Give Me Your Heart
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Pair: NaruTen
Rate: T
Genre: Humor, Romance
Hallo lagi minna-san :D Haha, bosen gk ketemu author? :D Meski bosen sama authir, tapi jgan bosen2 main ke sini ya mina (: Entah itu reviewer atau silent rider. Hehe, authir baru bisa lnjut nih. Maaf yah,,maaf bgt. Ini author ngaret keterlaluan. Yah, kan author baru wisuda kemaren, dan sbelum nya author sibuk sma persiapan Ujian. Hehehe.. dan author udh resmi lulus sekolah :D Skrg tinggal cari kampus ajah, hohoho. Udah tua ya author? Tapi bkin fic masih stak gini2 aja T_T Hehe, udahlah. Sperti yg author bilang di chap sbelumnya, ini adalah chapie terakhir dri fic ini (: Makasih yg udh kasih review dan setia nunggu (: Jujur, author terharu sma kalian yg setia #meluk guling. Hehe, tpi jgn sedih yaaa… Sebagai ganti nya fanfic Give Me Your Heart, author udah siapin fic dengan judul baru buat kalian (: Tetep main chara Tenten. Siapa pair nya? Baca aja nanti :D
Naruto-no-ecchi: Haha, mksih udah setia nunggu dan setia sma rasa penasaran kmu sma fic akooh :* Haha, ya harus bersatu donk. Masa pair utama gak bersatu? :D Scene terakhir,, kamu bner pke bgt. Haha, gmpng bgt ya di tebak? Iyalah, aku kan gk bisa bkin org penasaran :D
Awarmuna: Apanya yang di tawan kakak? :D
Rin: Huhuhu,, sebegitu pusing kah kamu baca fic ini? T_T Bukan bujur sangkar lagi,, tapi segi ena luas x tinggi :D Huaaa.. lama ya. Begadang ampe jm 2 pagi cumaa buat baca fic akoooh? Yaampuuun, aku terharu :* Haha,, siap bos! Akhir bahagia menanti di akhir fic ini ;)
Rukia: Haha, humor garing ya kyk gt jdi nya :D
Miryoku Arifu: Hehe, udh di next :p sorry telat and.. happy reading ;)
Akira ken: Hallo reader dan reviewer setiaaa :* 2 bulan gk mncul, kgen aku sma reveiew kamu :D (apanya yg mau di review? Chpter next aja gk ada :D) Hehe.. baca aja ne ;)
Yumizu: Hehe,, map map. Di chpie ini, puas2 kan baca scene Naruten :D Huhu, semoga ya.. :p
Ama-chan: Sasuke sma Author! :D *upsi.. Baca aja deh ;)
Shido: Haha, maap ya, telat bgt update nya ): Semoga chapie ini kmu yg pertama :D Haha,, gk pernah bosen klo dpet review dari para reader termasuk kamu (: Mkasih ya..
Jelliesdewi: Udah smngt sbener nya,, tpi gra2 ujian, smngat nya agak nurun krna otak nya buntu :D Mksih udh nunggu. Happy reading (:
Saika: Haha,, baca deh ya. Gantung apa enggak, nanti silahkan komen lwat review :D
Akamaru: Haha, semoga yg chap ini gk terlalu maksa kyk chpie2 sbelumnya yah, hehe.. :D
Minatooo: Minatooo-san,, Holla juga :D Makasih loh ya mampir kesini. Haha,, aku jga suka liat mereka berantem :D (knpa sift NaruSasu berbanding terbalik sma fic aku,, mungkin karena aku emng terinpirasi bkin sifat mreka yg kyk gt dri fic kamu, hihihi)
Udah di next kan ya,, chpie ini panjang loh. Soalnya klo di jdiin 2 chpie kyk nya terlalu pndek, hehe. Yaudah, author satuin aja :D Maaf jika ada salah2 kata. Typo? Pasti ada (: Siap2 minum, spa tau ntar keselek o.O #ngek
Jarum jam di kamar Tenten telah menunjukkan pukul 12 malam. Tapi entah kenapa, gadis itu masih belum bisa memejamkan kedua matanya meskipun ia sudah merasa lelah. Sesuatu terbesit di pikiran Tenten. Ia merasa akan ada satu hal besar yang akan menyambangi kehidupannya.
Cukup lama ia berpikir, namun hingga selarut ini ia belum juga menemukan jawabannya. Ia sudah mencoba untuk melupakannya dan berusaha untuk tidur. Tapi pikiran tersebut tidak juga hilang dan malah makin membuat dirinya stress dengan sendirinya.
Dua tangannya meremas gemas rambutnya. Ia mengeratkan pelukannya pada bantal dan memejamkan matanya erat berusaha melupakan pikiran aneh tersebut. Namun semakin ia berusaha melupakanya, pikiran itu semakin kuat mencengkeram otaknya.
"Kami-sama, kenapa kau tidak membiarkanku hidup tenang walau hanya sehari?" Gumam Tenten kesal.
Tenten kembali merebahkan tubuhnya dan berusaha untuk tidur. Ia merangkul erat bantalnya dan menaikkan selimut hingga menutupi seluruh badannya. Tenten memejamkan matanya erat berusaha untuk menyebrangi alam mimipinya. Namun lagi-lagi, kedua matanya sontak terbuka ketika telinganya mendengar lolongan anjing milik tetangganya.
"Mungkin segelas susu bisa sedikit menenangkanku."
Tenten menyibakkan selimutnya dan turun dari tempat tidurnya. Ia berjalan malas menuruni tangga dan berjalan ke dapur kemudian menekan tombol lampu yang letakknya berada di amping kulkas.
Tangan kanannya meraih sebuah gelas yang ada pada rak kemudian menuangkan susu yang baru saja ia ambil dari dalam kulkas secukupnya. Ia berjalan gontai ke arah meja makan sembari meneguk sedikit demi sedikit susu miliknya.
"Apapun yang akan terjadi, kuharap itu bukan hal yang besar." Gumam Tenten meletakkan kepalanya di atas meja.
.
.
.
.
Kiba dan Lee membeku di tempat. Dua manusia itu tidak dapat mengatakan sepatah kata pun, ketika menyadari, mereka ada di tempat yang sama sekali tidak mereka perkirakan sebelumnya. Berbeda dengan Shino. Lelaki berkacamata itu masih terlihat santai sembari melipat kedua tangannya di bangku penonton.
"Shino, katakan padaku jika semua ini hanyalah mimpi." Lee menyentuh lengan Shino.
"Sayangnya bukan bung. Nikmati saja semuanya."
"Aku bahkan tidak pernah mengira hal seperti ini akan terjadi." Kata Kiba.
Seorang gadis berambut pirang duduk di hadapan ketiga lelaki itu. Mata gadis itu menelusuri setiap sudut stage mencari sesuatu. Ketika dirasa tidak menemukan yang ia cari, ia beralih ke arah Kiba, Lee, dan Shino.
"Apa kau tau dimana Naruto?"
"Tumben kau mencari Naruto? Apa kau sudah menyerah pada Sasuke karena saingan terberatmu adalah sahabatmu sendiri?" Kiba menaikkan kedua alisnya.
Suara tawa Ino memenuhi setiap sudut ruangan. Ia lnats berhenti dan menatap tiga pria di depannya. "Itu tidak akan pernah terjadi. Aku hanya ingin memberi sedikit semangat untuk Naruto."
"Semangat?" Lee menatap Ino heran.
"Yah semangat. Aku harap dia tidak drop setelah Sasuke membuatnya tidak berdaya nanti."
Lee tertawa, "Justru Sasuke yang harus berhati-hati. Meskipun Naruto bodoh, tapi dia tidak lemah."
"Terserah kalian saja. Aku yakin, Sasuke akan memenangkan pertarungan ini. Kita lihat saja nanti." Ino pergi menjauh ketika ia selesai mengucapkan kalimat terakhirnya pada tiga pria itu.
"Hei, kenapa kau sangat yakin Naruto akan menang? Karena pada kenyataannya, hal seperti ini adalah makanan sehari-hari bagi Sasuke." Kiba sedikit berbisik.
"Aku hanya mencoba untuk menyemangati Naruto walau sebenarnya aku tidak yakin." Jawab Lee lemah.
"Aku bingung, kenapa Naruto rela melakukan hal sejauh ini hanya untuk seorang Tenten?" Mata Kiba menangkap sosok Naruto yang tengah bersiap-siap di atas stage.
"Mungkin karena Tenten istimewa?" Lee berpendapat asal.
"Jangankan kita, mungkin Tenten sendiri juga tidak tau apa yang membuat Naruto bertindak hingga sejauh ini." Kata Shino.
oOo
Seorang pria bertubuh jakung dan berkulit pucat tengah berdiri di salah satu sudut stage. Dia berdiri tegak sembari melipat kedua tangannya memperhatikan dua temannya yang siap bertarung. Sesekali ia menyipitkan matanya menelisik lebih detail dua temannya itu.
"Sai." Panggil seseorang dari belakangnya.
Tak butuh waktu lama. Begitu suara ringan tersebut menerabas masuk begitu saja ke dalam telinganya. Matanya menatap seorang gadis yang tengah berlari kecil ke arahnya. Sedikit peluh terlihat oleh mata Sai mengalir di ujung pelipis putihnya.
"Hn?"
"Apa kau bisa sedikit membantuku?" Tanya Sakura sedikit ngos-ngosan.
Sai tidak menjawab. Ia hanya sedikit memiringkan tubuhnya menghadap ke arah Sakura.
oOo
Dua pria sudah bersiap di atas matrass. Seorang pria bertubuh tinggi yang berada di antara mereka juga sudah mengacungkan tangannya menandakan pertandingan akan segera di mulai. Kedua pria yang saling berhadapan tersebut melemparkan death glear miliknya masing-masing. Aura membunuh juga sangat terasa hingga membuat Kakashi yang berada di posisi wasit sedikit merinding.
Priiiitt…
Peluit telah berbunyi. Otomatis pertandingan sudah di mulai. Sasuke sudah menyiapkan kuda-kudanya sebelum peluit di bunyikan. Ia sangat yakin akan menang, mengingat lawannya hanyalah Naruto yang sama sekali tidak menguasai ilmu Karate. Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah, menghabisi Naruto, membalaskan dendam Tenten, dan mendapatkan gadis itu.
Situasi yang berbeda di rasakan oleh Naruto. Meskipun wajahnya menampakkan keyakinan yang sangat tinggi, namun jauh di dalam lubuk hatinya, ia merasa sangat takut. Bukan karena ia takut kalah, sebaliknya, ia takut tidak lagi bisa melihat Tenten. Karena sesuai perjanjian, siapapun yang kalah, harus menjauh dari kehidupan Tenten. Selamanya.
Meski begitu, ia tetap optimis untuk memenangkan pertandingan ini. Berkat latihan kilat yang di ajarkan oleh Kakashi sejak satu bulan yang lalu, paling tidak ia sudah bisa membaca gerakan dan juga menepis serangan-serangan yang di berikan oleh Sasuke.
Sasuke sepertinya sudah bersiap akan menyerang. Tangan kanan bocah Uchiha itu sudah terlebih dahulu di naikkan sedikit untuk mengambil ancang-ancang. Kedua kakinya perlahan sudah melebar untuk memperkuat pijakannya pada bumi. Kedua tanganya sudah mengepal hingga terlihat jelas urat dan ototnya. Seperti itulah yang ada di pikiran Naruto. Paling tidak untuk saat ini.
Tak ingin kalah, Naruto juga melakukan hal yang hampir sama. Ia melebarkan sedikit kakinya, menguatkan kuda-kudanya, mengepalkan kedua tangannya bersiap menyerang. Degup jantungnya mulai berdegup tidak seperti yang seharusnya. Keringat dingin juga mulai ia rasakan mengucur perlahan di sekitar pelipisnya.
Bukk!
oOo
Pyarr…
"Momo?!" Teriak seseorang dari arah luar.
Suara gemuruh kaki terdengar oleh telinga gadis kecil itu yang kini tengah meringkuk di dapur. Kedua tangannya sedikit bergetar karena sedikit terkejut mendengar bunyi nyaring gelas kaca yang hancur berantakan di bawah kakinya.
Momo berniat akan membersihkan pecahan-pecahan kaca tersebut. Namun belum sempat ujung jarinya menyentuh pecahan kaca tersebut, seseorang yang sudah berdiri di belakangnya sudah berteriak terlbih dahulu.
"Jangan sentuh!"
"Maafkan aku Tenten Neechan. Tanganku sedikit licin tadi."
"Jangan pikirkan. Lebih baik kau ke kamar. Neechan yang akan membereskan ini."
"Baiklah Neechan."
Momo perlahan berdiri dan berjalan menjauhi Tenten sembari menundukkan kepalanya menyesal.
"Momo, apa kau baik-baik saja?" Tatsuya menghampiri Momo.
"Aku baik-baik saja Baasan." Jawab Momo lirih.
Tatsuya mengalihkan pandangan pada Tenten yang mulai memungut satu persatu pecahan kaca yang berserakan. Kembali ia mengalihkan mata pada Momo yang menatapnya dengan tatapan menyesal.
"Pergilah ke kamarmu." Tatsuya mengulas senyum tipisnya.
"Iya."
Tatsuya ikut jongkok di samping Tenten dan membantu gadis muda itu memunguti pecahan gelas di bawahnya. Sesaat wanita berusia senja itu menghela nafas panjangan dan menatap nanar ke arah bawah.
"Apa ada masalah Baasan?" Tenten bertanya tanpa mengalihkan matanya.
"Aku hanya takut keadaan Momo semakin memburuk. Sementar dana yang panti ini terima tidak cukup untuk mengobati dia." Kata Tatsuya lemah.
"Semua akan baik-baik saja Baasan. Percayalah padaku." Tenten menenangkan wanita itu.
Tatsuya mengulas senyuman samar. "Hei, bagaimana kabar Naruto? Sudah lama dia tidak kemari."
Jantung Tenten sejenak berhenti ketika Tatsuya menyinggung soal Naruto. Matanya menatap Tatsuya dengan tatapan bingung.
"Ke-kenapa Baasan menanyakan dia?" Kedua mata gadis itu berkedip cepat beberapa kali berusaha menahan kegugupannya. Kedua tangannya lantas membereskan pecahan kaca yang ada di bawah, memasukkan ke dalam kantung plastik, dan membuangnya ke tempat sampah.
"Kenapa kau berkata seperti itu? Apa kalian ada masalah?" Tatsuya berdiri di belakang Tenten.
"Masalah? Kami tidak memiliki masalah. Hanya saja…"
"Hanya saja apa?"
"Hanya saja… aku merasa tidak cocok berteman dengannya. Jadi aku memutuskan pertemananku dengannya."
Sedikit tawa renyah di dengar oleh Tatsuya sesaat setelah Tenten berkata seperti itu.
"Apa yang kau tau dari seorang Naruto?" Tatsuya menatap manik mata Tenten.
"Yang kutau.. dia adalah seorang lelaki yang bodoh, ceroboh, dan urakan."
"Kau sama sekali belum mengenalnya Tenten." Tatsuya melpat kedua tangannya.
"Aku mengenalnya. Dan karena aku sangat mengenalnya dan sangat tau semua tentangnya, aku memutuskan untuk mengakhiri pertemanan kami."
"Kau yakin?"
Gadis itu mengangguk lemah.
"Tapi kenapa aku tidak berpikir seperti itu?" Tatsuya memicinkan matnya menatap Tenten.
"Lalu apa Baasan pikir, Baasan lebih mengenalnya daripada aku? Apa yang Baasan tau tentang dia?" Tenten sedikit menaikkan suaranya.
Tatsuya memaku sejenak. Kedua matanya melebar mendengar nada suara Tenten yang terdengar seperti sebuah bentakan.
"Ma-Maaf Baasan, aku tidak bermaksud.."
"Tenten," Panggil Tatsuya lembut.
"I-iya?" Gadis bermata hazel itu sedikit menunduk.
"Serendah itukah kau menilai Naruto di matamu?"
Tenten tidak menjawab. Ia bersandar sedikit pada meja makan dan menggunakan tangan kanannya untuk menyangga berat tubuhnya. Kepalanya tertunduk dan menatap nanar pada lantai yang ia pijaki.
"Jika saja kau mau membuka sedikit hatimu untuk mengenalnya, kau pasti akan berkata sebaliknya…. Dibalik tingkahnya yang urakan, dan sifatnya yang ceroboh, apa kau tau, dia memiliki hati yang sangat tulus ketika menjalin hubungan dengan seseorang? Walau hubungan tersebut hanyalah sebatas teman... Aku tau, kau merasakan sedikit ketulusan itu. Kau hanya berusaha menutupi perasaan itu hanya untuk menjaga nama seseorang yang sudah terlebih dahulu ada di sana."
"Baasan…"
"Sudah cukup lama kau menunggu. Kau juga berhak bahagia Tenten. Lupakan dia. Buang jauh-jauh lelaki itu dari kehidupanmu. Kini saatnya kau mencari kebahagiaanmu sendiri."
"Tapi Baasan, dia sudah membuatku membencinya."
"Karena foto itu?"
Bukan itu yang ingin Tenten dengar terlontar dari bibir wanita ini. Kedua matanya membulat sempurna ketika wanita itu menyudahi perkataannya. Sebenarnya ia ingin bertanya, darimana Tatsuya mengetahui akan hal itu. Namun suaranya seolah berhenti di ujung tenggorokannya.
"Naruto sangat sering kemari tanpa kau ketahui."
Tenten diam di tempat. Otaknya terlalu sibuk untuk mencerna kata-kata Tatsuya yang tidak masuk akal baginya. Sebenarnya mulutnya hendak terbuka untuk berbicara. Namun hati kecilnya lebih memilih untuk diam dan mendengarkan penjelasan dari wanita senja ini.
"Ia menceritakan semuanya pada Baasan. Begitu juga tentang perasaanya padamu."
"Kenapa dia melakukan hal itu?" Tenten bertanya penasaran.
"Tunggu, pertama Baasan ingin bertanya padamu. Kenapa kau ingin tau tentang hal itu?"
"Karena aku penasaran."
"Kenapa kau penasaran?"
"Karena dia berbicara tentangku."
"Jika saja kau tidak peduli dan sudah membencinya, bukankah kau seharusnya menganggap hal seperti itu hanyalah angin lalu?"
"Jadi maksud Baasan…"
"Kau dan dia memiliki perasan yang sama. Dan alasan kenapa semua ini menjadi rumit, itu semua karena kau Tenten." Tatsuya mencolek ujung hidung Tenten.
"A-aku?"
"Yah, kau. Jika saja kau mengakuinya sejak awal, semua ini tidak akan terjadi."
"Bukannya aku munafik Baasan, tapi aku hanya ingin menjaga perasaan Hinata." Wajah Tenten kembali tertunduk.
"Menjaga perasaan orang lain itu hal yang penting. Tapi mengutamakan perasaan diri sendiri, itu jauh lebih penting. Kau berusaha membahagiakan orang lain, sementara kau sendiri terpuruk. Itu sangat tidak adil Tenten."
"Lalu apa yang harus aku lakukan Baasan? Aku ingin mengakui bahwa aku mencintai Naruto. Namun di sisi lain, aku tidak ingin tertawa di atas penderitaan Hinata, dan juga aku takut. Aku takut perasaan Naruto padaku hanyalah sementara. Karena sudah bertahun-tahun, dia mencintai gadis lain. Bagaimana mungkin dia berpaling padaku dalam waktu yang bisa di katakan cukup singkat?"
"Itulah yang dinamakan cinta Tenten. Kau tidak bisa memilih berapa lama ia akan bertahan dan pada siapa dia akan berlabuh."
Tenten menghela nafas panjang. Ia masih terus mencerna kata demi kata yang di ucapkan oleh Tatsuya. Dan setelah otaknya memproses kata-kata tersebut, ada benarnya juga perkataan Tatsuya. Selama ini ia terlalu munafik untuk mengakui perasaanya sendiri hanya karena ia ingin menjaga perasan Hinata. Penantiannya untuk Neji juga harusnya sudah cukup sampai di sini. Untuk apa dia berlama-lama mengharpkan Neji? Toh, hingga saat ini pria itu belum menunjukkan tanda-tanda untuk membalas cinta miliknya yang sudah ia pendam cukup lama. Daripada menggunakan waktunya untuk memikirkan dan menunggu seorang Hyuuga Neji, kenapa tidak ia gunakan waktu berharganya untuk melakukan hal yang lebih penting. Seperti.. mencari cinta yang lain? Yah, hal itu cukup penting baginya sebagai seorang gadis remaja yang akan beranjak menjadi wanita dewasa.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang Baasan?"
"Haruskah aku menjelaskannya lagi Tenten? Kurasa otakmu cukup cerdas untuk memahami apa yang Baasan katakan." Tatsuya tersenyum tipis.
"Lalu, bagaimana dengan…"
"Dengan apa?"
"Sasuke." Lirih Tenten.
"Kau pasti akan segera mendapatkan jawabannya jika kau menghampiri Naruto dan berkata padanya bahwa kau juga memiliki perasaan yang sama."
"Bagaimana bisa?"
"Percayalah pada Baasan." Kembali, Tatsuya menghiasai wajah keriputnya dengan seulas senyuman.
"Hei, apa kalian tidak mendengar suara ketukan seseorang di depan pintu?" Momo melesat masuk ke dapur.
"Benarkah? Siapa?" Tatsuya menundukkan kepala, menatap Momo yang berdiri lebih rendah darinya.
"Aku juga tidak tau. Aku belum membukanya." Momo menaikkan kedua bahunya.
"Aku yang akan membukanya. Baasan, lebih baik Baasan siapkan makan siang untuk Momo, sebentar lagi, saat untuk dia meminum obatnya." Tenten beranjak berdiri dan mengusap jail puncak kepala Momo.
"Aku tidak suka rasa obat itu. Bisakah aku berhenti meminumnya?" Tanya Momo polos sembari menautkan tangannya pada pergelangan kanan Tenten.
"Sayangnya tidak nona." Tenten menundukkan tubuhnya 90 derajat dan mencolek ujung hidung Momo kemudian berjalan pergi.
Warna serba pink menyeruak kedalam kornea mata Tenten begitu ia membuka pintu berwarna putih tersebut. Sedikit terkejut? Tidak. Ia sangat terkejut melihat seseorang yang berdiri di hadapannya dengan tatapan yang sangat berbeda dari biasanya. Gadis tersebut menatap Tenten sayu sembari meremas tangannya sendiri di depan dada.
"Ka..kau? A..apa yang kau lakukan disini? Ba..bagaimana kau tau tempat ini?" Tenten menunjuk tepat kearah Sakura.
"Aku tidak punya banyak waktu untuk menjelaskan. Yang pasti, kau harus ikut aku sekarang!" Balas Sakura cepat.
"Apalagi yang kau mau dariku?"
"Yang kumau hanya kau ikut denganku!"
"Untuk apa?"
"Kau akan tau nanti."
Sakura mencengkeram pergelangan kanan Tenten dan menarik gadis manis itu keluar dari rumah tanpa mengizinkannya menutup kembali pintu yang sebelumnya sudah terbuka. Sakura juga menghiraukan Tenten yang ingin kembali ke rumah tersebut untuk mengambil tasnya sebelum ia benar-benar pergi.
Sesampainya mereka di salah satu halte bus yang letakknya tak begitu jauh dari panti asuhan, Sakura melaimbaikan tangannya ke arah jalan raya untuk menghentikan sebuah taksi. Setelah di taksi tersebut berhenti tepat di depannya, Sakura segera membuka pintu taksi dan mendorong paksa tubuh Tenten masuk ke dalam taksi berikut dirinya.
"Gedung Tojima Jiisan." Kata Sakura singkat pada sopir taksi.
oOo
Bukk!
Hantaman keras dari tangan Sasuke berhasil membuat Naruto tergeletak di atas matras. Baru saja pria berambut pirang itu bangkit, namun tanpa ia sangka, lawannya kembali menyerangnya. Cukup lama Naruto berusaha bangkit. Namun lagi-lagi, tanpa ampun Sasuke kembali melancarkan serangan dengan membegal kaki Naruto yang bahkan belum bisa di katakan sempurna untuk posisi berdiri.
"Sudah cukup Sasuke! Kau sudah bertindak terlalu jauh." Kakashi berusaha menarik muridnya itu ke sudut lapangan.
"Naruto, kau baik-baik saja?" Sai membantu Naruto berdiri.
"Aku baik-baik saja. Lepaskan aku!" Naruto menarik kasar lengannya yang di pegang oleh Sai. Ia menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya menggunakan punggung tangannya.
Keadaan Naruto sangat kacau saat ini. Lebam-lebam yang sudah mulai terlihat di setiap sudut wajahnya. Darah yang juga mulai mengalir di sudut bibir dan pelipisnya. Di tambah lagi, keringat-keringat yang di hasilkan. Membuat penampilannya makin terlihat kacau.
Tidak berbeda jauh dengan Sasuke. Meskipun ia adalah atlet Karate, sesekali Naruto yang bisa di katakan masih amatiran, dapat membalas serangan-serangannya. Dari serangan Naruto, cara ia bergerak, dan juga cara ia memperhatikan setiap gerakannya, Sasuke yakin, ia dan Naruto di latih oleh guru yang sama. Tapi ia tidak tau, sejak kapan hal itu terjadi.
"Kakashi sensei, kenapa kau tidak melepaskan dia dan membiarkannya bertanding denganku?" Kata Naruto lantang.
"Naruto, kau jangan gila. Kau sudah sampai batasmu!" Bisik Sai geram.
"Jangan ikut campur. Ini adalah urusanku dengan bocah tengik itu. Kau diam saja." Balas Naruto.
"Baiklah kalau itu yang kau mau." Sasuke melepaskan dirinya kasar dari Kakashi. Seringai jahat menghiasi wajah tampannya. Semakin terlihat tampan, ketika tetesan-tetesan keringat membasahi wajahnya. Membuat Ino yang berada di bangku penonton, sibuk mengambil gambar bocah Uchiha itu menggunakan kamera ponselnya.
"Baiklah, terserah kalian saja. Yang penting kalian tidak saling membunuh." Kata Kakashi menyerah dan kembali duduk di tempat yang sebelumnya ia duduki.
"Ternyata kau masih memiliki nyali." Naruto melempar death glearnya.
"Telepon ibumu untuk menyiapkan batu nisan dan tanah pemakaman untukmu." Balas Sasuke tak mau kalah.
"Jangan banyak bicara!"
Bukk..
Satu pukulan keras mendarat dengan mulus pada wajah Sasuke hingga membuat pria itu jatuh terlentang di atas matras. Tak ingin menyia-nyiakan waktu, Naruto segera menghampiri Sasuke dan duduk di atasnya.
Pukulan demi pukulan Naruto hujamkan pada Sasuke sembari mengumpat sesuatu yang hanya Sasuke saja yang tau.
Bukk..
"Ini untukmu karena kau berani menciumnya!" Itulah umpatan Naruto yang di dengar oleh semua orang yang berada di dalam ruangan, sekaligus menjadi perkataan dan pukulan terakhir yang ia hujamkan pada Sasuke.
Naruto berhenti memukul Sasuke, namun pria pirang itu belum beranjak dari tubuh Sasuke. Naruto berhenti, mengatur nafasnya, dan menundukkan kepalanya termenung. Menatap lantai di bawahnya.
"Apa kau sudah selesai? Sekarang giliranku bukan?"
Sasuke mencengkeram baju Naruto dan mendorong tubuhnya kedepan hingga Naruto tidur di atas matrass. Persis seperti yang Naruto lakukan, Sasuke duduk di atas tubuh pria itu dan menghujamkan pukulan-pukulan yang seolah sudah ia pendam sejak lama.
"Ini untukmu karena kau sudah berani menyakitinya!"
Bukk..
Hampir 7 pukulan telah di terima Naruto. Namun pria itu tidak bereaksi. Entah karena lelah, atau karena dia sudah mencapai batasnya, yang pasti Naruto hanya diam menerima pukulan dari Sasuke.
"Sensei, ini sudah jauh di atas normal. Lihatlah, Naruto sudah tidak bergerak." Kata Sai.
Apa yang Sai katakan benar. Pertandingan ini sudah tidak wajar. Tanpa menjawab Sai, pria berutubuh tinggi itu segera berjalan cepat ke atas stage kemudian menarik kedua lengan Sasuke menjauh. Sedangkan Sai di bantu oleh Kiba, Lee, dan Shino, menganggkat tubuh Naruto yang sudah terkulai lemah guna mendapat perawatan.
Langkah Tenten terhenti begitu matanya sekilas melihat keadaan Naruto yang tak sadarkan diri di tangan teman-temannya. Ia hendak menghampiri Naruto, namun kehadiran Sasuke di dalam membuatnya lebih tertarik dan pada akhirnya ia melangkah menghampiri Sasuke yang masih berusaha berontak.
Bungsu Uchiha itu seketika berhenti, ketika ia mendapati dua gadis berdiri di hadapannya. Seorang gadis yang menarik perhatiannya sekaligus yang membuat dirinya berhenti, menatap tajam dirinya.
"Ten-ten?" Lirih Sasuke terbata.
Kakashi melepaskan cengkeramannya dari Sasuke ketika di rasa, Sasuke sudah cukup tenang. Kakashi melirik Tenten sekilas kemudian memutuskan untuk segera menyusul Naruto.
"Ada apa denganmu? Apa yang kalian berdua lakukan?" Tanya Tenten dingin.
"Tenten, biarkan Sasuke mengobati lukanya terlebih dahulu." Sakura beralih ke samping Sasuke.
Gadis itu menghela nafasnya dan sedikit melemaskan tubuhnya. "Sakura benar. Kau terlihat kacau Sasuke. Tolong kau obati lukanya Sakura." Tenten mengulas senyum samar dan pergi meninggalkan dua orang tersebut.
"Kau.."
"Aku akan menyusul Naruto. Dan kau Sasuke… kau berhutang penjelasan padaku." Mata Tenten menatap tajam Sasuke.
"Tidak! Aku akan menjelaskannya sekarang." Kata Sasuke.
"Kau bisa jelaskan semuanya nanti. Lebih baik, kau obati dulu lebam-lebam di wajahmu." Balas Tenten.
"Kumohon, beri aku sedikit waktu untuk menjelaskan." Sasuke menatap manik mata berwana cokelat gelap di hadapannya.
"Baiklah," Tenten akhirnya menyerah.
"Sebenarnya, pertarungan ini kami lakukan hanya untuk memenangkan sebuah taruhan.."
Dahi Tenten berkerut. Ia masih diam menunggu lanjutan cerita dari bibir bungsu Uchiha tersebut.
"Beberapa bulan yang lalu, aku mengajaknya untuk bertaruh dan kami sepakat. Siapapun yang dapat bertahan, dia yang akan memenangkan pertaruhan itu."
"Apa yang kalian pertaruhkan?" Tanya Tenten tak sabaran.
"Kau." Jawab Sasuke singkat.
Kedua bola mata Tenten serasa akan meloncat keluar ketika mendengar jawaban singkat keluar begitu saja dari mulut Sasuke. Hanya satu kata yang pria itu ucapkan, tapi satu kata tersebut sudah berhasil membuatnya terkejut bukan main.
Kedua tangan Tenten mengepal rapat, matanya berubah menjadi merah dan sedikit mengeluarkan air mata. Kedua bahunya naik turun seirama dengan tarikan nafasnya yang terasa sesak. Ia berusaha sebisa mungkin menekan emosi yang menjalarinya tanpa ada aba-aba dengan mengatupkan bibirnya rapat hingga memperlihatkan garis rahang di sisi wajahnya.
"Maafkan aku. Ini semua salahku. Jika kau mau membunuhku, lakukan saja." Sasuke menundukkan kepalanya.
"Sasuke," Lirih Sakura.
Perlahan kepalan tangan Tenten yang terlihat sangat kokoh mulai mengendur. Ia juga sudah bisa menstabilkan aliran nafasnya. Namun yang tersisa hanya air mata yang perlahan mulai membasahi kedua pipinya. Ia jatuh terduduk di atas matras mengigit bibir bawahnya berusaha tidak mengeluarkan suara tangisnya. Rambut cokelat yang sengaja ia gerai sejak tadi pagi menutupi seluruh wajahnya yang tertunduk kebawah.
"Maafkan aku." Sasuke ikut duduk di hadapan Tenten.
"Ternyata aku memang gadis yang sangat bodoh. Bagaimana bisa aku tidak tahu, bahwa pria yang selama ini baik padaku, ternyata yang menyakitiku hingga mencapai batasku." Kata Tenten sesenggukan.
"Tenten," Sasuke meraih tangan kanan Tenten.
"Kenapa? Kenapa harus aku yang kau jadikan taruhan? Kenapa aku harus mengenal kalian? Kenapa aku harus masuk ke kehidupan kalian? Apa sebenarnya salahku? Kenapa kalian melakukan ini padaku?" Suara Tenten terdengar sangat lirih.
"Aku yang bersalah. Aku minta maaf. Dan sebisa mungkin, aku akan mengembalikan keadaan seperti sebelumnya."
"Jaminan apa yang bisa kau berikan untukku jika keadaan tidak kembali seperti semula?"
"Apapun. Apapun yang kau mau. Asal kau mengijinkan aku untuk menebus kesalahanku."
"Kau tidak akan bisa mengembalikan keadaan seperti sebelumnya. Bahkan Tuhan pun tidak akan memutar kembali waktu. Semuanya sudah terjadi."
"Lalu apa yang harus aku lakukan?"
"Bukankah kau yang memulainya, harusnya kau juga bisa mengakhirinya."
Tenten beranjak dari duduknya dan segera meninggalkan dua manusia tersebut di tengah-tengah stage.
oOo
Seorang wanita berambut panjang berwana merah mengambil langkah seribu menuju kamar rawat yang sudah di beritahukan oleh seorang suster rumah sakit. Setelah melewati lorong dan beberapa belokan, akhirnya ia menemukan pintu kamar bernomor 244. Tanpa banyak bicara, wanita itu segera membuka kamarnya dan mendapati seorang pria bertubuh tinggi berambut silver bersama empat lelaki lainnya, duduk di sofa ruangan.
"Bagimana keadaannya Kakashi-san?" Kurenai bertanya sembari memperhatikan putranya yang tergolek lemah di atas ranjang rumah sakit.
"Dia baik-baik saja. Luka lebam di wajah dan sekitar tubuhnya tidak begitu parah. Hanya saja, ia harus menginap agar dokter bisa lebih leluasa mengontrol keadaanya." Jawab Kakashi apa adanya.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Kurenai menatap Kakashi, Sai, Lee, Kiba, dan Shino bergantian.
.
.
.
.
.
Tenten turun dari Bus yang baru saja ia tumpangi dan berhenti di salah satu halte. Sejenak ia melihat gedung rumah sakit yang berdiri kokoh tepat di belakang halte bus yang ia pijaki. Kedua tangannya meremas bagian bawah keranjang berisi buah-buahan yang sebelumnya ia beli di dekat rumahnya untuk pria itu.
'Apa aku harus masuk kesana?'
Setelah beberapa saat ia berpikir, akhirnya Tenten memutuskan untuk masuk. Walau ia tidak tau apapun terkait urusan ini, namun secara tidak langsung ia juga penyebab Naruto di rawat di rumah sakit tersebut. Meskipun mulutnya berkata bahwa ia membenci Naruto, namun jauh dalam lubuk hatinya, ia merasakan hal yang sangat jauh berbeda. Berkat Naruto, ia perlahan bisa melupakan Neji. Dan Tenten sangat berterimakasih akan hal itu. Dua pilihan yang harus ia pilih sebelum Naruto hadir di kehidupannya. Pilihan pertama, selamanya mencintai Neji, memperjuangkan cinta Neji, mendapatkan Neji, dan hidup bahagia bersama Neji. Pilihan kedua, melupakan Neji, mencari pria yang bisa menghapus nama Neji dari hati serta otaknya. Dan ternyata, Tuhan yang baik dan maha adil memberikan ia pilihan yang kedua.
Kedua kaki yang terbalut sepatu sneakers berwarna merah gelap itu beranjak dari tempat sebelumnya dan perlahan berjalan menuju lobby rumah sakit. Hanya butuh 8 menit waktu yang di tempuh Tenten untuk berjalan dari halte bus hingga meja receptionis.
Seorang suster bagian resepsionis itu tersenyum singkat menatap Tenten bermaksud agar Tenten menunggu sebentar sementara ia menjawab pertanyaan pengunjung lain yang terlebih dulu datang. Ia meletakkan keranjang buah di meja yang tinggi sekitar satu setengah meter tersebut dan sedikit meregangkan otot-otot sikunya yang sedikit kaku akibat massa buah yang lumayan berat baginya.
"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya suster tersebut ketika pengunjung di samping Tenten mendapatkan jawaban yang di inginkannya.
"Ya suster. Aku mencari kamar Uzumaki Naruto." Tenten sedikit mengalihkan tubuhnya menghadap suster.
"Baiklah, tunggu sebentar." Suster tersebut menekan beberapa tombol yang ada pada keyboard sementara matanya terfokus pada layar computer di depannya. "Dia ada di kamar 244." Tenten mendapat jawaban setelah beberpa saat menunggu.
"Baiklah. Terimkasih suster."
oOo
Kushina membetulkan letak selimut Naruto yang sedikit berantakan. Sesaat matanya menatap satu luka yang tertutupi oleh sebuah perban serta beberapa luka lebam kecil yang masih bertengger di pipi dan dagunya. Tangan kanannya mengarah pada pipi kanan Naruto dan mengusapnya lembut. Beberapa detik kemudian seulas senyum menghiasi wajah cantiknya. Ia salut pada Naruto yang rela melakukan hal seperti ini demi memperjuangkan apa yang di inginkannya. Namun di satu sisi, dia sedikit kecewa. Kenapa harus menggunakan cara seperti ini? Bukan hanya itu. Kushina juga sedikit canggung jika nanti ia bertemu dengan Mikoto. Ia tidak menyangka, persahabatnnya dengan Mikoto yang hingga saat ini terjalin dengan baik tidak menurun pada putra mereka.
Kushina dan Mikoto sudah berkenalan dan memulai persahabatan mereka ketika Kushina melahirkan Naruto di rumah sakit yang sama ketika Mikoto melahrikan Sasuke. Naruto dan Sasuke lahir di bulan dan tahun yang sama. Hanya saja Sasuke lebih tua beberapa hari dari Naruto. Kamar rawat Mikoto saat itu, letaknya tepat di depan kamar Kushina.
Setiap pagi Mikoto yang sudah baikan terlebih dahulu selalu mengunjungi Kushina yang belum di perbolehkan untuk berjalan. Mereka membahas berbagai macam hal. Dan lama kelamaan, keduanya mulai merasa memiliki kecocokan satu sama lain dan memutuskan untuk bersahabat. Dan persahabatan itu masih terjalin dengan baik hingga saat dimana ia mengusap lembut pipi putra semata wayangnya yang terbaring di ranjang rumah sakit.
Cklek..
Pintu kamar Naruto terbuka. Seorang pria berparas tampan, berambut kuning menyala, dan bertubuh tinggi tegap segera masuk dan melempar kopernya begitu saja di atas sofa yang jaraknya tidak begitu jauh. Ia segera menghampiri istrinya dan menatap anaknya yang masih memejamkan matanya.
"Aku segera mengambil penerbangan pagi ini saat kau mengabariku soal Naruto. Bagaimana keadaanya sekarang?"
"Kau tenang saja. Dia sudah lebih baik. Dia sudah bangun tadi pagi, hanya saja ia kembali tertidur. Mungkin efek obat yang ia minum seusai ia sarapan tadi." Kushina melempar senyum termanisnya.
"Syukurlah kalau begitu." Minato menghela nafasnya lega.
"Apa kau belum mengisi perutmu?" Tanya Kushina.
"Aku belum sempat. Aku panik ketika kau menelfon dan mengatakan Naruto terbaring di rumah sakit. Aku segera membeli tiket pulang setelah urusanku selesai. Begitu sampai bandara, aku langsung mencari taksi dan menuju kemari. Aku sangat lelah."
"Aku akan mencari makanan untukmu. Istirahatlah dulu. Kau membutuhkan itu." Kushina beranjak dari duduknya.
Cklek..
Kushina sedikit terkejut ketika ia mendapati seorang gadis berdiri di ambang pintu sembari tangan kanannya di angkat. Seperti hendak mengetuk pintu. Mata kedua wanita tersebut bertemu dan mereka berdua sesaat saling diam hingga Kushina berdeham dan menyapa gadis di depannya.
"Hai Tenten, apa kabar?" Kushina tersenyum.
"A..aku baik-baik saja Baasan. Aku ingin menjenguk Naruto. Apa boleh?" Tenten bertanya ragu.
"Tentu saja, silahkan." Tangan kanan Kushina mendorong pintu berwarna putih itu lebih lebar agar Tenten dapat masuk.
"Selamat siang Jiisan." Sapa Tenten begitu melihat Minato berada di satu ruangan yang sama.
"Selamat siang Tenten."
"Aku membawakan ini. Maaf jika tidak seberapa?" Tenten menyerahkan keranjang bersisi buah pada Kushina.
"Kenapa kau repot-repot? Kau datang kemari saja kami sudah senang." Kushina meletakkan buah pemberian Tenten di samping Minato.
"Sama sekali tidak merepotkan Baasan." Tenten menunduk malu. Ia tersenyum sesaat lalu mengalihkan matanya pada Naruto yang masih dalam keadaan terpejam. "Bagaimana keadaan Naruto?"
"Dia baik-baik saja. Hanya perlu di rawat beberapa hari untuk memulihkan tubuhnya dan merawat luka di pelipisnya yang tidak terlalu parah. Dia juga sudah siuman dari kemarin malam. Bahkan tadi ia sangat lahap menyantap sarapannya." Jawab Kushina apa adanya.
"Syukurlah jika dia sudah baikan." Tenten bernafas lega. "Maafkan aku Baasan. Karena aku, Naruto menjadi seperti ini. Aku sangat menyesal." Tenten membungkukkan tubuhnya.
"Ini bukan salahmu. Kakashi-san sudah menceritakan semuanya padaku." Kushina menuntun bahu Tenten untuk kembali tegak.
"Tapi Baasan…"
"Lupakan saja. Lagipula, Naruto sudah baikan sekarang."
"Terimakasih Baasan." Tenten mengulas senyuman di bibir dan matanya.
"Hm."
"Ta..tadi Baasan mau kemana?" Tanya Tenten basa basi.
"Ah, aku tadi bermaksud untuk mencari makanan untuk Minato Jiisan."
"Aah, Tenten.. bisakah kau menjaga Naruto sebentar?" Minato tiba-tiba berdiri dari duduknya.
"Tentu saja Jiisan."
"Ta..tapi, kau bilang kau lelah?" Kushina mengerutkan dahinya.
"Lelahku hilang ketika melihat dua wanita cantik berdiri di hadapanku. Jadi, apa kita akan mencari makan? Aku masih lapar." Minato merangkul bahu Kushina.
"Tapi Tenten…"
"Tidak masalah Baasan. Aku akan menjaga Naruto sampai kalian kembali." Tenten menyela.
"Dengar?" Minato menaikkan kedua alisnya.
"Baiklah kalau begitu. Maaf jika merepotkan Tenten." Kushina tersenyum kecut.
"Tidak apa-apa Baasan."
Minato sedikit menarik paksa Kushina keluar dari ruangan. Sedetik sebelum ia dan istrinya benar-benar menghilang, ia sempat tersenyum pada Tenten yang masih berada di posisinya.
"Kenapa kau ikut? Kau bilang tadi lelah?"
"Bukankah aku tadi juga sudah mengatakan lelahku sudah hilang?"
"Bagaimana bisa?" Kedua alis Kushina saling bertautan.
"Entahlah." Minato menaikkan kedua bahunya santai. "Lagipula, kurasa mereka berdua membutuhkan privasi."
"Privasi? Bagaimana kau bisa berkata seperti itu?"
"Karena tadi aku melihat…."
"Apa yang kau lihat?" Sela Kushina.
"Sebenarnya tadi Naruto sudah membuka matanya saat Tenten berbicara denganmu. Dia memberiku kode untuk meninggalkannya berdua dengan Tenten. Hanya itu."
"Ternyata kalian berdua sama persis." Kushina mempoutkan bibirnya.
Beberapa kali Tenten mengalihkan matanya pada Naruto ketika ia membalas pesan singkat dari Tatsuya yang menanyakan kabar tentang Naruto. Kini Tenten tengah duduk tepat di samping Naruto. Kedua matanya juga tak pernah ia lepaskan dari pria tersebut. Hanya sesekali ketika ia sibuk sesaat dengan ponselnya.
Hampir 10 menit berlalu sejak Kushina dan Minato pergi. Namun sedetikpun ia tidak melihat tanda-tanda Naruto hendak membuka matanya. Sungguh, ia sangat berharap laki-laki itu membuka matanya dan melihatnya berada di sampingnya.
Kedua tangan Tenten mengenggam lemah tangan kanan Naruto dan memainkan lembut jemari pria itu. Sesekali ia mengelus punggung tangan Naruto yang juga sedikit menampakkan luka lebam meski tidak begitu ketara.
Sangat sakit melihat pria yang ia cintai terbaring seperti ini. Jauh lebih sakit di jika di bandingkan dengan kakinya yang patah akibat salah urat ketika melakukan sesi latihan beberapa tahun yang lalu. Ia tau Naruto menyukainya dan berusha untuk mendapatkannya. Tapi ia tidak menyangka lelaki itu akan melakukan hal sejauh ini. Melihat kejadian ini, kini ia menyesali perbuatannya yang tidak jujur dari awal dengan perasaanya. Mungkin dengan begitu, hal seperti ini tidak harus terjadi.
Sebulir air mata jatuh dari mata kiri Tenten dan mengalir bebas begitu saja dan masuk ke dalam mulutnya. Ia mengigit bibir atasnya yang terasa sedikit geli karena air matanya sendiri. Setelah beberapa kali berkedip, tak berapa lama air mata di sisi yang lainnya ikut mengalir dan menetes membasahi tangan Naruto yang berada di genggamannya.
"Aku disini.." Kata Tenten lirih. Bahkan suara Tenten masih kalah dengan suara hembusan AC di dalam ruangan tersebut.
"Bangunlah. Apa kau bisa mendengarku?" Mata gadis itu tak pernah lepas dari tangan Naruto. Ia lebih memilih untuk melihat tangan pria itu daripada bagian wajahnya. Karena setiap melihat wajah Naruto, rasa bersalah selalu menyerbunya tanpa izin.
"Aku yang bersalah dari awal. Maaf karena aku, kau jadi seperti ini. Maaf jika aku tidak mengakui perasaanku dari dulu." Kata Tenten masih dengan suara lirih.
"Tapi jika kau sudah memutuskan untuk membenciku dan melupakanku.. aku akan menerimanya. Aku mencintaimu." Ia meletakkan kepalanya di atas tangan Naruto yang masih berada di gengamannya. Tenten mengatupkan bibirnya berusaha meredam suara tangisnya.
Cup…
Beberapa detik setelah mata Tenten terpejam untuk menumpahkah semua air matanya, tanpa gadis itu ketahui, kini bibir Naruto sudah menempel begitu saja pada puncak kepalanya. Pria itu masih dalam keadaan berbaring, hanya saja ia menggunakan siku kirinya untuk menyangga berat badannya hingga ia dapat sedikit bangkit dan mencium kepala gadis yang membaringkan kepalanya di sampingnya.
Tenten segera mengangkat kepalanya begitu ia merasakan satu benda kenyal dan dan hangat menyambangi kepalanya.
"Cukup lama aku menunggu kata-kata itu keluar dari bibirmu." Kata Naruto menatap manik mata Tenten yang jaraknya tak kurang dari 8cm di hadapannya.
"Ka..kau…"
"Kau mencintaiku? Tapi asal kau tau, aku lebih mencintaimu." Kata Naruto dengan suara datar.
Brukk..
Naruto kembali terbanting ke belakang. Pusing yang ia rasakan memaksa dirinya untuk kembali berbaring seperti posisi awal. Tangan kiri yang baru saja ia lepaskan, ia gunakan untuk menekan lembut kedua pelipisnya.
"Hei, a..apa kau baik-baik saja?" Tenten bangkit dari tempat duduknya.
"Aku baik-baik saja. Hanya sedikit pusing."
"Apa ini saatnya kau minum obat? Apa kau sudah makan? Kenapa suster belum mengantar makanan untuk makan siang?" Gadis itu menatap Naruto panik. "Tunggu sebentar, aku akan memanggil suster." Tenten beranjak.
"Jangan." Tangan kanan Naruto yang sebelumnya berada di genggaman Tenten menahan gadis itu agar tidak pergi. "Tetaplah di sini. Aku tidak mau kau pergi. Lagipula, aku tidak suka makanan rumah sakit. Makanan-makanan itu membuatku mual."
"Ta..tapi kau.. bukankah sudah waktunya…"
"Kubilang aku tidak mau." Naruto tengah berusaha duduk meski pusing masih sedikit menyambangi kepalanya.
Tenten segera membantu Naruto untuk duduk dan meletakkan sebuah bantal untuk pria itu bersandar.
"Lalu bagaimana kau minum obat jika kau tidak makan?"
"Apa kau yang membawa itu?" Naruto mengalihkan matanya pada keranjang buah yang tergelatak di sofa.
"Begitulah."
"Kalau begitu, aku makan itu saja."
"Tapi itu hanya buah. Yang kau butuhkan adalah nasi."
"Tapi aku tidak mau."
"Terserah kau saja." Tenten menghela nafas panjang sembari menatap Naruto malas. Gadis itu mengambil keranjang buah tersebut dan membawanya keluar.
"Hei, kau mau kemana?" Naruto mengangkat sedikit tangannya.
"Kemana? Tentu saja mencuci buah ini. Apa kau mau makan sisa-sisa pestida yang menempel pada buah ini? Apa kau ingin cepat mati?" Kata Tenten.
"Ooh, kalau begitu cepatlah." Naruto mengayunkan tangannya.
'Aku bukan pembantumu!'
Brakk..
Tenten membanting keras pintu kamar Naruto.
Beberapa saat, Tenten kembali dengan keranjang buah yang sudah berganti menjadi sebuah mangkuk besar berisi berbagai macam buah. Juga sebilah pisau tak lupa ia pinjam dari dapur rumah sakit.
"Mana yang kau inginkan?" Tenten menyodorkan mangkuk tersebut tepat di depan Naruto.
"Apapun yang kau ambil akan kumakan." Naruto tersenyum.
Tenten meletakkan mangkuk tersebut pada meja di samping ranjang dan mengambil sebuah apel juga pisaunya. Ia menghela nafas panjang dan memutar kedua bola matanya malas.
"Jika aku memilih sepatu, apa kau akan memakannya juga?" Tenten duduk di samping Naruto dan mulai mengupas kulit apel di tangannya dengan menggunakan sebuah kantong plastik sebagai tempat sampah.
"Tergantung. Jika itu bisa membuatmu bahagia, aku akan melakukannya." Senyum manis kembali menghiasi wajah tampan pria itu.
"Kau gila."
"Setelah semua… kenapa kau tidak bertanya apapun padaku?" Tanya Naruto membuat Tenten berhenti.
Beberapa saat kemudian, Tenten kembali melanjutkan mengupas. "Aku hanya akan meminta penjelasan jika keadaan sudah kembali normal. Kau dengan sifat aroganmu, dan Sasuke dengan tingkah misteriusnya." Tenten memberikan sepotong apel pada Naruto.
"Hanya? Kau tidak menuntut apapun dari kami?" Tanya Naruto tidak percaya.
"Tidak. Aku tidak berhak menghakimi kalian berdua. Aku yakin, akan ada pihak yang lebih berhak untuk memberi kalian sebuah sanksi. Atau mungkin padaku juga." Katanya meletakkan piring berisi potongan apel lainnya di samping mangkuk buah kemudian menatap Naruto dan menarik kedua ujung bibirnya.
"Satu hal lagi yang menjadi alasanku kenapa aku menyukaimu." Naruto meletakkan apel di atas piring setelah ia meninggalkan bekas gigitan di sana.
"Jika boleh tau.. berapa banyak hal yang kau sukai dariku?" Semu merah sedikit muncul di kedua pipi Tenten.
"Banyak sekali, hingga aku tidak tau harus memulainya dari mana."
Cup…
Secepat kilat, kini bibir dua manusia itu telah menyatu satu sama lain setelah sebelumnya Naruto menggeser sedikit duduknya, menangkup kedua pipi Tenten, dan sedikit memiringkan kepalanya agar hidungnya tidak saling berbenturan dengan hidung gadis itu.
Tenten yang semula menunduk segera membelalakkan matanya ketika Naruto menciumnya tanpa seizinnya. Namun perlahan ia memejamkan matanya menikmati bibir Naruto yang mulai melumat bibir atasnya. Tanpa paksaan dan perintah dari siapapun, Tenten mulai membalas ciuman Naruto. Kedua tangannya tanpa sadar ia naikkan ke atas bahu pria itu. Begitu juga Naruto yang merangkul mesra pinggang Tenten dengan kedua tangannya. Ia bahkan menarik Tenten perlahan untuk memperkecil jarak di antara mereka.
Ciuman mereka terasa semakin dalam ketika lidah Naruto menerabas masuk kedalam mulut Tenten dan mulai mengabsen satu persatu barisan gigi Tenten. Tangan kanan Tenten yang sebelumnya ia kalungkan pada leher Naruto, ia gunakan untuk mengelus mesra bagian belakang telinga kanan Naruto. Membuat pria itu merasakan sensi geli namun membuatnya semakin kecanduan dan memperdalam ciumannya pada gadis itu.
Bibir Tenten berada di ujung bibir Naruto. Tanpa sengaja Tenten merasakan sesuatu yang beda. Sedikit rasa anyir di rasakan olehnya.
"Aaw…" Naruto melepas begitu saja ciuman mereka. "Jangan bagian yang itu." Naruto sedikit meringis.
"Ma..maaf. Aku tidak sengaja." Tenten menyesal.
"Lupakan saja. Aku baik-baik saja." Naruto tersenyum menatap gadis itu.
"Syukurlah." Tenten beranafas lega dan melepas tangannya dari leher Naruto. Kedua alisnya bertemu ketika ia merasa Naruto tidak kunjung melepas kedua tangannya dari pinggangnya.
"Apa itu artinya, kita sudah…."
"Belum." Jawab Tenten cepat. "Sebelum semua masalah ini selesai, kita hanya akan menjadi teman." Imbunhya.
"A..apa? Lalu tadi…"
"Itu hanya hadiah untukmu karena kau sudah rela melakukan hal sejauh ini untukku. Kau layak mendapatkan itu."
"Menjadi teman saja aku sudah mendapat ciuman. Apa setelah kau menjadi kekasihku, aku akan medapat hal yang lebih dari ini?" Naruto mengangkat kedua alisnya.
"Jangan harap! Dasar otak mesum!" Tenten melepas kasar kedua tangan Naruto dari pinggangya.
.
.
.
.
Setelah beberapa hari absen dari sekolah, hari ini Naruto sudah merasa baikan dan kembali masuk sekolah. Kini ia merasa, beban di pundaknya sedikit berkurang karena apa yang dia inginkan sudah berada di depan matanya. Hanya tinggal menyelesaikan satu persoalan, dan semuanya akan selesai.
Tenten. Yah, gadis itu sangat berarti baginya. Pertemuan singkat dan insiden kecil yang terjadi di toilet sekolah, tanpa ia sadari membuat dirinya apa arti kasih sayang, teman, orangtua, bahkan arti dari cinta yang sesungguhnya. Gadis itu mengajarkan banyak hal. Bukan hanya dalam hal pelajaran, panda manis itu juga menunjukkan hal apa yang akan kita dapatkan ketika kita berusaha untuk merelakan suatu hal. Semua akan indah pada waktunya.
Untuk pagi ini, di antar oleh supir untuk berangkat ke sekolah. Kushina melarangnya untuk mengemudi mobil sendiri, atau bahkan naik sepedanya. Paling tidak untuk beberapa hari kedepan.
Sebuah tangan berukuran ramping terlihat melambai ke arahnya ketika ia sudah turun dari mobilnya. Tak berapa lama kemudian, pemilik tangan ramping itu menghampiri dirinya.
"Hai Lee."
"Apa kau sudah baikan?" Lee mensejajarkan posisinya dengan Naruto.
"Yah. Aku sudah baikan. Lagipula, tidak lama lagi ujian sekolah akan tiba. Aku tidak mau melihat buku laporanku kosong nanti."
"Oh. Kupikir kau ingin segera masuk agar bisa bertemu dengan Tenten."
"Itu adalah alasan yang paling utama. Dan.. dimana dia sekarang? Kenapa sepedanya belum terlihat?"
"Dia tidak naik sepeda. Aku melihatnya turun dari mobil Sakura."
"Apa?!" Naruto mengeluarkan suaranya lantang.
Lee mengusap kedua telinganya yang kini berdengung sesaat setelah Naruto berteriak. "Reaksimu berlebihan."
"Ta..tapi, bagaimana bisa?"
"Kau pikir siapa yang membawa Tenten ke arena kalau bukan Sakura. Jika saja Sakura tidak membawa Tenten kesana, mungkin kini rumahmu tengah sibuk untuk memperingati 7 hari kematianmu."
"Apa dia benar-benar telah berubah?" Lirih Naruto.
"Apa yang kau katakan? Apa kau tidak mau melihat panda manismu?" Goda Lee.
oOo
Bel masuk berbunyi tepat pukul 7 pagi. Semua siswa yang berada di luar kelas berhamburan masuk dan menduduki tempatnya masing-masing. Berbeda dengan Naruto, Tenten, dan Sasuke yang di giring oleh Kakashi untuk masuk kedalam ruangan Tsunade.
Tiga siswa itu duduk tepat di hadapan Tsunade dalam diam. Tidak sepatah kata pun keluar dari bibir mereka. Sementara Kakashi masih santai berdiri di samping Tsunade.
Kepala sekolah berambut pirang tersebut menutupi sebagian wajahnya menggunakan kedua tangannya denga siku ia jadikan sebagai penyangga sembari menatap 3 siswanya secara bergantian. Sedetik kemudian, tangan kanannya meraih minuman di sampingnya dan meneguk isinya perlahan.
"Jadi, apa penyebab semua ini?" Tsunade mulai bertanya.
Tidak ada jawaban yang Tsunade dengar. Hanya hembusan nafas yang terdengar tidak teratur dari mereka bertiga. Tsunade kembali menyandarkan tubuhnya tanpa melepas mata dari ketiganya.
"Tidak ada yang memberi jawaban? Baiklah, aku akan bertanya pada Kakashi. Kurasa dia tau apa yang terjadi. Dan mungkin, dia akan menambahkan sedikit bumbu-bumbu pada ceritanya nanti agar hukuman yang akan kalian dapatkan menjadi lebih berat." Wanita itu memutar kursinya menghadap Kakashi.
"Baiklah Tsunade-sama." Kakashi mulai menjelaskan. "Jadi…"
"AKU YANG BERSALAH. JADI, AKULAH YANG PANTAS MENERIMA HUKUMAN." Kata mereka bertiga serempak.
Kakashi dan Tsunade segera memalingkan kepala terkejut mendengar pengakuan yang keluar dari bibir mereka secara bersamaan. Sasuke, Naruto, dan Tenten saling menatap satu sama lain. Mereka tidak menyangka, akan mengucapkan dan memiliki pemikiran yang sama.
"Aku yang memulai semua ini. Jadi, aku yang akan bertanggung jawab." Sasuke menatap Tsunade.
"Tidak Tsunade-sama, akulah yang paling bersalah dalam kasus ini. Karena jika bukan karena kehadiranku, semua ini tidak akan terjadi." Kata Tenten.
"Bukan. Bukan Tenten yang bersalah. Ini semua karena aku. Jika saja aku tidak memanas-manasi Dobe itu, semua ini tidak akan terjadi." Balas Naruto cepat.
"Teme!" Sasuke menaikkan suaranya satu oktaf sembari melempar death glearnya pada Naruto.
"Jangan mulai!" Teriak Tenten yang duduk di antara dua lelaki itu.
"Baiklah. Aku sudah memikirkan hukuman yang pantas untuk kalian." Kata Tsunade.
"Jadi.. sampai kapan kami harus melakukan ini?" Naruto menatap malas ke arah tukang kebun sekolah sembari mengenggam gagang pel di tangannya.
"Tentu saja sampai semuanya bersih." Jawab tukang kebun bernama Tamachi itu santai.
"Berapa lama?" Sasuke ikut bertanya.
"Mungkin kalian akan menghabiskan hari ini untuk membersihkan toilet ini." Tamachi menyerahkan beberapa botol pembersih porselen pada Sasuke dan Naruto. "Selamat bekerja." Tamachi meninggalkan dua lelaki itu di depan toilet belakang sekolah yang usang.
"Cepat kerjakan. Aku tidak mau membuang waktuku di tempat seperti ini." Sasuke menyapukan matanya ke setiap sudut toilet.
Naruto tertawa renyah. "Meskipun bau, kotor, dan menjijikan, tapi aku suka dengan tempat ini." Naruto mulai lantai toilet dan menyemprotkan cairan porselen di atasnya.
"Kau gila." Kata Sasuke singkat. Uchiha itu juga mulai membasahi selembar kain dan mulai mengelap kaca-kaca yang ada di sana.
"Jika saja kau menjadi diriku, kau pasti akan mengatakan hal yang sama."
"Jika aku jadi kau, sudah pasti aku akan membunuh diriku sendiri saat itu."
"Di sinilah tempatku dan Tenten pertama kali bertatap muka. Membuat perjanjian konyol, dan pada akhirnya semua ini terjadi."
Ucapan Naruto membuat Sasuke berhenti dengan sendirinya ketika telingnya mendengar nama Tenten di sebut. Pria emo itu memalingkan sedikit wajahnya pada Naruto yang masih sibuk dengan gagang pel di tangannya.
"Ten-ten?" Lirih Uchiha itu.
"Dia sudah mengakui perasaannya padaku. Meskipun aku kalah darimu, tapi Tenten tetap memilihku. Dan secara tidak langsung, akulah pemenang dari pertaruhan itu." Naruto berdiri dan menatap Sasuke.
"Kau sudah mendapatkannya. Lupakan soal taruhan itu." Sasuke menatap Naruto di belakangnya melalui pantulan kaca di hadapannya.
"Tidak bisa. Janji tetaplah janji. Meskipun Tenten menyuruh kita untuk melupakan masalah itu, tapi bagiku ini belum selesai."
"Baiklah, apa yang kau inginkan dariku?" Sasuke membalikkan tubuhnya dan sedikit menyandarkan dirinya pada wastafel di belakangnya.
"Sakura. Berikan dia kesempatan." Kata Naruto mantap.
"Tidak!" Balas Sasuke cepat.
"Kenapa?"
"Karena aku tidak menyukainya."
"Apa karena dia berbeda dengan Tenten?"
Sasuke diam. Ia membalikkan tubuhnya dan menundukkan kepalanya.
"Awalnya aku menyukai Sakura. Setelah beberapa tahun dia menghiraukanku, akhirnya aku memilih untuk melupakannya. Dan tanpa aku sadari, saat itu juga, Tenten hadir di kehidupanku. Lakukan hal yang sama. Lupakan perasaanmu pada Tenten dan cobalah untuk mengenal Sakura."
"Kenapa harus Sakura?" Tanya Sasuke.
"Pertanyaan sama yang aku ajukan... Kenapa bukan Sakura?"
"Karena…."
"Cobalah. Kau pasti akan menemukan kebahagiaanmu dengannya. Dia tulus mencintaimu. Kalian berdua memiliki banyak kesamaan. Aku yakin, kau juga perlahan akan merasakan hal yang sama." Naruto menepuk bahu Sasuke dan kembali melanjutkan pekerjaanya.
"Apa kau benar-benar serius mencintai Tenten?" Tanya Sasuke dingin tanpa menatap Naruto.
"Pertanyaan yang sangat bodoh. Tanpa jawaban dariku pun, kau pasti tau."
"Jika benar begitu, tidak ada salahnya jika kau mengajaknya ke…"
"Kemana?"
Uhuk..uhuk..uhuk..
Debu-debu yang menempel pada buku biologi, mengepulkan asap tebal ketika gadis bermata cokelat gelap tersebut meniup permukaanya. Membuatnya terbatuk-batuk karena tanpa sengaja menghirup debu tersebut. Setelahnya, tangan kanan Tenten meraih kain yang ia letakkan di sampingnya dan menyapukan kain tersebut pada setiap sisi buku yang ada di tangannya.
3 jam waktu yang Tenten habiskan untuk membersihkan setiap buku yang ada di perpustakaan ini. Sekitar 75 buku selesai di bersihkan oleh Tenten. Ia masih harus membersihkan 4 rak lagi yang setiap raknya berisi 100 buku tebal dan berat.
Gadis itu menghela nafasnya panjang dan berat. Membersihkan sebagian buku dari satu rak saja sudah menghabiskan energi dari sarapan yang ia dapat tadi. Berapa piring nasi yang ia butuhkan untuk membersihkan buku-buku yang lain?
Debu dari buku dan juga keringat yang mengalir sejak tadi membuat wajah gadis itu terlihat sedikit kumal. Sesekali ia mengusap wajahnya menggunakan punggung tangannya. Untuk menghibur diri, ia juga bersenandung lirih.
Srek..
Ia memalingkan wajah ke sebelahnya dan sudah mendapati gadis berambut indigo duduk disana lengkap dengan kain lap yang entah ia dapatkan darimana. Satu persatu Hinata mengelap buku-buku di atas rak dan menyisihkan buku yang sudah bersih di atas meja. Tanpa bicara, tanpa menatap kawannya yang berdiri mematung di sampingnya.
"Jangan tatap aku. Cepat selesaikan. Ada yang ingin kubicarakan padamu." Kata Hinata tanpa melirik Tenten sedikitpun.
"Hi-nata?"
"Apa kau tidak mendengarku tadi?"
"Ba..baik.." Tenten lekas mengambil satu buku tebal dan melanjutkan hukumannya berharap waktu cepat berlalu dan masa hukumannya berakhir.
oOo
Lalu lalang pengunjung salah satu café ternama di mall tak lantas membuat dua manusia yang duduk di ujung café terganggu. Malah semakin lama, perbincangan mereka terasa semakin seru dan menyenangkan. Sesekali sang gadis melempar muka kearah lain ketika sang pria berusaha untuk menggodanya. Namun juga beberapa kali sang gadis sempat di buat dongkol karena ia juga tak luput mendapat ejekan kecil dari si pria.
"Kau cantik." Puji Naruto menatap Tenten penuh arti.
"Benarkah?" Tangan kanan gadis itu yang sebelumnya berada di atas meja ia gunakan untuk menutupi rona merah di pipinya.
"Tapi bukan karna itu aku menyukaimu."
Mata gadis itu melebar sembari memiringkan sedikit kepalanya heran. Memikirkan apa maksud dari perkataan pria di hadapannya.
"Lalu?"
"Alasan pertama mengapa aku menyukaimu adalah.. Karena kau gadis pertama yang membuatku merasa, Sakura tidak sebanding denganmu."
"Jangan bergurau." Tenten tertawa renyah.
"Apa aku terlihat sedang bergurau?" Naruto menatap Tenten lekat.
"A-aah, baiklah. Hentikan tatapanmu itu." Kata Tenten tersipu.
"Hei, kudengar kau menghabiskan waktu istirahat tadi bersama Hinata. Apa kalian sudah baikan?"
"Aku tidak tau." Jawab Tenten lemah. "Aku merasa tidak nyaman jika bertemu Hinata sekarang."
"Maaf. Aku tidak bisa berbuat apa-apa." Lirih Naruto menatap lemah gadis itu.
"Bukan salahmu. Kau benar, kita tidak dapat memilih cinta. Sekuat apapun kau berusaha."
"Lalu, apa saja yang dia katakan?"
"Dia hanya bilang, mulai saat ini, dia mencoba untuk melupakanmu. Ia tau, hal itu akan memakan waktu yang lama. Tapi dia bilang akan terus mencoba."
Naruto tidak bereaksi. Ia bingung harus memberi jawaban seperti apa. Ia merasa bersalah pada Hinata, tapi di sisi lain ia tidak bisa memaksa hatinya untuk memilih Hinata.
"Jadi, apa yang terjadi dengan Sasuke selanjutnya? Aku harap, kalian berdua membicarakannya tadi." Tenten memandang Naruto yang masih diam menatapnya.
"Aku memintanya untuk memberikan kesempatan pada Sakura." Jawab Naruto mengedikkan bahunya santai.
"Lalu apa jawaban Sasuke?"
"Dia bilang akan mencobanya. Jika gagal, mungkin dia berniat untuk kembali merebutmu dariku."
"Dan kau akan menyerahkanku padanya?" Goda Tenten.
"Tentu tidak. Hanya ada satu panda cerewet seperti dirimu. Kau spesies langka. Mana mungkin aku sia-siakan."
"Katakan sekali lagi jika ingin kubereskan kau sekarang juga!" Rahang gadis itu terlihat mengeras.
"Baiklah, aku tidak akan mengatakan hal itu lagi. Bunuh aku jika aku mengatakan hal seperti itu lagi." Tatapan takut jelas tampak di raut wajah pria pirang itu.
"Lupakan saja." Tenten melempar wajah dongkol.
"Tidak lama lagi ujian sekolah akan tiba. Bagaimana menurutmu?"
"Bagaimana apanya? Biasa saja." Mata gadis itu masih tak menatap lawan bicaranya. Melainkan sibuk memainkan sedotan jus alpukat miliknya.
"Bagaimana jika selama ujian, kau yang datang kerumahku?"
"Untuk apa?"
"Tentu saja belajar bersana Panda. Apa lagi?"
"Tidak." Gadis itu membuang muka.
"Kenapa?"
"Jika aku membimbingmu, sebelum ujian sekolah tiba, aku sudah stress terlebih dahulu."
"Aku janji akan bersungguh-sungguh. Tapi jika itu bersamamu."
"Tidak mau."
"Jika hari terakhir ujian usai, aku akan mengajakmu ke suatu tempat." Naruto menaikkan sebelah alisnya menatap Tenten.
"Kemana?"
"Berjanjilah dahulu, kau akan menjadi pembimbingku."
"Lupakan saja."
"Baik jika itu maumu. Jika Sasuke tau kau tidak mau kesana, mungkin dia akan kecewa."
"Sasuke?" Tenten beralih pada Naruto.
Naruto mengangguk santai. Kedua tangannya ia lipat sembari menatap gadis yang jaraknya tak kurang dari 1 meter di hadapannya. "Bagaimana?"
"Baiklah, hanya selama ujian bukan?"
"Tentu."
.
.
.
.
.
(Satu Bulan Kemudian)
Pukul 10 tepat. Bel pulang telah di bunyikan beberapa menit yang lalu. Menandakan berakhirnya waktu sekolah sekaligus berakhir pula masa ujian yang harus para siswa lalui jika mereka ingin dinyatakan lulus dari bangku sekolah.
Semua siswa segera berhamburan keluar dari kelas mereka masing-masing. Beberapa diantara mereka melompat girang menerima kenyataan bahwa ujian yang selama ini menjadi momok menakutkan bagi mereka berhasil di lalui. Bukan hanya siswa dengan kecerdasan di bawah rata-rata saja yang berpikir ujian adalah momok. Namun para siswa cerdas dan berprestasi sekalipun terkadang juga berpikran sama.
Namun kini, mereka hanya tinggal menunggu pengumuman kelulusan dan menantikan acara wisuda yang tak lama lagi akan segera di adakan. Senang karena mereka semua berhasil mengerjakan soal ujian tanpa halangan. Namun mereka juga bersedih, karena sudah pasti akan berpisah dengan teman mereka yang sudah lama di kenal. Bahkan hingga ada yang sudah saling mengenal sejak mereka duduk di bangku taman kanak-kanak. Tapi apa boleh buat, waktu terus berjalan. Keputusan seperti apa yang akan mereka ambil, segera menentukan berpisah atau tidaknya mereka dengan para sahabatnya.
Hal yang sama juga di rasakan oleh Tenten. Meskipun selama bersekolah di sini ia memiliki banyak musuh akibat dari hubungan pertemanannya dengan Sasuke dan Neji, tapi baginya perpisahan adalah suatu hal yang paling menyakitkan.
Satu tangan menutupi kedua matanya dari arah belakang. Kedua tangannya otomatis ia naikkan untuk meraba dan coba menebak tangan siapa itu. Awalnya ia berpikir itu adalah tangan Hinata, tapi jika di lihat dari bentuknya seperti tangan laki-laki. Apakah Naruto? Sepertinya bukan. Tangan Naruto memang cukup besar, tapi tidak sampai mengeluarkan urat-urat seperti ini. Apakah?
"Sa-suke?" Lirih Tenten.
"Kau masih mengenalinya. Baguslah, itu artinya kau tidak mencoba untuk melupakanku." Bungsu Uchiha itu beralih kehadapan Tenten.
"Mana mungkin aku melupakanmu." Tawa ringan keluar dari bibir Tenten.
"Dimana dia? Kupikir tadi kau bersamanya."
"Oh, dia sedang membeli minuman di kantin."
"Oh. Ah, ngomong-ngomong, selamat. Kau sudah menjalankan kewajibanmu sebagai pelajar."
"Ah, kau juga selamat. Aku yakin, kau akan menyamai rekor Itachi-san di sekolah ini. Mendapat nilai tertinggi."
"Tidak. Aku tidak secerdas Itachi." Balas Sasuke cepat.
"Tapi kau berprestasi bukan? Jangan merendah, kau dan Itachi-san memiliki kelebihan masing-masing." Gadis itu memutar ujung tali tasnya.
"Hm, terimakasih." Sasuke mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Hei, bagaimana kabarmu?"
"Kabarku? Seperti yang kau lihat. Aku baik-baik saja." Kata Tenten santai. "Dan.. bagaimana dengan kau? Apa kabar dengan Sakura juga? Apa kalian sudah…"
"Belum." Jawab Sasuke cepat. "Aku sedang berusaha untuk membuka hati pada Sakura. Aku selalu berharap, Sakura bisa menjadi seperti dirimu. Tapi pada kenyataannya, Sakura adalah Sakura. Dan kau adalah kau. Kalian dua wanita yang berbeda."
Tenten diam. Kini ia merasa, dirinya adalah gadis paling jahat di muka bumi ini. Membuat pria sebaik Sasuke patah hati hingga sulit membuka dirinya untuk gadis lain. Namun ia juga tak bisa berbuat apapun. Yang bisa ia lakukan kini hanyalah berdoa dan berharap, semoga Sasuke mendapatkan gadis yang lebih baik darinya.
"Baiklah, aku harus segera pergi."
"Kemana?"
"Bukankah kalian berdua menyuruhku untuk memberi kesempatan pada Sakura? Aku ada janji dengannya sekarang." Pria itu berjalan mundur, perlahan menjauhi Tenten yang masih nyaman dengan posisinya, bersandar pada pilar sekolah.
"Ah, baiklah. Semoga berhasil." Tenten melambaikan tangannya.
"Apa yang kalian bicarakan?"
"Ha.." Teriak Tenten terkejut ketika ia mendapati Naruto sudah berada di belakangnya.
"Kau kenapa?" Lagi, Naruto menatap kekasihnya dengan tatapan bodoh miliknya.
"Kau membuatku tekejut. Baka!" Kata Tenten menaikkan suaranya.
"Aaah…" Naruto menanggapi santai.
Gadis itu merebut kasar satu botol minuman dari tangan Naruto kemudian meneguk kasar isinya. "Apa yang akan kau lakukan selanjutnya?"
"Mengajakmu ke suatu tempat." Jawab Naruto.
"Bukan itu. Maksudku, apa yang akan kau lakukan setelah ini?" Gadis itu memutar bola matanya malas.
"Oh. Mungkin aku akan ke New York. Menadaftar di Universitas ternama, menjadi mahasiswa berprestasi, kemudian pulang dan meneruskan bisinis keluarga."
"Kau akan pergi?" Tanya Tenten lirih.
"Tentu saja tidak bodoh. Aku akan tetap disini. Bersamamu, menjagamu sampai kapanpun."
Plukk…
Botol minuman yang tadinya berada di tangan Tenten, kini sudah beralih pada kepala Naruto. Gadis itu segera melenggang pergi setelah dengan santainya ia menimpuk kepala kekasihnya tanpa perasaan berdosa.
"Baka!"
.
.
.
.
Seorang wanita paruh baya menuangkan meletakkan beberapa cangkir teh di atas meja ruang tamu. Sesaat setelahnya, wanita itu beralih dan duduk pada sofa kosong di sudut dinding. Kerutan di sekitar mata dan dahinya semakin terlihat jelas ketika wanita itu tertawa menyambut tamunya yang duduk tepat di hadapannya.
"Rasanya sudah lama sekali kita tidak kemari." Kata Kurenai menyapukan fokusnya ke setiap sudut rumah.
"Maaf, kami sangat sibuk hingga tidak dapat menyempatkan waktu berkujung kesini." Tawa kecil keluar begitu saja dari bibir Asuma.
"Tidak apa-apa. Saya mengerti. Dan, terimakasih karena kalian berdua masih membantu keuangan panti ini dan masih berkunjung kemari." Senyuman tak juga terlihat hilang dari wajah putih Tatsuya yang sudah mengendur.
"Itu bukan masalah Baasan. Selama kami mampu, kami akan terus membantu." Sahut Kurenai.
Kedua orang tua Tenten masih berbincang dengan Tatsuya di ruang tamu. Sedangkan adiknya, seperti biasa. Bermain videogame bersama Mamoru dan yang lainnya di kamar. Dan Tenten. Kini ia berdiri di ambang pintu panti. Ia berjalan kesana kemari sembari mengigit kuku ibu jarinya sembari berdoa semoga tidak terjadi apapun nanti.
Takut, khawatir, dan bingung. Itulah yang gadis itu rasakan ketika sang kekasih mengabari dirinya akan segera menuju panti dengan membawa serta kedua orangtuanya. Apa yang sebenarnya pria bodoh itu pikirkan? Kenapa ia sampai berpikir akan membawa Minato Jiisan dan Kushina Baasan kemari? Apalagi rencana bodoh yang akan ia tunjukkan padanya kini?
Hampir sepuluh menit berlalu, sepertinya apa yang Tenten khawatirkan tidak akan pernah terjadi. Buktinya ia sama sekali tidak melihat mobil lain yang masuk ke halaman panti selain mobil miliknya. Yang ia lihat sejak tadi hanya beberapa orang yang lalu lalang entah akan menuju kemana itu urusan mereka. Ia beranafas lega dan segera melangkahkan kakinya masuk.
Tiinn..
Bagus. Kini ia mendegar suara klakson mobil dari arah luar. Langkahnya terhenti seketika itu juga tepat setelah ia beberapa langkah meninggalkan pintu. Tenten kembali berbalik dan sudah mendapati dua mobil dengan warna berbeda terparkir dengan indah di samping mobilnya.
Seorang wanita dewasa berambut merah panjang turun terlebih dahulu dari mobil berwarna hitam mengkilat, dan di susul dengan pria dewasa berwajah tampan dan beribawa. Sedangkan untuk pengemudi mobil yang lainnya, ia tidak perlu lagi menebak. Sudah pasti itu adalah pria bodoh yang kini berstatus sebagai kekasihnya.
"Hallo Tenten, bagaimana kabarmu?" Wanita berparas cantik itu menyunggingkan senyum manisnya pada Tenten yang masih membeku di tempatnya.
"Ba-baik Baasan." Tenten tersenyum samar.
"Bukan dia yang harus kalian temui Kaasan." Sela Naruto tidak sopan. "Masuklah, kedalam."
Minato dan Kushina tersenyum sesaat pada Tenten setelah akhirnya mereka berdua melenggang masuk menemui orang yang putranya maksud.
"Apa yang kau lakukan?!" Bisik Tenten geram.
"Aku hanya mencoba untuk membantu. Jangan tegang seperti itu." Balas pria itu santai.
"Paling tidak katakan padaku, apa tujuanmu membawa orangtuamu kemari?!"
"Kau akan tau setelah ini. Mari masuk, Pandaku." Tangan kanan pria itu merangkul bahu Tenten dan mendorong paksa gadis itu untuk masuk kedalam.
oOo
Bunyi knop pintu tua yang di tekan menyeruak masuk ke dalam telinga Tenten. Beberapa saat kemudian, ia melangkah pelan ke arah ayunan di belakang rumah dan duduk di atasnya sembari menganyun pelan benda kayu tersebut. Matanya menatap langit pukul 10 pagi yang masih sangat cerah dan sedap di pandang mata. Angin sepoi-sepoi yang berhembus membuat dirinya memejamkan matanya perlahan hingga akhirnya tertutup sempurna.
Ayunan yang Tenten duduki mengayun pelan dan mengeluarkan suara decit kecil. Menandakan ada seseorang yang ikut duduk di sampingnya. Tenten tak lantas membuka matanya, karena ia tau betul siapa orang yang kini duduk di sebelahnya.
Naruto meletakkan tangan kanannya di atas sandaran lalu ia bentangkan hingga melwati tubuh Tenten yang berada di bawahnya. Laki-laki itu menatap lama gadisnya yang masih tetap pada posisinya. Ia lalu mengalihkan pandangannya dan ikut memejamkan mata merasakan hembusan angin yang menerpa mereka berdua.
"Terimakasih." Tenten mengeluarkan suaranya masih dengan posisi sebelumnya.
"Untuk?"
"Karena kau, kini Momo akan segera sembuh." Mata hazel Tenten terbuka dan mengalihkan mata pada Naruto yang masih terpejam.
"Bukan hal yang besar. Aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan."
"Tapi tetap saja aku harus mengucapkan terimakasih padamu. Terimakasih juga pada orangtuamu yang mau ikut menyumbangkan sebagian penghasilan mereka pada panti ini."
"Mereka berdua juga berterimakasih padamu. Karena berkat kau, kini aku menjadi aku yang memiliki tujuan hidup dan haus akan masa depanku. Tidak bisa kubayangkan jika seandainya aku masih menjadikan Sakura sebagai prioritas utamaku." Naruto tertawa renyah.
"Syukurlah jika kau mempunyai pemikiran seperti itu. Aku berharap yang terbaik darimu."
"Aku juga."
Satu kecupan hangat mendarat lama pada puncak kepala Tenten. Gadis itu membiarkan pria di sampingnya melakukan hal itu selama yang ia mau. Beberapa saat setelahnya, ia merasakan sebuah benda kenyal bersandar di tempat yang sama.
"Jadi, bisakah aku menepati janjiku sekarang?" Tanya Naruto sedikit menunduk.
"Janji apa?"
"Kau melupakannya?"
"Aku tidak melupakannya. Aku hanya tidak ingat."
"Sebelum ujian, aku pernah berjanji akan mengajakmu ke suatu tempat. Kau ingat sekarang?"
"Ah, iya. Jadi, kapan kita akan pergi?"
"Tentu saja sekarang."
"Se-sekarang?"
"Hn, kenapa? Apa ada masalah?"
"Apa tempatnya jauh?"
"Mungkin akan memakan waktu berjam-jam untuk sampai kesana?"
"Memangnya dimana?"
"Kau akan tau nanti."
Naruto menarik tangan kanan Tenten meninggalkan ayunan yang baru saja mereka duduki. Pria itu lalu membawa Tenten menuju ruang tamu tempat semua orang berkumpul. Mata Naruto menelusuri setiap sudut ruangan memastikan seseorang yang ia cari berada di sana. Naruto menaikkan dagunya ketika ia tidak mendapati seseorang yang ia cari berada di ruang tamu.
"Baiklah, mari kita berangkat." Teriak satu suara.
Semua yang ada di ruang tamu termasuk Naruto segera beralih menatap ke sumber suara. Seorang bocah laki-laki berambut hitam dengan tas ransel di punggungnya berjalan menghampiri Naruto dan Tenten dengan membawa serta temannya.
"Kau mau kemana?" Sebelah alis Tenten naik melihat tingkah laku adiknya.
"Jadi kau tidak tau?" Bocah laki-laki itu memicingkan mata menatap kakak perempuannya yang masih terlihat bingung.
"Kau terlalu banyak bertanya Tenten. Kita pergi saja sekarang. Kami berangkat semua." Pamit Naruto sembari menarik Tenten, Konohamaru, dan Mamoru keluar.
oOo
Satu pria dan satu gadis yang duduk di bangku bagian depan saling diam. Sedangkan dua bocah laki-laki yang duduk di bangku bagian belakang, sejak berangkat sudah sangat berisik. Sedikit mengurangi rasa bosan Naruto ketika sedang mengemudi. Mengingat gadis di sampingnya sama sekali tidak mengeluarkan suara. Sekali bertanya, gadis itu menjawab dengan jawaban yang sangat singkat.
Mereka berempat menempuh perjalanan hampir 4 jam lamanya. Dua bocah kecil yang sedari tadi sangat berisik sudah tertidur pulas di belakang. Sedangkan Naruto masih konsentrasi mengemudi, dan Tenten. Gadis itu sejak tadi hanya menatap keluar jendela tanpa menghiraukan suara-suara berisik di sekitarnya. Sesekali ia menghela nafas berat. Memikirkan kemana Naruto akan membawanya pergi? Kenapa harus sampai melewati jalan tol? Sejauh apa sebenarnya tempat itu sampai ia harus membawa Konohamaru dan Mamoru? Dan sepertinya, ia pernah ingat melewati jalanan ini.
"Apa yang kau pikirkan?"
"Kau akan membawa kami kemana?" Akhirnya Tenten menatap pria di sampingnya.
"Kau akan segera tau."
Hanya jawaban yang di dapat Tenten. Ia menatap Naruto malas dan kembali menghela nafasnya berat. Sedangkan Naruto, ia hanya tertawa kecil melihat tingkah gadisnya.
Naruto meminimalkan laju kendaraanya ketika ia hendak memasuki halaman sebuah rumah yang berukuran cukup besar. Ia lantas mematikan mesin mobilnya dan membangunkan dua bocah yang tadi tertidur lelap lalu keluar. Pria itu tersenyum lega sembari menaikkan kedua tangannya setinggi mungkin untuk sedikit melemaskan ototnya yang sedikit kaku.
Tenten keluar dari mobil dengan bibir membeo. Sangat Nampak jelas raut wajah terkejut dari gadis itu ketika melihat objek di depannya.
"Kenapa- apa yang terjadi? Bagaimana bisa?"
"KITA SUDAH SAMPAI." Kata ketiga laki-laki itu bersamaan.
.
.
.
.
Seorang gadis bermata lavender tengah berjalan menuju taman belakang keluarga Hyuuga hendak menghampiri kakak sepupunya yang berada di sana. Pria itu duduk merasakan hembusan angin pagi dengan mata terpejam. Kedua tangannya ia bentangkan di atas sandaran bangku. Tepat di sampingnya, ia meletakkan sebuah bingkai foto berisi gambar sepasang suami istri dengan satu anak laki-laki berada di pangkuan si wanita. Ketiganya tersenyum menatap kamera di depannya. Tepat di sampinya, tergeletak sebuah mainan kayu berbentuk mobil dengan ukiran nama 'Hyuuga Neji' di setiap sisi bagian pintu monil tersebut.
Hinata duduk di sisi bangku yang bebas dari benda-benda milik Neji. Ia menggeser sedikit duduknya dan menatap saudaranya tersebut nanar. Beberapa kali ia memperhatikan foto dan Neji bergantian. Anak laki-laki dalam foto tersebut terlihat tersenyum bahagia. Sedangkan Neji, juga sedang tersenyum sekarang. Tapi sangat jelas terlihat, senyuman tersebut memiliki arti yang jauh berbeda.
"Neji-nii.." Lirih Hinata.
"Sudah 14 kali Hiashi-sama mengadakan acara seperti ini di tanggal dan bulan yang sama. Tidak terasa, sudah selama itu ternyata." Kata Neji tanpa membuka pejaman matanya.
"Mereka pasti bangga memiliki anak laki-laki seperti Neji-nii. Kau sama sekali tidak memiliki celah."
"Banyak sekali sebenarnya celah dalam diriku yang orang lain tidak ketahui."
"Tapi kau berusaha menutupinya dan kau berhasil. Semua orang beranggapan, kau adalah manusia yang sempurna."
"Aku tidak mau menjadi sempurna. Lebih tepatnya, aku tidak mau menjadi sempurna untuk diriku sendiri tanpa ada orang lain yang bisa menjadi tempatku berbagi..."
"Aku tau, akan mengarah kemana pembicaraan ini." Sela Hinata membuat pemuda Hyuuga itu membuka mata dan menatap gadis di sampingnya.
"Hinata…"
"Maaf neji-nii, tapi seperti yang kukatakan sebelumnya. Aku tidak bisa… Selama ini rasa cinta kasihku padamu hanya sebatas rasa sayang seorang adik pada kakaknya. Sekalipun aku tidak pernah berpikir untuk mencintai Neji-nii lebih dari itu. Maafkan aku."
"Aku tau. Tapi kenapa kau tidak mengatakan hal seperti itu sejak awal? Ketika kita masih berusia 15 tahun. Saat dimana aku untuk pertama kalinya mengatakan perasaanku yang sesungguhnya. Kau membiarkanku hidup dalam bayang-bayang cintamu. Membuatku terus berharap akan dirimu selama lebih hampir 4 tahun. Selama itu, kau tidak memberiku kepastian akan hal itu." Kata Neji dengan suara baritonnya yang terdengar sangat berat namun santai.
"Jujur, aku tidak tau harus menjawab apa saat itu. Neji-nii menyatakan perasaanmu padaku, dan di hari yang sama pula Tenten mengatakan hal yang serupa."
"Ten-ten? Ada apa denganya?" Dahi Neji berkerut mendengar nama Tenten ikut terseret ke dalam pembicaraan ini.
"Sejak kita berada di bangku taman kanak-kanak, Tenten sudah sangat mengagumi dirimu. Sampai pada akhirnya dia berkata kalau dia menyukai Neji-nii. Aku tidak mau melihat Tenten sakit hati jika aku menerima Neji-nii." Jelas Hinata.
"Bagaimana denganmu? Dia juga sudah menyakitimu bukan?"
"Tapi jika sejak awal Neji-nii tidak melulu membicarakan aku di depan Tenten, ini semua mungkin tidak akan pernah terjadi. Dia selalu merasa sesak ketika Neji-nii membicarakan tentangku setiap bersama dengannya. Jika saja Neji-nii bisa sedikit lebih peka, kau akan tau bahwa sebenarnya Tenten menyukaimu. Tapi setelah bertahun-tahun dia merasa di hiraukan olehmu, ia memutuskan untuk melupakanmu dan mencari pengganti dirimu. Dan orang tersebut adalah Naruto. Naruto sangat mengerti akan perasaan wanita. Tidak seperti Neji-nii yang sangat dingin terhadap Tenten dan membiarkannya hidup dalam bayang-bayang cinta semunya padamu. Maka dari itu, aku lebih memilih mengalah dan membiarkan Tenten bersama dengan Naruto. Paling tidak, aku bisa menebus kesalahan Neji-nii yang membuatnya menderita selama bertahun-tahun." Jelas Hinata terisak.
"Apa aku sekejam itu?"
"Iya. Tapi itu dulu. Kini Tenten sudah mendapat apa yang ia inginkan. Kini giliranku untuk melupakan Naruto, juga Neji-nii yang harus melupakan perasaanmu padaku. Hanya hubungan saudara yang aku inginkan dari Neji-nii." Senyum manis terulas dari bibir gadis berambut Indigo tersebut.
oOo
Pukul 9 pagi waktu setempat. Naruto dan Tenten masih menelusuri jalan setapak yang cukup terjal dan licin. Hampir 30 menit mereka berjalan, namun Naruto belum juga menghentikan langkahnya. Pria itu terus saja berjalan sembari sesekali menengok kebelakang melihat Tenten yang kesusahan berjalan di atas jalanan terjal seperti ini.
Jujur saja, Tenten hampir gila semalam. Semalam suntuk ia memikirkan, apa tujuan naruto membawanya ke tempat ini? Kirigakure. Tempat dulu ia mengikuti turnamen karate bersama Tuan Uchiha itu. Kemarin ia juga sempat shock ketika Naruto menghentikan mobilnya di halaman villa tempat ia menginap ketika turnamen dahulu.
"Bisakah kita berhenti sebentar? Aku lelah." Keluh Tenten duduk di atas batu besar di samping sebuah pohon.
"Kita hampir sampai. Bertahanlah sebentar lagi." Balas pria itu menghampiri Tenten.
"Untuk apa kau mengajakku ke hutan seperti ini? Jangan bilang kau…."
Naruto berbalik kemudian duduk di samping Tenten. "Hei, singkirkan pikiran kotormu itu.. Aku hanya ingin membuktikan, apakah rumor itu benar."
"Rumor? Jangan katakan padaku, kita pergi sejauh ini untuk… Aaaah, kau gila!" Kedua tangan Tenten mengacak rambutnya frustasi. "Kau diam-diam bersekongkol dengan Konohamaru, Mamoru dan orangtuaku untuk mengajakku kemari. Kau merencanakan semua ini hanya untuk membuktikan sebuah rumor?!"
"Kenapa? Apa ada masalah?"
"Bukan begitu, hanya saja… apa kau tidak punya kesibukan lain hingga kau berpikir untuk kemari?"
"Sayangnya tidak Nona Uzumaki." Tatapan lembut di tampakkan oleh lelaki itu. Perlahan tubuhnya mulai mendekat. Namun belum sempat ia melakukan hal yang ingin ia lakukan, tangan Tenten sudah terlebih dahulu menjauhkan wajahnya.
"Nona Uzumaki?"
"Kenapa? Apa ada masalah dengan panggilan itu?"
Tenten diam. Ia tidak membalas perkataan Naruto dan lebih memilih membuang muka berharap rasa kesalnya sedikit berkurang dengan melihat berbagai tumbuhan yang tumbuh subur di sekitarnya.
Semua tumbuhan yang ada di sini terlihat sangat segar dan subur. Mungkin itu semua karena suasana hutan yang sangat memadai untuk jenis-jenis tanaman yang ada di sini. Diantara sekian banyak macam tumbuhan, satu tumbuhan atau lebih tepatnya bunga, yang menarik mata gadis itu.
Sebuah bunga dengan kelopak berwarna kuning cerah tumbuh pada tanah dengan kemiringan hampir 85 derajat. Ia lantas beranjak dari duduknya dan perlahan menghampiri bunga tersebut. Tenten menyentuh ujung kelopak bunga tersebut dengan matanya berfokus pada bunga-bunga sejenis yang tumbuh di sekitarnya.
Suara langkah kaki jelas Tenten dengar dari arah belakang. Sudah pasti itu Naruto. Siapa lagi manusia di sini selain kekasihnya. Pria itu meletakkan kedua tangannya di atas bahu Tenten kemudian ikut menatap objek yang menjadi perhatian gadis itu.
"Ada apa?" Tanya pria itu.
"Bunga ini indah. Tapi aku tidak tau namanya apa?"
"Bukankah itu lili?" Naruto menatap seksama bunga di hadapannya.
"Lili? Bukankah lili berwarna putih?"
"Apa kau pikir bunga lili hanya memiliki satu jenis?"
"Kau benar juga. Tapi, bukankah ini sangat cantik?... Entah kenapa, setiap melihat bunga, aku selalu merasa, mereka sangat mewakili setiap wanita." Senyum manis terulas dari bibir mungil Tenten. Gadis itu lalu membalikkan tubuhnya dan menatap kekasihnya yang berdiri di belakang diam.
"Apa kau berpikir sebuah bunga yang paling mewakili wanita?" Mata Naruto menatap lebih dalam mata gadisnya. Ia sedikit memicing sembari melipat kedua tangannya di depan dada.
"Kenapa? Apa kau memiliki pemikiran berbeda tentang kami?" Tanya Tenten penasaran.
"Aku tidak setuju jika bunga mewakili semua yang ada pada wanita. Aku tau, wanita dan bunga sama-sama menarik dan penuh pesona. Tapi orang yang berpandangan seperti itu seringkali melupakan poin bahwa bunga dapat di jamah, bahkan di petik oleh siapa saja.. Bunga yang konon sangat cantik tersebut hanya di hargai dengan beberapa lembar uang saja di pasar, dengan berbalut plastik tipis seadanya. Kalaupun di toko bunga ia di perlakukan dengan lebih baik, bunga tetap saja akan layu meningalkan semua keindahannya, beberapa waktu setelah di petik.."
Tubuh Tenten yang tadinya bersandar pada pohon di sampingnya kini mulai tegak dan berdiri di atas kakinya sendiri. Kedua tangannya terlipat sembari matanya memicing menatap lekat kekasihnya. Rasa penasaran akan pemikiran Naruto yang berbeda dari kebanyakan wanita yang menganggap diri mereka adalah bunga membuatnya tertarik. Ia sengaja tidak menyela agar Naruto segera melanjutkan penjelasan yang sepertinya sangat menarik.
"Aku lebih setuju jika wanita di samakan dengan berlian atau permata. Karena kedua batuan tersebut terbentuk melalui proses alami dan membutuhkan waktu yang sangat lama. Tekstur mereka yang sangat kuat dan keras. Mewakili sifat-sifat wanita kebanyakan yang kuat dan tegar ketika menghadapi kerasnya cobaan hidup. Keduanya juga harus di poles dengan proses yang rumit agar terlihat indah dan memiliki nilai jual yang sangat tinggi. Dengan begitu, mereka memiliki posisi yang sangat tinggi. Seperti halnya berbagai macam berlian dan permata yang di letakkan pada etalase mall-mall di tempat tertinggi. Dan tidak sembarangan orang boleh menyentuhnya."
Naruto mengakhiri penjelasannya sebelum menghela nafasnya panjang. Ia tersenyum melihat tatapan gadis di hadapannya yang menatapnya takjub. Mata Tenten berbinar mendengar penjelasan yang sangat manis keluar dari bibir Naruto.
"Kau sangat manis tuan Uzumaki." Kata Tenten lirih memeluk tubuh pria di depannya.
"Dan kau adalah sebutir berlian bagiku." Tangan Naruto ia rengkuhkan pada pinggan kecil Tenten membalas pelukan kekasihnya.
"Apa yang kalian berdua lakukan di sini?" Suara seorang wanita berhasil membuat pelukan mereka berdua terlepas.
Wanita tersebut berdiri tepat di belakang Naruto. Membawa wadah yang terbuat dari bambu berukuran cukup besar di tangan kanannya. Sedangkan tangan satunya, tengah sibuk membawa sebuah ember berisi pakaian. Wanita berparas cantik dengan balutan baju berwana putih tersebut, melempar senyumnya pada Naruto dan Tenten yang melihatnya heran.
"Apa yang kalian lakukan di hutan seperti ini?" Tanyanya sekali lagi.
"A-ku, kami sedang…"
"Jalan-jalan." Jawab Naruto menyela perkataan Tenten.
Wanita itu manggut-manggut mendengar jawabn dari Naruto. Senyum yang sedari tadi menghiasi wajahnya belum juga lepas sejauh ini. Ia sedikit membungkukkan tubuhnya guna meletakkan seember pakaian yang terlihat cukup berat di atas tanah.
"Lalu, kenapa Neechan ada di sini?" Tenten bertanya.
"Oh, aku baru saja selesai mencuci baju di sungai yang letaknya tak begitu jauh dari sini. Jika kalian mau, kalian boleh beristirahat sebentar di rumahku. Letaknya tidak begitu jauh dari sini." Tawarnya.
"Bagaimana menurutmu?" Bisik Naruto.
"Ah, terimakasih banyak Neechan. Kau sangat baik." Gadis itu tersenyum manis.
"Baiklah, ikuti aku."
Beberapa menit kemudian, Naruto dan Tenten sudah sampai di sebuah rumah kecil dan sederhana, namun terlihat nyaman. Di dukung dengan suasan hutan yang sangat asri dan tenang. Akan sangat menyenangkan jika saja mereka bisa lebih lama berada di sini.
"Ini rumah kami. Silahkan istirahat, aku akan membuatkan minuman untuk kalian." Katanya meninggalkan Naruto dan Tenten yang duduk di beranda depan rumah.
Sebongkah kayu berukuran besar yang sudah terlihat sedikit retak, terdapat pada sisi dalam halaman rumah ini yang tertutupi pagar kayu yang tingginya tak lebih dari satu meter. Tak jauh di sebelahnya, juga berdiri sebuah kayu yang di letakkan sedemikian rupa lengkap dengan tali yang membentang dengan kayu di sisi lainnya untuk menjemur pakaian. Begitu juga beranda yang kini di duduki Tenten dan Naruto. Tidak terlalu tinggi, namun lebarnya cukup untuk menampung dua pria dewasa jika mereka ingin tidur telentang di atasnya.
"Silahkan kalian minum. Maaf, kami tidak memiliki apapun untuk di berikan." Kata wanita tersebut meletakkan sebuah nampan berisi dua cangkir teh di antara Naruto dan Tenten.
"Terimakasih Neechan. Kau izinkan kami istirahat sejenak di sini saja, itu sudah lebih dari cukup. Neechan tidak perlu repot-repot."
"Aku belum tau siapa nama kalian?'" Wanita itu duduk di samping Tenten.
"Oh, perkenalkan. Aku Tenten Sarutobi, dan ini Uzumaki Naruto."
"Ah, aku Yugao. Apa kalian berdua sepasang kekasih?" Tanya Yugao menatap dua manusia di hadapannya bergantian.
"Hmh, begitulah Neechan." Jawab Tenten tersipu malu. "Apa Neechan tinggal seorang diri di sini?"
"Tidak. Aku tinggal bersama suamiku. Dia sedang mencari kayu bakar. Mungkin sebentar lagi dia akan pulang." Jawab Yugao. "Nah, itu dia." Yugao menunjuk seorang pria bertubuh tegap telanjang dada masuk ke halaman rumahnya dengan beberapa potong kayu ia letakkan di atas bahunya.
"Dia suamiku. Namanya Kozuki" Tunjuk Yugao ketika suaminya tersebut berjalan mendekati mereka.
"Konnichiwa Kozuki-san." Sapa Tenten, Sutoshi tersenyum.
"Berapa lama kalian tinggal di sini? Aku tidak melihat rumah lain selain rumah ini." Tanya Naruto menyapukan mata ke sekeliling rumah.
"Rumah kami adalah satu-satunya di sini. Kami sengaja membuat rumah di sini dan tinggal di hutan ini untuk mencari ketenangan." Kata Sutoshi.
"Kalian hidup di hutan? Bagaimana cara kalian memenuhi kebutuhan kalian?" Giliran gadis beramata hazel bertanya.
"Kami memanfaatkan apa yang ada di sekitar kami untuk memenuhi kebutuhan kami." Kata Yugao.
"A-apa yang membuat kalian lebih memilih untuk tinggal di hutan? Bukankah hidup di luar lebih menyenangkan?" Tanya Tenten.
"Terkadang, orang-orang berpikir dunia gemerlap dengan semua hal mewah yang ada di dalamnya membuat hidup menjadi bahagia. Tapi bagi kami, hidup dalam kesederhanaa namun saling melengkapi, jauh lebih indah dan menyenangkan." Yugao menatap suaminya yang duduk di sampingnya lekat.
"Apa kalian tidak memiliki anak?"
"Kami memiliki seorang putra bernama Amaru. Tapi saat berusia 4 tahun, dia di ambil oleh kedua orangtuaku." Jelas Kozuki lirih.
Klap..
Kedua mata Tenten terbelalak terkejut. Seakan ada kilatan cahaya terang yang menarabasa masuk kedalam indera pengelihatannya. Mendengar sekelumit cerita dari kedua orang di hadapannya, ia segera teringat dengan cerita nenek penjaga villa beberapa bulan yang lalu. Kehidupan Kozuki dan Yugao, sangat mirip dengan cerita yang ia dengar dari nenek.
'Baiklah Tenten, coba kau ingat lagi dan satukan semuanya.. Pertama, Seorang pangeran tampan, menikahi gadis hutan yang cantik dan anggun.' Tenten melirik dan menatap lekat Kozuki yang masih berbincang asik dengan Naruto. 'Alis tebal, hidung mancung, bibir tipis, dan tubuh tegap serta tinggi. Dia terlalu tampan untuk keadaan seperti ini.' Tenten beralih menatap Yugao. 'Wajah putih bersih, bentuk mata yang indah, bulu mata yang lentik, rambut hitam nan panjang, satu tahi lalat kecil di pelipis kirinya membuatnya semakin menarik. Sangat cantik.' Ia kembali memalingkan wajah dan berpikir lagi.' Kedua, mereka membangun rumah sederhana di tengah hutan.' Kembali mata Tenten ia sapukan ke setiap sudut rumah. 'Terakhir, mereka memiliki seorang putra dan konon ketika berusia 4 tahun, anak tersebut di ambil oleh kedua orang tua pangeran.. Jangan-jangan…' Keringat dingin mulai mengucur dari pelipisnya. Ia mengigit bibir bawahnya menahan rasa takut. Takut jika perkiraanya benar.
"Hei, kenapa kau diam? Apa yang kau pikirkan?" Kedua tangan Naruto mengguncang kecil tubuh Tenten.
"A-aah, ti-tidak. Tidak ada yang kupikirkan." Balas Tenten cepat. "Ja-jadi, sudah berapa lama kalian berdua tinggal di sini?" Tanya Tenten beralih kearah pasangan suami istri tersebut.
"Cukup lama." Jawab Yugao singkat.
"Ah ya, apakah kalian pernah melihat rumah sederhana di sekitar sini?" Tanya Naruto.
"Naruto!" Bisik Tenten menatap tajam pria itu. Naruto tidak menjawab, melainkan hanya mengedikkan bahunya singkat.
"Kenapa kalian menanyakan hal itu?" Kozuki bertanya balik.
"A-aaah, lupakan saja perkataan bodohnya. Jangan pedulikan dia." Sela Tenten tertawa renyah.
"Karena banyak rumor mengatakan, jika sepasang kekasih mendaki gunung ini dan melihat sebuah rumah sederhana di hutan, dapat di pastikan cinta mereka akan abadi. Apa itu benar?" Tanya Naruto lagi tanpa mempedulikan tatapan tajam Tenten.
"Jika banyak orang percaya akan hal itu, kami hanya bisa mendoakan saja. Semoga apa yang mereka harapkan menjadi kenyataan." Jawab Yugao melingkarkan kedua tangannya pada pinggang suaminya.
Baiklah, mendengar jawaban dari Yugao yang terdengar seperti sebuah clue dari semua pertanyaanya, semakin membuat tubuh Tenten merinding. Ia memejamkan matanya dan mengigit bibir bawahnya guna menahan semua rasa tersebut. Ia lalu menggeser sedikit duduknya pada Naruto dan mengeratkan genggamannya pada lengan pria itu. Naruto sempat melirik sekilas Tenten yang terlihat sangat aneh, namun ia urung bertanya karena dirinya lebih tertarik berbincang dengan Kozuki dan Yugao.
"Kalian pasangan suami istri yang sangat baik. Kalian juga terlihat sangat serasi." Kata Naruto tersenyum.
Satu detik.. dua detik.. tiga detik.. empat detik.. lima detik
"Eh tunggu.. Kau bilang, kalian hanya bisa mendoakan agar apa yang semua orang harapkan bisa menjadi kenyataan? Apa kalian…." Naruto melihat Yugao dan Kozuki bergantian dengan tatapan polos tanpa dosa miliknya.
Yugao dan Kozuki sedikit membungkukkan tubuhnya menahan tawa agar tidak keluar saat mereka melihat wajah polos Naruto dan juga wajah takut gadis di sampingnya. Beberapa saat setelah mereka berhenti tertawa dan membiarkan kedua manusia di hadapannya dengan kepala penuh pertanyaan, akhirnya Yugao buka suara.
"Rumah inilah yang mereka cari."
"APA?!"
Fix! Makasih buat para reader yg setia nunggu. Author ucapkan terimakasih sebesar nya krna udh sempatin diri baca fic amburadul Author ini (: Dan untuk fic "Tell Me" dan Fic requestan salah satu reader, menyusul ne ^_^ Maaf klo akhir fic ini kurg memuaskan atau yg lainnya. Author udh berusaha semaksimal mngkin. Sekali lagi mkasih ne ^_^ #bungkuk
