Haaaai para readers sekalian #teriak dari atep tetangga :D. Hehe, adakah yang masih menunggu lanjutan dari fic yang sungguh freak ini ? :p. Duuuh, maafkan Author ya ? Author telat banget updatenya. Ada sedikit masalah yg membuat Author baru bisa melanjutkan fic ini sekarang. Yaaa, para reader kagak pada kabur ne, karena nunggu lanjutan fic ini ):
Review:…
Naru-kun93: Hehe, jstru kritikan sperti itu yg membuat Author makin smangat utk memperbaiki jalan ceritanya. Terimakasih udh bca dan ninggalin review. Keep read ne (:
Uzumaki 21: Hehe, moga yg chapie ini gk ada ya ? Tpi Author gk berani jamin :p
Bohdong: Inget gk kata2 Tenten yg kyk gni "Aku akan menghajarmu terlebih dahulu jika itu benar terjadi". Mreka berdua bersifat konyol klo sedang berdua. Tpi jika dibelakang, mreka saling melindungi kok (: Halah..halah so sweet bnget sih ini dua mahkluk Masashi senpai :* :D
Uzumaki-Namikaze: Eh..eh..eh, mulutnya kok nga nga gt sih ? Ttup gih, ntar netes lho :D
Namikaze sholkan: Kyak'y gt deh. Knapa ? Bosen kah sma jlan crita'y ? ):
: Iya..iya, Sasuten ada di chapie ini (:
Yuris: Hehe, di chapie yg ini rsa penasaran kmu bkal terjawab. Maaf, chapi yg ini lma bnget update'y. maaf bnget ya ? *puppy eyes :D
Nagasaki: Udah di lanjut. Maaf yak lo nunggu'y klamaan ? (:
Akira ken: Gt ya ? Moga aja di chapie yg ini gk ada ksalahan lgi ne (: Gk jmin seratus persen tapi :D
Uzumaki Narito: Nyahaha, Author jga smpet kaget waktu adik kmu bilang klo crita'y kyk begini. Tpi ternyata ada lanjutan'y tooh :D Syukur deh klo adiknya ternyata suka (: maaf ya, chapie yang ini lama update'y ? ): Author'y lgi ada sdikit msalah soal'y ): Dan akhir kata buat review kmu kli ini, Makasih udh baca Narito-san (:
Saika: Bagus deh klo kmu tau jlan crita'y (: Berarti karya Author gak amburadul donk ya ? :D Iya, Naruto msih malu ngakuin perasaanya ke Tenten. Kan tuh bocah gengsi'y gede bnget :D
Shido: Waaah, Author udh jelaskan smua di chapie ini. smoga gk kcewa ne (:
Mr Punten: He'em, tuh dua bocah lgi taruhan buat dpetin hatinya Tenten. Tpi klo msalah hti'y Tenten udh di miliki Neji…. kmu hrus bca yg chapie ini (: Dan knapa pair'y Naru ama Ten ? Soalnya Author suka sama Tenten dan Author ingin menyuguhkan para pecinta Tenten dengan crak pair, gk cma stak di Neji aja (:
Nyonya Mito: Pertanyaan kmu akan segera terjawab stelah kmu membaca chapi yg ini (: Mkasih dh ninggalin review. Keep read ne (:
Nameaxel: Mkasih udh sabar menunggu lnjutannya. Ini udh di lanjut, smoga gk kecewa ne (:
Akamaru: Hehe, ska spongebob jga ya ? Sma donk kyk Author :D Udh noh di lanjutin ama Author. Harus bca ne, tpi jngan lpa ninggalin review, ok (:
Dil-bil: Author masih gk tau gmana nasib Sasuke, jadi tunggu aja (: Mkasih udh baca (:
Naaah, Author udh bles smua review kalian. So, happy reading and don't forget review ne… (:
Kicau burung yang bersahutan telah terdengar oleh satu keluarga yang kini sedang menikmati sarapan mereka masing-masing. Seperti biasa, keluarga Asuma sedang menikmati sarapan paginya di ruang makan. Namun kali ini bedanya, sarapan mereka tanpa di temani seragam dan sepatu sekolah di kaki kedua anaknya. Tepat sekali, hari ini adalah hari minggu. Hari yang paling membahagiakan bagi Tenten dan Konohamaru. Karena di saat itu lah Tenten bisa melepas penatnya setelah enam hari penuh melakukan aktivitas layaknya kuli bangunan. Begitu juga Konohamaru, yang selalu mendambakkan hari minggu terjadi setiap hari. Dengan begitu, ia bisa memainkan video gamenya tanpa harus mendengar ocehan dari ibunya setiap kali ujung jarinya menyentuh stick video game miliknya.
Lelaki dewasa dengan bulu jambang tipis yang tumbuh di sekitar wajahnya makin membuatnya terlihat dewasa dan beribawa. Lelaki itu masih asyik menikmati sarapan buatan istirinya yang kini sedang menyiapkan segala keperluannya untuk dinas keluar kota pagi ini. Sedangkan dua anaknya yang berada di sebrangnya masih saja beradu argumen untuk mempertahankan sebuah sepeda yang jelas-jelas milik Tenten. Tenten mengatakan kalau dia akan pergi kerumah Hinata untuk suatu urusan. Dan sudah pasti, dia akan menggunakan sepedanya untuk menuju kesana. Sedangkan Konohamaru tetap keukeuh meminjam sepeda kakaknya yang sudah jelas mendapat tentangan keras oleh pemilik sepeda. Konohamaru berdalih kalau ia ingin membeli kaset game keluaran terbaru di salah satu pusat pebelanjaan. Tenten meneriaki adiknya kalau urusannya dengan Hinata jauh lebih penting daripada kaset game yang akan adiknya beli. Tidak mau kalah, Konohamaru mengancam akan mengempesi ban sepeda kakaknya kalau ia tidak mau meminjamkan sepedanya padanya.
Kurenai memutar bola matanya malas melihat argumen dua anaknya yang belum juga berhenti. Kurenai kemudian meletakkan segelas susu di hadapan mereka masing-masing dan menatap tajam kedua anaknya. "Kalian berdua. Kapan kalian akan berhenti ?" Kurenai melemparkan tatapan tajamnya.
"Kaasan, sepeda milikknya rusak bukan karena aku. Tapi kenapa aku ikut susah ?" Tenten menaikkan suaranya.
"Kaasan, harusnya dia sebagai kakak bisa mengalah pada adiknya. Bukankah itu yang Tousan dan Kaasan ajarkan padanya ?" Konohamaru tidak mau kalah.
"Cukup. Kalau kalian saling menyalahkan satu sama lain, kapan masalah ini akan selesai ? Daripada kalian terus saja bertengkar, lebih baik kalian pergi ke swalayan. Kalian beli susu untuk kalian berdua. Benda itu sudah habis tidak bersisa. Dan Konohamaru bisa sekalian membeli kaset gamenya." Kurenai menyerahkan selembar uang pada Tenten.
"Ta..tapi aku…."
"Jangan membantah kalau Nee-chan tidak mau uang saku Nee-chan di potong." Konohamaru tertawa mengejek.
"Dan jangan lupa kopi yang biasa Kaasan beli untuk Tousan. Benda itu juga habis." Kurenai menambahkan.
"Kenapa aku selalu sial ?!" Tenten mengacak rambutnya gemas.
"Hehe, karena keberuntunganmu sudah Tuhan alirkan padaku." Konohamaru memeletkan lidahnya dan beranjak dari duduknya meninggalkan Tenten yang masih menatapnya gemas.
oOo
"Sampai kapan aku harus menunggumu bocah ?" Tenten mengeluarkan suaranya malas.
"Tentu saja sampai kau mendapat apa yang aku cari." Jawab Konohamaru santai sembari menaikkan kedua bahunya.
"Kau sudah berdiri di sana hampir tiga puluh menit. Apa kau belum menemukannya juga ?" Tenten memandang adiknya malas.
"Jiisan, apa kaset yang baru keluar tiga hari yang lalu ada ?" Konohamaru bertanya pada pemilik toko tanpa mempedulikan kakaknya.
"Yang mana ?" Tanya penjaga toko singkat.
"Tentu saja semuanya Jiisan." Konohamaru memutar bola matanya malas.
"Oh, sepertinya sudah habis. Kembalilah minggu depan." Kata pemilik toko.
"Apaaaa….." Tenten menaikkan suaranya murka. Sudah cukup ia membatalkan janjinya dengan Hinata. Kini, ia harus menemani adiknya mencari barang yang bahkan tidak dapat di temukan wujudnya.
"Baiklah, Jiisan. Aku akan kembali minggu depan. Sisakan untukku ne ?!" Konomaru menarik santai Tenten keluar dari toko tersebut.
Hidung Tenten mengembang dan mengempis menahan amarahnya yang sudah mencapai puncak. Bagaimana bisa bocah lelaki ini menariknya keluar seolah tidak pernah ada dosa yang ia lakukan.
"Silahkan kalau kau mau memarahi aku. Tapi lakukan di rumah saja, akan terlihat sangat memalukan kalau kau melakukannya disini." Konohamaru melepas tangan Tenten santai.
Tenten kembali menutup mulutnya rapat menahan emosinya. Tidak pernah ia berpikir memiliki adik yang sangat menyebalkan seperti itu. Sebenarnya, apa yang ada di pikiran ibunya ketika ia mengandung Konohamaru. Kini Tenten berpikir, bagaimana selama ini dia bisa hidup bersama bocah seperti ini ?
"Nee-chan, apa kau tidak ada niat membelikanku itu ?" Konohamaru mengayunkan tangan kanan Tenten sembari menunjuk kedai ice cream.
"Heeeeeeh….." Tenten menaikkan kedua alisnya.
"Wuuaah terimakasih, kau adalah kakak yang baik." Konohamaru segera berlari menuju kedai yang ia tunjuk dan segera memesan ice cream dengan ukuran jumbo tanpa persetujuan Tenten.
oOo
Tenten membanting pintu rumahnya sekeras mungkin. Kurenai yang tengah memasak makan siang di dapur otomatis terjingkat karena terkejut. Belum sempat Tenten masuk, Konohamaru sudah lebih dahulu masuk melewati Tenten dan naik ke kamarnya.
Tenten meletakkan belanjaanya di atas meja makan. Lalu ia menopang dagunya dengan tangan kanannya sembari memainkan ujung kantong plastik di hadapannya. Sudah cukup dia di buat bad mood oleh Konohamaru karena bocah itu telah berhasil melubangi dompetnya dengan ice cream yang bocah itu pesan. Kurenai memalingkan sedikit wajahnya melihat wajah anak sulungnya yang sangat tidak sedap di pandang mata.
"Apa Konohamaru membuat ulah lagi ?" Kurenai duduk di hadapan Tenten.
"Hm," Jawab Tenten singkat.
"Jadi, berapa yang harus Kaasan ganti ?" Kurenai mengeluarkan dompetnya.
"Tidak perlu Kaasan. Aku senang jika Konohamaru senang. Paling tidak, ada sesuatu hal yang bisa aku lakukan untuknya." Tenten mengulum senyum kecil. Meski ia sendiri sering kualahan menghadapi adiknya, tapi selama ia mampu, ia akan dengan senang hati melakukannya.
"Kenapa kau akhir-akhir ini sangat perhatian pada adikmu ? Kau tidak seperti ini sebelum kau pindah kelas. Apa ada sesuatu ?" Kurenai mencondongkan sedikit badannya.
"Hmh, yaaah mungkin sikap Konohamaru yang selalu mengingatkan aku pada seseorang." Tenten tersenyum kecil dan memandang kosong bongkahan kayu berbentuk meja di hadapannya.
"Dan siapa orang itu ?" Tanya Ibunya.
"Siapa ?" Tenten balik bertanya dan mengerjapkan matanya.
"Orang yang berhasil membuatmu mengingatnya jika melihat Konohamaru." Kurenai menaikkan kedua tangannya di atas meja.
"A..apa yang Kaasan bicarakan ? Ma..mana mungkin ada orang yang seperti Konohamaru." Tenten gagap.
"Kau baru saja mengatakannya tadi." Goda Kurenai.
"Ka..kapan ? A..aku tidak pernah berkata seperti itu." Tenten mencoba mengelak.
"Ternyata anak gadisku sudah berani mencintai seseorang." Kurenai menggoda.
"Kaasan, apa yang Kaasan katakan ?" Tenten menutupi semu merah yang muncul di kedua pipinya.
Kurenai beranjak dari duduknya dan menghampiri Tenten yang duduk di sebrang meja. Wanita itu lantas memegang kedua bahu Tenten dan menatap manik mata anaknya. "Dengarkan Kaasan Tenten. Siapa pun berhak jatuh cinta. Tapi jika kau sudah memutuskan untuk jatuh cinta, kau juga harus siap menerima rasa sakitnya. Kau sudah cukup dewasa untuk memahami kata-kata Kaasan."
oOo
Tenten menutup pintu kamarnya dan berjalan gontai menuju lemari kecil yang berada di sudut kamarnya. Gadis itu membuka perlahan lemari kecil itu hingga menimbulkan suara decit yang tidak terlalu keras. Beberapa detik kemudian, ia segera mengeluarkan semua isi dari lemari itu dan membawanya ke atas tempat tidurnya. Tenten membanting pelan dirinya ke atas kasur dan membuka beberapa halaman album di hadapannya. Gadis itu tersenyum samar ketika ia tiba di halaman yang menunjukkan foto dirinya dan Neji saling membelakangi di kediaman Hyuuga. Foto itu dengan sengaja di ambil oleh Hinata untuk menggoda dirinya dan Neji saat itu.
Setelah beberapa saat memuaskan diri memandangi gambar dirinya dan Neji, Tenten memutuskan untuk segera menutup buku album itu. Ia tidak mau merasakan lagi rasa perih di hatinya lebih dari ini jika ia membuka halaman album itu lebih jauh lagi. Begitu banyak foto dirinya dan Neji yang Hinata abadikan ia letakkan di dalam album ini. Tangan kanan Tenten meraih sebuah ikat rambut kecil berwana biru gelap yang ia kenakan ketika lelaki bermata lavender itu menyelamatkannya saat ia di sekap di gudang sekolah oleh Sakura. Masih jelas tercium, bau khas Neji di ikat rambut kecil itu memenuhi rongga hidung Tenten. Bau mint dengan sedikit aroma pinus. Ia lalu tersenyum kecil dan kembali meletakkan ikat rambut itu di atas album miliknya. Mungkin inilah saat untuknya melupakan semua hal tentang lelaki itu. Ketika ia memutuskan untuk mencintai seorang Hyuuga Neji, ia juga harus siap jika lelaki itu sama sekali tak membalas perasaanya. Perkataan ibunya tadi, bagaikan sebuah sindiran kecil untukknya.
Gadis itu tersenyum kecil dan mengangkat dua benda itu keluar kamar. Ia kemudian menghampiri ibunya yang masih sibuk memasak hingga kini. Tenten mengedarkan pandangannya ke setiap sudut dapur.
"Apa yang kau cari Tenten ?" Kurenai memalingkan sedikit wajahnya.
"Apa Kaasan melihat korek api ?" Tenten menoleh pada Kurenai.
"Sepertinya sedang di gunakan oleh Konohamaru di belakang rumah." Kurenai menjawab sembari mengaduk pelan sayur yang sepertinya belum mendidih.
Tenten segera melangkahkan kakinya cepat ke belakang rumah. Dan setelah ia sampai, benar saja. Adiknya tengah memasukkan sesuatu ke dalam tong besi yang memang di sediakan untuk membakar sampah plastik di rumahnya. Tenten menghampiri Konohamaru dan menyentuh bahu kanan adik laki-lakinya itu. Bocah itu segera memalingkan wajahnya cepat ketika ia merasa ada seseorang menyentuh bahunya. Sedetik setelah ia tau kalau kakaknya lah yang datang, bocah itu bernafas lega.
"Apa itu hasil ulanganmu kemarin ?" Tenten menaikkan alisnya sembari menatap beberapa carik kertas yang sudah di makan api.
"Hn, apa kau mau mengadukan hal ini pada Kaasan lagi ?" Konohamaru bertanya malas.
"Aku sedang tidak dalam mood untuk melakukan hal itu. Aku juga akan melakukan hal yang sama denganmu." Tenten melemparkan buku album dan ikat rambut di tangannya ke dalam tong.
"Nee-chan, aku tidak menyangka. Ternyata nilai ulanganmu yang buruk lebih banyak dariku." Konohamaru menatap takjub benda tebal yang baru saja gadis itu lemparkan.
Pletakk…
"Aku tidak sepertimu adikku. Aku tidak pernah mendapat nilai buruk ketika ujian." Tenten menjitak pelan kepala Konohamaru.
"Lalu, apa yang baru saja kau lemparkan di sana ?" Konohamaru mengelus pelan kepalanya.
"Sesuatu yang tidak seharusnya berada di sini." Tenten tertawa samar.
"Apa kau sedang ada masalah ?" Konohamaru memalingkan wajahnya.
"Bukan manusia namanya jika hidup tanpa masalah. Daripada kau menyanyakan masalahku, lebih baik perbaiki dulu masalahmu yang itu." Tenten memajukkan mulutnya ke arah abu kertas bekas pembakaran, kemudian berlalu pergi meninggalkan Konohamaru.
Bocah kecil itu menahan tangan kanan kakaknya sebelum dia benar-benar menghilang dari hadapannya. Tenten mengerjap terkejut dan memalingkan matanya pada Konohamaru. Gadis itu sedikit rekejut melihat tatapan amarah yang adiknya tampakkan.
"Apa ini ada hubungannya dengan lelaki pirang itu ?" Konohamaru bertanya dengan nada dingin.
"A..apa maksudmu ?" Tenten membalikkan tubuhnya terkejut.
"Jika benar lelaki itu yang melakukan ini pada Nee-chan, aku tidak akan mengampuninya." Konohamaru melepas tangan Tenten.
"Ke..kenapa kau berkata seperti itu ?" Tenten mengerjap heran.
"Nee-chan, saat malam dimana kau bilang pada Kaasan, kau berada rumah Hinata Nee-chan. Aku tau kau menangis saat itu. Kau bisa menipu Kaasan, tapi kau tidak bisa menipuku. Aku melihat jelas matamu yang bengkak malam itu. Aku juga melihat, ketika kau membuang seragammu yang robek ke tempat sampah. Andai kau tau, ingin sekali rasanya aku memukul orang yang melakukan itu padamu sampai mati. Tidak akan kubirakan siapa pun menyakitimu." Konohamaru mengepalkan kedua tangannya.
Tenten kembali menghampiri Konohamaru dan duduk di sampingnya. Gadis itu kemudian merangkul hangat bahu Konohamaru dan tersenyum hangat. Beberapa detik kemudian, ia menempelkan pipi kanannya ke pipi kiri adiknya. Tangan kanan Tenten naik ke kepala Konohamaru dan mengelus kepala adiknya penuh kasih sayang. "Terimakasih kau sudah mengkhawatirkanku. Tapi kau tidak perlu melakukan hal sampai sejauh itu. Melihatmu tersenyum bahagia setiap hari sudah cukup untukku melupakan semua masalahku. Tersenyumlah setiap hari untukku, dengan begitu secara tidak langsung kau sudah banyak membantuku." Tenten memeluk Konohamaru lebih erat.
"Aku akan melakukan itu dengan senang hati. Tapi, jika aku tau siapa orang yang melakukan hal buruk padamu malam itu, aku akan menghabisinya." Konohamaru menatap jauh kedepan.
"Entah apa yang terjadi diantara kalian. Kadang kala kalian bertarung sengit, tapi di waktu yang lain, kalian terlihat sangat manis jika sedang seperti ini. Kaasan menyayangi kalian." Kurenai tiba-tiba bersimpuh memeluk kedua anaknya.
.
.
.
.
.
Musim Hujan telah menyambangi Jepang beberapa hari ini. Dua orang gadis dengan wajah yang berbeda duduk di bangku kantin saling berhadapan. Sama sekali tidak ada perbincangan yang berarti dari mereka berdua. Mereka hanya membahas tentang hal kecil layaknya seorang wanita. Gadis cantik berambut indigo itu sesekali melahap potongan kecil sandwich yang ia pesan beberapa menit yang lalu. Sedangkan gadis panda di hadapannya hanya menyeruput malas minuman dari dalam gelas di hadapannya.
"Apa kau menerima bingkisan lagi ?" Hinata menatap Tenten.
"Hn, dan semua benda itu hanya memenuhi setiap sudut kamarku." Gadis itu menaikkan kedua bahunya.
"Bukankah kau bilang kau sudah menyumbangkannya ke panti asuhan ?" Hinata mengerutkan dahinya.
"Tidak semua benda yang aku dapatkan bisa kusumbangkan. Hanya sebagian kecil diantara benda itu yang menurutku pantas untuk anak di bawah umur yang aku berikan. Sisanya, masih tergeletak kamarku." Tenten menjawab apa adanya.
"Apa kau tidak pernah menggunakan satu pun barang yang di berikan penggemarmu ?" Hinata sedikit berbisik. Tenten menggeleng lemah dan kembali menyeruput minumannya malas. "Kenapa ?" Gadis itu kembali bertanya.
"Tanpa bertanya pun kau pasti sudah tau. Apa kau mau membuatku mengulang kembali jawaban bodoh tempo hari ketika kau menanyakan hal yang sama ?" Tenten menaikkan kedua alisnya.
"Huuh, aku kan hanya berusaha membuka pembicaraan." Hinata menarik dirinya ke belakang dan bersandar pada sandaran kursi.
"Apa kau tau tentang acara ulangtahun sekolah ?" Tenten memalingkan wajah pada Hinata.
"Ya, dan bukankah acara itu akan di gelar besok malam ?"
"Apa kau akan datang ?" Tenten bertanya dengan suara lirih.
"Bukankah mau tidak mau semua siswa di haruskan datang ?" Hinata balik bertanya.
"Hn, kau benar. Tapi, apa kau tau caranya agar aku tidak di hukum meski aku tidak datang ke acara itu ?"
"Mungkin kau harus mematahkan salah satu kakimu agar kau bisa mendapat surat keterangan lumpuh dari dokter. Dan dengan begitu, kau tidak perlu bersusah payah datang ke acara itu." Hinata menjawab asal.
"Kaki-kakiku lebih berharga dari apa pun." Tenten menanggapi malas.
"Mungkin hanya ada satu cara. Kau harus minta ijin pada ketua osis di sekolah ini."
"Lebih baik aku mati." Tenten mendengus kesal.
oOo
Seseorang mengetuk pelan pintu kamar Naruto. Pemuda pirang itu mendengus kesal ketika waktu bermainnya terganggu karena suara ketukan itu. Ia melemparkan stick video gamenya begitu saja. Ia lalu melangkah malas, kemudian membuka pintu kamarnya dan mendapati ibunya telah berdiri di depan kamarnya.
"Sampai kapan kau akan bergulat dengan benda keras itu ?" Kushina melipat kedua tangannya kesal.
"Kaasan, bukankah Tenten sudah mengundurkan diri ? Lalu apa yang harus aku lakukan ?" Naruto memutar kedua bola matanya malas.
"Kau benar. Tapi apa dia mengatakan kalau dia tidak akan mencari pengganti dirinya ?" Kushina bertanya kembali.
"Hn, baiklah baiklah. Dan siapa penggantinya ?" Naruto melayangkan ke setiap sudut ruangan yang berada di lantai dua. Namun, nihil. Tidak ada siapa pun selain dirinya dan ibunya.
"Dia ada di bawah. Siapkan semuanya, Kaasan akan menyuruhnya ke kamarmu," Kushina pergi meninggalkan Naruto.
"Apa akan sama jadinya kalau bukan Tenten yang berada di sini ?" Naruto menatap kosong pintu kamarnya yang tertutup dan bergumam lirih. "Haaa… Dasar panda! Kenapa kau harus mengundurkan diri ?!" Naruto mengumpat tidak berguna sembari mengemasi video game yang baru saja ia mainkan.
oOo
Jika di jam seperti ini biasanya mata Naruto menangkap seorang gadis tomboy bermata hazel, berambut cokelat, dengan senyuman manisnya, serta tak lupa kata-kata 'Baka', dan 'Idiot' yang selalu di lontarkan padanya, kini semuanya berubah. Yang tersaji di depannya kali ini sangat berbeda. Seorang gadis cerdas dan anggun dengan rambut indigo, mata lavender, serta senyum manis yang tak pernah lepas dari wajah cantiknya dan membuat wajahnya terlihat makin cantik.
"Ja..jadi kau orangnya ?" Naruto memalingkan wajahnya sembari memainkan pensilnya berusaha mencairkan suasana yang sedari tadi terasa canggung.
"I..iya Na..Naruto-kun." Hinata menunduk.
"Kenapa ?" Naruto kembali bertanya.
"Ke..kenapa a..apanya ?" Hinata gagap sembari memalingkan sedikit pandangannya ke arah Naruto.
"A..ah, ti..tidak. tidak perlu di bahas lagi." Naruto mengarahkan pandanganya ke objek lain.
"Na..Naruto-kun, a..apa kau mau menjadi pa..pasanganku di acara ulang tahun sekolah lu..lusa ?" Hinata menatap Naruto ragu.
Naruto membulatkan matanya sempurna. Baru saja ia hendak berpikir akan mengajak siapa untuk datang ke acara itu. "A..aku ?" Suara Naruto sedikit parau.
"I..iya, Na..Naruto-kun," Hinata menundukkan kepalanya malu.
"Apa kau yakin ?" Naruto bertanya sekali lagi.
"Sa..sangat."
"Baiklah," Naruto mengulum senyum.
oOo
Tenten mengguling-gulingkan tubuhnya di atas kasur gusar. Sudah ratusan kali ia mengecek ponselnya siapa tau ada telfon masuk atau paling tidak pesan singkat yang ia terima dari seseorang yang sedari tadi menggelayuti pikirannya. Gadis itu beranjak dari tempat tidurnya dan berlarian dari sudut kamar yang satu, ke sudut kamar yang lainnya berusaha mengusir pikiran bodoh yang masih setia menemaninya malam ini. Ia melirik sekilas jam dinding berwarna cokelat yang tergantung manis di dinding kamarnya. Jarum jam yang sudah menunjukkan pukul setengah 9 malam membuatnya semakin gusar. Ia lantas kembali menyambar cepat ponselnya dan menekan beberapa tombol yang berada di sana. Beberapa detik kemudian, ia memutuskan untuk menekan tombol 'Back' pada layar ponselnya dan kembali melempar kasar benda itu ke tempat tidurnya.
Tenten menggigit kecil kuku ibu jarinya sembari memikirkan keadaan Hinata, sahabatnya yang mulai hari ini akan membimbing Naruto menggantikan dirinya. Yang ia pikirkan adalah, bagaimana kalau Hinata kesulitan membimbing Naruto dengan otaknya yang pas-pasan itu ? Bukan tidak mungkin kalau esok hari ia akan melihat kerutan-kerutan kecil muncul di wajah mulus Hinata. Bagaimana kalau Naruto merasa tidak nyaman belajar dengan Hinata dan memutuskan untuk mengerjai gadis cantik itu habis-habisan ? Bisa-bisa, gadis itu pulang dengan mata bengkak karena menangis. Atau yang lebih parah lagi, Hinata pulang dengan keadaan tidak sadarkan diri. Bagaimana jika Naruto berbuat macam-macam pada Hinata ? Seperti yang semua orang tau, Hinata adalah gadis baik, cantik, dan pemalu. Bisa saja lelaki cabul itu berbuat sesuatu pada sahabatnya. Tenten membulatkan matanya terkejut saat sesuatu melintas di otaknya.
"Bagaimana kalau Hinata menyatakan perasaanya pada Naruto ?" Gumam Tenten menggit kecil bibir bawahnya. Tenten menggelengkan kepalanya cepat. Tidak mungkin. Tidak mungkin Hinata memiliki nyali sebesar itu. Ia tau betul bagaimana sifat seorang Hinata. Tapi, jika seseorang dalam keadaan terdesak, bukan tidak mungkin kalau dia melakukan suatu hal yang bisa di bilang nekat.
Tenten menyambar cepat ponselnya dan menekan beberapa tombol untuk mencari nama seseorang yang akan ia hubungi. Segera ia tempelkan ponselnya pada telinga kirinya. Namun, sebelum nada terdengar, ia kembali mematikan ponselnya dan kembali melemparnya ke tempat tidur. Tenten meremas rambutnya gemas. Sebenarnya apa yang ada di pikirannya sampai ia harus menelfon lelaki cabul itu. Jujur ia sangat membenci pergulatan batin seperti yang ia alami sekarang. Di otaknya, ia berusaha menyingkirkan semua yang berhubungan dengan lelaki itu. Tapi di hati kecilnya, sangat jelas jika ia khawatir kalau-kalau Hinata menyatakan perasaanya pada Naruto. Apa maksud dari semua ini ?
Tok..tok..tok..
Suara seseorang mengetuk pintu kamar Tenten membuyarkan semua pikiran Tenten. Gadis itu menurunkan ibu jarinya yang sedari tadi melekat di bibir dan berjalan menuju pintu kamarnya. Di luar kamarnya, ibunya telah berdiri dengan sebuah kotak berukuran besar di tangannya. Tenten menatap bingung pada kotak berwana violet di hadapannya. Kembali ia memalingkan pengelihatannya pada ibunya yang mengulum senyum khasnya.
"Seorang kurir mengatakan kalau ini untukmu." Kurenai memberikan kotak itu pada Tenten.
"Untukku ?" Tenten mengarahkan jari telunjukknya pada dirinya sendiri.
Dengan hati yang bergumuruh tidak karuan. Tenten bersiap membuka bingkisan yang seseorang kirimkan untuknya. Ia menutup kedua matanya sembari tangannya membuka tutup kotak yang kini berada di pangkuannya. Gadis itu membuka matanya dan mengerutkan dahinya bingung. Sebuah tumpukan kain berwarna biru gelap dengan hiasan manik-manik di bagian sampingnya. Tidak ketinggalan juga, sebuah bandana berwarna perak berbentuk pita kecil-kecil dan sepasang sepatu high heels hitam dengan aksen pita berwarna putih pada bagian atasnya, berada di sampingnya. Ia kemudian mengalihkan fokusnya pada secarik kertas yang di selipkan di antara gaun tersebut dan sepatunya. Mungkin hanya kertas itulah yang bisa menjawab semua rasa penasaran Tenten. Ia mengambil kertas berwana pastel itu dan segera membukanya.
"Aku akan menjemputmu besok malam. Kenakan gaun ini, dan kau akan menjadi pasanganku."
*Uchiha Sasuke
Terkejut. Pasti hanya satu perasaan itulah yang saat ini Tenten rasakan. Ia tidak pernah memikirkan tentang pasangannya untuk menghadiri acara konyol itu. Tidak sekali pun. Jangankan untuk mencari pasangan, hanya untuk memikirkan ia datang ke acara itu atau tidak saja, ia sudah sangat-sangat malas. Yang selama ini berusaha ia pikirkan adalah, mencari alasan yang tepat untuk tidak menghadiri acara tersebut. Tapi kini, entah apa yang di pikirkan bungsu Uchiha itu hingga mau mengajak dan menjadikan itik buruk rupa seperti Tenten sebagai pasangan. Sementara di luar sana, terlalu banyak wanita yang lebih pantas mendampingi lelaki emo itu. Dan Tenten pikir, wanita itu bukanlah dirinya.
Perlahan kedua tangannya mengarah pada dua lengan gaun yang masih terlipat di dalam kotak dan segera mengeluarkan benda sutra itu. Dan benar saja, sebuah gaun yang sangat indah dengan panjang mencapai mata kaki, kini tersaji di hadapan Tenten. Gaun berwarna biru gelap tanpa lengan, dengan aksen bunga rumit berwana senada berada di bagian dada hingga pinggang. Tidak dapat di pungkiri sekali melihat, Tenten langsung jatuh hati pada gaun itu. Jangankan dia yang kedua matanya bisa melihat dengan sempurna, bahkan wanita buta pun akan langsung jatuh hati pada gaun ini dengan hanya menyentuhnya. Meski sifat tomboy Tenten mendarah daging, namun gen feminim Tenten tetap mengalir deras di setiap tetes darahnya. Mungkin harga gaun ini hampir sama dengan gaji ayahnya selama sebulan.
Drrt..drrt..drrt..
Ponsel Tenten bergetar ketika sang pemilik sedang larut dalam keindahan gaun yang berada di tangannya. Ia meletakkan gaun tersbeut di atas tempat tidurnya dan segera beralih mengambil ponselnya yang telah bergetar sejak beberapa detik yang lalu.
"Hinata," Tenten membuka suara.
"Hai Tenten. Aku sangat bahagia malam ini." Hinata menjawab panggilan Tenten dari tempat lain.
"Benarkah, dan apa yang membuatmu seperti ini ?" Tenten duduk di tepi kasurnya dan mengulum senyum mendengar kata-kata 'bahagia' dari sahabatnya.
"Kami berdua akan menjadi pasangan di acara ulangtahun sekolah." Hinata berteriak kegirangan.
"Siapa ?" Tenten menaikkan alisnya bingung.
"Siapa lagi ? Tentu saja aku dan Naruto."
"Na..Na..Naruto ?" Tenten melebarkan kornea matanya mendengar nama Naruto di sebut oleh sahabatnya.
"Hm, dan besok pagi kami akan pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli gaun dan jas untuk kami kenakan di acara itu. Bukankah itu sangat hebat ?!"
"I..iya itu sa..sangat hebat,' Tenten tersenyum palsu. Beruntung gadis cantik itu tidak bersamanya sekarang. Tidak bisa ia bayangkan jika Hinata kini berada di hadapannya, mungkin hanya 3 detik waktu yang di butuhkannya untuk membaca pikiran Tenten yang sangat nampak dari raut wajahnya.
"Ada apa denganmu ? Kenapa suaramu terdengar sangat parau ? Apa kau baik-baik saja ?" Hinata merubah nada bicaranya.
"Ah, a..aku ? A..aku baik-baik saja." Tenten membalas cepat.
"Benarkah ? Kalau begitu, apa kau akan datang besok malam ?"
"Entahlah Hinata, aku akan memikirkannya lagi. Bagaimana rasanya membimbing Naruto ? Apakah susah ?" Tenten mengalihkan pembicaraan.
"Tidak. Dia sama sekali tidak seperti yang kau katakan. Dia adalah laki-laki yang baik dan sangat menghargai wanita. Dia juga bisa mengerjakan semua soal yang aku berikan dengan cepat dan mudah. Dengan kata lain, dia sangat cerdas." Hinata menjelaskan.
"Apa kau salah membimbing orang. Mungkin saat itu yang kau bimbing Neji, bukan Naruto." Tenten mengerutkan dahinya heran.
"Kau ini bicara apa Tenten ? Untuk apa aku membimbing Neji-san ? Dia sudah sangat pandai, bahkan melebihi diriku. Dan Naruto adalah orang pertama yang aku bimbing. Jadi, tidak mungkin aku salah."
"Begitukah ? Ya, ba..baguslah ka..kalau begitu. Mu..mungkin Na..Naruto lebih senang jika pembimbingnya adalah kau. Buktinya IQnya naik secara drastis." Tenten tersenyum samar.
"Terimakasih Tenten. Karena kau aku bisa lebih dekat dengan Naruto. Kau adalah sahabat terbaikku." Hinata melirihkan suaranya.
"I..itu bukan masalah. Selama kau bahagia, pasti aku juga ikut bahagia."
.
.
.
.
.
.
.
Sinar matahari telah mencapai Jepang sejak beberapa jam yang lalu. Namun anak sulung Asuma Sarutobi itu masih saja bergumul dengan selimut tebalnya hingga kini. Kedua mata indahnya masih terpejam rapat dan masih larut dalam mimpinya sejak malam tadi. Sudah puluhan kali Kurenai berusaha membangunkan putrinya, namun hasilnya, gadis itu tetap saja setia dengan aktivitasnya saat ini. Memejamkan kedua matanya erat, menarik selimutnya hingga menutupi dirinya, dan.. kembali terjun ke alam yang biasa orang sebut dengan alam mimpi.
Kurenai kembali membuka kasar pintu kamar Tenten ketika mendapati gadis itu masih terlelap. Ia lantas menarik kasar selimut Tenten dan menarik anak gadisnya itu ke posisi duduk. Tenten sengaja memberatkan dirinya agar ibunya menyerah untuk memaksanya menemani dirinya belanja. Paling tidak, jangan hari ini. Sungguh, yang Tenten inginkan hanyalah berada di kamar tanpa ada gangguan. Kecuali jika tiba waktu makan.
"Ayolah, kau ini gadis. Tidak baik bangun siang." Kurenai menarik Tenten lebih kuat.
"Tapi Kaasan, ini kan hari libur. Apa salahnya kalau aku bangun sedikit siang ?" Tenten berusaha menepis kedua tangan ibunya lemah.
"Sedikit siang kau bilang ? Ini sudah hampir pukul 11 siang. Bahkan kau sudah melewatkan waktu sarapanmu." Kurenai menaikkan suaranya.
"Hmh, baiklah. Aku akan turun untuk makan siang. Tapi setelahnya, jangan ganggu aku lagi." Tenten bergerak turun dari tempat tidurnya malas.
"Tidak bisa. Kau harus menemani Kaasan ke pusat perbelanjaan setelah ini."
"Untuk apa ? Tidak biasanya Kaasan suka dengan hal yang seperti itu ?" Suara Tenten terdengar parau.
"Mungkin karena Tousan telah berhasil memenangkan proyeknya di luar kota kemarin. Dan kau tau, Tousan mendapat bonus dari perusahaan. Dan bonusnya cukup untuk membeli sebuah mobil baru." Kurenai meloncat girang.
"Kaasan, kenapa harus mengajakku kalau Kaasan ingin membeli mobil ? Bukankah Tousan lebih tau tentang hal itu ?" Mungkin karena efek bangun tidur, otak Tenten tidak bekerja seperti yang seharusnya.
"Apa kau akan mandi sekarang ? Atau Kaasan yang harus mengguyurmu dengan seember air sekarang juga ?!" Kurenai berkacak pinggang.
"Ba..baik ba..baiklah. Aku akan segera mandi Kaasan." Tenten langsung berlari dan segera menyambar handuknya yang ia gantung di depan kamar mandinya.
oOo
Kedua kaki Tenten sepertinya akan segera lepas dari tempatnya. Bagaimana tidak ? Sudah hampir dua jam ia, adiknya, dan tentu saja ibunya mengelilingi pusat perbelanjaan ini. Semua barang yang Kurenai dan Konohamaru inginkan sudah berada di tangan. Kini yang tertinggal hanya perut Tenten yang kembali meronta. Jatah makan siang di rumah beberapa jam yang lalu sudah habis di karenakan ia harus membawa barang belanjaan Ibunya dan adiknya.
Kini Tenten berada di luar butik pakaian pria yang berada di salah satu pusat perbelanjaan. Ia menyadarkan punggungnya malas pada pagar pembatas yang berada di lantai empat. Ibunya masih saja berkutat dengan sebuah setelan jas berwarna hitam dan kemeja berwarna biru laut. Sudah pasti untuk suaminya. Itulah yang ada di pikiran Tenten ketika pengelihatannya mengarah pada ibunya yang masih sibuk memilih warna yang pas, menurutnya. Sedangkan bocah yang di beri nama Konohamaru itu baru saja mendapatkan es krim yang ia beli beberapa detik yang lalu. Tenten harap setelah adiknya itu mendapatkan es krimnya, bocah itu segera menghampirinya dan mengajaknya berbincang. Paling tidak ada sedikit hiburan untuk Tenten dengan sedikit menggoda adiknya itu. Namun, wajah Tenten semakin terlihat muram ketika adiknya lebih memilih masuk ke toko kaset, apalagi kalau bukan kaset video game.
Tenten menaikkan tangan kirinya dan melirik jamnya sekilas. Pukul 3 sore. Mungkin para siswi kini sedang sibuk mempercantik diri mereka masing-masing untuk menghadiri acara ulangtahun sekolah yang akan terselengara pukul 7 nanti. Dan mungkin sahabatnya Hinata lebih sibuk dari biasanya. Mengingat yang menjadi pasangannya malam ini adalah tambatan hatinya yang sudah lama ia cintai. Gadis itu pasti akan berusaha semaksimal mungkin untuk terlihat sempurna di mata pemuda pirang itu.
Kurenai telah keluar dari butik tersebut dengan membawa sebuah kantung berisi penuh baju-baju formal. Tenten menatap heran pada benda yang kini berada di tangan ibunya. Ia mengerutkan dahinya.
"Kaasan, untuk apa Kaasan membeli baju sebanyak itu ? Bukankah baju Tousan masih banyak ?" Tenten menatap heran ibunya.
"Kau akan tau kalau kita sudah sampai rumah. Mana adikmu ?" Kurenai menyapukan pandangannya ke segala arah.
Tenten melirik malas pada toko kaset video game yang hanya berjarak sekitar sepuluh meter dari butik tempat Kurenai membeli pakaian suaminya. Kurenai sangat paham arti dari lirikan Tenten. Sedetik kemudian, ia mengambil sebagian belanjaan dari tangan Tenten dan melngkahkan kakinya menuju tempat Konohamaru berada.
Mereka hampir masuk ke dalam toko kaset itu. Namun sial bagi Tenten, ia menabrak punggung ibunya sendiri di karenakan wanita itu berhenti mendadak tepat di depannya, dan secara tidak langsung membuat semua barang belanjaan yang ada di tangan Tenten jatuh begitu saja.
Tenten mengambil barang belanjaanya dan beralih menatap kesal pada ibunya yang berada tepat di depannya. Merasa tidak di pedulikan, ia lantas beralih ke hadapan ibunya dan menggoyangkan pelan bahu kiri wanita itu.
"Kaasan, haruskah aku meminta Tousan untuk memasang lampu sen di punggung Kaasan ?!" Tenten sedikit geram.
"Tenten, bukankah itu Hinata ?" Kurenai menunujuk salah satu butik yang di khususkan untuk para wanita tanpa mempedulikan ocehan dari anak sulungnya.
Tenten tidak bergeming. Ia masih tetap menatap ibunya. Karena ia pikir, perkataan ibunya tadi hanyalah sebuah alasan untuk mengalihkan masalah. Kurenai melihat Tenten sekilas dan segera menolehkan paksa kepala anaknya karena sudah di rasa cukup lama gadis bermata hazel itu berdiam diri.
Di luar dugaan. Ternyata benar apa yang di katakan ibunya. Kemarin malam sahabatnya itu mengatakan kalau hari ini dia dan Naruto akan pergi membeli keperluan untuk acara ulang tahun sekolah. Dan memang benar, Hinata kini tengah berjalan keluar dari sebuah butik bersama seorang pria yang sangat ia kenali. Dua manusia itu terlihat sangat bahagia menikmati first date mereka berdua. Berulang kali si pria tertawa lepas seiring dengan langkah kaki yang berjalan menelusuri setiap lorong pusat perbelanjaan ini. Begitu juga dengan sang wanita yang terlihat sangat senang dengan adanya kehadiran lelaki itu di sampingnya.
Tenten mengalihkan pandangannya ke arah lantai marmer di bawahnya. Entah perasaan apa yang menyelimuti dirinya, namun yang pasti, hatinya terasa sakit melihat adegan sederhana itu. Tatapan yang mereka lemparkan satu sama lain terasa sangat hangat hingga dirinya pun bisa merasakannya, meski dia sedang tidak berada di antara mereka saat ini. Terlebih ketika tangan si perempuan menggelayut manja pada lengan kekar pemuda pirang itu. Dan sepertinya pemuda itu sama sekali tidak merasa terganggu akan hal itu. Malah, ia mengenggam hangat tangan si wanita.
Degup jantung yang sudah berpacu tidak semestinya semakin berdegup tidak karuan ketika dua manusia itu berjalan ke arah dirinya, meski mereka berdua tidak tau siapa orang yang berada di tempat yang sama saat ini. Tenten salah tingkah. Ia tidak tau apa yang harus ia lakukan jika dua orang itu melihatnya. Ia memutar otak mencari jalan agar dua orang itu tidak melihatnya berada di sini. Sebersit ide muncul. Dengan alasan yang bisa di bilang jadul, ia pamit pada ibunya untuk pergi ke toilet.
Langkah cepat ia ambil untuk sampai ke toilet yang berada di lantai dua. Jika seseorang ingin sampai ke toilet, mereka harus menggunakan lift, atau paling tidak naik tangga berjalan. Mungkin menurut Tenten, arsitek yang membangun mall ini kurang bisa menempatkan jarak antara lift dan tangga berjalan dengan tepat. Terbukti, hanya tinggal berjalan 10 kaki dari lift, para pengunjung bisa juga menggunakan tangga berjalan. Dan sialnya lagi, dua orang yang sangat tidak ingin Tenten temui kini berhenti tepat di tengah-tengah lift dan tangga berjalan. Mungkin mereka sedang melepas lelah sejenak sebelum mereka melanjutkan kembali acara jalan-jalan mereka.
Tenten mematung di tempatnya yang berjarak sekitar 7 meter dari tempat Naruto dan Hinata berada. Ia sengaja menutupi wajahnya dengan tas cokelat miliknya yang sedari tadi menggantung di bahunya. Namun bukan Tenten namanya jika ia kehabisan akal. Ia lantas mengeluarkan kacamata hitam yang sudah berada di dalam tasnya sejak ayah dan ibunya mengajaknya ke pantai sekitar sebulan yang lalu. Tak ketinggalan topi hitam milik Konohamaru yang sengaja bocah itu titipkan padanya agar saat ia memilih kaset video game yang ia cari, ia tidak kerepotan dengan topinya, katanya.
Jika biasanya Tenten selalu mengeluarkan rambutnya melalui lubang topi yang berada di bagian belakangnya, kini ia harus menggerai rambutnya yang sudah lebih panjang mencapai punggung sejak insiden yang terjadi antara dirinya dan Sakura beberapa bulan yang lalu. Setelah di rasa cukup, ia kemudian melenggang santai sembari membusungkan sedikit dadanya melewati Naruto dan Hinata yang ternyata perhatian mereka berdua lebih tertuju pada ponsel milik Hinata daripada dirinya.
Tenten telah sampai di lantai dua. Namun ia tidak lantas pergi ke toilet, tapi ia malah melenggang santai memasuki sebuah restoran cepat saji yang berada tak jauh dari tangga berjalan. Karena seperti yang ia katakan tadi, kepergiannya hanyalah sebuah alasan agar dua mahluk itu tidak mengetahui keberadaanya. Ia mengambil ponsel miliknya yang berada di dalam tasnya. Kemudian, ia mengirim pesan singkat pada ibunya agar segera turun dan menemui dirinya.
oOo
Tenten menghempaskan tubuhnya pada sofa empuk di ruang keluarga. Begitu juga Kurenai yang mengikuti Tenten. Wanita itu duduk di samping Tenten setelah ia meletakkan barang belanjaanya di atas meja. Kalau Konohamaru, ia masih saja berkutat dengan PSPnya sejak berada di dalam taksi tadi.
"Kenapa kau masih di sini ? Acaranya akan segera di mulai." Kurenai membuka pembicaraan.
"Acara apa Kaasan ? Apa Kaasan tidak melihat aku sangat lelah ?" Tenten menatap ibunya malas.
"Apa kau terbentur sesuatu tadi hingga amnesia menjangkiti dirimu ? Tentu saja acara ulang tahun sekolah. Apalagi ?" Dahi Kurenai berkerut.
Tenten bangun dari posisinya dan menatap ibunya heran. "Darimana Kaasan tau soal itu ? Aku tidak pernah menceritakan hal ini pada Kaasan."
"Ya..ya ma..mana mu..mungkin Kaasan lupa. Kau sudah hampir tiga ta..tahun di sekolah itu. Dan di tanggal ini pasti sekolahmu mengadakan pesta untuk acar ulang tahunnya seperti tahun-tahun sebelumnya. Bu..bukan begitu ?" Kurenai memilin ujung rambutnya sembari memutar dua bola matanya mencari alasan.
"Begitukah.. Tapi Kaasan, aku tidak mau hadir ke acara itu. Aku tidak punya seorang pun untuk ku ajak kesana." Tenten kembali pada posisi awalnya.
"Apa teman di sekolahmu sama sekali tidak ada yang memintamu untuk menjadi pasangannya ? Kurasa tidak mungkin Tenten."
"Sebenarnya ada. Tapi aku sudah menolaknya. Aku sudah mengirim pesan padanya kalau aku sakit dan aku tidak bisa menghadiri acara itu."
"Apa bingkisan kemarin itu dari lelaki itu ?" Kurenai menggeser duduknya. Tenten mengangguk lemah. " Dengar Tenten, Kaasan tau kau tidak ingin menghadiri acara itu. Tapi bukankah tidak sopan kalau menolak ajakan orang lain yang ingin kau temani. Kalau kau tidak ada halangan, kenapa harus mencari alasan untuk tidak datang ? Lagipula dia sudah memberimu gaun. Apa salahnya menyenangkan hati seseorang yang memiliki perasaan lebih padamu ?" Kurenai merangkul bahu Tenten dan menempelkan dahinya ke kepala Tenten.
"Tapi Kaasan…."
"Lekaslah kau mandi. Kaasan akan mempersiapkan semuanya. Dan untuk malam ini, Tenten yang tomboy akan berubah menjadi seorang tuan putri." Kurenai mengulum senyum manisnya.
oOo
Beberapa waktu yang lalu, Tenten hanyalah seorang gadis biasa yang kental akan sifat tomboynya. Namun kini semua jelas berbeda. Bagai seekor itik buruk rupa yang kini menjadi angsa cantik dengan bulu putih mengkilatnya. Di luar dugaan, ternyata seorang Tenten bisa menjadi seorang gadis yang menakjubkan hanya dengan sedikit polesan di wajah. Ya, kini Tenten telah siap untuk menghadiri acara malam ini.
Tenten beranjak dari kursi riasnya dengan sedikit mengangkat gaun pemberian Sasuke yang panjangnya mencapai mata kaki. Jika boleh jujur, sehelai handuk yang di lilitkan lebih nyaman bagi Tenten daripada gaun yang ia kenakan malam ini. Dandan yang sederhana. Itulah yang daritadi Tenten pinta dari sang ibu yang notabennya berada di posisi perias. Dan ocehan Tenten daritadi mendapatkan hasil yang cukup memuaskan. Make up sederhana di bagian wajah, rambut panjangnya yang ia ikat setinggi mungkin hingga memperlihatkan tengkuk jenjangnya, dan tak lupa juga ia melilitkan bandana yang memang sudah satu paket bersama gaun yang ia kenakan malam ini di atas kepalanya. Hanya laki-laki buta dan bodoh jika seandainya mereka mengatakan kalau penampilan Tenten malam ini biasa saja.
Kurenai segera mengemasi alat-alat make-upnya sebelum ia mengantarkan putrinya pergi ke acara itu. Namun siapa yang menduga, bunyi klakson dari halaman rumah sangat jelas terdengar oleh telinga mereka berdua. Tenten menyibakkan sedikit gorden kamarnya dan melihat mobil sport hitam masuk ke halaman rumah Tenten. Tidak salah lagi, itu adalah mobil si bungsu Uchiha. Apa yang dia lakukan disini ? Bukankah ia sudah mengirim pesan pada lelaki itu kalau dia tidak akan menghadiri acara itu ?
"Kaasan akan menemuinya terlebih dahulu. Sebelum kau turun, kenakan sepatu itu." Kurenai menunjuk sepatu yang berada di bawah tempat tidur Tenten. Tenten mengangguk dan segera memasukkan semua barang-barang yang dirasa perlu dan segera mengenakan sepatunya.
Mata Konohamaru tak bisa lepas dari seorang wanita yang menuruni tangga rumahnya. Ia hampir saja tersedak air mineral jika ia tidak bisa mengontrol dirinya. Konohamaru menyenggol pelan bahu ibunya yang berdiri di sampingnya. Kurenai mengalihkan pandangannya pada Konohamaru yang menampakkan raut wajah tidak percaya.
"Apa itu kakakku ?" Betapa polosnya pertanyaan yang Konohamaru lontarkan.
"Kalau bukan kakakmu siapa lagi ?" Kurenai mengejek anak bungsunya.
Tenten menghampiri Kurenai dan Konohamaru yang berada di ruang keluarga. Ia mengulum senyum dan bertanya pada ibunya. "Mana dia ?"
"Dia sudah di luar. Kaasan sudah menyuruhnya masuk. Tapi dia lebih memilih menunggumu di luar."
"Baiklah." Jawab Tenten singkat.
Tenten menarik sedikit gaunnya ke atas agar ia tidak terjatuh akibat gaun yang cukup merepotkan menurutnya. Ia lantas membuka pintu rumahnya setelah ia berhasil meraih knop pintu. Dan benar saja, seorang lelaki dengan rambut khasnya berdiri membelakangi dirinya. hanya tuxedo hitam yang membalut dirinya, namun semua itu sudah bisa membuatnya di juluki sebagai seorang pangeran. Tenten lalu melepas cengakramannya pada gaunnya dan berdiam diri di ambang pintu membiarkan lelaki itu membalikkan badannya terlebih dahulu.
Sasuke yang mendengar knop pintu terbuka segera membalikkan badannya setelah ia mengambil jeda untuk bernafas. Nafasnya yang tadinya lancar entah kenapa tiba-tiba terhenti. Matanya juga tak kunjung berkedip setelah ia melihat pemandangan indah di hadapannya. Degup jantungnya berpacu semakin keras seiring dengan langkah gadis itu yang berjalan mendekati dirinya.
Kini Tenten sudah berada tepat di hadapannya. Sikap yang seharusnya ia lakukan jika berhadapan dengan wanita tiba-tiba saja hilang dari memori ingatannya. Seandainya Sasuke adalah sebuah komputer, mungkin sebutan yang pas untuk Tenten adalah virus. Karena hanya dengan sedikit sentuhan virus, bukan hanya data-data yang hilang. Tapi juga bisa membuat computer itu sendiri padam dengan sendirinya. Ya, padam adalah kata-kata yang tepat untuk keadaan Sasuke saat ini. Pengelihatannya padam untuk wanita-wanita di sekitarnya. Karena hanya Tenten lah, satu-satunya cahaya yang mampu menyinari kehidupannya.
"A..apa kita akan berangkat sekarang ?" Tenten membuka suaranya ragu.
"Oh, ya. Baiklah." Sasuke sebisa mungkin agar tidak salah tingkah di hadapan Tenten.
oOo
Hampir 10 menit perjalanan, atau setara dengan separuh perjalanan menuju sekolah. Tidak ada sedikit pun perbincangan di antara Sasuke dan Tenten. Mereka saling diam satu sama lain. Tenten meremas tangannya sendiri gugup. Gugup memikirkan apa yang akan terjadi padanya jika semua orang tau, kalau pasangannya malam ini adalah lelaki ini. Sedangkan Sasuke masih berusaha memfokuskan pandangannya dan pikirannya ke arah jalan raya. Berkali-kali ia melakukan itu, berkali-kali pula matanya selalu beralih pada Tenten tanpa ia sadari.
"Ehem, ano Sa..Sasuke…" Tenten berdehem terlebih dahulu sebelum ia memanggil lelaki di sampingnya.
"Ya ?" Sasuke masih berusaha untuk stay cool.
"E..e, I..itu, ke..kenapa ka..kau datang kerumahku ? Bu..bukankah aku sudah mengirim pesan padamu ka..kalau aku tidak bisa me..menemanimu ?" Tenten menggaruk pelan tengkuknya.
"Bukankah kau duduk di sampingku sekarang ?" Sasuke melirik Tenten.
"A..aku tau. Ta..tapi kupikir ka..kau akan tetap datang walau ta..tanpa aku."
"Ya, aku memang berencana seperti itu. Tapi sebelum aku pergi, aku berniat melihat keadaanmu terlebih dahulu. Dan di luar dugaan, ternyata kau sehat dan sekarang kau duduk manis di sampingku." Sasuke mengulum senyum yang membuat meleleh hati para gadis yang melihatnya.
"Be..begitukah ?" Tenten tertawa samar. "Oh, dan te..terimakasih banyak ga..gaunnya. ini sangat cantik." Tenten sedikit menundukkan kepalanya.
"Bukan masalah. Dan terimakasih juga kau telah mengenakan gaun itu untukku. Kau sangat cantik malam ini."
Tenten menundukkan kepalanya malu. Kedua pipinya telah menampakkan ronanya. Ia lalu menutupi pipi sebelah kanannya. Setidaknya, agar Sasuke tidak melihat hal itu, mengingat bangku kemudi berada di sebelah kanan.
Sasuke melepas tangan kirinya dari kemudi dan meraih tangan kanan Tenten yang masih menutupi pipi kananya. "Jangan menutupinya. Kau semakin terlihat cantik dengan semu merah itu."
oOo
Pemuda berambut pirang dengan setelan tuxedo hitam sedang terlihat gusar. Berkali-kali ia melihat ke arah pintu aula sekolah. Namun orang yang ia harapkan untuk muncul sama sekali belum menampakkan batang hidungnya. Beberapa menit kemudian, ia mengalihkan pandangannya lagi pada pintu. Tepat saat ia melakukan itu, ada dua orang berjalan masuk ke dalam aula. Naruto harap, salah satu di antara mereka adalah orang yang ia harapkan muncul. Namun ternyata dua orang itu adalah Kakashi dan Shizune. Sebuah rahasia umum kalau guru berambut perak itu sudah mencintai, ah tepatnya menggilai guru berwajah cantik itu. Dan setelah bertahun-tahun memendam perasaan, akhirnya cupid mengarahkan panahnya pada mereka berdua.
Naruto menundukkan kepalanya lemas. Mungkin memang dia tidak akan datang. Acara akan segera di mulai, jadi lebih baik dia berada di samping Hinata yang jelas-jelas menjadi pasangannya malam ini.
Belum sempat Naruto mengalihkan pandangannya dari pintu, ia terpaksa harus melihat pemandangan yang menurutnya sangat tidak sedap di pandang mata secara tidak sengaja. Apalagi kalau bukan Uchiha Sasuke yang seorang diri melenggang santai masuk ke dalam aula. Sialnya lagi, mata Sasuke sudah terlebih dahulu melihat keberadaan Naruto yang tengah berdiri di samping meja minuman. Seketika itu juga langkah kaki lelaki itu membawanya ke tempat di mana Naruto berada.
Naruto melipat kedua tangannya angkuh menyambut kedatangan Sasuke. Berbeda dengan Sasuke yang lebih terlihat tenang menghadapi rival yang berdiri di hadapannya. Sasuke lantas memandang Hinata tengah berbincang dengan salah satu temannya. Sasuke tertawa renyah sembari memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
"Aku tidak menyangka, ternyata kau dapat pasangan juga."
"Aku juga tidak menyangka, ternyata seorang Uchiha Sasuke hadir seorang diri." Naruto tertawa remeh. Naruto mendekatkan sedikit tubuhnya pada Sasuke dan berbisik, "Apa kau butuh bantuan mencari pasangan ?"
"Maaf mengecewakanmu. Tapi kurasa kau tidak perlu melakukan hal semacam itu. Karena pasanganku yang sesungguhnya, akan segera tiba." Seringai muncul di wajah Sasuke.
"Huh, baguslah kalau begitu." Naruto tertawa remeh dan berbalik menjauhi Sasuke.
"Maaf Sasuke, apa kau menunggu terlalu lama ?" Seseorang tiba-tiba muncul dari belakang Sasuke.
"Sama sekali tidak." Sasuke menaikkan kedua bahunya santai menatap gadis itu dengan senyum mautnya.
Demi apa pun, Naruto sangat mengenali suara itu. Suara yang selalu menceramahinya ketika ia sedang berbuat salah. Suara yang tiap hari meneriakinya jika ia melakukan hal-hal di luar nalar. Suara yang sangat ia rindukan walau baru satu hari tidak bertemu.
Naruto membalikkan baddannya kembali dan menatap intens gadis yang berdiri anggun di samping Sasuke. Dan benar, itu adalah dia. Tenten. Tanpa ia sadari, dua bola matanya telah membulat sempurna melihat gadis itu malam ini. Entah energinya enyah kemana. Yang pasti, tubuhnya tidak bisa di gerakkan sedikit pun. Matanya hanya terpaku pada Tenten seorang. Kini ia berpikir, bagaimana ia tidak menyadari kecantikkan Tenten dari dulu. Kalau tau seorang Tenten bisa di rubah seperti ini, mungkin dia akan meperlakukan Tenten lebih baik lagi. Atau paling tidak, ia tidak perlu membanding-bandingkan Tenten dengan Sakura.
Berbeda dengan Tenten. Gadis itu harus menelan rasa kecewanya ketika perkataan sahabatnya itu terbukti, bahwa pasangannya malam ini adalah Naruto. Tenten menatap lemah pada Hinata sembari mengulas senyum samar ketika gadis itu berjalan menuju kemari.
Hinata telah berada di samping kanan Naruto. Ia lantas menggelayutkan kedua tangannya mesra pada lengan Naruto. Tenten sempat terkejut, namun sedetik kemudian ia mengarahkan pandangannya ke arah lain. Sialnya, setelah ia mengalihkan pandangannya dari Hinata, matanya menangkap seorang gadis berambut pink berlari pelan menuju kemari. Setelah ia sampai, tidak lain tidak bukan, tujuannya adalah seorang Uchiha Sasuke. Gadis itu kemudian menggelayutkan tangannya mesra pada lengan kekar Sasuke.
Tenten semakin muak dengan keadaan ini. Tidak seharusnya ia datang kemari jika hanya di paksa untuk melihat adegan seperti ini. Ia merasa seperti orang bodoh berada di tempat ini. Naruto terlihat masih berusaha tenang dengan kedua tangan Hinata berada di lengan kirinya. Sedangkan Sasuke masih berusaha melepas tangan Sakura tanpa menyakiti gadis itu.
Tenten menarik dirinya selangkah menjauh dari mereka berempat. Sedetik kemudian ia membalikkan badannya dan berjalan menjauhi mereka. Sasuke hendak menyusul Tenten jika ia tidak ditahan oleh Sakura. Sedangkan Naruto juga berpikir untuk mengejar gadis itu, namun ia tidak mau perasaan gadis di sampingnya ini terluka. Jadi ia lebih memilih berdiam diri meski hati kecilnya ingin sekali menyusul Tenten.
Sebuah tangan kekar menarik Tenten dan menyudutkannya ke dinding ketika ia hendak keluar melewati pintu aula. Tenten terkejut bukan main dan otomatis ia berontak. Namun tenaga orang itu lebih kuat darinya sampai pada akhirnya ia membuka matanya dan tau siapa orang yang telah membuatnya terkejut. Hyuuga Neji. Lelaki itu yang menariknya dan menahan dirinya dengan kedua tangan lelaki itu sedikit memberi penkenanan pada kedua bahunya yang tidak tebalut apapun. Tenten tidak tau apa tujuan Hyuuga satu ini melakukan ini. Yang pasti, kini wajah Hyuuga itu semakin mendekati wajahnya sembari ia miringkan sedikit kepalanya. Tenten menutup matanya rapat menahan kegugupan yang menjalarinya.
"Apakah Sarutobi-sama selalu menyuruh anaknya pergi sebelum acara di mulai ?" Neji melirihkan suaranya di telinga Tenten.
Lelaki itu kemudian menarik dirinya kebelakang memberi sedikit ruang bernafas pada gadis di hadapannya. Tenten membuka matanya lega. Ia takut malam ini ia harus mengalami hal yang sama ketika ia dan Sasuke berada di pantai saat itu.
oOo
Tenten duduk di sebuah bangku kayu yang berada di taman belakang sekolah. Tepatnya di tempat saat ia dan Naruto pertama kali bertemu. Ia sudah tidak lagi trauma dengan tempat ini seiring berjalannya waktu. Gadis itu sebelumnya telah berpesan pada Neji. Ia tidak mau lagi masuk ke tempat itu, meski ia harus menepati janjinya pada Neji untuk tidak pulang. Jadi mereka berdua memutuskan untuk menuju ke halaman belakang sekolah.
Tenten menyandarkan bahunya lemah seolah ia ingin melepaskan sebuah beban berat yang selama ini menghantuinya. Ia ingin semua hal itu lepas, ia ingin waktu segera berlalu agar ia bisa segera terbebas dari semua ini.
Satu tangan kekar menyentuh lembut pada bahu kanannya. Ia lalu mengalihkan matanya pada bahunya, benar saja. Seorang lelaki kini tengah membalut dirinya dengan jas abu-abu yang sebelumnya ia kenakan. Tenten memandang bingung pada lelaki di sampingnya. Sedangkan lelaki itu hanya menyandarkan bahunya santai sembari meletakkan kedua di atas sandaran bangku.
"Ehm, Ne..Neji," Lirih Tenten. Neji merespon panggilan Tenten hanya dengan mengalihkan pandangannya pada gadis itu. "Ke..kenapa kau ada di sini ? Bukankah acara sudah di mulai ?"
"Lalu, apa yang kau lakukan disini ?" Neji balik bertanya.
"A..a..aku,"
"Aku lebih baik di sini daripada harus masuk ke tempat yang mengharuskanku menjadi orang lain." Neji mengulum senyum.
"Lalu kenapa kau datang ?"
"Hanya Hinata yang membuatku mau menghadiri acara ini."
"Bukankah sudah ada Naruto ?"
"Aku tidak akan pernah mempercayai lelaki mana pun untuk menjaga Hinata." Kata Neji dingin.
"Tapi, bukankah suatu saat nanti Hinata harus menikah. Jika seandainya lelaki itu bukan dirimu, bukankah kau tidak mempunyai hak lagi untuk menjaga Hinata ?"
"Tapi bukankah hal itu belum terjadi ? Jadi, tidak ada salahnya bukan kalau aku berusaha untuk mendapatkannya ?" Neji mengulum senyum.
"Ya, kau benar… Jangan sepertiku, yang hanya hidup dalam dunia bawah sadar dan berharap lelaki yang aku cintai bisa melihatku tanpa ada apa pun yang membuatku terlihat istimewa di matanya." Tenten tertawa renyah. "Hinata gadis yang baik. Dia juga harus mendapatkan lelaki yang terbaik. Tapi, bukankah membiarkan dia bahagia bersama orang yang ia cintai jauh lebih berarti, di banding kau harus memaksanya berada di sampingmu tanpa ada rasa cinta yang ia hadirkan untukmu ? Kurasa itu jauh lebih menyakitkan."
Neji menatap bingung pada Tenten. Beberapa hari yang lalu, gadis ini berkata seolah ia sangat mendukung dirinya mendekati Hinata, namun kini yang ia lihat jauh berbeda. Dari tatapan matanya, nada bicaranya, bahkan sampai auranya bisa Neji rasakan. Tiga hal yang Neji amati dari diri Tenten saat ini, seolah ada rasa kekecewaan yang teramat dalam berusaha ia lepaskan semua, namun ada sesuatu yang mengganjal. Namun lelaki itu tidak bisa menerawang lebih jauh lagi karena gadis itu sudah terlebih dahulu beringsut dari posisinya.
"Meski aku hanyalah sahabat Hinata, tapi yang aku inginkan hanyalah melihat sahabatku bahagia. Jadi, lebih baik mulai sekarang kau biarkan Hinata bersama lelaki yang ia pilih. Mungkin itu adalah satu-satunya cara agar kau bisa membuatnya bahagia." Tenten membelakangi Neji yang masih duduk di bangku kayu tersebut. "Tidak ada salahnya untuk dirimu mencoba melepas Hinata sebelum semua terlambat. Permisi, Tuan Hyuuga." Tenten meletakkan jas Neji di atas bangku lalu pergi meninggalkan lelaki itu dengan tanda tanya besar di kepalanya.
oOo
Ia menyesal datang ke acara itu, ia menyesal mau menuruti perkataan ibunya, ia menyesal menerima ajakan Sasuke untuk menjadi pasangannya. Namun di banding itu semua, ia lebih menyesal masuk ke kehidupan seperti ini. Dosa apa yang ia lakukan di kehidupan sebelumnya hingga ia harus menjalani hidup serumit ini ? Ia lebih suka kehidupannya yang dulu. Tanpa ada stalker yang membuntutinya kemanapun ia pergi, tanpa ada secret admire yang selalu mengirim hadiah-hadiah yang menurutnya sangat tidak di perlukan, dan hanya mengenal seorang Hyuuga Neji dalam hidupnya tanpa ada laki-laki lain hingga pada akhirnya ia jatuh cinta pada lelaki itu. Namun kini semua jelas berbeda, terutama pada saat ia hanya mengenal dua lelaki dengan kepribadian yang sangat bertolak belakang. Siapa lagi kalau bukan Uzumaki Naruto dan Uchiha Sasuke. Jika dulu dirinya hanya mengenal Neji seorang, ia berani memantapkan hatinya untuk mencintai lelaki itu. Namun kini ia tidak bisa mengelak dan memungkiri kalau saat ini juga ada nama Uzumaki Naruto di hatinya. Meski rasa cintanya pada Naruto tidak sebanding dengan Neji, tapi dengan adanya nama Naruto, Tenten harus kembali memikirkan bagaimana ia bisa menghapus nama itu dari hatinya sebelum semua terlambat. Ia tidak mau di sebut sebagai penghinat karena telah mencintai lelaki yang sudah jelas-jelas di cintai oleh sahabatnya sendiri. Tenten tidak ada apa-apanya jika di bandingkan dengan Sakura, apalagi dengan seorang Hinata yang jelas-jelas jauh lebih sempurna darinya.
Lelehan air mata secara bergantian jatuh dari mata indah Tenten, membasahi kedua pipinya yang masih terpoles make-up. Ia tidak percaya, ia rela mengeluarkan air matanya begitu saja hanya untuk laki-laki yang bahkan sedikit pun tidak pernah memahami perasaanya. Sudah cukup ia berusaha agar lelaki pemuda bermarga Hyuuga itu berpaling padanya. Sudah cukup ia menanti agar lelaki itu paling tidak bisa mengetahui perasaanya. Sudah cukup baginya untuk selalu terlihat bahagia ketika bibir lelaki itu menyebut nama Hinata. Ia sudah lelah, sangat lelah memperjuangkan cintanya pada Neji yang bahkan besarnya tidak lebih dari setitik air di daun yang berembun. Atau mungkin malah tidak ada sama sekali. Apa belum cukup rasa sakit yang harus ia terima dari pemuda itu setiap ia membuka mulutnya dan melontarkan nama Hinata di hadapannya ? Seberapa besar lagi rasa sakit yang harus Tenten terima agar pemuda itu bisa melihatnya yang selama ini amat sangat mencintainya. Cukup sampai di sini saja ia memperjuangkan cinta semu yang selama ini ia harapkan.
Kemana lagi Tenten harus berpaling ? Uchiha Sasuke ? Tidak mungkin. Ia hanya menganggap lelaki itu sebagai teman atau sebagai rival. Jika ditanya soal Karate. Namun jika takdir berkata lain tentang dia dan Sasuke, mungkin suatu saat ada jalan terbaik yang telah Tuhan siapkan untuk mempertemukan dia dengan Sasuke. Jalan yang benar-benar bisa membuatnya melupakan lelaki yang selama ini mengisi relung hatinya.
Tik..
Setitik air hujan jatuh tepat di atas bahu kiri Tenten. Kedua tangan Tenten otomatis melindungi kepalanya dari guyuran hujan yang hampir seminggu ini menyambangi Jepang. Air hujan yang turun semakin lama semakin deras. Tidak mungkin ia menerobos hujan agar sampai rumahnya. Tapi apa lagi yang harus ia lakukan ? Ia tidak mungkin menunggu hujan berhenti, karena sepertinya, hal ini akan terjadi berjam-jam lamanya.
Tenten memutuskan untuk menerobos hujan agar sampai kerumahnya. Meski jam telah menunjukkan pukul setengah 10 malam, Tenten masih terus berjalan selangkah demi selangkah tanpa ada sesuatu yang ia takuti. Puluhan toko yang biasanya ramai dengan pengunjung di sepanjang jalan, kini sudah tertutup rapat karena sang pemilik lebih memilih istirahat di malam yang dingin ini, di banding harus melayani pembeli yang tiap jam makin bertambah jumlahnya. Jalanan kota pun sudah terlihat sepi, karena ini sudah hampir larut, dan juga orang gila mana yang akan berbelanja di tengah hujan deras seperti ini. Hanya ada satu atau dua orang yang melenggang santai melewati Tenten dengan sebuah payung untuk melindungi mereka dari air hujan. Sepertinya mereka juga sedang dalam perjalanan pulang menuju rumah mereka masing-masing. Berbeda dengan Tenten, ia tidak peduli akan air dingin yang kini telah membuatnya basah kuyup. Yang ia inginkan sekarang hanyalah sampai dirumah dan segera membaringkan dirinya di atas kasur empuk nan hangat miliknya. Paling tidak hanya itu yang dia inginkan untuk sedikit menenangkan dirinya.
Sepasang sepatu Tenten jinjing begitu saja dengan tangan kririnya. Sedangkan tangan kanannya sibuk menyingkap gaun yang ia kenakan agar ia tidak tersungkur ke tanah jika tanpa sengaja ia menginjak gaunnya sendiri. Langkahnya terasa berat di karenakan gaun yang ia kenakan sangat menghalangi langkahnya.
Greb…
Sesuatu yang menyambangi punggung Tenten berhasil membuatnya terkejut. Di tengah keterkejutannya, ia melirik sedikit bahunya dan melihat sebuah kain berwarna hitam berada di sana. Ia kemudian menghentikan langkahnya sejenak untuk menstabilkan degup jantungnya. Khawatir ada seseorang yang akan berbuat macam-macam padanya. Tenten membalikkan badannya perlahan untuk memastikan siapa orang yang saat ini berada di belakangnya. Jika benar ada orang yang akan melakukan hal buruk padanya, ia sudah mempersiapkan kedua tangannya untuk membanting orang itu ke atas aspal yang keras. Beberapa saat setelah ia membalikkan badanya, ia kembali terkejut saat mengetahui siapa orang yang dengan sengaja membalut tubuhnya dengan sebuah jas miliknya.
"Kau tidak perlu berjalan di tengah hujan untuk menutupinya. Karena air matamu jauh lebih jernih daripada air hujan. Kau bisa menipu orang lain, tapi tidak denganku." Lelaki itu berdiri di belakang Tenten sembari melipat kedua tangannya angkuh.
"Na..Na..Naruto ?"
"Kenapa kau menghindar ?" Naruto kembali bertanya tanpa memberi Tenten sedikit ruang untuk pulih dari keterkejutannya. Bibir Tenten masih terasa kelu untuk menjawab pertanyaan dari Naruto karena suara rintikan hujan yang cukup deras memenuhi gendang telingan. Tidak mendengar respon dari gadis di hadapannya, Naruto kemudian melangkah maju mendekati gadis itu yang masih membeku di tempatnya. "Aku tanya sekali lagi. Kenapa kau menghindar ?" Naruto menundukkan sedikit kepalanya agar ia bisa melihat manik mata Tenten yang letakkanya sedikit lebih rendah darinya.
"Me..menghindar ? A..apa maksudmu ?" Tenten menarik dirinya kebelakang memperluas jarak antara dirinya dan Naruto.
"Siang tadi, di pusat perbelanjaan. Kau tau aku ada di sana, lalu kenapa kau tidak menemuiku dan lebih memilih menghindar dariku ?" Naruto kembali memperkecil jarak antara dia dan Tenten.
"A..aku tadi siang tidak pergi kemanapun. Mungkin kau salah orang." Tenten tertawa renyah dengan sedikit mengibaskan tangan kanannya.
"Bahkan Konohamaru menyapaku siang tadi. Apa kau masih mau mengelak, Panda ?" Naruto berkata dengan nada dingin. "Kenapa kau melakukan itu ?" Tanya Naruto lagi.
"Apa aku harus menjawabnya ?" Balas Tenten cepat.
"Ya, karena tanpa kau sadari, kau berhasil membuatku gila kau tau ?!"
"Apa yang kau bicarakan ?" Tenten menaikkan sebelah alisnya.
"Sekarang aku mengerti. Kau mengundurkan diri menjadi pembimbingku dan menjadikan Hinata sebagai penggantimu agar Hinata bisa lebih dekat denganku dan kau berharap aku bisa melupakan Sakura dan berpaling pada sahabatmu itu. Kau menyuruh Sakura duduk dengan Sasuke begitu saja waktu itu tanpa kau katakan padaku alasan apa yang membuatmu melakukannya. Kau juga bersikap acuh, ketika Sakura menggandeng mesra Sasuke tadi. Kau bahkan lebih memilih pergi daripada harus mempertahankan lelaki yang sudah jelas-jelas menjadi pasanganmu. Kau ingin aku bersama Hinata dan kau juga sengaja membantu Sakura untuk lebih dekat dengan Sasuke tanpa semua orang sadari. Kau ingin semua orang di sekitarmu bahagia, lalu bagaimana denganmu ? Kau bahkan mengacuhkan perasaanmu yang sudah jelas tersakiti oleh seorang Hyuuga Neji. Pernahkah kau memikirkan kebahagiaanmu walau hanya sedetik ?" Naruto terlihat frustasi.
"Berhenti menyudutkanku ! Yah, kau benar. Memang itu semua adalah rencanaku. Aku mengundurkan diri menjadi pembimbingmu agar Hinata bisa lebih dekat dengamu. Kuakui, itu memang benar. Aku sengaja mendekatkan Sakura dan Sasuke, kau juga benar tentang hal itu. Tapi, jika kau mengatakan kalau aku tidak bahagia, kau salah. Aku akan hidup bahagia jika aku bisa lepas dari semua ini. Maka dari itu, aku tidak ingin memiliki hubungan apa pun dengan kau, Sasuke, atau pun Neji. Aku ingin segera menyelesaikan semuanya tanpa ada pihak yang tersakiti. Aku ingin melihat sahabatku bahagia dengan lelaki yang ia cintai. Apa aku salah ?" Tenten berteriak.
"Tapi apa kau pikir dengan kau mendekatkan sahabatmu pada lelaki itu, lelaki tersebut bisa bahagia ? Apa kau pernah memikirkan perasaan lelaki itu yang menganggap sahabatmu tidak lebih dari seorang teman ?"
"Ka..kau hanya menganggap Hinata teman ?" Tenten sedikit terkejut.
Naruto maju selangkah, dan sedetik kemudian keduan tangannya merengkuh pinggang Tenten dan memeluk gadis itu di tengah hujan deras yang mengguyur mereka. "Mengapa aku harus menyukainya jika aku sudah mengenal gadis yang jauh lebih baik darinya ?"
"Na..Naruto, ka..kau…"
Naruto melepas pelukannya dari Tenten dan menangkup pipi tenten dengan kedua tangannya. Tenten tak bisa berkutik meski dua tangan Naruto yang terasa begitu hangat walaupun kini air hujan masih setia mengguyur mereka berdua. Perlahan Naruto memperkecil jarak antara wajahnya dan Tenten. Pemuda itu memiringkan sedikit kepalanya ke kanan. Hanya tinggal satu centi jarak antara bibir Naruto dan Tenten, lelaki itu sejenak berkata, "Jangan menolaknya !"
Cup…
Gimana ? Gimana ? Gimana ? masih kurang greget ? Atau kurang memuaskan ? Hehe, semoga chapie depan lebih greget dan memuaskan dari ini ne (: Terimakasih bnyak buat readear yang masih setia nunggu lanjutan fic ini dan udh buang waktu klian utk ksih review :D. Sekali lgi Author minta maaf karena ngaret'y keterlaluan :p See you guys (:
