Halloha minna-san?! Gimana kabarnya? Mudah-mudahan sehat ya?! (: Niih, Author udah seret chpie terbaru dari fic ini lhooo. Meskipun rada lama :p Dan ternyata, semua pda suka sama scene Naru dan Ten di bagian akhir :D Emang sih ya, si Naru kdang cuek, kdang bisa romansu :/ Heran sma itu bocah :p

Review:…

Bohdong: Mmm, mungkin kalau gk chap dpan, ya chap depannya lgi deh bkal berakhir. Tapi Author belum bisa memastikan (: Hehe, iya nih. Tinggal ending aja ya, tpi chapie yg ini jga ada sdikit konflik kok (:

Namikaze Serizawa: Iya noh, udh di udpdate. Silahkan di baca (:

Yuris: Huaa, Author'y aja jga ikt terharu waktu bkin. Serasa pingin peluk itu bocah :D Wohoho, tenang aja. Udah di siapin kok, buat action orang ketiga, yg pasti bkal bkin Naruto naik darah (:

El bany: Hahaha, ya bgitulah dua bocah itu. Tpi kyk'y lbih nyak berantem'y ya, dripada sahabatannya :D Hehe, berbelit-belit ya? :p Maafkan Author deh yak lo gt T.T

Andypraze: Gimana selanjutnya? Baca aja deh.. :D

Akira ken: Huhuhu, terharu. Ternyata Akira masih setia nunggu fic ini :') Gpp klo NaruTen'y bkin snyum2 sndiri ampe kyk org gila. Tapi jngan ampe kelewat gila lho ya. Bahaya tuh :D

Guest: Mungkin iya, mungkin jga belum. Hehe, baca aja ne (: Dan satu lagi, jangan pnggil aku senpai ya? Aku belum semahir itu (:

Mushi kara-chan: Hehe, gpp kok (: Mungkin mau tamat. Tpi kan kedok si Naru blom kebuka (: Jadi, tnggu aja ya? Biar penasaran :D

Uzumaki rei-chan: Klo udpdate gk pasti sih. Biasanya dua minggu or tiga minggu sekali (: Hehe, maklum kan Author jga pu'y kesibukan di dunia nyata (:

Princhass: Okelah Princhass, mari kita nyebut sama2 'Astahgfirullahaladzim' :D Hehe, kan ini fic pertama. Author baru pula. Yaaa, maaf klo bkin pembaca kecewa :p, hehe. Semoga yg chpie ini gk terlalu flat ya? :D #Plakk..

Nagasaki: Makasih. Dan makasih jga udh ninggalin review (:

Nn: Udah semangat 45 nih :D

Saika: Hmmh, daripada nebak2, mnding baca aja chpie yg ini ya Bos :D

Mina Jasmine: Gpp kok (: Asal ninggalin review aja Author udah sneng (: Gpp jga kok dib ca bolak-balik. Asal jgan ampe lecek aja ya? :D Review kmu msuk dua kli lho. Yg atu review pertama, yg kedua review nagih :D Maaf ya, klo Author ngaret ): Hmmh, klo msalah udpdate, Author gk bisa nentuin. Kan Author gk hanya sibuk di dunia fanfic. Di dunia nyata juga Author sibuknya udh ngalahin artis :D Lagipula, kan klo update hrus bwa chap terbaru. Dan utk melanjutkan cerita kan butuh inspirasi, kan inspirasi dateng dgn sndiri'y. Klo di pksa mikir malah gk bisa (halah, ngmng opo to Author'y iki? #Plakk..) Dan berhubung Mina berkata akan senantiasa menunggu fic ttg Tenten, smua fic yg ada di sni main chara'y adalah Tenten. Jadi, silahkan di baca ne (: #Promosi mode on :D

Jamal: Udah di lanjut, Mkasih udh ninggalin review (:

Shido: Masih di update kok. Tenang aja, hehe :D Lhaaaa, klo gk ada ending, ntar jatoh'y mlah jdi kyk skenario sinetron donk :D He'em, Naruto'y gk peka sma keadaan Tenten ya :D Daripada nebak2 gk ada ujung'y, mnding lngsung dibca aj dah :D

Akamaru: Haha, iya. Si Naru udah mentok sma Tenten. Yg di tunggu udh datang, silahkan dibaca, dan slam kerang ajaiiib. Blowlowlowlowlowlow… :D

Guest: Hm, mungkin kata-kata rumit lbih tepat utk chpie yg ini :D Baca aja deh (:

Sunghatunseob: Huaduh, kok bisa ampe kebawa mimpi gt? Emank kmu mmpi'in gmana? Ksih tau Author donk? (penasaran maksimal) :D Hehe, gt ya. Tpi klo terlalu misterius, ntar jatuhnya jadi horor donk :D Hehe, bercanda deh :D #Plakk..

Udah dibales smua kan sma Author. Nah skarang tinggal baca deh guys (: Sebelumnya Author minta maaf klo ada Typo atau hal semacam'y yg menganggu (:

Silahkan minna-san… (:

Senin pagi kali ini adalah senin yang paling cerah di Jepang. Karena awan telah memuaskan hasratnya untuk menurunkan ribuan atau bahkan ratusan ribu liter airnya tadi malam. Bahkan pagi ini, sebuah pelangi menghiasi langit Jepang. Jutaan orang sudah pasti tersenyum ceria menikmati pemandangan yang Tuhan ciptakan untuk dinikmati para umatnya. Anak-anak kecil di sekitar komplek rumah Tenten bahkan lebih memilih datang terlambat ke sekolah, daripada harus melewatkan moment indah ini.

Namun cerahnya pagi ini tidak di barengi dengan kondisi gadis bermarga Sarutobi yang masih berada di atas kasurnya meski jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Sudah bisa di tebak, gadis itu demam akibat air hujan yang mengguyurnya kemarin malam bersama seorang pemuda tampan bernama Naruto. Yang Tenten tau saat ini hanyalah badannya terasa lemas, bersin yang tak kunjung berhenti, juga kedua lubang hidungnya yang tersumbat. Membuat dirinya harus berusaha bernafas jika ia masih ingin tetap hidup. Dan jika ada yang bertanya padanya soal kondisi Naruto saat ini, sudah jelas ia akan menjawab 'Tidak tau.'

Kurenai membawa nampan berisi semangkuk bubur dan sup miso lengkap dengan susu hangat ke kamar Tenten. Demam tinggi yang di alami Tenten terpaksa membuat Kurenai bolos dari kerjanya agar ia bisa merawat anak sulungnya itu. Sebenarnya Tenten sudah mengatakan pada ibunya kalau ia akan baik-baik saja di rumah. Namun Kurenai tetap keukeh pada pendiriannya untuk merawat Tenten. Begitu ia sampai di dalamnya, makanan yang ia bawa langsung ia letakkan di atas meja kecil di sudut kamar Tenten dan beralih mengambil kompres di dahi Tenten kemudian menggantinya dengan yang baru. Tak berhenti di situ, kedua tangannya kembali di sibukkan dengan membenahi selimut Tenten yang agak berantakan karena gerakan kecil gadis itu yang masih terlelap dalam tidurnya sejak ia mengatakan pada ibunya kalau ia akan baik-baik saja di rumah.

Tenten menggeliat kecil dan membuka matanya perlahan. Ia melihat ibunya tengah sibuk membereskan meja belajarnya yang sejak tadi malam berserahkan di karenakan dirinya yang tengah kebingungan mencari letak tisu untuk menghapus ingus yang tak henti-hentinya keluar dari lubang hidungnya. Tenten menggunakan kedua sikunya sebagai tumpuan dan mengarahkan pandangannya pada Kurenai yang masih belum sadar kalau anak gadisnya kini sudah terbangun.

"Kaasan," Lirih Tenten berusaha membiasakan cahaya yang menyeruak masuk ke kornea matanya. Kurenai menghentikan aktivitasnya dan beralih menatap Tenten kemudian menghampiri gadis itu yang masih setengah sadar.

"Bagaimana keadaanmu?" Kurenai meletakkan punggung tangannya di dahi Tenten.

"Sudah lebih baik Kaasan." Suara Tenten terdengar parau. "Kenapa Kaasan tidak bekerja? Bukankah aku sudah bilang kalau aku akan baik-baik saja?"

"Kau tidak perlu menanyankan hal yang seperti itu. Lebih baik kau makan sekarang dan lekas minum obatmu." Kurenai menggapai nampan berisi makanan yang ia bawa sebelumnya.

"Apa Tousan dan Konohamaru sudah berangkat?" Tanya Tenten di sela ia makan.

"Sudah daritadi… Apa kau mau mandi?" Tanya Kurenai dan di dibalas anggukan kecil oleh Tenten. "Kau habiskan saja makanan ini dan lekas minum obatmu. Kaasan akan menyiapkan air hangat untukmu." Kurenai mengelus puncak kepala Tenten sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan gadis itu yang masih berusaha menelan makanan di hadapannya walau tenggorokannya terasa sedikit sakit.

oOo

Pukul sepuluh tepat. Waktu istirahat bagi para siswa yang sejak beberapa jam lalu bergulat keras dengan otaknya untuk memahami apa yang para Sensei ajarkan. Para siswa selalu akan berhamburan keluar setelah beberapa detik bel istirahat di bunyikan. Tempat yang mereka tuju sudah pasti adalah kantin sekolah yang selalu di ramai oleh ratusan manusia dengan perut kosong mereka. Tapi tidak sedikit pula yang lebih memilih bersenda gurau bersama temanya di taman atau bahkan lapangan.

Namun berbeda dengan pemuda berambut pirang bernama Naruto yang lebih memilih tempat yang biasa ia gunakan untuk pelarian dari mata pelajaran Iruka, untuk bersantai. Hari ini ia lebih memilih menyindiri daripada harus berkumpul bersama teman-temannya. Namun tidak jauh berbeda dengan yang lain, waktu istirahat adalah waktu yang paling menyenangkan baginya. Sejak beberapa bulan yang lalu tepatnya. Saat ketika seorang gadis beramata indah pindah ke kelasnya dan perlahan mulai masuk ke kehidupannya. Ia tidak pernah menyangka ini semua akan terjadi. Jika ia ditanya 'Apa kau mau Tenten masuk ke kehidupanmu?' sejak awal mereka berdua bertemu, sudah pasti Naruto akan segera menjawab 'Tidak' dengan tegas. Namun, jawaban yang seharusnya Naruto lontarkan dengan keras dan lantang, agaknya kini tidak lagi berarti. Mengingat apa yang sudah ia lakukan pada gadis itu kemarin malam. Satu kecupan hangat yang telah berhasil membuat jawaban 'Tidak' itu, berubah seketika menjadi 'Satu anggukan kecil dan senyuman.'

Tapi sungguh sangat di sayangkan, gadis yang ia harapkan muncul, hingga kini belum juga menampakkan batang hidungnya. Semalaman otaknya di penuhi oleh nama gadis itu. Tapi ia tidak mau berpikir macam-macam. Ia yakin, gadis itu akan baik-baik saja. Jika benar dia sedang sakit seperti apa yang Naruto perkirakan, mungkin itu hanya penyakit demam biasa. Ia tidak mau menjejali pikirannya dengan perkiraan-perkiraan aneh yang muncul di otaknya. Tapi jika boleh jujur, sebenarnya ada rasa khawatir di hati kecil Naruto. Khawatir kalau ternyata gadis itu tidak mau menemui dia lagi karena insiden kemarin. Ia paham jika gadis itu benar tidak ingin menemui dia lagi. Tapi apa boleh buat, semua sudah terjadi. Ia benar-benar tidak bisa menahan amarahnya yang sudah mencapai puncak pada gadis itu yang saat ia tau alasan Tenten mengundurkan diri, mendekatkan Hinata padanya, menghindarinya, dan masih banyak lagi. Jika Tenten adalah seorang lelaki, sudah dapat di pastikan, ia akan mendapat bogem mentah dari Naruto. Berhubung Tenten adalah seorang wanita, hanya itu yang bisa Naruto lakukan untuk membalaskan dendamnya. Membungkam sebuah bibir dengan bibir yang lain.

Srek..

Sebuah suara yang terbawa oleh angin masuk begitu saja ke telinga Naruto. Ia lantas menaikkan separuh badannya untuk melihat siapa yang ada di tempat ini selain dirinya. Tidak pernah ia duga sebelumnya. Seorang lelaki berambut emo tengah bersandar santai pada sebatang pohon yang berada tak jauh dari tempatnya berada. Lelaki itu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. Ia menundukkan kepalanya tanpa melihat Naruto yang kini mulai berjalan menghampiri dirinya.

Sasuke menatap remeh pada Naruto yang berjarak sekitar 2 meter di depannya. Ia menaikkan sebelah alisnya dan tertawa renyah sebelum akhirnya ia membuka suara. "Jangan kau pikir setelah kejadian malam tadi aku menyerah begitu saja!"

Naruto melipat kedua tangannya angkuh dan menatap remeh pada Sasuke. "Baguslah kalau begitu."

Sasuke mendorong tubuhnya menggunakan punggungnya dan pohon sebagai tumpuan untuk berdiri tegak. Lelaki itu lantas menaikkan sedikit dagunya. "Apa kau ingat? Pertaruhan kita masih belum dimulai."

"Kau tidak perlu mengingatkan aku tentang hal itu. Bahkan aku tidak sabar menanti agar hari itu segera tiba." Kata Naruto dengan nada dingin.

Sasuke melangkahkan kakinya mendekati Naruto. Pemuda Uchiha itu menghentikan kakinya tepat di sebelah kanan rivalnya. Sebuah seringai licik muncul dari wajah tampan Sasuke. Ia lalu memalingkan sedikit wajahnya ke arah Naruto. Tepatnya ke telinga pemuda itu. "Baguslah kalau kau masih ingat. Itu tandanya kau masih memiliki otak… Dan satu hal yang yang harus kau tau Uzumaki… Kau bukanlah satu-satunya orang yang pernah melakukan hal itu pada Tenten. Akan lebih baik kalau kau lebih berhati-hati lagi, agar tidak terjadi lagi untuk yang kedua kalinya."

Deg…

oOo

"Aku pulaaang." Konohamaru berteriak lantang.

"Bisakah kau hentikan teriakanmu? Kau makin membuat kepalaku pusing?!" Tandas Tenten ketika adiknya duduk di sampingnya.

"Kau pikir hanya dirimu yang pusing? Aku juga." Konohamaru tidak terima.

"Pusing? Kau bahkan tidak punya masalah untuk kau pusingkan." Ejek Tenten.

"Aku pusing karena kaset game yang aku incar lagi-lagi habis." Konohamaru memijat kecil dahinya.

"Hanya kaset game membuatmu pusing? Bagaimana kalau kau jadi Tousan dan Kaasan yang memiliki anak sepertimu. Mungkin kepalamu akan meledak saat itu juga."

"Kenapa denganku? Aku anak yang baik." Konohamaru memajukan bibirnya.

"Dasar tidak tau diri." Gumam Tenten mengganti chanel televisi.

"Apa Kaasan tidak bekerja? Kenapa dia ada di dapur?" Konohamaru melirik sekilas Ibunya yang tengah memasak untuk makan siang.

"Kau tidak buta kan? Kalau kau melihat Kaasan di dapur, itu artinya dia tidak bekerja." Jawab gadis itu tanpa melihat Konohamaru.

"Huh, dasar manja. Hanya demam saja kau membuat Kaasan bolos kerja." Konohamaru menyilangkan kedua tangannya.

"Bukan aku yang menginginkan hal itu. Kaasan sendiri yang lebih memilih merawatku daripada bekerja."

"Jangan bergurau. Mana mungkin Kaasan bolos kerja hanya untuk merawat gadis sepertimu?"

"Kau punya mulut bukan? Kalau kau masih tidak percaya, silahkan kau tanya sendiri pada Kaasan. Dan kumohon, jangan mengangguku. Suaramu membuatku semakin pusing, kau tau. Sekarang pergilah atau kulempar kau keluar." Tenten menatap Konohamaru sekilas dan kembali menatap layar televisi.

Tok..tok..tok..

Dua bersaudara itu segera mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Tenten menatap Konohamaru, mengisyaratkan agar dia yang membukanya. Konohamaru menatap kakaknya malas.

"Huuuh, baiklah." Bocah kecil itu berjalan gontai ke arah pintu. Beberapa detik setelah bocah itu pergi, ia kembali lagi dan duduk di sebelah Tenten. Tenten menatap adiknya heran. " Siapa?" Tanya Tenten singkat.

"Dia milikmu." Jawab Konohamaru singkat.

"Milikku? Apa maksudmu?"

"Hai Panda, apa kabar?" Suara berat yang sangat ia kenali menerobos masuk ketelinganya. Tenten terkejut mendengar suara itu dan segera memalingkan kepalanya ke belakang. Tepat seperti dugaannya. Lelaki itu kini berada di rumahnya.

Tenten beringsut berdiri dan menatap heran pada lelaki itu yang tengah berdiri di ambang pintu rumahnya. Dia memasukkan kedua tangannya santai kedalam saku dan menampakkan senyuman bodohnya pada Tenten.

"Tenten, kenapa kau tidak menyuruh Naruto duduk?" Kurenai menghampiri Tenten. Tenten menatap heran pada ibunya yang tiba-tiba datang.

"Kaasan, kau kenal dengan Naruto?" Dahi Tenten berkerut.

"Tentu saja. Kaasan bertemu dengannya kemarin siang di pusat perbelanjaan. Dia juga yang memberitahu Kaasan tentang acara ulangtahun sekolahmu."

"Ja..jadi.."

"Ya, sebenarnya yang mengingatkan Kaasan tentang hal itu adalah Naruto." Kurenai tersenyum tanpa dosa.

"Duduklah Naruto. Bibi akan membuat minum untukmu." Kurenai mengulum senyum.

"Jangan repot-repot bibi." Naruto menggaruk pelan leher belakangnya.

"Sama sekali tidak." Kurenai pergi meninggalkan tiga manusia itu menuju dapur.

"Hai Konohamaru, bagaimana kabarmu?" Sapa Naruto. "Buruk." Balas Konohamaru tanpa melihat Naruto. Naruto mengulas senyumnya. Ia lantas menggapai tasnya dan mengeluarkan sesuatu benda yang ada di dalamnya. "Bukan gamers namanya kalau kau tidak memiliki ini." Naruto menyodorkan beberapa buah kaset game pada Konohamaru. Bocah itu awalnya hanya melirik malas. Tapi setelah ia tau kalau kaset game yang di berikan oleh pemuda itu, ia lantas melompat dari sofa dan menghampiri Naruto.

"Waah, darimana kau mendapatkannya?" Konohamaru mengambil benda itu dari tangan Naruto.

"Tentu saja aku membelinya." Naruto kembali memasukkan kedua tangannya kedalam saku.

"Darimana kau tau aku menginginkan ini?" Konohamaru menatap Naruto dengan dahi berkerut.

"Mungkin karena ada seorang gadis yang berkata padaku kalau adiknya memiliki sifat yang sama sepertiku. Bodoh, malas, dan maniak game. Jadi kurasa, semua pecinta game pasti menginginkan benda itu." Naruto melirik Tenten sekilas.

"Waaah, Nee-chan… Apa kau tau? Ini adalah kaset game limited edition. Semua teman-temanku pun tidak ada yang memiliki game ini. Padahal mereka sudah merengek pada orangtua mereka kalau sedang pergi keluar Negeri. Kaset seperti ini tidak bisa di dapatkan di sini. Aku yakin, kalau aku menunjukkan ini pada teman-temanku, aku pasti akan menjadi lelaki paling populer dalam sekejap. Dan para wanita pasti jatuh hati padaku saat itu juga." Mata Konohamaru berbinar.

"Aku tidak tau, dan aku tidak mau tau. Terserah apa yang akan kalian lakukan, asal jangan mengangguku." Tenten melengos pergi menuju kamarnya.

"Dasar wanita. Mereka tidak tau bagaimana cara bersenang-senang."Cibir Konohamaru.

"Apa kau bilang?" Tenten membalikkan badannya. "Dengar, kami para wanita mempunyai cara tersendiri untuk bersenang-senang. Tidak sepertimu yang setiap hari membuang waktu untuk memainkan permainan tidak berguna itu… Dan satu lagi. Kalian berdua sangat cocok. Kenapa kalian tidak menikah saja sekalian?!" Tenten melangkahkan kakinya kasar menuju kamarnya.

"Menikah? Aku kan pria normal." Konohamaru mempoutkan bibirnya.

"Hei, bukankah itu kode untukku?" Naruto menyenggol pelan Konohamaru dengan senyuman penuh arti. Bocah kecil itu mendongak dengan dahi berkerut. "Kode?" Konohamaru memicingkan matanya mencoba berpikir. "Sudah lupakan." Naruto mengibaskan tangannya. Ia lupa, kalau lawan bicaranya kini adalah seorang bocah. Tidak sepantasnya ia menanyakan tentang hal itu pada anak seperti ini. Akan lebih baik kalau ia bertanya tentang hal yang sedikit lebih sederhana. Naruto kembali menyenggol Konohamaru. Bocah itu lagi-lagi mendongakkan kepalanya. "Apa kau setuju kalau kakakmu menjadi milikku?" Naruto menaikkan kedua alisnya. Bocah itu menundukkan kepalanya dengan dahi berkerut seolah sedang berpikir keras. Beberapa detik kemudian ia kembali mendongakkan kepalanya melihat Naruto yang menampakkan ekspresi harap-harap cemas.

"Kau tau, kakakku bukanlah wanita sembarangan. Kau harus membuktikan padaku kalau kau benar-benar menyukai gadis itu." Konohamaru mengelus dagunya. "Caranya?" Tanya Naruto singkat. "Kalahkan aku dalam permainan ini. Kalau kau menang, itu artinya kau sudah masuk kriteriaku untuk menjadi kekasih kakakku. Apa kau sanggup?" Konohamaru melipat kedua tangannya angkuh.

"Jangan pernah meremehkan aku." Naruto menyeringai.

"Baiklah kalau begitu. Bagaimana kalau kita mulai sekarang?" Konohamaru berkacak pinggang.

"Siapa takut?!"

oOo

Tenten menuangkan segelas air mineral kedalam gelas dan segera menegguknya. Sudah berjam-jam gadis itu berada di dalam kamar tanpa keluar sedetik pun. Itu semua karena ia malas bertemu dengan Naruto. Kalau boleh jujur, bukan malas yang menjadi alasannya untuk tidak mau menemui Naruto. Ia lebih merasa canggung jika bertemu dengan lelaki itu setelah perlakukan Naruto padanya kemarin. Ia bahkan takut untuk berasumsi lebih jauh tentang hal itu. Ia takut kalau perlakuan Naruto padanya kemarin hanyalah emosi sesaat. Tapi, entah pikirannya yang saat itu sedang kacau, atau memang dirinya teringat akan Naruto malam itu, sebenarnya ia hampir membanting Naruto saat pemuda itu menangkup kedua pipinya. Namun entah sihir apa yang di gunakan Naruto malam itu, tanpa ia duga sebelumnya, ia membiarkan pemuda itu mendekatkan bibirnya dan pada akhirnya hal itu terjadi.

Sesuatu mengenai bahu Tenten dan otomatis membuat lamuan gadis itu buyar seketika. Ia memalingkan wajahnya pada Kurenai yang kini berada di sampingnya. "Bagaimana keadaanmu? Apa masih sakit?" Kurenai menyentuh dahi Tenten.

"Aku sudah merasa lebih baik Kaasan." Tenten tersenyum. "Apa Naruto sudah pulang?" Tenten bertanya.

"Belum. Dia masih ada di kamar Konohamaru. Mereka sama sekali belum keluar kamar daritadi."

"Huaaah, lelah sekali," Konohamaru tiba-tiba masuk dapur dan meneguk habis sisa air minum Tenten.

"Dimana Naruto?" Tenten bertanya pada Konohamaru.

"Diatas. Dan kurasa di juga membutuhkan minum. Bisa kau antar minuman untuknya?" Konohamaru menatap Tenten.

"Maaf Tuan Konohamaru, sayangnya aku bukan pembantu." Tenten melipat kedua tangannya.

"Kaasan…" Lirih Konohamaru.

"Tenten," Kurenai menatap Tenten tajam.

"Baiklah, baiklah. Aku akan mengambilkan dia minuman." Tenten mengambil gelas dari dalam rak dan menuangkan segelas jus jeruk kedalamnya.

"Itu baru kakakku. Tapi jangan kau tampakkan wajah muramu itu ne. Kau tau, kau tampak sepuluh tahun lebih tua dengan wajah itu." Kata Konohamaru.

"Berisik!"

Tenten membuka pintu kamar Konohamaru dan mendapati Naruto tengah berbaring di atas kasur milik adiknya. Tenten kembali menutup pintu kamar dan berjalan pelan menghampiri Naruto. Gadis itu meletakkan jus yang ia bawa di atas meja belajar adiknya dan beralih menatap Naruto yang kini tengah berbaring dengan mata terpejam. Ia melipat kedua tangannya di depan dada dan hanya memfokuskan matanya pada lelaki itu. Ia tidak menyangka, kalau lelaki seperti ini yang berhasil membuat dirinya perlahan melupakan sosok Hyuuga Neji. Ia pikir akan membutuhkan lelaki yang lebih baik dari Neji agar dia bisa melupakan lelaki itu. Tapi sekarang, justru lelaki yang bisa di katakan berbeda jauh dari seorang Hyuuga Neji yang perlahan mampu meluluhkan hatinya. Tenten kini tidak lagi bisa berkelit kalau lelaki di hadapannya saat ini sudah mampu menaklukkan hati yang sebelumnya telah di segel oleh nama Neji seorang. Apalagi sejak insiden malam kemarin, ia semakin yakin untuk kembali membuka hatinya untuk pria lain dan lebih memilih melupakan Neji yang selama ini belum juga tau isi hatinya. Tapi satu yang saat ini ada di pikiran Tenten. Bagaimana perasaan pemuda ini pada Sakura? Apakah masih ada hingga saat ini? Hal itulah yang Tenten takutkan. Maka dari itu, Tenten tidak mau terlalu larut dalam perasaan seperti ini. Ia tidak akan mengulangi kebodohan yang sama dengan mencintai laki-laki yang sudah jelas menyukai wanita lain. Jika benar perasaan Naruto untuk Sakura masih ada, ia sudah pasti akan memilih mundur sebelum perasaannya pada Naruto semakin dalam. Daripada harus merasakan rasa sakit untuk yang kedua kalinya. Sudah cukup satu pria yang menghancurkan hatinya. Apalagi pria itu adalah cinta pertamanya.

"Bukankah kau membawa minuman? Kenapa kau tidak berikan padaku?" Naruto berkata dengan kedua mata yang masih menutup. Lamunan Tenten buyar seketika. Ia lalu memalingkan wajahnya ke arah lain. Ke arah mana saja, yang penting bukan Naruto. "Hei, kenapa kau masih berdiri di situ?" Naruto beranjak duduk. Pemuda itu lantas berdiri dan menghampiri Tenten yang masih salah tingkah. "Apa kau daritadi melihatku?... Apa kau sudah mulai menyukaiku?" Naruto berjalan perlahan ke arah Tenten dengan kedua alis terangkat. Gadis itu diam saja, ia tidak bisa bergerak seolah kini tubuhnya di selimuti oleh lapisan es yang sangat dingin hingga membuat dirinya beku dan tidak bisa bergerak. "Hei, aku bertanya. Apa kau memiliki perasaan padaku?" Goda Naruto.

"Bi..bisaka kau bi..bicara te..tentang hal yang le..lebih berguna?!" Tenten sedikit menaikkan suaranya.

"Kurasa ini adalah hal yang cukup berguna untuk di bicarakan. Ah tidak, sangat berguna." Naruto semakin mendekatkan dirinya pada Tenten. Gadis itu menarik dirinya selangkah kebelakang.

"Kau maju selangkah lagi, akan kupastikan, esok hari kau tidak akan lagi merasakan rasanya berjalan!" Tenten menatap tajam Naruto.

"Oh, jadi Panda manis ini berniat mematahkan kakiku?... Walau kau mematahkan kakiku, tapi rasa cintamu padaku tidak akan pernah patah bukan?" Naruto lagi-lagi menggoda gadis itu yang kelihatannya kini sudah tidak tau lagi harus bicara apa.

"Kau terlalu percaya diri. Mana mungkin aku menyukai pria bodoh seperti dirimu? Kau bukan tipeku!" Tandasnya.

Naruto menghempaskan pelan tubuh Tenten ke arah pintu dan mengurung gadis itu di antara kedua tangannya. Ia hanya memfokuskan matanya pada manik mata Tenten. Sedangkan sang gadis masih berusaha menghindari tatapan Naruto yang terasa sangat menganggu. "Sampai kapan kau akan mempertahankan egomu itu? Panda, aku bisa membaca semuanya dari matamu." Naruto menyeringai.

"Bagus kalau kau bisa membaca mataku. Dan bukankah sekarang di sana tertulis jelas kata-kata 'Menjauhlah dariku'?!" Tenten menaikkan suaranya satu oktaf.

"Huh, justru yang terlihat sekarang adalah…" Naruto mendekatkan kepalanya, membuat Tenten sedikit gugup dan dengan segera menutup matanya rapat. Pemuda itu mendekatkan bibirnya ketelinga Tenten dan berbisik, "Uzumaki Naruto." Naruto menyeringai licik dan menarik dirinya selangkah kebelakang. "Sampai kapan kau akan menutup matamu?" Naruto tertawa renyah. Ia lantas menyilangkan kedua tangannya di depan dada, melihat Tenten yang masih memejamkan matanya rapat.

"A..apa?" Tenten membuka matanya dan sudah mendapati lelaki itu menjauh darinya. Naruto hanya tertawa kecil dan menjauhkan dirinya dari Tenten untuk mengambil segelas jus yang baru saja gadis itu berikan. Naruto meneguk habis isinya dan kembali memalingkan wajahnya ada Tenten yang masih setia pada posisinya. "Ada hubungan apa kau dengan Sasuke?" Wajah Naruto berubah dingin. Tenten terlihat sedikit terkejut mendengar nama Sasuke terlontar dari bibir Naruto. Gadis itu memposisikan dirinya senyaman mungkin dan berjalan perlahan menuju tempat tidur.

"Sasuke? Kenapa kau bertanya tentangnya?" Tenten mengerutkan dahinya.

"Ada hubungan apa kau dengan Sasuke?" Naruto mengulangi pertanyaanya sekali lagi.

"Kami hanya teman sekelas dan teman seclub." Jawab Tenten enteng.

"Hanya itu?" Naruto bertanya memastikan.

"Tentu saja. Lagipula, apa hubungannya denganmu? Kalau aku ada hubungan dengan Sasuke pun, itu hakku. Kau tidak perlu ikut campur." Tenten membuang muka dari Naruto. Naruto mengerutkan dahinya mendengar jawaban dari Tenten. Ia lantas meletakkan kembalinya gelasnya ke tempat semula dan duduk di samping gadis itu.

"Tentu saja ada hubunganya denganku. Kau kekasihku." Naruto menatap Tenten.

"A..Apa?!.. Hei, sejak kapan aku menjadi kekasihmu? Jangan sembarangan kalau bicara!" Teriaknya.

"Tentu saja sejak kemarin malam. Bukankah kemarin aku sudah mengatakan semua perasaanku padamu? Itu bukanlah emosi sesaat. Itu nyata." Naruto berusaha menyakinkan gadis di sampingnya ini.

"Kau jangan gila! Apa kau pikir aku akan percaya dengan kata-katamu, huh?! Kau sudah mencintai Sakura dan sudah berjuang untuk mendapatkannya selama bertahun-tahun. Dan sekarang, kau bilang aku kekasihmu? Kau pikir aku apa hah?! Videogamemu? Yang bisa kau mainkan ketika kau sedang strees dengan kehidupan nyatamu?!"

"Jika kau mengaggap kejadian kemarin hanyalah emosi sesaat, sudah pasti aku akan melakukannya penuh nafsu. Aku melakukannya selembut mungkin karena aku tau dan aku yakin kalau perasaan yang aku rasakan saat itu berasal dari dalam hati."

"Terserah apa katamu. Yang pasti, aku sudah menganggap kalau ciuman itu tidak pernah terjadi." Tenten beranjak berdiri dari duduknya. Naruto menggapai tangan Tenten, menahan gadis itu agar tidak pergi dan berdiri tepat di hadapannya.

"Apa yang harus aku lakukan agar kau percaya kalau aku menyukaimu?" Naruto menatap tajam gadis di hadapannya. "Aku yakin, kau juga memiliki perasaan yang sama terhadapku."

Tenten diam. Ia tidak tau harus berkata apa. Sejujurnya ia ingin sekali berteriak di hadapan lelaki ini kalau semua yang di katakannya adalah benar. Tapi rasa takut akan sosok Sakura yang selama ini pemuda ini cintai, dan kehadiran Hinata yang mempercayakan harapan lebih pada lelaki ini, membungkam mulutnya untuk mengatakan perasaanya yang sebenarnya. Sebagai sesama wanita, ia tau betul bagaimana perasaan Hinata jika seandainya ia menghianati gadis Hyuuga itu.

Naruto melepas gengamannya pada Tenten. Lelaki itu menatap nanar kerah gadis itu dan berkata, "Jika benar apa yang kau katakan kalau perasaanku saat ini hanyalah emosi sesaat, harusnya kau bisa merasakannya kemarin. Dan harusnya ketika kau tau aku melakukan itu hanya itu meluapkan emosiku, kenapa kau tidak memukulku?... Kau merasakan ketulusanku malam itu, dan aku tau. Hanya saja, hatimu yang terlalu egois untuk mengakuinya." Naruto melangkah mundur untuk mengambil tasnya yang ia lempar begitu saja kebawah ketika sedang asik bermain dengan Konohamaru. "Apapun yang kau katakan, sebesar apapun penolakan yang kau tujukan padaku, aku akan tetap mencintaimu. Jadi jangan salahkan aku kalau kelak akan ada hati yang tersakiti karenaku cintaku. Karena apapun caranya, dan bagaimanapun keadaanya, aku akan mendapatkanmu. Dahulu aku terlalu bodoh, dengan membiarkan Sasuke masuk ke kehidupan Sakura dan pada akhirnya Sakura menyukai Sasuke. Tapi kali ini, tidak akan kubiarkan lelaki manapun masuk ke kehidupanmu. Baik itu Sasuke atau bahkan Neji!" Naruto melangkah keluar dari kamar Konohamaru.

"Na..Naruto Niisan? A..apa kau mau pulang? Kenapa?" Konohamaru yang ada di depan pintu bertanya.

"Hmh, karena sepertinya kakakmu membutuhkan istirahat." Naruto mengelus lembut kepala bocah itu.

"Ta..tapi…"

"Biarkan dia pulang Konohamaru!" Tenten berkata dingin tanpa melihat adiknya. Naruto hanya bisa mengulum senyum kecil di balik badannya yang membelakangi Tenten.

"Nee-chan, kenapa kau ini?!" Konohamaru menaikkan sedikit suaranya.

"Sudahlah, mungkin Tenten memang lelah dan butuh istirahat."

"Ta..tapi Niisan.."

"Aku akan berpura-pura tidak mendengar perkataan yang jelas-jelas kudengar. Jangan pernah mengingat kejadian tadi ataupun kemarin malam. Bersikaplah seperti Naruto yang ku kenal sebelumnya." Tenten melangkah pergi dan berjalan melewati Naruto dan Konohamaru. Gadis itu mengambil langkah cepat menuju kamarnya tanpa melihat Naruto yang menatap nanar kepergiannya.

"Rawat kakakmu baik-baik. Dan pastikan aku melihatnya duduk di sampingku besok." Naruto tersenyum sesat dan melangkah pergi meninggalkan dua bersaudara tersebut.

oOo

Naruto memacu kendaraanya sekencang mungkin menuju suatu tempat yang ia rasa bisa sedikit membuatnya tenang. Sepanjang perjalanan, pikirannya di penuhi oleh segala hal tentang Tenten. Sedikit aneh bagi dirinya. Saat ketika ia semakin lama mengenal Tenten, perlahan tapi pasti, perasaanya pada Sakura juga ikut memudar dengan sendirinya. Walau Tenten tidak secantik Sakura, secerdas Hinata, sepopuler Ino, namun bagi Naruto, gadis itu memiliki pesona tersendiri yang tidak dimiliki ketiga gadis itu. Atau bahkan semua gadis. Gadis tomboy yang bernampilan apa adanya, yang justru membuat ia harus bersaing dengan Sasuke untuk mendapatkannya. Dirinya kini telah memantapkan hatinya untuk Tenten, tapi gadis itu seolah belum percaya dengan apa yang di katakannya. Gadis itu bersikap seolah, ia tidak pantas untuk di cintai dan juga di perjuangkan. Ia sangat yakin kalau gadis itu memiliki perasaan yang sama padanya. Tapi apa yang membuat gadis itu keukeuh tidak mau mengakuinya? Bukankah ia sudah mengatakan kalau ia tidak lagi menyukai Sakura. Ia juga sudah menjelaskan tentang perasaannya pada Hinata yang hanya menganggap gadis itu sebatas teman. Apakah ada hubungannya dengan Neji? Atau bahkan Sasuke? Hal itulah yang harus ia cari tau.

Naruto memarkirkan mobilnya tepat di depan sebuah rumah. Ia lalu turun dari mobilnya dan berjalan menuju pintu rumah tersebut. Ia mengayunkan tangannya pelan ke daun pintu. Dan tak lama kemudian seorang wanita paruh baya membuka pintu tersebut dan mengulum senyum, melihat Naruto berdiri di ambang pintunya.

"Maaf jika aku menganggu… Tatsuya Baasan." Naruto tersenyum.

"Sama sekali tidak. Masuklah." Tatsuya mendorong halus punggung Naruto.

oOo

Suara dentingan piring yang terbentur oleh benda logam yang di hasilkan Tenten, menandakan gadis itu sedang tidak sedang mood untuk menyantap makan malamnya. Sejak ia duduk di bangku meja makan, yang ia lakukan hanyalah menatap kosong ke arah lantai. Tiga manusia yang sedang menyantap makanan mereka masing-masing menatap heran pada gadis itu. Terlebih Asuma yang jarang sekali bisa berkumpul dengan anak gadisnya itu, ketika kesempatan itu datang, justru yang ia lihat adalah wajah murung yang gadis itu tampakkan. Lelaki berjambang itu memalingkan wajahnya pada Kurenai. Sedangkan wanita yang tengah mendapat tatapan dari suaminya tersebut hanya menaikkan kedua bahunya.

Asuma tidak lagi dalam mood untuk menghabiskan makanannya setelah melihat anak gadisnya menampakkan ekspresi yang sangat tidak sedap di pandang mata. Lelaki Sarutobi itu lantas meletakkan sumpit dan sendoknya, lalu menyambar halus tangan kanan Tenten. Gadis yang merasa tangannya sedang di genggam tersebut, reflek menengadahkan kepalanya. Ia mengernyitkan dahinya melihat ayahnya tengah berusaha membawanya menjauh dari Ibu dan Adiknya.

Sepuluh menit berlalu, namun anak gadis Asuma masih saja diam. Ia hanya menatap jalan raya sepanjang perjalanan sembari menggunakan tangan kanannya untuk menyangga kepalanya. Merasa ada yang salah dengan gadis di sampingnya, Asuma membuka pembicaraan terlebih dahulu.

"Apa ada yang mau kau ceritakan pada Tousan?" Asuma bergantian memalingkan wajahnya ke arah jalan raya dan Tenten. Gadis itu sedikit terkejut dan segera memalingkan wajahnya pada Ayahnya yang tengah sibuk mengemudi.

"Ce..cerita? Apa yang ingin Tousan dengar dariku?" Tenten melihat ayahnya sekilas dan kembali pada posisinya yang sebelumnya.

"Apapun akan Tousan dengar." Lagi-lagi senyuman muncul dari bibir Asuma.

"Aku tidak memiliki hal menarik untuk di ceritakan Tousan." Suara Tenten terdengar sedikit parau dikarenakan efek flu yang masih ia derita hingga kini.

"Apa Tousan boleh tau, apa yang membuatmu murung akhir-akhir ini?" Asuma bertanya dan membuat Tenten sedikit tercekat.

"Mu..murung? Aku tidak murung." Tenten menjawab cepat.

"Lalu apa yang Tousan lihat sekarang?" Asuma menaikkan kedua alisnya.

"A..apa? Aku baik-baik saja. Lihat," Tenten segera mengulum senyumnya. Asuma tertawa kecil melihat ekspresi wajah Tenten.

"Baiklah, baiklah. Kau terlihat semakin cantik jika tersenyum." Asuma mengusap lembut puncak kepala Tenten. Beberapa menit kemudian, lelaki itu menghentikan mobilnya di depan kedai es krim yang cukup besar. Tenten sedikit terkejut melihat Ayahnya menghentikan mobilnya di depan kedai tersebut.

"Tousan, a..apa yang akan kita lakukan di sini?" Tenten memalingkan wajahnya pada Asuma.

"Tentu saja makan es krim. Apalagi?" Asuma membalas enteng kemudian turun dari mobilnya. Disusul oleh Tenten yang berlari kecil mengejar Asuma.

Semangkuk es krim vanilla, mint, peach, mangga dengan taburan choco chips dan topping strawberry dan cokelat telah ada di hadapan Tenten. Sedangkan Asuma hanya memesan segelas milkshake. Tenten terlihat lahap menelan sesendok demi sesendok es krim yang ia makan. Asuma tertawa kecil dan mulai bertanya. "Apa kau sudah merasa baikkan?"

"Tentu saja Tousan. Termakasih kau mengajakku kemari. Rasanya semua masalah di kepalaku langsung lenyap." Tenten tersenyum.

"Masalah?... Apa Tousan boleh tau, masalah apa yang kau alami?" Asuma sedikit berbisik. Tenten mencondongkan sedikit badannya kearah Asuma. Mengikuti Tenten, Asuma juga mencondongkan sedikit badannya kearah Tenten. Gadis itu lantas membuka mulutnya.

"Ini tentang seorang lelaki bodoh yang sudah berani mengacaukan hidupku." Bisiknya meremas gemas sendok kecil yang ada di tangannya. Asuma tertawa kecil dan kembali bertanya. "Kenapa hal itu bisa terjadi?"

.

.

.

.

.

.

.

Alarm sudah berbunyi sejak 30 menit yang lalu. Tapi pemuda berambut pirang yang kini masih terlelap masih tidak peduli dengan bunyi alarm jam weker yang cukup memekakkan telinga tersebut. Dan pada akhirnya, suara Kushinalah yang berhasil membuat pemuda itu turun dari tempat tidurnya. Wanita berambut merah itu sengaja membanting pintu kamar Naruto sekeras mungkin agar lelaki itu bangun. Dan benar saja, Naruto terbangun dari tidurnya. Meski sangat terlihat jelas, ia sangat malas meladeni omelan ibunya pagi ini.

Naruto menyambar cepat selembar roti yang ada di atas meja dan segera berlari meninggalkan kedua orangtuanya yang tengah sarapan. Kembali Kushina berteriak memanggil nama pemuda itu, namun sayangnya, panggilan tersebut sama sekali tidak di gubris oleh Naruto. Ia malah berlari menuju garasi dan segera mengayuh sepedanya kencang menuju sekolah.

oOo

Begitu juga dengan Tenten. Gadis itu lebih memilih sarapan dengan selembar roti yang ia dapatkan dari atas meja, di banding harus sarapan bersama kedua orangtuanya dan adiknya. Terlebih dengan Ayahnya. Ia sangat malu setelah ia menceritakan semua masalahnya pada ayahnya itu. Ketika ia sedang asik melahap es krim tadi malam, secara tidak sadar pula dirinya menceritakan semua masalahnya pada Ayahnya. Tidak cukup sampai di situ, ia juga mengatakan tentang perasaanya pada Naruto dan Neji. Ternyata es krim yang ia makan malam kemarin adalah sebuah pancingan agar dia menceritakan semuanya pada Ayahnya. Sungguh, jika Tuhan menciptakan sebuah tempat untuk menyembunyikan wajah, mungkin Tenten adalah orang pertama yang akan mendapatkan tempat itu. Ia sama sekali belum siap berbicara lagi di depan ayahnya. Jangankan berbicara, bertatap muka saja ia sudah merasa sangat malu. Meski Asuma adalah Ayahnya sendiri.

Gadis itu segera mengambil sepedanya yang ia letakkan di garasi dan segera mengayuhnya menuju sekolah. Sebenarnya tadi pagi Asuma sudah menawarinya untuk berangkat bersama. Namun, semua orang sudah pasti tau apa jawaban Tenten. 'Tidak.' Bukannya ia tidak mau, tapi kembali lagi ke alasan awal. Ia belum siap bertemu dengan Ayahnya. Setidaknya untuk hari ini.

oOo

Wajah Tenten tidak berubah dari hari kemarin. Sedikit pucat dan lemas. Mungkin karena ia belum sembuh sepenuhnya, tapi ia memaksakan diri untuk datang ke sekolah dengan mengayuh sepedanya. Tapi baginya, lebih baik seperti ini, daripada ia harus kembali di selimuti rasa malu ketika lelaki itu mengantarnya ke sekolah. Apa yang terjadi pada Tenten berbanding terbalik dengan apa yang di rasakan Naruto. Pemuda pirang itu sangat bersemangat melangkahkan kakinya selangkah demi selangkah menuju kelasnya. Apalagi ketika bola matanya menangkap sosok gadis yang ia sukai tengah berjalan melalui koridor-koridor sekolah.

Ia lantas mempercepat langkahnya menghampiri Tenten. Setelahnya, tangan kanan pemuda itu menggelayut pada bahu Tenten seolah tidak pernah ada yang terjadi di antara mereka berdua. Terkejut. Tentu Tenten rasakan. Dahinya mengernyit melihat Naruto yang seenaknya merangkul dirinya. Pemuda itu juga menatapnya dengan tatapan yang biasa ia gunakan.

"A..apa yang kau lakukan?" Tenten sedikit berontak.

"Apa yang kulakukan? Tentu saja menyapa teman baikku. Bagaimana kabarmu? Apa kau sudah sehat?" Naruto bertanya dengan senyum lebarnya.

'Teman?' Tenten menatap nanar lelaki itu. 'Kami-sama, bukankah ini yang aku harapkan? Tolong… lenyapkan perasaanku padanya. Ini sangat menyakitkan.'

"Hei, apa kau mendengarku?" Naruto menatap Tenten dengan dahi bekerut.

"A..a, te..tentu…tentu saja." Tenten mengulum senyumnya. "Aku baik-baik saja. Terimakasih sudah menanyakan kabarku." Gadis tersebut kembali tersenyum.

"Baguslah kalau begitu. Semoga harimu menyenangkan." Naruto melepas tangannya dan berlari menuju teman-temannya meninggalkan Tenten.

Sedikit perasaan hampa di rasakan oleh Tenten ketika lelaki itu berlari meninggalkannya dan lebih memilih berkumpul bersama teman-temannya. Sebenarnya apa yang salah darinya? Kenapa ia selalu menyukai lelaki yang sudah jelas-jelas mencintai wanita lain? Kenapa Tuhan menciptakan perasaan semacam ini jika pada akhirnya ia tidak bisa merasakan kebahagiaannya?

Naruto menatap Tenten yang masih terlihat pucat tengah berjalan menuju kelasnya. Sedetik kemudian, seringai kecil muncul dari bibirnya tanpa mengalihkan matanya dari Tenten yang tengah menatap nanar pada lantai marmer yang ia pijaki. 'Jika kau tidak mau berterus terang padaku, aku akan membuatmu mengatakan semuanya dengan caraku.'

oOo

Semua siswi di koridor sekolah melihat Tenten dengan tatapan tajam mereka masing-masing. Bahkan di antaranya menatap gadis itu seolah Tenten adalah segumpal kotoran yang berjalan. Tenten mulai merasa terbiasa dengan tatapan seperti itu semenjak ia kenal dengan Sasuke. Tapi ia rasa, berbeda untuk kali ini. Tatapan yang para sisiwi tujukan padanya adalah murni tatapan menghina tanpa ada sedikitpun tatapan cemburu seperti yang biasa mereka lakukan. Bahkan bukan hanya murid wanita yang melakukan hal itu padanya, beberapa murid lelaki pun juga menatapanya dengan tatapan yang sangat tidak mengenakkan. Hinata yang berada di samping Tenten sesekali mengusap lembut bahu gadis itu mencoba sedikit menguatkannya. Bahkan Hinata yang tak jarang bersikap anggun dimanapun dia berada, sesekali menatap tajam pada para siswa dan siswi yang menatap Tenten mengisyaratkan agar menghentikan tatapan itu.

"Apa lagi yang membuat kalian melihatku dengan tatapan seperti itu?!" Tanya Tenten pada salah satu murid wanita.

"Masih pantaskah kau bicara padaku setelah kau melihat fotomu di mading sekolah?" Cibir gadis tersebut meninggalkan Tenten.

'Foto?' Sedikit pertanyaan muncul di benaknya.

"Foto apa Tenten?" Hinata bertanya.

"Aku juga tidak tau." Tenten menggeleng pelan dan segera melangkahkan kakinya cepat menuju tempat mading berada.

Gerombolan siswa mengerubungi salah satu mading yang ada di depan kantin sekolah. Beberapa di antara mereka menggelengkan kepalanya seolah tidak percaya, sedangkan yang lainnya hanya menatap jijik pada objek yang baru saja di lihatnya. Tanpa banyak bicara, Tenten melangkahkan kakinya menuju mading tersebut. Semua siswi yang ada di depan mading segera memberi jalan pada Tenten tanpa meninggalkan tatapan khas mereka.

"Tenten, bukankah itu kalungmu?" Hinata sedikit berteriak. Namun tidak lama setelahnya, ekspresi wajah gadis indigo itu tiba-tiba berubah sementara bibirnya bergumam, "Ta..tapi fo..foto itu…"

Tenten dengan cepat menggapai kalungnya dan mengenggam erat benda itu. Namun hatinya kembali berteriak ketika ia mendapati foto ciuman antara dirinya dan Naruto waktu itu terpajang di dinding. Setetes air mata meluncur begitu saja menuruni kedua pipinya. Pandangannya kosong ke depan. Kedua kakinya seolah tidak bisa lagi menahan berat badannya. Sedetik kemudian tubuh gadis itu telah terhempas ke lantai. Sedangkan Hinata menatap Tenten penuh tanda tanya. Gadis indigo itu tidak juga pergi dari tempat itu, seolah ia mendorong Tenten untuk menjawab semua pertanyaan yang akan ia ajukan.

"Huh, ternyata perilakumu tidak sepolos wajahmu?" Seseorang mendatangi Tenten sembari melipat kedua tangannya angkuh.

"Ternyata kau jauh lebih buruk dari Sakura." Ejek wanita berambut pirang.

"Pasti ini ulahmu! Apa yang kau mau dariku?!" Tenten mendongakkan kepalanya berteriak.

"Ulahku? Bahkan aku tidak tau kau pernah berfoto seperti ini bersama Naruto… Yah, walaupun terlihat ketidaksengajaan di sana. Tapi bagiku, ini sudah cukup memalukan." Sakura tertawa renyah.

"Tenten, bisa kau jelaskan semua ini padaku?" Hinata masih terpaku pada posisinya.

"Hinata… kau tau aku sedang tidak dalam mood untuk menjelaskan semua ini. Bisakah kau meninggalkanku sendiri. Ketika tiba saatnya nanti, aku akan menjelaskan semuanya." Tenten menahan geram dengan mengepalkan kedua tangannya rapat.

"Kuharap aku akan mendapatkan penjelasan yang masuk akal tentang semua ini." Hinata menyeka air mata di sudut matanya dan berlalu pergi.

"Oouw, ternyata Tenten Sarutobi sedang bersedih… Apa tidak ada jurus karate yang bisa menhilangkan kesedihanmu?" Ejek Sakura sekali lagi.

"Pergilah selagi aku bersabar!"

"Baiklah, lagipula aku tidak mau lama-lama berada di samping wanita sepertimu." Sakura menarik tangan Ino menjauhi Tenten. Satu persatu siswa yang tadinya berada di depan mading juga perlahan meninggalkan Tenten yang tengah terduduk di bawah lantai.

'Kau bilang kau mencintaiku, tapi kenapa kau melakukan ini padaku?!' Tenten beranjak berdiri, mencopot foto itu dari tempatnya, dan mencari seseorang yang sudah seharusnya mendapatkan balasan atas perilakunya ini. Dan dia tau betul, dimana orang itu berada sekarang.

Seorang lelaki bermata jade mengepalkan tangannya erat dan kemudian memukulkannya ke pillar sekolah. Ingin sekali ia menghabisi orang yang telah melakukan hal itu pada Tenten. Ia bersumpah, akan menghabisi lelaki itu jika sudah tiba saatnya nanti.

oOo

Tukk….

Sebuah helain kertas mendarat terbawa angin dan jatuh di dada Naruto yang tengah membaringkan dirinya di sebuah kursi kayu tempat biasa ia menenangkan diri. Lelaki itu lantas membuka matanya dan mengintip sekilas kertas tersebut dan tertawa renyah lalu kembali menutup matanya seolah tidak ada masalah yang terjadi. Senyuman licik masih menghiasi bibirnya sampai ia mendengar langkah kaki seseorang mendekati dirinya.

"Apa kau terkejut?" Naruto membuka sebelah matanya menatap Tenten yang kini banjir air mata.

"Bukankah kita sudah berjanji?... Ku bantu kau mendapatkan Sakura, dan kau lenyapkan foto itu… Apa kau pikir semua hal yang kau inginkan bisa kau dapatkan secara instan? Aku sedang berusaha, tapi kenapa kau malah menusukku dari belakang?!" Tenten menatap Naruto yang terlihat santai.

"Perjanjian kita hanyalah sebatas ingatan. Tidak ada hitam di atas putih, atau sebuah matrai yang harus di tanda tangani. Jadi untuk apa aku mempertahankan perjanjian kalau aku sudah tidak lagi menginginkannya?" Naruto kembali tertawa remeh.

"Lalu untuk apa kau masih menyimpan foto itu kalau bukan untuk mengancamku? Bukankah yang kau inginkan dari awal adalah Sakura?" Gadis itu meremas kedua tangannya.

"Huh, apa kau pikir aku masih menginginkan gadis angkuh itu?" Naruto bangun dari posisinya.

"Lalu apa maumu?!" Tenten berteriak.

"Kau sudah pasti tau bukan. Yang kumau adalah kau. Tapi kenapa kau malah menolakku dan memilih menghindar dariku? Kau bahkan tidak mengatakan apa alasanmu mengambil keputusan seperti itu…. Akui saja, kau menyukaiku bukan?"Naruto beranjak dari duduknya dan menatap manik mata Tenten dengan kedua tangan berada di dalam saku.

Plakk…

Satu tamparan keras mendarat begitu saja di pipi kanan Naruto. Pemuda itu hanya diam merasakan nyeri yang menjalari wajahnya. Tenten menatap tajam pria di depannya. "Aku bahkan tidak sudi mengenalmu! Kau bilang kau mencintaiku, tapi kenapa kau melakukan hal sepicik ini?!"

"Aku tidak akan melakukan hal ini jika kau mau mengakui kalau kau menyukai dari awal. Apa kau tau, bagaimana perasaanku ketika mengetahui kalau gadis yang aku sukai masih memiliki perasaan pada cinta pertamanya? Apa kau tau, bagaimana perasaanku ketika mengetahui kalau gadis yang aku cintai di cium oleh lelaki yang tidak lain adalah rivalku? Kau hanya memikirkan perasaanmu, lalu bagaimana denganku? Kau bahkan sudah berani menjodohkanku dengan temanmu tanpa kuketahui. Kau anggap aku apa? Apa aku sudah tidak ada artinya di matamu?" Naruto masih berkata dengan nada santai.

"Maaf jika kau tidak suka aku mendekatkanmu dengan Hinata. Maaf jika aku masuk terlalu dalam ke kehidupanmu. Maaf jika selama kau mengenalku, aku selalu bersikap kurang menyenangkan. Maafkan aku atas semua kesalahanku…. Dan kuharap, kau jangan pernah berani menampakkan wajahmu di depan mataku. Karena aku sudah terlalu muak melihatmu." Tenten membalikkan badannya dan melangkahkan kakinya pergi.

Naruto menahan tangan kanan Tenten mencegah gadis itu pergi. "Bersabarlah sebentar lagi, dan kau akan melihat yang lebih dari ini." Seringai muncul kembali di bibir Naruto.

"Terserah apa yang akan kau lakukan, aku tidak peduli. Tapi, jangan pernah sangkut pautkan aku dengan semua hal itu!" Satu hentakkan keras dari Tenten berhasil membuat cengkraman Naruto terlepas. Gadis itu lantas melangkah lebar menjauhi Naruto yang menatap kepergiannya. Tenten kembali mengehntikan langkahnya dan memalingkan sedikit wajahnya kebelakang. "Dan terimakasih, kau telah menemukan kalungku." Setelahnya, Tenten melangkah pergi. Pergi dari hadapan Naruto dan berusaha pergi dari hati Naruto.

'Maafkan aku. Aku janji, akan memperbaiki semuanya setelah ini. Semua kulakukan adalah semata-mata untukmu.' Batin Naruto menangis.

oOo

Dua bola mata lavender yang tak henti-hentinya mengeluarkan cairannya, menatap lemah pada seseorang yang duduk di hadapannya. Seolah tidak percaya mendengar apa yang orang tersebut ceritakan. Sedangkan satu orang lainnya yang duduk di hadapannya menundukkan kepalanya seolah pasrah akan mendapatkan perlakuan seperti apa dari sahabatnya tersebut. Raut wajah terkejut jelas terlihat dari wajah gadis bermata lavender tersebut. Bagaikan petir di siang bolong. Tidak ada angin ataupun hujan, tiba-tiba ia mendapatkan penghianatan dari sahabatnya sendiri.

"'Apa kau tidak bisa mencintai laki-laki lain?' Apa semua ini adalah maksud dari perkataanmu tempo hari, Tenten." Hinata mengeluarkan suaranya yang terdengar parau.

"Aku berkata seperti itu hanya karena aku tidak mau melihatmu hancur saat kau tau kalau Naruto tidak memilik perasaan padamu." Tenten membalas cepat.

"Tapi kenapa kau tidak memberitahuku lebih awal?! Dengan begitu aku tidak perlu lagi mengharapkan Naruto. Dan sekarang kau malah menusukku dari belakang. Ini jauh lebih menyakitkan Tenten." Gadis itu menyeka air mata di sudut matanya.

"Aku tidak bermaksud untuk menghianatimu. Sejak awal aku mengenal Naruto, yang dia inginkan hanyalah Sakura. Kalau aku tau akan seperti ini jadinya, waktu itu aku akan membiarkan Naruto menyebarkan foto itu. Tapi di sisi lain, aku tidak mau Neji mengetahui hal ini. Karena jujur hingga saat itu aku masih mengharapkannya."

"Jika dari awal kau mengatakan padaku kalau kau masih menyukai Neji-nii, aku pasti akan berusaha membantumu. Dengan begitu kau tidak perlu melakukan perjanjian bodoh seperti itu dengan Naruto."

"Itu yang sejak awal aku inginkan. Tapi apa kau tau? Setiap aku bertemu dengan Neji, dia selalu membicarakan kau. Tentang kau. Dia bahkan membutakan matanya akan cintaku padanya. Karena yang ada di hatinya hanyalah dirimu… Kau mengatakan kalau kau merasa sakit hati karena Naruto lebih menyukaiku daripada dirimu. Lalu apa kau pernah berpikir, bagaimana aku harus menahan rasa sakit selama bertahun-tahun, ketika aku tau hanya kau yang ada di dalam hati Neji? Aku bahkan tidak bisa mengalihkan sedikit pun tentang Neji dari hidupku. Kau sakit karenaku, dan akupun juga sakit karenamu. Kita berada di posisi yang sama. Jadi, bisakah kau berhenti menyudutkanku?"

"Mungkin akan lebih baik kalau kita tidak bertemu untuk sementara waktu. Aku akan memikirkan semuanya." Hinata pergi meninggalkan Tenten yang masih duduk di sudut kelas yang tidak terpakai.

oOo

Riuh para pengunjung di sebuah restoran cepat saji sangat jelas terdengar oleh dua manusia berbeda gender. Salah satu dari dua orang tersebut terlihat sangat senang berada di sana. Namun sebaliknya, satu yang lainnya sangat terlihat tidak bersemangat. Sejak mereka menapakkan kakinya di restoran itu, pemuda tersebut masih setia dengan ekspresi wajahnya. Kedua tangannya terlipat di depan dada, pandangannya menatap jauh ke arah jendela kaca yang menyajikan pemandangan jalan raya dan ribuan orang yang tengah berjalan di trotoar pinggir jalan.

"Sasuke, apa kau sedang ada masalah?" Seorang gadis membuka pembicaraan.

"Satu-satunya masalahku adalah bertemu denganmu. Cepat katakan, apa maumu menyuruhku kemari?"

"Hanya untuk mengajakmu bersenang-senang." Sakura tersenyum.

"Aku tidak senang. Bisa aku pulang sekarang?"

"Pu..pulang? Apa kau tidak mau menghabiskan malam yang indah ini bersamaku terlebih dahulu?" Gadis itu tersenyum penuh arti. "Tidak!" Jawab Sasuke singkat.

"Sampai kapan kau akan bersikap seperti ini padaku?" Sakura menundukkan kepalanya, meletakkan kedua tangannya di bawah meja. Sasuke sedikit memalingkan wjahnya pada gadis di hadapannya. "Sampai kapan Aku harus berusaha dan menunggu agar kau bisa melihatku?... Apa aku sama sekali tidak ada artinya di matamu?... Bertahun-tahun aku berusaha menggapaimu, tapi kau semakin lama semakin menjauh. Dan aku memutuskan untuk berusaha menggapaimu, tapi kau malah berusaha menyingkirkanku, seolah aku adalah seonggok daging busuk yang sudah sepantasnya untuk dibuang… Aku masih berusaha tersenyum di hadapanmu, selalu tersenyum agar kau bisa merasakan ketulusanku. Tapi kesabaran yang aku lakukan selama ini terasa sia-sia, ketika aku tau kau menyukai gadis itu. Tidak adakah sedikit harapan untukku? Walau hanya sebatas harapan agar kau bisa memberiku senyumanmu? Apa yang ada pada diri Tenten yang tidak kumiliki?" Gadis pink itu mengepalkan kedua tangannya, memejamkan matanya erat, berusaha menumpahkan semua air mata yang sejak tadi menganggu pengelihatannya.

Sasuke sedikit mengendur. Sedikit rasa kasihan tertanam di benak pria itu yang kini menatap Sakura. "Kalau kau sudah mengetahui perasaanku padamu, lalu untuk apa kau masih berusaha mendapatkanku? Bukankah banyak lelaki lain yang jauh lebih baik dariku? Kenapa kau tidak memilih melupakanku dan malah berusaha mendapatkanku dengan segala cara?"

"Itu karena aku mencintaimu! Jika kau pikir dengan mencari lelaki lain yang lebih baik darimu adalah jalan satu-satunya agar aku bisa melupakanmu, sudah pasti aku akan melakukan itu dari dulu. Tapi pada kenyataanya, sampai sekarang pun, meski kau bersikap dingin padaku, tapi hatiku tetap utuh untukmu. Aku juga tidak tau apa yang membuatku sampai melakukan hal sejauh ini untuk mendapatkanmu." Sakura sedikit mendongakkan kepalanya memberanikan diri menatap Sasuke.

"Itu bukan cinta. Tapi itu adalah sebuah obsesi yang harus kau hilangkan… Lihatlah sekelilingmu, banyak pria yang mendekatimu. Tapi kau berusaha menghiraukan mereka hanya karena kau memiliki satu obsesi pada seorang pria yang bahkan hanya menganggapmu sebatas teman. Cobalah untuk bersikap sedikit terbuka pada pria lain. Dan aku yakin, kau akan menemukan kebahagiaanmu sendiri." Sasuke beranjak dari duduknya dan melangkah pergi meninggalkan Sakura. Dalam sekejap, gadis itu sudah berhasil menahan tangan kanan Sasuke sebelum pria itu benar-benar menghilang dari pandangannya.

"Apa kau sudah memutuskan untuk menjadikan Tenten sebagai cinta terakhirmu, meskipun kau tau, kau bukanlah satu-satunya pria yang tengah berusaha mendapatkan hatinya?"

Sasuke memalingkan sedikit wajahnya dan menunduk. "Jika pada akhirnya aku tidak bisa mendapatkan Tenten, setidaknya aku bisa merasakan kebahagiaanku dengan membiarkan Tenten bahagia bersama lelaki pilihannya." Pria itu menggerakkan sedikit tangannya, berusaha sehalus mungkin melepas tangan Sakura.

Kritik dan Saran, harap di tulis melalui review. Sekian dan terimakasih (ala pembaca berita) :D Hehe, gmana minna? Makin belibet ya? Buat yg bosen, doain smoga cpet end ya? :D Makasih udh bca dan tinggalin review and… See you guys (: