Give Me Your Heart

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Pair: NaruTen

Slight: SasuTen, SasuSaku (gk mnutup kemungkinan ada pair baru)

Rated: T

Warning: Gaje, Abal-abal, Typo, OC, dan lain sebagainya

Halloha minna-san. Maafkan Author ya, Author telat bnget ya update nya. Sekali lagi maaf, Author sibuk bnget akhir-akhir ini. Maklum, Author bntar lagi mau ujian. Trus di tambah, Author hbis opname seminggu di RS #curhat -_- . Jadinya mkin lma wktu Author untuk bisa update. Tapi, sebagai permintaan maaf, chap ini Author panjangin lhooo. Super panjang dari chap sebelumnya. Tapi klo menurut reader kurang panjang, maaf deh ya..

Review:…

Minatooo: Hehe, syukur deh klo kmu gk lngsung kena tifus setelah bca fic ini :p. Ada cwok seganteng Sasuke di kelas kmu ?. Mna ?. Kenalin donk :D #Plakk.. . NejiTen moment ?. Hmmh, mngkin ada dikit :p *hehe. Sasuke suka sama Tenten gara" abis potong rambut ?. Dan kenapa Author bikin Neji suka sama Hinata ?. Author akan jawab di chapie selanjutnya (yg entah chap brp ? :D). Tpi Author ttep bkal jlasin smuanya.

El bany blueblack: Mkasih ya udh nyempetin wktu bwt baca. Hehe, emang. Sasuke mah sifat aslinya nyebelin. Makanya aku permak sifat dia dsini #lu kata jeans ? :D. Tapi aku gk rombak sifat Sasuke bsar".an, ntar tkut nya jadi terlalu OC. Tpi kalo mnrut kmu, Sasuke nya OC gk sih di sini ? :D.

Guest: Ini nih, next chapternyaa. Baca aja noh.. :D

AkiraKen: Hehe, msih bingung gk sma penulisannya ?. Author janji akan perbaiki lagi. Iya nih, Sasuke main cium aja, gk liat tuh si Neji udh siapin golok, #lhooo :D. Kmu suka chap yg panjang". Iya deh, author kasih, nih chapiie nya lebih panjang dri yang sblumnya. Yg Tell Me jga udh di update tuh.

Yuris: Hi juga Yuris. Salam kenal :D. Seneng nya ada reader baru :D. Hoho, mkasih lhoo ya jeng udh bca fic aneh aku ampek jtuh hati gtu :D. Awal nya ska sam NejiTen trus abis bca fic ini jdi ktularan suka sma SasuTen ? #asal jgn ktularan pnyakit gila Author aja, bahaya lho jeng #Plakk… :D. Huhuhu, terharu. Kmu bilang dpt bnget feel nya. aku aja gk yakin waktu bikinnya :D. Duuh, jngan panggil aku senpai dong ?!. Aku kan gk semahir itu. Oke, nih udh di update. Semoga gk kena serangan jantung dadakan ya..

All: Ini udh Author lanjutin. Semoga gak pda Gumoh di tempat ne… :D

Udh ah, gk ush bnyak cincong. Langsung aja nih bca. Btw, chap panjang ini khusus SasuTen moment, jdi yang pda nunggu NaruTen moment, dimohon utk bersabar, hehe :D. Cekidot…..

Akhirnya hari itu tiba. Saat dimana Tenten dan teman-temannya harus berjuang sekuat tenaga agar ia bisa memenangkan turnamen yang beberapa menit lagi akan di laksanakan. Ini adalah hari pertama yang harus mereka jalani untuk menentukan siapa orang yang pantas mendapat gelar juara karate tahun ini.

Riuh ratusan penonton yang mendukung kerabat mereka dan jagoan mereka yang akan bertanding mulai terdengar. Tenten mengintip penonton yang bersemangat dari balik tembok ruang ganti.

"Aku bisa. Aku pasti bisa. Aku akan menang". Gumam Tenten megnepalkan kedua tangannya untuk meyemangati dirinya sendiri.

"Aku percaya kau akan menang". Kata seseorang dari belakang.

"Taicho". Kata Tenten terkejut.

"Aku yakin kau akan membawa pulang medali itu". Kata Kakashi melirik medali yang tergantung cantik di etalase kaca.

"Semoga saja". Kata Tenten dengan suara melemah.

"Tenten, kemampuan karatemu tidak bisa di pandang sebelah mata. Kau bahkan bisa mengalahkan Sasuke kemarin". Kata Kakashi.

"Waktu itu aku hanya menganggap itu adalah hari keberuntunganku". Lirih Tenten.

"Dengar. Di mulai dari sabuk putih sampai sabuk cokelat. Apa kau pikir itu semua adalah sebuah keberuntungan ?. Berapa kali kau memenangkan lomba hingga akhirnya sabuk cokelat yag kini berada digenggamanmu ?. Itu semua butuh perjuangan keras dan tidak bisa disebut dengan keberuntungan". Kata Kakashi.

"Taicho benar. Itu semua bukanlah keberuntungan". Seru Tenten.

"Bagus. Sekarang gantilah bajumu. Tidak lama lagi tiba giliranmu". Kata Kakashi.

"Hn". Balas Tenten semangat.

oOo

"Tousan, Kaasan, Konohamaru. Aku akan membawa pulang medali itu. Aku janji". Kata Tenten pada pantulan dirinya sendiri di kaca toilet.

Drrrt..drrtt..

Tenten mengambil ponsel miliknya yang berada di dalam tas dan membuka pesan masuk yang ia terima lewat ponselnya.

"Kalau kau sampai kalah dan tidak membawa pulang medali, kau akan tau akibatnya !.

From: Mr. Cockroach".

"Aku kalah pun bukan urusanmu". Teriak Tenten geram pada ponselnya. "Huh, dasar. Dia pikir dia siapa ?". Gumam Tenten. "Seenaknya saja berbicara seperti itu". Imbuh Tenten lagi lalu menyambar tas miliknya dan keluar dari toilet.

.

.

.

.

.

.

.

.

Pukul 4 pagi di Kirigakure. Tenten tidak bisa tidur karena ia hampir gila memikirkan apa yang akan terjadi padanya lusa nanti. Ya, lusa adalah final dari turnamen Karate yang diadakan tahun ini. Setelah ia berhasil mengalahkan musuhnya 4 hari berturut-turut, akhirnya Tenten berhasil masuk ke final.

Beberapa hari yang lalu, biasanya sepagi ini Tenten dan teman-temannya sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi pertandingan yang akan mereka hadapi. Masing-masing dari mereka sibuk dengan persiapannya sendiri-sendiri. Terkadang ada yang berebut kamar mandi, berlarian kesana kemari mengejar temannya yang menggodanya, membersihkan tempat tidurnya masing-masing, menyeduh teh atau kopi untuk semua penghuni villa, membantu wanita tua penjaga villa membuat sarapan, dan lain sebagainya. Namun beda dengan pagi ini. Juri memberikan waktu istirahat satu hari untuk memulihkan tenaga para atlet. Karena menurut para juri, pada final nanti mereka membutuhkan tenaga dan stamina yang lebih besar untuk mengalahkan lawannya yang lebih tangguh daripada yang sebelumnya. Sedangkan hari esok, para atlet menggunakan hari itu untuk latihan penuh.

Setiap sekolah yang mewakili daerahnya, Kirigakure menyiapkan satu villa sederhana untuk mereka, para atlet sekolah tersebut tinggali. Untuk Konohahagure, Kirigakure menempatkan mereka di villa yang tepat di kaki gunung. Awalnya para sensei dari derah lain sedikit protes karena villa Konohagakure jauh lebih nyaman untuk ditinggali daripada villa milik mereka. Tapi apa boleh buat, Dewi Fortuna memihak pada Kakashi yang saat itu beruntung mengambil nomor undian untuk memutuskan di villa mana mereka tinggal.

Tenten mengambil jaket cokelat tebal miliknya yang ia letakkan di gantungan pakaian di belakang pintu kamarnya dan membalut tubuh mungilnya dengan jaket tersebut. Ia sengaja tidak mengganti bawahannya karena ia lebih nyaman jika memakai celana pendek di atas lutut berwana putih yang ia kenakan sepanjang malam ini, sekarang. Suhu panas dari dalam tubuh gadis berusia 17 tahun tersebut berkondensasi dengan udara dingin yang ada disekitarnya. Uap air dalam nafasnya membentuk tetesan-tetesan air yang sangat kecil yang pada akhirnya membentuk kepulan asap ketika ia menghembuskan nafasnya baik dari mulut mau pun hidungnya.

Tenten melangkahkan kakinya keluar kamarnya. Berhubung Tenten adalah satu-satunya wanita di villa ini, maka Kakashi memberikan perlakuan lebih pada Tenten dengan memberinya kamar sendiri. Sedangkan yang lainnya, harus berbagi kamar dengan teman mereka masing-masing. Setiap kamar di isi sekitar 3 anak. Karena atlet Karate yang mewakili Konohagakure berjumlah sekitar 9 orang, mau tidak mau mereka harus berbagi kamar. Dan untuk Kakashi, ia lebih memilih tidur di halaman belakang menggunakan tempat tidur gantung dan merasakan kesejukan angin yang ia rasakan dari pagi, siang, sore, sampai malam. Lagipula, kamar tidur yang seharusnya menjadi miliknya, telah ia serahkan pada Tenten.

Tenten membuka pelan pintu dapur untuk menghindari suara berdecit dari pintu kayu yang sedikit lapuk karena termakan usia. Setelah pintu terbuka, Tenten melayangkan pandangannya mengelilingi dapur. Tenten melihat ada asap masuk dari ventilasi dapur yang berasal dari samping rumah.

Tenten berjalan santai menuju samping rumah. Ia ingin tau, asap apa yang ia lihat sepagi ini. Tenten mengosokkan kedua tangannya untuk mendapatkan sedikit kehangatan sebelum ia melongokkan sedikit kepalanya untuk mengintip siapa orang yang sedang berada di samping rumah.

"Baasan". Panggil Tenten setelah tau ternyata penjaga villa inilah yang sedang memasukkan kayu bakar ke tungku.

"Oh, Tenten-chan. Kenapa kau sudah bangun sepagi ini ?". Tanya wanita tua itu.

"Aku hanya ingin jalan-jalan Baasan". Jawab Tenten duduk disamping wanita tua itu,

"Jalan-jalan ?. Sepagi ini ?. Kau yakin, lihatlah. Matahari pun belum terbit. Kau mau jalan-jalan kemana ?. Ini masih gelap". Kata Nenek itu.

"Aku tau Baasan. Aku akan pergi setelah matahari memberikan aku sedikit sinarnya untuk membantuku menerangi jalan menuju gunung itu". Kata Tenten puitis menunjuk sebuah gunung kecil yang berjarak sekitar 100 meter dari villa.

"Kau akan jalan-jalan ke gunung itu ?". Tanya wanita itu lagi.

"Ne, kenapa Baasan ?". Tanya Tenten.

"Hmmmh, kau harusnya mengajak kekasihmu untuk naik ke gunung itu". Jawabnya.

"Apa maksud Baasan ?". Tanya Tenten bingung mendekatkan kedua telapak tangannya ke tungku pembakaran.

"Yah. Kata para penduduk disekitar sini, dahulu hidup seorang Raja yang amat sangat kejam dan haus akan kekuasaan. Lalu, Raja tersebut di karuniai seorang pangeran yang kelak akan menjadi penerus tahtahnya. Pangeran tersebut tumbuh menjadi seorang lelaki yang memiliki wajah yang rupawan dan juga memiliki kepribadian yang baik dan penyayang. Sampai pada suatu ketika, Raja mengutus para prajuritnya untuk mengasingkan Pangeran tersebut dengan alasan kepribadiannya yang begitu baik dan ramah. Raja khawatir jika penerusnya memiliki sifat seperti itu, musuhnya bisa mengambil alih kekuasaanya dengan sangat mudah kelak. Akhirnya, Pangeran itu diasingkan di sebuah hutan yang jauh dari tempat tinggal yang tidak lain adalah kerajaan yang megah itu. Ia tidak di perbolehkan keluar dari hutan itu seumur hidupnya. Jika sampai ia melakukan hal itu dan ketahuan oleh Raja dan Prajuritnya, maka ia akan di bunuh saat itu juga. Suatu hari, ketika Pangeran tersebut mengambil air di sebuah sungai, ia melihat gadis pemungut kayu bakar yang sering ia lihat tengah beristirahat di tepi sungai tersebut. Pangeran itu pun menegur sang gadis untuk berkenalan dan akhirnya ia jatuh cinta pada pandangan pertama. Bulan demi bulan pun berlalu, akhirnya mereka memutuskan untuk menikah. Setelah menikah, Pangeran itu lalu menceritakan siapa dia sebenarya dan alasan mengapa ia bisa sampai ada disini. Sang gadis pun mengerti akan hal itu, karena cintanya yang begitu besar pada suaminya, sang gadis memutuskan untuk mengikuti suaminya untuk tinggal di tengah hutan. Mereka berdua membangun rumah sederhana di sana. Mereka berdua hidup bahagia hingga memiliki seorang anak laki-laki yang sangat tampan, meski Gadis itu sempat di kucilkan oleh para penduduk desa ketika ia kembali ke desa untuk mengunjungi makam kedua orangtuanya yang telah tiada. Karena mereka pikir, bagaimana mungkin gadis yang hilang di tengah hutan selama berbulan-bulan, telah kembali dengan keadaan hamil. Namun, Gadis itu tidak peduli apa yang para penduduk desa katakan. Mereka merasa hidup mereka sangat sempurna saat itu. Tapi kebahagiaan itu terusik ketika tanpa sengaja anak mereka yang sudah berusia 4 tahun keluar dari hutan. Saat itu jugalah sang raja tengah berada di tempat untuk memberitahukan pada rakyatnya untuk memberikan upeti lebih untuknya. Lalu tanpa sengaja Raja melihat anak laki-lakinya dengan menggendong seorang anak kecil di dekapannya. Pangeran tersebut berusaha lari menyelamatkan diri dari kejaran prajurit ayahnya. Namun usahanya gagal. Prajurit yang tak terhitung jumlahnya itu berhasil menagkapnya. Setelah itu, Raja memberi pilihan pada Istri Pangeran tersebut. Mengikuti dia dan menjadi dayang seumur hidupnya, atau mati bersama Suaminya. Gadis itu akhirnya memilih mati dengan Suaminya. Gadis itu berpikir tidak ada yang menerima cinta mereka di dunia. Tapi ia yakin, Tuhan akan mempersatukan mereka kembali di alam yang lain ". Jelas wanita itu.

"Lalu apa hubungannya dengan mengajak kekasih kesana ?". Tanya Tenten.

"Konon katanya, rumah sederhana yang mereka bangun ada disekitar gunung yang akan kau datangi itu. Jika sepasang kekasih mendaki gunung itu dan melihat rumah sederhana disana, maka akan dipastikan cinta mereka akan abadi seperti pemilik rumah tersebut". Jawab wanita itu. "Romantis sekali bukan ?". Imbuhnya.

"Aku lebih suka menyebutnya Horor daripada Romantis". Jawab Tenten merinding.

"Sudahlah. Itu hanyalah mitos. Hak mu percaya atau tidak pada cerita itu". Kata wanita itu. "Airnya sudah mendidih. Apa kau mau kubuatkan sesuatu ?". Tanyanya.

"Aku akan membuat teh sendiri Baasan". Kata Tenten membantu wanita tua itu mengangkat teko panas.

Sesekali Tenten meneguk teh hangat buatannya sambil membantu wanita tua itu memasak sarapan untuk teman-temannya. Tenten mengaduk sup di dalam kuali sambil mencium aroma sup buatan wanita renta itu.

"Ini harum sekali Baasan. Persis seperti buatan Ibuku". Kata Tenten menghirup aroma sup.

"Benarkah. Kalau begitu, kau harus makan sup paling banyak hari ini". Kata wanita tua itu tertawa.

"Apa Baasan yakin ?. Dirumah aku bisa menghabiskan 1 panci penuh sup dalam waktu 15 menit". Kata Tenten.

"Waah, benarkah. Lalu berapa lama waktu yang kau butuhkan untuk menghabiskan satu kuali itu ?". Tanyanya.

"Entahlah. Mungkin 5 jam". Jawab Tenten tertawa diikuti oleh wanita itu.

"Apa kau mau sarapan sebelum kau jalan-jalan ?". Tawarnya setelah semua masakan siap.

"Tidak Baasan aku hanya sebentar". Jawab Tenten.

"Baiklah. Hati-hati ne". Kata wanita itu.

"Iya". Teriak Tenten dari kejauhan.

Tenten berjalan menjauhi villanya menuju gunung yang ia bicarakan tadi dengan wanita tua penjaga villa. Saat ini masih pukul 5, matahari juga telah memberikan cahayanya pada Tenten dan semua orang. Tenten berjalan santai sambil sesekali menghirup udara yang masih bebas dari polusi. Beruntung bagi Tenten karena turnamen kali ini diadakan di desa pinggiran Kirigakure. Namun meski di desa, fasilitas di sini cukup lengkap layaknya di kota besar. Hanya bedanya, jarang penduduk disini yang menggunakan kendaraan bermotor mau pun mobil untuk menjalani rutinitasnya. Mereka lebih memilih menggunakan sepeda atau berjalan.

Tenten masih berjalan menuju tepat yang ia ingin kan. Tidak lupa juga ia menyapa penduduk sekitar yang terkenal ramah. Sudah puluhan orang yang menyapa Tenten. Laki-laki mau pun perempuan. Kecil mau pun tua. Mereka sama ramahnya. Dan hal itu lah yang membuat ia betah tinggal disini.

oOo

"Taicho, apa Taicho melihat Tenten ?". Tanya Sasuke menghampiri Kakashi yang tengah bersantai di tempat tidur gantungnya dengan sebuah buku berada digenggamannya sembari menyeruput kopinya.

"Dia tidak turun kemari dari tadi. Mungkin dia masih dikamar". Jawab Kakashi.

"Aku sudah kekamarnya. Tapi dia tidak ada". Kata Sasuke.

"Tenten pagi-pagi buta tadi sudah bangun. Dia bilang, dia ingin jalan-jalan ke gunung yang tidak jauh dari sini. Dia pergi sekitar 1 jam yang lalu setelah membantuku memasak sarapan untuk kalian semua". Kata wanita tua itu sembari membawa bak berisi sprei dan handuk yang akan ia jemur.

"Arrigatou Baasan". Kata Sasuke meninggalkan Kakashi dan wanita tua itu.

Sasuke berlari kekamarnya dan menyambar jaket biru yang ia geletakkan di tempat tidurnya. Ia berniat menyusul Tenten ke gunung itu.

"Kau mau kemana pagi-pagi begini Sasuke ?". Tanya temannya yang sedang berkumpul bermain game dikamarnya.

"Pagi kau bilang ?. Kau tidak lihat matahari sudah tinggi ?". Jawab Sasuke dingin dan berlari keluar kamar.

"Dasar Uchiha aneh". Ejek salah satu temannya.

oOo

Tenten menolehkan kepalanya ke kiri dan melihat sungai kecil yang berjarak beberapa meter dari tempatnya berdiri. Tenten melangkahkan kakinya menuju sungai yang ia lihat tadi. Setelah sampai di bibir sungai, ia segera membasuh wajahnya dengan air sungai.

"Segarnya". Kata Tenten tersenyum riang.

Tenten melihat pantulan wajahnya melalui air sungai yang ia gunakan untuk membasuh wajahnya tadi.

"Wajahku tidak terlalu buruk".Gumam Tenten menyentuh kedua pipinya.

Setelah ia membasuh wajahnya dengan air sungai itu, tiba-tiba saja ia teringat dengan adiknya Konohamaru. Sungai seperti inilah yang selalu Konohamaru datangi ketika keluarga Tenten berkunjung kerumah neneknya. Ia pasti selalu menyempatkan diri bermain air dengan Konohamaru ketika ia berada dirumah neneknya. Rumah nenek Tenten berada di desa seperti ini, di pinggiran Konoha. Tenten tersenyum saat ia mengingat wajah adiknya yang tersenyum bahagia ketika ia dan adiknya bermain di sungai di desanya. Ia sangat merindukan adiknya itu. Tak butuh waktu lama bagi Tenten untuk memanyunkan bibirnya. Sedang bahagia ia mengingat wajah adiknya, entah kenapa di benaknya terbesit nama Naruto. Yah, wajar saja jika ia mengingat wajah Naruto saat ia rindu pada Konohamaru. Bagaimana tidak, sifat Konohamaru hampir sama, tidak sama persisi malah dengan sifat Naruto. Sama-sama urakan, tukang makan, suka seenaknya sendiri,bodoh, tidak bisa menjaga kebersihan, dan pecinta Videogame.

Ngomong-ngomong soal Naruto, Tenten jadi teringat dengan Hinata sahabatnya. Bagaimana reaksi Hinata ketika ia tau kalau Naruto tidak menyukai dirinya ?. Tenten merasa kasihan pada gadis berambut indigo tersebut. Tapi apa yang bisa Tenten lakukan ?. Dirinya sudah terikat perjanjian dengan Naruto. Ia khawatir, jika sampai rencana bodoh bocah itu sampai gagal, bisa-bisa Naruto menunjukkan foto memalukan itu pada semua orang. Kalau sampai itu terjadi, apa kata Neji jika ia mengetahui hal itu ?. Yah, sebenarnya diam-diam Tenten masih mengharapkan Neji. Ia masih tidak bisa lepas dari bayang-bayang cinta pertamanya itu. Benar kata neneknya, 'Cinta pertama memang mudah ditemukan, tapi sangat sulit didapatkan'.

Tenten menghembuskan nafasnya berat. Ia ingin membantu Hinata. Tapi jika ia membantu Hinata, ia khawatir akan apa yang terjadi pada dirinya setelahnya. Sebenarnya Tenten sudah mempunyai rencana untuk ini jauh-jauh hari sebelum ia berada disini. Tapi ia ragu rencananya akan berhasil.

"Kami-sama, aku sudah hampir gila karena turnamen lusa. Kenapa kau malah mengingatkanku tentang hal ini lagi ?". Kata Tenten meremas ujung jaketnya gemas.

Tenten kembali mendekati bibir sungai tersebut dan membasuh kembali wajahnya. Entah apa yang ada dipikiran Tenten. Tiba-tiba ia melihat wajah Naruto di pantulan air dibawahnya. Tanpa waktu lama, Tenten segera menarik dirinya kebelakang hingga ia hampir terjatuh.

"Ke..kenapa a..ada di..dia ?". Lirih Tenten terkejut. "Aku sudah gila". Gumam Tenten mengacak-acak rambutnya yang sengaja ia gerai.

Belum pulih Tenten dari keterkejutannya, tiba-tiba ia kembali dikejutkan oleh seseorang yang tiba-tiba menyentuh bahu kanannya. Karena reflek, Tenten segera beranjak dari posisinya dan menyergap tangan yang menyentuhnya tadi hingga si pemilik tangan berbalik membelakangi Tenten.

"Reflekmu bagus juga". Kata orang itu.

"Sa..Sasuke ?". Kata Tenten terkejut.

"Hai". Sapa orang yang mengejutkan Tenten.

"A..apa yang kau lakukan disini ?". Tanya Tenten.

"Aku akan menjawabnya. Tapi, bisakah kau melepas tanganku ?. Ini sakit". Kata Sasuke sedikit merintih.

"Ah, go..gomen". Kata Tenten melepas tangan Sasuke yang ia sergap kebelakang.

"Aku ingin menemanimu". Jawab Sasuke setelah lepas.

"Menemaniku ?. Bagaimana kau tau aku ada disini ?". Tanya Tenten lagi.

"Dari wanita tua penjaga villa". Jawab Sasuke enteng.

"Oh". Balas Tenten singkat.

"Kau mau kemana sekarang ?". Tanya Sasuke.

"Kurasa aku ingin mendaki gunung ini sedikit lebih tinggi". Jawab Tenten menaikkan kedua bahunya.

"Baiklah. Ayo". Kata Sasuke.

Tenten dan Sasuke masih melangkahkan kakinya santai selama hampir 30 menit. Dan selama 30 menit itulah Tenten selalu menampakkan senyumnya pada Sasuke. Bukan karena Tenten gila. Tapi karena sepanjang perjalanan, mereka saling bercerita hal lucu yang pernah mereka alami. Begitu juga dengan Sasuke. Ia berkali-kali hampir kelepasan tertawa terbahak-bahak jika ia tidak bisa mengontrol dirinya.

"Hei, apa kau lihat rumah kecil itu ?". Tanya Sasuke tiba-tiba menunjuk sesuatu di depannya.

"Rumah ?. Sasuke, tidak mungkin ada rumah di hutan belantara seperti ini". Kata Tenten tertawa kecil.

"Sungguh. Apa kau tidak melihatnya ?". Tanya Sasuke lagi.

Tidak lama setelah Sasuke bertanya pada Tenten untuk yang kedua kalinya, Tenten langsung ingat apa yang di katakan nenek penjaga villa tadi.

'Apa rumah itu yang nenek maksud ?. Kalau benar, itu artinya…..' . Batin Tenten.

"Hei, kau mau kemana ?". Teriak Sasuke saat ia melihat Tenten berlari menjauhinya.

Karena tidak mendapat jawaban dari gadis bermata hazel tersebut, akhirnya Sasuke memutuskan untuk berlari mengejar Tenten.

20 menit lebih Tenten terus berlari tanpa henti dengan Sasuke berada dibelakangnya sembari terus berteriak memanggil namanya.

oOo

Akhirnya Tenten telah benar-benar menuruni gunung tersebut. Kini ia telah sampai di pemukiman warga. Tenten sedikit lega karena ingatannya masih tajam. Jika tidak ia pasti sudah tersesat di hutan belantara tersebut.

Tenten terus berlari tanpa henti menuju ke villa yang ia tempati sebelum akhirnya Sasuke berhasil menarik tangan kanannya agar ia berhenti.

"Hei, kau ini kenapa ?". Tanya Sasuke membalikkan badan Tenten.

"Tidak. Aku baik-baik saja". Jawab Tenten.

"Kau pembohong yang buruk Tenten". Kata Sasuke.

"Ada apa denganmu ?. Aku baik-baik saja". Kata Tenten sedikit berteriak.

"Kau yang ada apa ?. Kenapa kau tiba-tiba berlari seperti itu ?. Kau tau, kau membuatku cemas. Aku takut terjadi hal buruk padamu". Kata Sasuke juga sedikit berteriak.

"Aku hanya sedikit takut saat kau bilang kau melihat sebuah rumah di hutan tadi. Kau puas". Teriak Tenten keceplosan.

"Kenapa kau harus takut ?". Tanya Sasuke bingung.

'Aku hanya takut kalau mitos itu benar-benar terjadi padaku dan kau'. Batin Tenten mengigit bibir bawahnya. "A..apa aku harus menceritakan ini padamu ?". Tanya Tenten sedikit mereda.

"Ya, karena kau membuatku penasaran". Jawab Sasuke masih mengenggam lengan kanan Tenten.

"Kau tanya saja pada nenek penjaga villa nanti". Kata Tenten berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman Sasuke.

"Tidak. Aku ingin mendengarnya darimu". Sergah Sasuke mengenggam tangan Tenten makin erat.

"Se..se..benarnya…".

"Apa ?". Tanya Sasuke tidak sabar.

"Eh, a..nu i..tu…".

"Tenten ?". Panggil Sasuke mendengar hanya rancauan kecil yang ia dengar.

"Se..sebenarnya… Se..sebenarnya…".

"Aku menunggu". Kata Sasuke melipat kedua tangannya di depan dada.

"Se..sebenarnya… ka..kata nenek penjaga villa, da..dahulu ada Raja yang sangat kejam. Dan ada pasangan suami istri yang tinggal dihutan itu….". Kata Tenten melirik Sasuke yang masih berusaha mencerna kata-katanya."Begini. Kata nenek penjaga villa, Suami dari Istri itu adalah pangeran yang di asingkan…". Kata Tenten melirik Sasuke berharap lelaki emo itu tidak bertanya lebih dari ini.

"Lalu ?". Tanya Sasuke lagi yang otomatis membuat harapan Tenten terhempas.

"Lalu, suami istri itu dibunuh karena mereka saling mencintai….". Jawab Tenten yang kini mulai ngelantur menurut Sasuke.

"Kau ini bicara apa ?". Tanya Sasuke menaikkan sebelah alisnya setelah mendengar cerita Tenten yang menurutnya lebih mirip seperti rancauan kecil.

"Suami istri mempunyai bayi, lalu bayi itu di ambil oleh Sang Raja untuk di asuh olehnya…". Lanjut Tenten masih tidak jelas bahkan mata Tenten tidak lagi menatap Sasuke. Ia mengarahkan matanya ke sekelilingnya seolah menghindari tatapan Sasuke. Sekali lagi Tenten melirik wajah Sasuke yang masih berusaha keras mencerna kata-katanya. "Intinya pasangan suami istri itu mempunyai cinta yang abadi. Mereka rela mati demi mempertahankan cinta mereka". Kata Tenten memejamkan matanya menyelesaikan ceritanya.

"Lalu, apa hubungannya dengan kau berlari seperti tadi ?". Tanya Sasuke meski dia masih tidak mengerti apa maksud pembicaraan Tenten.

"Karena jika ada pasangan kekasih yang mendaki gunung itu dan melihat rumah sederhana seperti yang kau lihat tadi, konon katanya cinta pasangan kekasih itu akan abadi seperti pemilik rumah itu". Jawab Tenten menunduk dengan semu merah dipipinya.

1 detik, 2 detik, 3 detik, 4 detik, 5 detik…

"Hhh,hahaha…..". Akhirnya tawa Sasuke meledak setelah ia berusaha menahannya ketika mendengar sekelumit cerita yang keluar dari bibir Tenten. Ia tidak menyangka ternyata Tenten sepolos itu.

"Dan kau percaya ?". Tanya Sasuke masih tertawa.

"Ya, apa salahnya mempercayainya". Jawab Tenten tertunduk malu.

"Tenten, bisa-bisanya kau percaya cerita semacam itu". Kata Sasuke yang masih tertawa. Dan kini malah ia harus sedikit meremas perutnya karena sakit yang ia rasakan akibat tawa yang terlalu berlebihan tadi.

"Huh, kau ini sama menyebalkan seperti Naruto". Kata Tenten menggembungkan kedua pipinya dan berjalan menjauhi Sasuke.

"Hei, tunggu". Kata Sasuke yang seketika mengehentikan tawanya ketika ia mendengar nama Naruto keluar dari bibir gadis itu.

"Pergilah, aku tidak mau bicara denganmu". Kata Tenten mempoutkan bibirnya.

"Hei, kenapa kau marah ?". Tanya Sasuke.

Tenten tidak menjawab pertanyaan Sasuke. Ia masih meneruskan langkahnya menuju villa.

"Ayo kita pergi kesana lagi". Kata Sasuke membalikkan tubuh Tenten setelah lelaki berambut emo itu berhasil meraih gadis berambut cokelat yang berjalan membelakanginya.

"Tidak. Aku tidak mau". Balas Tenten berusaha melepaskan tangan Sasuke dari kedua bahunya.

"Aku serius". Kata sasuke dengan wajah yang serius.

"Ka..kau membuatku takut". Kata Tenten sedikit merinding melihat raut wajah Sasuke.

"Ayo kita kesana lagi". Kata Sasuke sekali lagi.

"Ke..kenapa ?". Tanya Tenten bingung.

"Kau tidak mengerti maksudku ?". Tanya Sasuke menaikkan sebelah alisnya yang dibalas gelengan kepala oleh Tenten. "Sungguh kau tidak tau maksudku ?". Tanya Sasuke sekali lagi.

"Apa maksudmu ?". Tanya Tenten polos.

Klukkk….

Sasuke menundukkan kepalanya kecewa. Ia tidak menyangka, ternyata Tenten yang sangat bringas ketika di atas matras, mempunyai sifat sepolos ini.

"Ayolah, kita kembali ke villa. Aku sudah lapar". Kata Tenten mengusap perutnya.

oOo

"Baasan…". Teriak Tenten berlari ke arah penjaga villa yang kini sedang membersihkan halaman.

"Hei. Kau bilang kau hanya sebentar ?. Tapi kenapa kau lama sekali ?". Tanya wanita itu menghentika aktivitasnya.

"Gomen Baasan. Aku terlalu senang disana. Makanya lupa waktu". Kata Tenten memeletkan lidahnya.

"Begitukah. Syukurlah kalau kau senang berada disini. Apa kau lapar ?. Makanlah, aku sudah menyisakan sup yang kita buat tadi untukmu dan Sasuke". Kata wanita itu.

"Sasuke belum makan ?". Tanya Tenten.

"Yah. Begitu dia turun, dia langsung menanyakan dimana kau. Setelah itu dia langsung menyusulmu". Jawabnya.

"Begitu". Jawab Tenten singkat. "Sasuke, apa kau mau makan bersamaku ?. Baasan bilang kau belum makan". Kata Tenten berteriak.

"Kau duluan saja". Jawab Sasuke.

"Baiklah". Kata Tenten masuk kedalam.

"Apa kalian bersenang-senang ?". Tanya Kakashi berada disamping Sasuke yang kini membantu wanita tua penjaga villa membersihkan halaman.

"Begitulah". Jawab Sasuke tertawa renyah.

"Lalu, kenapa kau pulang secepat ini ?". Tanya Kakashi lagi.

Sebenarnya Sasuke ingin mengajak Tenten menaiki gunung itu lagi. Tapi dia merasa kasihan pada Tenten saat gadis itu berkata kalau dia sedang kelaparan.

"Dia lapar". Jawab Sasuke singkat lalu meninggalkan Kakashi yang masih sibuk mencabuti rumput untuk menyusul Tenten didalam.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Tenten duduk di samping kanan Sasuke menunggu giliran. Hari ini adalah hari terakhir pertandingan yang telah terselenggara hampir satu minggu lamanya. Setelah berhasil mengalahkan lawan-lawannya yang lalu, Tenten berhasil masuk final dan harus berhadapan dengan wanita berambut pirang yang duduk tak jauh dari dirinya dan Sasuke berada.

Tenten melirik wanita yang tidak lama lagi akan bertarung sengit dengannya. Gadis yang seumuran dengan Tenten tersebut masih tidak melepas pandangannya dari dua orang yang berusaha memenangkan medali tersebut. Wajah garang tertampang jelas dari raut wajahnya. Namun meski begitu, wajah garangnya tidak bisa menutupi wajah cantiknya.

"Taicho. Kalau boleh tau, siapa dia ?". Tanya Tenten pada Kakashi menunjuk gadis tersebut.

"Dia Sabaku no Temari. Dia adalah kakak perempuan Sabaku no Gaara yang akan menjadi lawan Sasuke nanti. Mereka dari Sunagakure". Jawab Kakashi.

"Begitu. Dia cantik". Kata Tenten.

"Kau benar. Tapi jangan pernah kau meremahkan dia. Turnamen lalu, lawannya mengalami patah tulang belakang setelah bertanding dengannya. Meski pun posisnya sama sepertimu, tapi kemampuannya hampir melampaui atlet sabuk hitam. Hanya kau dan dia yang tersisa di pertandingan final ini". Kata Kakashi.

"Taicho, kau membuatku gugup". Kata Tenten setelah mendengar sedikit penjelasan Kakashi tentang Temari.

"Kau tenang saja. Kalau sampai terjadi sesuatu, ambulance siap 24 jam untukmu". Goda Kakashi.

"Taicho !". Teriak Tenten meremas kedua tangan Kakashi gemas dan dibalas kekehan kecil oleh sang guru.

"Tenten Sarutobi dari Konohagakure, melawan Sabaku no Temari dari Sunagakure". Teriak pembawa acara.

Tenten yang mendengar itu terkejut bukan main ketika mendengar namanya disebut. Ia tidak menyangka akan secepat ini gilirannya tiba.

"Baiklah Tenten. Sekarang giliranmu. Jangan gugup dan jangan sekali-kali menampakkan wajah ketakutan atau khawatir di hadapannya. Karena jika sampai itu tejadi, dia akan dengan mudah membaca pergerakanmu". Kata Kakashi meletakkan kedua tangannya di bahu Tenten.

"Hai Taicho". Balas Tenten mantap.

"Berjuanglah". Kata Sasuke menatap manik mata Tenten.

"Hn". Balas Tenten semangat dan berlari menuju tempat yang telah disediakan.

"Aku berani bertaruh, si gadis pirang yang akan memenangkan pertandingan ini". Kata laki-laki yang duduk di depan Sasuke.

"Aku yakin, gadis manis itu yang akan mengalahkan gadis pirang itu dengan mudah". Balas laki-laki yang satunya.

Sasuke hanya bisa tertawa kecil mendengar percakapan singkat dihadapannya.

oOo

Tenten menyiapkan kuda-kudanya untuk menghadapi gadis dihadapannya. Temari menatap tajam dirinya yang kini telah bersiap menyerangnya sebelum teriakkan untuk memulai pertarungan terdengar. Tenten tau kalau gadis dihadapannya mempunyai kemampuan yang jauh melebihi dirinya. Tapi itu tidak membuatnya pesimis menghadapi gadis itu.

'Semangat Tenten. Kau pasti bisa. Tousan, Kaasan. Jika aku bisa membawa pulang medali, akan kupersembahkan medali ini untuk kalian berdua'. Batin Tenten memejamkan kedua matanya.

Buggkk..,

Tenten tersungkur setelah kaki kanan Temari berhasil menghantam pipi kanannya. Tenten terlalu lama larut dalam pikirannya sampai-sampai ia tidak mendengar aba-aba yang telah di bunyikan.

Sasuke dan Kakashi yang melihat adegan singkat tersebut sangat terkejut melihat Tenten tersungkur. Mereka berdua tidak menyangka Tenten akan tumbang semudah itu.

"Sudah kubilang, si gadis pirang akan memenangkan pertandingan ini". Kata laki-laki sebelumnya.

Sasuke mengepalkan kedua tangannya mendengar kata-kata itu keluar dari mulut dari laki-laki dihadapannya. Sasuke mengarahkan pandangannya pada Gaara yang tidak lain adalah adik dari Temari. Gaara tersenyum penuh kemenangan melihat pertarungan kakak perempuannya yang beberapa bulan lebih tua darinya.

'Ayolah Tenten, kau tidak selemah itu'. Teriak Sasuke dalam hati.

Tenten berdiri dan mengusap setitik darah yang keluar dari sudut bibirnya. Temari menarik dirinya kebelakang untuk memberi ruang pada Tenten. Kini tidak ada lagi tatapan lembut yang Tenten tampakkan. Tenten mengepalkan kedua tangannya geram. Ia menyiapkan kuda-kudanya. Kali ini Tenten akan maju terlebih dahulu.

Ia mengarahkan tangan kanannya pada perut Temari. Temari segera menyilangkan kedua tangannya di depan perut begitu ia melihat Tenten mengincar perutnya. Namun tanpa Temari sangka, tangan kiri Tenten yang masih bebas segera menyikut leher kanan Temari. Seketika itu juga, Temari tersungkur di kaki Tenten.

"Ck, dia melakukanya lagi". Kata Sasuke tertawa renyah.

"Lihatlah, apa kau masih yakin kalau gadis pirang itu akan menang ?". Tanya laki-laki yang medukung Tenten tadi.

"Kita lihat saja". Jawab laki-laki yang satunya.

oOo

Tidak ada raut wajah menyerah sedikit pun terlihat dari wajah mereka masing-masing. Serangan demi serang telah Tenten tujukan pada temari. Begitu pun sebaliknya. Meski pertandingan ini sedikit tidak adil bagi Tenten mengingat kemampuan Temari. Namun hingga 15 menit berlalu, tidak ada satu pun dari mereka yang menyerah begitu saja. Saat Tenten dan Temari tersungkur karena serangan lawan, mereka segera berdiri lagi. Mereka kembali tersungkur lagi, dan berdiri kembali. Rasa lelah jelas terlihat dari wajah cantik mereka berdua. Namun meski begitu, tidak ada satu detik pun dari mereka berpikir untuk menyerah. Keduanya sama-sama Keukeuh akan membawa pulang medali tersebut.

Brukk…

Temari akan jatuh terduduk jika ia tidak menahan berat badannya dengan kedua lututnya. Temari terlihat sangat kepayahan bernafas. Ia melihat tajam tenten yang masih berdiri tegak 1 meter di hadapannya. Begitu juga Tenten, yang masih ngos-ngosan akibat dari pertarungan 15 menit tanpa henti ini.

Temari segera bangkit setelah sekitar 1 menit mengistirahatkan dirinya. Ia menyiapkan kuda-kudanya sekuat mungkin. Ia menggengam erat tangannya menahan amarah yang telah memuncak karena lawan di hadapannya belum juga menyerah. Ia mengumpulkan sisa-sisa tenaga yang tertinggal pada dirinya. Ia akan meyerang Tenten setelah ini. Jika teknik yang ia gunakan kali ini tidak berhasil juga, ia memutuskan untuk menyerah. Temari kira ia dapat melakukan ini dengan mudah. Tapi dia salah, dia terlalu meremahkan gadis bermata hazel bernama Tenten dihadapannya.

Tidak mau kalah dengan Temari, Tenten juga menyiapkan kuda-kudanya. Ia berharap bisa mengalahkan Temari dengan sisa tenaga yang ia miliki sekarang. Tenten menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan. Ia tidak akan kalah hari ini. Inilah pertandingan yang sangat ia tunggu-tunggu. Bertahun-tahun menjadi atlet Karate, baru kali ini dia mendapatkan lawan yang melampaui dirinya. Maka dari itu, dia tidak mau menyerahkan medalinya begitu saja pada gadis dihadapannya ini.

Tenten sangat terkejut saat melihat Temari berusaha memukul dada Tenten dengan tangan kanannya. Tapi beruntung bagi Tenten segera sadar dari lamunannya. Ia menarik badannya ke kiri untuk menghindari pukulan Temari yang Tenten rasa ia akan pingsan seketika jika pukulan itu mengenai dirinya. Tidak hanya sampai disitu saja. Kaki kiri Temari berusaha membegal kedua kaki Tenten. Namun Dewi Fortuna sedikit memihak pada Tenten. Karena sebelum ia jatuh tersungkur karena kaki Temari, ia segera menyadari akan hal itu. Ia melompati kaki Temari yang melintas dibawah kakinya. Ia menggunakan kedua bahu Temari untuk memberinya tumpuan agar bisa melompat lebih tinggi.

Setelah Tenten menjejakkan kakinya di matras, ia segera membalas serangan Temari. Tenten akan menyerang Temari, namun ia urungkan niatnya karena Temari menarik tubuhnya sedikit menjauh darinya. Beberapa detik kemudian, lagi-lagi Temari menyerang Tenten. Ia merentangkan kedua tangannya bermaksud untuk menahan tubuh Tenten agar tidak berkutik. Dengan begitu, ia bisa mengalahkan Tenten dengan sekali ayunan tangan.

Namun Temari harus menerima kegagalan, ketika Tenten menekuk kedua lututnya kebelakang dan melewati dirinya melalui kedua kakinya yang terbuka lebar. Seketika itu juga setelah Tenten berhasil melewati Temari, Tenten segera menganyunkan tangan kirinya sekencang mungkin pada lutut belakang Temari. Tidak membutuhkan waktu lama untuk membuat Temari tersungkur karena serangan dari Tenten. Temari masih tidak mau menyerah begitu saja. Ia berusaha bangkit dari posisinya sekarang. Tenten tidak mau menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Belum sempat Temari berdiri sempurna dengan kedua kakinya, Tenten dengan segera membegal kedua kaki Temari dari belakang hingga si pemilik tubuh tersungkur kearah kiri.

Prok..prok..prok..prok..prok..

Riuh tepuk tangan penonton memenuhi setiap sudut gedung tempat pertadingan. Berakhir sudah. Pertarungan antara Tenten Sarutobi vs Sabaku no Temari dengan nama 'Tenten Sarutobi' terpampang jelas di layar LCD berukuran besar sebagai pemenang turnamen karate wanita tahun ini.

Kakashi melompat senang setelah juri memutuskan menunjuk Tenten sebagai pemenang. Sedangkan Sasuke hanya tersenyum senang melihat Tenten berhasil mengalahkan Temari.

Gaara menampakkan senyum kecut ketika melihat Tenten berlari penuh semangat kearah Kakashi dan teman-temannya. Sedangkan kedua lelaki yang bertaruh tadi, dia yang mendukung Temari harus rela kehilangan beberapa lembar uangnya karena ia telah kalah taruhan.

Setelah berhasil menggapai Kakashi, Tenten dengan segera memeluk erat senseinya tersebut. Sebaliknya, Kakashi juga membalas pelukan Tenten erat. Bahkan Kakashi melemparkan tubuh Tenten keatas saking senangnya.

"Taicho, aku berhasil". Kata Tenten menangis.

"Aku tau kau pasti bisa". Balas Kakashi mengusap air mata Tenten.

"I..ita". Lirih Tenten saat tangan kanan Kakashi menyentuh lebam di sudut bibirnya.

"Oh, gomen". Kata Kakashi.

"Arrigatou Taicho. Ini semua karenamu". Kata Tenten.

"Ini juga karena Gai Taicho. Kau harus memberinya sesuatu sekembalinya kita dari sini". Kata Kakashi.

"Benar juga. Apa yang harus aku berikan padanya ?". Tanya Tenten.

"Mungkin kau harus membuatkannya sepanci penuh Kari. Atau kau bisa membelikannya selusin stocking ketat berwarna hijau". Jawab Kakashi yang membuat Tenten dan teman-temannya yang mendengar perkataan Kakashi tertawa terbahak-bahak.

"Selamat ne. kau pantas mendapatkannya". Kata Sasuke tiba-tiba memasuki kerumunan anak yang mengerumuni Tenten dan Kakashi.

"Sasuke. Arrigatou". Balas Tenten tersenyum manis.

oOo

"Uchiha Sasuke dari Konohagakure, melawan Sabaku no Gaara dari Sunagakure". Kata Pembawa acara.

Sasuke beranjak dari duduknya dan menyiapkan mental untuk mengalahkan laki-laki berambut merah yang menatap tajam dirinya. Sasuke menarik nafas sedalam-dalamnya sebelum ia berjalan menuju arena.

"Sasuke". Panggil Tenten menahan tangan kiri Sasuke.

Sasuke menolehkan kepalanya pada Tenten yang masih mengenggam tangan kirinya. "Ganbatte". Kata Tenten mengepalkan tangan kanannya. "Hn. Arrigatou". Balas Sasuke tersenyum lalu mengusap kepala Tenten dan berlalu pergi.

Sasuke telah berada dihadapan Gaara. Begitu juga sebaliknya. Masing-masing dari mereka saling melemparkan tatapan tajam seakan-akan telah ada dendam lama yang muncul kembali. Tatapan yang mereka tampakan semakin tajam ketika aba-aba untuk bertarung telah di teriakkan beberapa detik setelahnya.

"Taicho, apa yang terjadi dengan Sasuke ?".Bisik Tenten.

"Sebenarnya Sasuke dan Gaara telah menjadi rival sejak pertemuan terakhir mereka di turnamen tahun lalu. Saat itu Gaara yang sedikit kurang sehat memaksakkan diri untuk menghadapi Sasuke. Gaara bilang, ini adalah kesempatan yang mungkin tidak akan datang untuk yang kedua kalinya. Gaara sangat ingin menghadapi Sasuke setelah ia mendengar Sasuke memenangkan turnamen di London kurang lebih sekitar 2 tahun yang lalu. Gaara yang kala itu kurang sehat harus menerima kekalahannya ketika Sasuke berhasil membuatnya tidak berdaya kurang dari 5 menit. Dan hari ini adalah keberuntungan baginya karena ia mendapat kesempatan kedua untuk membalaskan dendamnya pada Sasuke". Jelas Kakashi.

"Taicho, apa kali ini Sasuke akan mengalahkan Gaara lagi ?". Tanya Tenten harap-harap cemas ketika melihat dua lelaki bertarung sengit di hadapnnya.

"Entahlah, aku juga tidak tau. Tapi kelihatannya ini akan menjadi pertarungan yang memakan waktu lama. Gaara sudah menyiapkan mentalnya sejak jauh-jauh hari sebelum turnamen ini diadakan. Teknik yang digunakan oleh Gaara kini juga jauh berbeda dari teknik yang ia gunakan tahun lalu ketika menghadapi Sasuke. Begitu juga sebaliknya, Sasuke telah berlatih keras sepanjang tahun ini. Jadi, mustahil jika Gaara bisa menumbangkan Sasuke hanya dengan satu kali hentakkan. Dan akan menjadi perjuangan yang tidak mudah bagi Sasuke untuk mengalahkan Gaara. Mereka sangat imbang satu sama lain". Jawab Kakashi.

20 menit berlalu, namun teriakkan untuk menandakkan selesainya pertarungan belum juga terdengar. Kedua lelaki tampan itu belum juga menyerah untuk mengalahkan lawannya. Penonton yang melihat pun juga tidak terdengar suaranya. Mereka seakan berhenti bernafas melihat pertarungan antara Sasuke dan Gaara.

Sudah berkali-kali Sasuke tersungkur kebawah mendapat serangan demi serangan dari Gaara. Begitu juga Gaara yang telah menerima pukulan demi pukulan yang Sasuke layangkan padanya hingga membuat wajahnya babak belur. Tetesan keringat yang mengucur deras dari pelipis mereka masing-masing telah membanjiri baju mereka. Belum terlihat raut wajah menyerah dari mereka berdua. Keduanya sama-sama keras kepala tidak mau mengalah.

"Apa pertarunganku dengan Temari tadi sesengit ini ?". Tanya Tenten.

"Tidak. Ini lebih dari itu". Jawab Kakashi.

"Taicho, sampai berapa lama ini akan terjadi ?". Bisik Tenten yang dibalas gelengan kepala oleh Kakashi.

Sasuke berdiri dan menyiapkan kuda-kuda untuk melawan Gaara lagi. Begitu juga Gaara yang juga menyiapkkan kuda-kudanya untuk menumbangkan Sasuke. Sasuke berniat akan menyerang Gaara sebelum teriakkan juri menghentikan permainan. Kedua lelaki tersebut tertegun, kenapa permainan di hentikan.

"Pertarungan kalian berdua akan di lanjtukan nanti. Kalian butuh istirahat dan mengobati luka kalian". Kata juri.

Sasuke melangkah kan kakinya malas menjauhi matras menuju ruang ganti yang telah disediakan untuknya dan teman-temannya. Sedangkan Tenten yang melihat Sasuke menuju ruang ganti menatap lemah pada lelaki itu. Menurutnya ia akan menang jika juri tidak menghentikan pertandingan ini.

"Pergilah". Kata Kakashi pada Tenten.

"A..aku ?". Kata Tenten.

"Kau tidak lihat Temari menghampiri Gaara. Kurasa Sasuke juga membutuhkanmu". Kata Kakashi melirik Temari yang membawakan obat merah untuk adiknya. Setelahnya, Tenten memalingkan matanya pada teman-temanya yang lain.

"Pergilah". Kata temannya dan diikuti anggukan kepala oleh yang lainnya.

Tenten membuka pintu ruang ganti dan melihat Sasuke duduk dibawah dengan menggunakan dinding ruangan sebagai sandaran. Tenten menyambar tas miliknya yang tak jauh dari tempat dirinya berdiri. Setelah ia mengambil kotak P3K dan sebotol air dari tasnya, Tenten segera duduk dihadapan Sasuke dan mengeluarkan obat merah di dalam kotak kecil itu.

"Apa yang kau lakukan disini ?". Tanya Sasuke mendongakkan kepalanya ketika mendapati Tenten duduk dihadapannya.

Tenten tidak menjawab pertanyaan Sasuke. Ia terus saja meneteskan sedikit obat merah ke bola kapas dan mengusapkannya pada lebam yang ada di wajah Sasuke.

"Aku baik-baik saja". Kata Sasuke menepis pelan tangan kanan Tenten yang berada diwajahnya.

Tenten melihat Sasuke sesaat ketika lelaki dihadapannya menepis tangannya yang berusaha menolongnya. Begitu juga Sasuke yang menatap manik mata Tenten yang seolah mengatakan 'Diamlah, aku berusaha membantumu'. Beberapa detik setelahnya, Tenten segera melanjutkan lagi mengobati luka di wajah Sasuke. Sasuke hanya bisa pasrah mendapat bantuan kecil dari gadis yang berjarak beberapa centi dihadapannya.

Setelah Tenten mengobati Sasuke, Tenten segera menyerahkan sebotol air yang berada disampingnya pada Sasuke. Sasuke tidak menerima air pemberian Tenten, ia hanya menatap Tenten yang masih menyodorkan sebotol air padanya. Karena tidak mendapat respon dari Sasuke, Tenten membuka tutup botol di gengamannya dan menyerahkannya kembali pada Sasuke. Namun Sasuke tidak juga menerimanya.

"Ayolah, sampai kapan kau akan diam terus seperti ini ?". Tanya Tenten memutar bola matanya.

"Sudah kubilang, aku tidak butuh bantuanmu". Kata Sasuke dingin.

"Baiklah, kau tidak membutuhkan bantuanku. Lalu apa ?. Apa setelah kau menolak bantuanku kau akan memenangkan pertandingan ini ?". Tanya Tenten. Sasuke hanya bisa diam mendengar pertanyaan yang Tenten lontarkan padanya. "Ada apa denganmu ?. Kau tidak seperti ini beberapa hari yang lalu". Kata Tenten lagi.

"Aku hanya berpikir, apa aku bisa mengalahkannya setelah ini ?". Jawab Sasuke pada akhirnya.

"Hohoho….". Tenten tertawa lalu melanjutkan kata-katanya. "Sejak kapan Sasuke yang aku kenal menjadi seorang yang pesimis ?. Ayolah Sasuke, kau tidak selemah itu. Kakashi Taicho pernah bilang padaku, kalau kau pernah mengalahkan seseorang berbadan kekar hanya dengan sekali hentak. Lalu, kenapa kau harus pusing memikirkan lelaki yang bahkan tubuhnya tidak lebih besar darimu ?". Tanya Tenten dengan nada mengejek. Sasuke menatap Tenten yang berusaha menyemangati dirinya. "Aku yakin kau pasti menang". Kata Tenten mantap.

"Kenapa kau bisa seyakin itu ?". Tanya Sasuke.

Tenten tidak langsung menjawab pertanyaan Sasuke, melainkan ia menarik dirinya di samping kiri Sasuke dan duduk di sebelahnya dengan punggung tersandar. "Apa kau tau, apa yang memotivasiku untuk mengikuti turnamen ini ?". Tanya Tenten menolehkan kepalanya menghadap Sasuke. Sasuke hanya menggeleng pelan. "Kau". Lanjut Tenten singkat.

"Aku ?". Tanya Sasuke heran. "Yah, kau. Setelah aku dengar kau berhasil memenangkan turnamen Karate di London, aku jadi sangat ingin sepertimu. Aku berusaha keras berlatih agar aku bisa mengikuti turnamen bergengsi yang kau ikuti 2 tahun yang lalu". Kata Tenten memalingkan pandangannya pada loker-loker yang berjarak beberapa meter dari dirinya dan Sasuke berada. "Aku mengikuti Karate sejak aku berusia 7 tahun. Alasanku mengikuti Karate adalah agar aku bisa membela yang lemah. Aku berpikir seperti itu ketika aku melihat adikku Konohamaru yang saat itu masih duduk di taman kanak-kanak di bully oleh teman sekelasnya hanya karena dia tidak tau apa-apa tentang game, 'Yah, meski pun dia kini adalah maniak game'. Sebagai kakak aku ingin sekali menghajar anak yang membully Konohamaru saat itu. Tapi apa yang bisa aku lakukan ?. Aku hanya gadis kecil lemah yang tidak tau apa-apa dan tidak bisa apa-apa. Sebenarnya aku berniat menceritakan ini pada Tousan dan Kaasan, tapi Konohamaru melarangku untuk melakukan itu. Dia takut kalau sampai teman-temannya yang membully dirinya dimarahi oleh guru. Dia juga takut kalau sampai itu terjadi mereka tidak mau berteman dengan Konohamaru lagi". Tenten memutus sejenak ceritanya untuk mengambil nafas dan menghembuskannya berat dan melanjutkannya. "Awalnya Tousan dan Kaasan tidak mengizinkan aku masuk club Karate. Karena aku adalah seorang wanita. Dan lagi, aku adalah satu-satunya cucu perempuan Nenek. Setelah, aku berhasil merayu Tousan dan Kaasan, akhirnya mereka menyetujuinya. Aku mulai mengikuti Karate sejak saat itu. Aku semakin menyukai karate hingga aku menginjak usia sekarang ini. Aku merasa, Karate adalah bidang yang Tuhan takdirkan untukku. Apalagi saat aku tau kalau teman sekolahku adalah atlet Karate internasional. Seperti kau. Aku semakin termotivasi untuk menyaingi dirimu". Kata Tenten tersenyum pada Sasuke.

"Aku bisa mengalahkan kakaknya yang kemampuannya jauh di atasku. Lalu, kenapa kau berpkir kau tidak bisa mengalahkan adiknya ?. Apa kata orang, jika pemenang turnamen Karate di London kalah melawan si rambut api dari Sunagakure". Kata Tenten semakin memanasi. "Jadi, kau harus memenangkan pertandingan ini. Anggaplah kau berhutang medali padaku. Ganbatte ne !". Kata Tenten mengepalkan kedua tangannya dan tersenyum beberapa saat lalu beranjak berdiri hendak meninggalkan Sasuke.

Belum sempat Tenten berdiri sempurna, Sasuke sudah menahan tangan gadis itu agar tidak meninggalkannya. Sasuke menatap manik mata Tenten dan berkata "Berjanjilah, jika aku menang, kau akan menemuiku di pantai beberapa hari yang lalu sepulang kita dari sini". Tenten mengagguk setuju pada lelaki yang masih menahan tangannya.

Sasuke keluar dari ruangan tersebut bersamna dengan Tenten. Pertandingan akan dimulai untuk yang kedua kalinya. Sasuke keluar dengan wajah penuh keyakinan. Begitu juga Tenten yang keluar dari ruangan dengan senyum mengembang.

Sasuke melangkahkan kakinya menuju matras yang kini telah tersaji Sabaku no Gaara disana. Ia melangkah penuh percaya diri. Sedangkan Tenten menghampiri Kakashi dan teman-temannya yang duduk di kursi para Atlet.

"Apa yang kau lakukan padanya ?". Tanya Kakashi sedikit terkejut melihat perubahan raut wajah Sasuke.

"Tidak ada. Hanya perjanjian kecil". Jawab Tenten mengibaskan tangan kanannya.

"Janji apa ?". Tanya Kakashi penasaran.

Tenten mengayunkan tangannya agar Kakashi mendekatkan telinganya padanya. "Itu rahasia, Taicho". Bisik Tenten dengan nada penekanan pada kata 'Taicho'.

Sasuke menatap tajam mata Gaara. Ia menyiapkan posisi yang menurutnya pas untuk menyerang lawannya. Sasuke tau kalau lelaki di hadapannya kini sudah mencapai titik darah penghabisan. Raut wajah lelaki berambut merah itu tidak bisa mengelabui Sasuke.

Gaara menyerang terlebih dahulu ketika peluit tanda permainan di mulai telah terdengar. Lelaki berambut menyala tersebut berusaha meraih tangan Sasuke yang akan menyerangnya. Namun Sasuke yang terlebih dahulu menyadari akan hal itu, segera membegal kedua kaki Gaara hingga lelaki itu jatuh tersungkur kebawah. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Sasuke segera menahan kedua tangan Gaara kebelakang dan menguncinya hingga si pemilik tangan tidak dapat bergerak.

Tidak butuh waktu lama seperti di pertandingan sebelumnya, Sasuke berhasil memenangkan pertandingan tanpa ada serangan berarti yang ia tujukan pada Gaara sedikit pun. Yang ia lakukan hanyalah menghindari, dan menangkis serangan dari lawannya. Hingga ketika lawannya lelah, ia bisa menyergapnya dengan mudah.

Riuh tepuk tangan menggema di gedung tersebut melebihi tepuk tangan yang Tenten dapatkan. Tenten dan Kakashi serta teman-temannya melompat girang ketika juri menetapkan Sasuke sebagai pemenang.

"Kau mau kemana ?". Tanya Kakashi ketika Tenten berjalan melewatinya.

"Aku akan pulang terlebih dahulu. Aku sangat lelah". Jawabnya.

"Kau yakin ?. Apa kau tidak mau ikut merayakan pesta kemenanganmu dan Sasuke ?". Tanya Kakashi.

"Tidak Taicho. Lagipula tidak baik jika seorang perempuan minum sake". Jawab Tenten.

"Aku tidak mungkin mengajak muridku yang masih dibawah umur minum sake. Kami akan pergi ke kedai daging asap". Kata Kakashi.

"Benarkah. Tapi kurasa aku lebih baik pulang. Aku merasa kurang sehat". Kata Tenten.

"Baiklah, mari kuantar pulang". Kata Kakashi.

"Tidak perlu Taicho. Aku bisa pulang sendiri. Aku tau jalan pulang". Kata Tenten berlalu pergi.

"Hei, Tenten". Teriak Kakashi namun tidak di gubris oleh pemilik nama tersebut.

oOo

"Tenten, mana yang lain ?". Tanya wanita penjaga villa saat ia melihat Tenten di ambang pintu.

"Mereka sedang merayakan pesta kemengan. Aku dan Sasuke menang Baasan". Kata Tenten.

"Benarkah, wah. Selamat ya. Kau memang hebat". Kata wanita itu menghampiri Tenten.

"Tidak juga Baasan". Kata Tenten malu. "Kau terlihat tidak sehat. Apa kau sakit ?". Tanya wanita itu. "Sepertinya begitu". Jawab Tenten enteng menaikkan kedua bahunya.

"Kalau begitu aku akan menyiapkan air hangat untukmu mandi. Kau naiklah kekamar". Katanya pada Tenten yang terlihat pucat.

oOo

Tenten naik kekamarnya yang berada di lantai dua setelah ia membersihkan badannya. Tenten menatap pantulan dirinya dari kaca yang ada di kamarnya dan melihat luka sobek kecil di tulang hidungnya akibat benturan yang cukup keras di atas matra tadi. Setelah membalut lukanya dengan plester, Tenten segera naik kekamarnya dan membalut tubuhnya dengan selimut tebal miliknya yang ia bawa dari rumah. Tenten menatap kosong pada jendela terbuka yang menyajikan langit malam sebagai objeknya. Sebenarnya wanita tua penjaga villa sempat menawarkan makanan hangat untuk Tenten santap selagi ia tidak enak badan. Tapi Tenten menolaknya dengan alasan ia ingin istirahat. Sebenarnya bukan hanya itu alasan Tenten menolak tawaran wanita baik hati itu. Ia juga memikirkan perlakuan Sasuke padanya akhir-akhir ini. Apa yang terjadi pada lelaki berambut emo itu ?.

Dan untuk masalah di gunung kemarin, sebenarnya dia sangat mengerti apa maksud perkataan lelaki itu. Tapi,ia terpaksa pura-pura tidak tau karena ia bingung, ekspresi apa yang harus ia tampakkan. Tenten merasa jantungnya seakan berhenti saat Sasuke menahan dirinya dan mengajaknya kembali ke gunung itu. Tenten berpikir, apa itu artinya Sasuke sudah jatuh cinta pada dirinya. Jika itu benar, berarti rencana bodoh Naruto berhasil ia lakukan. Tapi ada sesuatu yang mengganjal di hati Tenten. Hinata. Ya, gadis berambut indigo itulah yang membuat Tenten harus terus berpikir bagaimana ia bebas dari semua ini. Ia takut jika Hinata mengetahui hal ini. Ia takut hati sahabat baiknya itu akan hancur mengingat ia sudah menyukai bocah urakan itu sejak ia, Hinata, dan Naruto masuk di sekolah taman kanak-kanak yang sama. Ia bahkan tidak sadar, sudah selama itu sahabatnya menyukai lelaki yang bahkan tidak mempunyai perasaan sedikit pun padanya tanpa berpaling ke laki-laki lain sedetik pun.

Tenten mengacak-acak rambut basahnya lalu membenamkan wajahnya pada bantal. Ia hampir gila memikirkan ini semua. Ia berharap waktu kembali berputar. Ia menyesal tidak bisa sabar sedikit ketika semua toilet wanita penuh saat itu. Ia menyesal masuk ke toilet yang tidak terurus itu. Ia menyesal bertemu dengan Naruto saat itu. Ia menyesal membanting Naruto saat itu dan menyebabkan semua ini terjadi.

Tenten beranjak dari tempat tidur dan segera mengemas barang-barangnya agar ia tidak terlalu repot esok hari. Ia mengambil baju-bajunya yang ada di dalam lemari kayu berukuran kecil kedalam tas ransel hitam miliknya. Setelah semua beres, Tenten memutuskan kembali ke tempat tidur untuk mengistirahatkan dirinya.

oOo

Sekitar 4 jam perjalanan yang harus di tempuh untuk sampai ke Konoha menggunakan Bus. Bus sekolah Tenten sudah menempuh hampir setengah perjalanan. Tenten menyadarkan kepalanya ke jendela bus dan menghembuskan nafasnya berat. Ia harap perjalanan ini cepat berlalu agar ia bisa bebas dari Sasuke yang selama perjalanan ini menatap lemah pada dirinya. Sebenarnya Sasuke sengaja mengosongkan bangku sebelahnya untuk Tenten. Tapi Tenten lebih memilih duduk di sebelah Kakashi yang telah di isi oleh temannya. Kakashi yang mengetahui perasaan Sasuke pada gadis disebelahnya pun juga sedikit bingung melihat sikap Tenten. Bukan karena Tenten tidak menghargai Sasuke. Tapi Tenten pikir akan lebih baik jika ia sedikit menjaga jarak dengan Sasuke agar rencananya berhasil. Rencana yang ia pikirkan sebelum ia tiba di sini. Rencana yang ia harap akan berhasil tanpa harus melukai perasaan siapa pun.

'Semoga ini semua cepat berlalu'. Batin Tenten memejamkan kedua matanya.

Gimana ?. Apa masih kurang panjang ?. Sekali lagi maaf yak lo kurang panjang, jelek, dan penuh dgn kesalahan critanya #bungkuk ampek tanah. Tapi meski crita nya jelek, Author btuh review dri para reader. Jadi, mohon beri review ne. Klo gk, Author bkal lmparin kalian pkek sesuatu #siapin dynamit :D. Gk ush mkirin Author yg mulai sakit ini ya… :D. Yaudah lah, klo gitu see you in the next chap :D. Byee…. #peluk atu-atu.