Yuhuuuu.. Hehe, pasti udh pda lumutan ya nunggu fic ini? Fuuuh, akhirnya Author bisa sedikit lebih tenang. Krna Author baru aja bebas dari try out, ujian praktek, beserta tetek bengeknya minna. Makanya Author ngaret updatenya (: Ehehe, jngan bilang2 yah.. Ini Author nyolong waktu loh buat update. Kekeke… :D Daan buat para reader yang mungkin berada di posisi yg sma seperti Author, semoga ujiannya lancer ne ;) Semoga ntar dpet nilai yg memuaskan (: And for your information aja… Chapie ini adalah 2 chapie terakhir dari fic Give me Your Heart. Dengan kata lain, chapie depan, ini fic udah tamat (: Wookeh.. Author mau bales review dari reader semua (:
Namikaze Serizawa: Hehe, maaf yah nunggunya lama :p Jngan slahkan Author.. salahkan pemerintah yang kalo ngasih tugas gk kira-kira T_T
Bohdong: Udah.. tenang aja. Di chapie ini, Sakura bkal kena karma kok ;) Huhuhu… mkin belibet yah. Emang, kyk rumus fisika dan kimia. Atau mungkin lebih parah.
Namikaze Sholkan: Panas? Kipasin dong bang?! :D
Jamal: Iyah. Sasuke mah orangnya pasrah :D Gk kyk Naruto yah :D Login, gk login.. pokoknya kasih review, bagi Author sama saja ;)
2nd Silent reader: Ho'oh bro.. Mkasih ya msukannya. Udah di tancepin di otak sama Author (:
Nagasaki: Hehe, makasih yah. Keep read (:
Akira Ken: Emang.. Naru bkal ngelakuin apapun buat dapetin Tenten (: #di jyuken Neji :D Di chapie ini, kyk'y gk ada rencana Naruto yg bkin Tenten naik darah. Author bkal kumpulin semuanya di chpie yg terakhir (:
Panjang: Kalo kamu bingung mau komen apa, saya juga bingung mau bales komenan kamu kyk apa :D
Awar Muna: Siapa ya? Kamu mungkin? :D
Minna Jasmine: Iyah.. Sedalam cinta Author buat Itachi :D Gpp kok, yg pnting ninggalin jejak (:
Saika: Makasih Saika masih setia nungguin fic ini (: Saya gk akan ngabaikan fic ini (: Kalo gk update tuh, rasanya ada kurang di hidup Author :D #halah, ngmong opo Author iki? :D Makasih udah nyempatin waktu buat ksih review #bungkuk ampe kaki :D
AdityaHouzuki: Udah di lanjut. Maaf kalo lama (: Silahkan di baca ;)
Shido: Ehehe, iya. Maaf juga ini baru di update :D Seekstrim apa sih? :D Gak dong.. masa pairnya ganti? Author kan ska bnget sama NaruTen :* Mata hazel itu Tenten. Kalo Neji warna matanya lavender (:
El Bany Blueblack: Iya tuh. Si Sasu kyk stalker yah. Ikutin Tenten kemana2 :D Huhu.. itu sifat dua cwok itu tipe Author bgt loohh.. :D #lupakan
Akamaru: Maaf gak bisa kilat.. BBM naik bro. Jet saya juga lagi di servis :D
YumiZu: Hehe, begitukah? Syukur deh kalo kamu seneng (: Senyum2 gak apa-apa, asal jgn kelewatan aja yah :D
Tenten Sweet: Huhuhu.. emang Tenten tuh di dzalimi sama smua org. Kecuali Sasuke :D Hinata bkal tau kok. Tapi bkan di chapie ini. Tunggu besok di chapie akhir neh (: Lelaki bermata jade yg lihat foto Tenten di mading? Silahkan baca, dank mu bkal tau jwabannya (:
Jeliesdewi: Hehe.. gpp kok. Asal ninggalin review ajah, udah sneng bnget Author (:
Udah di bales semua… Silahkan dibaca minna (:
Sebuah mobil sport hitam tengah mengelilingi salah satu perumahan sejak 1 jam yang lalu. Beberapa komplek dan blok sudah ia itari. Namun seseorang yang di cari belum juga ia temukan. Biasanya gadis itu akan pergi ke taman dekat rumahnya jika moodnya sedang buruk. Tapi perkiraan Sasuke tidak sesuai dengan kenyataanya. Ketika bel pulang berbunyi tadi, ia sudah tidak melihat gadis itu di bangkunya. Dan saat ia berlari secepat mungkin menuju parkiran, sepeda gadis itu juga sudah tidak berada di sana. Ia juga sempat berhenti di taman tempat biasa gadis itu merenung selama hampir 30 menit. Namun usahanya lagi-lagi sia-sia, gadis itu sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya. Apa mungkin Tenten sudah kemari tadi? Sial bagi Sasuke. Jika saja Sakura tidak mengajaknya bertemu, mungkin ia akan menemukan Tenten sejak tadi. Ia khawatir terjadi sesuatu yang buruk pada gadis itu. Karena bukan tidak mungkin seorang yang depresi akan melakukan hal yang di luar nalar manusia normal. Tunggu, apa Tenten mengalami depresi hanya karena satu masalah? Jika Sasuke jadi Tenten, ia tidak akan membuang waktunya untuk depresi. Tentu saja hal yang akan ia lakukan jika menjadi Tenten adalah… Menghabisi Naruto di tempat! Tapi sayangnya, gadis seperti Tenten tidak akan mungkin memiliki pikiran semacam itu.
Ia kembali menyapukan pandangannya ke setiap tempat yang dapat ia jangkau dengan indera pengelihatannya berharap bisa menemukan gadis itu. Sebersit pertanyaan kembali muncul di otak Sasuke. Jika dia tidak ada di sekolah dan di taman, lalu kemana gadis itu pergi? Apakah dia sudah pulang? Yah, semua kemungkinan bisa terjadi. Tapi sangat kecil kemungkinan gadis itu pulang dengan mood seburuk itu. Ia memahami sifat gadis itu. Gadis itu tidak akan membiarkan siapapun melihatnya dengan keadaan yang kacau. Terlebih pada keluarganya.
Sasuke menghentikan mobilnya di depan pos penjaga dan segera turun dari mobilnya. Ia berlari kecil dan menghampiri penjaga yang sering berjaga di sekitar rumah Tenten.
"Paman, maaf jika aku menganggu. Apa paman melihat Tenten pulang tadi?" Tanya Sasuke.
"Sepertinya dia belum pulang. Aku sama sekali belum melihatnya." Jawab pria yang berusia sekitar 40 tahun itu.
"Begitu… Baiklah, terimakasih paman." Sasuke membungkuk memberi salam dan kembali masuk ke mobilnya.
Pria Uchiha itu memundurkan mobilnya untuk kembali ketaman yang tadi ia kunjungi. Berharap ia bisa menemukan gadis itu di sana. Setelah berhasil memutar arah, Sasuke segera tancap gas menuju tempat yang ia maksud. Namun beberapa meter ketika ia berjalan, matanya melihat Tenten yang tengah mengendari sepedanya melalui kaca spion. Gadis itu mengayuh sepedanya memasuki komplek perumahannya. Benar seperti dugaanya. Mood gadis itu sangat buruk, bahkan mungkin lebih buruk dari perkiraanya. Terlihat jelas dari raut wajahnya yang sangat tidak sedap di pandang mata. Sasuke kembali memutar balikkan mobilnya dan mengikuti Tenten perlahan dari jarak sekitar 10 meter di belakang gadis itu.
oOo
Pintu rumah keluarga Asuma terbuka, menandakan ada seseorang yang hendak memasuki rumah tersebut. Dan setelah beberapa detik, seorang gadis menampakkan wajahnya di depan seorang wanita yang mengenakan pakaian ala rumahan dan sebuah dompet berada di tangannya juga tengah berada di depan pintu.
"Kaasan akan ke supermarket sebentar. Ada barang yang harus Kaasan beli." Kata Kurenai begitu melihat anak gadisnya berjalan melewati dirinya.
Merasa tak mendapat balasan dari sang anak, Kurenai mengambil nafas sesaat hendak bertanya. Namun belum sempat suaranya keluar, Tenten sudah menyela terlebih dahulu.
"Maaf Kaasan.. aku sedang tidak dalam mood untuk menjawab pertanyaan apapun." Tenten kembai melangkahkan kakinya menjauh pergi.
'Kupikir dia sudah mengatakan semuanya pada Asuma. Kenapa lagi dia sekarang?' Wanita tersebut kembali membuka pintu yang tadi di tutup oleh Tenten.
Beberapa langkah setelah Kurenai keluar, wanita itu mendapati sosok pria yang tengah berdiri di depan pintu rumahnya. Pria itu segera membungkukkan tubuhnya sesaat setelah ia melihat Kurenai di hadapannya.
oOo
Ransel cokelat yang tadinya berada di punggung Tenten, segera di lempar ke segala arah oleh pemiliknya. Kancing kemeja bagian atas seragamnya, ia lepas kasar. Ia lantas membanting kasar tubuhnya ke tempat tidurnya dan menghela nafas panjang. Tangan kanannya ia gunakan untuk memijat kecil pelipisnya. Matanya tertuju pada langit-langit kamarnya. Tak lama kemudian, bayangan wajah Naruto sudah berada di langit-langit kamarnya. Dua bola matanya otomatis membulat melihat apa yang ia lihat. Respect, kepalanya berpaling ke arah lain guna menghindari fatamorgana sesaat itu. Beberapa detik kemudian, ia kembali mengarahkan fokusnya pada langit-langit kamarnya, dan benar seperti dugaanya. Wajah pemuda itu dengan senyum menawan yang pernah ia lihat masih berada di sana. Jelas menandakan bahwa otaknya kini tengah di penuhi oleh lelaki itu.
Dilema. Yah, tentu itu yang sedang Tenten rasakan sekarang. Ia tidak tau lagi harus berbuat apa. Ingin sekali rasanya ia melompat dari tebing dan menyelam ke lautnya agar ia bisa menenggelamkan diri dari semua ini. Menenggelamkan dirinya dari semua masalah yang kini tengah menimpanya. Lelaki itu sungguh bodoh. Sangat bodoh. Bahkan terlampau bodoh di mata Tenten. Jika saja ia tidak melakukan hal seperti itu, mungkin Tenten akan mempertimbangkan kembali keputusannya untuk tidak mencintai lelaki itu. Ia mungkin akan berbicara baik-baik pada Hinata tentang perasaanya. Ia juga mungkin akan menjelaskan perasaanya pada Sasuke. Tapi di luar dugaan. Naruto sudah terlebih dahulu membuatnya kecewa. Sangat kecewa hingga Tenten tidak bisa lagi berkata apa-apa. Sebenarnya, ia ingin sekali menghajar Naruto ketika lelaki itu menjelaskan alasan dari perbuatannya tadi siang. Namun ia berusaha menahan hasrat liar itu karena bukan tidak mungkin nyawa lelaki itu akan berakhir di tangannya. Mengingat rasa kecewa dan kekesalanya pada Naruto yang sudah mencapai ubun-ubun.
Ia menekan keyboard pada ponselnya dan menatap lemah pada foto dirinya dan Naruto yang sempat di ambil oleh Mamoru beberapa waktu yang lalu. Selama ini Tenten mengenal Naruto, ia adalah sosok pribadi yang hangat dan menyenangkan. Tapi tak pernah ia duga. Jika di dalam hati kecilnya, tersimpan sifat selicik itu. Tenten tau, Naruto yang ia temui tadi siang, bukanlah seperti Naruto yang ia kenal. Seperti ada sesuatu yang merasuki diri lelaki itu hingga membuat dirinya melakukan tindakan semacam itu. Apakah sebuah rasa cinta bisa membuat seseorang menjadi orang lain? Bukankah cinta justru membuat seseorang semakin tau perasaan dan isi hati orang yang di cintainya?
Tok..tok..tok
Seseorang mengetuk pintu kamar Tenten beberapa kali. Gadis itu otomatis memalingkan wajahnya ke arah pintu sembari mengerutkan dahinya. Siapa yang ada di luar? Bukankah ia sudah mengatakan tidak ingin di ganggu?
"Tenten.. Ada seseorang yang mencarimu. Keluarlah." Terdengar suara Kurenai dari luar.
Tenten memutar bola matanya malas dan membalas perkataan Ibunya. "Kaasan, aku sedang ingin sendiri. Aku tidak mau menemui siapapun."
"Kaasan tau. Tapi lebih baik kau bicara sendiri padanya agar dia tau. Dengan begitu, paling tidak kau menghargai kedatangannya." Kata Kurenai.
"Baiklah.. baiklah. Aku akan segera turun." Gadis itu beranjak dari posisinya dan berjalan malas menuju lemari bajunya.
Suara langkah kaki seseorang sangat jelas terdengar oleh kedua telinga lelaki yang kini duduk di sebuah sofa di ruang keluarga Sarutobi. Lelaki itu tersenyum di balik wajahnya yang membelakangi gadis tersebut dan beranjak berdiri dari posisinya. Ia lantas membalikkan tubuhnya dan mengulum senyum.
"Ada keperluan apa kau kemari?" Gadis itu terlihat sedikit malas.
"Aku hanya ingin mengajakmu ke suatu tempat. Dan aku tidak mau mendengar kata penolakan darimu." Lelaki itu melipat kedua tangannya di depan dada.
"Bagaimana kalau aku tidak mau?" Gadis tersebut mengangkat sedikit dagunya.
"Terpaksa. Aku harus memaksamu."
"Maaf sebelumnya. Tapi seperti yang aku katakan tadi. Aku tidak mau karena aku tidak sedang dalam mood untuk melakukan apapun." Kata Tenten dingin.
"Maaf juga sebelumnya. Karena aku sudah berjanji pada Ibumu. Aku akan membuatmu kembali seperti sebelumnya. Jadi, maaf jika aku…." Lelaki itu menghentikan kata-katanya dan berjalan perlahan menghampiri Tenten. Gadis itu sontak membulatkan matanya setelah mendapat tatapan liar dari lelaki itu.
"A..apa yang akan kau lakukan?!" Tenten berjalan selangkah ke belakang. Sesaat kemudian….
"Ah, He..hei. Lepaskan aku!" Tenten berteriak ketika lelaki itu mengangkat tubuhnya dan meletakkannya di bahu kanannya. Ia lantas membawa Tenten keluar dari rumah.
"Maaf nona, aku tidak bisa." Lelaki itu menyeringai sembari terus menjaga keseimbangan tubuhnya.
"Lepaskan aku! Sasuke.. apa yang kau lakukan?!" Tenten kembali berteriak dan memukul-mukul punggung Sasuke.
"Bukankah aku sudah mengatakannya tadi? Aku akan membuatmu menjadi Tenten yang dulu. Jadi kuharap kau jangan membantahku sekarang." Sasuke tertawa kecil.
"Tapi kau mau membawaku kemana?" Tenten bertanya sekali lagi. Sasuke tidak mempedulikan pertanyaan Tenten. Lelaki itu malah memasukkan Tenten kedalam mobilnya dan mengunci pintunya agar gadis itu tidak keluar. Setelahnya, ia berjalan ke arah bangku kemudi dan sesaat kemudian, Tenten telah mendapati bungsu Uchiha itu sudah duduk di sampingnya.
Sasuke mengulum senyum sembari memasang sabuk pengamannya."Lebih baik kau diam dan nikmati saja perjalanannya."
oOo
Tenten yang sedari tadi duduk di samping bangku kemudi, mengarahkan kepalanya keluar jendela. Merasakan angin segar yang masuk melalui jendela mobil yang telah ia buka kacanya. Beberapa saat kemudian gadis itu kembali menutup kaca jendela mobil dan beralih menatap Sasuke yang tengah mengemudikan mobilnya.
"Sebenarnya kau mau membawaku kemana?" Tenten terlihat gusar.
"Tenanglah. Aku tidak akan berbuat macam-macam padamu. Kau aman bersamaku." Sasuke mengulum senyum.
"Bukan itu masalahnya. Masalahnya… kenapa kau tidak membiarkanku mengganti bajuku?"
Sasuke melihat Tenten dari atas kebawah. Sandal rumah, hot pants, dan kaos oblong berwarna hitam polos, melekat pada tubuh gadis itu. "Kau terlihat sempurna." Sasuke tertawa dan kembali memfokuskan matanya ke jalan raya. "Aku bisa saja membiarkanmu mengganti bajumu. Tapi bagaimana kalau nanti kau malah memilih mengurung dirimu di kamar dan tidak mau lagi menemuiku?" Pemuda emo itu berkata dengan nada sedikit menggoda.
"A..apa? Hei, aku bahkan tidak membawa apapun? Bagaimana kalau sesuatu terjadi?"
"Aku akan selalu bersamamu. Kau tidak perlu khawatir." Lelaki itu menatap Tenten sesaat.
"Kuharap begitu. Karena kau yang membawaku, kau juga yang harus bertanggung jawab atas diriku. Kau mengerti!" Tenten menujuk Sasuke dan kembali mempar wajah ke arah jalan raya.
'Kau adalah tanggung jawabku. Dan kuharap itu terjadi untuk selamanya.' Sasuke tersenyum.
oOo
Tangan kekar Sasuke mengenggam erat tangan kiri Tenten. Membawa gadis itu ke sebuah tempat yang terlihat sangat sunyi. Puluhan batang pohon berukuran cukup besar, berdiri kokoh di sekitar tempat ini. Rumput-rumput kecil hijau yang memberi kesan alami tersaji pula di sekitarnya. Bahkan bukan hanya tumbuh-tumbuhan yang tumbuh subur yang ada di sana, beberapa hewan-hewan kecil seperti kelinci, kucing, burung, kupu-kupu, dan lain sebagainya tak luput dari pandangan mata Tenten. Awalnya Tenten tidak mengetahui tempat apa ini. Sampai pada akhirnya lelaki itu membawanya ke pinggiran tebing tinggi. Gadis itu menundukkan kepalanya guna mengetahui apa yang ada di bawah tebing tersebut. Setelah ia mengetahuinya, sontak semua bulu roma yang ada di tubuhnya mulai berdiri. Ia sedikit takut dengan tempat ini. dan satu hal yang ada di otaknya saat ini. Apa tujuan Sasuke membawanya kemari? Apakah pria ini bisa membaca pikirannya yang menginginkan terjun dari atas tebing dan menyelam ke dasar sungainya.
Sasuke melepaskan tanganya dari Tenten. Pemuda itu lantas melangkah kedepan. Tepatnya di pinggir tebing tersebut. Ia menghirup oksigen sebanyak yang ia bisa, memejamkan kedua matanya, mengepalakan tangannya erat, dan kemudian..
"Aaaaaaaaaaaaa….." Pemuda itu berteriak sekuat yang ia mampu. Ia lantas memalingkan wajah pada Tenten dan tersenyum. "Sekarang giliranmu."
"Giliranku? Apa yang harus aku lakukan?" Tenten memandang Sasuke bingung.
"Tentu saja melakukan apa yang baru saja aku lakukan. Cepatlah.. aku yakin, beban yang ada di sana akan sedikit berkurang." Kedua bola mata Sasuke mengarah pada dada Tenten.
"A..apa yang kau lihat?!" Tenten sontak melepas tangannya dari genggaman Sasuke dan menutup dadanya dengan menyilangkan kedua tangannya di depannya.
"Bukan beban itu maksudku," Sasuke memutar kedua bola matanya malas. "Lakukan saja… nanti kau juga akan merasakannya."
"Aku tidak yakin." Tenten mempoutkan bibirnya.
"Lakukan saja!" Perintah Sasuke.
"Baik.. Baiklah," Tenten memandang Sasuke takut. Gadis itu memejamkan kedua matanya, menghirup oksigen sebanyak mungkin untuk mengisi setiap relung paru-parunya dan..
"Aaaaaaaaaa….." Pada akhirnya gadis itu mengeluarkan semua yang selama ini mengganjal di hatinya. Benar. Semua beban yang mengganjal di hatinya dan yang menggelayuti kedua bahunya seolah lenyap.
"Bagaimana?" Tanya Sasuke.
"Apa aku boleh melakukannya sekali lagi?" Tenten bertanya ragu.
"Kau bisa melakukanya sampai urat lehermu putus. Silahkan.." Sasuke menarik dirinya kebelakang memberi ruang pada gadis hazel itu untuk memuaskan hasratnya.
Tenten membusungkan dadanya menghirup oksigen sebanyak mungkin. Gadis hazel itu mengepalkan kedua tangannya dan memejamkan kedua matanya. Ia ingin melepaskan semuanya. Semua perasaan yang sangat ingin ia lepaskan.
"Narutooooo… aku membencimu sebanyak aku membenci semua hal yang kubenci di dunia ini! Kau adalah pria paling bodoh yang kukenal! Aku menyesal mengenalmu! Aku menyesal masuk ke kehidupanmu! Bahkan aku menyesali kehidupanku semenjak aku mengenalmu!" Selesai. Gadis keturunan Sarutobi tersebut telah mengeluarkan semua hal yang sudah cukup lama tertanam di benaknya. Meskipun tidak cukup untuk menghilangkan semua bebannya, namun hal seperti ini sudah cukup untuk sedikit meringankan dirinya. Paling tidak ia bisa melampiaskan kekesalannya tanpa menyakiti orang lain.
"Apa kau sudah puas?" Sasuke menghapiri Tenten dan memegang lembut bahu kanan gadis itu.
"Hm.." Tenten mengangguk.
"Lalu, apa lagi yang ingin kau lakukan setelah ini?"
"Mungkin lebih baik kita pulang saja. Kau terlihat sangat lelah. Kau bahkan belum mengganti seragammu." Dua bola mata Tenten menatap Sasuke dari bawah keatas.
"Jangan kau pikirkan aku. Aku baik-baik saja. Lelahku hanyalah ketika aku tidak lagi melihat senyumanmu." Sasuke sedikit mendekat.
"Ehm, ba..baiklah. Itu sungguh mengharukan. Da..dan terimakasih. Karena kau, separuh bebanku terasa lenyap." Senyum renyah keluar dari bibir Tenten.
"Tidak ada kata terimakasih untuk cinta." Sasuke menatap manik mata gadis di hadapannya.
"Sa.. Sasuke… Apa yang kau bicarakan?" Kerutan kecil muncul di dahi mulus gadis itu.
Tanpa menjawab pertanyaan Tenten, bungsu Uchiha tersebut meraih kedua tangan gadis itu dan sedikit menariknya untuk mendekatinya. Perlahan ia mengarahkan dahinya pada dahi Tenten. Tak berhenti sampai di situ. Sasuke mengarahkan kedua tangan Tenten yang sudah berada di genggamannya ke dada bidangnya. Ia lantas memejamkan matanya perlahan dan mulai berkata,
"Aku mungkin bukan pria yang baik. Tapi akan kupastikan, aku akan mencintaimu dengan baik… Hanya laki-laki bodoh yang tega menyakiti gadis sepertimu. Kau tidak pantas untuk di sakiti. Hatimu terlalu baik untuk mendapatkan itu semua… Jangan melihat kemanapun! Lihatlah aku yang ada di hadapanmu. Aku mencintaimu melebihi aku mencintai diriku sendiri…. Entah aku hampir gila atau aku memang sudah gila. Tapi satu hal yang harus kau tau… Aku tidak pernah mengalami perasaan yang seperti ini seumur hidupku. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku mencintai seorang wanita. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa ada seseorang yang harus aku jaga dan aku lindungi. Bukan karena kecantikanmu yang membuatku suka padamu. Tapi kepribadianmu yang hampir sama denganku. Membuatku tertarik untuk mengenal lebih jauh tentangmu. Untuk pertama kalinya juga dalam hidupku, aku menemukan seorang gadis yang sangat sesuai denganku. Gadis seperti itu yang kurasa sangat mengerti akan diriku dan perasaanku. Dan hanya gadis seperti itulah yang aku cintai." Sasuke tersenyum tanpa melepas tautan dahinya dan Tenten.
Dua bola mata Tenten tanpa ia sadari menatap wajah Sasuke yang jaraknya tak kurang dari 3cm darinya. Ia melihat lelaki itu memejamkan matanya sembari mengulum senyum manisnya. Jelas dapat Tenten lihat ketulusan pria tersebut. Sama sekali ia tidak mendengar nada dusta setiap pria itu mengeluarkan suaranya. Sangat tulus dan lembut. Sangat di sayangkan jika pria sepertinya harus menerima kekecewaan yang mendalam jika saja ia mengetahui perasaan Tenten yang sesungguhnya.
Tenten sangat memahami apa yang di rasakan Sasuke. Tapi ia juga tidak bisa berkilah jika di hatinya masih ada Naruto. Meskipun lelaki itu telah membuatnya kecewa. Ia juga berharap dapat menghilangkan rasa itu dari hatinya. Ia akan melakukan segala cara agar semua itu terjadi. Semua. Tapi tidak dengan menyakiti pria ini. Lelaki seperti Sasuke tidak sepantasnya menerima semua itu. Perasaanya terlalu lembut untuk Tenten gores dengan sebuah kejujuran yang mungkin akan terasa sangat menyakitkan baginya. Ia bisa saja menggunakan Sasuke untuk melupakan Naruto. Tapi ia tidak ingin menambah lagi daftar orang yang harus terluka karenanya. Cukup Hinata dan dirinya saja yang terluka. Ia tidak ingin siapun lagi merasa tersakiti akan perasaanya.
"Sasuke… Aku mengerti dan sangat memahami apa yang kau bicarakan. Tapi menghapus semuanya hanya dengan melihatmu, kurasa itu akan cukup sulit untuk kulakukan. Mengingat pria itu masih berkeliaran di sekitarku." Ulasan senyum tergambar di bibir Tenten.
"Aku tau kau akan mengatakan itu. Satu hal yang harus kau tau. Aku rela menjadi pelampiasanmu agar kau bisa melupakan semua kenangan memuakkan itu. Asalkan pada akhirnya kau dan aku bersatu." Sasuke membuka kedua matanya menatap Tenten yang juga menatapnya.
"Aku tidak mungkin menjadikanmu pelampiasan hanya untuk membuatku melupakan segala hal yang ingin kulupakan. Kau terlalu baik untuk kusakiti. Untuk saat ini, lebih baik kita menjalani saja apa yang sudah ada. Jika Tuhan memang mempertemukan kita untuk bersama, aku yakin, saat itu akan tiba."
Sasuke melepas tautan dahinya dan menatap mata Tenten. "Dan jika seandainya saat itu benar terjadi, aku akan menjadikanku milikku. Hanya untukku." Senyuman kembali terulas dari bibir lelaki itu.
"Aku akan sangat senang jika saat itu terjadi kau menjadikan diriku hanya untukmu." Tenten membalas senyuman pemuda di hadapannya.
.
.
.
.
.
.
Awan hitam kini sedang menyelimuti langit Konoha pagi ini. tepat seperti dugaan banyak orang. Jika awan hitam menyelimuti langit, maka dapat di pastikan, hujan akan segera turun. Dan benar saja. Baru beberapa menit setelah Tenten memarkirkan sepedanya, rintikan hujan yang mulai turun intensitasnya semakin bertambah. Beruntung tempat parkir sepeda memiliki atap yang dapat melindungi semua sepeda yang terparkir di sana dari terik matahari dan juga hujan. Dan tentu saja dapat melindungi siswi seperti Tenten dari hujan ketika ia hanya berdiri di sana dan berharap segera berhenti. Sebenarnya Tenten bisa saja menerabas hujan agar ia sampai di kelasnya. Tapi sepertinya untuk kali ini langit sedang tidak memihak padanya. Hujan yang turun cukup deras membuat siapapun akan basah kuyup hanya dengan berdiri selama beberapa detik di sana.
Brush…
Sebuah payung mengembang dari belakang Tenten. Gadis itu sontak terkejut lalu membalikkan badannya. Seorang lelaki berbadan tegap tengah berdiri di belakang Tenten dengan sebuah payung berwarna pink di tangan kanannya.
"Sasuke?" Bibir Tenten membeo.
"Selamat pagi Tenten." Sasuke tersenyum.
"Kau? Darimana kau mendapatkan benda itu?" Tenten sedikit tertawa melihat benda yang di pegang oleh Sasuke.
"Oh.. Ya, ini memang sedikit memalukan. Tapi ini bukan milikku. Aku mendapatkannya dari mereka." Sasuke mengalihkan pandangannya pada beberapa gadis yang bergerombol dalam satu payung untuk melindungi diri mereka dari guyuran hujan.
"Sasukee…." Salah satu gadis berteriak sembari melambaikan tangannya ke arah Sasuke. Sasuke hanya membalasnya dengan senyuman. Beberapa saat kemudian gerombolan gadis tersebut menampakkan wajah seolah mereka baru saja melihat malaikat.
"A..apa kau yakin mereka tidak keberatan" Tenten bertanya ragu.
"Aku yakin. Aku meminjamnya secara baik-baik. Dan kurasa, mereka tidak akan keberatan." Kembali senyuman terulas di bibir Sasuke.
"Kyaaaaa…." Gadis-gadis tersebut berteriak melihat senyuman keturunan Uchiha tersebut.
Jantung Tenten yang tadinya berada di tempatnya, serasa akan melompat keluar ketika gadis-gadis tersebut berteriak. Sontak Tenten mengalihkan pandangannya dari Sasuke ke arah gadis-gadis itu.
"Itulah alasan mengapa aku benci tersenyum di depan umum. Mereka membuat gendang telingaku pecah." Tangan kanan Sasuke ia lepaskan dari gagang payung dan segera menggosokkannya ke telingannya.
"Aku tau apa yang kau rasakan. Aku juga akan merasa takut jika aku menjadi dirimu." Tenten tertawa kecut sembari menatap gerombolan gadis-gadis yang tak kinjung meninggalkan parkiran.
oOo
Dua manusia berbeda gender telah sampai di depan kelasnya. Sebelum mereka ke kelas, sang pria harus mati-matian melepaskan diri dari para gadis yang mengerubutinya ketika ia hendak mengembalikan sebuah payung kepada salah satu siswi. Beruntung ada sosok wanita penyabar dan tahan akan cemoohan para gadis yang menyelamatkan pria itu darisana. Bisa dibayangkan kalau wanita itu tidak berada di sampingnya saat itu. Mungkin kini Sasuke tidak akan pernah sampai ke kelasnya. Melainkan terbaring lemah di tempat tidur UKS. Dan akibat dari kejadian tersebut, bukan hanya penampilan Sasuke yang terlihat kacau. Penampian Tenten pun juga ikut menjadi korban. Baju seragamnya yang tadinya licin menjadi acak-acakan dan sedikit kusut. Rambutnya yang tadinya ia kuncir setinggi mungkin, kini menjadi geraian rambut cokelat yang panjanganya mencapai punggung di karenakan kuncirannya yang hilang entah kemana.
"Itulah susahnya menjadi pria tampan." Seseorang berbicara pada Sasuke dan Tenten.
"Kiba, Lee?" Dahi Tenten berkerut saat mendapati dua manusia tersebut berdiri di hadapan mereka.
"Hm, jika aku bisa memilih, aku lebih memilih menjadi pria tampan yang digandrungi banyak gadis seperti Sasuke. Daripada harus menjadi pria yang memiliki wajah di bawah standar." Aku Lee.
"Tapi apa kau mau menjadi seperti itu?" Kiba menunjuk Sasuke dari atas kebawah.
"Tidak juga." Lee menampakkan mimik wajah yang sangat tidak sedap di pandang mata.
"Pagi Lee. Pagi Kiba. Dan selamat pagi juga untukmu… Uchiha." Kata Naruto yang tau-tau sudah berada di belakang Tenten.
"Hanya kami bertiga? Bagaimana dengan gadis di sampingmu. Kau tidak mengucapkan selamat pagi juga padanya?" Lee bertanya polos.
"Tentu dia akan mendapatkannya." Naruto mendekatkan tubuhnya pada Tenten. Gadis tersebut sedikit menarik dirinya kebelakang hingga punggungnya mengenai Sasuke. "Tapi tidak sekarang… Khusus untuknya, aku akan memberikan ucapan selamat pagi dengan cara yang berbeda." Naruto menyeringai licik.
Gadis itu tak memberikan tanggapan apapun. Justru ia menampakkan wajah dinginnya di depan Naruto yang hingga saat ini tak melepas pandangan darinya. Tak ingin berlama-lama berada di sana, Tenten segera mendorong tubuh Naruto kebelakang kemudian melangkahkan kakinya masuk ke kelas.
Sasuke mendekatkan dirinya pada Naruto. Pria tersebut melemparkan death glearnya kemudian berbisik, "Aku bersumpah. Jika saatnya tiba nanti... aku akan membunuhmu." Kata Sasuke dingin. Lelaki itu kemudian menjauhkan dirinya dan meninggalkan Naruto, Kiba, dan Lee.
"Apa yang baru saja dia katakan?" Kiba bertanya.
"Bukan hal yang penting." Naruto menyeringai.
"Selamat pagi." Suara wanita yang terdengar halus masuk begitu saja ke telingan tiga pria itu. Sontak ketiganya mengalihkan pandangan ke sumber suara.
"Hai Sakura. Selamat pagi juga." Kiba melambaikan tangannya.
"Ada apa dengamu? Tidak biasanya kau seperti ini?" Tanya Lee.
"Aku hanya ingin merubah sedikit kepribadianku." Kata Sakura. "Bagaimana menurutmu… Naruto?" Sakura tersenyum dan beralih menatap Naruto.
"Yah, sepertinya kau memang harus melakukannya." Naruto tersenyum sesaat dan berlalu pergi.
'Seburuk itukah aku? Sampai-sampai lelaki yang mencintaiku mengatakan hal seperti itu?' Batin Sakura.
"Tidak biasanya dia seperti itu jika berhadapan dengan Sakura. Ada apa dengannya?" Lee menggaruk pelan pelipisnya.
"Bukan hanya mood wanita yang berubah-rubah. Terkadang pria juga mengalami hal seperti itu." Kata Kiba.
oOo
Jam pelajaran telah usai. Kini saatnya bagi para atlet karate seperti Tenten dan Sasuke untuk berlatih seperti biasanya. Sebelum keluar dari kelasnya, Sasuke terlebih dahulu menghampiri Tenten yang masih sibuk mengemasi barang-barangnya.
"Mau pergi bersama?" Tawar Sasuke.
Tenten mendongakkan kepala kemudian tersenyum dan menjawab, "Kau duluan saja. Ada sesuatu yang harus aku lakukan dahulu."
"Hm, baiklah. Jangan sampai kau absen hari ini. Aku menunggumu." Sasuke menepuk pelan bahu kiri Tenten dan berlalu pergi.
"Hei Tenten, apa kau melihat Naruto? Sejak bel berbunyi tadi, dia keluar kelas dan hingga sekarang belum kembali. Aku heran, kenapa akhir-akhir ini dia sering menghilang? Aku jadi curiga padanya." Lee menggosok pelan dagunya menggunakan telunjukanya.
"Aku tidak tau dan aku tidak mau tau!" Balas Tenten dingin dan beranjak dari duduknya.
Lee menahan tangan gadis itu agar tidak pergi. Sesaat kemudian, Tenten kembali membalikkan tubuhnya dan menatap Lee malas.
"Kau tidak tau? Bukankah kau teman sebangkunya?"
"Lee, meskipun aku teman sebangkunya, bukan berarti aku mengetahui segala hal tentangnya."
"Ada apa dengan kalian berdua? Sebelumnya kalian berdua sangat akur. Bahkan terlampau akur. Kenapa sekarang…."
"Jika kau menahanku hanya untuk bertanya tentangnya, lebih baik kau cari saja orang lain yang lebih tau tentangnya." Tenten menghentakkan tangannya ke udara untuk melepas cengkraman Lee kemudian pergi meninggalkan pria beralis tebal itu dengan tanda tanya besar di kepalanya.
'Yang kutau, hanya kau yang dekat dengan Naruto. Maka dari itu aku bertanya padamu.' Batin Lee.
oOo
Setelah hampir mengelilingi setiap sudut sekolah ini, akhirnya Tenten menemukan orang yang ia cari. Dan orang tersebut ternyata sedang berada di depan ruang UKS. Sedikit pertanyaan muncul di kepala Tenten. Kenapa dia ada di sana? Siapa yang sakit? Tak ingin rasa penasarannya berlalu terlalu jauh, Tenten memutuskan untuk mempercepat langkahnya menghampiri orang tersebut guna mencari tau sekaligus membicarakan sesuatu padanya.
Hanya tinggal beberapa meter dia sampai, tanpa di sangka seseorang membekap mulutnya dari belakang dan menariknya masuk kedalam sebuah ruangan. Berbekal kemampuan Karate yang di milikinya, Tenten segara menyikut perut orang tersebut agar ia dapat melepaskan diri. Namun ia sedikit meleset ketika sikunya tidak mengenai perut di belakangnya. Melainkan tas punggungnya yang letakknya sedikit miring sehingga otomatis melindungi perut orang di belakangnya dari serangannya. Tak kehabisan akal, ia kembali menginjak kaki kanannya. Namun lagi-lagi ia gagal. Ia hanya terlambat sepersekian detik ketika ia menginjak kaki orang tersebut, bersamaan dengan kaki orang yang membungkanmnya melangkah kebelakang. Otomatis yang ia injak hanyalah lantai licin yang tidak berdosa. Kali ini ia mencoba melepaskan diri dengan menggigit tangan yang membekap mulutnya. Dan… Finally, ia berhasil melakukannya. Tangan orang tersebut terlepas dari mulutnya kemudian gadis itu melangkahkan kakinya selebar mungkin menjauhi orang itu. Sial bagi Tenten. Sebelum ia membalikkan tubuhnya, pria itu sudah terlebih dahulu menarik lengan kanannya dan menghempaskan tubuh mungil Tenten ke dinding.
Brukk…
Sedikit nyeri Tenten rasakan ketika punggungnya mengenai dinding di belakangnya. Beberapa detik setelah ia membuka kedua matanya, dirinya baru menyadari siapa orang yang ada di hadapannya.
Rasa kesal yang awalnya sudah sedikit musnah, kini kembali lagi setelah dua bola matanya melihat sosok Naruto mencengkeram kedua lengannya dan berdiri di hadapannya. Dua mata berbeda warna saling memandang manik mata satu sama lain. Mata berwarna hazel memberikan tatapan dingin pada mata berwarna biru yang ada di hadapannya. Sedangkan mata berwarna biru tersebut, menampakkan tatapan yang bahkan tidak dapat Tenten pahami apa artinya.
Seulas seringai muncul di bibir Naruto. Membuat Tenten merasa makin muak pada lelaki tersebut.
"Apa kau sudah memutuskan untuk menjadikan Uchiha itu sebagai tempat pelarianmu dariku?" Naruto menaikkan kedua alisnya.
Tenten diam. Gadis itu sama sekali tidak menampakkan wajah akan membalas perkataan lelaki di hadapannya. Bahkan kini, ia malah memalingkan wajahnya ke arah lain. Menghindari agar emosinya tidak semakin memuncak dengan melihat wajah Naruto.
"Apa yang dia miliki dan tidak kumilki?" Tangan kanan Naruto menyentuh pipi Tenten dan mengarahkan pandangan gadis itu padanya. Tepat seperti dugaanya. Gadis itu kembali mengacuhkannya dan memalingkan wajahnya ke arah lain. Naruto menundukkan kepalanya dan tertawa licik.
"Bungsu Uchiha itu tidak sebaik yang kau kira, jika saja kau tau yang sebenarnya. Dia tidak lebih baik dariku." Kata Naruto.
Untuk kali ini dan untuk pertama kalinya semenjak dua manusia itu berselisih, Tenten memalingkan wajahnya dan menatap Naruto. Tatapan jijik Tenten lemparkan pada pria di depannya.
"Ini sungguh sangat menggelikan. Haruskah aku berbuat seperti ini dahulu agar kau mau melihatku?" Tawa remeh terdengar dari bibir Naruto.
"Maaf sebelumnya.. Bukannya mau mengecilkan hatimu. Tapi kata-katamu tadi sangat tidak berarti. Tentu saja Sasuke jauh lebih baik darimu. Meskipun dia sedikit dingin, tapi di otaknya tidak pernah ada pikiran licik seperti yang ada di sana." Tenten melirik sekilas kepala Naruto.
Kembali Naruto tertawa remeh. Ia menaikkan kedua alisnya sekilas kemudian menurunkannya lagi. Membuat Tenten harus berpikir lagi jika ia ingin mengetahui apa arti dari mimik wajah tersebut.
"Kau hanya tau sedikit tentangnya. Tidak bisa kubayangkan jika nanti kau tau bagaimana dia sebenarnya. Apakah kau akan memperlakukannya seburuk kau memperlakukanku?"
"Terserah apa yang kau katakan tentang dia. Tapi satu yang harus kau tau. Kata-katamu semakin membuatku muak padamu!" Kata Tenten dingin.
"Untuk saat ini kau boleh membenciku, kau boleh muak padaku, kau juga boleh menjadikan Uchiha itu sebagai pelarianmu. Tapi jangan harap dengan adanya semua itu, aku menyerah padamu. Aku tau kau meski kita belum lama saling mengenal, kau dan aku saling mengerti dan memahami satu sama lain. Bahkan kita memiliki rasa yang sama. Yah meskipun bisa kulihat masih ada nama lain di sana, tapi bagiku sangat mudah untuk melenyapkannya. Tuhan mempertemukan kita bukan hanya untuk sekedar bertatap muka. Dia juga telah mentakdirkan aku dan kau untuk bersatu." Naruto sedikit melemah tanpa melepas pandangannya dari Tenten.
Naruto mengalihkan pandangannya pada kedua tangan Tenten yang masih bebas di tempatnya. Ia lantas mengenggam tangan kanan gadis itu erat. Meskipun Tenten sempat memberontak, namun gadis itu akhirnya pasrah setelah melihat tatapan lembut Naruto pada tangannya.
"Aku satu tangan, dan kau memiliki yang lainnya. Satukan mereka bersama-sama dan kita saling memiliki. Meskipun kini kau membenciku, bukan tidak mungkin jika pada saatnya nanti, Tuhan menjadikanmu sebagai takdirku. Karena aku sangat yakin, rencana Tuhan selalu lebih indah dari keinginan kita." Naruto menatap nanar tangan Tenten sembari mengusap lembut tangan mungil di genggamannya.
Tenten sedikit melunak. Mata yang tadinya menatap tajam lelaki di hadapannya, kini berganti menjadi tatapan iba. Tubuh Tenten yang sejak tadi menegang karena menahan emosi, kini juga perlahan mulai sedikit melemah. Ia juga membiarkan Naruto ketika lelaki itu menaikkan tangannya ke atas dan menciumnya lembut.
"Aku tidak pernah berpikir mampu mencintai seseorang seperti aku mencintaimu. Jika kau memberiku satu kesempatan, aku akan memperbaiki semuanya. Namun jika tidak, jangan menyalahkanku jika akan lebih banyak pihak yang tersakiti. Ingatlah itu." Untuk kesekian kalinya, kedua mata Naruto kembali menatap Tenten. Sesaat kemudian, Naruto menarik dirinya kebelakang dan melangkah keluar ruangan menjauhi Tenten.
"Terimakasih. Karena kau, kini aku tau, untuk apa Tuhan menciptakan aku."
Senyuman yang muncul di bibir Naruto sangat jelas di baca oleh mata gadis itu. Senyuman yang sama ketika ia berhasil menumbuhkan kembali rasa percaya diri Sasuke saat lelaki itu di hadapakan dengan seorang Gaara.
"Dan satu lagi… Selamat pagi.. Panda."
oOo
Pintu ruangan tempat biasa para siswa berlatih karate, mengeluarkan bunyi decitan. Tak lama setelahnya, semua pasang mata yang ada di dalamnya melihat seorang gadis yang berjalan gontai memasuki ruangan tersebut. Gadis itu terlihat tidak bersemangat dilihat dari tatapan matanya yang sedari tadi mengarah ke lantai. Ia duduk di salah satu sudut ruangan dan melemparkan tasnya begitu saja ke sampingnya. Setelahnya, ia meyandarkan punggungya pada dinding dan meremas gemas rambutnya.
Seorang pria dewasa yang bersandar pada kusen pintu ruang ganti sembari melipat kedua tangannya di depan dada, hanya menatap gadis itu sembari memutar otaknya berharap ia menemukan jawaban atas pertanyaan yang muncul dengan sendirinya setelah melihat muridnya yang terlihat murung. Beberapa saat kemudian, seseorang menepuk punggungnya dan membuat dirinya mau tidak mau harus berbalik badan.
"Kau. Ada apa?" Tanya Kakashi kembali membalikkan tubuhnya ke posisi semula.
"Apa dia sudah datang?" Tanya Sasuke.
Kakashi hanya membalas pertanyaan Sasuke dengan mengalihkan matanya pada Tenten yang masih setia pada posisinya semula. Kerutan muncul di dahi Sasuke ketika melihat keadaan gadis itu yang bisa dikatakan sedikit kacau. Ekspresi wajah Sasuke perlahan berubah. Ada apa lagi dengannya? Bukankah kemarin dia mengatakan sudah lebih baik. Apa dia bertemu dengan Naruto lagi?
"Jika aku jadi kau, sudah pasti aku akan mencari tau apa yang terjadi." Mata Kakashi melirik Sasuke sekilas.
Sasuke yang mendengar omelan kecil Kakashi, segera menghampiri Tenten. Perlahan ia melangkah berusaha meminimalisir suara langkah kakinya supaya gadis itu tidak mendengarnya. Khawatir jika seandainya Tenten mengetahui kedatangannya, gadis itu lebih memilih menghindar. Dan jika saja itu terjadi, mungkin Sasuke harus memutar otaknya kembali untuk mencari cara agar Tenten mau mengatakan semuanya.
Tenten masih belum menyadari keberadaan Sasuke yang sudah berdiri tepat di depannya. Namun keadaan itu tak lantas membuat Sasuke berdiam diri dan tidak peduli. Pria itu lantas mengulurkan tangan kanannya tepat di hadapan Tenten. Terkejut. Sudah pasti Tenten mengalaminya ketika sebuah tangan tiba-tiba muncul tepat di hadapannya. Namun sesaat kemudian, ia mendongakkan kepalanya lemah.
"Aku tidak tau apa yang terjadi padamu. Dan jika kau mau, aku bisa mencarikanmu pelampiasan untuk meluapkan emosimu." Kata Sasuke.
"Terimakasih Sasuke. Tapi aku baik-baik saja. Kau tidak perlu mengkhawatirkanku." Tenten menyambut uluran tangan Sasuke dan lantas berdiri.
"Kau yakin?" Tanya Sasuke singkat.
"Hm.. Aku mau ganti pakaian dulu." Kata Tenten lemah dan berjalan perlahan meninggalkan Sasuke menuju ruang ganti.
oOo
Berkali-kali Tenten menghujamkan kakinya pada tiang bambu yang telah di lapisi rotan yang tingginya hampir mencapai 2 meter. Ia tidak mempedulikan punggung kakinya yang sudah merah, titik-titik keringat yang meleleh di dahinya, degup jantung yang berpacu tak sebagaimana mestinya di karenakan tubuhnya yang mulai merasakan lelah. Ia terus saja melakukan hal yang kurang lebih dua jam sejak latihan selesai.
Jam menunjukkan pukul 5 sore. Dua pria yang duduk di tepi lapangan masih setia melihat Tenten menyakiti dirinya sendiri. Mereka berdua tau, jika kelakuan Tenten tersebut tidak ada gunanya dan menyakiti dirinya sendiri. Tapi mereka sengaja membiarkan hal itu terjadi. Karena menurut mereka, paling tidak gadis itu melampiaskan emosinya dengan cara yang benar dan tanpa menyakiti orang lain.
"Sensei, menurutmu… berapa lama hal ini akan berlangsung?" Tanya Sasuke.
"Aku yakin, sebentar lagi dia akan berhenti. Kau tenang saja." Balas Kakashi enteng.
"Tapi bagaimana kalau dia masih terus melakukan hal itu? Bisa-bisa kau kehilangan murid kesayanganmu karena kakinya cedera."
"Bukankah gadis itu pemegang sabuk hitam? Aku yakin, dia bisa memilih, bagian tubuh mana yang dapat dan tidak dapat bersentuhan dengan benda keras. Buktinya sampai sekarang dia masih belum menyerah. Itu artinya dia baik-baik saja." Kata Kakashi lagi sembari meneguk sebagian minumannya.
"Dia harus berhenti!" Kata Sasuke beranjak duduk dan berlari kecil menghampiri Tenten.
"Sangat mengharukan." Kata Kakashi tertawa kecil.
Prak…
Satu tendangan kaki Sasuke berhasil membuat bambu di hadapan Tenten terlempar cukup jauh dari tempatnya. Sontak dua bola mata Tenten melebar karena terkejut. Sasuke menatap tajam batang bambu yang baru saja ia tendang. Sedangkan Tenten masih memaku di tempatnya.
"Cukup! Sampai batas mana kau akan menyakiti dirimu?!" Tanya Sasuke dingin.
"Sa..Sasuke, a..apa yang baru saja ka..kau lakukan?" Tanya Tenten dengan keadaan yang masih sama.
"Apa yang kulakukan? Harusnya aku yang bertanya. Apa yang kau lakukan?" Sasuke melipat kedua tangannya di depan dada.
"Yang kulakukan hanya…"
Brukk….
Tubuh Tenten terhempas ke lantai begitu saja ketika ia hendak membalas pertanyaan Sasuke. Tak berapa lama kemudian, rasa nyeri yang amat sangat Tenten rasakan mulai menjalari setiap sudut kakinya.
"A..apa yang terjadi? Kenapa kakiku jadi seperti ini?" Kata Tenten lirih sembari melihat kedua kakinya yang lebam.
"Jangan bilang, kau tidak menyadari apa yang baru saja kau lakukan." Sasuke menatap Tenten.
"Aku sadar. Tapi tadi, aku sama sekali tidak merasakan sakit seperti ini." Tenten merintih kecil ketika tangannya menyentuh bagian yang terdapat lebam paling besar.
"Itu karena pikiranmu yang mengendalikanmu, bukan dirimu yang mengendalikan pikiranmu. Pikiranmu hanyalah suatu hal yang bahkan tidak bisa di lihat wujudnya. Sedangkan kau? Apapun yang kau pikirkan, tidak selamanya baik untuk kau lakukan. Lihatlah sekarang.. Apa yang terjadi padamu? Terkadang, jika sedang depresi, seseorang tidak jarang bertindak di luar logika manusia. Jadi jika kau sedang mengalaminya, lebih baik kau bersikap lebih tenang." Kata Sasuke.
"Depresi? Siapa bilang aku depresi? Aku baik-baik saja. Aku hanya sedikit kesal." Sergah Tenten.
"Sekesal apa dirimu sampai membuat kedua kakimu menderita seperti itu?" Sasuke melirik kedua kaki Tenten yang lebam dan sedikit membengkak.
"Entahlah… aku juga tidak tau." Teriak gadis itu frustasi sembari membaringkan tubuhnya kebelakang. Dadanya naik turun berusaha menghirup oksigen sebanyak yang ia bisa ke dalam paru-parunya yang terasa kosong akan udara. Lelehan keringat yang tadinya berada di pelipisnya dan bagian tubuh lainnya, juga kini perlahan mulai mentes ke lantai.
Sasuke menyentuh tangan kanan Tenten dan menarik perlahan tubuh itu ke posisi duduk. Gadis itu sempat bingung dengan perlakuan Sasuke padanya. Namun beberapa saat setelah ia duduk, pria itu memberikan sebotol air padanya.
Perlahan Tenten menggapai minuman dari tangan Sasuke dan segera meneguknya. Sedikit rasa haru di rasakan oleh Tenten. Ia sangat terharu pada Sasuke yang selama ini mengerti akan dirinya, keadaanya, dan perasaanya. Kenapa harus dia? Kenapa bukan lelaki itu saja yang bersikap seperti ini? Meskipun kini Tenten sangat membenci lelaki itu, namun jauh dalam lubuk hatinya, ia ingin pria itu yang melakukan ini semua. Selalu ada di sampingnya ketika ia sedang membutuhkan seseorang untuk bersandar. Kata cinta saja baginya tidak cukup untuk di jadikan suatu pembuktian.
"Aaw…." Tenten merintih ketika tangan Sasuke menyentuh salah satu lebam Tenten.
"Apa kau bisa berjalan?" Tanya Sasuke.
"Tentu saja aku bisa." Sergah Tenten dan beranjak berdiri. Perlahan ia melangkahkan kakinya. Meskipun harus merasakan sakit yang teramat sangat.
Hanya beberapa langkah berjalan, kedua kakinya tidak dapat lagi menopang berat tubuhnya. Nyeri yang ia rasakan sudah tidak bisa di ajak kompromi. Kedua matanya terpejam menahan sakit pada kakinya dan akan menahan rasa sakit lagi ketika nanti tubuhnya akan terhempas ke lantai. Dan…
Brukk…
Tidak ada rasa sakit yang Tenten rasakan kecuali di kedua kakinya. Ia juga tidak merasakan dinginnya lantai yang seharusnya ia rasakan. Justru sekarang dia merasa lebih nyaman dan hangat. Jatuh seperti apa dia sebenarnya?
"Jangan terlalu memaksakan diri, jika sebenarnya kau tidak mampu melakukannya." Kata seseorang di bawah Tenten.
Dua bola mata berwarna hazel membelalak ketika ia mendapati dirinya jatuh bebas di atas punggung Sasuke yang kini duduk di bawahnya. Kedua tangan pria itu, di letakkan ke belakang, menahan kedua paha Tenten agar tidak merosot. Sesaat kemudian, Sasuke berdiri dan berjalan perlahan sembari menaikkan Tenten ke posisi yang lebih tinggi di punggungnya.
"Sa..Sasuke.." Bibir Tenten tidak dapat mengeluarkan sepatah katapun. Bukan karena ia terkejut, tapi karena ia tidak tau harus bicara apa pada pria yang membopongnya ini. Karena menurutnya, semakin Sasuke bersikap baik padanya, semakin ia merasa jika dirinya adalah wanita paling jahat di muka bumi karena tidak bisa membalas perasaan Sasuke. Lelaki yang selama ini begitu baik dan perhatian padanya.
"Jangan memikirkan hal yang tidak perlu. Lebih baik, kau pikirkan saja lukamu itu." Kata Sasuke tertawa renyah.
"A..apa? Ka..kau bisa membaca pikiranku?" Kata Tenten sedikit terkejut.
"Tidak. Aku hanya bercanda.. lupakan saja." Sergah Sasuke tertawa.
"Dasar." Tenten menggerutu kecil di balik tubuh Sasuke.
Tenten menyapukan pengelihatannya ke seluruh ruangan. Dahinya berkerut sembari menaikkan sedikit dagunya ke atas. Beberapa saat setelahnya, gadis itu kembali menoleh ke arah Sasuke dan bertanya pada pria itu. "Kemana yang lain?"
"Tentu saja mereka sudah pulang. Mereka takut melihat sikapmu yang seperti tadi." Jawab Sasuke enteng.
"Berapa lama aku melakukan itu?"
"Yah, hampir 2 jam." Balas Sasuke singkat.
"Selama itukah?" Kata Tenten tidak percaya.
Sasuke sudah sampai di salah satu sudut ruangan. Lelaki itu lantas membungkukkan tubuhnya berusaha mengambil tas miliknya dan Tenten yang tergeletak di bawah. Tak jauh dari tempat Tenten dan Sasuke berada, seorang pria berambut silver yang masih setia pada tempat dan posisinya, diam-diam memperhatikan dua muridnya tersebut. Melihat Sasuke yang kesusahan mengambil tas-tas dibawahnya, Kakashi memutuskan untuk menghampiri mereka berdua.
"Kenapa kau tidak menurunkan Tenten dulu." Kakashi memungut dua tas di bawahnya dan memberikannya pada Sasuke.
"Kakinya tidak bisa di gunakan untuk berdiri." Jawab Sasuke apa adanya.
"Kalau hanya berdiri aku sanggup." Sergah Tenten cepat.
"Jangan cerewet!" Sasuke berbisik perlahan.
"Kau mau membawanya kemana?" Mata Kakashi mengarah pada Tenten yang masih berada di punggung Sasuke.
"UKS. Paling tidak, aku bisa menemukan sesuatu di sana yang bisa sedikit menyembuhkan lukanya."
"Sasuke, aku baik-baik saja. Kau tidak perlu membawaku ke UKS." Gadis itu menolak.
"Keadaanmu sekarang ini sangat tidak tepat untuk menolakku." Sasuke menaikkan sedikit suaranya.
"Hm, kau benar juga. Sesampainya di sana, segera kau kompres kakinya dengan batu es agar lebamnya tidak membesar. Setelah itu, pijat pelan di bagian tepinya, agar nyerinya sedikit berkurang." Kata Kakashi melihat sekilas kaki Tenten yang tergantung bebas.
"Baiklah sensei." Sasuke menundukkan kepalanya sesaat dan perlahan berjalan menjauhi Kakashi.
oOo
Kedua kaki Sasuke masih melangkah perlahan melewati koridor sekolah, menuju ruang ruang UKS dengan Tenten masih berada di punggungnya. Selama perjalanan, tak jarang mereka berdua terlibat adu mulut kecil di karenakan Tenten yang ngotot minta di turunkan. Gadis itu berkata, kalau dia sudah baikan, dan bisa jalan sendiri. Namun Sasuke berdalih dengan alasan, kedua kaki Tenten akan membengkak jika gadis itu memaksanya untuk berjalan.
Bagi sebagian orang yang, mungkin keadaan Tenten dan Sasuke saat ini bisa dibilang sangatlah romantis. Betapa tidak? Seorang gadis berada di gendongan seorang pria, berjalan perlahan melewati koridor sekolah yang sepi, di tambah dengan sinar senja yang menerangi langkah mereka. Tak lupa juga, canda tawa, adu mulut, dan saling ejek, juga mereka lakukan. Entah mereka berdua sadar atau tidak, hal semacam itu akan terasa sangat indah bagi dua manusia yang dimabuk asamara. Tapi tentu saja hal itu tidak berlaku bagi Tenten. Sangat menyenangkan bagi Sasuke, tapi terasa biasa untuk Tenten. Yah, apa boleh buat, sekali lagi hanya hatilah yang menjadi alasan utama mengapa hal yang sedemikian romantis, terasa biasa bagi Tenten.
Dua atlet Karate tersebut sudah sampai di depan pintu ruangan UKS. Belum sempat tangan Sasuke menyentuh gagang pintu, pintu tersebut sudah terbuka terlebih dahulu. Tak berapa lama, seorang gadis dan seorang pria berjalan perlahan keluar dari ruangan tersebut. Dengan salah satu tangan si pria yang di tautkan pada bahu sang wanitanya.
Sasuke dan Tenten sontak terkejut melihat dua orang di hadapannya. Terlebih Tenten. Sebenarnya ia bermaksud untuk menghampiri gadis di hadapannya untuk berbicara empat mata. Tapi keadaan seperti ini… sangat tidak mungkin untuk di lakukannya. Melihat seorang lelaki yang juga berada di tempat yang sama. Juga kata-kata basa-basi yang sengaja ia pikirkan jika bertemu dengan wanita itu, tiba-tiba lenyap entah kemana. Lidahnya kelu, seolah ada beban berat yang menahan dirinya untuk tidak membuka mulutnya dan berbicara.
"Hai Hinata… Apa yang terjadi pada Neji?" Sasuke melihat Neji sekilas dan beralih pada Hinata.
"Eum, dia sedang kurang sehat sejak tadi. Maka dari itu aku membawanya kemari untuk istirahat. Dan sekarang, kami berniat untuk pulang." Jawab Hinata.
"Ha..hai Hinata.." Tenten menyapa gadis itu ragu.
"Hai juga." Balas gadis indigo itu singkat.
"Ha..hai Neji. Bagaimana keadaanmu sekarang?" Tanya Tenten beralih menatap Neji.
"Sudah merasa lebih baik… Apa yang tejadi padamu?" Neji balik bertanya.
"Yah, hanya insiden kecil seorang atlet karate. Bukan hal yang serius." Jawab Tenten remeh.
"Kakimu…" Neji menundukkan sedikit kepalanya melihat memar di kaki Tenten.
Hinata mengikuti arah pandang Neji. Sungguh, jika saja ia dan Tenten masih berhubungan baik, mungkin saat itu juga ia akan memarahi Tenten karena bertindak bodoh hingga membuat kedua kakinya lebam dan bengkak seperti itu. Tapi gadis itu berusaha menahan rasa khawatirnya karena hingga saat ini ia masih merasa di hianati oleh sahabatnya sendiri. Jika ada seseorang yang sangat mengerti seperti apa Hinata Hyuuga, sudah pasti orang itu akan mengetahui jika saat ini, hati dan pikirannya tengah bentrok beradu argumen.
"Ma..maaf. A..aku harus pergi." Kata Hinata. Gadis itu memapah Neji perlahan menjauhi Tenten dan Sasuke yang masih berada di depan pintu.
"Sekarang.. giliranmu." Sasuke membuka pintu UKS lebih lebar dan masuk kedalamnya.
Tenten mengeratkan kedua tangannya pada tubuh Sasuke sembari memikirkan gadis yang baru saja ada di depannya. Ia menenggelamkan kepalanya diantara bahu dan leher Sasuke sembari mengulas senyum di baliknya.
'Kami-sama, ternyata dia masih mengkhawatirkanku.' Batin Tenten terharu.
'Kami-sama, aku ingin waktu berhenti sekarang juga.' Sasuke tersenyum samar merasakan hangatnya pelukan gadis itu di balik tubuhnya.
oOo
Seorang lelaki berambut pirang yang baru saja memarkirkan kendarannya di parkiran, melangkah turun dari mobilnya. Sebenarnya Naruto sudah pulang sejak beberapa menit yang lalu. Tepatnya setelah ia menemui paksa gadis Pandanya. Namun di karenakan suatu urusan yang hampir saja ia lupakan, terpaksa membuatnya harus kembali lagi kesekolah untuk menemui seseorang.
Naruto berlari hendak menuju salah satu ruangan untuk menemui seseorang. Ia berlari kecil, berharap orang tersebut masih berada di sana. Beberapa saat kemudian, ia merasa lega. Karena orang yang ia cari masih berada di sana. Tak banyak bicara, Naruto segera membuka kenop pintu dan masuk ke dalam ruangan tersebut.
Sungguh di sayangkan. Ketika salah satu kakinya hampir menapaki ruangan itu, seseorang menarik dirinya kebelakang hingga membuatnya keluar lagi. Tak berapa lama, matanya menangkap sosok gadis berdiri di belakangnya sembari mencengkeram kedua pergelangan tanganya.
"Bisa kita bicara sebentar?" Tanyanya menatap Naruto.
"Ya. Aku Bisa. Tapi aku sedang ada urusan." Balas Naruto.
"Aku hanya membutukan waktumu sebentar. Ikutlah denganku. Sekarang!" Gadis itu menarik Naruto menjauh dari ruang Karate.
"He..hei tunggu. Sakura…"
.
Gadis yang sedari tadi menggengam tangan Naruto, kini membawa pria Uzumaki itu naik ke atap sekolah. Naruto melepas pegangan tangannya dari Sakura dan menarik dirinya sedikit menjauh. Memberi jarak antara dirinya dengan Sakura.
Angin sore yang sejak tadi berhembus cukup kencang, makin terasa jika seseorang berdiri di atas atap sekolah berlantai 5 seperti yang dilakukan Sakura dan Naruto. Helain rambut Sakura dan Naruto seolah akan terbang, ketika hembusan angin menerpanya.
Berkali-kali, gadis itu menyibakkan rambut pinknya kebelakang menggunakan tangan kanannya. Berusaha menghilangkan kegugupan yang sedikit demi sedikit mulai menjalar. Sedangkan tangan kirinya, sedang sibuk meremas rok seragamnya.
"Apa yang ingin kau bicarakan Sakura?" Naruto bertanya dengan raut wajah sedikit dingin.
"Ehm… Na.. Naruto.. Dulu ka..kau bilang, kau menyukaiku bukan?" Sakura memulai pembicaraan.
Naruto mengangguk kecil tanpa melepas pandangannya dari Sakura.
"Ji.. Jika kau berkenan…."
Kalimat Sakura terputus entah kenapa. Lidahnya terasa kaku untuk melanjutkan kata-katanya yang baru saja ia ucapkan. Jika mungkin di lakukan, Sakura akan lebih memilih melompat terjun dari gedung ini saja. Daripada harus melanjutkan kata-katanya yang bisa saja menjatuhkan harga dirinya di depan lelaki ini.
'Ayolah Sakura. Kau bisa! Ingat kata-kata Sasuke. Bersikap lebih terbuka… dan kau akan menemukan kebahagiaanmu. Tunjukkan pada Sasuke, kalau kau bukanlah pengemis cintanya lagi. Lupakan Sasuke. Dia tidak menyukaimu!' Batin Sakura berteriak.
"Oooh, aku bisa gila." Teriak Sakura spontan.
"Gila? Apa yang kau bicarakan?" Naruto menatap gadis itu bingung.
"Ti.. ada. Lupakan saja. Aku hanya ingin bilang…." Sakura kembali memutus kalimatnya. Ia menarik nafasnya dalam-dalam, berharap ia mendapatkan sedikit kekuatan untuk melanjutkannya. Setelahnya, Sakura menghembuskan nafasnya seketika dan kembali membuka mulutnya, "Jika kau berkenan… aku ingin kau membantuku melupakan Sasuke dan bantu aku untuk mencintaimu!" Kata-kata Sakura terdengar sangat cepat keluar dari bibirnya.
Naruto cengo. Ia tidak tau lagi harus berkata apa. Entah pendengarannya yang tidak berfungsi, atau gadis ini yang mulai gila. Yang pasti, tubuh Naruto kaku di tempat mendengar permintaan Sakura yang sudah jelas sangat sulit dan tidak mungkin ia lakukan. Kenapa baru sekarang? Kenapa baru saat ini? Saat Naruto sudah melupakannya dirinya dan sudah mencintai gadis lain. Permintaan yang sangat tidak mungkin di lakukan oleh Naruto. Mengingat akan cintanya pada Tenten. Dan juga sikap Sakura pada gadis yang ia cintai, membuat rasa cintanya perlahan pudar pada gadis bermata emerald ini. Jika saja ia mengatakan hal ini dari dulu, sudah jelas Naruto akan meng-iya-kannya. Tapi kini jelas berbeda. Semuanya tidak lagi seperti dahulu. Rasa cintanya pada Sakura perlahan lenyap seiring ia mengetahui akan sifat gadis ini yang sebenarnya. Mendengar cerita dari mulut seseorang akan perlakuan gadis ini pada Tenten, membuatnya semakin yakin untuk melepaskan harapannya pada Sakura dan lebih memilih Tenten.
Meskipun begitu, Naruto sama sekali tidak ada niat untuk membenci gadis ini. Meski hatinya sangat sakit ketika ia tau Sakura seringkali melukai Tenten. Semua orang berhak berubah. Termasuk Sakura. Tapi tidak untuk hatinya. Naruto tidak akan lagi merubah pendiriannya untuk mencintai Tenten. Karena karena gadis itulah, Naruto berubah menjadi pria yang jauh lebih baik dari Naruto yang sebelumnya. Tentu saja Naruto sangat senang akan hal itu. Apalagi setelah ia menyadari, bahwa hanya seorang Tentenlah, yang bisa membuatnya seperti ini.
"Maaf Sakura. Tapi aku sudah menganggap dirimu sebagai salah satu masa lalu yang cukup untuk di kenang dan tidak akan pernah aku wujudkan. Semuanya telah berubah. Aku yang sekarang, jauh berbeda dengan diriku yang dulu. Begitu juga perasaan ini padamu." Naruto melangkah mendekati Sakura, menyentuh bahu gadis itu lembut.
Sakura menundukkan kepalanya agar Naruto tidak melihat apa yang terjadi padanya. "Aku tau kau akan mengatakan itu. Tapi… tidak bisakah kau memberiku satu kesempatan?" Gadis itu terisak.
"Sejak dulu yang ku inginkan hanyalah kau. Aku berharap, waktu yang mengubah perasaan dan hatimu agar kau bisa melihatku. Tapi ternyata, waktu mengubah semua yang ada pada diriku. Semuanya. Termasuk kau, Sakura…. Sebenarnya, aku sudah cukup lama, berpikir untuk melupakanmu dan berpaling pada gadis lain. Namun aku belum bisa melakukannya hanya karena aku tidak bisa menemukan gadis yang dapat menghapus kau dariku. Sampai pada akhirnya, kehadiran Tenten dalam hidupku yang membuat semua itu terjadi."
"Haah.. Lihatlah, betapa menyedihkannya diriku?! Bertahun-tahun aku mengejar Sasuke, tapi pria itu malah menyukai gadis lain. Aku juga meminta pria yang dulu tidak kuhiraukan untuk membantuku melupakan Sasuke. Dan jawaban yang hampir sama kudapatkan dari pria itu. Sebenarnya, apa yang salah denganku?!" Sakura berteriak sembari menyeka kasar air matanya.
"Kau membutakan semuanya, berusaha menyingkirkan semuanya hanya untuk Sasuke yang belum tentu juga menyukaimu. Jika kau membuka mata dan hatimu, kau pasti tau siapa laki-laki yang benar-benar tulus memberikan hatinya untukmu. Kau berpikir Tenten akan merebut Sasuke darimu hingga kau tega menyakiti Tenten yang hanya menganggap Sasuke hanyalah sebatas teman. Disitulah letak kesalahanmu."
"Te..Tenten tidak menyukai Sasuke?" Sakura bertanya dengan mimik wajah tidak percaya.
"Ya… Semua pradugamu selama ini salah besar. Tenten sama sekali tidak menyukai Sasuke. Ia hanya menganggap Sasuke sebagai teman. Dan jika kau ingin tau, selama ini yang Tenten sukai adalah Neji. Kau dan Tenten sama. Kalian berdua menyukai laki-laki yang sudah mencintai gadis lain. Bukan hanya kau, Tenten juga merasakan rasa sakit yang sama seperti yang kau rasakan. Bahkan mungkin jauh lebih sakit, ketika dia tau lelaki yang di cintainya menyukai sahabatnya sendiri. Jika saja kau sedikit berpikir lebih jernih, kau tidak akan mungkin bertindak sampai sejauh ini."
"Apakah aku adalah wanita paling jahat di muka bumi ini?" Sakura menatap nanar pada Naruto.
"Kau tidak jahat. Kau hanya egois Sakura. Kau menghalalkan segala cara untuk mencapai satu tujuan yang belum pasti akan kau dapatkan."
"Jika aku terlambat untuk memintamu kembali menyukaiku, apakah terlambat juga, jika aku ingin berubah?" Tanya Sakura.
"Tentu saja tidak." Tangan kanan Naruto menyibakkan rambut Sakura sembari mengulas senyumanya.
oOo
Sasuke telah selesai mengobati kaki Tenten. Kini kaki Tenten tidak lagi bengkak. Meskipun masih terdapat banyak lebam di sana. Tapi Tenten sudah merasa lebih baik dari sebelumnya. Karena nyeri yang ia rasakan sejak tadi sudah tidak terasa.
Meski begitu, Sasuke masih tidak mengijinkan Tenten untuk berjalan. Paling tidak, gadis itu harus membiarkan kakinya tidak bergerak hingga esok hari. Dan seperti sebelumnya, lagi-lagi Sasuke mengendong Tenten di punggungnya. Sebenarnya Tenten sudah berusaha menolak, tapi Sasuke yang keras kepala membuat dirinya mau tidak mau harus menuruti perkataanya. Jika Tenten mau, ia bisa saja menolak Sasuke. Tapi mungkin, ia harus beradu argument dengan Sasuke lebih lama lagi.
Mereka berdua kini sedang berjalan menuju parkiran. Meski hari sudah mulai gelap, tidak membuat dua manusia itu takut. Terlebih Tenten. Dia pernah merasakan bagaimana rasanya menginap beberapa jam di sekolah ini ketika malam hari.
"Hei, jika kau mengantarku, bagaimana dengan sepedaku?" Tanya gadis hazel itu.
"Tinggalkan saja disini malam ini. Besok pagi aku akan menjemputmu, dan sepulang sekolah kau bisa mengambilnya." Jawab Sasuke enteng.
"Hei Sasuke… Apa aku boleh bertanya sesuatu?" Pertanyaan Tenten membuat Sasuke penasaran.
"Silahkan."
"Tebing itu… Bagaimana kau bisa menemukan tempat seindah itu?" Tanya Tenten antusias.
"Kau menyukainya?" Sasuke bertanya balik.
"Yah. Aku sangat menyukai tempatnya. Indah, tenang, dan damai." Tenten tersenyum sembari memikirkan tempat itu di otaknya.
"Itu adalah tempatku dan Itachi bermain saat kami kecil. Entah darimana Itachi menemukan tempat itu. Yang jelas, ketika aku berusia 7 tahun, Itachi mengajakku kesana. Dan saat pertama kali kesana, aku sudah jatuh cinta pada tempat itu. Sampai sekarang, jika moodku atau Itachi sedang buruk, kami selalu kesana." Sasuke tersenyum, memalingkan wajahnya pada Tenten.
"Pasti kau sangat senang, memiliki Itachi Niisan?"
"Yah aku sangat senang. Tapi semua itu berubah, ketika dia memutuskan untuk kuliah di London. Hanya 6 bulan sekali jika sedang liburan dia kembali." Nada bicara Sasuke mendadak melemah.
"Jangan bersedih. Aku yakin, bukan hanya kau yang merasa kehilangan. Itachi Niisan di sana juga pasti merasakan hal yang sama." Tenten tersenyum sembari menepuk pelan bahu Sasuke.
"Semoga saja." Balas Sasuke pelan. "Kenapa kau tidak menghajar Naruto saat itu?" Tanya Sasuke tiba-tiba.
"Aku tidak mau membahasnya lagi." Suara Tenten terdengar parau. Mendadak, tubuhnya terasa lemas ketika Sasuke menanyakan hal itu.
"Aku tau perasaanmu. Maaf jika aku mengingatkanmu tentang hal itu."
"Hm.. Aku baik-baik saja."
'Aku bersumpah, akan membalasnya besok!' Sasuke menggertakkan giginya menahan emosi.
Mendadak, Sasuke menghentikan langkahnya. Membuat Tenten mengerutkan dahi dan beralih menatap Sasuke. Gadis itu mempoutkan bibirnya dan sedikit naik berusaha menatap mata Sasuke.
"Kenapa berhenti?" Tanya Tenten polos.
Sasuke tidak menjawab. Laki-laki itu hanya menatap lurus kedepan seolah ada sesuatu yang berhasil menyita semua perhatiannya. Tenten memalingkan wajahnya, mengikuti arah mata Sasuke. Seketika ia membeku di tempat saat ia tau, apa yang membuat Sasuke berhenti.
"Kakashi Sensei.. Sakura.. dan…."
Gimana 2 chapie terkahir ini? apakah masih amburadul? Hehe.. maaf yah. Author udah bkin semampu Author (: Okelah guys.. Author mau lanjutin penderitaan Author dulu T_T See you in next chap guys (: #ngacir ke meja belajar
