorang yang bahkan Tenten tidak tau siapa pengirimnya. Sebagian besar dari pengirim surat tersebut selalu menyanyakan hal yang sama pada Tenten. Mereka bertanya, mengapa Tenten tidak pernah mengenakan hadiah yang mereka berikan ?. Bukan Tenten tidak mau mengenakannya, tapi hampir semua hadiah yang mereka berikan pada Tenten rata-rata berwarna cerah. Dan warna cerah bukanlah gaya Tenten selama ini. Selama hidup, Tenten selalu mengenakan sesuatu yang berwarna netral seperti cokelat, putih, hitam, atau biru. Tidak pernah Tenten mengenakan barang berwarna pink, ungu, kuning, hijau seperti yang mereka berikan selama ini. Satu masalah lagi yang menghampiri setelah ia merubah penampilannya. Ibunya. Setiap ia menginjakkan kakinya kedalam rumah seupulang sekolah, ada saja pertanyaan yang Kurenai berikan pada anak sulungnya mengenai barang-barang yang Tenten bawa pulang. Tapi bukan Tenten jika ia tidak bisa mengelak dari pertanyaan Ibunya. Setiap hari Kurenai menyanyai anaknya itu. Tapi setiap hari juga Tenten bisa halnya pagi ini.
"Ck, selalu seperti ini". Gerutu Sasuke saat ia tiba di mejanya.
"Hei, kau. Bisakah kau menyingkirkan semua sampah ini ?". Teriak Sasuke melirik Tenten yang berdiri di depan pintu.
"Oh, gomen. Kupikir kau belum datang. Aku baru saja meminta kardus dari penjaga kantin". Kata Tenten menghampiri mejanya dan memasukkan barang-barang dari penggemar Tenten yang berserahkan di meja kedalam kardus. Setelah semua barang ia masukkan kedalam kardus, Tenten segera keluar dari kelas dan menitipkan barangnya pada penjaga kantin untuk ia ambil sepulang sekolah nanti.
oOoOo
Jarum jam menunjukkan pukul setengah tiga sore. Setelah bel pulang berbunyi, Tenten segera beranjak dari kursinya dan berlari menuju loker miliknya. Namun sebelum itu, Tenten harus menyelesaikan urusan dahulu di toilet sebelum ia berlatih dengan teman-temanya. Tidak sampai 5 menit, Tenten sudah sampai di depan loker dan megeluarkan baju latihannya. Braakk…
"Hei, apa yang kau lakukan ?. Kau membuatku terkejut. Dasar bodoh". Teriak Tenten mengelus dadanya saat Naruto dengan sengaja menutup pintu lokernya dengan keras hingga menimbulkan suara yang cukup memekakan telinga.
"Apa kau lupa, kalau kau harus datang kerumahku sore ini ?". Tanya Naruto tenang. "Aku ingat. Tapi aku ada latihan karate sore ini". Jawab Tenten.
"Tapi bagaimana dengan janjimu ?". Tanya Naruto. "Aku selesai latihan pukul 5 sore. Mungkin aku tiba dirumahmu sekitar setengah jam setelahnya". Kata Tenten.
"Baiklah. Aku tunggu kau. Kalau kau sampai tidak datang, kau akan menerima konsekuensinya". Kata Naruto sebelum ia pergi.
"Ada apa dengannya ?". Gumam Tenten. Tenten heran pada Naruto akhir-akhir ini. Hampir 2 minggu ini Naruto selalu rajin meminta Tenten datang kerumahnya untuk mengajarinya. Tapi Tenten tidak pernah sekali pun berpikiran negatif tentang perubahan Naruto. Tenten mengaggap perubahan Naruto hanya karena ujian yang akan mereka hadapi semakin dekat.
Tenten membuka pintu ruang latihan dan melihat telah banyak anak yang berkumpul disana. Bahkan mereka semua telah melakukan pemanasan. "Gomennasai aku terlambat, Taicho". Kata Tenten.
"Masuklah". Balas Kakashi.
"Baiklah. Aku ingin kalian satu persatu maju kedepan dan mengambil ini dari dalam kotak. Jika kalian mendapatkan gulungan berwarna hitam, silahkan kalian menuju ke sisi kanan. Sebaliknya, jika kalian mendapat gulungan berwarna kuning, silahkan menuju ke sisi kiri". Kata Kakashi mengambil gulungan kecil berwarna kuning dan memasukkannya kembali ke kotak berwarna hitam.
Sekitar 18 anak telah mengambil satu persatu gulungan yang telah Kakashi sediakan. Kini telah terbentuk dua tim yang saling berhadapan. "Pakailah ini". Kata Kakashi memberikan ikat kepala berwarna kuning pada tim yang berada di sisi kiri. "Anggaplah tim kuning lawan kalian. Dan sebaliknya, anggaplah tim hitam lawan kalian. Kita tidak tau lawan seperti apa yang akan kita hadapi nanti. Jadi aku harap kalian berlatih keras dan memberikan yang terbaik". Kata Kakashi.
"Hai Taicho". Jawab mereka serempak. "Di mulai dari barisan terdepan". Teriak Kakashi lantang. "Hai". Balas kedua murid tak kalah lantang yang berada di barisan depan. 16 sisanya segera duduk.
Tenten yang tergabung dengan tim kuning memperhatikan dengan seksama kedua rekannya yang tengah bergulat di atas matras. Sedangkan Sasuke yang berada di tim hitam sama sekali tidak memperhatikan kedua temannya yang tengah bertarung sengit diatas. Sebenarnya Sasuke ingin berkonsentrasi pada dua teman dihadapannya. Tapi entah kenapa, setiap Sasuke mencoba berkonsentrasi, matanya selalu berlari kearah Tenten yang bahkan sama sekali tak meliriknya sedetik pun. Kejadian serupa terjadi hingga tiba giliran mereka untuk maju.
"Sasuke". Seru Kakashi pada Sasuke yang masih memikirkan Tenten. Sedangkan wanita yang ia lamunkan kini telah berada di atas matras tengah bersiap untuk menghadapi dirinya.
"A..apa ?. Ba..baiklah". Balas Sasuke bingung.
Sasuke berjalan menuju matras. Tak henti-hentinya dia berdoa agar tidak mempermalukan dirinya sendiri dihadapan orang banyak. Bukan karena Sasuke tidak mahir di bidang ini. Sasuke adalah pemegang sabuk hitam karate dan telah berkali-kali memenangkan turnamen tingkat nasional. Jadi mustahil jika pemegang sabuk hitam kalah saat menghadapi seorang pemegang sabuk cokelat, apalagi jika orang itu gadis seperti Tenten. Tapi masalahnya, ia merasa agak sedikit canggung jika harus mengalahkan seorang gadis. Biasanya, pemegang sabuk cokelat seperti Tenten dilatih oleh Gai. Namun kini karena Gai tidak masuk karena terserang cacar, maka Kakashi lah yang notabennya sebagai ketua club karate di sekolah ini yang harus turun tangan.
Kini Sasuke telah berdiri berhadap-hadapan dengan Tenten. Mereka berdua saling membungkukkan badan memberi salam. Kedua manusia berbeda gender tersebut telah mempersiapkan kuda-kudanya.
'Aku bisa. Aku pasti bisa'. Kata Sasuke meyakinkan dirinya sendiri dengan memejamkan kedua matanya.
Tidak pernah Sasuke mengalami perasaan seperti ini saat menghadapi lawannya. Bahkan di salah satu turnamen beberapa waktu yang lalu, lawan Sasuke adalah seorang pria tinggi, hitam dan berbadan kekar. Namun saat itu, perasaan Sasuke biasa-biasa saja. Tidak seperti sekarang. Kini lawan Sasuke hanyalah seorang gadis bermata hazel bernama Tenten. Yang menurut Sasuke bisa ia lempar keluar hanya dengan sekali tepis.
"Jangan lihat Tenten sebagai seorang wanita. Tapi lihatlah dia sebagai musuhmu". Kata Kakashi. "Siap..". Teriak Kakashi. Keduanya telah bersiap. 5 detik kemudian. "Mulai !". Teriak Kakashi lantang.
Sasuke sudah memperkirakan apa yang akan Tenten lakukan untuk melawan dirinya. Namun sebelum Tenten melakukan itu semua, Sasuke sudah memiliki cara tersendiri untuk menumbangkan gadis di hadapannya. Yang akan Sasuke lakukan adalah menepis tangan kanan Tenten, membanting Tenten ke atas matras, mengunci kedua tangannya kebelakang, dan selesai. Namun keadaan berbalik ketika sesaat sebelum menyerang Sasuke, Tenten tersenyum manis pada Sasuke dan membuat Sasuke terkesiap dan membeku sejenak. Dan..,
Grebb.. Bruuk.. Sraat…
"I..ita". Rintih Sasuke saat Tenten dengan mudah menumbangkannya di hadapan banyak siswa.
"Selesai". Teriak Kakashi mengakhiri pertarungan.
Sasuke kini jatuh tengkurap diatas matras dengan kedua tangan yang Tenten kunci kebelakang dengan kedua tangannya. Sasuke sudah tak bisa menggerakkan badanya lagi untuk membalas serangan Tenten. Sebelumnya, Tenten sengaja membuat Sasuke mengalihkan perhatiannya pada kaki kanan Tenten yang akan menyerang wajahnya. Setelah Sasuke terkecoh, kini gantian tangan kiri Tenten yang melakukan tugasnya. Ia menarik tangan kanan Sasuke hingga Sasuke menghadap kearah yang berlawanan. Setelah ia membuat Sasuke membelakanginya, Tenten lalu menyergap tangan kanan Sasuke yang masih bebas dan menyatukkannya dengan tangan kiri Sasuke yang sebelumnya sudah berada di belakang. Setelah ia rasa cukup untuk membuat Sasuke tidak bisa bergerak, 2 detik kemudian Tenten membegal kedua kaki Sasuke hingga si pemilik badan jatuh tengkurap diatas matras. Pertarungan singkat antara Sasuke dan Tenten telah selesai dengan nama Tenten tertera sebagai pemenang.
"Ada apa dengannya ?". Bisik seorang siswa. "Kau benar. Tidak biasanya dia seperti ini". Balas siswa yang lain. Tidak sampai 2 menit, Sasuke telah dikalahkan oleh Tenten yang notabennya adalah juniornya. Beda dengan teman Tenten dan Sasuke yang lain. Mereka membutuhkan paling tidak 6 menit untuk menumbangkan lawannya.
'Curang, dia memakai jurus wanita'. Batin Sasuke sembari membayangkan senyuman Tenten beberapa menit yang lalu.
.
.
.
.
.
.
"Sumimasen". Teriak Tenten di depan pintu rumah Naruto. Setelah 3 menit, seorang laki-laki berambut pirang membuka pintu dengan muka masam. "Ada apa denganmu ?". Tanya Tenten pada Naruto.
"Kau terlambat 1 jam". Kata Naruto malas.
"Gomen. Aku tadi harus pulang terlebih dahulu untuk ganti baju. Setelah berlatih karate badanku berkeringat, jadi kuputuskan untuk mandi sekalian". Jawab Tenten.
"Begitukah. Aku tidak mood belajar sekarang. Jadi, pulanglah". Suruh Naruto menutup pintu.
"A..apa ?. Hei". Teriak Tenten Tidak terima. Namun Naruto tetap tidak memperdulikan Tenten yang berteriak.
"Pergilah, aku tidak mood belajar sekarang". Teriak Naruto dari balik pintu.
Sebuah ide muncul di otak Tenten. "Benarkah. Sayang sekali, padahal aku ada rencana untukmu dan Sakura. Tapi karena kau tidak tertarik, baiklah. Aku pulang". Balas Tenten hendak pergi.
Cklek… Ckk… Brukk…
Naruto menarik lengan kanan Tenten hingga sang pemilik badan terhempas cukup keras di dada bidang Naruto. Mereka merasa waktu telah berhenti. Keduanya bisa mendengar jelas detak jantung masing-masing. Semu merah muncul di kedua pipi dua sejoli itu. Naruto merasa ada yang janggal dengan perasaannya saat ini. Naruto merasa nyaman dengan semua ini. Terlebih saat Tenten ada dalam pelukannya.
'Sama seperti waktu itu'. Batin Naruto.
Tenten mengatur nafasnya yang mulai tidak stabil perlahan-perlahan. Namun ia masih sulit menstabilkan detak jantungnya yang bergemuruh tidak karuan. 'Kami-sama, perasaan apa ini ?'. Batin Tenten memejamkan kedua matanya berusaha menahan degup jantungnya yang ia rasa akan segera meledak.
"Gomen". Kata Tenten gugup mendorong pelan tubuh Naruto setelah tersadar.
"Tidak, aku yang harusnya minta maaf". Balas Naruto. "Ma..masuklah". Kata Naruto gugup.
"Kenapa rumahmu sepi sekali ?". Tanya Tenten saat perjalanan menuju kamar Naruto.
"Tousan dan Kaasan sedang ada urusan. Semua pembantu sedang berbelanja untuk kebutuhan bulanan". Jawab Naruto seadanya.
"Kau sendiri ?". Tanya Tenten lagi. "Seperti yang kau lihat bukan. Tidak ada orang lain selain kita berdua disini". Kata Naruto. "Dan penjaga rumah di gerbang depan". Imbuhnya. "Masuklah". Kata Naruto mempersilahkan Tenten masuk kekamarnya.
'Tumben sekali kamar ini rapi dan bersih ?'. Pikir Tenten ketika ia melihat semua barang di kamar Naruto tertata rapi di tempatnya.
"Apa kau tidak bosan dirumah sebesar ini sendirian ?". Tanya Tenten disela-sela Naruto mengerjakan soal fisika yang ia berikan.
"Tentu saja aku bosan". Jawab Naruto.
"Lalu, apa yang kau lakukan jika kau bosan ?". Tanya Tenten lagi.
"Biasanya aku menyuruh Lee, Sai, Kiba, Shikamaru, atau Chouji untuk datang kemari". Jawab Naruto. "Tidak mungkin mereka bisa menyanggupi untuk datang kesini setiap Kushina Basan dan Minato Jiisan keluar bukan". Kata Tenten.
"Yah kau benar. Biar kutebak. Kau akan menyanyakan padaku bagaimana aku mengisi waktuku jika kau sendirian dirumah bukan ?". Tanya Naruto. "Ehem". Balas Tenten singkat.
"Kau lihat semua game yang ada disana ?. Aku selalu memainkannya jika aku bosan. Terkadang aku juga mengajak penjaga rumah ini bermain jika kau merasa kesepian". Jawab Naruto tertawa kecil sambil menunjuk sebuah rak tinggi berisi berbagai macam game. Dari mulai game biasa sampai game keluaran terbaru telah ia miliki.
Tenten merasa kasihan pada Naruto. Semua yang ia butuhkan telah tersedia. Namun satu, ia tidak memiliki teman bila sepi menderanya. Tenten merasa beruntung. Meski pun ia tidak sekaya Naruto, tapi paling tidak Tenten memilik keluarga yang selalu ada disaat ia kesepian. Apalagi ia memiliki Konohamaru. Yah, meski pun sedikit urakan dan menyebalkan seperti Naruto. Bahkan Tenten pernah berpikir kalau Konohamaru adalah generasi kedua dari seorang laki-laki bernama Uzumaki Naruto. Tapi dibalik itu semua, Tenten sangat sayang pada adiknya itu. Namun bukan berarti Kushina dan Minato tidak peduli dan sayang pada Naruto. Mereka berdua sangat menyayangi anak semata wayangnya itu. Hanya saja mereka kurang mengerti apa arti rasa sayang yang sebenarnya. Naruto tidak hanya membutuhkan materi. Dia juga membutuhkan sentuhan lembut dari orang tuanya agar membuat dirinya nyaman. Orang tua Naruto selalu sibuk dengan urusan mereka masing-masing, meski pun itu semua mereka lakukan untuk Naruto.
"Kau bisa menyuruhku kemari jika kau merasa kesepian". Kata Tenten secara tidak sadar.
"Apa kau bilang ?". Tanya Naruto.
"A..ah, ti..tidak. Aku hanya bilang kalau cepat selesaikan soal itu". Kata Tenten.
"Panda, aku tau aku bodoh. Tapi aku tidak mempunyai masalah pendengaran. Kau bilang aku bisa menyuruhmu kemari jika aku merasa kesepian. Aku mendengar itu sangat jelas". Kata Naruto.
"A..apa ?. Su..sudalah, lupakan. Cepat selesaikan itu agar aku bisa lekas pergi dari sini". Balas Tenten.
"Aku akan menyelesaikan ini. Tapi kau tidak aku ijinkan pergi". Kata Naruto. "Apa ?. Kenapa ?". Tanya Tenten.
"Bukankah kau bilang aku bisa menyuruhmu kemari jika aku kesepian ?. Nah, sekarang aku kesepian. Maka dari itu aku tidak mengijinkanmu pergi. Apa aku salah ?". Tanya Naruto.
"Lupakan saja apa yang kau dengar tadi. Cepat selesaikan". Sergah Tenten. "Kau ini, selalu menyebalkan". Gerutu Tenten.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Langsung saja katakan padanya kalau kau ingin mengajaknya berkencan. Sakura adalah tipe gadis yang menyukai pria agresif dan percaya diri. Bagaimana kau bisa mendapatkannya, kalau mengajaknya berkencan saja jantungmu sudah berdegup seperti kau akan melompat dari atas jurang. Ditambah lagi, kau itu bodoh. Itu makin membuatmu tidak memiliki nilai plus sama sekali di mata Sakura. Kalau kau percaya diri dan berani, paling tidak ada sesuatu yang Sakura lihat darimu ". Kata Tenten panjang lebar.
"Aku tau. Tapi aku terlalu gugup". Kata Naruto meremas ujung seragamnya.
"Dasar bodoh. Kau itu laki-laki. Kenapa kau seperti ini ?". Ejek Tenten.
"Andai kau yang berada di posisiku, kau akan tau kalau ini tidak semudah seperti yang kau pikirkan". Balas Naruto.
"Segugup itu kah kau ?. Sampai-sampai kau membuat penjaga kantin bisa mendengar detak jantungmu ?". Ejek Tenten.
"Diamlah. Kau membuatku semakin gugup". Balas Naruto.
"Hei, bodoh. Aku menyuruhmu untuk mengatakan padanya kalau kau ingin mengajakknya berkencan. Kalau Sakura mau, berarti ini adalah hari keberuntungan untukmu. Tapi kalau tidak, ya sudah. Kau coba lagi lain waktu. Kau hanya harus melakukan itu. Tapi kenapa kau menampakkan ekspresi seolah-olah aku meyuruhmu untuk meminum segelas racun ?". Kata Tenten menyilang kan kedua tangannya di depan dada.
"Begitukah ?". Gumam Naruto.
"Kau terlalu lama. Cepatlah". Kata Tenten mendorong punggung Naruto keluar dari tempat persembunyian mereka berdua di balik tembok kantin. Sedangkan Tenten tetap berada disana untuk memastikan tidak ada siapa pun yang mengusik Naruto.
"Ko..konnichiwa Sakura". Sapa Naruto.
"Kau. Ada apa kau kemari ?". Tanya Sakura jutek. "Sakura, bisakah kau lembut sedikit". Bisik Ino.
"Lembut ?. Padanya ?. Kau gila ?". Sergah Sakura.
"Hei dengar. Kau bisa menggunakannya untuk membuktikan apa Sasuke menyukaimu atau tidak. Kalau dia menyukaimu, pasti dia akan merasa cemburu pada Naruto. Atau klimaksnya Sasuke bisa menghajar Naruto. Bukankah itu keren". Bisik Ino.
"Ino, kau…". "Jika kau ingin memancing ikan, kau membutuhkan umpan. Dan anggaplah kalau Naruto adalah umpan untuk mendapatkan Sasuke". Bisik Ino.
"Idemu bagus juga". Kata Sakura.
"Duduklah Naruto. Apa kau mau memesan sesuatu ?". Tanya Sakura lembut.
"Ti..tidak. Arrigatou. Aku tidak haus". Jawab Naruto. "Begitu. Lalu apa yang mau ?". Tanya Sakura.
"A..aku hanya ingin mengatakan. A..apa kau nanti ma..malam si..sibuk ?". Tanya Naruto gugup.
"Tidak. Apa kau akan mengajakku berkencan ?". Tanya Sakura tenang. "Ka..kau mau ?". Tanya Naruto terkesiap. "Kenapa tidak ?". Balas Sakura.
Naruto melompat kegirangan sambil mengepalkan kedua tangannya. Ia tidak menyangka kalau ia bisa mengajak Sakura berkencan dengan begitu mudah. Meski pun keringat dingin sempat menjalarinya beberapa menit yang lalu.
"Dia cukup tampan". Bisik Ino. "Kalau kau mau, ambil saja". Balas Sakura.
"Yes..yes..yes". Seru Tenten melompat-lompat dari tempat ia bersembunyi. "Aku kira dia akan di tolak mentah-mentah". Gumam Tenten.
"Aku kira juga begitu". Kata seseorang dari belakang Tenten. "Sa..Sasuke ?". Lirih Tenten bingung. Bingung bagaimana Sasuke bisa berada disini ?. "Apa yang kau lakukan disini ?". Tanya Tenten.
"Menemuimu". Jawab Sasuke.
"A..aku ?". Tanya Tenten. "Ya, kau. Kau tidak boleh kemana pun sore ini. Aku akan menjemputmu". Kata Sasuke lalu pergi meninggalkan Tenten yang masih bingung dengan perkataannya.
"A..apa ?. Ke..kenapa ?. Hei". Teriak Tenten.
"Sepertinya kau juga akan berkencan malam ini". Kata Naruto yang tiba-tiba muncul dari belakang Tenten.
"Kau ini bicara apa ?". Tanya Tenten tidak mengerti.
.
.
.
.
.
.
.
Sasuke melesatkan mobil hitamya keluar dari komplek tempat rumah Tenten berada. "Kita akan kemana Sasuke ?". Tanya Tenten. "Kau akan segera tau". Jawab Sasuke tanpa melepas pandanganannya pada jalanan.
"Wuuaaah, indahnya". Teriak Tenten membuka pintu mobil Sasuke untuk menapakkan kakinya di pasir pantai dan berlari menyusuri pinggir pantai.
Sasuke hanya tertawa kecil melihat perilaku Tenten. Sasuke menghampiri Tenten yang ini mulai mencelupkan kakinya di bibir pantai. Untung saja Tenten mengenakan celana jeans selutut di padu dengan kaos berwarna biru laut lengkap bergambar garis-garis abstrak. Jadi ia tidak perlu repot-repot melintingkan celanya agar tidak basah. Begitu juga dengan Sasuke, ia memakai celana jeans selutut dan kaos abu-abu polos. Sangat santai, tapi masih tetap terlihat keren.
"Sudah lama aku tidak kemari". Kata Tenten tersenyum.
"Apa kau suka ?". Tanya Sasuke memasukkan kedua tanganya di saku celananya. "Tentu saja. Apalagi saat matahari terbenam. Aku sangat menyukainya. Itu sangat indah". Balas Tenten menoleh pada Sasuke.
"Itu akan tejadi sekitar 30 menit lagi". Kata Sasuke melihat jam digital yang melingkar di tangan kirinya. "Benarkah. Aku sudah tidak sabar".
"Tunggu disini sebentar". Kata Sasuke sebelum ia meninggalkan Tenten yang tengah duduk diatas kap mobilnya. Sekitar 10 menit seusai Sasuke meninggalkannya, akhirnya Sasuke kembali dengan sesuatu berada di tangannya.
oOoOo
"Untukku ?". Tanya Tenten. "Apa kau melihat orang lain disampingku ?". Tanya Sasuke balik. Tenten menoleh ke kanan dan kiri dan membalas pertanyaan Sasuke dengan gelengan kepala.
"Arrigatou". Kata Tenten menerima sebotol jus dan kentang goreng pemberian Sasuke. "Ini menyenangkan". Kata Tenten riang.
"Kenapa mengajakku kemari ?". Tanya Tenten.
"Entahlah. Mungkin karena aku ingin". Balas Sasuke singkat sambil meneguk sebotol air mineral yang ia beli tadi. "Kau ini sangat aneh". Gumam Tenten. "Benarkah ?". Balas Sasuke tertawa renyah.
"Kau sangat tau bagaimana memperlakukan wanita". Kata Tenten. "Arrigatou". Balas Sasuke. "Apa kau selalu melakukan ini pada wanita yang kau kencani sebelumnya ?". Tanya Tenten. "Tidak. Kau adalah yang pertama". Kata Sasuke.
Uhuk..uhuk.. Tenten tersedak begitu mendengar peryantaan Sasuke bahwa dirinya adalah wanita pertama yang ia kencani.
"Kau baik-baik saja ?. Ini, minumlah". Kata Sasuke menyerahkan air minumnya pada Tenten. "A..aku baik-baik saja. Arrigatou". Kata Tenten setelah sembuh dari insiden kecil tadi dan meneguk habis air mineral milik Sasuke.
oOoOo
"Indahnya". Kata Tenten melemparkan pandangannya jauh kedepan. "Sasuke lihatlah. Itu sangat indah". Kata Tenten menangkup kedua pipi Sasuke dan mengarahkan kepala lelaki itu pada objek yang ia pandang saat ini.
"Kau benar. Itu sangat indah". Kata Sasuke ikut terhanyut.
Sekitar 3 menit dua mahkluk berbeda gender tersebut hanyut dalam keindahaan alam yang Tuhan ciptakan. Melihat matahari terbenam, bagai kan melihat keindahan surga dalam waktu singkat untuk Tenten. Tenten memandang keindahan alam tersebut tanpa mengedipkan matanya sedetik pun. Seolah itu adalah hal terakhir yang paling ingin ia lihat sebelum ia menutup mata untuk selamanya.
Sasuke menoleh pada gadis yang berjarak beberapa centi di sampingya masih tersenyum dan memandang matahari yang telah terbenam. Sasuke harus sedikit mendongak karena ia berada lebih rendah dari Tenten. Tenten duduk di kap mobil, sedangkan Sasuke hanya menyadarkan siku kirinya di kap mobilnya.
Suasana sunyi pantai mulai Tenten rasakan. Karena Sasuke sengaja memarkirkan mobilnya sedikit jauh dari pantai karena di tempat parkir biasanya sudah penuh sesak oleh mobil milik para pengunjung yang juga ingin melihat sunset. Namun meski sedikit jauh, mereka berdua tetap bisa melihat matahari terbenam. Bahkan dua kali lebih jelas daripada jika dilihat dari pantai. Tenten yang sadar akan pandangan Sasuke padanya, hanya menatap Sasuke bingung.
"Sasuke, bisakah kita kesana ?. Disini terlalu sepi". Kata Tenten merasa tidak nyaman setelah ia melihat sekitarnya yang tidak ada satu orang pun kecuali mereka berdua. Lagi, penerangan di tempat Tenten dan Sasuke berada, hanyalah satu lampu berwarna putih yang tidak terlau besar. Makin membuat Tenten merasa merinding jika melihatnya. Sasuke tidak menjawab pertanyaan Tenten.
"Sasuke". Lirih Tenten melambaikan tanganya di wajah Sasuke. Sasuke tetap menatap intens Tenten yang mulai risih karena tatapan yang Sasuke berikan. "Sasuke". Panggil Tenten lagi.
Tenten merasa wajah Sasuke makin mendekatinya. Degup jantung yang Tenten rasakan terasa bergemuruh melebihi saat ia berada di pelukan Naruto kemarin. Tenten pikir, hanya perasaanya saja yang mengatakan kalau wajah Sasuke makin mendekatinya. Namun, pikiran itu seketika hancur saat bibir Sasuke melekat sempurna di bibir manis Tenten. Tenten yang merasakan benda kenyal menempel di bibirnya hanya membelalak terkejut. Sedangkan Sasuke menutup kedua matanya merasakan hal yang ia sendiri tidak pernah rasakan sebelumnya. Dengan kata lain, first kiss Sasuke adalah Tenten.
Belum sempat Sasuke melumat bibir Tenten, Tenten sudah tersadar lebih dahulu. Tenten segera menjauhkan wajahnya dari Sasuke. Sasuke membuka kedua matanya saat Tenten menutup bibirnya dengan kedua tangannya. Sasuke yang tersadar juga membelalakkan kedua matanya. Bagaimana bisa dirinya melakukan hal itu ?. Sasuke merasa ada sesuatu yang mengontrol dirinya untuk mendekati wajah Tenten sesaat sebelum hal itu terjadi.
Dua manusia berbeda gender tersebut tidak ada yang mengeluarkan sepatah kata pun. Sasuke mengalihkan pandangannya pada hamparan pantai yang sudah gelap untuk menghilangkan rasa canggung yang ia rasakan beberapa detik yang lalu. Sedangkan Tenten masih menatap Sasuke dengan wajah terkejut. Bagi Sasuke, ini adalah hal yang paling romantis yang ia lakukan pada wanita. Mencium wanita dipantai setelah melihat indahnya sunset. Hanya ada mereka berdua tanpa ada penganggu di sekitarnya. Namun, yang membuat Sasuke down adalah, bagaimana bisa ia melakukan hal itu pada wanita yang bahkan ia belum mengenal jauh tentangnya.
5 menit berlalu, Tenten memutuskan untuk beranjak dari duduknya dan meninggalkan Sasuke yang masih berada di posisinya. Tenten membuka pintu mobil Sasuke dan mengambil tasnya yang tadi ia tinggalkan di dalam mobil. Setelah mendapatkan tasnya, Tenten segera pergi menjauhi Sasuke yang berusaha mengejarnya. Sekitar 200 meter dari mobil Sasuke terparkir, Sasuke berhasil menggenggam pergelangan tangan kiri Tenten dan membalikkan badan Tenten agar berhadapan dengannya. Tenten segera menundukkan kepalanya saat ia merasakan tangan Sasuke berhasil menariknya.
"Gomen". Hanya kata itu yang keluar dari bibir Sasuke sesaat setelah ia membalikkan badan gadis dihadapannya.
"Tidak. Ini bukan salahmu". Balas Tenten masih menunduk. "Aku harus pulang". Kata Tenten.
"Aku antar kau pulang". Kata Sasuke.
"Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri". Kata Tenten berusaha melepaskan pergelangan tangan kirinya dari genggaman Sasuke.
"Tapi...". "Gomen". Kata Tenten lagi.
Dengan satu hentakkan ke udara, Tenten sudah berhasil melepas cengkaraman tangan Sasuke dari pergelangannya. Setelah ia lepas dari Sasuke, dengan segera Tenten berlari sekencang yang ia bisa meninggalkan Sasuke dengan wajah kecewa yang ia tampak kan. Sasuke menyesal karena ia terlalu terbawa suasana.
.
.
.
.
.
.
.
Tenten melangkahkan kakinya malas ketika ia memasuki gerbang sekolah. Hari ini ia tidak bersemangat untuk mengikuti pelajaran. Sebenarnya, Tenten sudah merasa tidak enak badan saat ia sarapan tadi. Sarapan yang bisanya Tenten sikat habis, pagi ini bahkan belum habis setengahnya Tenten sudah meninggalkannya begitu saja. Itu semua karena sesuatu yang terjadi antara dirinya dan Sasuke kemarin. Ia bahkan sampai tidak bisa tidur dibuatnya. Tenten masih bingung, apa yang ada di pikiran Sasuke saat itu ?. Bahkan sampai sekarang pun Tenten tidak bisa menebakknya. Terlebih, Tenten tidak tau apa yang harus ia lakukan ketika ia bertemu Sasuke nanti. Sebelum ia masuk ke kelasnya, ia menyempatkan diri terlebih dahulu untuk pergi ke kantin dan meminta sekotak kardus untuk wadah tempat ia meletakkan bingkisan dari penggemarnya.
Setelah ia masuk ke kelas, Tenten segera memasukkan bingkisan-bingkisan kecil di mejanya ke dalam kardus tanpa menatap Sasuke yang tengah mendengarkan musik lewat headphone dengan kedua mata yang terpejam sambil menyadarkan punggungnya.
Tenten masih sibuk dengan aktivitasnya sampai akhirnya Sasuke mendengar sesuatu disampingnya dan segera membuka kedua matanya. Bersamaan ketika Sasuke membuka kedua matanya, Tenten telah selesai memasukkan semua bingkisan kedalam kardus.
Sasuke akan membuka mulutnya untuk memanggil Tenten, namun ia urung kan niatnya saat ia melihat Tenten mengacuhkannya dan meninggalkanya dengan kardus berada di genggamannya.
Sekitar 10 menit setelah Tenten meninggalkan kelas, Tenten sudah menampakkan batang hidungnya lagi di hadapan Sasuke. Namun sebelum ia duduk, Tenten menghampiri Sakura dan membisikkan sesuatu di telinga gadis bemata emerald tersebut. Awalnya Sakura merasa risih saat Tenten memintanya untuk mendekatkan telinganya. Namun, setelah ia mendengar bisikan Tenten, dengan segera wajah cemberut Sakura berubah menjadi wajah cerah penuh semangat. Naruto yang berada di bangku Kiba yang tak jauh dari tempat duduk dirinya dan Sakura hanya menatap kedua wanita itu heran. Sejauh yang ia tau, Sakura sangatlah membenci Tenten. Begitu juga sebaliknya. Tapi yang ia lihat saat ini agak sedikit berbeda.
Setelah Tenten selesai membisikkan sesuatu pada Sakura, tanpa banyak bicara Sakura mengemas barang-barangnya dan beranjak dari kursinya dan berjalan menuju bangku Tenten.
"A..apa ?". Kata Naruto terkejut melihat Sakura duduk di samping Sasuke. "Panda, apa yang kau lakukan ?". Tanya Naruto menghampiri Tenten yang menduduki bangku yang tadinya milik Sakura.
Tenten tidak menjawab pertanyaan Naruto dan malah membuka buku novel yang ia bawa dari rumah. Sedangkan Sasuke mulai merasakan aura negatif saat Sakura sudah duduk di sampingnya. Sakura tersenyum penuh arti pada Sasuke. Namun Sasuke mengalihkan pandangannya pada Tenten yang berjarak tiga bangku darinya.
oOoOoOo
Brukk…
"Cukup !". Seru Kakashi pada muridnya.
Kakashi menghampiri Sasuke yang terbaring diatas matras dengan nafas memburu. "Cukup. Istirahatlah kalian semua". Perintah Kakashi pada muridnya. Sekitar 8 siswa keluar dari ruang karate. Sedangkan Sasuke, ia tidak menghiraukan kata-kata Kakashi dan masih membiarkan dirinya berada di atas matras.
"Apa yang membuat konsentrasimu buyar akhir-akhir ini Sasuke ?". Tanya Kakashi duduk disamping Sasuke berbaring.
"Tidak ada". Jawab Sasuke.
"Lalu, kenapa kau seperti ini ?. Biasanya semua anak disini kau sikat habis. Tapi kenapa baru 3 anak kau sudah gugur ?". Tanya Kakashi lagi. "Entahlah,aku juga tidak tau". Jawab Sasuke.
"Apa ada sesuatu yang mengusikmu akhir-akhir ini ?". Tanya Kakashi. "Tidak ada. Hanya aku merasa pikiranku sedikit kacau akhir-akhir ini". Jawab Sasuke.
"Kenapa ?". Tanya Kakashi pada murid kesayangannya itu. "Aku juga tudak tau". Balas Sasuke.
"Kau tau ?. Aku hanya mengkhawatirkan keadaanmu jika kau terus seperti ini sampai turnamen lusa". Kata Kakashi. "Taicho tenang saja. Aku akan memenangkan turnamen itu". Kata Sasuke optimis.
"Bagus kalau kau berpikir seperti itu". Kata Kakashi.
"Kenapa hanya beberapa anak yang hadir ?. mana yang lain ?". Tanya Sasuke.
"Aku juga tidak tau. Hanya Tenten tadi yang datang padaku untuk minta izin tidak ikut latihan hari ini". Kata Kakashi.
"Tenten ?. Kenapa dia?". Tanya Sasuke lagi.
"Dia bilang, dia merasa sedikit kurang sehat hari ini". Jawab Kakashi.
'Benar juga. Ia terlihat sedikit pucat pagi ini'. Batin Sasuke.
"Kenapa kau menanyakanya ?". Tanya Kakashi.
"Tidak. Hanya saja kupikir hanya dia satu-satunya wanita di sekolah ini yang ikut Karate. Aku salut padanya". Jawab Sasuke.
"Kau menyukainya ?". Tanya Kakashi. "A..apa ?. Tidak". Elak Sasuke. "Kekalahnmu kemarin karena kau melihat Tenten tersenyum sebelum ia menyerangmu bukan ?". Goda Kakashi.
"Ta..Taicho melihatnya ?". Tanya Sasuke.
"Yah. Sejujurnya, aku juga terkejut saat melihat Tenten tersenyum semanis itu. Aku hanya tidak menyangka, ternyata gadis tomboy seperti Tenten memiliki senyuman seperti malaikat". Kata Kakashi.
"Taicho benar". Balas Sasuke tersenyum membayangkan wajah Tenten.
"Jadi, apa dugaanku benar ?". Goda Kakashi.
"Entahalah. Aku juga tidak yakin. Yang pasti, aku selalu merasa nyaman jika berada di dekatnya". Balas Sasuke.
"Dan itu adalah hal yang orang biasa menyebutnya dengan julukan Cinta". Kata Kakashi tersenyum.
"Aku jatuh cinta padanya ?". Tanya Sasuke dan dibalas anggukan oleh Kakashi."Lalu, apa yang harus aku lakukan ?". Tanya Sasuke lagi.
"Apa yang harus kau lakukan ?. Tentu saja kau harus menyatakan perasaanmu padanya". Jawab Kakashi.
"Tapi, bagaimana kalau dia tidak menyukaiku ?". Tanya Sasuke.
"Kau harus mencari tau". Balas Kakashi.
"Caranya ?". Tanya Sasuke mengangkat sebelah alisnya.
"Disitulah tantangan bagi kita para lelaki. Kau harus menemukan caranya dengan pikiran dan nalurimu sendiri". Balas Kakashi.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hanya tinggal menghitung hari bagi Tenten dan teman-temanya termasuk Sasuke untuk menghadapi turnamen yang akan diselenggarakan lusa. Meski begitu, Tenten merasa optimis kalau dia akan menag di turnamen itu. Tenten harus memenangkan turnamen esok lusa. Karena jika Tenten berhasil, Tenten bisa mengenakan sabuk hitam untuk hari esok dan seterusnya.
Tenten berniat istirahat setelah ia mempersiapkan barang bawaannya yang akan ia bawa untuk esok hari. Namun ia urungkan saat ia melihat tumpukan barang yang melebihi kapasitas tempat itu sendiri. Tenten sudah tidak tau lagi, akan dia apakan semua barang ini. Tidak mungkin ia menyimpan semua barang itu selamanya.
"Apa yang harus aku lakukan dengan semua ini ?". Gumam Tenten berbaring ditempat tidurnya dan melirik tumpukan barang yang ia letakkan di dalam kotak kayu yang tadinya akan ia isi dengan tas-tas miliknya. "Aku memang cerdas". Kata Tenten menjentikkan jarinya saat terbesit ide mencul di otakknya. Tenten tau apa yang harus ia lakukan pada semua barang itu.
Drrtt..Drrtt..
"Sasuke ?". Gumam Tenten saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
"Sasuke ?". Lirih Tenten menerima pangilan Sasuke
. "Tenten, bisa kau keluar sekarang ?. Aku ada di depan". Jawab seseorang di sebrang. "A..apa ?". Tanya Tenten terkejut.
Tenten beringsut dari kasurnya menghampiri jendela dan menyibakkan gorden kamarnya untuk memastikan apa Sasuke benar-benar berada disana. Ternyata benar. Sasuke berdiri sekitar 50 meter dari gerbang rumahnya.
"Ba..baiklah. Aku akan turun". Balas Tenten mengakhiri panggilanya dengan Sasuke. "Apa yang dia lakukan disini ?". Gumam Tenten meyambar jaket rajutan neneknya yang tergantung manis di lemarinya dan melirik jam digital di meja belajarnya yang menunjukkan pukul 22.30.
oOoOo
"Apa yang kau lakukan disini ?". Tanya Tenten.
"Aku hanya ingin memastikan apa kau sudah mempersiapkan untuk besok ?". Tanya Sasuke salah tingkah.
"Hanya itu ?". Tanya Tenten bingung.
Sasuke juga tidak tau, kenapa ia bisa sampai disini. Sasuke sebenarnya tadi hanya berniat untuk mencari angin. Tapi entah kenapa langkah kakinya membawanya menuju rumah Tenten. Dan apa yang dia pikirkan sampai ia menelfon Tenten dan mengatakan pada gadis bermata hazel itu bahwa ia sedang didepan rumahnya sekarang.
"Se..sebenarnya tadi aku hanya ingin berniat jalan-jalan. Tapi entah kenapa saat aku sadar aku sudah berada disini". Kata Sasuke jujur.
"Apa kau mabuk ?". Tanya Tenten menangkup kedua pipi Sasuke.
Blussh… Semu merah menjalari wajah Sasuke. "Apa kau baik-baik saja ?". Tanya Tenten khawatir. Sasuke melirik telapak tangan Tenten yang masih menyentuh wajahnya. "Ah, ma..maaf". Kata Tenten salah tingkah. "Ka..kalau begitu, pulanglah. Kau butuh istirahat untuk pertandingan lusa. Dan besok akan menjadi perjalanan yang sangat panjang. Kau tidak akan sanggup jika kau tidak istirahat". Kata Tenten.
"Baiklah. Kau juga istirahatlah. Kau juga butuh energi untuk turnamen lusa. Aku pulang". Kata Sasuke menggaruk pelan lehernya yang sama sekali tidak gatal.
Panjang gak ? *Gk tuh. Ya udh deh klo belum pnjang. Mudah-mudahan chap depan bisa lebih pnjang dri ini nee.. :)
Arrigatou udh mau bca fic yang sangat gaje dan abal-abal ini... :)
See you in next chap.. :D.
