Lapangan basket Teiko, pukul 06. 00 PM
"Tetsucchi! Kurokocchi! Murasakibaracchi! Ayo main basket!" seru Kise. "Hei, hei, aku tidak diajak?" seru Midorima dan Aomine berbarengan. "Ya sudah, tapi aku berkelompok dengan Tetsucchi dan Kurokocchi, Murasakibaracchi dengan Midorimacchi dan Aominecchi!" sahut Kise. Midorima mencibir. "Kau akan mati di tanganku," cibir Aomine. "Yang penting aku bisa sekelompok dengan Si Kembar!" sahut Kise santai. "Hmm… He? Akachin, kau tidak mau ikut?" tanya Murasakibara. Akashi menggeleng.
"Kalau begitu, AYO MULAI!" seru Aomine sambil melempar bola basket dengan penuh semangat. Akashi menatap mereka. Tidak, bukan mereka, tapi Tetsu. Hanya Tetsu. Saat Tetsu sedang memegang bola, Tetsu menyadari. Dari tadi, Akashi terus menatapnya sambil tersenyum. Tetsu menatap Akashi sebentar, sebelum akhirnya dia kembali bermain. 15 menit kemudian,
"TETSU!" panggil Akashi. Tetsu terkesiap. "KEMARILAH!" teriak Akashi. Tetsu mengangguk sambil berlari menghampiri Akashi. "Ada apa, Seijuro-sama?" tanya Tetsu. "Tetsu, jangan sebut aku 'sama'. Aku bukan orang yang harus dihormati," pinta Akashi. "Baiklah. Ada apa, Seijuro…-kun?" tanya Tetsu lagi. "Tutup matamu," kata Akashi tegas. Tetsu memejamkan mata. Tiba-tiba, Akashi memegang pipinya, lalu, disaksikan para anggota Kiseki no Sedai lainnya,
CHU~
Akashi mencium bibir Tetsu. Tetsu melotot. Para anggota Kiseki no Sedai, kecuali Akashi sendiri, terperanjat. "S-Seijuro-kun?!" pekik Tetsu sambil mengusap bibirnya. Akashi tersenyum. "Ini adalah Declaration of War," kata Akashi sambil memegang kepala Tetsu. Tetsu berjengit kaget. Wajahnya memerah.
"UWOOH! Akashicchi curang!" teriak Kise kesal. "Kalau begitu, aku juga mau, Tetsu-chan!" ucap Aomine. "Kurochin, berikan Tetchin kepadaku~" pinta Murasakibara. "Aku juga," kata Midorima. Wajah Tetsu menjadi merah padam. "Akashi, gantian!" seru Aomine. Akashi menggeleng sambil menarik tangan Tetsu. "Ambil sendiri kalau mau!" serunya sambil berlari. Tetsu yang tangannya ditarik oleh Akashi, mau tidak mau juga ikut berlari. "Seijuro-kun! Apa maksudmu deklarasi perang?!" tanya Tetsu sambil terus berlari. "Tentu saja perang untuk mendapatkanmu!" sahut Akashi. "Kenapa aku?" seru Tetsu kaget. "Karena memang kau yang kami inginkan!" sahut Akashi sambil tertawa. Tetsu mendengus. Setelah cukup jauh berlari, mereka berhenti. "Seijuro-kun, kau… Jahat..," bisik Tetsu sebelum akhirnya dia tertidur di bangku taman. Berlari dari lapangan basket Teikou sampai taman sekolah Teikou yang cukup jauh(karena masih dipisahkan beberapa tempat latihan klub lain) memang sangat melelahkan, tak heran Tetsu sampai tertidur karena lelah. Akashi tertawa saat melihat Tetsu yang tertidur pulas. Dia menepuk kepala Tetsu lembut.
"Ng… Uwaah~Eh?" gumam Tetsu. "Ternyata aku masih disini, yah.. Seiju—eh?" Katakata Tetsu terputus saat menyadari Akashi sedang tertidur. Tetsu mendengus. "Lebih baik aku pergi duluan," gumamnya sambil beranjak pergi. Saat baru akan melangkah, tiba-tiba,
"Tetsu, kalau kau mau pergi, aku akan membunuhmu dengan guntingku."
DHEG! Tetsu terperanjat, lalu menoleh. Akashi sudah bangun!
"Kau… Bagaimana—"
"Sudah kuduga kau akan bangun duluan."
"Aku mau pulang."
"Kalau begitu, pulang bersamaku."
"Seijuro-kun…"
"Aku tidak menerima kata 'tidak'!"
Dan dengan itu, Akashi langsung menarik tangan Tetsu. Tetsu hanya bisa tersenyum sambil berlari mengikuti Akashi.
Di rumah Tetsu
Tiririririririt~ HP Tetsu berbunyi. "Hahh… Telepon lagi. siap lagi sekarang?" gumam Tetsu sambil mengambil HP-nya. Di layar tertulis: 'RYOTA KISE'. Tetsu mengernyitkan dahi. Kise? Mau apa dia?
"Halo?"
"Halo, Tetsucchi!"
"Ryota-kun, bisa jangan keras-keras?"
"Eh, gomenasai. Ano, Tetsucchi, nanti sore… Bagaimana kalau kita berdua ke taman?"
"Ng? Boleh saja. Tapi…"
"Ya?"
"Kapan?"
"Nanti, jam 3 sore. Bagaimana?"
"Oh, oke."
"Yeah! Sampai jumpa, Tetsucchi!"
"Oh, iya."
KLIK!
Tetsu menghela napas. Sekarang sudah jam 02.45. 15 menit lagi. Lebih baik dia bersiap-siap sekarang. Dia lalu melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
10 menit kemudian.
"Ng… Ah, sudah jam segini. Sudahlah, pakai baju yang biasanya saja," gumam Tetsu sambil membuka lemari. Ia memilih memakai celana training biru, kemeja putih dan jaket biru. Tidak lupa, dia mengambil sebuah kacamata. Jaga-jaga, kalau misal ada fans Kise yang lewat, bisa-bisa dia didemo karena dikira pacar Kise(dasar-_-). Dengan sepeda, diapun melesat menuju taman.
Di taman…
"Tetsucchi telat…," keluh Kise ketika Tetsu datang tergesa-gesa. "Eheheh, maaf. Rumahku kan jauh," sahut Tetsu sambil memarkir sepedanya di tempat pemarkiran sepeda, lalu menguncinya. "Nah, jadi, kita mau apa disini?" tanya Tetsu. "Ayo kita ke Maji!" seru Kise. "Hah? Baiklah."
Kemudian…
"Tolong, 2 burger, 1 shake vanili dan 1 banana shake," ujar Kise kepada seorang pelayan. "Baik, 2 burger, 1 shake vanili, dan 1 banana shake akan segera datang," sahut pelayan tersebut lalu pergi. "Ehm, Ryota-kun, apa tidak apa-apa?" tanya Tetsu. "He? Kenapa?" tanya Kise balik. "Etto.. Kau yang membayariku shake vanili..?" sahut Tetsu ragu. Kise tertawa. "Tenang saja, aku tidak keberatan, kok!" sahut Kise. "Arigato, Ryota-kun," ujar Tetsu sambil tersenyum. "Tetsucchi, kau ini benar-benar mirip dengan Kurokocchi, ya!" kata Kise sambil menepuk kepala Tetsu. "Kami 'kan kembar," sahut Tetsu. "Iya, iya, aku mengerti, kok. Kalian memang kembar. Tapi, baru pertama kali melihat anak kembar identik dengan jenis kelamin yang berbeda," jelas Kise. "Ini dia, 2 burger, 1 shake vanili dan 1 banana shake." Tiba-tiba, seorang pelayan datang mengantar pesanan mereka berdua. "Nee, arigato gozaimasu!" sahut Kise. Pelayan itu lalu pergi. "Nah, Tetsucchi, jangan ragu-ragu. Makanlah!" kata Kise sambil tersenyum. "Oh, sou(ya). Selamat makan~" kata Tetsu sambil memakan burger bagiannya. Kise menyeruput banana shakenya sambil menatap Tetsu. "Ng? Doushitamo(ada apa), Ryota-kun?" tanya Tetsu. Kise tersedak. Ketahuan! "Ti-tidak apa-apa, kok! Teruskan saja!" sahut Kise salah tingkah. Tetsu menatap Kise sejenak, sebelum akhirnya dia kembali menggigit burgernya. Kise menghela napas. Yang satu ini, Kise pikir dia sangat menarik.
"Ne, arigato gozaimasu, Ryota-kun, kau sudah mengantarku ke rumah. Sampai jumpa besok," ujar Tetsu sambil menutup pintu pagar. Kise melambaikan tangan. Setelah bayangan Kise menghilang, Tetsu menghela napas sambil masuk ke dalam rumah. "Tetsu-chan? Bagaimana?" tanya Kuroko. "Huwaah~ Melelahkan," keluh Tetsu sambil masuk ke kamarnya. Kuroko menatap Tetsu sambil tersenyum. "Anak itu masih belum mengerti," gumam Kuroko geli.
Di dalam kamar, Tetsu merebahkan dirinya ke kasur. "Kiseki no Sedai… Mereka terlalu ajaib," gumam Tetsu sambil membenamkan wajahnya ke dalam bantal.
"Siapa yang ajaib?"
Tetsu terperanjat.
"K-Kuroko-nii?! Bilang dulu kalau masuk, kenapa?!" tegur Tetsu. Kuroko tersenyum, kemudian duduk di sebelah Tetsu. "Aku 'kan kakakmu, kenapa harus minta izin?" tanya Kuroko. "Karena ini kamarku," sahut Tetsu. "Terserah. Oh, tadi Aomine-kun telepon. Katanya, ada yang mau bertemu denganmu besok. Namanya Momoi Satsuki, manajer klub Teikou. Dia sangat penasaran denganmu," ujar Kuroko. "Oh, pasti karena Daiki-kun yang menceritakannya tentangku," sahut Tetsu. Kuroko mengangkat bahu. "Sepertinya, kau mulai memiliki banyak fans, ya," ujar Kuroko. Tetsu terdiam. "Terserah apa katamu. Sekarang, tolong pergilah," sahut Tetsu. Kuroko tersenyum, lalu beranjak pergi.
"Uwoo! Benar-benar mirip!" seru Momoi saat melihat Kuroko dan Tetsu. "Arigato gozaimasu," sahut Kuroko dan Tetsu berbarengan. "Suara kalian bahkan nyaris sama! Keren!" pekik Momoi lagi. "Momoi, kau ini norak," cibir Aomine. "Diamlah, Dai-chan!" sembur Momoi kesal. Tiba-tiba, bola mata Momoi mendadak berbinar. "Tetsu-chan, Kuroko-kun, bagaimana kalau kalian bertukar pakaian?" pinta Momoi. "WEETZ! Oi, oi, dashite?! Apa maksudmu!?" seru Aomine. "Sudahlah, Dai-chan~ Lagipula, kau sebenarnya juga ingin melihatnya, 'kan?" sahut Momoi. "Daripada itu, bagaimana kalau mereka berdua memakai beberapa pakaianku? Pasti lebih keren!" usul Kise. Tetsu dan Kuroko berpandangan. "Momoi-chan, setuju?" tanya Kise. Momoi mengangguk dengan mata berbinar. Midorima melongo. Murasakibara tidak peduli. Aomine terpana. Akashi terdiam.
KEMUDIAN
"Kyaa!" Tetsu-chan! Kuroko-kun!" pekik Momoi saat melihat mereka berdua. Tetsu memakai kemeja dengan jaket biru dan celana panjang hitam. Sementara itu, Kuroko memakai kemeja putih dengan dasi dan jas hitam dan celana panjang hitam. "Apa ini tidak terlalu berlebihan?" tanya Tetsu. "Tetsu, kau ini seperti laki-laki, ya," keluh Aomine. "Sesuai dengan ramalan bintang hari ini, ternyata Cancer benar-benar akan melihat sesuatu yang membuat mereka… Kaget," gumam Midorima sambil menepuk dahinya. Wajahnya memerah. "Kurokocchi! Tetsucchi! Kalian sangat keren!" seru Kise. "Aku jadi ingin memakan kalian…," gumam Murasakibara. Akashi hanya tersenyum tipis. "Kalau begitu, ayo, kita ganti baju juga!" seru Kise.
Akhirnya…
Midorima memakai kacamata hitam, jaket hijau tua dan celana panjang abu-abu. Aomine memakai kemeja abu-abu, dasi biru tua dan celana panjang hitam. Kise memakai kaus oranye, jaket putih, syal kuning dan celana panjang putih. Murasakibara memakai kaus ungu gelap dan celana pendek hitam. Akashi memakai kemeja hitam, jaket merah, dasi merah dan celana panjang hitam. Momoi, karena Kise tidak punya baju wanita, jadi Kise memberinya kaus berwarna putih, rompi hitam dan celana pendek selutut berwarna biru.
"U-uwah, Kise, banyak sekali kostummu!" seru Aomine. "Ini style, STYLE!" sahut Kise kesal. "Momoi-chan, kau terlihat cantik," puji Kise. Momoi tersenyum. "Menurut ramalan bintang, warna abu-abu merupakan warna keberuntungan untuk Cancer," kata Midorima. "Ternyata… Baju Kise pendek, ya..," gumam Murasakibara. "Kau yang terlalu tinggi, Baka!" seru Kise. "Kau tidak punya baju dengan gambar gunting? Boleh aku gunting bajumu yang ini?" tanya Akashi. "TIDAK BOLEH!" teriak Kise. "Kurokocchi, kau juga mau memprotesku?" tanya Kise. "Baju ini, memang kita mau kemana?" tanya Kuroko. "…Maksudmu, ssu?"
TO BE CONTINUED
