Thanks untuk review-nya: chansoo127, oktavian, aprilyarahmadani, yunkissjae, chiryunjae, azahra88, moon, de, jaena, Guest, nabratz, Guest, dan silent readers.

Terima kasih kalian sudah meluangkan waktu untuk membawa cerita ini.

Dan silahkan menikmati chapter selanjutnya.

Selamat membaca!

.

.

.

BLACK PARADISE II

Author:

yuunicorn

Genre:

Boys' love, Action, Sci-fi. Crime

Rating:

M

Cast(s):

Changmin. Yunho. Jaejoong. Yoochun. Junsu

Dujun. Kris. Luhan

Etc.

Disclaimer:

The casts belong to their own selves, except OC.

This story is inspired by Bloody Monday and The Amazing Spiderman, but the plot belongs to the author – yuunicorn

Warning:

No beta-read. No editing. Typo(s) everywhere

No Bash. No Flame

A/N:

Cerita ini adalah sequel dari fanfic Black Paradise. Jadi, bagi yang belum membacanya, tolong dibaca dulu. Jika tidak, jangan salahkan saya kalau kalian bingung.

.

.

.

August, 2012. Dubrovnik – Croatia.

Dubrovnik Summer Festival

Warna-warni cahaya kembang api terus terurai di atas langit malam Dubrovnik. Sementara warga Dubrovnik sendiri beramai-ramai menuju pelataran gereja St. Blaise yang berada di jalan utama kota tua tersebut yang saat ini tampak menjadi busy street sejak pagi hari. Mereka tentu tak ingin ketinggalan untuk menyaksikan pagelaran klasik semacam pegelaran teater, ballet, musik klasik, dan opera yang disajikan secara bergilir. Mereka yang sudah tiba di pelataran gereja segera mengambil tempat yang sudah tersedia disana, menunggu pagelaran yang akan dimulai.

"Ayolah, satu pertunjukan saja," pemuda berwajah oriental itu merajuk kepada temannya yang saat ini tengah menariknya menjauh dari pelataran gereja St. Blaise. "Damian, please,"

"Kita kesini bukan untuk senang-senang, Jaejoong." Damian memperingatkan pemuda berwajah oriental yang dipanggilnya Jaejoong. Dia tetap berjalan sambil menarik Jaejoong yang tampak enggan untuk melewatkan festival musim panas malam ini.

"Kau tidak asik, Damie,"

"Biar saja," celetuk Damian, kemudian melanjutkan, "lagi pula kita ke kota untuk membeli ini." Damian menggoyang-goyang kotak berukuran sedang yang dibawanya.

"Kau benar-benar tidak asik," Jaejoong mendengus, meskipun dia tetap mengikuti langkah Damian yang menuju mobil mereka yang terparkir di dekat sebuah toko roti.

"Kita beli roti dulu. Bagaimana?" ajak Damian, sekalian membuat Jaejoong tidak lagi merajuk dengan mentraktirnya roti kesukaan pemuda berwajah oriental itu.

"Belikan untuk Yoochun juga," Jaejoong menimpali dan dibalas anggukan oleh Damian.

Tak perlu berlama-lama berada di dalam toko roti, mereka segera pergi dari sana dan melajukan mobil menuju sebuah dermaga kecil. Seorang pemuda sudah menunggu mereka disana. Damian dan Jaejoong keluar dari dalam mobil untuk menghampiri pemuda yang tengah menunggu mereka.

"Hei, Marcus," Damian melempar kunci mobil kepada pemuda itu.

"Kalian lama sekali," ujar Marcus. Damian hanya menunjuk kearah Jaejoong sebagai alasan kenapa Marcus harus menunggu mereka cukup lama. "Kenapa? Dia merengek lagi ingin menonton pagelaran?" Marcus tertawa kecil, begitu juga Damian, membuat Jaejoong mendelik sebal kepada mereka.

"Sudah, sana pergi," usir Jaejoong sambil lalu. Dia berjalan menuju boat yang ada di tepi dermaga. "C'mon, Damie. Yoochun sudah menunggu kita,"

"Baiklah, kita pergi dulu. Katakan pada boss, kita akan menyelesaikannya secepat mungkin," Damian menepuk pundak Marcus sebelum pergi menuju boat yang akan membawa mereka menuju salah satu pulau – tempat dimana teman mereka bernama Yoochun sedang menunggu mereka.

.

.

.

"Biar kutebak, hyung pasti merengek ingin nonton pagelaran, kan?" pemuda berpipi chubby bertanya kepada Jaejoong.

"Tepat sekali, Yoochun," Damian menyeletuk sambil membenahi letak kaca preparat yang sudah terpasang pada mikroskop.

Jaejoong tidak berkata apapun, hanya menunjukkan raut wajah sebal saat membuka kotak yang tadi Damian bawa. Di dalamnya terdapat lima ekor tikus putih yang segera Jaejoong masukkan ke dalam kandang.

"Bagaimana perkembangan-nya?" Jaejoong bertanya saat dirinya memeriksa struktur sebuah organisme baru yang mereka kembangkan. Ada beberapa bagian dari struktur tersebut yang tidak bisa menyatu dengan bagian lainnya.

"Aku sudah beberapa kali mengujinya pada tikus-tikus itu dan hasilnya tidak memuaskan. Hanya bagian permukaan kulit yang terkelupas, tidak ada pendarahan yang berarti," Yoochun menjelaskan.

"Lalu antidote-nya?" Jaejoong kembali bertanya.

"Aku sedang coba menyesuaikan dengan hasil uji yang terakhir kali Yoochun lakukan," Damian menjawab sambil meneteskan suatu serum ke dalam tabung reaksi berisikan sample darah, kemudian mencatat hasil reaksi serum tersebut terhadap sample darah yang ada.

"Hyung, tolong masukkan satu tikus ke dalam ruang kedap udara," Yoochun menyuruh Jaejoong, sedangkan dia sedang mengisi spuit (alat suntik) dengan serum yang berbeda dari serum yang sedang Damian uji.

"Oh, Yoochun," panggil Damian saat melihat Yoochun hendak membuka ruang kedap udara. "Biar aku saja," pintanya.

"Eh?"

"Kau periksa antidote-nya," Damian memberi alasan.

"Baiklah," Yoochun menyerahkan spuit yang dibawanya kepada Damian. "Hati-hati melakukannya," Yoochun memperingatkan karena mereka tahu bahwa sesuatu yang sedang mereka kembangkan adalah sesuatu yang berbahaya.

"Kau tenang saja," Damian meyakinkan, kemudian masuk ke dalam ruangan tersebut. Dan Yoochun memeriksa antidote sesuai permintaan Damian.

Sementara Yoochun memeriksa antidote dan Jaejoong mengawasi Damian dari layar pemantau, Damian dengan hati-hati mengambil tikus putih yang ada pada kotak kaca yang ada di dalam ruang kedap udara tersebut. Dia perlahan menyuntikkan serum pada tikus tersebut, kemudian segera meletakkannya kembali ke dalam kotak dan menutupnya.

Damian beranjak meninggalkan ruangan tersebut, namun dia kembali berbalik saat teringat spuit yang dibawanya tadi masih tertinggal. Diambilnya spuit tersebut, tapi celaka – ujung jarum spuit tersebut tidak sengaja menggores permukaan kulitnya akibat ketidakhati-hatiannya. Damian terkejut, begitu pula Jaejoong yang melihatnya dari layar pemantau.

"AKTIFKAN PROTEKSI!" Damian berteriak dari dalam ruangan. Dia segera menutup akses ke dalam ruangan agar kedua temannya terlindung. Yoochun yang tidak mengetahui awal kejadian hanya mengikuti perintah Damian.

"NO! Damie!" Jaejoong berusaha menghentikan aktifasi perlindungan yang mulai membentuk perisai transparan yang menyelebungi ruang kedap suara.

"Hyung, hentikan!" Jaejoong berontak dalam kungkungan Yoochun. Dia tidak bisa membiarkan Damian terjebak begitu saja di dalam ruangan tersebut.

"Tidak, Chun. Kita harus menolongnya," Jaejoong menatap nanar layar pantau yang menunjukkan Damian tengah kesakitan akibat reaksi serum yang mengenai kulitnya.

Dari layar Jaejoong dan Yoochun menyaksikan bagaimana kulit dan daging Damian yang tampak terkikis sedikit demi sedikit hingga memperlihatkan bagian tulang pemuda itu. Belum lagi, tikus putih yang menjadi kelinci percobaan mereka juga menunjukkan reaksi yang sama. Kedua pemuda asia itu benar-benar tercengang dengan pemandangan itu. Inikah hasil dari penelitian yang mereka kembangkan bertahun-tahun atas perintah organisasi yang menaungi mereka? Sebuah organisme pembunuh yang mereka namakan virus X-Blood, yang bahkan antidote-nya belum bisa mereka sempurnakan?

"Hancurkan tempat ini!" Jaejoong mendesis. Namun sebelum itu, dia memasukkan semua data ke dalam sebuah chip. Dia tidak menghiraukan Yoochun yang entah berbicara apa kepadanya. Dia hanya tidak ingin kehilangan lagi bila penelitian mereka tetap dilanjutkan.

"Hyung?" Yoochun terdengar ragu saat memanggil Jaejoong.

"Dengar, Chun." Jaejoong bersuara. "Kita memang orang jahat, tapi bukan berarti aku sampai hati mengorbankan temanku sendiri, meskipun ini untuk kelancaran misi organisasi. Kau mengerti?"

"Tapi bagaimana kita menjelaskannya kepada boss?"

"Aku yang akan mengurusnya nanti. Sekarang kau ambil semua rekaman pemantau, lalu kita hancurkan tempat ini,"

Mau tak mau Yoochun menuruti perintah Jaejoong. Mereka benar-benar menghancurkan sedemikian rupa tempat tersebut agar organisasi mereka tidak bisa menemukan secuilpun data tentang virus yang mereka ciptakan. Dan langkah terakhir yang mereka lakukan adalah meledakkan tempat tersebut.

.

.

.

April 2014, Hokkaido – Japan.

Yunho semakin mengeratkan pelukannya setelah mendengar kisah masa lalu pasangan hidupnya – Jaejoong. Beberapa saat yang lalu sang terkasih tiba-tiba saja mengatakan ingin menceritakan salah satu potongan masa lalunya yang kelam saat mereka menikmati waktu berdua – berendam air hangat di dalam bathtub. Yunho tidak bodoh untuk mengetahui maksud Jaejoong yang tiba-tiba menceritakan masa lalunya. Semua ini berkaitan dengan masalah yang terjadi di Korea saat ini.

Well, mereka tentu saja mengetahui setiap kejadian yang terjadi di tanah kelahiran mereka, meskipun mereka kini tak lagi berada disana. Tidak mudah bagi mereka untuk lepas begitu saja dari bayang-bayang masa lalu. Mereka – setidaknya secara tidak langsung – tetap memantau keadaan disana, untuk mengawasi pergeragakan Athena yang menurut informasi yang mereka dapat kini berpusat di Seoul untuk sementara waktu.

"Yun," Jaejoong mencari posisi yang lebih nyaman dalam pelukan Yunho yang berada dibelakangnya. Yunho membalas dengan sebuah gumaman. "Bisakah kita abaikan semua ini dan hidup normal?"

"Aku rasa kita terlalu lama berendam," Yunho tak menggubris pertanyaan kekasihnya. Dia segera keluar dari dalam bathtub setelah sedikit menjauhkan tubuh Jaejoong yang bersandar padanya.

"Kau mengelak," Jaejoong yang masih berada di dalam bathtub mendongak – menatap datar Yunho.

"Dan kau tahu jawabannya tanpa kuberi tahu," Yunho membalas dengan tatapan tak kalah datar sebelum akhirnya mengangkat tubuh Jaejoong keluar dari bathtub. "Kita bicarakan lagi nanti,"

.

.

.

Jaejoong meletakkan asal berkas dan foto tentang petinggi Korea Selatan yang tewas akibat virus tanpa nama diatas meja. Yunho yang duduk berhadapan dengannya – yang juga sedang mencari informasi – mengerutkan dahi melihat Jaejoong yang sekarang mengetuk-ngetukkan jemarinya diatas meja.

"Ada apa?" Yunho bertanya. Seketika ketukan jemari Jaejoong berhenti.

"Ini bukan X-Blood!" Jaejoong memberitahu.

"Tell me what you got," Yunho langsung berucap tegas.

"Dalam rincian riwayat kematian korban ditulis bahwa korban tidak langsung meninggal setelah terinfeksi. Totol-totol merah di kulit adalah gejala awal sebelum akhirnya kulit mereka mengikis perlahan selama rentang waktu kurang lebih tujuh hari."

Yunho mengangguk paham dengan penjelasan kekasihnya, "Lalu?"

"Berbeda dengan X-Blood. Begitu kau terinfeksi, kau akan mati saat itu juga." Jaejoong menarik dalam nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan setelah bicara. Dia kembali teringat bagaimana Damian meninggal akibat virus tersebut.

Yunho segera berpindah duduk disamping Jaejoong. Direngkuhnya pria cantik itu ke dalam pelukannya. Yunho tahu bahwa Jaejoong-nya kembali teringat kematian sahabatnya yang bernama Damian.

"Kenapa?" Yunho bisa merasakan Jaejoong mencengkram erat bajunya. Diusap-usapnya dengan pelan punggung Jaejoong untuk meredakan emosi kekasihnya itu. "Kenapa mereka melakukan semua ini? Dan kenapa pula dulu aku menerima tugas itu? Menciptakan virus yang bahkan antidote-nya belum bisa aku temukan. Kenapa Yun-ah? Kenapa?"

Yunho tidak bicara apapun untuk menenangkan Jaejoong. Dia mengeratkan pelukannya dan memberikan kecupan-kecupan sayang pada puncak kepala sang terkasih.

"Tidak bisakah kita tidak usah ikut campur, Yun-ah? Biarkan saja NSS yang menyelesaikannya," Jaejoong meracau.

"Dan kau membiarkan semua orang disana bernasib sama seperti Damian?" celetuk Yunho. Jaejoong terkesiap.

"Yun-ah, aku —"

Yunho menangkup wajah Jaejoong dengan kedua telapak tangannya. Ditatapnya lamat-lamat kedua bola mata Jaejoong, "Jae-ah, anggap saja ini sebagai penebusan dosa. Selamatkan orang-orang itu dari Athena. Aku percaya kau bisa. Aku akan membantumu, sayangku." Yunho berucap tegas.

"A-aku tidak bisa."

"Kau bisa"

"Tidak, Yun-ah. Aku tidak bisa," Jaejoong menunduk. Dia ingin menangis saat ini juga mendengar perkataan Yunho yang meyakinkan dirinya bahwa dia bisa menolong ratusan orang disana, sedangkan dia sendiri merasa tidak mampu.

"Jae-ah?"

"Aku bahkan tidak bisa menyelamatkan satu nyawa, bagaimana mungkin aku bisa menyelamatkan orang-orang disana?"

"Kau yang terbaik," Yunho menyemangati. "Ajak Yoochun untuk membuat antidote-nya. Aku juga akan membantu,"

.

.

.

Vancouver, Canada.

Yoochun baru saja turun dari taxi yang berhenti di depan gerbang Pecinan (Chinatown). Dia langkahkan kakinya dengan santai memasuki daerah tersebut, meskipun tujuan sebenarnya dia ke tempat itu bukanlah untuk bersantai. Dia datang untuk menemui seseorang di salah satu restoran yang ada disana.

Pria chubby itu pun masuk ke dalam restoran yang menjadi tujuannya setelah puas berkeliling terlebih dahulu. Dia segera disambut hangat oleh salah seorang pelayan disana.

"Selamat datang, Tuan. Apakah Anda sudah memesan tempat?"

"Ky – maksudku Marcus. Aku datang untuk menemuinya," Yoochun memberitahu. Si pelayan yang mendengar nama yang Yoochun sebutkan langsung mengangguk paham dan mempersilahkan Yoochun untuk mengikutinya.

"Silahkan masuk. Tuan Marcus sudah menunggu Anda di dalam,"

Yoochun berterima kasih. Dia kemudian masuk ke dalam ruangan yang tampaknya sengaja dipesan oleh orang yang akan ditemuinya itu.

"Welcome, You Tian ge." Seketika sebuah suara menyambutnya. Seorang pemuda berwajah manis dan terkesan tengil tengah duduk santai disana.

Yoochun memutar bola matanya sebelum akhirnya mendudukkan dirinya di samping Marcus. "Bagaimana?" Yoochun langsung bertanya tanpa basa-basi.

"Santai, ge. Kau kan baru saja datang. Lebih baik kau makan atau minum dulu," Marcus menunjuk hidangan yang sudah dia persiapkan. Yoochun memilih untuk minum dan memakan beberapa kudapan kecil daripada makan makanan berat.

"Sekarang katakan, bagaimana hasilnya?" kembali Yoochun bertanya.

"Hanya ini yang aku dapat." Marcus menyerahkan sebuah kalung dengan bandul berbentuk kotak. Yoochun mengambil kalung tersebut, kemudian mengalungkan kelehernya.

"It's okay. You really help me, dude," Yoochun berterima kasih. "Ngomong-ngomong – dengan siapa kau kesini? Tidak mungkin dengan Paman Cho, meskipun aku tahu setiap bulan Paman Cho akan datang memeriksa restoran ini."

"Kau jenius, ge!" Marcus ber-hiperbola. "Aku memang datang dengan seseorang dan itu tentu bukan ayahku – Tuan Cho itu. Tidak – itu mimpi buruk kalau aku datang dengan beliau,"

Yoochun tertawa meledek. "Paman Cho memang lebih mengerikan daripada boss Athena, bukan?"

"Kau meledekku?"

"Tidak. Aku memujimu," Yoochun tertawa lagi, "lalu kau datang dengan siapa?"

Marcus tak langsung menjawab. Dia mengambil ponselnya, kemudian menunjukkan sebuah foto kepada Yoochun. "Dengan mereka, ge!"

"Kris dan —" Yoochun menggantung ucapannya. Dia fokus pada sosok pemuda manis di samping mantan rekan satu tim-nya di Athena itu. Yoochun merasa pernah melihatnya. Dia coba mengingat, mengingat dan mengingat hingga satu nama didapatnya. "Lu – han?"

.

.

.

Bersambung.