Give Me Your Heart
Disclaimer: Still Masashi Senpai
Pair: NaruTen
Slight: SasuTen, SasuSaku, etc
Rated: T
Warning: Typo, Ancur, Gaje, gk jelas alurnya, abal-abal
Yoooo minna, Author back. Dan yang pasti bwa chapie terbaru dari fic yang freak ini :p. Wo wo wo wo. Ternyata banyak yg demo ama Author krena si Naru yang scene nya dkit. Tapi minna tenang aja. Di chapie ini, bnyak kok hint nya Naru dan Ten. Huhu, meski Author gk tau, klian suka apa gk. Tapi semoga aja kalian gk pda bakar Author idup-idup yah stelah baca chapie ini :p :D.
Review:…
Naru-kun93: Iya Author minta maaf chapie kmarin Author fokusnya ke satu scene doang. Alasan chapi sbelumnya yg stu scene doang kan krena si Tenten lgi ngikut turnamen ama si Sasu. Author minta maaf deh ya klo kmu kcewa. Tpi di chap ini bnyak Naru nya kok. Gak apa-apa kok, kan kritk nya membangun (: . So, arrigatou udh mau bca. And keep read ne… (: #nyegir ala Lee :D.
: Hehe, iya. Chapie kmarin khusus SasuTen. Tpi chapie yg ini Naru nya bnyak kok. Naru nya gk di telan bumi. Cman di simpen bntar ama Author #di bogem masashi senpai :D. Arrigatou udh bca (:, smoga gk bosen yah bca chap yang ini :D.
El bany blueblack: Tenten ccok ama Sasuke ?. Gk Neji aja nih ? #Plakk.. :D. He`em, bosen klo si Naru ama Saku or Hina trus. Neji aja sering di pinjem ama Saku or Hina. Masa si Tenten gk boleh minjem Naru ama Sasu ?. Kan kesian si Tenten pasangannya di pnjem mulu :D #Plaakk…*lupakan. Udh di lanjut nih. Siap-siap obat jantung ne :D.
Trisna: Ya, ini udh di lnjut. Arrigatou udh mau bca (: #bungkuk
Namikaze Uzumaki: Ini Naru nya Author taroh di chapie ini. Arrigatou udh mau baca #ksih jempol ala Gai :D.
Nagasaki: Mkasih udh baca. Iya Author juga ngrasa gt waktu bca ulang fic ini (dsar koplak, dia yg bkin, di jga yg bru sadar) :D. Tpi chapie ini ada Naru nya kok. Udh nih, Author smngat bnget. #senyum ala Gai :D.
Reviewer: Sabar…sabar. Ini lnjutannya. Baca gih… :D
Yuris: Naruto nya lgi ada di rumah Author nih :D. Udh nih, Author udh update scepat mungkin. (:
Akira ken: Nih yang di tnggu akira udh dteng. NaruTen ada di chapie ini. Gomen ne kalo kurang bnyak. Tpi kdepan nya, Author bkal bnyakin lgi NaruTen nya. Udh di update nih, kelamaan gk nunggunya ?. :D
Shido: Mkasih ya udh bca fic aku. Tpi fic ini biasa aja kok. Gk smpai luar biasa gt, hehe :p. Stuju, Naru hrus dpet yg terbaik. Hehe, trnyata Author bisa bkin reader penasaran juga :p. Tngguin aja deh ya. Apa rncana Tenten… :D #smoga gk bulukan nunggu nya :D. Tpi klo bleh tau, ada apa dengan sifat Saku dan Ino. Terlalu kejam kah ? :D :p.
"Hinata". Panggil Tenten pada sahabat baiknya itu. "Oh, Tenten. Hai". Sapa Hinata. "Kau mau kemana hari ini ?". Tanya Tenten.
"Tentu saja pulang". Jawab Hinata singkat. "Boleh aku ikut ?". Tanya Tenten. "Kau tidak latihan ?". Tanya Hinata balik.
"Kakashi senpai memberi kami libur seminggu setelah turnamen kemarin. Boleh ya, aku sangat merindukanmu". Kata Tenten memeluk Hinata. "Baiklah. Ayo". Balas Hinata merangkul Tenten.
Hanya tinggal beberapa langkah Tenten sampai si mobil Hinata, ia melihat Sasuke yang hendak menghampirinya. Tenten mendorong punggung Hinata agar berjalan lebih cepat.
"A..Ada apa ?". Tanya Hinata terkejut. "Ti..tidak. A..aku lapar". Jawab Tenten asal.
Setelah sopir pribadi Hinata memasukkan sepeda Tenten kedalam bagasi mobil dan melajukan mobilnya, Tenten memalingkan kepalanya kebelakang dan menatap Sasuke yang menatap kepergiannya lemah. Sebenarnya Tenten tidak tega melakukan ini. Tapi harus ia lakukan jika ia ingin melihat orang-orang yang ia sayangi bahagia.
"Kau melihat apa ?". Tanya Hinata mengikuti arah pandang Tenten.
Tenten segera memalingkan kepala Hinata menghadap dirinya. Ia tidak mau Hinata berpikiran macam-macam pada dirinya jika ia tau Sasuke lah yang ia lihat. "Ti..tidak. A..aku hanya…. Sedikit kram. Yah, leherku sedikit kram". Balas Tenten menampakkan senyum palsu. "Ooh". Balas Hinata singkat.
oOo
"Aku merasa sudah lama tidak kemari. Kamarmu juga tidak berubah". Kata Tenten membanting dirinya ke sofa Hinata.
"Hm, semenjak kau pindah kelas". Balas Hinata menyisir rambutnya.
"Huh, kau benar. Aku sungguh sangat kesal pada Naruto saat itu". Balas Tenten memonyongkan bibirnya.
"Apa kabar Naruto hari ini ?". Tanya Hinata yang tiba-tiba duduk di samping Tenten.
"Hi..Hinata, kenapa kau selalu agresif jika aku menyebut nama Naruto ?". Tanya Tenten menatap Hinata.
"Kau sudah tau kan alasannya. Jadi bagaimana kabarnya ?". Tanya Hinata lagi.
"Hm, yah. Dia baik-baik saja. Tidak ada tanda-tanda dia akan terserang penyakit parah". Jawab Tenten santai. 'Mungkin ini saat yang tepat'. Batin Tenten. "Eh, a..ano. Hi..Hinata". Panggil Tenten lirih.
"Ano, a..apa kau sangat menyukai Na..Naruto ?". Tanya Tenten meski ia tau apa jawaban yang akan Hinata lontarkan padanya.
"Kenapa kau bicara seperti itu ?". Tanya Hinata balik.
"A..apa kau su..sudah ti..tidak bisa me..mencintai laki-laki lain ?". Tanya Tenten meremas kedua tangannya. 'Aku hanya tidak ingin kau hancur jika kau tau Naruto sama sekali tidak memiliki perasaan padamu'. Batin Tenten.
"Apa maksudmu ?". Tanya Hinata balik.
"Ti..tidak. Lupakan saja". Kata Tenten mengibaskan tangannya.
"Kau aneh sekali". Balas Hinata singkat.
"Hinata-sama, waktunya makan siang". Panggil pelayan keluarga Hyuuga dari luar kamar Hinata.
"Apa kau lapar ?". Tanya Hinata. "Apa kau tidak bisa melihatnya dari raut wajahku ?". Tanya Tenten balik. "Hm, kau memang selalu lapar". Kata Hinata menarik Tenten.
oOo
"Apa kau yakin kau pulang sendiri ?". Tanya Hinata.
"Hn, aku tau jalannya. Kau tenang saja". Jawab Tenten menaiki sepedanya.
"Aku tau, tapi ini sudah malam. Kau tidak takut ?". Tanya Hinata lagi.
"Kau lupa aku pemenang turnamen Karate tahun ini ?. Sudah ya, sampai besok. Daaah…". Kata Tenten mengayuh sepedanya keluar rumah keluarga Hyuuga.
Tenten menghentikan sepedanya di sebuah taman yang tidak jauh dari rumahnya. Ia menatap jam tangannya yang masih menunjukkan pukul 19.00. Setelah mendengar perkataan Hinata tadi yang sama sekali tidak menunujukkan tanda-tanda akan berpaling ke orang lain. Yah, paling tidak pada Neji lelaki yang jelas-jelas lebih baik dan cerdas. Mengingat lelaki itu juga menyukai dirinya. Jauh jika dibandingkan dengan Naruto yang bodoh dan urakan.
Tenten kembali menghembuskan nafasnya berat untuk kesekian kalinya. Tidak terhitung berapa kali Tenten melakukan hal itu akhir-akhir ini. Hanya untuk berharap agar ia bisa lepas dari masalah ini. Ia merasa rencananya akan semakin sulit untuk di lakukannya mengingat Hinata yang sudah cinta mati pada Naruto.
"Minumlah agar kau sedikit lebih tenang". Kata seseorang menyodorkan sekaleng minuman pada Tenten.
"Konohamaru ?". Kata Tenten sedikit terkejut. "Kenapa kau belum pulang ?". Tanya Tenten lagi.
"Aku baru saja selesai kerja kelompok dengan Udon dan Mamoru". Jawabnya.
"Oh, dirumah siapa ?". Tanya Tenten sambil menerima minuman dari adiknya.
"Moegi". Balas Konohamaru singkat. "Kenapa wajahmu terlihat lesu ?". Tanya Konohamaru lagi.
"Hmmmh, jangan menanyakan hal itu. Aku tidak mau mengatakannya". Jawab Tenten menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Biar kutebak. Apa ini ada hubungannya dengan cinta ?". Tanya Konohamaru memberi sedikit penekanan nada pada kata-kata 'Cinta'.
"Hei bocah, kau ini masih kecil. Kenapa kau bicara soal cinta ?". Sergah Tenten.
"Bocah ?. Kalau begitu, apa kau pikir kau sudah dewasa ?. Kau saja baru menginjak 17 tahun. Tousan dan Kaasan lebih dewasa darimu". Ejek Konohamaru.
"Kalau Tousan dan Kaasan bukan dewasa, tapi tua. Mereka berdua sudah melewati masa dewasanya". Balas Tenten tidak mau kalah.
"Huh, kau ini. Tidak dirumah, tidak di luar, kau sangat suka berteriak". Kata Konohamaru.
"Orang mana pun juga akan berteriak jika mempunyai adik sepertimu". Balas Tenten meneguk kasar minumannya. Sebenarnya ia tidak ingin berteriak seperti ini. Tapi harus ia lakukan untuk menghilangkan rasa gugupnya karena tebakan adiknya sangat tepat.
"Meski aku masih kecil, aku tau apa itu cinta". Kata Konohamaru memalingkan matanya pada perempuan kecil yang tengah berada di kursi ayunan.
"Huh, daripada kau memikirkan cinta, pikirkan saja nilaimu yang sungguh tidak sedap di pandang mata itu". Ejek Tenten.
"Nilaiku tidak terlalu buruk". Kata Konohamaru. "Tidak terlau buruk kau bilang ?. Asal kau tau, nilaimu selama ini jika semuanya dijumlahkan pun, tidak akan sampai ke angka 100 kau tau". Balas Tenten.
"Neesan, kau ini sangat menyebalkan. Kenapa kau tidak pernah mengajariku kalau kau memang cerdas ?". Kata Konohamaru tidak terima.
"Apa kau pernah memintaku untuk mengajarimu ?. Selama hidupmu, kau hanya memintaku untuk menemanimu bermain game setiap hari. Kenapa kau menyalahkanku ?". Balas Tenten menarik telinga Konohamaru.
"I..ita". Rintih Konohamaru.
"Naik apa kau kemari ?". Tanya Tenten melepas telinga adiknya.
"Tadi aku akan diantar Udon kerumah. Tapi saat aku lihat Neesan disini, aku memintanya untuk menurunkan aku disini". Jawab Konohamaru mengelus telinganya yang merah.
"Kalau begitu, kita pulang. Dan kau harus memboncengku". Kata Tenten.
"A..aku ?". Tanya Konohamaru. "Ya, kau kan laki-laki". Jawab Tenten melipat kedua tangannya di depan dada.
"Tapi Neesan, kau kan berat". Kata Konohamaru polos.
"Apa ?. Berani sekali kau mengejekku gendut". Marah Tenten.
"Aku tidak bilang begitu. Aku hanya mengatakan kalau badanmu berat". Balas Konohamaru.
"Itu sama saja bocah. Kami-sama, kenapa kau memberiku adik seperti ini ?". Kata Tenten sedikit menekan pelipisnya.
Konohamaru duduk di pedal sepeda Tenten, sedangkan Tenten berdiri di belakangnya dan menggunakan kedua bahu Konohamaru untuk pegangan.
"Semoga saja Kaasan masak banyak hari ini". Gerutu Konohamaru mengayuh sepedanya.
"Apa kau bilang ?". Tanya Tenten yang sedikit mendengar gerutuan adiknya.
"Lelaki itu sangat bodoh, bagaimana bisa dia menggendong anaknya dengan kedua tangannya". Jawab Konohamaru asal sembari melirik lelaki muda yang menggendong anaknya.
'Bukankah itu sudah biasa ?. Siapa yang bodoh disini ?'. Pikir Tenten ikutan bodoh mendengar jawaban bodoh Konohamaru. "Hei..". Teriak Tenten terkejut dan mengeratkan pegangannya pada bahu Konohamaru saat adiknya tiba-tiba mengayuh sepedanya lebih kencang.
"Dasar bodoh, kau tau. Aku hampir jatuh tadi". Teriak Tenten tepat di telinga Konohamaru.
"Hanya hampir kan ?. Kenapa kau marah ?". Balas Konohamaru tersenyum penuh kemenangan setelah berhasil mengusili kakaknya.
oOo
"Darimana kalian ?. Tumben sekali pulang berdua ?". Tanya Kurenai menghampiri kedua anaknya.
"Yah, tadi aku tidak sengaja bertemu dengannya". Jawab Konohamaru.
"Lalu, kau dari mana ?. Kenapa baru pulang". Tanya Kurenai menatap Tenten.
"Rumah Hinata. Kaasan, aku lelah. Aku mau istirahat". Kata Tenten melangkahkan kakinya menuju kamarnya.
"Tidak makan dulu ?". Tanya Kurenai.
"Tidak Kaasan, aku masih kenyang". Jawab Tenten meninggalkan Ibunya dan Konohamaru.
"Apa itu artinya jatah makan malammu kau berikan untukku ?". Tanya Konohamaru.
"Terserah kau saja". Balas Tenten malas.
"Asiiik…". Kata Konohamaru berlari ke meja makan.
"Apa ada yang terjadi ?". Tanya Kurenai pada anak bungsunya yang tengah melahap nasinya.
"Aku tidak tau". Jawab Konohamaru singkat.
"Kau tenang saja. Mungkin dia sedang memikirkan masalah yang sering dialami oleh para remaja". Kata Asuma menanggapi.
"Benar juga". Kata Kurenai melahap pelan makanannya.
.
.
.
.
.
"Apa kalian melihat Tenten ?". Tanya Sasuke pada Shino dan Chouji.
"Yah, kulihat dia tadi berjalan menuju kantin sepertinya". Jawab Chouji.
"Kenapa kau mencarinya ?". Tanya Shino. "Bukan urusanmu". Balas Sasuke meninggalkan mereka berdua.
"Dasar aneh". Cibir Shino.
"Siapa yang Sasuke cari ?". Tanya Sakura menghampiri Shino dan Chouji.
"Tenten. Apa kau juga ada perlu dengannya ?". Tanya Chouji polos.
'Tenten ?. Huh, ternyata masih punya nyali dia'. Pikir Sakura.
"Sakura, kurasa dia harus kita eksekusi sekali lagi". Bisik Ino.
"Tidak, aku punya cara lain". Kata Sakura menyeringai.
"Cara apa ?". Tanya Chouji. "Bukan urusanmu". Balas Sakura menarik Ino pergi.
"Mereka berdua sangat serasi". Kata Shino. "Siapa ?". Tanya Chouji. "Sasuke dan Sakura". Balas Shino singkat.
oOo
"Naruto". "Naruto". Panggil seseorang bersamaan.
Naruto memalingkan padangannya kebelakang untuk melihat siapa orang yang memanggilnya. Kini telah berdiri dua orang gadis yang berdiri di belakangnya. Yang satu berdiri di sebelah pilar, sedangkan yang satu lagi berdiri di samping gadis berambut pirang di koridor sekolah.
"Waah, aku salut padamu. Dua gadis cantik memanggilmu". Kata Sai.
"Mana yang akan kau pilih ?. Kalau kau memilih Sakura, apa Tenten boleh untukku ?". Tanya Lee.
"Diam kalian berdua". Sergah Naruto pada dua temannya dan beranjak dari bangku kantin.
Sedangkan Tenten dan Sakura, saling melemparkan death glear mereka masing-masing sebelum Naruto menghampiri mereka.
"Ya, Sakura". Kata Naruto menghampiri Sakura.
'Dasar mata keranjang. Sudah kuduga ia akan menghampiri Sakura terlebih dulu'. Pikir Tenten dongkol.
"Apa kau ada waktu malam ini ?". Tanya Sakura.
"Ya, sepertinya begitu. Kenapa ?". Tanya Naruto.
"Tidak ada. Aku hanya ingin mengajakmu kencan. Apa kau mau ?". Tanya Sakura.
'Agresif sekali gadis ini'. Batin Tenten.
"Tentu saja. Kapan ?". Tanya Naruto lagi.
"Malam ini. Aku tunggu kau dirumahku. Sampai nanti". Kata Sakura melirik Tenten penuh kemenangan.
"Sampai nanti". Balas Naruto melihat kepergian Sakura.
'Apa-apaan dia ?'. Batin Tenten geram.
"Nah, sekarang kau Panda. Apa yang kau mau ?". Tanya Naruto menghampiri dengan suara yang sedikit tinggi. Berbeda sekali saat ia berbicara dengan Sakura.
"Tidak ada". Balas Tenten memalingkan wajahnya.
"Kau hanya membuang-buang waktuku. Kau tau ?". Kata Naruto.
'Anak ini….'. Batin Tenten geram. Beberapa detik kemudian, Tenten dengan sengaja mengangkat sedikit kaki kanannya dan menjatuhkannya di atas kaki kiri Naruto.
"Aaaah, kau gila ?". Rintih Naruto memegang kakinya menahan rasa sakitnya.
"Kau yang gila. Sudahlah, aku minta bantuan orang lain saja". Kata Tenten pergi.
"Hei, hei, hei. Tunggu". Kata Naruto menghentikan Tenten. "Memang kau minta bantuan apa ?". Tanya Naruto.
"Bukankah kau ada janji dengan gadis pink itu ?". Ejek Tenten.
"Ya aku tau. Tapi kau juga butuh bantuanku". Kata Naruto.
"Huh, kau pikir aku tidak bisa melakukannya tanpamu ?. Sudahlah, kau urusi saja wanita pujaanmu itu". Kata Tenten pergi.
"Bagaimana kalau aku yang membantumu ?". Tanya Lee yang tiba-tiba berhenti di depan Tenten.
"Tidak. Jangan dia, bagaimana kalau aku saja ?". Tawar Kiba.
"Mereka berdua itu bodoh. Bagaimana kalau aku saja ?". Kata Sai ikut-ikutan.
"A..ah, eh, a..no…". Tenten tidak tau harus berkata apa melihat 3 lelaki yang menawarkan diri untuk membantunya.
"Hei, hei, hei. Berhentilah bermimpi. Akulah yang Tenten mintai tolong. Bukankah begitu, Panda ?". Kata Naruto menampakkan senyumnya.
"Yah, tapi bukankah kau harus menjemput gadis itu ?". Tanya Tenten.
"Itu bisa diatur. Kalau begitu, permisi tuan-tuan". Kata Naruto menautkan tangan kanan Tenten ke tangannya dan menarik gadis itu pergi.
oOo
"Bisa kau lepaskan tanganku ?". Tanya Tenten melirik tangannya yang masih berada di tangan Naruto.
Naruto segera melepaskan tangan Tenten yang masih berada di lengannya. "Gomen". Kata Naruto gugup.
"Jadi, kenapa kau menarikku kemari ?". Tanya Tenten menyapukan pandangannya ke kebun belakang sekolah.
"Bukankah tadi kau bilang kau butuh bantuanku ?. Jadi apa yang bisa kubantu ?". Tanya Naruto.
"Bukan hal penting. Jadi, lupakan saja". Kata Tenten melangkahkan kakinya pergi.
"Jangan mulai Panda, cepat katakan". Kata Naruto menarik lengan kanan Tenten.
"Apa kau selalu seperti ini pada wanita ?. Kau kasar sekali". Kata Tenten melepas cengkraman tangan Naruto.
"Aku hanya seperti ini pada gadis menyebalkan sepertimu". Kata Naruto.
"Oh, jadi menurutmu aku menyebalkan ?. Lalu, karena aku menyebalkan kau bersikap kasar padaku ?. Baiklah, kau cari saja orang lain untuk mengajarimu. Aku keluar". Kata Tenten meninggalkan Naruto.
"Ck, kau juga kenapa selalu seperti ini saat berbicara denganku ?. Apa kau sedang datang bulan ?". Tanya Naruto berhenti di hadapan Tenten.
"Apa aku harus menjawabnya ?". Teriak Tenten.
"Kau ini kenapa ?". Tanya Naruto gusar.
"Bukankah kau bilang aku gadis yang menyebalkan ?. Lalu, kenapa kau masih mempertahankan aku menjadi pengajarmu ?". Balas Tenten.
"Panda, bukankah kau sendiri yang menyanggupi untuk jadi pengajarku ?. Kau juga akan menerima imbalannya bukan ?. Kenapa kau sekarang malah memaksa ingin keluar ?. Apa salahku ?". Tanya Naruto menaikkan kedua bahunya.
"Kau, harusnya bisa berpikir. Kenapa aku bersikap seperti ini padamu. Karena kau, aku hampir gila. Aku harus memikirkan cara agar aku bisa keluar dari masalah ini". Imbuhnya.
"Apa kau merasa terbebani ?". Tanya Naruto sarkastik.
"Sangat. Aku sangat terbebani dengan adanya masalah ini. Jadi cepatlah kau nyatakan perasaanmu pada Sakura. Bukankah Sakura sudah berani mengajakmu kencan ?". Teriak Tenten.
"Tenten". Kata Naruto menatap gadis itu tajam.
Tenten sedikit terkejut mendegar Naruto memanggilnya dengan nama aslinya. Karena baru kali ini lelaki pirang itu memanggil namanya.
"Apa yang bisa kulakukan untukmu ?". Tanya Naruto mereda.
"Pergilah. Bebaskan aku dari perjanjian bodohmu itu. Aku akan sangat berterimakasih jika kau mau melakukan hal itu". Kata Tenten menyeka air matanya dan pergi meninggalkan Naruto yang kini diam mematung di tempatnya.
'Di..dia menangis'. Batin Naruto terhenyak. 'Sekejam itu kah aku ?'.
oOo
Tenten menunggu Sai di depan rumahnya hampir 15 menit lamanya. Tapi, ia belum juga melihat batang hidung lelaki itu sampai sekarang. Beberapa menit kemudian, Sai sudah menampakkan dirinya di hadapan Tenten.
"Gomen, aku terlambat". Kata Sai.
"Tidak apa-apa. Masuklah". Kata Tenten.
"Mau kau apakan semua ini ?". Tanya Sai menuruni tangga rumah Tenten dengan barang-barang yang Tenten terima dari penggemar rahasianya.
"Kau akan tau nanti. Gomen kalau aku membuatmu repot". Kata Tenten. "Sama sekali tidak". Balas Sai tersenyum.
"Tenten, siapa dia ?". Tanya Kurenai yang baru saja pulang mengajar.
"Oh, Kaasan. Dia Sai, teman sekolahku". Kata Tenten.
"Konnichiwa Baasan". Sapa Sai.
"Konnichiwa". Balas Kurenai ramah. "Kalian mau kemana ?". Tanya Kurenai.
"Ketempat Mamoru". Jawab Tenten.
"Oh, kau tidak mengajak Konohamaru sekalian ?". Tanya Kurenai.
"Aku sudah janjian dengannya disana. Kami berangkat dulu Kaasan. Daaah..". Kata Tenten.
"Sumimasen". Kata Sai.
"Ah, iya. Silahkan". Jawab Kurenai.
oOo
25 menit setelah menempuh perjalanan, akhirnya mobil Sai telah sampai di tempat tujuan Tenten. Tenten segera keluar dari mobil dan membantu Sai mengeluarkan 2 kardus berbeda ukuran yang berada di dalam bagasi.
Drrt..drrt..drrt..
Ponsel Sai bergetar, ia segera mengeluarkan ponselnya yang ia letakkan si saku celananya dan membuka pesan masuk yang ia terima.
"Aku butuh bantuanmu…"
*Naruto*
"Kau masuk saja dulu. Aku akan menyusul". Kata Sai.
"Baiklah". Kata Tenten mengangkat kardus yang berukuran sedang dan pergi meninggalkan Sai.
"Kau dimana ?". Tanya Sai.
"Dibelakangmu". Jawab Naruto.
Otomatis Sai membalikkan badanya setelah mendengar jawaban Naruto. Benar saja, lelaki pirang itu berdiri sekitar 10 meter di belakangnya dengan ponsel berada di telinganya.
oOo
"Baasan, apa Mamoru dan Konohamaru sudah datang ?". Tanya Tenten meletakkan kardusnya di atas meja kayu.
"Sudah, mereka semua ada di dalam". Jawab wanita itu menunjuk salah satu pintu. "Oh". Balas Tenten singkat.
"Mau kau apakan semua ini ?". Tanya wanita itu.
"Hanya sedikit oleh-oleh untuk mereka semua". Jawab Tenten tersenyum sambil meletakkan tasnya di samping kardus.
"Apa aku panggil saja mereka semua kemari ?". Tanyanya.
"Tidak. Jangan dulu Baasan. Biarkan dulu. Ada sesuatu yang harus kubeli". Jawab Tenten mengambil dompetnya dari dalam tasnya.
"Baiklah, asal kau jangan beli makanan. Aku akan masak makanan spesial karena kau datang hari ini". Katanya.
"Hehe, benarkah. Jangan repot-repot Baasan". Kata Tenten.
"Sama sekali tidak. sudah, pergilah. Sebelum mereka menyadari kedatanganmu". Katanya.
"Baiklah". Balas Tenten pergi.
Tenten membuka pintu kayu berwarna putih dan segera melangkahkan kakinya keluar dari tempat itu. Namun sebelum Tenten benar-benar keluar, ia dihalangi oleh orang yang membawa kardus besar hingga menutupi wajahnya.
"Oh, Sai. Kau taruh saja di dalam. Aku mau keluar sebentar". Kata Tenten melewati lelaki itu.
Setelah mendapat intruksi dari Tenten, lelaki itu segera masuk untuk meletakkan kardus itu ke dalam. Sekilas, Tenten melihat sesuatu berwarna pirang melewati dirinya. Tenten menghentikan langkahnya sesaat dan membalikkan tubuhnya.
"Apa yang kau lakukan disini ?". Tanya Tenten menatap tajam lelaki itu.
"Oh, hai Panda". Kata Naruto tersenyum tanpa dosa.
"Apa yang kau lakukan disini ?". Tanya Tenten sekali lagi.
"Membantumu". Jawab Naruto singkat.
"Pulanglah. Bukankah kau sudah ada janji ?". Kata Tenten merebut kardus di tangan Naruto.
"Aku sudah membatalkannya". Kata Naruto yang berhasil membuat Tenten terhenyak. "Aku sudah membatalkannya. Jadi kau tenang saja". Kata Naruto lagi dan mengambil kembali kardus yang berada di tangan Tenten.
"Ke..kenapa ?". Tanya Tenten terbata.
"Yah, aku hanya berpikir, kau adalah orang yang banyak membantuku. Jadi, apa salahnya jika aku membalas kebaikanmu". Jawab Naruto.
"Lalu, dimana Sai ?". Tanya Tenten menyapukan pandangannya pada halaman rumah yang cukup luas.
"Aku sudah menyuruhnya pulang". Jawab Naruto enteng.
"Sudah kuduga". Kata Tenten meninggalkan Naruto.
Naruto segera meletakkan kardus besar itu kedalam dan berlari mengejar Tenten yang sudah berjalan menjauhinya. "Kau mau kemana ?". Tanya Naruto berjalan mundur dan mensejajarkan langkahnya dengan langkah Tenten.
"Bukan urusanmu. Pergilah". Balas Tenten jutek.
"Ayolah, apa kau masih marah padaku karena masalah tadi ?. Itu kan hanya hal sepele". Kata Naruto.
Tenten menghentikan langkahnya dan menatap tajam lelaki dihadapannya itu. "Bagimu itu sepele. Tapi bagiku itu adalah hal penting". Kata Tenten tajam.
"Baiklah. Aku tau, aku salah. Aku minta maaf". Kata Naruto menyesal.
Tenten tidak menjawab dan kembali melangkahkan kakinya menjauhi Naruto.
"Maafkan aku". Kata Naruto berdiri di hadapan Tenten dan memberikan setangkai mawar pada gadis bermata hazel itu.
Tenten terhenyak ketika ia melihat Naruto memberinya setangkai bunga padanya. Apa Naruto sadar, kalau ia telah memberikan bunga padanya ?. 'Tenten. Tenang, ini tidak seperti yang kau pikirkan. Kau tidak boleh berpikir macam-macam'. Batin Tenten. "A..apa ma..maksudmu ?". Tanya Tenten tekejut.
"Maafkan aku. Kau mau kan ?". Tanya Naruto memohon.
"Kalau aku tidak mau, kau mau apa ?". Tanya Tenten.
"Aku akan mengikutimu selamanya". Jawab Naruto santai.
"Jika memaafkanmu adalah satu-satunya jalan agar kau berhenti membuatku gila, aku mau". Kata Tenten menerima bunga dari Naruto dan pergi meninggalkan lelaki itu.
"Yes, yes, yes..". Kata Naruto girang. Naruto kembali mensejajarkan langkahnya dengan langkah kaki Tenten dan bertanya. "Kau mau kemana ?".
"Kalau kau mau ikut, jangan banyak bicara. Kalau kau masih tidak bisa diam, lebih baik kau kembali saja". Kata Tenten.
"Ck, dia mulai lagi". Gerutu Naruto lirih.
oOo
Tenten mengambil beberapa kotak susu dan memasukkanya kedalam troley. Setelah itu, ia kembali mengambil beberapa batang cokelat dan beberapa makanan ringan kedalam keranjang.
"Untuk apa kau membeli makanan sebanyak ini ?". Tanya Naruto mendorong troley berisi barang belanjaan Tenten.
"Diamlah". Balas Tenten singkat. Setelah itu, Tenten menarik bagian depan troley di depan rak yang berisi sabun dan shampo bayi. Tenten mengambil beberapa sabun dan shampo lalu berjalan menuju kasir.
Tenten hendak mengeluarkan uangnya untuk membayar belanjaannya. Namun sang kasir sudah terlebih dahulu menerima uang yang Naruto berikan. Tenten menatap Naruto terkejut.
"Apa ?". Tanya Naruto singkat. "Arrigatou". Kata Naruto tersenyum pada penjaga kasir dan mengambil belanjaan Tenten yang telah dimasukkan kedalam kantong plastik dan meninggalkan Tenten yang masih berdiri mematung.
"Kenapa kau melakukan itu ?". Tanya Tenten membuka pintu swalayan.
"Entahlah". Jawab Naruto santai meninggalkan Tenten.
oOo
"Baasan…". Teriak Tenten mencari wanita bernama Tatsuya yang notabennya pemilik rumah.
"Aku disini". Balas wanita itu dari dapur.
Tenten dan Naruto segera menghampiri wanita itu setelah mendapat jawaban.
"Apa mereka belum tau aku ada disini ?". Tanya Tenten.
"Hanya Konohamaru tadi saat dia ke toilet". Jawab Tatsuya meletakkan wadah berisi nasi. "Siapa laki-laki itu ?". Tanya wanita itu melirik Naruto yang berada di belakang Tenten.
"Oh, kenalkan. Dia Naruto, teman sekolahku". Jawab Tenten.
"Dia tampan". Kata Tatsuya menghampiri Naruto.
"Huh, jangan bercanda Baasan. Dia merasa terhina kalau kau mengatakan dia tampan". Ejek Tenten meninggalkan dapur. "Dasar…". Gerutu Naruto pelan.
"Sudah, sudah. Jangan dengarkan dia. Menurutku kau lelaki yang tampan". Kata Tatsuya menenangkan.
Tenten membuka pintu kamar Mamoru pelan menghindari suara decit. Ia memasukkan kepalanya guna mengintip beberapa anak yang sedang asyik melihat Konohamaru dan Mamoru bermain videogame. Beberapa diantara mereka banyak yang mendukung Konohamaru. Tapi tidak sedikit juga yang bersorak mendukung Mamoru.
"Mamoru, jangan mau kalah". Kata Tenten duduk di tepi ranjang Mamoru.
Semua mata tertuju pada Tenten secara otomatis setelah ia mengeluarkan suaranya. Tenten tersenyum manis pada mereka semua. "Hai, apa kabar ?". Sapa Tenten tersenyum.
"Neesan…". Teriak mereka semua memeluk Tenten.
"Sudah berapa lama kau tidak kemari ?". Tanya gadis kecil berusia 4 tahun bernama Momo.
"Hm, mungkin sudah cukup lama". Jawab Tenten.
"Kenapa ?". Tanya gadis kecil yang memeluk kedua bahu Tenten.
"Maafkan Neesan. Neesan baru saja mengkuti turnamen Karate beberapa hari yang lalu". Jawab Tenten.
"Wuuaaah…". Mereka semua berdecak kagum menatap Tenten. "Apa Neesan menang ?". Tanya Mamoru.
"Tentu saja". Jawab Tenten. "Neesan hebat". Kata mereka memeluk Tenten.
"Hei, hei, hei. Apa ini mau di lanjutkan ?". Tanya Konohamaru yang merasa di lupakan.
"Tidak. Kau matikan saja itu. Ada Tenten Neesan disini". Kata Mamoru. "Huh, baiklah". Kata Konohamaru mematikan videogamenya.
"Neesan, kami sudah membuat ayunan di belakang rumah. Kau mau mencobanya ?". Tanya Mamoru.
"Benarkah. Waah, kalian hebat sekali". Kata Tenten.
"Ayo…". Kata Momo membuka pintu kamarnya.
Brukkk…
Momo menabrak seseorang yang berbadan lebih besar darinya. Gadis kecil itu mendongakkan kepalanya dan melihat lelaki berambut pirang tersenyum manis padanya dengan mulut terbuka berbentuk O.
"Kau mau kemana gadis manis ?". Tanya Naruto mengangkat tubuh kecil Momo.
"Ka..kau siapa ?". Tanya Momo terbata.
"Aku Uzumaki Naruto. Panggil saja aku Naruto". Jawab Naruto.
"Apa kau teman Tenten Neesan ?". Tanya lelaki berusia 8 tahun yang biasa di panggil Rocky karena rambut berdirinya seperti seorang ro.
"Ya, aku temannya". Jawab Naruto singkat.
"Apa itu benar ?". Bisik Mamoru pada Konohamaru.
"Entahlah, aku baru melihatnya". Jawab Konohamaru.
"Kenapa kalian berdua melihatku seperti itu ?". Tanya Naruto pada Konohamaru dan Mamoru.
"Kau bukan orang jahat kan ?". Tanya Mamoru polos.
"Apa aku memiliki raut wajah seperti orang jahat ?". Tanya Naruto.
"Memang tidak. Tapi wajahmu seperti orang yang gagal cinta". Sergah Rocky.
Tenten tertawa kecil mendengar jawaban dari anak kecil itu. Naruto hanya menggerutu melihat Tenten yang mentertawainya. "Rocky, kenapa kau pintar sekali ?". Puji Tenten.
"Apa kita jadi mencoba ayunan ?". Tanya Momo.
"Tentu saja". Jawab Mamoru menarik tangan Tenten menuju halaman belakang rumah.
"Apa kau mau berdiri disini saja ?". Tanya Momo yang masih berada di dekapan Naruto.
"Tentu tidak". Balas Naruto menyusul Tenten dan yang lainnya.
"Apa kau yang membuatnya ?". Tanya Tenten menatap takjub pada ayunan kayu berukuran besar berada di hadapannya.
"Bukan aku. Tapi kami semua. Aku, Momo, Rocky, Toko, Rio, Nina, Konohamaru, dan Tatsuya Baasan". Jawab Mamoru riang.
"Kalian memang hebat". Puji Tenten memeluk Mamoru.
"Cobalah". Kata Mamoru mendorong punggung Tenten.
Tenten duduk di kursi ayunan tersebut dan menyendarkan punggungnya pada sandaran ayunan. Sedang Mamoru, mengayunkan pelan benda keras itu, Tenten menutup matanya merasakan angin sepoi-sepoi yang menerpa dirinya.
"Apa kau mau mencobanya juga ?". Tanya Momo pada Naruto. "Aku ?". Tanya Naruto terkejut. "Yah, kau". Jawab Momo singkat.
"Sepertinya itu bukan ide yang bagus". Kata Naruto menggaruk pelan leher belakangnya.
"Turunkan aku". Kata Momo. Naruto segera menurunkan gadis kecil itu dan menatap gadis kecil itu bingung. "Itu ide yang sangat bagus menurutku". Kata Momo mendorong punggung Naruto ke ayunan yang Tenten duduki. "Berhenti Niisan". Kata Momo pada Mamoru.
"Ada apa ?". Tanya lelaki kecil itu menghentikan aktivitasnya. "Ada penumpang gelap yang ingin ikut naik". Kata Momo mendorong kencang tubuh tegap Naruto ke samping Tenten.
"Ka..kau ?. Apa yang kau lakukan ?". Tanya Tenten menatap tajam Naruto yang duduk disampingnya.
"Bu..bukan aku yang ingin. Tapi anak ini". Kata Naruto menunjuk Momo.
"Kalian pacaran ?". Tanya Rio menatap lemah dua mahluk berbeda gender itu.
"Kau ini bicara apa Rio ?". Tanya Tenten.
Lelaki berusia 6 tahun itu tidak menjawab pertanyaan Tenten dan malah berjalan ke arah Naruto. Rio mengayunkan tangan kanannya agar Naruto mendekatkan telinganya padanya.
"Aku sudah hampir 3 bulan di ajari Tenten Neesan Karate. Kalau kau menyakitinya, kuhajar kau". Bisik Rio dan membuat Naruto otomatis meneguk air liurnya berat.
"Semuanya, bantu aku mendorongnya ya". Seru Mamoru. "Yaaa….". Jawab mereka semua serempak.
"Kalian saja. Aku lapar". Kata Konohamaru masuk kedalam meniggalkan mereka semua.
"Dasar, masih kecil sudah menyebalkan". Gumam Tenten melihat Konohamaru.
"Namanya juga penyakit turunan". Kata Naruto.
"Apa kau bilang ?". Kata Tenten geram.
"Apa ?. Aku diam saja dari tadi". Jawab Naruto santai.
"Niisan, apa kalau kita berdua besar nanti, kita akan bertengkar seperti mereka berdua ?". Tanya Momo pada kakak laki-lakinya.
"Tidak akan. Kalau aku lihat di TV, sikap seperti itu adalah rasa cinta yang tertunda". Jawab Mamoru polos.
"Hei kalian berdua. Asal kalian tau, Tenten Neesan itu pacarku". Kata Rio menatap tajam Mamoru dan Momo.
"Pacar ?. Tidak mungkin Tenten Neesan suka pada bocah nakal sepertimu". Kali ini Toko yang angkat bicara.
"Apa yang kalian ributkan dari tadi ?". Tanya Tenten menoleh pada keempat anak kecil yang berada di belakangnya.
"Kami hanya…..".
"Kalian semua makanlah, semuanya sudah siap". Teriak Tatsuya memotong perkataan Mamoru.
" Iya Baasan". Teriak 4 anak kecil itu serempak dan berjalan gontai meninggalkan Tenten dan Naruto. Tatsuya menatap Tenten dan Naruto.
"Ka..kami akan menyusul Baasan". Jawab Tenten gagap. "Baiklah". Kata Tatsuya masuk kedalam.
"Sampai kapan kau melihatku seperti itu ?". Tanya Tenten pada Naruto yang dari beberapa menit lalu tidak melepaskan pandangannya darinya.
Naruto otomatis salah tingkah setelah gadis disampingnya menegurnya. Naruto menyapukan pandangannya pada bunga-bunga dan rumput hijau di sekitarnya. Sedangkan Tenten membenarkan posisi duduknya yang sedikit turun.
"Jadi, apa kau bisa menjelaskan padaku siapa mereka semua ?". Tanya Naruto setelah ia berhasil mengontrol dirinya.
"Baiklah, akan kujelaskan". Kata Tenten menarik nafas sesaat. "Lelaki kecil berambut pirang dan bermata lebar itu bernama Mamoru". Kata Tenten sembari menunjuk anak laki-laki dengan mulut penuh nasi. "Dia adalah teman sekelas Konohamaru. Dia berusia 11 tahun dan masih duduk di kelas 5 sekolah dasar. Dan gadis kecil yang kau gendong tadi, dia adalah Momo. Adik Mamoru yang masih berusia 4 tahun. Diantara semuanya, dialah yang paling menggemaskan". Kata Tenten meremas kedua tangannya gemas. "Dan yang disana, bocah kecil berambut hitam berdiri, dia adalah Rocky. Dan disamping Rocky, dia adalah Toko. Diantara semuanya, dialah yang paling dewasa pemikirannya. Meski usianya masih 11 tahun sama seperti Mamoru. Dan dia, gadis kecil berambut cokelat itu, namanya Nina. Dia adalah gadis yang cerdas, rajin, dan paling pendiam untuk anak seusianya". Jelas Tenten.
"Siapa mereka semua ?". Tanya Naruto bingung.
"Apa kau tau tempat apa ini ?". Tanya Tenten. Naruto menggelangkan kepalanya singkat. "Ini adalah panti asuhan. Tempat ini adalah tempat penampungan untuk anak-anak yang telah dikelantarkan oleh orangtuanya begitu saja. Tatsuya dan almarhum suaminya lah yang membawa mereka semua kemari. Mereka berdua merasa iba karena anak-anak tidak berdosa tersebut di buang begitu saja tanpa mereka sendiri ketahui penyebabnya". Tenten menghentikan ceritanya. "Mamoru. Dia adalah anak yang cerdas di sekolah. Sampai sekarang pun, ia membiayai sekolahnya menggunakan beasiswa yang ia dapatkan. Aku bahkan sangat sangat bersyukur saat aku tau Konohamaru mempunyai teman seperti Mamoru. Saking sayangnya Konohamaru pada Mamoru, sampai-sampai saat Tousan membelikannya video game keluaran terbaru, ia meminta Tousan untuk membelikan Mamoru juga. Mereka semua hidup dengan mengandalkan sumbangan dari dermawan semenjak suami Tatsuya Baasan meninggal. Cukup banyak perusahaan yang menyumbangkan sebagian pendapatannya ke panti kecil ini. Yah, meski tidak banyak peghuninya. Perusahaan tempat Tousan bekerja juga menyumbangkan sebagian pendapatan perusahaan kemari. Tapi, hampir 70% sumbangan yang mereka dapatkan tiap bulannya habis untuk pengobatan Momo yang menderita kelainan hati. Tapi meski begitu, Mamoru, Rio, Rocky, Toko dan Nina tidak pernah marah pada Momo karena jatah yang seharusnya menjadi milik mereka terpotong untuk pengobatan Momo". Jawab Tenten meneteskan air matanya sambil menatap Momo lemah yang kini berada di samping Mamoru.
Naruto menyeka air mata Tenten perlahan saat air mata Tenten mengalir lagi untuk yang kedua kalinya. Tenten menatap Naruto tekejut melihat sikap yang Naruto tujukan padanya. Entah apa yang Tenten pikirkan saat ini. Ia merasa jantungnya berdegup kencang dari biasanya. Keringat dingin mengucur deras dari pelipisnya. Begitu juga Naruto yang ia sendiri tidak memahami peraaan apa yang ia rasakan. Yang ia tau kini hanya tatapan gadis yang ada dihadapannya bisa membuat perasanya menjadi nyaman dari biasanya. Membuat ia bisa menjadi dirinya sendiri.
"Apa yang kalian lakukan ?". Tanya Momo yang tiba-tiba ada di hadapan mereka.
"A..apa ?". Tanya Tenten gagap.
"Ka..kau su..sudah selesai makan ?". Tanya Naruto.
"Aku tidak mau makan kalau tidak ada Tenten Neesan". Jawab Momo polos.
"Ba..baiklah. Ayo kita makan bersama". Kata Tenten salah tingkah dan beranjak dari duduknya. "Ka...kau juga makanlah. Perutmu sudah meraung-raung dari tadi". Kata Tenten menatap Naruto sekilas dan pergi meninggalkan lelaki pirang itu.
oOo
"Baasan, apa ini semua untuk kami ?". Tanya Rocky membuka kantong plastik dari Naruto.
"Itu milik Tenten Neesan, kau tanya Neesan dulu ne sebelum mengambilnya". Kata Tatsuya mengumpulkan piring-piring kotor di meja makan.
"Itu milik kalian, ambilah". Kata Tenten keluar dari dapur.
Momo, Toko, dan Nina segera mengambil makanan yang mereka suka dari kantong plsatik tersebut. Berbeda dengan Mamoru, Rio, dan Rocky. Dari tadi mereka sibuk memainkan ponsel milik Tenten yang tergeletak di atas meja. Sedangkan Konohamaru, dia melanjutkan bermain video game di kamar Mamoru. Momo mengambil sebatang cokelat dan segera menghampiri Naruto dan duduk di samping lelaki pirang itu. Naruto menatap Momo yang tersenyum manis padanya. Momo menyodorkan cokelatnya pada Naruto. Naruto yang tau apa maksud Momo segera mengambil cokelat itu dan membuka bungkusnya.
"Arrigatou Niisan". Kata Momo mengambil kembali cokelatnya. Naruto tersenyum dan mengusap kepala Momo pelan.
"Momo, kenapa kau ada disini ?. Kenapa tidak berkumpul dengan yang lain ?". Tanya Tenten menghampiri mereka berdua yang duduk di kursi panjang depan rumah.
"Tidak. Aku mau bersamanya". Jawab Momo memeluk perut Naruto.
"Kau manis sekali gadis kecil". Kata Naruto memeluk tubuh mungil Momo.
Tenten duduk di samping Momo. Ia menatap Naruto sekilas dan kembali melayangkan pandangannya ke halaman kecil rumah ini. "Kenapa kau membatalkannya ?". Tanya Tenten.
"Bukankah aku sudah menjawabnya tadi". Jawab Naruto.
"Yah, aku tau. Tapi aku hanya tidak menyangka kau membatalkan janji dengan Sakura demi gadis menyebalkan sepertiku". Kata Tenten tertawa renyah.
"Jangan mulai Panda". Kata Naruto melihat Tenten.
"Yaaah…". Momo mengernyitkan dahinya saat cokelat di genggamannya jatuh hingga mengenai baju pink yang di kenakannya.
"Momo, berhati-hatilah". Kata Tenten mengambil sisa cokelat di baju Momo.
"Ini hanya masalah kecil". Kata Naruto mengeluarkan sapu tangannya dan menyeka cokelat di baju Momo.
"Lepas saja ne bajunya. Ganti dengan baju lain saja ne". Kata Tenten.
"Hm, tapi ini baju kesukaanku. Aku hanya akan memakainya saat Tenten Neesan kemari". Jawab Momo menggembungkan pipinya.
"Tapi ini harus segera dicuci. Kalau tidak, nodanya akan sulit dihilangkan". Kata Naruto.
"Hmh, baiklah". Kata Momo pasrah.
Naruto dan Tenten saling memandang manik mata satu sama lain ketika tangan mungil Tenten berada di genggaman Naruto saat akan membuka kancing baju Momo. Mereka berdua diam tanpa ada kata-kata yang keluar dari bibir masing-masing. Tangan hangat yang Naruto rasakan lah yang membuatnya tak serta merta bergeming dari posisinya. Tenten juga hanya bisa berusaha menstabilkan detak jantungnya yang berdegup lebih keras dari biasanya. Sedangkan Momo hanya bergantian menatap dua manusia berbeda gender itu dengan tatapan bingung. Suasana seperti itu terjadi hingga beberapa detik sampai pada akhirnya…
Ckrik…..
"Sudah. Kita foto yang lain lagi ya". Kata Mamoru meninggalkan Naruto, Tenten dan Momo yang masih terdiam setelah mereka tau kalau Mamoru mengambil gambar mereka bertiga. Terlebih Tenten dan Naruto yang tidak menyangka hal itu akan terjadi.
"Kita ambil gambar Tatsuya Baasan saja". Kata Rio.
"Tapi Baasan kan sedang cuci piring ?". Balas Toko yang kini mengikuti para lelaki.
"Memang kenapa ?. Yang penting Baasan tidak sedang mandi. Ayo". Kata Rocky merebut ponsel Tenten yang tadinya berada di tangan Mamoru.
Naruto dan Tenten menatap satu sama lain. Dan bisa dipastikan, mereka salah tingkah. Tenten mengibaskan kedua tangannya ke lehernya.
"Huuuh, hari ini panas sekali". Kata Tenten gugup.
"Yah, kau benar". Balas Naruto membenarkan posisi duduknya.
"Kalian berdua kenapa ?". Tanya Momo yang merasa dua manusia di sampingnya terlihat canggung satu sama lain.
"A..aku akan membantu Baasan". Kata Tenten masuk kedalam meninggalkan Naruto dan Momo.
"Bagaimana dengan bajuku ?". Tanya Momo pada Naruto.
"Oh, i..iya". Balas Naruto gagap dan melepas baju Momo.
oOo
"Arrigatou Baasan". Kata Tenten.
"Tidak, aku yang harusnya berterimakasih padamu dan Naruto. Kalian pasti sangat kerepotan". Kata Tatsuya.
"Itu bukan apa-apa Baasan. Kami senang melakukannya". Kata Naruto.
"Kalau begitu, kami pamit dulu Baasan. Ini sudah hampir malam". Kata Tenten.
"Iya. Sekali lagi Terimakasih banyak ne". Kata Tatsuya.
Momo menghampiri Tenten dan mengenggam tangan kanan Tenten. "Kapan Neesan kemari lagi ?". Tanya Momo. "Secepatnya Momo". Jawab Tenten tersenyum. "Ajak Naruto Niisan lagi ne ?". Kata Momo.
"A…a…, ba..baiklah". Jawab Tenten gagap.
Naruto menatap Tenten dan tertawa kecil melihat Tenten yang salah tingkah. "Aku pasti akan kemari lagi". Kata Naruto.
"Konohamaru, ayo kita pulang". Kata Tenten.
"Kau naik apa ?". Tanya Naruto. "Itu". Jawab Tenten singkat sembari menunjuk sepeda Konohamaru.
"Sepeda ?. Apa kau yakin ?. Tidak pulang denganku saja ?". Tanya Naruto.
"Tidak perlu. Rumah kita berlawanan arah. Hanya butuh 15 menit dari sini kerumah lewat jalan pintas". Jawab Tenten menduduki pedal sepeda Konohamaru.
"Begitukah, hati-hatilah kalian". Kata Naruto.
"Hn". Balas Tenten singkat. "Kami pulang dulu Baasan. Daaah…". Kata Tenten memacu sepedanya.
Sedangkan Naruto membukkan badannya memberi salam dan segera masuk ke mobil putihnya.
oOo
"Neesan, apa dia pacarmu ?". Tanya Konohamaru.
"Jangan gila. Mana mungkin laki-laki sperti dia jadi pacarku ?. Mataku tidak buta Konohamaru". Jawab Tenten.
"Tapi kurasa dia cukup tampan". Kata Konohamaru.
"Kalau kau masih membicarakan dia, aku turunkan kau disini". Kata Tenten tajam.
"Huh, pantas saja tidak ada laki-laki melirikmu. Kau sangat menyebalkan". Ejek Konohamaru.
'Beruntung kau adikku. Kalau tidak, sudah kulempar kau ke kandang singa'. Batin Tenten sambil meremas setir sepedanya menahan emosi.
Gimana para reader sekalian ?. Makin ancur kah ?. Jelek kah ?. Atau apa ?. Maafin Author kalo para reader ngrasa nya gitu ne. Author bkal usahain chapie depan lbih bgus dri ini. Tpi si Naru kok so sweet bnget yah. Smpek ksih bunga gt ke Ten. Author juga mau donk ?! :* #plakk.. :D. Udh dlu ne, Author nya mau mnta tlong si Neji bwt bkin chapie yg baru #di lempar kunai ama Tenten :D. See you all… :* #kalo pda gk ksih review, Author lempar shuriken lhoo :D.
